[Vignette] Ramyeon King

c4dccd607646f66b16264c7358f713e6

Angelina Triaf ©2016 Present

Ramyeon King

Lee Seokmin/DK (Seventeen) & Ryu Suji (OC) | Fluff | G | Vignette

0o0

Suji tengah asyik menonton televisi di ruang tengah dalam diam. Ayah pergi bekerja, ibu sedang menjenguk nenek yang sakit dan kakaknya masih harus menginap di rumah temannya untuk mengerjakan proyek. Jadilah sekarang Suji hanya seorang diri di rumah. Ibunya baru akan pulang lusa, namun ayah sudah berjanji untuk pulang lebih awal dan membeli makan malam untuk mereka berdua. Suji tidak bisa memasak, membuat ramyeon saja terkadang rasanya kurang enak.

Jam masih menunjukkan pukul lima sore, ayahnya mungkin akan pulang pukul tujuh malam. Suji sudah mandi dari pukul empat tadi, jadilah sekarang ia hanya bersantai sambil menunggu kepulangan ayahnya. Suji terus tertawa melihat acara komedi di televisi. Namun tak lama bel rumah berbunyi. Siapa itu? Tak mungkin itu ayah. Atau mungkin kakaknya? Mungkin saja. Memutus rasa penasarannya, akhirnya Suji bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

Ia langsung membuka pintu tanpa melihat intercome. Matanya seketika membulat mengetahui siapa yang datang sekarang; Seokmin. Bukankah ia sedang berada di Cina sekarang? Mengapa bisa sampai di sini? Merasa risih ditatap seperti itu oleh Suji, Seokmin pun buka suara.

“Harusnya kau menyuruh tamu untuk masuk.”

Begitulah, Seokmin langsung masuk ke dalam rumah dan masih membiarkan Suji terpaku di tempatnya. Seokmin mengganti sepatunya dengan sandal rumah khusus miliknya yang ia taruh di sini—karena Seokmin sering main atau menginap di sini jika ada waktu luang. Suji tersadar dari lamunannya dan langsung menyusul Seokmin yang sudah berbaring di sofa. Suji menghela napas lalu duduk di lantai, tepat di depan kepala Seokmin.

Oppa, tidurlah di kamar. Jangan di sini.”

Seokmin yang masih memejamkan matanya kini tersenyum merasakan usapan lembut di kepalanya. Ia memang sangat lelah karena baru saja pulang dari Cina, namun entah mengapa ia ingin sekali bertemu Suji setelah beberapa minggu tak berjumpa. Ternyata benar, rasa lelahnya sedikit menguap berkat sentuhan lembut kekasihnya.

“Mau menemaniku tidur di kamar?”

Pletak!

Satu pukulan manis berhasil mendarat di kepala Seokmin. Ia hanya tertawa jahil lalu kembali diam, menikmati tiap sentuhan jemari Suji di rambutnya. Suji dan Seokmin memang bukanlah pasangan yang romantis. Suji terlalu tomboy untuk bersikap manis sedangkan Seokmin terlalu bingung ingin melakukan apa untuk berbuat romantis. Namun mereka saling menyayangi dan selalu berusaha untuk membangun suatu kenyamanan satu sama lain.

“Ji-ya, aku lapar.”

Suji tertawa kecil melihat Seokmin yang sudah seperti anak taman kanak-kanak. Suji tak bisa memasak dan Seokmin tahu hal itu. Namun tetap saja Seokmin selalu memaksanya untuk belajar memasak. Itu atas perintah ibunya Suji juga agar Seokmin mengajarkan Suji memasak. Jadi, semenjak mereka berpacaran, kemampuan memasak Suji terus meningkat—walaupun masih sering mengalami kegagalan.

“Masak saja sendiri. Ada banyak bahan makanan di kulkas.”

“Ayo masak bersama.”

Seokmin bangun dengan tiba-tiba lalu langsung menarik tangan Suji agar mengikutinya ke dapur. Selalu seperti ini, pemuda itu akan dengan seenaknya mengajak Suji memasak—yang selalu berujung dengan Suji yang memasak sendiri sementara Seokmin hanya berperan sebagai instruktur. Menyedihkan.

Mereka kini sudah berada di depan konter dapur. Seokmin terlihat masih berpikir sementara Suji hanya menatapnya jengah. Apakah karena terlalu sering bernyanyi otaknya menjadi agak terganggu?

“Aku ingin makan ramyeon. Ji-ya, buatkan ya? Ramyeon kan mudah.”

Langsunglah Suji menatap Seokmin semakin tajam. Jadi Seokmin jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menumpang istirahat dan makam ramyeon? Huh, dasar pemuda menyebalkan. Padahal ia bisa memasak sendiri makanan yang lebih enak dan bergizi. Kenapa justru menyuruh Suji yang tak bisa memasak untuk membuatnya?

Oppa, jagalah kesehatanmu. Lebih baik Oppa memasak sup rumput laut sendiri atau makanan lainnya yang lebih baik. Bahan makanan di kulkas sangat beragam, Oppa tinggal pilih saja.”

“Tapi aku ingin memakan masakanmu. Ayolah…”

Dalam kasus ini, sebenarnya bukan masalah makanan sehat atau tidak―enak atau tidak. Tapi siapa yang membuatnya dan perasaanmu saat memakannya. Seokmin ingin makan ramyeon karena ia tahu Suji hanya bisa memasak ramyeon—dan itu cukup enak menurut Seokmin. Jadi intinya; Seokmin ingin makan masakan Suji, tak ada maksud lain. Suji menyerah dan kini mulai mencari bahan-bahan membuat ramyeon kesukaan Seokmin. Suji membuka lemari dan mengambil satu bungkus ramyeon pedas.

“Hanya satu? Kau tidak ikut makan?”

Seokmin ini sangat cerewet jika hanya berdua dengan Suji, sangat berbeda jika berada di hadapan member Seventeen lainnya―dalam grupnya itu Seokmin terkenal berisik, bukan cerewet. Seokmin hanya duduk di depan konter sambil memerhatikan gerak-gerik Suji. Setidaknya gadis itu tak terlalu kikuk dengan peralatan dapur seperti dulu saat pertama kali Seokmin mengajarinya memasak. Suji semakin pandai dari hari ke hari, dan Seokmin selalu bersyukur akan hal itu.

Setelah membuka bungkus ramyeon dan mendidihkan air, Suji langsung memasak kuah pedasnya terlebih dahulu. Lalu ia terlihat tengah memotong scallop favorit Seokmin—cumi-cumi juga gurita—dan mencampurkannya dalam panci. Setelah itu memasukkan irisan daging asap, sedikit melt cheese, sebutir telur lalu mie dan terakhir sayur-sayuran hijau. Suji terlihat sangat serius mencampurkan semua bahan itu.

Namun ada satu bahan yang paling membuat Suji bingung. Seokmin selalu suka jika ramyeon-nya dicampurkan dengan sedikit plan milk sehingga membuat kuah supnya berwarna merah pudar dan kental. Memang katanya sangat enak menurut Seokmin, namun tetap saja agak aneh. Apa rasanya mie dicampur susu seperti itu?

Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya ramyeon buatan Suji telah selesai dimasak. Suji mencuci tangannya lalu meletakkan panci itu di meja makan, tak lupa memberikan Seokmin piring dan sumpit serta sendok. Seokmin tersenyum melihat mie itu. Suji hanya duduk di samping Seokmin yang sekarang tengah memulai makannya. Dalam hatinya Suji merasa senang karena ia bisa berguna juga untuk kekasihnya.

“Ji-ya, ini sangat enak! Ayo makan sedikit, ya?”

Wajah Seokmin sangat lucu seperti anak kecil. Suji tertawa lalu menerima suapan dari Seokmin. Sungguh terharu saat mengetahui bahwa masakannya kali ini terasa enak, tidak keasinan atau bahkan hambar seperti dulu. Ya walaupun itu hanya sebuah ramyeon, namun rasanya akan sangat lezat karena dibuat sepenuh cinta oleh orang tersayang. Seokmin tersenyum lalu melanjutkan makannya. Suji tidak ikut makan karena menunggu makanan yang ayahnya bawa nanti. Kasihan kan jika Suji tak memakannya?

Ramyeon itu berhasil habis tak bersisa. Suji langsung mengambil segala peralatan makan yang kotor lalu membawanya untuk dicuci. Seokmin masih terus diam di tempatnya. Ia sangat merindukan Suji. Di antara kekasih member lain, memang Suji-lah yang paling jarang memerhatikan pasangannya. Di saat kekasih Seungcheol Hyung datang membawakan makanan atau kekasih Wonwoo Hyung menelepon, Suji jarang sekali meneleponnya terlebih dahulu. Saat ditanya mengapa, Suji hanya menjawab karena tak ingin mengganggu pekerjaan Seokmin.

Seokmin benar-benar rindu dengan kekasihnya itu. Gadis kecil yang terpaut empat tahun darinya dan masih bersekolah—sangat menggelikan menyadari fakta itu—namun terasa lucu di saat bersamaan. Suji jauh berbeda dari kebanyakan gadis seusianya yang sedang manja-manjanya dengan pasangannya. Namun tetap saja, se-tomboy apa pun Suji, ia akan selalu terlihat manis dan lucu di mata Seokmin.

Oppa, lepaskan tangannya. Suji kesulitan mencuci pancinya.”

Sejak kapan Seokmin sudah memeluk Suji dari belakang seperti itu? Horor. Seokmin hanya menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya. Meletakkan kepalanya di lekukan leher Suji. Seokmin lelah, ia butuh istirahat. Suji kembali mengalah dan menyudahi kegiatan mencucinya yang belum selesai itu.

Oppa tidur di kamar Suji, ya? Sanha Oppa masih di rumah temannya jadi nanti Suji tidur di kamar mereka.”

Seokmin mengangguk lalu melepaskan pelukannya dan berjalan mengikuti Suji menuju kamar. Ia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang sementara Suji tengah menyiapkan pakaian santai untuk Seokmin. Bahkan Seokmin menyimpan beberapa pakaiannya di sini untuk berjaga-jaga jika memang harus menginap. Rasanya ia tak kuat jika harus kembali ke dorm malam ini juga.

Cup~

“Terima kasih, sayang.”

Dengan cepat Seokmin menghampiri Suji yang masih sibuk memilihkan baju lalu mencium pipinya. Gadis manis itu hanya tersenyum lalu menampar Seokmin dengan baju pilihannya. Suji langsung keluar kamar, meninggalkan kekasih manjanya yang sangat ia sayangi.

“Suji, ada tamu siapa?”

Suji agak tersentak kaget atas kehadiran ayahnya. Ia tersenyum lalu memeluk sang ayah dan mereka berdua berjalan menuju dapur. Ternyata ayahnya benar-benar membelikannya makan malam.

“Hanya Seokmin Oppa. Sepertinya ia akan menginap di sini, ia baru saja kembali dari Cina.”

“Begitu. Ayo kita makan, Ayah membelikan makanan favoritmu. Ajak Seokmin juga.”

“Ia sudah makan.”

Hingga akhirnya ayah dan anak itu makan bersama di ruang makan, meninggalkan Seokmin yang kini telah terlelap sambil memimpikan kekasihnya yang manis. Ryu Suji memang selalu berhasil membuat Seokmin merasa nyaman.

FIN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s