[Vignette] Suddenly Fall in Love

woo

Angelina Triaf ©2016 Present

Suddenly Fall in Love

Jeon Wonwoo (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Fluff, School-life | G | Vignette

0o0

Park Cheonsa, gadis manis itu kini tengah berjalan tergesa untuk segera mencapai ruang guru. Salahkan mengapa gedung sekolahnya begitu luas dan sialnya kelasnya berada cukup jauh dengan ruangan itu. Alhasil ia kini harus melebarkan langkah kakinya yang terbilang pendek itu agar segera sampai.

Tinggal hanya melewati ruang musik dan ia akan langsung sampai tepat di depan pintu ruang guru. Namun memang nasib naas, pintu ruang musik itu telah lebih dulu terbuka dan lebih sialnya lagi ia tidak sempat menghentikan laju kakinya―dan tentunya kita sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi.

BRUK!

Tumpukkan buku dalam genggamannya terjatuh, begitu pula dengan buku milik orang yang ditabraknya―mengapa pula kita memfokuskan pandangan kepada buku Sejarah menyebalkan itu? Yang perlu kita perhatikan saat ini adalah tubuh ramping Cheonsa yang tengah berada dalam pelukan seseorang.

Oh, persis seperti dalam drama picisan kebanyakan. Tatapan mereka bertemu. Pemuda tinggi dengan kulit putih, rambut hitam acak-acakannya yang justru terlihat menawan dan yang terakhir kacamata baca yang membingkai wajah rupawanya.

Entahlah apakah waktu benar berhenti atau ini hanya khayalannya saja. Cheonsa adalah orang yang pertama sadar dari awkward moment itu. Ia langsung membungkuk dan meminta maaf berkali-kali. Lalu segeralah ia merapikan tumpukan bukunya dan pergi menuju ruang guru, meninggalkan pemuda itu yang bahkan tak sempat menolong atau sekadar menanyakankan ‘gwaenchana?’

“Senang mengenalmu, Cheon.”

Pemuda itu tersenyum lalu merapikan buku-bukunya yang terjatuh di lantai. Setelahnya ia pergi menyusul teman-temannya yang lain menuju kantin. Tangannya menggenggam sesuatu yang terjatuh dan belum sempat Cheonsa ambil. Hanya sebuah benda, dan pemuda itu sudah memegang kartu Asnya.

0o0

Saat ini Cheonsa tak dapat fokus dengan makanannya sendiri. Pertama, otaknya seakan hampir meledak begitu mengetahui olimpiade Sejarah akan dimajukan tanggal pelaksanaannya. Siapa peduli dengan orang yang menjaga Korea atau raja pertama yang berkuasa? Yang Cheonsa pedulikan saat ini adalah otaknya yang butuh istirahat.

Namun bukannya ia menemukan ketenangan, karena masalah yang kedua yaitu otaknya yang semakin bekerja keras memikirkan siswa yang bertabrakan dengannya tadi. Cheonsa seakan tak dapat berpikir jernih. Otaknya seperti kaset dengan pita kusut yang jika ditarik paksa maka akan semakin kusut.

Cheonsa baru sadar jika pemuda itu ternyata berada tepat beberapa meja dari tempatnya sekarang. Saat ini ia sedang makan sendiri di kantin karena sahabatnya tak mau menemani. Untuk beberapa detik, mata Cheonsa tak dapat lepas dari gerak-gerik pemuda itu.

Caranya makan yang seperti anak kecil, saat ia bercanda dan tertawa dengan teman-temannya, dan cara ia menatap Cheonsa.

Tunggu, apa kalimat terakhir? Siswa itu menatap Cheonsa? Menatapnya?!

Park Cheonsa, seharusnya kau segera mengalihkan pandanganmu! Apakah Bumi kehilangan oksigennya? Cheonsa sepertinya membutuhkan napas buatan atau setidaknya tabung oksigen untuk bernapas beberapa detik ini.

Pemuda itu juga terpaku beberapa detik di posisinya saat mengetahui Cheonsa tengah memandangnya. Namun kesadarannya pulih lebih dulu dan ia terlihat membersihkan kacamatanya dengan lengan kemejanya. Cheonsa masih terpaku. Sungguh, pemuda itu sangat menawan dan manis.

Ia kembali menatap Cheonsa, memakai kacamatanya perlahan dan tersenyum sekilas sambil mengedipkan kedua matanya. Dua? Oh tidak, kejadian itu sangat cepat sehingga Cheonsa tak tahu pasti apakah pemuda itu mengedipkan kedua matanya… atau hanya satu?

Cheonsa terkekeh sendiri melihat tingkah manis pemuda itu. Ia lalu segera melanjutkan makannya sebelum bel masuk kembali berbunyi. Sepertinya gadis manis itu tak menyadari jika Pemuda yang ia perhatikan tadi kini masih memandangnya sambil tersenyum manis.

0o0

Belum cukup dengan kegiatan olimpiadenya, Cheonsa kembali disibukkan dengan ekskul jurnalistiknya. Ia kini sedang mengambil gambar di lapangan basket indoor sekolahnya. Tim inti kelas tiga melawan adik kelas pendatang barunya, atau bisa dibilang seleksi untuk penerimaan anggota baru.

Bangku penonton hanya diisi beberapa orang karena saat ini memang masih jam belajar dan hanya anggota basket serta jurnalistik yang diperbolehkan izin dari kelas. Cheonsa seperti gadis polos kehilangan arah yang hanya berjalan sambil melamun di pinggir lapangan.

Ia bingung ingin mengambil foto dan membuat berita seperti apa. Otaknya terlalu lelah dengan semua kegiatannya. Cheonsa hanya melihat beberapa hasil fotonya sepuluh menit yang lalu. Pemuda itu, bintang basket tahun ini yang memenuhi kameranya. Laki-laki tinggi menawan itu, mengapa mereka selalu dipertemukan?

Entahlah memang takdir sedang menunjukkan kerja kerasnya hari ini atau apa. Pemuda itu kehilangan fokusnya dan tak sengaja melempar bola ke luar lapangan.

DUG!

“Aish…”

Cheonsa memegangi kening sebelah kanannya yang terkena bola cukup besar itu. Semua mata memandang ke arahnya dan tentu saja sang pelaku segera berlari ke arahnya untuk memastikan keadaan gadis itu. Oh tidak. Cheonsa tak bisa berbuat apa pun selain menahan napasnya karena gugup.

Are you okay? Ada yang sakit?”

Mata hijau Cheonsa kini terfokus pada bulatan hazel yang menerobos masuk menatapnya. pemuda itu menyingkirkan poni panjangnya lalu memegang pundaknya. Tinggi Cheonsa yang hanya sebatas leher pemuda itu sukses membuatnya harus mendongak untuk menatap wajahnya.

Ia hanya menggeleng seperti anak kecil. Sangat menggemaskan. Sang pemuda tersenyum sembari mengusap kening Cheonsa yang terkena bola. Ada sedikit memar di sana, membuat sang pelaku itu sedikit banyak merasa bersalah.

Cup~

“Maaf, ya? Jangan lupa nanti malam memarnya diobati. Semoga cepat sembuh!”

Oh Tuhan, bunuh saja Cheonsa saat ini agar ia bisa terbang tanpa batas di langit. Pemuda itu mencium keningnya lembut. Sangat. Walaupun hanya terjadi sepersekian detik namun Cheonsa bisa merasakan ketulusan darinya. Tak lupa senyum manis sebelum lelaki itu berlari kembali menuju lapangan basket.

Apakah masih ada lagi keajaiban seperti kejadian tadi di hidupnya?

0o0

Taman adalah tempat favorit Cheonsa setelah ruang kelasnya sendiri. Jika ia bisa puas tertidur di kelas, maka saat ini Cheonsa sedang asyik membaca buku ditemani semilir angin yang bermain lembut di sekitarnya. Gadis itu terlihat menawan dengan rambut pirang panjangnya yang ditiup angin.

Bukan novel atau buku percintaan lainnya, melainkan buku Sejarah menyebalkan. Namun entah mengapa ia sangat menikmati waktu luangnya ini.Para guru sedang rapat dan ia lebih memilih untuk belajar ketimbang tidur di kelas. Ia tak boleh mengecewakan guru yang sudah melatih dan memberinya kepercayaan.

Hey, kau di sini juga? Kelas sangat membosankan saat guru tak ada.”

Deg!

Suara berat itulah yang membuatnya tak bisa tidur belakangan ini. Wajah itulah yang memenuhi otaknya dalam mimpi. Tuhan, mengapa Kau membuat Cheonsa mati kutu saat berada dalam jarak pandang pemuda ini? Cheonsa sudah seperti patung porselen dalam posisi duduk.

Lelaki itu mengambil tempat di samping Cheonsa. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran bangku dan memejamkan matanya. Saat ini ia tak memakai kacamata, membuat Cheonsa lebih leluasa menikmati wajah menawan itu.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Cheonsa hanya mengangguk saat si pemuda membuka matanya dan bertanya padanya. Lagi-lagi senyum manis itu yang membuat Cheonsa tak dapat bernapas dengan tenang. Mungkin beginilah rasanya menjadi astronot di luar angkasa yang kekurangan oksigen.

“Apakah kau mengenal gadis manis yang kemarin ada di lapangan indoor?”

Gadis itu terdiam. Pertanyaan ambigu itu membuatnya bungkam karena tak sanggup memikirkan kemungkinan terburuk. Kenyataan pahit bahwa pemuda yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati itu telah menyukai orang lain. Apa mungkin gadis manis itu adalah teman satu ekskulnya?

“Ya-yang mana? Dan ada perlu apa kau menanyakan hal itu?”

Hanya wajah polos yang berhasil Cheonsa tunjukkan. Ia terlalu takut untuk menunjukkan ekspresi kecewanya dan membuat pemuda di sampingnya menyadari hal itu. Mau ditaruh mana wajahnya jika sampai hal itu terjadi?

“Hm, hanya ingin mengembalikan barangnya yang terjatuh waktu itu.”

Sebuah kartu pelajar berhasil teraih oleh tangan kecilnya. Mata bulatnya langsung membesar saat menyadari kartu siapa itu. Itu kartu pelajarnya. Tertera dengan jelas nama Park Cheonsa di sana. Ya Tuhan, Cheonsa sudah mati rasa dan tak dapat menyimpulkan apa yang terjadi saat ini.

“I-ini…”

“Ah ya, dan tolong bilang padanya bahwa mengambil barang milik orang lain itu sanksinya sangat berat.”

What?!”

Wajah polos sang pemuda terlihat santai ketika mengucapkan hal itu, berbanding terbalik dengan wajah Cheonsa yang sudah seperti orang kehilangan mobil pribadinya―jika saja ia memiliki mobil pribadi.

Hening. Otak Cheonsa bekerja sangat lambat untuk mencerna setiap kode yang pemuda di sampingnya ucapkan. Terlalu bingung dan takut untuk menebak apa yang terjadi. Ia takut terbang terlalu tinggi namun nantinya malah jatuh dan hancur berkeping-keping.

“Hah, gadis itu sudah mengambil hatiku tanpa izin, dan ia dengan seenaknya tak mau mengembalikannya padaku. Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus tega meminta hatiku kembali… atau membiarkan ia memilikinya?”

Cheonsa langsung menoleh menatap sang asal suara. Matanya tak sengaja menangkap papan nama pemuda itu. Jeon Wonwoo, nama yang indah―sesuai dengan senyum manisnya. Apakah gadis yang sedari tadi dimaksud Wonwoo adalah dirinya? Karena memang kartu pelajar itu miliknya. Ya, miliknya.

“Cheon―oh, bolehkah aku hanya memanggilmu seperti itu? Kurasa aku mencintaimu sejak pandangan pertama.”

“A-aku…”

“Jika kuperbolehkan kau memiliki hatiku, apakah kau akan menjaganya?”

Waktu benar-benar berhenti saat ini. Tatapan lembut Wonwoo mengunci pergerakan Cheonsa. Bahkan saat bibir mereka saling menyapa pun Cheonsa hanya bisa terdiam, menerima rasa manis yang Wonwoo berikan padanya.

Wonwoo menarik Cheonsa agar besandar di dadanya. Tangan kirinya memeluk pinggang kecil Cheonsa dengan sayang dan tangan satunya tanpa henti mengusap rambut panjang Cheonsa, sesekali menyingkirkan poninya yang menutupi wajah karena tertiup angin.

“Sepertinya gadis itu tak hanya mengambil hatiku, tapi juga mencuri ciuman pertamaku. Gadis itu sungguh jahat padaku, Cheon. Apakah kau mau membantuku menghukum gadis itu?”

Ia mengeratkan pelukannya pada Cheonsa. Ini mimpi. Pastilah ini mimpi. Cheonsa tak memercayai semua ini. Pasti ia terlalu lelah membaca dan sedang tertidur di bangku taman. Ini terlalu indah, Tuhan… Bagaimana ini?

“Bantu aku menghukumnya agar ia selalu berada di dekatku dan tak boleh kabur ke mana-mana. Ia akan kujadikan tawanan hatiku atas segala kejahatannya.”

Cheonsa terkekeh sendiri mendengar segala omongan Wonwoo. Seakan-akan Wonwoo sedang membicarakan gadis lain, padahal gadis itu adalah dirinya sendiri. Cheonsa semakin menyukai Wonwoo. Segala hal dalam dirinya.

“Baiklah. Kurasa gadis itu akan menjaga hatimu sebaik mungkin. Sepertinya ia juga rela menjadi tawanan hatimu. Lalu…”

Cup~

“Kukembalikan ciumanmu yang tadi, hehe.”

Hingga hari itu diakhiri dengan canda tawa mereka. Sepasang manusia yang saling mencintai hanya karena tatapan. Hanya karena takdir yang tak bisa mereka pungkiri lagi keberadaannya. Takdir memang telah tersurat, namun kita tak pernah tahu kapan takdir itu menghampiri. Cinta yang datang tiba-tiba itu benar-benar berhasil membuat Wonwoo mencintai segala hal dalam diri gadis manis bernama Park Cheonsa.

FIN

Iklan

20 thoughts on “[Vignette] Suddenly Fall in Love

  1. sukaaaaaak bangeeet ini karakternya udah wonwoo bangeeeet soalnya memang wonwoo kan tipe yg ngelucu tapi yah begitulah tapi sweet juga disini hehehehe//// karyanya kakak memang gak pernah mengecewakan :)))) ditunggu ff lainnya ya kak!♡

    Suka

  2. Mba enjel bisa ga jangan bikin anak orang baper? PLZ INI SO SANGAT KIWOYO UNYU UNYU BIKIN MELAYANG MANIS MANIS GITU SO SANGAT TERBALIK SAMA WONUNYA YG KELIATAN JUDES GA PENGEN DEKETIN CEWE TIPE TIPE SUKA NGEPHPIN ANAK GADIS( GA LANG GA GITU) DAN LAGI SEJAK KAPAN JON WONU PENUH DENGAN GOMBALAN GOMBALAN MURAHAN TP MEMIKAT HATI TULUNGLAH TULUNG

    Disukai oleh 1 orang

    1. thanks for reading^^ DUH ULANG TULUNG ANGEL IKUTAN NGECAPS NIH xD AWAS MELAYANG GA BISA BALIK NAPAK LAGI LOH >< HIHI WONWOO GA PHP KOK TAPI EMANG MUKANYA AJA GITU BIKIN ORANG NGERASA DIPHPIN (?) /bahasaapaitu/ SO CHEESY SO SWEET LANG ANGEL JUGA TAK KUAT MAU NGUMPET AJA DI BALIK PELUKAN BANG JOSH /brb kabur/ MAACI ULANG UDAH MAMPIR 😀

      Suka

    1. thanks for reading^^ kan nyiumnya pas guru lagi rapat :3 /kesempatan dalam kelapangan/ /ganyambung/ /abaikan/ hihi banyak senyum banyak berkah kok kak percayalah 😀 eleeeeh kak maunya diucapin i love you sama bang sunyoung wkwk. makasih yaa udah suka 😉

      Disukai oleh 1 orang

  3. pengen digombalin mas wonwu :’ /plaakk/

    fluffnya dapet banget :’
    aku ga bisa berhenti senyum-senyum bahkan hampir nge-scream (?)

    good job, buat mbak yang bikin ff ini :’
    keep writing!!

    Suka

  4. Astaga, jam segini dibikin senyum-senyum sama Mas Wonuuuu. Omaigat, bisa-bisa diabetes ini jadinya. Duh, fluffynya kebangetan ini, ga kuat bacanya. Sumpah jadi bayangin Wonu kayak gitu beneran. Omaigat, pen nangis jadinya. Terhura :””)
    Nice ff, sukaaaa bangetszzz! Lope lope

    Suka

  5. Oke. Lama-lama aku kena diabetes. ASTAGAAAA~ BIBIR INI TAK MAU BERHENTI TERSENYUM. OMEGAT OMEGAT OMEGAT

    Plot twist : anak-anak seventeen diem-diem ngeliatin wonwoo berduaan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s