[Twoshot] Secret Love (Flowers in Your Heart)

secret

Angelina Triaf ©2016 Present

Secret Love (Flowers in Your Heart)

Wen Junhui, Jeon Wonwoo (Seventeen) & Hong Jean, Hong Jolly (OC) | Fluff | T | Twoshot

0o0

“Oh ayolah Jolly, jangan seperti ini terus…”

Sepertinya di saat Jun sedang mengalami masa bahagianya bersama Jean, Wonwoo harus menerima nasibnya yang kurang bagus—atau bisa dibilang sangat tidak bagus. Jolly marah—siapapun pasti marah jika dikejar-kejar lalu jatuh dengan tidak elitnya di tanah yang kotor, dan bukannya membantu kekasihnya berdiri Wonwoo malah lebih memilih untuk menertawakan gadisnya itu selama kurang lebih sepuluh menit. Bagus Wonwoo, kau sangat pintar mencari masalah.

Jadilah sedari tadi Jolly hanya berdiam diri setelah selesai mengganti baju dan celananya yang kotor terkena tanah―dan sampai saat ini Jolly tetap mendiami Wonwoo, sangat malas menatap wajah tampan kekasihnya yang menyebalkan. Ingin sekali rasanya ia mencakar wajah sempurna tanpa cacat itu—andai saja Jolly tidak terlanjur mencintai Wonwoo mungkin hal itu akan benar-benar ia lakukan.

“Awas itu ada ular di belakangmu!” teriak Wonwoo tiba-tiba di tengah keheningan mereka.

“Aku bisa minta pinjam anaconda milik Cheonsa lalu kulempar padamu. Mau?”

Jolly masih merajuk sembari membakar sosis yang telah ia tusuk menjadi panjang di ranting kayu. Wonwoo menepuk keningnya atas kebodohannya sendiri. Jolly terkadang suka bermain dengan ular milik sepupunya, justru Wonwoo-lah yang akan langsung menjerit saat Jolly tengah bermain dengan ular besar itu. Dasar Wonwoo bodoh.

Masih mencari akal lain untuk membuat hati Jolly luluh dan memaafkannya. Ya, sebenarnya Jolly tidak marah. Mungkin ia hanya kesal karena Wonwoo menertawakannya. Simpel, hanya karena itu. Wonwoo memang orang yang seperti itu, selalu kelepasan tertawa tanpa melihat situasi yang jelas. Namanya juga Wonwoo, ia memang menyebalkan.

“Jolly… itu ada orang yang terbungkus kain putih sedang melihat ke arah kita…” bisik Wonwoo, kali ini sok ketakutan.

“Tidak ada pocong di Korea, Jeon Wonwoo.”

Masih dengan jawaban ketus, Jolly kini tengah menikmati sosisnya yang telah matang. Wonwoo semakin gemas dan ingin sekali memakan tanah yang diinjaknya—jika saja tanah bisa dimakan.

“Memang namanya pocong, ya?”

“Dasar Wonwoo bodoh.”

Dia yang menakut-nakuti, namun dia juga yang tidak tahu nama dari hantu yang ia sebut. Lagi-lagi hening menemani mereka. Wonwoo sebenarnya ingin sekali mencubit pipi Jolly karena gemas. Pasalnya lusa Jolly akan benar-benar pergi ke Jepang selama beberapa minggu—meninggalkan Wonwoo di Korea, namun justru saat di mana seharusnya mereka bermesraan justru diisi dengan pertengkaran yang sama sekali tidak penting—menurut Wonwoo.

“Jolly, ayolah jangan seperti ini…”

Merasa percuma dengan semua ini, Wonwoo akhirnya menyerah dan bangkit dari duduknya, meninggalkan Jolly yang masih asyik dengan dunianya sendiri—memakan sosis sembari melamun memandangi api unggun. Ia berjalan tak tentu arah, hanya untuk sekadar menjernihkan pikiran saja. Jolly terkadang memang seperti anak kecil, dan Wonwoo telah mengetahui sifatnya itu sejak mereka pertama kenal.

Jolly yang cantik dan manis, wajah khas Asia yang jelas terlihat. Namun berbanding terbalik dengan sikap tomboy-nya yang justru membuatnya semakin terlihat memesona, memiliki aura yang berbeda dari yang lain. Wonwoo jatuh cinta pada pandang pertama kali ia melihat Jolly. Saat Jolly menawarkan sebuah persahabatan manis padanya. Gadis cantik dengan eye-smile yang selalu membuat Wonwoo memikirkannya.

Melamunkan Jolly memang tak pernah ada habisnya bagi Wonwoo. Ia terus berjalan entah ke mana karena sejak tadi hanya melamun saja. Oh tidak, ini tidak akan menjadi lucu jika Wonwoo tersesat di kebun vila kekasihnya sendiri—salahkan halaman vila ini yang begitu luas. Merasa masa bodoh, Wonwoo kembali meneruskan jalannya, kali ini tanpa melamun agar tidak semakin tersesat.

Sementara Wonwoo asyik berpetualang, Jolly yang baru tersadar dari lamunannya mendapati ketidakadaan Wonwoo. Ke mana kekasihnya itu? Sedari tadi hal itulah yang Jolly pikirkan. Jolly masih terdiam. Sebenarnya ia tidak marah pada Wonwoo. Ia hanya kesal, dan itu justru membuatnya malas bicara sehingga mendiamkan Wonwoo tadi. Namun Jolly tak ada maksud membuat Wonwoo sedih, ia hanya malas bicara.

Baru saja ia akan bangkit dari duduknya untuk mencari Wonwoo, dari arah kanannya Jun dan Jean telah kembali. Malam semakin dingin, ke mana pula Wonwoo ini? Apa yang harus Jolly katakan jika Jean dan Jun menanyakan keberadaan Wonwoo?

‘Wonwoo sedang jalan-jalan, ia tidak mengajakku.’ Ah, jawaban konyol.

‘Wonwoo kabur karena aku marah padanya.’ Bagaimana mungkin Jolly menjawab seperti itu?

‘Wonwoo tersesat di kebun vila.’ Ini lebih tidak masuk akal lagi.

Jadi apa yang harus Jolly katakan? Kini ia bingung sendiri memikirkan Wonwoo. Ia mungkin agak menyesal. Oke, agak. Pasalnya Wonwoo juga memiliki sifat kekanakan yang hampir sama dengan Jolly, atau mungkin bisa dibilang sama persis? Oh tidak, Jean dan Jun semakin dekat. Bagaimana ini?

“Jolly, kenapa sendiri? Di mana Wonwoo?” Bagus, Jolly tak akan bisa mengelak apa pun jika yang bertanya adalah Jun. Oppa satu ini terlalu baik untuk dibohongi. Bagaimana ini?

Jolly hanya diam. Ia merutuki sosisnya yang telah habis beberapa menit lalu. Kini tak ada apa pun yang bisa ia lakukan selain melamun memandangi tanah berumput yang ia injak. Bahkan sekarang Jean telah resmi duduk di sampingnya sementara Jun duduk di hadapannya, memeriksa apakah Jolly baik-baik saja atau tidak.

“Jolly? Apakah kalian ada masalah?” Kali ini Jean yang membuka suaranya. Bagus, Jolly semakin tak bisa mengelak mendengar suara khawatir khas Jean. Eonni-nya ini juga terlalu baik untuk dibohongi.

Merasa percuma, Jolly akhirnya langsung memeluk Jean. Tangisnya pecah, dan Jean hanya bisa balas memeluknya. Jun yang melihatnya bingung antara kasihan dan ingin tertawa. Pasti hanya pertengkaran kecil, pikirnya. Namun entah mengapa jika Wonwoo dan Jolly bertengkar hal itu justru terlihat sangat lucu untuk dilihat. Mereka memang sangat manis.

“Wonwoo meninggalkanku. Dia memang kekanakan, Eon. Aku benci dia.” Jolly sangat lucu. Bahkan Jun hampir saja kelepasan tertawa jika saja Jean tidak menatapnya tajam seperti itu. Jolly semakin mengeraskan suara tangisnya.

“Kau yakin begitu kejadian sebenarnya? Tak ada yang lain?” Jean bertanya dengan lembut. Jolly melepas pelukannya dan menatap Jean kesal.

“Pasti kalian telah bertemu Wonwoo.” Tatapan datar Jolly resmi membuat Jun tertawa. Adiknya satu ini sangat manis jika sedang kesal.

“Hahaha, tadi kami bertemu Wonwoo di taman bunga depan vila. Ia terlihat seperti orang tersesat jika saja kami tak memberitahunya arah kembali ke sini.” Jun kembali serius saat mendapat satu pukulan di kepalanya oleh Jean. “Mungkin kau bisa menyusulnya.”

Ucapan Jun membuat Jolly semakin bingung. Apakah ia harus mengalah dan menyusul Wonwoo? Tapi bagaimana jika nanti justru Wonwoo-lah yang balik marah padanya? Uh, semuanya sangat membingungkan bagi Jolly. Jean kembali menatap Jolly dan mengusap kepalanya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya.

“Pergilah, Jolly.”

Hanya itu yang bisa Jean ucapkan. Jolly tersenyum kecil dan akhirnya bangkit dari duduknya lalu pergi ke arah yang Jun tunjuk. Malam ini sangat dingin, dan Jolly dengan bodohnya lupa memakai jaket yang lebih tebal. Ia hanya mengenakan sweater peach kesayangannya. Namun setidaknya itu lebih baik ketimbang tidak memakai penghangat sama sekali.

Jolly terus menjelajahi kebun vila yang luas ini. Melelahkan, ditambah ia sangat kedinginan. Ia mulai merindukan Wonwoo di saat sepeti ini. Pelukan hangatnya, keceriaannya. Jolly memang tak pernah betah jika harus berlama-lama marah dengan Wonwoo. Toh memang begitulah Wonwoo, terkadang—atau bahkan sering—ia memang terlalu berlebihan menanggapi apa pun. Namun sekali lagi, Jolly memaklumi hal itu. Ia menyayangi Wonwoo apa pun keadaannya.

Di mana Wonwoo? Jolly telah mengikuti instruksi Jun. Kini ia tengah berada di taman bunga dekat air mancur, dan katanya Wonwoo sedang duduk diam di sini sembari melihat bintang. Namun ke mana dia? Sejauh mata Jolly memandang sama sekali tak ia temukan keberadaan Wonwoo. Apakah Wonwoo telah kembali ke vila? Oh tidak, Jolly akan benar-benar marah jika hal itu terjadi.

Jam telah menunjukkan pukul dua dini hari, dan Jolly benar-benar mengantuk sekaligus kedinginan. Bagaimana bisa orang tinggal di pegunungan dan tidak mati membeku karenanya? Jolly mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri. Seandainya saja Wonwoo di sini. Seandainya saja Wonwoo-lah orang yang memeluknya…

“Wonwoo di mana? Aku kedinginan—“

Baru saja Jolly akan memejamkan matanya jika saja lengan itu tak melingkar manis di pinggangnya, memberikan perasaan hangat dan kenyamanan bagi Jolly. Ia tersenyum, sedangkan Wonwoo hanya terdiam sembari masih memeluk erat Jolly dari belakang. Padahal baru terhitung beberapa jam saja mereka bertengkar kecil, namun Wonwoo merindukan Jolly seakan mereka telah dipisahkan bertahun lamanya. Sungguh berlebihan, namun memang itulah yang Wonwoo rasakan. Kerinduan yang sangat pada Jolly, pada kehangatan dan kasih sayang serta keceriaan gadisnya. Wonwoo merindukan itu semua.

Tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya sebuah pelukan hangat dan masing-masingnya dapat mengetahui bagaimana perasaan mereka. Cinta yang meletup dan menghangatkan suasana yang dingin di sekitar mereka, kasih sayang yang tiada hentinya mengalir bersama waktu di tiap detik jarumnya, dan segala hal manis lainnya. Wonwoo dan Jolly, sepertinya nama mereka memang sudah dicatat oleh Tuhan agar saling menjaga. Untuk saling melengkapi dan mengasihi. Ya, hanya ada mereka. Wonwoo dan Jolly.

“Jolly, maaf…” Hanya itu yang mampu Wonwoo katakan. Ia bingung dengan suasana seperti ini. Bagaimana dengan Jolly?

Wonwoo meletakkan dagunya di bahu kanan Jolly, pelukannya semakin erat. Wonwoo bingung harus berkata apa lagi. Kenapa lidah jadi terasa kelu hanya untuk mengucapkan kata-kata manis yang mampu menghangatkan hati? Wonwoo merutuki dirinya sendiri. Keheningan semakin memerangkap mereka dalam situasi yang aneh. Jolly sama sekali tak berucap apa pun. Tidak memaafkan, tidak pula untuk menolak permintaan maaf barusan. Apa yang sedang Jolly pikirkan?

“Aku tahu aku sering bersikap menyebalkan. Tapi, Jolly—hei, kenapa menangis?”

Wonwoo membalik tubuh Jolly menghadapnya, namun justru pemandangan Jolly yang menangis tertangkap oleh matanya. Tanpa menjawab pertanyaan Wonwoo, Jolly langsung kembali memeluk Wonwoo dengan erat, menenggelamkan wajahnya dalam kehangatan tubuh Wonwoo. Pemuda itu tertawa kecil lalu balas memeluk gadisnya. Pasti Jolly juga merasa tak nyaman dengan pertengkaran kecil mereka. Satu rahasia kecil dalam diri gadis itu; Jolly tidak bisa benar-benar marah pada Wonwoo.

Diusapnya kepala Jolly, sesekali diciumnya rambut panjang gadisnya agar ia tenang. Malam semakin larut, dan Jolly masih belum menghentikan tangisnya. Hanya tangisan kecil, namun segala air mata yang tumpah itu menyiratkan banyak hal. Bahwa Jolly sangat menyayangi Wonwoo dan tak bisa berada jauh darinya. Jiwa mereka telah menjadi satu, dan sudah tak mungkin dipisahkan lagi.

Setelah dirasa tangis Jolly sudah berhenti, Wonwoo melepaskan pelukannya, melihat wajah Jolly yang kini memerah akibat menangis dan mungkin juga karena udara yang semakin dingin. Lalu dihapusnya sisa air mata yang masih menggenang di mata Jolly dengan ibu jarinya. Setelahnya Wonwoo meletakkan kedua telunjuknya di kedua sudut bibir Jolly, mengangkatnya sehingga terkembanglah sebuah senyum kecil yang manis khas Jolly.

“Begini lebih cantik.” Wonwoo mengacak rambut Jolly sebelum ia pergi ke dekat air mancur. Wonwoo terlihat seperti sedang mengambil sesuatu. Jolly hanya mengerutkan keningnya melihat kelakuan Wonwoo. Apa lagi yang akan ia lakukan?

Wonwoo kembali menghampiri Jolly yang masih terdiam. Entahlah, sepertinya Jolly sedang malas bicara setelah menangis tadi, ditambah lagi ia mulai mengantuk.

“Tadi aku bosan karena hanya berdiam diri di sini, jadi…”

Satu flower-crown resmi tersemat di kepala Jolly. Gadis itu semakin membatu, entah harus mengucapkan apa pada Wonwoo setelah ini. Bagaimana bisa Wonwoo yang menyebalkan bersikap manis seperti sekarang ini? “Aku membuat ini. Benar kan, terlihat sangat cantik.”

Jolly semakin terdiam. Bagaimana mungkin ia masih bisa marah pada Wonwoo jika akhirnya seperti ini? Karena masih malas bicara, Jolly hanya tersenyum kecil pada Wonwoo―yang membuat Wonwoo gemas dan kembali mencubit kedua pipi Jolly. Entah perasaan dari mana, Wonwoo lagi-lagi memeluk Jolly. Sepertinya ia benar-benar rindu dengan gadisnya itu. Mata Jolly semakin sayu, ia sudah tak bisa menahan kantuknya.

Oppa, aku mengantuk…” racaunya tak jelas, masih dalam pelukan Wonwoo. Wonwoo melepas pelukannya begitu menyadari keanehan Jolly. Sejak kapan gadis itu mau memanggilnya Oppa?

“Ya ampun gadis ini, hihi.” Wonwoo tertawa kecil melihat Jolly yang sudah setengah terpejam. Ia mengangkat Jolly dalam gendongannya, memeluknya agar tidak kedinginan. “Ayo kita kembali ke tenda atau sleeping beauty ini akan kedinginan.”

Benar saja. Jolly benar-benar terpejam dalam gendongan bridal style Wonwoo. Flower-crown itu juga masih berada di kepala Jolly. Wonwoo berjalan santai, menikmati embusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Wajah tidur Jolly memang yang paling manis. Damai dan menggemaskan seperti anak kecil.

Hari ini mereka semua akan pulang ke kota dan besok Jolly sudah harus pergi ke Jepang. Ia baru akan kembali ke Korea sekitar satu bulan lagi, paling cepat dua minggu. Wonwoo tak bisa membayangkan bagaimana ia akan merasakan rindu nantinya. Berbeda dengan Jun dan Jean yang bisa setiap hari bertemu. Hidup memang tak selamanya berjalan sesuai yang kita inginkan.

Akhirnya Wonwoo sampai di tenda. Sudah sepi, pasti Jun dan Jean sudah tidur. Baru saja Wonwoo membuka tenda Jean dan Jolly, ia mendapati temannya itu tertidur di samping Jean. Huh, kesempatan. Baiklah, mau tidak mau Wonwoo harus tidur dengan Jolly di tendanya dan Jun. Wonwoo masuk ke dalam tenda, membaringkan Jolly dengan perlahan. Ia juga masuk dan memilih untuk duduk di samping Jolly yang tertidur. Gadisnya itu memang sangat manis.

Setelah melamun cukup lama, Wonwoo memilih tidur. Ia menatap langit-langit tenda, ternyata ia tak bisa tidur. Tiba-tiba Jolly memeluknya. Wonwoo hanya tertawa kecil melihat Jolly yang tertidur dengan pulas.

“Hari ini aku biarkan kau menyamakanku dengan guling kesayanganmu. Malam, sayang.” Wonwoo membenarkan posisi tidurnya; dengan wajah menghadap Jolly. Dikecupnya kening Jolly dan Wonwoo pun ikut tertidur memeluk kekasihnya. Malam yang panjang ini adalah salah satu yang tak akan pernah Wonwoo lupakan.

0o0

“Hah, akhirnya kita pulang! Aku mengantuk…”

Mereka baru saja sampai di kediaman Hong. Jun dan Jean langsung pergi lagi setelah mengantar mereka berdua pulang karena ada urusan lain. Kini Wonwoo tengah berada di dapur untuk mengambil segelas air dan Jolly langsung merebahkan tubuhnya di sofa.

“Aku lelah sekali, rasanya masih ingin istirahat sampai besok dan membatalkan keberangkatan ke Jepang,” ucapnya pada Wonwoo yang kini duduk di sofa sampingnya. Wonwoo hanya menggeleng pasrah sembari menatap Jolly. Bagaimanapun juga Jolly tetaplah Jolly, suka seenaknya sendiri.

“Kau mengantung flower-crown yang kubuat kemarin di ruang tamu?” tanya Wonwoo setelah tak sengaja melihat lingkaran bunga itu bertengger manis di dinding atas televisi.

“Iya, habisnya di kamar sudah penuh—“

“Kau masih menyimpan flower-crown yang telah kuberi sebelumnya? Pasti sudah layu dan kering, kan?” Wonwoo menatap Jolly tak percaya. Sepanjang mereka menjadi kekasih, mungkin sudah tak terhitung lagi berapa flower-crown yang telah Wonwoo buat untuk Jolly, dan Jolly menyimpan itu semua?

“Iya ada beberapa yang sudah kering. Aku memberinya air dan pengawet. Setidaknya bisa tahan agak lama sebelum benar-benar kering. Ayo bantu aku merapikan koper untuk besok,“ ajak Jolly seraya bangkit dari tidurnya dan hendak berjalan menuju kamarnya.

“Tidak mau, bereskan saja sendiri.” Sebenarnya Wonwoo mau. Ia hanya ingin menggoda Jolly.

Jolly mendengus pelan lalu kembali melangkahkan kakinya ke arah Wonwoo duduk. “Wonwoo sayang, ayolah…” Jolly memeluk leher Wonwoo dari belakang, mencium pipinya dan menggoda Wonwoo agar bangkit dari duduknya dan membantunya di kamar.

“Jolly, kau tahu kan apa yang akan terjadi jika berani menggodaku seperti ini?”

“Aku tahu,” ucap Jolly polos. Atau sok polos?

“Dan kau tahu kan apa konsekuensi yang akan kau dapat karena sudah berani menggodaku?” Nada bicara Wonwoo tak kalah menggoda dibandingkan dengan Jolly. Mereka memang pasangan yang sama-sama jahil.

Jolly mengangguk, kembali mencium pipi Wonwoo, bahkan lehernya pun tak luput dari bibir Jolly. Dasar gadis nakal.

“Sangat tahu.”

Wonwoo menyerah, ia akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan langsung menuju kamar Jolly―mengabaikan Jolly yang tersenyum penuh kemenangan. Wonwoo memang pemuda baik hati, ia tak akan mungkin membiarkan Jolly mengerjakan pekerjaan yang menyusahkan sendirian.

Wonwoo membuka pintu kamar Jolly. Benar saja, banyak flower-crown yang tergantung di dinding kamar, bahkan hampir semuanya masih terlihat segar. Wonwoo membuka lemari paling bawah Jolly, tempat koper Jolly disimpan.

“Wonwoo bantu aku memilih sepatu dan topi, ada di lemari paling bawah—“ Belum selesai ucapan Jolly, Wonwoo telah membuka lemari bagian atas milik Jolly. Tempat semua…

“Kau memiliki banyak sekali koleksi yang bagus, Nona Hong,” ucap Wonwoo dengan nada bicara yang dibuat menggoda.

Tempat semua lingerie miliknya dan Jean tergantung dengan cantik. Bagus, Wonwoo melihatnya.

“Aku hanya mengenakannya saat tidur,” bela Jolly dengan wajah memerah, membuat Wonwoo semakin semangat untuk menggodanya.

“Oh, benarkah? Tapi kenapa setiap aku menginap di sini kau hanya mengenakan kaus putih polos kesayanganmu dan celana pendek? Bukan memakai salah satu dari—kau tahu—itu,” ujar Wonwoo sambil menunjuk semua lingerie-nya. Wonwoo mendekatkan dirinya pada Jolly. Sudah kepalang basah, lebih baik Jolly ikut menggoda Wonwoo saja. Sekali lagi, Wonwoo itu pemuda baik, tak mungkin otaknya memikirkan hal yang tidak-tidak. Wonwoo pasti hanya ingin menggoda Jolly saja.

“Jadi, Tuan Jeon ini ingin melihatku memakai salah satu dari itu, hm?” Kini Jolly yang mendekatkan tubuhnya ke arah Wonwoo. Ia memainkan jemarinya di dada Wonwoo. Saatnya menggoda Wonwoo!

“Baiklah, bagaimana jika sekarang aku langsung memakainya? Tepat di hadapanmu,” bisik Jolly seduktif, membuat pipi Wonwoo memerah. Padahal kan ia yang ingin menggoda Jolly, kenapa justru ia yang tergoda?

“Pfftt… hahaha, Wonwoo pipinya merah. Kyeopta!” Jolly langsung kabur begitu melihat wajah Wonwoo berubah menjadi angker. Dasar Jolly jahil.

Ya! Awas kau ya, Jolly! Jika tertangkap nanti kau harus benar-benar memakai itu di hadapanku!”

Mulai lagi suara bass Wonwoo dan teriakan ketakutan Jolly memenuhi rumah itu, meninggalkan satu lagi momen manis di antara mereka. Wonwoo dan Jolly, sepertinya mereka memang ditakdirkan menjadi anak kecil selamanya.

Ya, Wonwoo Oppa dan Jolly, jangan berisik!”

Ups, mereka berdua melupakan keberadaan dua orang lainnya di rumah itu. Iya, dua orang; Cheonsa yang kini menggerutu karena tak bisa konsen mengerjakan tugasnya dan juga Jisoo yang hanya tertawa melihat wajah lucu sepupu cantiknya.

Keluarga yang benar-benar bahagia.

FIN

Iklan

One thought on “[Twoshot] Secret Love (Flowers in Your Heart)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s