[Twoshot] Harder Than You Know (2)

htyk

Angelina Triaf ©2016 Present

Harder Than You Know

Kim Mingyu, Wen Junhui (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Romance, Hurt, Marriage-life | PG-17 | Twoshot

0o0

Cheonsa berdiri di balkon kamarnya. Ia memandangi langit malam yang cerah dengan taburan bintang menghiasinya. Cheonsa menghela napas. Udara sangat dingin, namun entah mengapa ia tak merasakan dingin itu. Tubuhnya sudah mati rasa seiring matinya hatinya.

Entah dari mana, lengan hangat melingkari pinggangnya. Cheonsa tersenyum. Ini bukan Mingyu, ia sangat hafal tubuh suaminya. Namun Cheonsa hanya terdiam, ia merasa nyaman dalam pelukan orang itu.

“Sebesar itukah cintamu pada Mingyu?” Cheonsa mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. Orang di belakangnya hanya menghela napas.

“Cheonsa―”

“Jun Oppa, mengapa kau sangat baik padaku? Bukankah Cheonsa orang yang egois?” ujar Cheonsa dengan nada bicara seperti biasanya. Suara yang lembut itu sama sekali tidak berubah.

“Cheonsa―”

“Cheonsa sangat tahu jika Mingyu Oppa tak mencintaiku, namun Cheonsa masih saja mempertahankannya. Bukankah Cheonsa orang yang sangat egois?” Cheonsa tertawa seakan kalimatnya barusan adalah sebuah lelucon yang sangat lucu.

“Cheonsa―”

“Cheonsa adalah orang yang―”

“PARK CHEONSA!”

Untuk pertama kalinya, Jun membentak seorang gadis. Ia tak habis pikir bagaimana jalan pikiran gadis yang ia cintai ini.

Jun membalik tubuh cheonsa agar menghadap ke arahnya. Namun apa yang dilihatnya? Hanya senyuman tipis yang masih menghiasi wajahnya. Hati Jun benar-benar sakit saat ini. Bagaimana bisa Mingyu menyia-nyiakan gadis manis di depannya ini? Cheonsa hanyalah gadis kecil yang masih butuh kasih sayang dari orang yang ia cintai.

Cheonsa butuh kasih sayang dari Mingyu, suaminya sendiri.

“Bisakah aku menggantikan posisi Mingyu di hatimu, Cheonsa?” Setitik air mata jatuh di pipi Jun. Senyum Cheonsa pudar. Ia menghapus air mata itu lalu menatap Jun dalam.

“Cheonsa hanya mencintai Mingyu Oppa,” lirihnya pelan. Kini Jun dapat merasakan keperihan yang Cheonsa selalu simpan dalam hatinya. Mata hijau cemerlang Cheonsa kini nampak sendu.

Jun tak sanggup. Ia kini mendekatkan wajahnya pada Cheonsa, menyalurkan rasa sayangnya lewat sebuah ciuman lembut yang selama ini hanya ia bayangkan dalam benaknya. Ia terlalu mencintai Cheonsa, walaupun gadis itu tak pernah mengerti dengan perasan Jun padanya.

Cheonsa hanya diam. Seperti yang telah disebutkan, Cheonsa telah mati rasa. Ia hanya memiliki rasa cinta yang besar untuk Mingyu, namun ia tak mencintai hatinya sendiri. Tak merasa kasihan dengan hatinya yang sangat perih bahkan sampai mati. Cheonsa terlalu mencintai Mingyu namun lupa untuk mencintai dirinya sendiri.

Jun masih mencium gadis itu, sampai ia rasa Cheonsa mengalungkan lengannya di leher Jun. Cheonsa, perlahan membalas ciuman lembut Jun. Sangat manis. Cheonsa bahkan sedang mengingat kapan terakhir kali Mingyu menciumnya seperti ini. Tiga bulan yang lalu, sebelum ia tahu bahwa Mingyu mempunyai wanita lain di hatinya.

Jun—tanpa kesadaran penuh—menggendong Cheonsa dan membaringkannya di ranjang kamar itu, masih menautkan bibir mereka. Jun mengusap pipi halus gadis itu. Ia sangat mencintainya, dan bahkan dapat merasakan hati Cheonsa yang perih karena terus mencintai Mingyu.

Ini salah, Cheonsa tahu ini salah. Cheonsa melepaskan bibirnya dari bibir Jun, dan kini Jun menatapnya dengan pandangan meremehkan.

“Kenapa, Cheonsa? Kau mengingat Mingyu? Mingyu tak mencintaimu. Bahkan jika aku merasakan tubuhmu bahkan membunuhmu saat ini, Mingyu tak akan peduli dengan teriakanmu yang memanggil-manggil namanya. Mingyu tak mencintaimu, Cheonsa!”

Cheonsa yang mati rasa pun masih dapat merasakan jika omongan Jun memang benar. Bahkan sangat tepat sasaran. Mingyu tak pernah mencintainya. Cheonsa hanya terdiam, memandang mata Jun yang sangat menusuk sampai ke hatinya. Apakah sakit hati Jun adalah cerminan betapa sakit hati dirinya?

Cheonsa kembali pada hatinya. Hatinya masih mencintai Mingyu. Mingyu sudah mengunci hatinya. Hanya Mingyu, tak ada yang lain. Bahkan kebaikan hati Jun pun tak mampu merobohkan dinding cintanya untuk Mingyu.

“Mingyu Oppa! Mingyu Oppa! Tolong…” Cheonsa terus memanggil-manggil dengan lirih nama Mingyu. Namun pria itu tak kunjung datang. Jun kini sudah seperti orang yang baru saja mendapatkan boneka kesayangannya.

Jun masih terus memainkan pipi Cheonsa, menenggelamkan dirinya dalam leher Cheonsa. Menikmati setiap detiknya saat ini bersama gadis yang ia cintai.

“Teriaklah Cheonsa. Mingyu tak akan datang,” bisik Jun pelan, dan mungkin hati Jun ikut mati dan hanya ada cinta untuk Cheonsa dalam hatinya.

Sementara di luar kamar, Mingyu hanya terdiam mendengar teriakan Cheonsa. Sekarang ia tahu, apa yang dimaksud Jun dengan cara penyelesaian masalah itu. Jun benar-benar nekat, pikir Mingyu.

Mingyu tahu, seharusnya ia menerobos masuk ke dalam kamarnya, memukul Jun dan merengkuh Cheonsa ke dalam pelukannya. Seharusnya Mingyu melindunginya. Namun ia masih bingung dengan hatinya saat ini. Apakah ia benar mencintai Cheonsa? Apa alasannya menikahi Cheonsa setahun yang lalu? Kasihan? Rasa iba kah? Atau apa? Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Cheonsa masih meneriakkan nama Mingyu. Jun sudah mulai melakukan perbuatan yang lebih ekstrem. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku kemejanya. Ia tersenyum mengerikan. Seperti inikah wujud asli Jun? Pria sadis yang menyeramkan?

“Apa aku bilang, Mingyu tak akan datang. Juga, Cheonsa, ku lebih baik melihatmu mati lalu menjadi malaikat surga yang cantik dibanding hidup hanya untuk mencintai laki-laki tak berguna seperti Mingyu,” ucap Jun tenang sambil memainkan pisaunya dengan jari-jari tangannya

Cheonsa masih berontak dalam kekangan tangan Jun. Gadis itu masih terus meneriakkan nama Mingyu. Cheonsa menangis. Untuk pertama kalinya Jun melihat gadis yang ia cintai menangis sangat pilu seperti itu.

“Mingyu! Coba lihat, Cheonsa menangis hanya karena aku ingin membunuhnya! Bagaimana menurutmu? Bukankah Cheonsa adalah parasit dalam hubunganmu dan Hyunna?! Perlu aku bantu untuk melenyapkannya?!” teriak Jun yang terdengar seperti petir di telinga Cheonsa. Jun tidak main-main dengan perkataannya.

Mingyu membuka pintu dan benar saja, ia melihat tubuh Jun yang mengekang tubuh mungil istrinya dengan pisau berkilau di tangannya. Hyung-nya benar-benar sudah gila.

“Hentikan, Hyung!” teriak Mingyu sambil menatap Jun tajam. Jun yang ditatap begitu hanya tertawa remeh lalu kini memainkan pisau itu di wajah cantik Cheonsa. Gadis itu hanya terdiam. Ia sudah pasrah dengan hal apa pun yang terjadi nantinya.

“Kenapa? Aku hanya ingin membantumu menyingkirkan parasit ini,” kata Jun sok polos dengan smirk dinginnya. Mingyu membulatkan matanya. Bukankah Jun sangat mencintai Cheonsa?

“Kumohon hentikan…”

Sepanjang mereka hidup bersama, baru kali ini Cheonsa mendengar Mingyu memohon seperti itu. Cheonsa tersentuh, berbeda dengan Jun yang malah tertawa melihat Mingyu memohon dengan menyedihkan.

“Terlambat,” ujar Jun pelan. Jun menusukkan pisaunya ke arah Cheonsa.

“Jun Oppa!” teriak Cheonsa disertai matanya yang membulat tak percaya.

Darah segar menempel di mata pisau itu. Pemandangan yang membuat hati Mingyu tertohok sedalam-dalamnya. Mingyu bahkan menangis sambil menutupi wajahnya. Tangisnya terdengar pilu. Ia masih belum sanggup jika harus kehilangan Cheonsa.

“Mingyu Oppa…” Lirihan gadis itu kini terdengar di telinganya, bersamaan dengan sentuhan sebuah tangan halus di tangannya. Itu tangan Cheonsa.

“Ti-tidak mungkin…”

Cheonsa berlutut di depannya dengan senyum manisnya seperti biasa. Tubuhnya masih utuh, hanya terdapat bercak darah di bajunya. Tunggu, darah siapa itu?

“Sudah kubilang kan, aku punya caraku tersendiri untuk menyelesaikan masalah,” ujar Jun santai dan langsung berlalu meninggalkan Cheonsa yang tersenyum juga Mingyu yang tercengang.

Mingyu melihat tangan kiri Jun yang mengeluarkan banyak darah.

Jadi, tadi itu hanya…

Mingyu masih bingung dengan hal yang terjadi beberapa detik yang lalu. Ia masih memandang tak percaya Cheonsa yang tersenyum manis ke arahnya.

“Cheonsa tak tahu jika Jun Oppa hanya pura-pura. Aktingnya sangat keren, aku benar-benar takut,” ucap Cheonsa sambil membantu Mingyu berdiri.

Mingyu masih syok. Sangat. Bagaimana bisa Hyung-nya yang selama ini ia kira sebagai good person tiba-tiba berbuat hal konyol seperti itu? Mingyu hanya terdiam di tempatnya. Cheonsa tersenyum lalu menarik tangan Mingyu lembut dan membantu suaminya itu duduk di pinggir ranjang.

“Cheonsa mau mengobati luka Jun Oppa dulu.” Cheonsa berlalu meninggalkan Mingyu yang sampai detik ini masih enggan mengeluarkan suaranya.

Cheonsa menghampiri Jun yang sedang berdiri di depan wastafel, membersihkan darah yang masih keluar cukup banyak. Jun yang menyadari kehadiran seseorang lantas berbalik dan tersenyum saat mendapati Cheonsa sedang berjalan ke arahnya.

“Jun Oppa melakukan hal konyol,” kata Cheonsa sebelum kini ia terfokus pada luka Jun. Jun dan Cheonsa duduk di kursi ruang makan, dengan Cheonsa yang sedang menggulung perban di lengan Jun.

Mereka larut dalam keheningan. Cheonsa terlalu fokus pada luka yang cukup besar itu, dan Jun terlalu fokus untuk memandangi bidadari di hadapannya. Jun hanya tersenyum sambil memerhatikan wajah Cheonsa yang sangat cantik. Gadis itu semakin cantik setiap harinya.

Terkadang Jun berpikir, mengapa bukan ia saja yang menikahi Cheonsa waktu itu? Mengapa ia harus menuruti permintaan bodoh Mingyu jika nyatanya saat ini Mingyu tak peduli pada Cheonsa? Jun sadar jika ia terlambat, karena hati Cheonsa sudah terlanjur terkunci dalam ruang cinta Mingyu.

“Jun Oppa?” Panggilan itu membuyarkan lamunan Jun. Ia tersenyum menatap Cheonsa lembut.

“Apakah Oppa juga yang akan mengurus pernikahan Mingyu Oppa dengan Hyunna Eonni?” tanya Cheonsa yang masih fokus mengobati lengan Jun. Pria itu seketika membulatkan matanya.

Perasaan bersalah kembali meliputi hatinya. Cheonsa, kenapa gadis rapuh itu harus bersembunyi dalam sosok perempuan tegar seperti itu? Ya, memang benar pernikahan Mingyu yang kedua nanti Jun juga yang mempersiapkannya. Mingyu tadi membujuk Jun, sebelum terjadi insiden yang membuat Mingyu menangis tertunduk seperti tadi.

Hyung, lusa aku akan menikah dengan Hyunna. Tolong urus segala keperluannya.” Hanya dengan satu kalimat itu, emosi Jun sudah mencapai puncak.

“Mingyu, kau―”

“Aku akan bilang pada Cheonsa saat ini juga.” Mingyu langsung berjalan meninggalkan Jun.

KIM MINGYU!” Jun mengepalkan tangannya. Mingyu sudah benar-benar keterlaluan.

“Jun Oppa?” Cheonsa mengayunkan telapak tangannya di hadapan Jun. Jun sadar dari lamunannya tentang kejadian sore tadi, saat Mingyu meminta hal yang membuatnya sangat emosi.

“Hm?” Jun hanya menatap Cheonsa dengan wajah polosnya, seolah tak ada apa pun dalam pikirannya.

“Sudah selesai. Cheonsa ke kamar dulu, ne? Oppa anggap saja rumah sendiri.” Cheonsa tersenyum lalu pergi meninggalkan Jun yang masih terdiam.

Bukankah tadi Cheonsa menanyakan tentang pernikahan Mingyu? Mengapa ia langsung pergi? Gadis itu memang sedikit aneh, dan Jun merasakan adanya perubahan dalam diri Cheonsa. Setahun yang lalu ia tidak seperti itu. Ia masih bisa dikategorikan normal. Namun sekarang? Apa karena pengaruh sakit hati yang selama ini ia pendam sendiri?

0o0

Mingyu sedang duduk menyandar kepala ranjang sambil membaca buku saat Cheonsa masuk ke dalam kamar mereka. Cheonsa hanya tersenyum saat melihat Mingyu lalu terus berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil piyama tidurnya lalu masuk ke kamar mandi.

Mingyu yang tersadar akan kehadiran Cheonsa seketika menutup bukunya. Ia harus bicara dengan istrinya saat ini. Ia harus memantapkan hatinya. Apakah ia benar mencintai Cheonsa? Atau memang benar hanya rasa kasihan yang ia rasakan pada Cheonsa?

Cheonsa keluar dengan piyama tidur yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Mingyu baru tersadar, Cheonsa masihlah remaja yang dalam seumurannya ini sedang sangat manja-manjanya, namun ia tak pernah meluangkan waktunya hanya untuk sekadar bermesraan dengan istrinya.

Cheonsa naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya di samping Mingyu. Gadis itu membelakangi Mingyu, yang membuat Mingyu langsung melengos di tempat. Apakah sekarang Cheonsa jadi dendam kepadanya? Apakah sosok istrinya yang lembut dan murah senyum kini berganti menjadi gadis yang dingin? Mingyu merasa sedikit bersalah dan kecewa. Baru saja ia ingin mengajak Cheonsa bicara, namun gadis itu malah tak mengacuhkannya.

Mingyu memutuskan untuk meruntuhkan tembok esnya kali ini. Ia menaruh buku itu di atas meja nakas samping tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya. Ia memeluk Cheonsa dari belakang, menenggelamkan kepalanya dalam rambut pirang istrinya. Tak ada pergerakan dari Cheonsa, Mingyu memeluknya semakin erat. Ia menyingkap rambut panjang Cheonsa, dan kini malah menciumi tengkuknya.

Cheonsa mulai menggeliat kecil, merasa geli dengan kegiatan Mingyu. Cheonsa memegang lengan Mingyu, mencoba untuk melepaskan pelukan suaminya itu. Namun nihil. Sepertinya Mingyu ingin bermain-main dengan istrinya saat ini.

Oppa, lepas.” Bukannya melepaskan lengannya, Mingyu malah semakin mempererat pelukannya pada pinggang Cheonsa.

Cheonsa yang merasa sedikit risih langsung membalikkan tubuhnya menghadap Mingyu, mencoba memohon kepada suaminya itu bahwa ia sangat lelah. Cheonsa menatap mata Mingyu. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam mata suaminya. Seperti pancaran sinar yang seingatnya sudah lama tak pernah ia lihat. Sinar kasih sayang yang tulus.

“Cheonsa,” panggil Mingyu lembut. Cheonsa terdiam. Matanya membulat, yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan di mata Mingyu.

“Berapa usiamu saat ini?” Cheonsa mengedipkan kedua kelopak matanya, memasang wajah polos atas pertanyaan aneh Mingyu barusan. Untuk apa menanyakan usianya?

“Sembilan belas tahun, Oppa,” jawab Cheonsa, masih dengan wajah bingungnya yang menggemaskan.

Tanpa aba-aba, tangan Mingyu kini tengah asyik mengacak-ngacak poni Cheonsa, yang membuat pemiliknya langsung berteriak karena dapat serangan mendadak. Tidak berhenti di situ, Mingyu malah mengelitiki pinggang Cheonsa, membuat Cheonsa refleks memeluk Mingyu dan memohon untuk menghentikan kegiatan menggelikan itu.

Oppa, geli!” Hanya teriakan Cheonsa dan tawa Mingyu yang mendominasi dalam kamar mereka.

Mingyu, entah mengapa ia tersenyum sangat tulus. Melihat tawa Cheonsa saat ini ia merasakan sebuah kebahagiaan yang sepertinya sudah lama tak tersentuh dalam kehidupannya. Cheonsa benar-benar bagaikan sosok malaikat yang menerangi hidupnya tanpa ia sadari. Ia mencintai Cheonsa.

Mingyu mencintai Cheonsa.

“Aku mencintaimu.”

Cheonsa membulatkan matanya. Itulah kali pertamanya Mingyu mengucapkan dua kata sederhana namun berjuta makna di dalamnya. Cheonsa merasa pendengarannya sedang bermasalah. Ia masih terus mengerjapkan matanya melihat ekspresi Mingyu yang entah mengapa tersirat rasa tulus di sana.

Apakah ini akhir dari kisah menyedihkan mereka? Apakah ini sebuah awal dari perasaan cinta yang kembali dipersatukan?

“Menikahlah, Oppa,” ucap Cheonsa setelah ekpresi wajahnya kembali seperti semula.

Kali ini Mingyu yang membulatkan matanya. Apa maksudnya? Mengapa Cheonsa bicara seperti itu? Mingyu menyentuh kening Cheonsa, memastikan bahwa istrinya itu tidak sedang sakit ataupun mengigau. Ini pasti salah. Mengapa gadis itu menyuruhnya pergi sedangkan ia sudah mulai memantapkan hatinya?

“Cheonsa adalah istrimu, Oppa. Cheonsa mengenal Oppa dari luar dan dalam. Cheonsa hafal segala ekspresi Oppa. Separuh hatiku ada padamu. Cheonsa bisa merasakan bahwa Oppa hanya menyayangi Cheonsa. Oppa menyayangi Cheonsa karena Oppa merasa wajib untuk melindungi Cheonsa.”

Mingyu hanya diam. Apakah ini curahan hati Cheonsa yang terpendam selama ini? Apakah begitu sakitnya apa yang ia rasa? Mingyu tertohok sampai ke rongga hatinya yang terdalam. Selama ini ia hanya mementingkan egonya semata. Ia tak pernah melihat betapa menyedihkan menjadi seorang Park Cheonsa.

“Kau tidak mencintaiku, Oppa. Kau mencintai orang lain. Cheonsa tahu, karena secara tak langsung heonsa merasakan apa yang Oppa rasakan. Pergilah, Oppa. Cintai orang yang berhak Oppa cintai. Dengan begitu, mungkin Cheonsa juga bisa belajar mencintai orang yang mencintai Cheonsa.”

Cheonsa memeluk Mingyu erat. Ia ingin menyimpan lebih banyak memori tentang Mingyu sebelum membiarkan suaminya pergi dari hadapannya. Pergi dari kehidupannya. Kelak, Cheonsa akan merindukan segala hal tentang Kim Mingyu.

“Ceraikan aku, dan izinkan aku bahagia dengan sahabatmu. Aku melepasmu, Oppa.”

Itulah ucapan terakhir Cheonsa sebelum ia jatuh ke dalam alam mimpinya. Meninggalkan Mingyu yang entah sejak kapan sudah berlinang air mata.

0o0

Cheonsa melamun memandang langit senja yang begitu indah di hadapannya. Segelas susu hangat kesukaannya menemani sorenya yang tenang. Ia masih terus duduk di teras rumah, menunggu seseorang pulang dengan senyum merekah yang entah sejak kapan mulai ia rindukan.

Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah, dan muncul pria berambut cokelat dari balik pintunya. Pria dengan senyum manis yang selalu ia tunjukkan di depan istri tercintanya. Cheonsa mencoba bangkit dari duduknya, namun pria itu langsung menyuruhnya duduk kembali.

Jun, pria itu telah mendapatkan gadis yang selama ini ia kira tak akan pernah memandang rasa cintanya. Tak pernah terpikirkan dalam benak Jun sebelumnya bahwa ia akan merasakan sebuah kebahagiaan yang menurutnya hanyalah sebuah angan belaka, mengingat seberapa besar cinta Cheonsa pada sahabatnya.

Jun duduk di samping Cheonsa, bermanja dengan istrinya karena pekerjaan hari ini yang sangat melelahkan. Jun selalu menggoda Cheonsa yang diakhiri dengan tawa mereka berdua. Sungguh pasangan yang akan membuat iri siapapun yang melihatnya.

“Aku tak pernah menyangka akan menikah dengan ahjussi sepertimu,” ledek Cheonsa pada Jun yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari sang suami.

“Kita hanya terpaut tujuh tahun, sayang…”

Cheonsa hanya tertawa mendengar nada bicara Jun yang sok imut dan manja itu. Jun mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang lebih penting daripada istrinya yang terkadang menjengkelkan.

Oppa kesal padamu. Lebih baik Oppa bicara dengan si kecil saja.”

Jun mengelus perut Cheonsa yang sudah mencapai ukuran maksimalnya; sembilan bulan. Ia mendekatkan telinganya, mencoba mendengar si kecil di dalam sana. Cheonsa hanya mengembungkan pipinya. Jun memang ahjussi menyebalkan kesayangannya.

Hey, bagaimana keadaanmu di dalam sana? Ibumu menyebalkan, kautahu? Ayah akan memastikan bahwa kau nanti tidak menyebalkan seperti ibumu.”

Ya! Jun Oppa!

“Tuh, kan. Ibumu sangat cerewet.”

Kini Jun yang tertawa setelah sukses membuat Cheonsa kesal. Begitulah keseharian mereka, dipenuhi canda tawa dan kegembiraan di setiap harinya. Sepertinya kehidupan mereka sudah mencapai puncak kebahagiaannya. Dengan tambahan seorang lagi nantinya yang akan mewarnai kehidupan mereka.

Cheonsa tersenyum melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Jun. Entah kenapa setiap ia melihat Jun, ia jadi teringat dengan Mingyu. Pria yang selalu mengisi rongga terdalam hatinya. Bagaimanapun juga, nama Kim Mingyu tak akan pernah terhapus dari hati Cheonsa. Tak akan.

Tawa Jun terhenti ketika ia melihat Cheonsa memandanginya. Tatapan Cheonsa yang lembut membuatnya terhanyut dalam ruang cinta di sekeliling mereka. Jun kini mendekatkan wajahnya pada Cheonsa, seakan ada magnet yang menarik dirinya. Hampir saja bibir mereka bertemu sebelum―

“Akh, Oppa… Sepertinya bayinya akan keluar….” Cheonsa menahan sakit yang sangat, membuat Jun dengan segera menggendongnya menuju mobil.

“Kau berat sekali, sayang.”

Masih sempatnya ia bercanda di saat genting seperti ini. Jun membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Dalam hati terus berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Beberapa menit, dan mereka telah sampai di rumah sakit bersalin di pusat kota Seoul.

Jun menunggu dengan segala kecemasan yang menguasai dirinya. Ia terus berdoa agar Cheonsa dan anak mereka nanti diberi kesehatan. Jun memejamkan matanya, memberikan sugesti ketenangan pada dirinya sendiri. Membayangkan diri mereka nanti di masa depan, dengan menggandeng seorang anak dalam genggaman mereka.

“Anda suaminya?”

Jun langsung mengangguk dan sang dokter memberikan beberapa penjelasan. Anak mereka selamat, syukurlah. Cheonsa ingin bertemu dengannya. Mendengar itu, Jun segera memasuki ruang persalinan dan melihat Cheonsa dengan wajahnya yang pucat dan terlihat lemas.

Oppa.”

Jun dengan sigap duduk di tepi ranjang. Merangkul Cheonsa dan membuat istrinya senyaman mungkin. Ia mengelus rambut bergelombang Cheonsa dengan lembut dan menggenggam tangannya. Terasa dingin. Perasaan Jun menjadi tidak enak. Mungkinkah ini sebuah pertanda?

“Bayinya sangat menggemaskan dan tampan. Mirip seperti ayahnya,” kata Jun dengan senyum, antara ikhlas dan tidak.

Tepat dugaannya. Jun sudah mengira bahwa jika bayinya perempuan akan cantik seperti Cheonsa. Dan jika laki-laki…

“Waktuku tidak banyak, Oppa. Biarkan ayahnya melihat wajah si kecil. Aku menyayangimu, Oppa…”

Bunyi monoton terdengar di seluruh penjuru ruangan. Jun tersenyum, dengan bulir air mata yang terus berlinang di pipinya. Cheonsa pergi, meninggalkannya dengan berbagai kenangan manis yang tak akan pernah ia lupakan. Jun mencium kening Cheonsa untuk terakhir kalinya. Menambahkan aroma mawar dalam list wewangian yang ia suka.

Annyeong, naui cheonsa.

0o0

Jun menapakkan kakinya di jalan setapak sebuah taman yang sangat sepi. Hanya angin yang berembus meramaikan suasana. Jun terus berjalan, menetapkan tujuannya pada satu tempat. Si kecil dalam gendongannya terus tertawa sambil menepukkan kedua tangannya. Jun hanya tersenyum sambil terus menggoda si kecil.

“Kamu senang ya akan bertemu dengan ayah?”

Bayi itu masih terus tertawa, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Jun langsung duduk di rumput yang terlihat segar, dengan si kecil di pangkuannya. Bayi itu merangkak dan menyentuh batu di depannya. Jun tertawa melihat tingkah menggemaskan anaknya.

“Bagaimana kabarmu, Mingyu? Maaf aku baru bisa kemari sekarang. Aku harus menunggu umurnya satu tahun dulu baru boleh mengajaknya kemari. Apakah di sana kau bertemu Cheonsa? Semoga kalian bahagia, ya. Oh iya, namanya Junhyung. Ia sangat mirip denganmu.”

Begitulah, Jun terus bermonolog di depan batu nisan itu. Kim Mingyu, sungguh sahabatnya yang malang. Ia meninggal bunuh diri tepat di hadapannya dan Cheonsa. Kejadian pahit yang tak akan pernah ia lupakan. Saat di mana Mingyu memohon untuk kembali pada Cheonsa, sedangkan gadis itu sudah terlanjur memantapkan hatinya untuk meninggalkan Mingyu.

“Cheonsa, kumohon kembalilah padaku...”

“Tidak bisa, Oppa.” Cheonsa tersenyum memandang mata sayu Mingyu.

“Aku akan bunuh diri di depan kalian jika kau tidak kembali padaku!” Mingyu sudah mengacungkan pisau yang ia pegang.

“Cheonsa, kembalilah pada Mingyu...”

“Tidak, Jun Oppa. Aku tak mau.”

Hingga selanjutnya hanya suara kesakitan Mingyu dan kepanikan Jun yang terdengar, serta wajah datar Cheonsa yang menyiratkan rasa sakit melihat kematian orang yang paling ia cintai.

Jun tiba-tiba menangis mengingat peristiwa itu. Melihat sahabatnya sendiri mati di hadapannya dan ia tak mampu melakukan apa pun. Mingyu terlalu bodoh. Ia menyesal disaat yang tidak tepat. Penyesalan memang selalu datang di saat yang tidak tepat.

Pria itu juga masih mengingat percakapannya dengan Cheonsa sebelum mereka menikah. Tentang rahasia yang Cheonsa pendam sendiri tanpa seorangpun mengetahuinya. Di bawah sinar bulan malam itu, sebuah rahasia berhasil terungkap.

“Kenapa kau membiarkan Mingyu mati, Cheonsa?”

Cheonsa tak tahu, Oppa. Cheonsa hanya tak ingin janin ini tahu jika ia hadir tanpa rasa saling cinta dari kedua orangtuanya.”

“Ja-janin?”

Cheonsa mengandung anak Mingyu Oppa.”

Kala itu Cheonsa langsung menangis dalam dekapan Jun, mengeluarkan semua emosinya yang selama ini terpendam. Saat mereka menikah, Jun sudah berjanji akan menganggap bayi itu seperti anaknya sendiri.

Senja perlahan terbias di langit. Sudah saatnya Jun pulang. Tak baik jika ia masih berkeliaraan saat membawa bayi dalam gendongannya.

“Sudah ya, Mingyu. Kami pulang dulu. Junhyung, bilang sampai jumpa pada ayah.”

Bayi kecil itu seakan melambaikan tangannya pada batu nisan di depannya. Jun tertawa dan mencubit pipi anaknya dengan sayang. Lalu ia meninggalkan taman pemakaman tempat sahabatnya beristirahat dengan tenang.

FIN

Iklan

15 thoughts on “[Twoshot] Harder Than You Know (2)

  1. astaga kak, mingyu jadi bunuh diri. cheonsa malah jadi mati rasa~ aduuuh kasih jun jadi duda 😥 jun, aku masih available kok kalo kamu mau wkwkwkwk *kabur sebelum diserbu calon istri jun yang lain*

    Suka

  2. anjayyyyy ini sad apa happy ending?😢 jun hatinya sabar gitu huaahh aku kira cheonsa ngebiarin gyu meninggal itu supaya gk ada cewe lain selain dia sama mingyu eh ternyata. keren thor kerenn😢😢

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s