[Vignette] Suatu Hari Nanti

IMG_6669

Angelina Triaf ©2016 Present

Suatu Hari Nanti

Yoon Jeonghan (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Hurt/Comfort | G | Vignette

Ya, suatu hari nanti.

0o0

Suatu hari nanti. Ya, aku berharap hari itu akan segera tiba. Saat di mana kau dan aku bersatu dalam ruang cinta yang manis. Kelembutan dan segala hal lainnya yang kau lakukan untuk membuatku nyaman. Ingatkah? Bahkan aku masih sangat ingat bagaimana permen kapas begitu terasa sangat manis―berbeda dari biasanya. Karena aku memakannya bersamamu.

Suatu hari nanti. Saat di mana kau dan aku akan membicarakan berbagai hal indah yang kita rencanakan di masa depan. Banyaknya jumlah bunga di pernikahan kita. Berapa anak yang diinginkan nanti? Bagaimana wajah kita saat lanjut usia nanti?

Juga mungkin suatu hari nanti. Di saat kau terbangun dari mimpi indahmu di usiamu yang sudah mencapai kepala tujuh. Di saat kau membuka matamu dan yang kaulihat hanyalah wajah damaiku saat tertidur. Tertidur dengan damai selamanya, dan malam yang lalu adalah saat terakhirku melihat bagaimana wajah penuh keriput milikmu.

Aku masih selalu membayangkan bagaimana suatu hari nanti itu berjalan. Saat aku menunggumu pulang bekerja hingga larut malam, lalu kau akan menemukanku tertidur di sofa. Sambil tersenyum manis kau menggendongku dan membaringkanku di ranjang. Lalu dirimu tidur di sampingku dan memelukku erat, menciumiku penuh kasih sayang. Indah.

Memang sangat indah dan tak ada habisnya saat aku sudah mulai meracau tentang bagaimana suatu hari nanti itu. Tiga kata berkesan yang selalu aku bayangkan dalam imajinasiku. Ya, pastinya selalu ada dirimu yang menjadi pendampingku dalam khayalan suatu hari nanti itu.

Benar, suatu hari nanti. Saat pendeta di hadapan kita tersenyum manis memandu kita berdua dalam mengucapkan sumpah setia. Mengucapkan janji sehidupsemati yang terdengar indah, dengan iringan piano klasik sahabatmu yang cerewet itu. Hehe, betapa menyenangkannya membayangkan suatu hari nanti itu.

Entah sudah berapa kali kau menciumku dengan lembut. Ya, pada suatu hari nanti. Kamu dengan senyum termanismu selalu menenangkanku saat aku gelisah. Mungkin saat aku melahirkan anak kita, atau nantinya anak kita pulang terlalu larut. Benar sekali, hal itu akan terjadi suatu hari nanti.

Ya, suatu hari nanti. Love you, Yoon Jeonghan…

0o0

Masih setia hingga jam menunjukkan pukul sebelas malam. Yoon Jeonghan hanya duduk sambil terus memerhatikan pintu di hadapannya. Gadis kecilnya kini sedang terbaring lemah di ranjang dengan selang-selang infus menyebalkan yang menempel di tubuhnya.

Ia hanya menghibur dirinya sendiri dengan mengingat-ingat semua tingkah menggemaskan Cheonsa. Bagaimana ketika gadis itu tertawa manis, bagaimana caranya memakan cake cokelatnya hingga bibirnya berlumuran krim. Juga, jangan lupakan saat kemarin Cheonsa dengan lucunya protes tentang selang infusnya.

Oppa, selang ini menyebalkan.”

Oppa, Cheonsa ingin pulang.”

Oppa, bisakah agar selang infusnya diganti dengan warna ungu?”

Masih banyak lagi celotehan gadis menggemaskan itu yang selalu membuat Jeonghan tertawa kecil, menyipitkan matanya sambil tersenyum lalu mencubiti pipi chubby gadis kesayangannya. Namun itu semua hanya bertahan sampai kemarin, saat Cheonsa dinyatakan kritis dan Jeonghan sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi selain berdoa.

Rasanya baru kemarin Jeonghan mendengar tawa menggemaskan Cheonsa. Rasanya baru kemarin gadis itu marah padanya hanya karena sekotak buah blueberry kesukaannya. Semua pengandaian itu kini harus Jeonghan ucapkan sebagai wujud kesedihannya.

Namun yang paling berkesan bagi Jeonghan adalah saat Cheonsa berandai-andai tentang ‘Bagaimana kita suatu hari nanti?’. Saat itu mereka duduk di halaman belakang mansion milik Jeonghan, dengan Cheonsa yang berbaring dan kepalanya berada di atas pangkuan Jeonghan. Cheonsa yang terus saja berceloteh tentang impiannya suatu hari nanti bersama Jeonghan.

Oppa, apakah saat kita menikah nanti akan ada banyak bunga?”

Oppa, apakah Jisoo Oppa akan datang dan mengiringi pernikahan kita dengan lagu ciptaannya?”

Oppa, apakah nanti anak kita akan mirip denganku juga denganmu?” 

Oppa, apakah nanti saat aku terbangun dari tidur kau akan selalu berada di hadapanku?”

Jeonghan hanya bisa terkekeh mendengar semua hal yang Cheonsa ucapkan dengan polosnya. Bahkan gadis itu melupakan tentang dirinya yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA dan perbedaan usianya yang terpaut dua tahun dengan Jeonghan.

Namun saat ini semua hal itu hanya tinggal kenangan. Cheonsa terbaring lemah dan yang bisa Jeonghan lakukan hanyalah menanti putri tidurnya untuk segera bangun dan tersenyum lagi. Senyum manis yang selalu Jeonghan sukai. Eyes-smile yang selalu Jeonghan rindukan.

“Jeonghan, Cheonsa ingin bicara denganmu.”

Tentu saja Jeonghan membulatkan matanya mendengar hal itu. Cheonsa sadar? Kekasihnya sadar dari masa kritisnya? Oh, betapa tak ada kata lain yang Jeonghan ucapkan selain kalimat syukurnya kepada Tuhan. Dokter Lee langsung keluar dan memberikan waktu bagi Jeonghan untuk berdua dengan Cheonsa. Ya, setidaknya itulah permintaan Cheonsa untuk saat ini.

“Cheon, sayang? Apakah ada yang sakit?”

Mata Jeonghan menangkap tubuh Cheonsa yang semakin kurus. Pipi chubby yang selalu Jeonghan cubit sekarang menjadi tirus. Rambut pirang Cheonsa tak lagi berkilau seperti sebelumnya. Ia baru saja melewati masa kritis, tentu saja. Apa yang Jeonghan harapkan? Cheonsa yang dapat tertawa bahagia? Tentu saja itu tak mungkin terjadi untuk saat ini.

“Jeonghan Oppa, aku melihatmu sedang bermain dengan seorang gadis kecil. Ia sangat mirip denganku.”

Entah mengapa perasaan Jeonghan mengatakan untuknya agar diam dan mendengarkan semua perkataan Cheonsa―walaupun Jeonghan masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini berjalan. Jeonghan terus menggenggam jemari Cheonsa erat, sedangkan tangan lainnya mengusap rambut Cheonsa dengan lembut.

“Kalian terlihat sangat bahagia. Si gadis kecil itu memanggilmu Appa’. Ia sangat menggemaskan…”

Napas Cheonsa semakin melambat. Gadis itu bahkan masih bisa tersenyum manis, tulus dan ikhlas. Cheonsa tak ingin melihat Jeonghan menangis karenanya. Cheonsa ingin selalu melihat Jeonghan tersenyum bagaimanapun keadaannya. Cheonsa sangat menyayangi pemuda di sampingnya ini.

“Lalu ada seorang perempuan yang menghampiri kalian, dan gadis kecil itu memanggilnya Eomma’.”

Oh, sepertinya Jeonghan sudah mengetahui ke mana jalan pembicaraan ini. Tidak, ini tak boleh terjadi. Tak boleh!

“Tapi, itu bukan―“

Ucapan Cheonsa terhenti saat Jeonghan membungkam bibir Cheonsa dengan miliknya. Tanpa sadar air mata Jeonghan jatuh tetes demi tetesnya. Semuanya akan baik-baik saja―setidaknya itulah kalimat yang Jeonghan rapalkan untuk menghibur dirinya sendiri.

“Perempuan itu bukan aku, Oppa…”

Stop, Cheon! Jangan katakan apa pun lagi!”

Wajah Jeonghan memerah―antara panik, kesal juga takut. Ia kini tengah menciumi kening Cheonsa, mengusap rambutnya agar gadis itu tenang. Ini hanya racauan khas Cheonsa yang aneh kan? Bukan pertanda akan terjadinya sesuatu yang buruk? Jeonghan benar-benar tak siap jika akhirnya akan menjadi tragis.

“Kalian terlihat sangat bahagia―“

“Park Cheonsa, kubilang berhenti!”

Jeonghan benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya. Tapi apa? Cheonsa malah tersenyum melihat Jeonghan yang sudah seperti orang frustasi itu. Cheonsa mengusap tangan Jeonghan dalam genggamannya. Tangan Cheonsa semakin dingin. Apakah sudah saatnya?

Oppa, Cheonsa sangat menyayangi Oppa melebihi apa pun. Buatlah daftar ‘suatu hari nanti’ milikmu sendiri, karena aku sudah sangat puas membayangkan bagaimana suatu hari nanti milik kita. Walaupun semua itu tak akan pernah terwujud, setidaknya Oppa masih bisa melakukan itu dengan gadis lain yang lebih baik.”

Napas Cheonsa mulai putus-putus. Gadis itu masih sempat mempertahankan senyumnya. Semangat Cheonsa! Hanya tinggal tiga kata lagi dan kau bisa pergi dengan tenang. Ayo Cheonsa, semangat!

Love you, Oppa.

Jeonghan menutup matanya seiring dengan air matanya yang keluar semakin banyak. Sebuah bunyi monoton telah memperjelas semuanya. Jeonghan membuka matanya dan diam terpaku bagai patung. Ini pasti mimpi kan? Jeonghan pasti sedang tertidur dan nantinya Cheonsa akan membangunkannya dengan memukul lengannya brutal.

“Cheon… kenapa kau tertidur sangat pulas? Apakah kita sedang bermain drama Sleeping Beauty? Ayolah bangun, atau kau ingin agar Oppa menciummu?”

Mungkin Jeonghan sudah gila. Ia tertawa sendiri dan menangis sendiri. Miris. Gadis kecil kesayangannya telah menjadi malaikat surga. Malaikat surga yang sangat cantik dengan sayap putihnya yang membentang di tiap ujung dunianya.

Saranghae, Cheon.”

0o0

Oppa, ayo kita bermain kejar-kejaran!”

Akh, Oppa!

“Sudah kubilang untuk hati-hati kan? Lihat, pelipismu berdarah seperti itu.”

 

“Fibrinogennya tak bisa bersatu dengan sempurna. Ia juga kekurangan darah.”

“Kanker darahnya sudah stadium lanjut. Kami tak bisa berbuat apa-apa.”

 

Oppa, mau buat boneka salju?”

 

Oppa, saranghae.”

FIN

Iklan

2 thoughts on “[Vignette] Suatu Hari Nanti

  1. Beneran di bikinin sama kamu Njel /kepedean/.. aku terharu biru, nangis tersedu-sedu.. apa daya kalau ternyata Jeonghan hanya malaikat palsu yang bahkan tidak bisa membuat malaikatnya tetap hidup..
    Jahat kamu Njel, kasian dong sama aku yang baca sampe nangis-nangis mikirin anaknya Jeonghan /eh?/ heheh
    Tapi ini keren! BANGET! /CIUM ANGEL/ :*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s