[Oneshot] No Title

jk

Angelina Triaf ©2016 Present

No Title

Wen Junhui (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Romance, Hurt | T | Oneshot

0o0

Panorama indah pagi ini datang dari sebuah SMA ternama di kota Seoul. Terlihat dua orang siswa berjalan di koridor dengan santai sambil berpegangan tangan.

Tunggu! Berpegangan tangan? Setidaknya itulah yang terlihat saat ini.

“Jun Oppa?” panggil sang gadis pada orang di sebelahnya―yang sama sekali tak berniat menoleh barang sedetik pun padanya.

I’m listening.” Selalu seperti itu. Gadis itu hanya bisa menghela napas lelah, seperti biasanya.

“Bisakah kau melepaskan tanganmu dari tanganku? Semua orang melihat ke arah kita saat ini,” ucap gadis itu pelan. Wajahnya terlihat sangat lucu seperti anak kecil yang takut ketahuan berbuat kesalahan.

I’m not hear you. Sepertinya tadi aku mendengar sebuah bisikan gaib.” Pandangan Jun tetap fokus ke depan. Gadis itu akhirnya menyerah, pasrah dengan apa pun yang menjadi kehendak Jun.

Jun terus membawa gadis itu dalam genggamannya sampai depan kelasnya. Pemuda itu berhenti dan terdiam menghadap gadis di hadapannya. Mata Jun menerawang sejenak, lalu seulas senyuman―antara ikhlas dan tidak―khas Wen Junhui terlukis di wajahnya. Tanpa diduga…

“Belajar dengan rajin, ne? Aku akan kemari nanti jam istirahat. Jangan coba-coba pergi tanpaku.” Tanpa ekspresi, Jun pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.

Sang gadis terdiam cukup lama, masih memikirkan hal tidak rasional yang baru saja terjadi. Mata hijaunya membulat lucu dan wajahnya sangat menggemaskan.

“Jun Oppa… mencium keningku?”

0o0

Gadis itu memasuki kelasnya setelah ia terdiam beberapa saat tadi. Oh, wait! Seluruh murid di kelasnya—yang tentunya para gadis―menatapnya sinis. Bahkan ada yang seperti ingin mencincangnya dan memakannya hidup-hidup. Sungguh kelas yang mengerikan.

“Apakah mataku sudah katarak, atau aku benar melihat Jun Oppa—charming prince-ku—mencium gadis sampah sepertimu?!” Bentak gadis yang ada di depannya tanpa jeda.

“A-aku―”

“Park Cheonsa!” teriak gadis itu lagi. Wajahnya sarat akan kemurkaan. Cheonsa hanya bisa menundukkan kepalanya.

Selalu saja seperti ini setiap hari. Sejak satu tahun yang lalu, sejak Jun masuk ke dalam hidupnya yang tak berarti. Sejak Jun mengulurkan tangan hangatnya pada Cheonsa, yang menurutnya sangat aneh. Ya, dan sejak saat itu pula hidup Cheonsa selalu dipenuhi teror—dari para fans Jun tentunya.

Cheonsa tidak mempunyai teman. Hanya Jun temannya. Berawal dari hari pertama ia menginjakkan kakinya di sekolah ini. Seorang pemuda dengan tingkat ketampanan melebihi tingkat ketampanan pada umumnya, menyapanya yang sedang duduk sendiri di bawah pohon karena tidak ada yang mau berteman dengannya.

Mengapa? Alasannya sangat klasik. Karena ia tidak cantik dan tidak kaya. Senyumnya memang manis, tapi itu hanya berlaku di mata Jun seorang. Juga, karena alasan itulah, para fans Jun murka. Bagaimana bisa seorang itik buruk rupa dekat dengan charming prince pujaan mereka? Sungguh hal di luar nalar.

Selama setahun ini pula, Cheonsa dilanda kebingungan. Ia selalu bertanya apa alasan Jun mau dekat dengannya. Jun seperti memiliki… Bagaimana cara mengatakannya, ya? Kepribadian ganda, mungkin? Bisa jadi.

Terkadang ia bisa bersikap sangat manis pada Cheonsa, seperti ia memperlakukan gadis kecil kesayangannya. Namun terkadang ia hanya diam dan tak mengajak Cheonsa bicara sama sekali, walaupun tangannya tetap menggenggam tangan Cheonsa erat, seolah takut kehilangan.

“Apa kau tuli?! Aku bicara padamu!” bentak gadis itu lagi. Cheonsa tersentak dari lamunannya. Ia terlalu lelah dengan perlakuan gadis-gadis itu padanya.

“Sudahlah, jangan intimidasi Cheonsa seperti itu.” Seorang pemuda menarik tangan Cheonsa dan membawanya duduk di kursinya.

Thank you, Sunyoung-ssi.” Cheonsa menunduk, hampir menangis. Pemuda yang dipanggilnya Sunyoung itu hanya membalasnya dengan senyuman.

“Jika butuh bantuan kau tak usah sungkan untuk memanggilku,” ucap Sunyoung dan ia langsung duduk di tempatnya, di samping Cheonsa.

Ne.” Cheonsa mencoba tersenyum dan kini siap memulai pelajaran pagi itu. Semoga tak ada hal buruk lagi yang akan terjadi padanya.

0o0

Jam istirahat. Seperti yang dijanjikan pula Jun sudah berdiri di depan kelas Cheonsa, menanti gadis itu keluar. Namun nihil. Lima menit berlalu dan Cheonsa belum juga keluar dari kelasnya. Karena Jun kesal maka ia nekat masuk kedalam kelas Cheonsa.

“Kukira kau tahu bahwa aku―”

“Orang yang tak suka menunggu? Aku tahu, Oppa. Aku baru saja selesai menyalin pr di papan tulis,” ucap Cheonsa datar sambil merapikan bukunya, tanpa menatap Jun sedikitpun. Entahlah, ia mulai jengah dengan kedekatan mereka.

“Tepat sasaran. Ayo keluar, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” kata Jun antusias lalu dengan seenaknya menarik tangan Cheonsa yang masih belum selesai merapikan bukunya.

0o0

“Bisakah Oppa melepaskan tanganku? Aku mau makan,” ujar Cheonsa pelan dengan wajah memelasnya yang seperti biasa. Jun hanya menoleh ke arahnya sebentar lalu kembali terdiam. Sudah Cheonsa duga, Jun tak akan mendengarkan perkataannya.

Jun membawa Cheonsa ke taman belakang sekolah untuk makan siang bersama, atau bisa juga disebut piknik. Karena Jun menyiapkan alas duduk di bawah pohon, persis sekali seperti orang sedang piknik.

“Buka mulutmu,” perintah Jun sambil menyodorkan sendok ke arah Cheonsa dan hendak menyuapinya. Cheonsa tersentak kaget dengan apa yang Jun perbuat. Ia hanya diam sambil memandang wajah datar Jun.

“Kau tidak mau? Baiklah biar aku yang―”

“Tunggu! Aku mau,” potong Cheonsa yang langsung dihadiahi senyuman oleh Jun. Entah ikhlas atau tidak, yang jelas senyum itu terpampang jelas di wajah Jun.

Cheonsa merasakan debaran aneh di dadanya. Selama ia bersama Jun, baru kali ini ia merasakan adanya getaran aneh dalam dirinya. Apakah itu bisa disebut cinta? Atau hanya perasaan anehnya saja?

Tak ada yang tahu.

0o0

Pulang sekolah, seperti biasa Jun berjalan bersama Cheonsa untuk mengantar gadis itu pulang. Seperti biasa pula, Cheonsa hanya bisa pasrah dengan semua perlakuan Jun padanya. Sepanjang perjalanan mereka terdiam, hanya tangan mereka yang terkait satu sama lain. Tak ada satupun yang mencoba memulai pembicaraan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

Oppa, apa kau amnesia? Ini bukan jalan menuju rumahku.” Cheonsa menatap Jun aneh, namun yang ditatap hanya diam saja, masih terfokus pada jalan di hadapannya.

“Kita sampai.” Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat yang Jun maksud.

Ternyata Jun membawa Cheonsa ke taman dekat rumahnya. Taman dengan pepohonan rindang dan pemandangan asri sejauh mata memandang. Cheonsa hanya terdiam, masih mencoba menebak pikiran Jun. Mengapa pemuda itu membawanya kemari?

“Duduklah di sini, aku akan membelikanmu sesuatu.” Cheonsa mengangguk lalu duduk di kursi taman terdekat. Matanya tak lepas memandang kepergian Jun. Cheonsa menghela napas lagi.

“Sebenarnya kami ini apa? Teman, sahabat, atau hanya sekadar saling mengenal?” gumam gadis itu di tengah keheningan. Keheningan hatinya, karena sebenarnya taman ini ramai.

Beberapa menit, dan tepat lima belas menit Jun menampakkan batang hidungnya lagi di hadapan Cheonsa. Jun hanya berjalan santai dengan wajah datarnya yang, oh my damn God! He’s like an angel from hell!

Tanpa sepatah kata, bahkan setengah patah pun tidak, Jun hanya menyodorkan es krim vanila yang telah ia beli kepada Cheonsa lalu dengan santainya duduk di samping Cheonsa. Kini Jun asyik dengan dunianya sendiri. Ia hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil tetap menikmati es krimnya. Cheonsa yang tak ingin ambil pusing dengan kelakuan normal Jun pun ikut menyantap es krimnya dalam diam, dengan pikiran tentang dia dan Jun melayang-layang dalam benaknya―a damn fact that she hates.

“Nanti malam aku akan menjemputmu pukul tujuh,” ucap Jun singkat, padat dan tidak jelas―karena Cheonsa serta-merta hanya mampu mengerutkan alisnya, tanda ia bingung.

“Sudah pukul empat, ayo kita pulang,” ajak Jun lagi pada Cheonsa. Cheonsa yang masih asyik dengan dunianya sendiri tidak menggubris ajakan Jun, membuat pemuda tampan itu menampakkan wajah datar nan dinginnya.

Jun dengan cepat mencondongkan badannya ke arah Cheonsa dan tanpa ragu menempelkan bibirnya pada milik Cheonsa. Cheonsa dengan spontan membelalakkan matanya mendapatkan serangan dadakan seperti itu.

Sudah ke… Entahlah, sudah keberapa kalinya mereka seperti ini. Berpegangan tangan, jalan-jalan bersama, bahkan berciuman―atau lebih tepatnya Jun yang mencium Cheonsa. Entah itu di puncak kepalanya, keningnya, bibirnya, bahkan sampai lehernya pun tak luput dari serangan Jun.

Dan pernah suatu hari Cheonsa harus memakai syal di musim panas karena tanda kemerahan di lehernya akibat ulah Jun, yang membuat seluruh gadis di kelasnya mencacinya habis-habisan. Sungguh pemuda yang mengerikan.

Jun membuang sisa es krim yang tak ia habiskan lalu langsung menarik tangan Cheonsa seenaknya. Seperti biasa, of course.

0o0

Jam dinding hijau milik Cheonsa sekarang menunjukkan pukul enam tepat. Cheonsa tengah bersiap menanti jemputan Jun. Gadis itu hanya mengenakan kaus abu lengan panjang kebesaran favoritnya dan rok selutut berwarna putih. Ia memang tak terlalu memerhatikan penampilannya.

“Aish nona, selera fashion-mu sungguh payah,” seru seorang ahjumma yang dengan seenaknya memasuki kamarnya. Cheonsa agak sedikit terkejut.

Ahjumma, annyeong. Kita bertemu lagi,” sapa Cheonsa sopan.

Ne, dan fashion-mu masih sama mengerikannya dengan terakhir kali aku mendandanimu,” ujar ahjumma itu tanpa spasi dan langsung memulai pekerjaannya mendandani Cheonsa.

Ahjumma itu adalah suruhan Jun. Terakhir kali Jun menyuruh ahjumma itu mendandani Cheonsa adalah saat graduation party kakak kelas mereka, dengan Jun sebagai ketua panitia pelaksana. Jun benar-benar membawa Cheonsa yang telah di-make over untuk mendampinginya dalam acara tersebut, yang membuat Cheonsa hampir mati bosan.

Cheonsa pun heran mengapa kali ini Jun menyuruh ahjumma itu lagi untuk mendandaninya. Jun akan membawanya ke mana?

“Selesai. Setidaknya kau nampak lumayan cantik malam ini.” Cheonsa menghadapkan dirinya ke cermin. Tidak terpukau, ia merasa biasa saja. Karena ia tak memiliki jiwa seni akan keindahan fashion.

“Jun menunggumu di luar.” Ahjumma itu keluar dari kamar Cheonsa. Ia hanya tinggal sendiri di flat sederhananya. Orangtuanya hanya pengusaha kecil-kecilan di tempat asalnya dan setiap bulan mereka mengirimkan uang yang tak terlalu banyak untuk Cheonsa.

Cheonsa melangkahkan kakinya keluar kamar dan terpukau melihat penampilan Jun. Jas semi-formal hitam dengan celana senada dan kemeja merah darah yang membuatnya terlihat memesona dan liar di saat bersamaan. Oh, jangan lupakan rambut kecokelatan acak-acakannya yang sangat menggoda itu. Sangat berbanding terbalik dengan dress putih selututnya yang nampak kalem.

“Kau terlambat lima detik.” Hanya itu yang Jun ucapkan, lalu ia—lagi-lagi—menarik tangan Cheonsa seenaknya dan berjalan menuju mobilnya yang entah akan membawa mereka ke mana.

0o0

Cheonsa semakin terpana dengan apa yang ia lihat saat ini. Candle light dinner di taman yang sudah di-setting khusus untuk mereka berdua dengan pemandangan langit bertabur bintang. Sungguh, siapa gadis yang tak luluh jika diperlakukan seperti itu?

“Kau suka? Aku mempersiapkan semua ini spesial untukmu. Gadis yang sangat berarti untukku.” Pertama kalinya selama Cheonsa mengenal Jun, baru kali ini Jun mengucapkan kalimat yang lumayan panjang padanya, tanpa ada unsur tatapan-dingin-nan-datar andalannya.

Thanks, Oppa.” Cheonsa tersenyum manis pada Jun, yang membuat mata Jun membulat sepersekian detik.

Hening. Jun masih asyik menyantap salad buahnya sedangkan Cheonsa hanya terdiam memandangi indahnya langit malam itu.

Oppa.” Cheonsa akhirnya sadar dari keterpukauannya dan memanggil Jun selembut mungkin.

I’m listening.” Selalu seperti itu. Selalu.

“Dalam rangka apa kau mengajakku makan malam seperti ini?” Dengan segenap keberanian yang entah dari mana datangnya, Cheonsa mengucapkan kalimat itu dengan lancar.

Bukannya menjawab, Jun malah menghentikan acara makannya dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju Cheonsa dan berhenti tepat di belakangnya. Jun melingkarkan tangannya di leher Cheonsa dan meletakkan kepalanya di sana, menghirup harum tubuh Cheonsa.

“Aku hanya ingin berterima kasih padamu karena selama ini kau sudah mau bersamaku.” Jun menarik tangan Cheonsa untuk berdiri dan menghadapnya. Mata mereka bertemu.

“Aku mencintaimu.” Dua kata saja, dan itu mampu membuat Cheonsa diam membisu bagai patung batu.

Jun mendekatkan wajahnya dan mencium Cheonsa lembut. Sangat lembut, seakan Cheonsa adalah kristal rapuh kesayangannya. Cukup lama, sampai Jun melepaskan tautan mereka. Untuk pertama kalinya, Cheonsa kecewa saat Jun melepaskan ciuman mereka.

“Kau adalah sahabat terbaikku.”

Deg! Mata Cheonsa membulat. Masih mencoba percaya dengan apa yang ia dengar sedetik yang lalu. Sahabat? Jadi selama ini… hanya sahabat? Segala macam perlakuan pemuda itu, segala macam kata-kata manisnya, lalu ciuman mereka itu… Sahabat?

Hanya sahabat?

“Aku akan pindah ke London besok. Orangtuaku telah menjodohkanku dengan gadis pilihan mereka di sana. Kami akan bertunangan. Aku juga akan pindah SMA dan melanjutkan perguruan tinggi di sana,” ujar Jun terlampau lancar, tidak sebanding dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Kuharap kau tak akan melupakanku. Kau benar-benar sahabat terbaikku.” Jun memeluk Cheonsa erat. Tak ada air mata yang turun. Gadis itu terlalu sibuk berpikir sampai tidak dapat mendefinisikan apa makna menangis untuk saat ini.

“Ah, sudah malam. Aku harus bersiap untuk besok. Supirku akan mengantarmu sampai rumah. Maaf aku tak dapat mengantarmu. Annyeonghaseyo, Park Cheonsa.” Itulah kalimat terakhir yang keluar dari bibir seorang Wen Junhui sebelum ia menghilang dari pandangan Cheonsa. Untuk selamanya.

“Sahabat… Jadi sahabat, ya?” gumam Cheonsa pelan. Namu tak lama, sampai ia tersenyum kecil kemudian.

“Kau adalah pria brengsek termanis yang pernah aku kenal. Annyeong, Wen Junhui.”

Menatap langit malam yang masih menaungi, Cheonsa pun pergi meninggalkan taman itu, dengan sebuah kenangan terlampau pahit yang akan terus bersarang dalam ingatannya.

FIN

Iklan

6 thoughts on “[Oneshot] No Title

  1. Pisau, mana pisau?? Gilaaaa si Jun, aku kira endingnya mereka bakalan jadiana. Mengingat perlakuan Jun yang kelewat manis selama ini. Tapi hanya sahabat? Gilaaaa.. Rasanya ingin mencincang bibir sexy Jun..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s