[Twoshot] Harder Than You Know (1)

htyk

A Storyline Present by @diantrf

Harder Than You Know

Kim Mingyu, Wen Junhui (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Romance, Hurt, Marriage-life | PG-17 | Twoshot

“Bukan begitu caranya melindungi wanita. Pikirkanlah sekali lagi.”

 

0o0

Pagi yang indah. Sinar mentari dengan hangatnya menerobos kaca bening sebuah kamar bernuansa putih yang nampak tenang. Di dalamnya, terlihat dua orang yang masih menjelajah alam mimpinya masing-masing. Pria dengan rambut hitamnya yang acak-acakan kini menggeliat merenggangkan tubuhnya. Matanya perlahan terbuka. Ia terdiam sejenak. Di sampingnya, seorang gadis manis masih memejamkan matanya.

Ia teringat kejadian semalam. Bagaimana rasanya mengusap rambut halus yang sepertinya sudah sangat lama ia tak menyentuhnya. Bagaimana kenyamanan itu ia rasa saat ia menyentuh tubuh gadisnya yang ternyata berkali lipat lebih hangat dari yang terakhir kali ia ingat.

Pandangannya hanya terfokus ke depan. Tatapannya kosong. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia masih tak bergerak dari duduknya untuk beberapa menit ke depan.

Gadis di sampingnya mulai menggeliat kecil. Matanya perlahan terbuka, menampakkan bulatan hijau cemerlang di dalamnya. Ia mengedip beberapa kali, sangat menggemaskan. Gadis itu bangkit dan beringsut duduk menyandar kepala ranjang. Poni dan rambut pirang gading bergelombangnya bergoyang lucu seiring tegak tubuhnya.

Sang gadis yang melihat suaminya sudah bangun lebih dulu seketika membulatkan matanya. Ia kembali mengingat kejadian semalam. Ah, pantas saja tubuhnya agak sakit. Tak biasanya ia bangun terlambat.

“Mingyu Oppa, sudah bangun?” tanya gadis itu pelan, namun masih dapat terdengar karena suasana kamar yang hening.

Ne.”

Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari mulut suaminya. Lalu Mingyu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu hanya tersenyum tipis, berganti pakaian lalu pergi menuju dapur.

Mingyu tiba di dapur dengan penampilan segar sehabis mandi. Ia hanya memakai kaus putih dan celana pendek; pakaian santainya di rumah. Ia melihat masakan istrinya sudah tertata rapi di meja makan. Kini ia dapat melihat istrinya berjalan ke arahnya sambil melepas apron yang tadi ia pakai.

“Mingyu Oppa, makanlah. Cheonsa mau mandi dulu.”

Senyum itu seakan sudah menjadi permanen di bibirnya. Bahkan tanpa balasan apa pun, gadis itu langsung pergi meninggalkan suaminya yang kini sudah duduk dan mulai menikmati sarapannya.

0o0

Mingyu sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Dilihatnya istrinya sedang membersihkan segala perabot di rumah minimalis mereka. Mingyu menoleh sebentar ke arahnya. Gadis itu terlihat manis dengan pakaian santainya.

“Cheonsa,” panggil Mingyu pelan. Gadis itu menoleh ke arah sang pemilik suara.

Ne, Oppa?” Ia tersenyum, yang membuat pipi chubby-nya naik dan matanya menyipit lucu.

“Perlu bantuan?” tanya Mingyu datar. Cheonsa membulatkan matanya sebentar, sebelum akhirnya ia tersenyum lagi.

“Tidak usah, sebentar lagi selesai,” jawab Cheonsa dengan gelengan pelan.

Mingyu hanya mengangguk lalu kembali fokus pada tayangan yang sedang ia tonton, sebelum ia ingat akan sesuatu dan kembali berucap, “Mulai besok aku tidak pulang untuk beberapa hari. Ada pekerjaan penting.” Bahkan tanpa menoleh, kata-kata itu keluar dengan sangat lancar dari mulutnya.

Ne. Cheonsa akan menyiapkan segala keperluan Oppa.” Seperti biasa, selukis senyuman selalu mengiringi akhir ucapannya. Walaupun ia tahu bahwa Mingyu tak melihatnya―ia yakin, Mingyu dapat merasakan senyumannya.

0o0

Keesokannya, Mingyu berdiri di depan cermin besar dalam kamarnya. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dari belakangnya, Cheonsa datang dengan membawa nampan berisi susu putih dan sandwich kesukaan Mingyu. Mingyu melihat istrinya dari pantulan cermin. Gadis itu bahkan semakin cantik tanpa ia sadari.

Oppa, makanlah walau hanya sedikit.” Cheonsa tersenyum lalu meletakkan nampan itu di meja nakas sebelah ranjang.

Mingyu menghampiri Cheonsa yang duduk di pinggir ranjang. Ia mengambil gelas susunya dan minum perlahan. Ia berpikir, sudah berapa lama ia tak pulang ke rumah? Sudah berapa malam yang ia lewati tanpa kehadiran Cheonsa di sisinya? Sudah berapa jam, menit dan detik yang ia lewati tanpa menghiraukan bagaimana keadaan Cheonsa seorang diri di rumah?

Cheonsa, seperti biasa ia selalu tersenyum sambil memerhatikan Mingyu yang makan dalam diam. Melihat Mingyu berada di rumah seharian kemarin saja ia sudah sangat bersyukur. Bisa kembali merasakan hangatnya tubuh Mingyu sehari saja ia sudah sangat senang.

“Aku berangkat.”

Tanpa ucapan terima kasih, tanpa ciuman selamat pagi. Tanpa apa pun. Mingyu langsung mengambil tas kerjanya dan pergi menuju pintu, meninggalkan Cheonsa seorang diri.

Cheonsa hanya menghela napas pelan. Kini pandangannya terfokus pada ponsel Mingyu yang tergeletak di samping bantal. Cheonsa mengerutkan keningnya. Pasti Mingyu lupa membawa ponselnya. Ia mengambil ponsel itu, hendak mengejar Mingyu sebelum suaminya itu pergi.

Namun ia melihat hal ganjil dalam ponsel itu. Nampak wallpaper foto suaminya bersama seorang wanita, yang mungkin lebih tua dari Cheonsa. Mereka terlihat sangat bahagia di foto itu. Cheonsa membulatkan matanya, namun tak bertahan lama karena kini malah sebuah senyuman yangmenggantikan ekspresi terkejutnya.

“Aku mau mengambil―”

Belum selesai Mingyu berkata, ia kini melihat Cheonsa sedang melihat sesuatu di ponselnya. Mingyu ingat jika ia lupa membawa ponselnya dan berniat mengambilnya, namun malah pemandangan ini yang ia dapat.

“Ah, Oppa. Cheonsa baru saja akan mengantarkan ponsel ini padamu. Ternyata Oppa masih ingat jika ini tertinggal.” Cheonsa tersenyum lalu memberikan ponsel itu pada Mingyu.

Pria itu hanya mematung. Ia masih tak menyangka bagaimana ekspresi Cheonsa saat ini. Mengapa gadis itu malah tersenyum? Mingyu kira ia akan dihujani air mata dan dicaci-maki oleh istrinya. Namun, mengapa ia malah disambut dengan senyuman yang sangat manis?

“Namanya Cho Hyunna, jika kau mau tahu.” Mingyu langsung berbalik dan hendak pergi meninggalkan Cheonsa, sebelum ia mendengar satu kalimat ringan yang terasa perih untuk didengar.

“Ia cantik.”

Sedetik, Mingyu terpaku dengan opini Cheonsa. Lalu ia kembali berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.

Setidaknya Cheonsa tahu kenapa Mingyu jarang pulang. Bahkan dalam satu tahun pernikahan mereka ini, setidaknya hanya dua hari tiap bulannya yang ia lalui bersama suaminya. Baginya itu sudah sangat cukup. Masih dapat melihat wajah Mingyu di hadapannya pun ia sudah sangat bersyukur.

“Setidaknya aku tahu jika Mingyu Oppa bahagia di luar sana,” gumam Cheonsa pelan, lalu ia membereskan gelas dan piring kotor itu dan berjalan menuju dapur. Kembali melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri.

0o0

Tak terasa tiga bulan telah berlalu. Cheonsa masih sama seperti tiga bulan sebelumnya; selalu tersenyum. Kini setelah ia tahu tentang gadis bernama Cho Hyunna itu, Cheonsa jadi tak terlalu khawatir akan keberadaan Mingyu jika ia tak pulang ke rumah.

Cheonsa sedang menyiram rumpun mawar di tamannya. Jika ia melihat mawar entah kenapa ia jadi teringat saat-saat pernikahannya dan Mingyu dulu. Mingyu yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo putihnya. Namun senyumannya memudar. Ia juga teringat bagaimana wajah dingin Mingyu saat menatapnya pertama kali di altar.

Setitik air mata mengalir di pipinya. Ia sadar, Mingyu tak pernah mencintainya. Ia sadar, dan harusnya ia tahu diri. Mingyu hanya ingin melindunginya. Ia tahu hal itu, dan entah kenapa itulah alasan kenapa ia masih bisa tersenyum sangat manis di depan Mingyu. Cheonsa cukup tahu diri dan tak ingin menuntut lebih.

Ia melamun memikirkan semua hal itu, yang tanpa sadar malah tak memfokuskan matanya saat menyiram tanaman. Entah dari mana, sebuah tangan meraih selang yang menggantung di tangannya. Ia terlonjak. Apakah ini Mingyu? Apakah benar suaminya sudah pulang?

“Min—Ah, annyeong Jun Oppa.” Sepersekian detik, rasa terkejut itu ia ganti dengan seulas senyuman. Ternyata bukan Mingyu.

Annyeong, Cheonsa. Mingyu masih harus mengurus beberapa pekerjaan, dan ia menyuruhku untuk melihat keadaanmu. Mungkin ia akan pulang beberapa hari lagi.” Entah mengapa, Cheonsa merasa jika senyum Jun sangat manis.

Namun, berusaha sekeras apa pun membenci Mingyu, ia tetap mencintai suaminya. Walaupun ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa suaminya tak pernah menyimpan perasaan apa pun padanya. Hanya perasaan kasihan. Ya, mungkin hanya rasa kasihan yang Mingyu miliki untuk Cheonsa.

“Ah Oppa, mari masuk. Cheonsa membuat kue coklat hari ini.” Cheonsa tersenyum, dengan terpaan cahaya senja yang membuatnya berkali lipat lebih manis. Jun hanya tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti Cheonsa masuk ke dalam rumah.

0o0

Jun duduk di sofa sambil melihat sekeliling. Rumah ini sangat rapi. Apakah Cheonsa selalu merapikan rumah ini sendiri? Ia jadi merasa kasihan pada Cheonsa. Gadis itu masih terlalu muda untuk merasakan sakit hati yang ia rasakan sekarang.

Jun kembali teringat, segala memorinya tentang peristiwa bertemunya Mingyu dan Cheonsa―yang berakhir dengan sebuah pernikahan konyol. Waktu itu, Cheonsa hanyalah gadis tujuh belas tahun yang Mingyu dan Jun temui sedang bekerja paruh waktu di kafe favorit mereka.

Mingyu selalu bercerita padanya, bagaimana ia ingin sekali melindungi gadis manis itu. Jun tersentuh. Suatu keajaiban jika Kim Mingyu mempunyai rasa peduli pada orang lain selain dirinya dan keluarganya. Tapi, satu yang membuat Jun kecewa. Saat ia menanyakan apakah Mingyu mencintai gadis itu, jawabannya ialah tidak. Mingyu hanya merasa perlu untuk melindungi gadis rapuh itu.

Lalu setelah Mingyu dan Cheonsa saling mengenal, di hari kelulusan Cheonsa, Mingyu melamarnya. Cheonsa, yang pada dasarnya hanyalah seorang gadis polos, menerima lamaran itu dan tiga hari setelahnya mereka menikah.

Jun juga masih mengingat jelas, bagaimana wajah terkejut Cheonsa saat tahu bahwa Mingyu menikahinya hanya karena rasa kasihan. Gadis itu hanya memasang wajah terkejut, lalu selanjutnya hanya senyum yang menghiasi wajahnya. Jun semakin iba melihat keadaan Cheonsa sekarang yang selalu ditinggal Mingyu bekerja.

Mingyu memang direktur muda yang harus menjalankan bisnis ayahnya, bersama Jun sebagai sahabat sekaligus sekretaris pribadinya. Bahkan Mingyu selalu menyuruh Jun untuk memantau Cheonsa setiap bulannya, yang membuat Jun mau tak mau harus melihat pemandangan menyedihkan yang tersembunyi di balik senyum manis Cheonsa.

“Jun Oppa, silakan dimakan.” Cheonsa meletakkan nampan berisi kue cokelat dan teh hangat di atas meja. Cheonsa duduk di samping Jun yang kini baru tersadar dari lamunannya.

“Terima kasih. Bagaimana kabarmu, sehat?” Jun melihat Cheonsa yang sepertinya semakin kurus. Kulit susunya semakin pucat dan matanya sedikit sayu walaupun hal itu tak mengurangi kecantikan Cheonsa.

Ne, Cheonsa sehat.” Ia tersenyum, seperti biasa. Jun hanya menghela napas pelan. Apakah Cheonsa tak lelah jika harus selalu tersenyum seperti itu? Jun sangat tahu bahwa Cheonsa mengalami hari-hari yang berat tanpa Mingyu.

Jun mengambil sepotong kue dan langsung memakannya. Sangat enak, seperti biasa saat ia datang berkunjung. Cheonsa hobi memasak dan sepertinya dengan memasak membuatnya sedikit terhibur dalam kesendiriannya. Jun menoleh, ia mendapati setitik air mata mengalir di pipi chubby Cheonsa.

Jun terkejut. Itulah tetes air mata pertama yang ia lihat di balik senyum manis Cheonsa. Tanpa ragu ia langsung memeluk Cheonsa, membiarkan gadis itu tenang. Jun sangat sadar, bahwa Cheonsa hanyalah seorang gadis kecil yang masih membutuhkan kasih sayang.

“Cheonsa merindukan Mingyu Oppa.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir cherry-nya. Gadis itu tenang dalam pelukan Jun. Sepertinya gadis itu tidak menangis sesenggukan seperti perempuan lain pada umumnya.

Sepuluh menit berlalu. Hanya keheningan yang menemani mereka. Cheonsa masih merasa nyaman dalam pelukan Jun, dan Jun sepertinya tak ingin melepaskan gadis kecil di pelukannya. Entah sejak kapan, sepertinya ia mulai menyukai Cheonsa.

“Jun Oppa,” panggil Cheonsa pelan. Jun hanya diam, menunggu Cheonsa melanjutkan kalimatnya.

“Apa Oppa kenal dengan Cho hyunna? Ia sangat cantik.”

Jun tersentak. Cho Hyunna adalah gadis yang selalu bersama Mingyu. Mereka adalah sepasang kekasih.

Jun semakin mengeratkan pelukannya pada Cheonsa. Harusnya gadis itu yang menangis, namun malah Jun yang kini tak kuasa menahan tangisnya. Seolah ia dapat merasakan bagaimana perihnya hati Cheonsa yang selalu tersenyum untuk menghapus rasa sakit di hatinya.

“Kenapa Oppa menangis? Oppa lelah bekerja, ya?” Cheonsa melepas pelukan mereka, menghapus jejak air mata di pipi Jun. Gadis itu tersenyum sangat manis.

Jun sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang seperti Cheonsa. Harusnya Cheonsa menjadi malaikat surga yang bahagia, bukan menjadi manusia yang selalu merasakan perih di hidupnya. Ia masihlah remaja yang seharusnya merasakan kebebasan dan kebahagiaannya di masa muda. Namun malah hal sebaliknya yang ia dapat.

“Bagaimana kau bisa kuat menghadapi semua ini, Cheonsa?” Jun meletakkan kedua tangannya di pipi Cheonsa. Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum.

“Karena aku mencintai Mingyu Oppa. Aku percaya padanya.”

Skak. Jun kini merasa bahwa ia adalah orang yang jahat karena tak bisa berbuat apa-apa. Dulu, ia tak sanggup menolak permintaan Mingyu untuk mengurus pernikahan Mingyu dengan Cheonsa. Lalu sekarang, ia juga tak kuasa untuk menasihati Mingyu atas perbuatannya yang keterlaluan.

“Malaikat itu nyata adanya, karena Cheonsa adalah seorang malaikat,” ucap Jun. Ia mengusap kepala Cheonsa dengan sayang. Cheonsa hanya terdiam mendengarnya.

“Aku akan selalu menjadi malaikat untuk orang-orang yang aku sayangi.” Cheonsa mengambil sepotong kue dan memasukkannya paksa ke mulut Jun, yang membuat Cheonsa tertawa lucu. Lalu mereka hanyut dalam candaan itu.

0o0

Tiga hari setelahnya, Mingyu pulang ke rumah bersama Jun di belakangnya. Cheonsa yang membukakan pintu itu tersenyum lebar karena senang. Jun yang melihat senyum Cheonsa hanya mampu menghela napas. Kapan Mingyu sadar atas perbuatannya ini?

“Mingyu Oppa butuh apa? Biar Cheonsa siapkan.” Cheonsa mengambil tas kerja dari genggaman Mingyu sambil berjalan di sebelahnya.

“Siapkan kamar untuk Jun Hyung, dan siapkan air hangat juga,” perintah Mingyu tanpa sedikitpun menoleh pada Cheonsa. Cheonsa mengangguk dan langsung meninggalkan Mingyu dan Jun untuk membuatkan minuman.

Mingyu duduk di sofa. Menyandarkan kepalanya lalu terpejam sejenak. Ia benar-benar sangat lelah. Jun ikut duduk di sampingnya. Ia memandang Mingyu dengan pandangan yang tak dapat didefinisikan apa maksudnya.

“Ini, aku baru saja selesai membuat cheese cake. Makanlah.” Cheonsa berlalu setelah sebelumnya meletakkan sepiring cheese cake dan dua gelas teh madu kesukaan Mingyu.

“Mingyu―”

“Jika ingin membahas tentang Cheonsa jangan sekarang Hyung, aku lelah.” Mingyu masih memejamkan matanya. Jun hanya mengendikkan bahu lalu mulai memakan kue yang tersaji di meja.

Mingyu sama sekali tak beranjak dari posisinya. Ia benar-benar lelah karena bekerja nonstop beberapa bulan ini. Ia benar-benar mengorbankan masa mudanya untuk hal yang menurutnya membosankan, jika saja ayahnya tak memaksanya untuk melakukan hal ini.

Oppa, air hangatnya sudah siap.” Cheonsa datang diiringi senyuman manisnya seperti biasa. Jun memandang Mingyu tajam. Apakah sahabatnya ini tidak mempunyai mulut untuk sekadar berterima kasih?

“Jun Hyung mandi saja duluan. Aku masih ingin memejamkan mata sebentar,” kata Jun dengan suara lelahnya.

Jun mengangguk lalu pergi meninggalkan Cheonsa dan Mingyu berdua. Mungkin mereka perlu waktu berdua untuk bicara.

Jun mengintip di balik pintu. Ia melihat Cheonsa menghampiri Mingyu lalu mulai memijat pelipis suaminya. Ya Tuhan, Jun benar-benar ingin menangis saat ini. Mingyu bahkan hanya terdiam tanpa mengucapkan terima kasih atau kata-kata manis lainnya. Sungguh, ia menyesal menuruti permintaan Mingyu yang ingin menikahi Cheonsa.

“Apa Oppa makan dengan baik di sana?” Cheonsa masih memijat pelipis Mingyu. Inilah yang Mingyu butuhkan. Sentuhan lembut istrinya saat ia lelah.

“Hm,” jawab Mingyu terlewat singkat. Baru saja Cheonsa akan bicara lagi, bel rumah berbunyi dan Cheonsa dengan sigap langsung berjalan menuju pintu.

Ia melihat dari intercom. Seorang wanita cantik yang kira-kira lebih tua darinya berdiri di depan pintu dengan senyum yang sangat cantik. Cheonsa membukakan pintu dan memasang senyum termanisnya.

Nuguseyo?” tanya Cheonsa sopan. Wanita itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Kau pasti adiknya Mingyu. Wah, kalian lumayan mirip. Cho Hyunna imnida.” Rentetan kalimat itu seakan jarum yang satu per satu menusuk hati Cheonsa. Namun malah senyum manis andalannya yang ia tunjukkan.

“Ah, ne. Cheonsa imnida. Mingyu Oppa baru saja pulang, ia sepertinya masih lelah. Eonni masuklah.”

Hyunna tersenyum lalu masuk mengikuti Cheonsa. Ia langsung menghampiri Mingyu yang masih menutup matanya. Ia mencium pipi Mingyu yang sontak membuat Mingyu membuka matanya. Ia kaget, tentu saja. Bagaimana bisa Hyunna ke sini? Bagaimana dengan Cheonsa?

“Mingyu Oppa, Hyunna Eonni mencarimu. Eon, mau minum apa?” Cheonsa yang melihat adegan itu langsung segera tersadar dan memilih untuk mengikuti permainan Mingyu.

“Apa saja.” Hyunna tersenyum. Dalam hati Cheonsa mengiyakan. Pantas saja Mingyu menyukai wanita berambut kemerahan itu. Hyunna memang sangat cantik.

Mingyu hanya terdiam. Mau tak mau ia harus membicarakan hal ini nanti dengan Cheonsa. Jun yang baru saja selesai mandi tercengang melihat pemandangan di depannya. Cho Hyunna sedang mengobrol dengan Mingyu. Lalu, bagaimana dengan Cheonsa? Jun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mingyu sangat keterlaluan.

“Jun Hyung sudah selesai? Hyunna, aku mandi dulu.” Hyunna mengangguk lalu Mingyu meninggalkan Hyunna bersama Jun.

Annyeong, Oppa. Jun Oppa menginap di sini?” sapa Hyunna sopan. Baru saja Jun akan menjawab, namun matanya tertuju pada gadis yang datang dari arah dapur membawa segelas teh dan sepiring kue seperti yang ia makan tadi.

Eon, silakan dimakan. Jun Oppa, sudah selesai?” Cheonsa duduk di seberang Hyunna, di samping Jun.

Gomawo. Cheonsa sangat cantik, mirip dengan Mingyu. Kalian adik-kakak yang manis.” Ucapan Hyunna membuat Jun membulatkan matanya.

Tega sekali Mingyu mengaku bahwa Cheonsa adalah adiknya. Jika saja Mingyu bukanlah sahabatnya, Jun ingin sekali memukulnya sampai ia meminta maaf pada Cheonsa. Namun—sekali lagi—Jun tak mampu berbuat apa-apa. Jun melirik Cheonsa, gadis itu tersenyum mendengar pujian Hyunna.

Gomawo, Eon. Cheonsa ke kamar dulu, ya.” Cheonsa tersenyum lalu meninggalkan Hyunna berdua dengan Jun.

Cheonsa masuk ke dalam kamarnya dan Mingyu. Ia mendapati suaminya sedang mengeringkan rambut di depan cermin besar kamar mereka. Mingyu yang melihat pantulan Cheonsa masuk kini terdiam, menghentikan aktivitasnya sejenak.

Oppa duduklah, biar Cheonsa yang mengeringkan rambutmu.”

Mingyu tanpa bantahan langsung duduk di kursi terdekat, membiarkan Cheonsa mengeringkan rambutnya dengan handuk yang sedari tadi ia pakai.

Selama beberapa menit, hanya keheningan yang menemani mereka. Mingyu melihat pantulan wajah Cheonsa dari cermin. Gadis ini semakin cantik setiap kali pertemuan singkat mereka. Mingyu juga dapat mencium aroma mawar khas tubuh Cheonsa, yang membuat Mingyu tenang jika berada di dekat istrinya itu.

“Rambut Oppa agak kasar. Apa Oppa selalu memantau lapangan? Perhatikan kesehatanmu juga, jangan terlalu memforsir kerja.” Selalu, saat momen seperti ini terjadi pasti Cheonsa akan menasihati Mingyu. Mingyu hanya terdiam mendengar suara Cheonsa, yang sepertinya sudah bertahun lamanya tak ia dengar.

“Rambutmu semakin panjang, poninya juga. Potonglah sedikit.” Entah mendapat dorongan dari mana. Seakan mendapat ilham dari Tuhan, kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Mingyu.

Cheonsa terlonjak. Baru kali ini ia mendengar kalimat manis seperti itu dari Mingyu―ya, setidaknya manis bagi Cheonsa. Setetes air mata jatuh di pipi putihnya. Tanpa kata apa pun, Cheonsa langsung memeluk leher Mingyu. Ia terlampau senang. Bahkan dengan kalimat sederhana itu saja sudah membuat hatinya sangat bahagia. Mingyu masih peduli padanya.

Sedangkan Mingyu? Ia masih terdiam di tempatnya. Ia hanya menikmati perlakuan Cheonsa padanya. Mingyu merasa nyaman dengan harum rambut Cheonsa. Mereka larut dalam keheningan untuk beberapa menit ke depan. Namun Cheonsa segera sadar dan melepas pelukannya.

“Ah, Hyunna Eonni menunggumu. Nah, rambutnya sudah kering. Cheonsa keluar dulu ya, Oppa.” Cheonsa langsung keluar dari kamar mereka. Entah kenapa, mendengar Cheonsa menyebutkan nama Hyunna membuat hati Mingyu sedikit sakit.

0o0

Karena Mingyu terlalu lelah, ia memutuskan untuk tidak bekerja dulu selama beberapa hari. Ia selalu berada di rumah dan bersantai, bahkan terkadang ia membantu Cheonsa membuat kue. Apakah itu sebuah awal yang baik? Sepertinya tidak. Karena Hyunna lebih sering berkunjung dan membuat Cheonsa hanya bisa memberikan senyuman termanisnya.

Di saat yang sama, Jun juga menempatkan dirinya di saat yang tepat. Ketika Cheonsa hanyut dalam kesendiriannya melihat Mingyu dan Hyunna tertawa bahagia, Jun seakan malaikat yang akan selalu menghibur Cheonsa bagaimanapun caranya.

Kini Cheonsa sedang duduk di sofa, menonton drama favoritnya sambil memakan kue buatannya sendiri. Beginilah keseharian Cheonsa di sore hari. Mingyu datang dari arah taman belakang dan mendudukkan dirinya di samping Cheonsa. Cheonsa hanya menoleh sambil tersenyum, lalu menyuapkan sepotong kue ke mulut Mingyu. Mingyu tak menolak. Ia menikmati segala perlakuan manis istrinya padanya.

Jun datang menyusul lalu duduk di sisi kanan sofa. Matanya mengawasi segala pergerakan Mingyu. Jun sudah menduga cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Hingga saat inilah Jun ingin selalu menemani Cheonsa dan memberikannya semangat.

“Cheonsa, ada hal yang ingin aku sampaikan.” Mingyu tetap memandang televisi itu. Jun sudah bersiap akan memukul Mingyu jika kalimat itu benar-benar ia ucapkan sekarang.

Ne, Oppa?”

“Dua hari lagi aku akan menikah dengan Hyunna.”

Hening, Mingyu menatap Cheonsa datar. Jun masih berdiam diri di tempatnya, menunggu reaksi Cheonsa.

Dan benar perkiraan Jun. Cheonsa tidak marah, tidak mencaci-maki Mingyu ataupun menangis meraung. Ia hanya tersenyum seperti biasa, dan itu cukup untuk membuat hati Jun semakin sakit. Terbuat dari apa hati gadis itu? Ia benar-benar ingin memukul Mingyu kalau saja Cheonsa tidak mulai membuka mulutnya.

“Selamat, Oppa. Cheonsa doakan yang terbaik untuk kalian.” Mingyu sedikit tersentak. Bagaimanapun juga Cheonsa itu istrinya. Apakah ia tak ingin mengucapkan hal lain selain kata selamat?

“Kau… tidak marah?” tanya Mingyu pelan. Oke, ia mulai khawatir dengan keadaan Cheonsa sekarang. Entah kenapa senyum manis istrinya itu kini terlihat menakutkan di mata Mingyu.

“Cheonsa sudah kehilangan emosi, Oppa. Cheonsa sudah tidak bisa marah ataupun yang lain. Cheonsa hanya bisa tersenyum. Cheonsa tidak marah pada Oppa, karena Cheonsa mencintai Oppa. Juga, Cheonsa hanya ingin Mingyu Oppa bahagia.”

Tak ada ekspresi lain. Walaupun perkataannya sangat menusuk, namun senyuman manis itu tak pernah pupus dari wajahnya.

“Cheonsa istirahat dulu, ya? Akhir-akhir ini kepalaku sedikit pusing. Mungkin kelelahan. Mingyu Oppa, Jun Oppa, Cheonsa duluan, ya.” Cheonsa berlalu menuju kamarnya dan Mingyu. Mingyu menatap punggung Cheonsa nanar.

Apakah ia sudah sangat keterlaluan? Mingyu bertanya-tanya, di mana hatinya selama ini? Mengapa ia tak bisa mencintai Cheonsa? Mengapa tak ada rasa apa pun dalam hatinya untuk Cheonsa? Apakah hatinya mati rasa?

“Sejujurnya, aku sangat ingin memukulmu, Kim Mingyu.” Jun memulai pembicaraan serius dengan Mingyu. Mingyu menatap sahabat yang sudah ia anggap sebagai Hyung-nya itu. Kesabaran Jun sudah mencapai batasnya saat ini.

“Pukul saja, ini salahku,” ujar Mingyu datar. Pikirannya saat ini menerawang entah ke mana. Jun menghampiri Mingyu lalu duduk di sampingnya.

“Sayang sekali aku bukan orang seperti itu. Pikirkan sekali lagi, atau aku akan membantumu dalam berpikir jernih. Tentunya kau tahu pasti caraku tersendiri dalam menyelesaikan masalah. Malam.” Jun bangkit dan meninggalkan Mingyu yang masih mencerna perkataan Hyung-nya itu.

Apa yang akan terjadi?

TBC

Iklan

10 thoughts on “[Twoshot] Harder Than You Know (1)

  1. Ya gusti ini feel hurt nya dapet bgt:” Baper di dini hari seperti ini yasalam:”” Pedih ngebayangin gimana rasanya jadi Cheonsa:””

    Nice fic thor! Salam kenal dariku ya:”)

    Suka

  2. astaga, mingyu minta ditimpuk pake bangkiaknya mak gue 😥 jahat banget sama cheonsa ya? aduuh dedek jun baik banget, senyum angelicnya semoga nambah pahala ya dek~

    kelanjutannya ditunggu kak~~ >.<

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s