[Ficlet-Mix] Alarm & I’m in Love

CbbiI_aUUAAX7mS

Angelina Triaf ©2016 Present

Happy birthday to para kesayangan

[1] Alarm

Hansol Vernon (Seventeen) & Son Nayoung (OC) | Fluff | G | Ficlet

0o0

Jika dulu aku selalu terbangun karena bunyi alarm yang memekakan telingaku, maka sekarang aku tak memerlukannya lagi. Cukup dengan mendengarkan suara merdu yang akan membangunkanku di pagi hari. Suara seorang gadis manis dengan rambut panjangnya yang akan selalu mengelitiki wajahku kala ia membangunkanku yang tidur seperti orang mati. Mata cokelatnya yang akan selalu menyapaku di kedipan pertama. Bibir cherry-nya yang selalu mencium pipiku kala aku dengan nakalnya memintanya untuk menciumku.

Seorang gadis yang selalu menemaniku tidur―menggantikan fungsi guling kesayanganku. Kini aku hanya akan memeluknya. Gadis manis dengan kulit seputih susu yang sangat lembut. Jemari lentiknya yang selalu bermain di wajahku tiap malam—mungkin ia tak tahu, tapi aku selalu menyadari saat ia sudah mulai menyentuh wajahku. Aku akan terus pura-pura tertidur sampai ia tertidur juga. Perlakuan manisnya, rasa sayangnya padaku.

Alarm. Kini benda menyebalkan itu bisa digantikan hanya dengan sebuah perlakuan manis. Harum aroma masakannya yang entah kenapa selalu berhasil membuat mataku terbuka. Lalu aku akan menemukannya yang tengah memakai apron hijau kesayangannya sambil memotong beberapa sayuran. Oh, aku benci sayuran dengan warna hijau menyeramkan itu. Namun ia akan selalu marah padaku jika aku tak memakannya. Wajah marahnya sangat lucu. Sebenarnya ia tak marah, mungkin hanya kesal saja denganku. Satu rahasia kecil; ia terlalu baik hati dan tidak bisa marah pada siapapun.

Benda bernama alarm itu kini benar-benar sudah tergantikan fungsinya. Kini aku lebih sering mendapatkan hujan lokal jika masih meringkuk di ranjang dalam waktu lima menit setelah ia mulai membangunkanku. Ia tak segan-segan menyiramku dengan segelas air dan setelahnya dengan kejamnya ia menyuruhku untuk mengeringkan sendiri selimutku yang basah karena ulahnya. Gadis cerewet nan kejam namun sangat manis bagiku.

Memeluknya terasa lebih nyaman daripada memeluk guling atau boneka beruang super besar miliknya—yang aku berikan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya kemarin. Juga, aku terkadang jahil dengan mengagetkannya yang tengah memasak. Aku memeluknya dari belakang lalu menenggelamkan wajahku di lehernya. Harum anggur, mungkin inilah salah satu alasan kenapa aku nyaman berada di dekatnya. Lalu ia akan dengan senang hati memukul kepalaku dengan wortel atau sayuran apa pun yang bisa ia gunakan untuk menyiksaku. Hanya dia; gadis manis dengan senyum yang menawan.

“Vernon, ayo bangun…”

Suara alarm baruku ini terasa lebih lembut di telingaku. Mungkin aku tak akan bosan mendengarkannya untuk beberapa waktu ke depan nanti. Kini aku kembali merasakan sentuhan surainya yang lembut mengenai wajahku. Pasti kini ia tengah menampakkan wajah kesalnya karena aku tak kunjung bangun. Aku terkikik sendiri, pasti sekarang pipinya mengembung seperti anak kecil. Menggemaskan!

“Vernon, ayo bangun—kya!”

“Aish, Nuna. Bisakah sehari saja tidak berisik?”

Iya, gadis yang lebih tua dua tahun dariku ini memang sangat cerewet. Namun bisa berubah menjadi menggemaskan seperti anak kecil, bahkan bisa menjadi lembut dan penuh kehangatan seperti ibuku. Buktinya aku selalu merasa nyaman saat memeluknya―seperti sekarang ini. Aku langsung menariknya agar bisa lebih mudah memeluk pinggangnya. Ini hari spesial, seharusnya ia mengerti jika aku hanya ingin bermanja dengannya.

“Apakah laki-laki yang sedang berulang tahun harus semanja ini? Aku sedang membuat kue untukmu. Ayolah bangun—ya, Vernon!“

Aku masih tak memedulikan celotehannya yang berisik. Yang aku pedulikan saat ini adalah kenyamanan dan kehangatan tubuhnya. Sekali lagi, aku menenggelamkan wajahku di lehernya. Dapat kudengar ia tertawa kecil lalu akhirnya balas memelukku. Huh, ternyata aku harus berubah menjadi anak kecil yang manja dulu untuk menaklukkannya.

“Baiklah, lakukanlah semuanya semaumu. Kau rajanya hari ini.”

“Benarkah? Semuanya?”

Langsung aku membuka mataku dan menatapnya dengan jahil. Ia bilang aku boleh melakukan semuanya semauku? Hm, hanya ada satu hal yang sangat ia larang untuk kulakukan—dan sangat ingin aku lakukan. Menciumnya—maksudku, mencium bibirnya. Ia selalu bilang jika aku masih terlalu kecil untuk hal itu. Ya Tuhan, bahkan sepupu kecilku sudah pernah mencium teman sebayanya. Nuna satu ini terlalu berlebihan.

“Eh? Itu, maksudku—“

Sebelum ia kabur, aku sudah lebih dulu mencium bibirnya. Ternyata rasanya semanis ini. Huh, ia sangat kejam membiarkanku menunggu selama ini hanya untuk menciumnya. Sembilan belas tahun, apakah masih terlalu kecil hanya untuk sekadar mencium kekasihnya sendiri?

Nuna, aku sudah sembilan belas ta—“

“Iya, aku mengerti. Selamat ulang tahun.”

Satu lagi hal yang aku suka darinya. Matanya yang menyipit seperti bulan sabit saat tersenyum padaku. Aku mengangguk lalu semakin mengeratkan pelukanku padanya. Hm, beginilah kehidupanku setiap pagi. Dengan alarm cantik yang akan selalu membangunkanku dengan suara merdunya, dengan sentuhan lembutnya—dan dengan kekejamannya saat menyiramku. Cerewet dan menyebalkan, bukankah perempuan memang sudah ditakdirkan menjadi seperti itu? Yang harus kulakukan hanyalah memahaminya dan mencintainya dengan tulus. Itu saja.

Karena mencintai dengan tulus akan memberikan kebahagiaan tersendiri yang tak ternilai rasanya. Nayoung Nuna, saranghanda.

***

[2] I’m in Love

Lee Seokmin/DK (Seventeen) & Hyun Jiya (OC) | Fluff, School-life | G | Ficlet

0o0

Menatap dari kejauhan bukanlah suatu hal yang buruk. Itulah yang biasa Hyun Jiya lakukan setiap harinya—memandangi seorang pemuda satu angkatannya yang sedang bermandikan peluh dan dengan sangat menawan menggiring bola itu di lapangan. Gayanya, pesonanya dan semua hal lain yang entah mengapa Jiya suka dari pemuda itu. Segala hal tentang pemuda itu selalu menari-nari dengan cantiknya di dalam benaknya. Sungguh kenyataan yang tak bisa ia pungkiri lagi.

Namanya Lee Seokmin, murid kelas tetangganya yang sebenarnya tergolong biasa saja. Seokmin bukanlah sang jenius sekolah, bukan juga atlet olahraga yang selalu dibanggakan sekolah. Seokmin hanyalah seorang Seokmin; murid biasa yang mampu memikat hati Jiya hanya dalam satu kali percakapan. Mereka tak saling kenal satu sama lain sebelumnya, hanya pernah bertemu wajah beberapa kali ketika melewati kelas masing-masing. Takdir yang tak dapat berdusta, tatapan mereka bertemu di suatu hari yang cerah.

Kala itu Jiya yang sedang membersihkan ruang kesehatan seorang diri terlihat menyapu dengan santai dalam sebuah ritme yang teratur. Ia hanya diam, terfokus dengan pergerakan tangannya yang masih terus menggerakkan sapuan di lantai. Matanya menunduk ke bawah, sama sekali tak melihat siapa orang yang kini hendak masuk ke ruangan sebelah—ruang OSIS. Namun bagai dua jiwa yang memiliki hubungan, jantung Jiya terasa berdebar tak karuan tanpa sebab. Ia menegakkan pandangannya, dan betapa terkejutnya ia saat menoleh ke samping. Dia; Lee Seokmin.

“Oh, hai kakak petugas. Rajin sekali.”

Senyuman manis khas Lee Seokmin benar-benar membuat Jiya tak bisa berkutik. Otaknya terlalu terbawa suasana hanya untuk sekadar memberi perintah membalas sapaan tadi dengan sebuah senyuman kecil. Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya Jiya balas tersenyum—yang tentunya berkali lipat lebih manis dari yang biasanya. Seokmin pun masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Jiya dengan debaran aneh dalam jantungnya yang tak kunjung berhenti. Napasnya sedikit melambat.

“Aku kenapa? Apakah aku…”

0o0

Lagi-lagi ruang kesehatan bernuansa white pale itu menjadi saksi bisu tatapan yang saling terkait. Hanya dengan mata yang saling bicara satu sama lain, dunia terasa menunjukkan cara kerjanya saat ini. Jiya yang sedang melamun di depan pintu ruang kesehatan dikagetkan oleh sebuah suara manis yang baru-baru ini merambati indera pendengarannya dan terus berputar bagaikan film di otaknya. Seokmin tepat berada di sampingnya, kembali menunjukkan senyum dengan kedua matanya yang menyipit. Sangat lucu.

“Sendirian? Kenapa melamun?”

Wajahnya yang seperti bayi, senyumnya yang menawan dan entah apa lagi yang menjadikan Seokmin begitu terlihat istimewa di mata Jiya. Ia tersadar dari lamunannya dan melihat sekilas tunjukkan jarum jam di dinding ruang kesehatan. Jam enam sore, dan sekolah sudah mulai sepi. Hanya menyisakan beberapa siswa yang sedang berlatih basket juga anggota OSIS yang baru saja selesai rapat. Seokmin masih setia berdiri di samping Jiya, mungkin untuk menunggu sebuah jawaban—ya, setidaknya seperti itu.

“I-iya, maaf aku melamun. Sepertinya sudah sore, lebih baik aku pulang—“

“Pulang bersama denganku bagaimana?”

Deg!

Jiwa yang merindu seakan disiram oleh rintikan air kebahagiaan. Bagai kaktus hijau yang semakin segar meski harus bertahun hidupnya di tengah hamparan gurun yang hampa. Jiya seperti menemukan tambatan hatinya yang hilang—jiwa kembar yang kini dipersatukan oleh sebuah hal ajaib nan manis bernama cinta. Cinta? Apakah itu yang Jiya rasakan saat ini? Apakah benar Seokmin orangnya?

“Ehm, Jiya? Bagaimana?”

“Kau… tahu namaku?”

Bukannya menjawab, Seokmin justru tertawa kecil—dengan matanya yang menyipit manis. Jiya mengerutkan keningnya karena bingung. Suasana kembali hening saat Seokmin telah menghentikan tawanya, menyisakan tatapan lembut yang hanya terfokus pada satu objek cantik dalam lingkup perspektif lurusnya. Garis lurus takdirnya, atau mungkin dapat masuk dalam kehidupnya.

“Mustahil jika aku tak mengetahui nama gadis yang aku sukai.”

Seokmin langsung salah tingkah setelah mengucapkan hal itu. Berbeda dengan Jiya yang kini tertawa melihat wajah Seokmin yang memerah. Pemuda satu ini sungguh lucu.

“Eum, itu―ayo kita pulang.”

Seokmin berusaha kembali bersikap biasa dengan mengajak Jiya untuk pulang. Jiya menghentikan tawanya dan tersenyum cerah kepada Seokmin. Seperti melihat bidadari yang bersinar menghalangi indahnya mentari senja. Sinar pesona seorang Jiya lebih sedap dipandang oleh Seokmin yang sedang jatuh cinta. Jiya mengambil tasnya di dalam ruang kesehatan lalu mengunci pintu. Seokmin sudah hendak berbalik jika saja Jiya tak memanggil namanya.

“Seokmin! Eum, selamat ulang tahun.”

Jiya menundukkan wajahnya. Pipinya bersemu merah, dan Seokmin kini terpaku di tempatnya. Ulang tahun? Bahkan Seokmin melupakan hari lahirnya saat ini―dan Jiya tahu hal itu?

Seokmin tersenyum bahagia lalu mengacak rambut Jiya. Gadis manis itu tertawa canggung dan setelahnya Seokmin mengambil jemari lentik Jiya lalu menautkannya dengan miliknya. Tangan yang bertaut, angin senja yang bertiup lembut dari timur dan gedung sekolah nan luas yang menjadi saksi kedekatan mereka. Akankah berlanjut semakin baik? Hanya mereka yang dapat memutuskan akhir bahagianya sendiri.

“Terima kasih, Jiya.”

FIN

Iklan

One thought on “[Ficlet-Mix] Alarm & I’m in Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s