[Twoshot] Secret Love (Midnight Kiss)

secret

Angelina Triaf ©2016 Present

Secret Love (Midnight Kiss)

Wen Junhui, Jeon Wonwoo (Seventeen) & Hong Jean, Hong Jolly (OC) | Fluff | T | Twoshot

0o0

Jean akhirnya bisa bernapas lega karena sejak enam jam yang lalu ia harus mengalami perjalanan panjang yang melelahkan, belum lagi duduk di mobil selama itu membuatnya pegal. Lain halnya dengan Jolly yang padahal baru saja kakinya memijak tanah berumput itu dan ia langsung melompat-lompat kegirangan. Liburan; yap, Jolly sangat butuh liburan saat ini.

Nuna, apakah kau yang membawa kelinci paskah menggemaskan ini?”

Ya! Wonwoo, sakit!”

Jean tertawa kecil. Pasangan lucu yang sangat menggemaskan. Wonwoo tak tahan untuk mengabaikan pipi Jolly yang seolah minta untuk dicubit. Tingkah Jolly yang seperti anak kecil membuat Wonwoo yang baru turun dari mobil pun mau tak mau tergoda juga untuk menjahili gadisnya. Belum lagi Jun yang ikut tertawa melihat tingkah dua remaja yang seperti anak kecil itu. Oh, padahal Wonwoo dan Jolly bukanlah remaja lagi. Jean, seperti biasa hanya ikut tersenyum melihat dua orang di hadapannya.

Nuna, kau tak apa?”

Selalu begini. Sifat perhatian Jun yang tak pernah terduga kapan akan keluar membuat Jean senang. Jun memeluknya dari belakang, menaruh dagunya di bahu kanan Jean dan meletakkan salah satu telapak tangannya di kening Jean. Agak hangat, mungkin Jean kelelahan seharian duduk di mobil tanpa tidur—siapapun tak akan bisa tidur jika satu mobil dengan Wonwoo dan Jolly yang selama perjalanan asik mengobrolkan hal-hal aneh yang tak ada ujungnya.

Hanya anggukan yang Jun dapat sebagai jawabannya. Sebenarnya Jun tahu bahwa sedari tadi Wonwoo dan Jolly memerhatikan mereka. Namun enaknya pergi bersama dengan Wonwoo dan Jolly adalah, mereka tak pernah mengomentari orang lain dan mengganggu kegiatan orang tersebut. Adik-adik yang manis―menurut Jun dan Jean.

“Kau terdengar seperti Jeonghan yang sedang menanyakan keadaan Mary.”

Jean melepaskan tangan Jun dari pinggangnya dan berjalan menuju bagasi untuk mengambil barang-barangnya. Jun terkikik lalu mengikuti Jean dari belakang dan membantunya mengeluarkan segala perlengkapan—tenda, alat masak, tas carrier dan benda-benda lainnya.

“Itu karena Jeonghan Hyung sangat perhatian pada Mary, Nuna-ku tersayang.”

Lagi-lagi tawa ringan menemani mereka. Pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang sejuk tak luput dari perhatian mereka. Sangat nyaman jika dibandingkan dengan hiruk-pikuk perkotaan yang menyebalkan setiap harinya. Tak lama, Wonwoo datang disusul dengan Jolly di belakangnya.

“Jika dipikir-pikir, untuk apa kita membawa tenda sedangkan di belakang kita terdapat vila yang luas?”

Wonwoo membantu Jun mengeluarkan barang-barang sembari terus saja berkomentar tentang vila yang berada tepat di belakangnya. Ini memang ide para gadis untuk melakukan kemah di kawasan vila milik Keluarga Hong―malangnya Jisoo yang tak bisa ikut lantaran membantu Cheonsa mengerjakan tugas desainnya. Katanya lebih seru menyatu dengan alam ketimbang hanya duduk manis dan tidur di dalam vila. Para pengurus vila telah mempersiapkan beberapa hal yang Jean minta untuk membuat kemah kali ini menjadi lebih menyenangkan—beberapa bahan makanan dan yang lainnya.

“Para gadis memegang kendali atas kita, Wonwoo. Ingat itu.”

Jun sangat puitis, membuat Jolly dan Jean tak tahan untuk tidak menertawakan pemuda Cina itu. Wonwoo ikut terkekeh sembari masih tetap dengan kegiatannya; yang kini bertugas mengatur berdirinya tenda. Jean dan Jolly meminta izin untuk masuk ke vila dan mengambil segala perlengkapan yang telah Jean minta. Kini tinggallah Jun dan Wonwoo yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Jun, apa yang akan kau lakukan bersama Jean Nuna nanti malam?”

Mendengar nada bicara menggoda dari Wonwoo membuat Jun hanya tersenyum seperti biasanya. Temannya satu ini memang benar-benar memiliki rasa penasaran yang kelewat batas.

“Mungkin aku akan mengapa-apakannya, hahaha.”

Jun jadi geli sendiri dengan jawabannya. Memangnya apa yang akan ia lakukan dengan Jean? Tapi sekali-kali menggoda Wonwoo dengan hal seperti itu tak ada salahnya. Wonwoo yang penasaran memang terlihat lucu seperti anak kecil, sama persis dengan Jolly.

“Kau serius, Jun?”

Benar dugaan Jun, Wonwoo akan membulatkan matanya karena tidak percaya. Aktingnya harus menjanjikan. Jarang-jarang bisa mengerjai Wonwoo seperti ini.

“Tentu saja. Dan jangan ganggu kami, mengerti? Lebih baik kau lakukan sesuatu juga bersama Jolly.”

Sebenarnya Jun ingin sekali tertawa karena kepolosan Wonwoo. Namun mau dikata apa, akting ini haruslah menjanjikan. Sangat menjanjikan.

“Baiklah.”

Wonwoo yang masih sibuk dengan kegiatan memasang tendanya, tak menyadari bahwa Jun kini sedang menahan tawanya sekuat tenaga. Memangnya apa yang akan ia lakukan dengan Jean nanti malam? Sepertinya hanya akan duduk di bawah langit malam sembari melihat taburan bintang yang jarang mereka temukan di perkotaan. Ide sempurna, namun tetap saja Jun masih menertawakan kepolosan Wonwoo.

“Hei, para lelaki! Bisa membantu kami membawa semua ini?” teriak Jean dari kejauhan.

Jun melambaikan tangannya dari jauh lalu langsung menghampiri Jean dan Jolly yang kini sedang terkikik melihat Wonwoo yang kesulitan mendirikan tenda seorang diri. Hanya tinggal menunggu waktu, sampai satu pertanyaan mutakhir itu terjawab; apa yang akan mereka lakukan nanti malam?

0o0

Bukan Wonwoo namanya jika tak membuat kegaduhan besar. Hampir saja halaman vila Keluarga Hong terbakar karena ia terlalu semangat mengipasi kobaran api unggun di hadapannya. Lain halnya dengan Jun yang panik setengah mati, Jean dan Jolly justru tak bisa menghentikan tawa mereka sejak sepuluh menit yang lalu―dan itu membuat Wonwoo kesal. Wonwoo yang terlihat kesal memang nampak menggemaskan di mata Jolly.

Nuna, sebaiknya kita tinggalkan Wonwoo dengan Jolly. Tawamu hanya akan membuat Wonwoo semakin kesal.”

Jean yang masih belum bisa menghentikan tawanya hanya mengangguk untuk mengiyakan ajakan Jun. Jolly melambaikan tangannya sembari tersenyum melihat kepergian Jun dan Jean. Melirik ke arah Wonwoo yang tengah mengoleskan margarin di jagung yang ia pegang, Jolly menggeser duduknya mendekati Wonwoo yang sama sekali tak menghiraukannya.

“Wonwoo, maaf…”

Hening, hanya angin yang menjawab pertanyaannya. Wonwoo masih kesal.

Oppaya! Wonwoo, awas kau ya!”

Hingga terjadilah adegan saling kejar-kejaran antara mereka setelah Wonwoo dengan resmi mengoleskan margarinnya ke pipi Jolly. Lari-lari di malam hari? Sepertinya bukan ide yang buruk untuk mereka berdua.

Lain hal, lain cerita. Jean dan Jun akhirnya memutuskan untuk berkeliling sekitar taman bunga vila ini. Penerangan lampu di tiap jalan membuat warna-warni bunga masih bisa dipandang mata walaupun malam masih menguasai hari. Bahkan sesekali Jean tertawa mendengar teriakan kesal Jolly karena dikerjai Wonwoo.

“Mereka pasangan yang manis, ya?”

“Jolly yang hiperaktif dan Wonwoo yang jahil. Aku setuju denganmu, Nun.”

Mereka berdua tertawa karena memiliki pendapat yang sama. Udara yang cukup—atau bisa dibilang sangat—dingin menemani kesunyian mereka. Hanya tangan yang saling tertaut yang berbicara kepada angin di sekitarnya tentang betapa manisnya kisah mereka malam ini. Hanya tindakan yang sanggup mengungkapkan apa yang tidak mereka katakan. Hal-hal kecil yang manis membuat malam mereka semakin indah.

Setelah hanyut dalam heningnya malam dan manisnya cinta mereka selama beberapa menit, tak sadar mereka kini telah sampai di tengah taman bunga. Mereka sedang melewati lorong yang diselimuti bunga-bunga rambat yang memiliki aneka warna yang cantik. Ternyata halaman vila ini sangat luas seperti tak berujung; melambangkan cinta mereka yang semoga tidak memiliki akhir kecuali jika maut memisahkan. Membayangkannya saja sudah membuat pipi Jean bersemu merah tanpa Jun sadari.

Jean semakin mengeratkan genggamannya karena malam beranjak dingin. Lebih dingin dari biasanya, ditambah pula jangan lupakan bahwa ini kawasan pegunungan, yang tentu saja memiliki hawa malam yang sangat dingin. Jun yang menyadari itu hanya tersenyum tipis dalam pandangannya yang masih terus menghadap ke depan. Jean sangat cantik malam ini.

Lorong bunga telah dilewati dalam diam. Kini mereka menghentikan langkah masing-masing di atas jembatan yang menghubungkan sisi halaman vila dengan halaman tempat mereka mendirikan tenda. Cukup jauh juga ternyata mereka berjalan. Jean sudah tahu seluk-beluk tempat ini karena sering datang saat liburan.

“Jun, coba lihat ke atas.”

Jean melepas genggamannya pada Jun dan berdiri tepat berhadapan dengan pembatas jembatan. Ia menunjuk langit dengan senyum yang terkembang indah. Penasaran, Jun pun menoleh ke arah tunjukkan Jean.

Menakjubkan. Bintang bertaburan di langit, dan mungkin jumlahnya tak dapat terhitung lagi. Mata Jun berbinar seiring kelip bintang yang silih berganti meramaikan atmosfer langit yang menaungi mereka. Indah, dan mungkin momen seperti ini tak akan tergantikan dengan apa pun. Melihat bintang bersama dengan orang terkasih, suatu hal menyenangkan yang akan selalu terkenang seumur hidup.

Memanfaatkan kekaguman Jean terhadap bintang di hadapannya, Jun mendekat dan memeluknya dari belakang. Atau mungkin juga bukan memeluk, karena kedua tangan Jun berpegangan pada pembatas jembatan, memenjarakan tubuh Jean yang lebih kecil darinya. Kentara sekali jika Jean kaget dengan perlakuan Jun. Ya Tuhan, pemuda ini semakin tak terduga tiap harinya, dan itu membuat Jean semakin menyayanginya.

“Seharusnya kita mengajak Mingyu dan Yunha. Yunha sangat menyukai bunga.”

Menjalin hubungan dengan Jun membuat Jean dekat dengan para sahabat kekasihnya, termasuk juga kekasih dari masing-masingnya.

“Mungkin juga Jeonghan Hyung dengan Mary? Mereka juga pasangan yang lucu.” Jun menertawai pasangan itu. Mary yang cuek juga Jeonghan yang penuh pengertian.

“Kalian memang pintar memilih gadis cantik untuk dijadikan kekasih.” Jean tertawa sendiri mendengar kalimat yang ia ucapkan.

“Mungkin pesona gadis cantik membuat mereka tertarik.”

Hanya seputar pembicaraan yang sebenarnya kurang penting untuk dibahas. Namun begitulah cinta, hal random pun terkadang manis untuk diungkapkan. Jun menaruh dagunya di pundak kanan Jean, mengeratkan pelukannya agar Jean tidak kedinginan. Alasan yang bagus, Jun. Lanjutkan.

“Oh, begitukah? Lalu bagaimana denganku?”

Nuna cantik.”

“Jun—“

Jun tertawa melihat pipi yang baru saja diciumnya bersemu merah, dan kini semakin memerah. Ingin sekali Jean memukul Jun tepat di lengannya, tapi ia tak ingin merusak kebahagiaan kali ini. Jun sering mengeluh lelah akhir-akhir ini, untuk itulah Jean memutuskan untuk mengajaknya liburan. Mereka mengajak Wonwoo dan Jolly karena sepertinya mereka berdua juga butuh liburan, dan juga Jolly yang akan menjalani field-trip ke Jepang. Wonwoo harus siap merasakan kerinduan yang sangat nantinya.

“Apa Nuna tahu? Jeonghan Hyung belum pernah berciuman dengan Mary.”

Kembali diletakkannya dagunya di pundak Jean. Sebenarnya Jean tak tahu apa maksud Jun menceritakan hal itu. Tapi Jean tetap mendengarkan dalam diam.

“Mingyu juga belum pernah mencium Yunha. Gadis itu tingkat kepolosannya hampir menyamai Cheonsa—walaupun kepolosan Cheonsa tak ada yang bisa menandingi. Mingyu tak tega bila harus merusak kepolosan gadisnya.”

Kali ini Jean yang tertawa dan Jun hanya bisa terdiam karena bingung. Apa maksudnya tadi, merusak kepolosan? Jun memang selalu saja mengucapkan sesuatu yang tanpa sadar membuat orang lain tertawa.

“Hei, kenapa tertawa? Oh, dan jangan tanyakan soal Vernon. Audrey yang hiperaktif membuatnya harus siap mengelus dada dan bersabar. Ibarat singa, Audrey adalah sang betina yang sangat sulit ditaklukan. Selalu ada saja tingkahnya yang dapat merusak momen romantis mereka―dan Vernon akhirnya menyerah untuk mencoba mencium Audrey.”

“Singa—apa? Jun, jangan membuatku lelah karena tertawa…”

Tawa Jean mendominasi keheningan malam. Jun, mau tak mau ia ikut tertawa melihat Jean―ya walaupun secara teknis Jun tak bisa melihat wajah Jean karena kini ia memeluk gadis itu dari belakang, namun tetap saja Jun dapat merasakan kebahagiaan yang tersirat melalui tawanya.

“Maka dari itu…”

Jean serta-merta menghentikan tawanya begitu Jun membalikkan tubuh mungilnya agar menghadap pemuda itu. Senyum Jun sangat manis, namun Jean menangkap sinyal-sinyal aneh dalam senyumannya.

“Aku lebih suka dengan gadis yang lebih tua karena tak akan jadi merepotkan nantinya.”

Jun menyeringai tipis sebelum resmi mempertemukan bibirnya dengan milik Jean. Tangannya masih menopang di pembatas jembatan, memenjarakan tubuh Jean yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Beginilah Jun, penuh dengan hal tak terduga yang selalu membuatnya kehilangan kata-kata.

Ciuman yang lembut, udara yang dingin dan entah apa lagi yang menjadi pelengkap kebersamaan mereka kali ini. Cinta yang indah semakin diperkuat dan akan selalu seperti ini. Jun melepas ciumannya dan kembali tersenyum menatap Jean langsung di matanya.

“Hehe, hanya bercanda. Aku memilihmu karena aku mencintaimu.” Jun tertawa kecil melihat kedua pipi Jean yang semakin bersemu merah.

“Aku membencimu, Wen Junhui.”

“Aku juga mencintaimu, Jean Nuna.”

Diakhiri dengan tawa dan juga pelukan yang menyalurkan kehangatan. Udara dingin membuat mereka menyadari sesuatu. Bahwa cinta itu menghangatkan, untuk itu jangan berpelukan di musim panas―haha, bercanda.

Ditemani ribuan bintang dan rasa sayang yang tak dapat terhitung lagi, perjalanan cinta mereka tak hanya berhenti sampai di sini.

“Jun, kira-kira apa yang sedang Wonwoo dan Jolly lakukan?”

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s