[Vignette] Gave Birth to an Angel

an

Angelina Triaf ©2016 Present

Gave Birth to an Angel

Jeon Wonwoo (Seventeen) & Park Cheonsa, Jeon Ichi (OC) | Hurt/Comfort, Slice of Life, Marriage-life | PG-17 | Vignette

[3] Youth; a strange mix of pain and joy.

“It’s not a punishment nor karma. He’s a gift that God’s given to us.”

0o0

Atensinya meraup rumus passive voice dalam lembar kelima puluh delapan. Kacamata baca itu masih bertengger manis di hidungnya, membuatnya terlihat berkali lipat lebih tampan. Begitu seterusnya, lembar demi lembar selanjutnya ia habiskan dalam diam. Padahal waktu istirahat masih mendominasi kelas, tetap saja tak membuatnya beranjak barang sejengkal.

Memang tak biasanya, sebenarnya Wonwoo bukanlah pemuda dengan tingkat belajar serajin itu. Ia hanya siswa biasa, gemar bermain bola sepulang sekolah dan makan kue beras pedas setelahnya. Ia juga suka membolos di beberapa jam pelajaran bahkan merokok sesekali.

Tapi semuanya berubah, berkebalikan dengan dirinya yang normal. Ya, bukan berarti ia tidak normal, hanya saja―singkatnya, Wonwoo berubah menjadi dirinya yang lebih baik. Bukankah bagus melihat dirinya yang rajin belajar seperti ini?

“Hei, kau masih saja berkutat dengan buku menyebalkan itu.”

Itu suara Jun, walaupun Wonwoo tak menoleh pun ia sudah hafal di luar kepala. Mereka memegang prinsip yang sama, hanya saja Jun tak suka merokok dan masih cukup waras untuk tidak membolos di pelajaran Matematika.

Pemuda itu duduk di hadapan Wonwoo dengan membalik kursi milik Maria-san yang sepertinya masih berada di kantin. Ia menaruh sebuah roti dan satu botol air mineral di samping buku yang masih menjadi pusat perhatian Wonwoo. “Makanlah, aku tak ingin kau drop lagi seperti semester lalu.”

I’m fine, Jun.”

Jun menghela napas, ia tahu kalau Wonwoo memang keras kepala. Tetapi hanya sesaat, sebelum akhirnya Wonwoo tertawa lantas memukul bahu Jun pelan. “Hah, aku sangat jelek ya jika seperti ini?”

“Bukan jelek, tapi sakit jiwa,” balas Jun, mau tak mau ikut tertawa melihat Wonwoo yang kini mulai menyentuh makanannya.

Hening menemani beberapa suapannya. Bisa dibilang hanya ada mereka berdua di kelas―entah mengapa bisa seperti itu. Wonwoo meminum airnya, melepas kacamatanya dan kembali fokus pada Jun. “Memangnya aku seburuk itu, ya?”

Jun yang tengah memainkan ponselnya langsung mengangkat pandangan, “Tidak juga, sih. Hanya saja semua orang merasa aneh dengan perubahanmu yang drastis mulai semester lalu. Kau bahkan sakit, ingat kan?”

Tentu saja, Wonwoo sangat ingat hal-hal yang terjadi di semester lalu. Hal yang mengubah hidupnya sampai seperti ini.

“Kautahu sendiri kan Jun bagaimana keadaanku saat itu? Stres, panik dan mungkin masih banyak lagi perasaan aneh yang campur aduk dalam diriku. Belum lagi saat aku datang ke rumah Cheonsa hanya untuk menerima caci-maki, dan kau tahu juga kan bagaimana setelahnya aku di rumah?”

Mengulang kembali kejadian itu, Jun sangat ingat ketika Wonwoo terpaksa menginap di flat miliknya lantaran diusir dari rumah oleh sang ayah. Wonwoo dan ayahnya pindah ke Tokyo setelah beliau menikah dengan wanita Jepang. Sebagai sesama rantauan, Jun boleh dikatakan menjadi teman yang baik bagi Wonwoo.

Memiliki ibu tiri yang baik membuat Wonwoo sedikit tenang saat itu. Beliau mendatangi Wonwoo di flat Jun bahkan menemaninya untuk bicara langsung dengan sang ayah. Setelahnya, dengan mengubur rasa malu dan juga bersalahnya, Wonwoo kembali mendatangi rumah Cheonsa ditemani kedua orangtuanya.

Tak bisa dikatakan mulus memang. Pihak yang paling kecewa adalah ibunya Cheonsa, sedangkan sang kepala keluarga agaknya bisa menerima maksud baik pemuda bermarga Jeon itu.

“Hidupmu memang seperti drama.” Jun terkekeh, membuat Wonwoo ikut tersenyum dibuatnya. “Oh ya, bagaimana keadaan Cheonsa sekarang?”

Drrtt…

Bersamaan dengan itu ponsel yang Wonwoo letakkan di samping bukunya sejak tadi bergetar. Tertera nama ibunya sebagai ID calling.

Okāsan?”

Raut wajah Wonwoo perlahan berubah. Sambungan telepon ia putus sepihak. Dengan tergesa ia merapikan barang-barangnya. Jun masih terdiam, belum menyadari apa yang tengah terjadi.

What’s wrong?”

“Cheonsa… ia terjatuh saat hendak mengambil ponsel,” jawab Wonwoo. Wajahnya panik, ia terlihat sangat ketakutan. “Tolong beritahu Haruka Sensei kalau aku izin.”

Wonwoo sudah tak memedulikan sekitarnya lagi. Ia terus berlari, langsung menuju stasiun terdekat menuju rumah sakit tempat Cheonsa dilarikan. Ia sudah tak memikirkan apa-apa lagi, hanya ada Cheonsa dalam pikirannya.

Hingga langkahnya kini membelah koridor rumah sakit yang sepi. Langkahnya menggema, matanya menelisik tiap nomor kamar yang dilewatinya. Sampai ia melihat ibunya dan ibu Cheonsa duduk bersebelahan di ujung lorong itu. Belum sempat mengatur napas, Wonwoo langsung menanyakan apa yang sedari tadi menjadi isi kepalanya. Bagaimana Cheonsa, apakah ia baik-baik saja atau justru…

“Wonwoo, tenanglah.”

Sang ibu berdiri di hadapannya, memegang bahunya dan menyuruhnya untuk duduk. Tak berselang lama, seorang dokter diikuti dua perawat lainnya keluar dari balik pintu. Wonwoo menolehkan kepalanya. Rasanya sangat lemas dan entah perasaan takut apalagi yang bersarang dalam dirinya.

Dokter itu tersenyum kecil. “Ia perempuan yang kuat dan mereka berdua selamat.”

Kelegaan menyelimuti semua orang. Wonwoo yang sedari tadi seakan tak bernapas kini mulai menyandarkan tubuhnya pada dinding, menghirup oksigen sebanyak mungkin.

Menyadari kehadiran seorang pemuda di antara mereka membuat sang dokter menatapnya. “Kau pasti Wonwoo, ya?”

Tak mampu menjawab, Wonwoo hanya bisa mengangguk pelan.

“Cheonsa ingin bertemu denganmu.”

Sang dokter kemudian berlalu, meninggalkan ketiga orang yang masih berdiam diri. Tak butuh waktu lama bagi Wonwoo untuk melangkah masuk ke dalam ruang persalinan. Bau obat yang sangat menyengat menyerang penciumannya. Cheonsa sangat tak suka bau obat.

“Sayang?”

Netra Cheonsa menatap matanya, bibirnya tersenyum kecil dan wajahnya kelewat pucat. Pasti sangat berat baginya―dan Wonwoo sangat tahu hal itu.

“Bukankah sekarang masih jam sekolah?”

“Kau tak suka melihatku di sini?”

Wonwoo tertawa kecil, sungguh konyol membayangkan ia yang masih bisa fokus belajar di sekolah saat Cheonsa tengah berjuang melawan maut seorang diri. “Jadi, bagaimana?”

Diusapnya kepala Cheonsa, senyum manis masih nampak di bibirnya. “Laki-laki, tapi tidak mirip denganmu.”

“Mungkin ia lebih sayang pada ibunya?”

Lagi-lagi tawa mereka memenuhi ruangan sepi itu. Tawa yang keluar setelah penantian begitu panjang, setelah perjuangan yang berat, dan jangan lupakan bagaimana mereka bisa sampai pada hari ini.

“Apakah ada hukuman semanis ini, Cheon? Maksudku―”

It’s not a punishment nor karma, Wonwoo. He’s a gift that God’s given to us.”

Wonwoo mengembangkan senyumnya, mencium kening Cheonsa sebagai wujud perasaan sayang juga terima kasih yang sangat dalam. Terima kasih karena masih bersedia menerimanya yang bahkan telah melukai hatinya, tak lupa berterima kasih karena telah banyak berkorban demi malaikat kecil mereka sampai ia terlahir ke dunia.

“Jadi, siapa namanya?”

Cheonsa mengerutkan keningnya, tanda sedang berpikir demi menyambut pertanyaan Wonwoo.

“Ichi? Jeon Ichi!”

Setelahnya ia tertawa, membuat Wonwoo gemas sendiri dan mau tak mau ikut tertawa mendengarnya. Jeon Ichi, nama yang sangat lucu nampaknya.

Masa muda adalah saat untuk bersenang-senang, bermain dengan hidup yang bebas tanpa tekanan apa pun. Walaupun mereka sempat lupa bahwa terkadang kebebasan itu malah menjerumuskan, setidaknya segalanya menjadi lebih baik mulai sekarang.

Kesalahan dan rasa sakit membuat mereka semakin dewasa. Wonwoo dan Cheonsa sadar akan hal itu, dan sebisa mungkin menerima segalanya dengan senyum juga keikhlasan.

Tak lupa dengan cinta, tentu saja. Karena cinta mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

FIN

Iklan

5 thoughts on “[Vignette] Gave Birth to an Angel

  1. oh, bagaimana bisa Wonwoo … ah, sudahlah harusnya aku tak menanyakan hal ini lagi mengingat bagaimana keadaan dunia diluar sana .. tapi perubahan akan sikap Wonwoo yg ia tunjukkan tak mengecewakan. ternyata kalimat ‘ada hikmah dibalik suatu kejadian’ tak terbuang begitu saja

    Disukai oleh 1 orang

  2. Jadi gini Won. Jadi kamu ngambek aku jalan berdua sama Kakcheol tapi kamu sendiri malah udah ngehamilin anak orang? Gini? Fine. /ga /kav /sadarlah 😀
    Aku suka nama Ichi, btw ♡ dan ini juga bagus ceritanya ih sukaak ♡

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s