[Ficlet] Arrows of Love

arr

Angelina Triaf ©2016 Present

Arrows of Love

Kim Mingyu (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Fluff | G | Ficlet

0o0

“Aku penasaran, berapakah hasil dari 12 dibagi 12?”

Mingyu membuka matanya saat ia merasakan sesuatu yang lengket menempel di keningnya. Ah, sebuah sticky note dengan tulisan cantik berwarna hijau. Apa itu? Bahkan anak sekolah dasar tahu bahwa dua belas dibagi dua belas hasilnya adalah satu. Mingyu melepaskan kertas itu dan berguling ke kiri, melihat sesuatu dengan warna senada menempel pada bantal di sampingnya.

“Kenapa harus berguling ke kiri? Bahkan anak sekolah dasar pun tahu jika sekarang waktunya Oppa pergi ke gedung agensi. Mau bolos lagi? Aku tak peduli.”

Tanpa sadar, ia tersenyum kecil mendapati kertas aneh ini. Kembali dilepasnya kertas itu dan ia satukan dengan kertas yang sebelumnya. Mingyu bangkit menuju kamar mandi, berjalan gontai karena jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Ayolah, orang gila mana yang bangun sepagi ini hanya untuk bersiap latihan?

“Aku kenal orang gila ini. Tiap pagi sangat sulit untuk membuatnya bangun. Huh, menyebalkan.”

Kali ini sticky note berbentuk bebek yang menempel di sikat gigi kesayangannya. Apa katanya? Orang gila? Sepertinya sang kriminal ini harus segera diberi hukuman begitu Mingyu bertemu dengannya. Dengan secepat kilat Mingyu menggosok giginya, mengabaikan peraturan bagaimana cara menggosok gigi yang baik dan benar. Biarlah, toh giginya tetap baik-baik saja selama dua puluh tahun hidupnya ini. Setelah yakin gigi dan wajahnya sudah bersih, ia beranjak keluar kamar mandi—dan lagi-lagi melihat secarik kertas dengan tulisan berwarna yang cantik.

“Aku tahu ini di luar kebiasaanmu. Tapi, bisakah Oppa pergi ke dapur dan meminum air mineral yang banyak? Itu baik untuk kesehatan.”

Mengabaikan ada hal aneh di depannya, Mingyu tetap melangkahkan kakinya menuju dapur, membuka lemari pendingin dan mengambil satu botol air yang masih penuh. Dituangnya air itu ke gelas berkaki tinggi dan diminumnya perlahan. Merasa kurang hanya satu gelas, Mingyu kembali menuangkan airnya dan meminum habis gelas keduanya.

“Haus? Perhatikanlah kesehatanmu. Oh ya, mandilah. Aku tahu Oppa pasti belum mandi. Sepuluh menit, jangan lama-lama!”

Mingyu tertawa kecil karena lagi-lagi menemukan kertas aneh dengan tulisan yang tak kalah aneh. Setelah memasukkan botol air kembali ke tempatnya, Mingyu berjalan menuju kamarnya. Mengambil asal handuk dari gantungannya, ia memasuki kamar mandi dengan langkah pelan. Ia benci mandi, bahkan ibunya sangat tahu hal itu.

“Kucing zaman sekarang saja sudah senang mandi dan pergi spa. Oppa lebih buruk dari kucing.”

“Siapa juga yang ingin pergi spa jika kau bisa mandi dengan kekasihmu yang tampan ini?” gerutunya pelan dan mulai menyalakan shower, membuat rintikan air perlahan membasahi tubuhnya. Mingyu penasaran, mengapa semua yang tertulis di kertas ini merupakan jawaban yang tepat. Bahkan yang terakhir ini ia temukan di dekat sabunnya. “Bagaimana bisa aku tidak melihat ini tadi?”

“Sepertinya Oppa butuh kacamata.”

Apa lagi ini? Sebuah catatan berbentuk sapi menempel tepat di samping kacanya. Oke, ini mulai horor. Bagaimana bisa Mingyu tidak melihat kertas itu tadi? Karena merasakan bulu kuduknya yang berdiri, ia mempercepat acara mandinya dan ingin segera keluar dari situasi menyebalkan ini.

“Kamu tak akan selamat, Cheon,” umpatnya sembari mengeringkan tubuhnya. Pintu pun ia buka, bergegas menghampiri lemari pakaian dan mengambil salah satunya untuk dikenakan.

“Harus pakai yang ini. Harus!”

“Huh, kekanakan sekali. Tunggu, kenapa harus piyama kelinci?!”

Mingyu benar-benar tak bisa menahan dirinya lagi. Baru saja ia hendak melemparkan piyama itu ke keranjang pakaian kotor, ia—lagi-lagi—melihat sticky note berbentuk bunga menempel di keranjang pakaian itu. Baiklah, Mingyu menarik napas dalam-dalam. Sabar, Mingyu…

“Bunga adalah hal yang indah sepanjang hidupku. Oppa merupakan salah satunya.”

Pandangannya meredup. Mingyu sadar ia tak akan pernah bisa benar-benar marah pada orang itu. Kali ini saja, dan selanjutnya jangan harap akan terjadi hal-hal seperti ini lagi―mungkin itulah yang dikatakan lubuk hati Mingyu yang terdalam.

Setelah beberapa menit, Mingyu berubah menjadi sangat lucu dengan piyama biru laut bermotif kelinci. Oke, mari kita luruskan. Mingyu memang sangat menyukai kelinci―tapi itu kelinci, bukan piyama dengan motif kelinci. Catat itu sebagai pengingat jika kalian lupa.

Mingyu berjalan menghampiri cermin besar miliknya, menemukan secarik kertas lagi dengan warna pastel yang lucu.

“Lihatlah betapa lucunya dirimu! Baiklah, tinggal satu hal kecil lainnya. Bisa tolong buka kotak di dalam nakas meja Oppa?”

“Tidak akan pernah jika di dalamnya terdapat hal aneh sejenis dengan piyama ini,” ucap Mingyu lantang, siapa tahu ada yang mendengarnya. Namun baru langkah pertamanya meninggalkan cermin, ia menginjak suatu kertas di dekat kursi mera rias.

“Ayolah… Apa Oppa tak sayang padaku?”

“Argh! Baiklah!” Dengan langkah cepat Mingyu menghampiri meja nakasnya, membukanya perlahan karena firasat buruk menguasai akal sehatnya. Oh Tuhan, bunuh Mingyu sekarang juga.

“Terima kasih. Oh, bisakah Oppa datang ke halaman belakang sekarang? Kuharap Oppa masih suka kejutan.”

Kertas kecil itu menempel pada sebuah cute stuff yang tak akan pernah mau Mingyu lihat seumur hidupnya; bando kelinci yang sangat imut. Kali ini Mingyu benar-benar ingin terjun dari gunung tertinggi saja.

“Tuhan, bunuh aku sekarang.”

0o0

Setelah menenangkan pikirannya dan berpikir berkali-kali lipat, Mingyu benar-benar melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumahnya. Berbalutkan piyama lucu dengan bando telinga kelinci yang menjuntai panjang berwarna merah muda serta sandal berbulu yang lembut, Mingyu melangkahkan kakinya dengan cepat―benar-benar ingin segera memberi hukuman yang pantas bagi tersangka yang telah membuatnya terlihat konyol seperti sekarang ini. Namun daripada konyol, saat ini Mingyu lebih terlihat sangat menggemaskan.

Di sana, di bawah pohon jeruknya itu ia melihat seorang gadis dengan rambut pirangnya yang manis sedang duduk membelakanginya. Tepat di hadapannya tersedia berbagai makanan dan juga terdapat kue cokelat besar di tengahnya. Jangan bilang kalau…

“Cheonsa?”

Klik!

Oppa, selamat ulang tahun!”

Masih syok dengan kejadian barusan yang sangat cepat, Mingyu terdiam karena berusaha mencerna semua yang terjadi.

Hari ulang tahun…

Difoto dengan mengenakan pakaian yang sangat memalukan ini…

Ya, Park Cheonsa! Jangan lari kau!”

“Wuah! ada kelinci paskah mengamuk!”

“Kita lihat bagaimana kelinci paskah ini akan mengamuk padamu di ranjang nanti! Park Cheonsa!”

Ya seperti itulah, acara ulang tahun yang manis dan ramai sekali dengan segala teriakan Mingyu yang mengamuk. Mari kita biarkan mereka asyik dengan kegiatan kejar-kejaran mereka dan lupakan fakta bahwa Cheonsa benar-benar akan memamerkan foto lucu Mingyu tadi di akun jejaring sosialnya. Dari tempat kejadian perkara, laporan selesai.

FIN

Iklan

4 thoughts on “[Ficlet] Arrows of Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s