[Oneshot] Sejatinya Kala Merindu

85fead4bdda74125dec0c1e8a3779cf7

Angelina Triaf ©2016 Present

Sejatinya Kala Merindu

Jeon Wonwoo & Kim Mingyu (Seventeen) | Slice of Life, Friendship | G | Oneshot

Dalam hidup itu, segala hal ada timbal-baliknya.

0o0

            Angin mengetuk jendela yang mengkhianati kosennya, berayun ke kanan dan kiri seiring alunan yang telah tercipta sejak beberapa menit yang lalu. Tapi tetap saja, Wonwoo masih setia duduk di hadapannya, meniti lembaran kertas yang telah menjadi objek lampiasan pandangannya sejak pukul satu. Bukan tanpa alasan, hanya saja Wonwoo senang mendapati angin lembut yang menerpa wajahnya.

            Penghujung musim gugur memanglah waktu dimana angin mulai berlomba menggulung dedaunan oranye, tak luput juga para pejalan kaki yang masing-masing memeluk mantel mereka. Bagi Wonwoo pribadi, saat ini adalah penentuan baginya apakah bisa mendapatkan waktu santai atau tidak.

            Sebenarnya kertas itu adalah tugas liburannya yang telah selesai, tapi Wonwoo selalu merasa ada yang janggal dengan penelitiannya itu. Bukannya Wonwoo seorang yang perfeksionis atau apa, tapi targetnya kali ini ialah mendapatkan nilai bagus sehingga tak harus mengikuti semester pendek di akhir tahun. Jadwal Seventeen sedang sangat padat dan tentu saja Wonwoo tak ingin baik kuliah maupun karirnya terganggu hanya karena kebodohannya dalam menyelesaikan tugas.

            Setelah fokus dengan kalimat penutup dan daftar pustakanya, Wonwoo meletakkan kertas itu dan merenggangkan tubuhnya semaksimal mungkin. Ternyata cukup pegal juga terus-menerus duduk diam di kursi dengan mata yang sibuk memerhatikan huruf-huruf kecil itu. Masih dengan tangan yang terangkat, Wonwoo mengatur napasnya dan menikmati udara dingin yang masuk ke paru-parunya.

            “Hyung, baru selesai belajar?”

            Terlihat satu lagi pemuda terlampau tinggi yang berjalan melewati pintu kamar. Langsung saja ia merebahkan dirinya di atas ranjang, memejamkan mata menikmati angin dingin yang masih menelusup dalam ruangan. Tak lama, sampai pemuda itu kembali membuka mata, menilik teman satu grupnya yang masih mengenakan kacamata baca tanpa ia sadari.

            Sebuah senyum kecil disertai anggukan menjadi jawaban, Wonwoo kemudian merapikan kertas-kertas penelitiannya dan memasukkannya ke dalam map cokelat tempatnya semula. “Biasa, tugas akhir tahun yang menyebalkan,” ujar Wonwoo kemudian.

            Hening menemani keduanya selama beberapa detik, sampai Wonwoo kembali membuka suara. “Apa yang membawamu ke sini, Mingyu?” tanyanya. “Kau tentunya tidak bertengkar lagi dengan Seokmin hanya karena mengungkit pasal sepatu, kan?” Wonwoo menilik wajah Mingyu dengan intens, membuat yang ditatap hanya menggeleng pelan.

            “Bukan itu.”

            “Lantas?”

            Bicara soal Mingyu dan Seokmin, sudah dua minggu ini kedua anak dari garis lahir sembilan tujuh itu saling mendiami. Alasannya? Ketika Seventeen sedang melakukan pengambilan gambar untuk video switch part Adore U di pantai, Seokmin tak sengaja menendang sepatu putih kesayangan Mingyu hingga terseret ombak.

            Awalnya Mingyu tidak tahu dan menganggap jika sepatunya hilang entah ke mana, tetapi berkat bantuan Jeonghan akhirnya semua orang tahu jika Seokmin adalah pelaku misteri hilangnya sepatu Kim Mingyu. Thanks to Yoon Jeonghan, kedua anak itu sekarang sedang menjalani perang dingin berkepanjangan.

            Kembali pada mereka berdua, Wonwoo kini melepas kacamata bacanya yang baru saja ia sadari masih bertengger manis di hidungnya. Mingyu terlalu banyak mengambil jeda, membuat Wonwoo gemas sendiri dan langsung menghampiri Mingyu yang masih berbaring. “Ya, kau ada masalah?”

            Hingga kini Wonwoo mengguncangkan kaki panjang Mingyu, meminta agar ia setidaknya menceritakan sedikit apa yang menjadi kegundahannya. Mingyu memang jarang sekali berkata apa adanya, tetapi juga bukan seorang pembohong lantas ia memilih terdiam. Namun hebatnya seorang Jeon Wonwoo ialah; ia bisa membaca raut wajah teman-temannya, apalagi Mingyu yang merupakan teman terdekatnya.

            Mingyu mengambil bantal di samping kanannya, memeluknya dalam diam sembari menerawang langit-langit. “Aku sedang merindukan seseorang,” katanya, dengan suara pelan khas orang berkhayal. Sepertinya Mingyu mulai hilang dari tubuhnya, pikirannya menelusuri jalanan panjang masa lalunya.

            Wonwoo hanya terdiam, menunggu kemungkinan bibir Mingyu akan mengeluarkan beberapa kalimat lainnya. Benar saja, pemuda itu kini bangkit dan duduk di sampingnya, menatap Wonwoo dengan mata penasaran.

            “Hyung, menurutmu apa hal terindah dalam hidup ini?”

            Diberi pertanyaan random seperti itu membuat Wonwoo refleks mengerutkan kening karena bingung. Bukankah tadi Mingyu mengatakan jika ia tengah merindu? Lalu apa hubungannya hal terindah dalam hidup dengan perasaan rindu?

            Oh, mungkinkah Mingyu merindukan sesuatu yang indah dalam hidupnya? Apakah kekasih?

            “Hm, banyak hal indah dalam hidup, dan pastinya berbeda-beda bagi tiap orang,” jawab Wonwoo sekenanya, karena ia sendiri pun tak tahu jawabannya.

            Semua hal di dunia ini adalah keindahan, karena Tuhan pun adalah bentuk keindahan yang paling nyata. Segala yang diciptakan-Nya adalah bukti keindahan yang tak bisa kita ukur begitu saja. Semuanya indah dengan caranya masing-masing.

            “Baiklah, aku tahu itu. Tapi kalau bagi Hyung sendiri apa?”

            Oke, sebenarnya jawaban pertama Wonwoo hanyalah tameng zona aman belaka mengingat ia tak pandai merangkai kata-kata seperti Jisoo ataupun Jihoon. Tetapi jika sudah ditanya dengan spesifik seperti itu? Tak ada jalan lain bagi Wonwoo selain memutar otak dengan cepat hingga menemukan sebuah jawaban bagus yang terdengar cerdas.

            Seperti idiom lama yang selalu Seungkwan sukai; bola lampu menyala di atas kepalanya.

            “Hal terindah itu adalah mencintai dan balik dicintai, atau dengan kata lain saling mencintai.”

            Bolehkah Wonwoo menganggap jika ia adalah orang paling tampan di dunia? Ya, sebenarnya agak aneh juga karena tak ada hubungannya antara jawaban cerdas dengan ketampanan. Namun bagi Wonwoo pribadi, tingkat ketampanannya akan bertambah jika ia berhasil menciptakan sebuah pemikiran atau kata-kata cerdas dari otaknya. Biarkan saja relevansi seperti itu hanya bersarang di kepalanya.

            Dengan jawaban itu, Mingyu kembali terdiam. Mingyu adalah tipe pemuda yang masih melekat dalam dirinya pikiran singkat khas anak-anak. Ia kira Wonwoo akan menjawabnya dengan satu kata benda tunggal semisal; yang paling indah adalah pantulanku dalam cermin, atau yang lebih parahnya lagi; keindahan hanyalah mutlak milik Tuhan.

            Tapi nyatanya tidak. Wonwoo menjawab bahwa hal terindah dalam hidup ialah dua buah kata kerja yang saling berhubungan hingga membentuk pintalan benang merah yang paling kuat.

            Mencintai dan balik dicintai, siapa gerangan makhluk di dunia ini yang tak ingin merasakannya?

            “Aku tahu Hyung sedang patah hati karena Cheonsa menolakmu, tapi bisakah serius untuk kali ini?”

            Mingyu menatap Wonwoo malas. Seluruh penghuni dorm bahkan para manajer mereka pun sudah tahu kabar bahwa Wonwoo ditolak oleh seorang penulis muda yang rencananya akan menjadi model MV dari title track di first full album mereka tahun depan.

            Wonwoo menggeleng, berniat memukul kepala Mingyu dengan bantal namun urung karena kasihan. “Aku serius, Mingyu.”

            “Tapi itu jawaban yang aneh, Hyung. Secara tidak langsung kau mengatakan bahwa memiliki pasangan adalah hal terindah dalam hidup.”

            “Siapa bilang?”

            Skak, Mingyu terdiam mendengar suara pelan namun penuh dengan ketegasan itu. Memang pada awalnya hanyalah sebuah pemikiran asal di otaknya, namun Wonwoo berpikir cepat dan menemukan fakta bahwa itulah jawaban pasti yang telah ia berikan pada Mingyu.

            Mendapati Mingyu terdiam, Wonwoo tersenyum kecil memerhatikan wajah lucu pemuda di sampingnya. Ia memang sangat ingin memiliki adik laki-laki sejak kecil―dan bagaikan keajaiban, Tuhan tak hanya memberikannya satu adik bahkan tujuh di dalam dorm mereka.

            “Memangnya mencintai dan dicintai itu hanya berlaku untuk manusia saja? Tidak, kan? Segala hal di dunia ini digariskan untuk mencinta dan dicinta.”

            Masih terdiam, Mingyu mencoba mencerna ulang perkataan Wonwoo. Tak harus manusia, ya? Segala hal digariskan untuk mencinta dan dicinta, berarti termasuk hewan, tumbuhan dan benda mati lainnya. Otak Mingyu paham sampai di situ, tetapi ada hal aneh lain yang mengganjal dalam kepalanya.

            “Tetap saja aneh, Hyung. Jika dalam kasus ini kita menggunakan contoh manusia, yang paling jelas adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Jika diperluas lagi namun masih tetap dari sudut pandang manusia, bisa juga cinta kepada sahabat atau keluarga―cinta yang merujuk pada kasih sayang.” Mingyu menghela napas sejenak, nampaknya agak lelah karena bicara panjang lebar seperti itu.

            “Baiklah, aku lanjutkan. Diperluas lagi menyeberangi dunia manusia, yaitu hewan dan tumbuhan. Kita memang jelas mencintai mereka, merawat mereka dengan teliti dan memberikan mereka kasih sayang. Tapi mereka? Bisakah dicintai itu terlihat ketika jelas-jelas hanya ada mencintai yang muncul di permukaan?”

            Tepat sekali, ucapan panjang lebar dari Mingyu itu sudah bisa ditebak oleh Wonwoo sejak awal. Mingyu memang lebih mengedepankan logika, berbeda dengan Sunyoung yang lebih senang menggunakan hati dan juga kejadian-kejadian kecil di sekelilingnya―ia adalah pemuda paling romantis yang pernah Wonwoo kenal, dan berguru padanya soal rayuan maut adalah pilihan terbaik dalam hidup.

            “Dalam hidup itu, segalanya ada timbal baliknya, Mingyu.”

            Lagi dan lagi, Mingyu hanya terdiam setelah isi kepalanya ditepis dengan mudahnya oleh Wonwoo. Mingyu jadi penasaran, sebenarnya apa yang Wonwoo ingin sampaikan padanya?

            “Mencintai dan dicintai tak hanya sekadar perihal memiliki pasangan dalam hidup, tapi bagaimana kita bertingkah laku baik dalam menjalani hidup. Demi Tuhan, Kim Mingyu, arti kata mencintai itu luas, dan tak selamanya dicintai balik itu membutuhkan bukti verbal seperti kalimat ‘aku juga mencintaimu’. Bukan seperti itu.”

            Refleks Mingyu mengangguk kecil. Namun bukan berarti serta-merta ia langsung mengerti segala apa yang Wonwoo katakan. Yang ia tangkap dengan jelas hanyalah ternyata tersimpan maksud yang sangat luas dari satu jawaban sederhana Wonwoo di awal.

            “Kurasa kau belum mengerti sepenuhnya.” Wonwoo kembali tertawa kecil, sebelum melanjutkan lagi kalimatnya, “Contohnya ialah ketika kau menanam sebuah pohon dengan kasih sayang sejak dalam bibit. Hingga lama-kelamaan pohon itu tumbuh besar, apa timbal balik yang ia berikan padamu?” tanya Wonwoo, matanya menelisik bulatan jernih milik pemuda di hadapannya.

            “Mungkin, buah? Atau―ah, oksigen?” Mingyu menjentikkan jarinya, matanya berbinar senang.

            “Yap, benar sekali. Seperti yang kukatakan sebelumya, dicintai balik tak selamanya harus dibuktikan melalui verbal semata. Buah yang kita makan dan juga oksigen yang kita hirup setiap hari adalah bukti bahwa pohon pun balik mencintai kita.”

            Ah, nampaknya Mingyu sedikit banyak mulai mengerti apa maksud sebenarnya dari perkataan Wonwoo, terbukti dari senyumnya yang menerawang ke luar jendela yang masih terbuka itu. Dedaunan di pinggir jalan terlihat berguguran dengan indah, mengingatkannya akan masa kecil sepuluh tahun yang lalu.

            Wonwoo menepuk pundak Mingyu, menyalurkan energi positif dalam dirinya. “Hal itu terjadi secara alamiah, Mingyu. Mencintai dan balik dicintai, itulah mengapa hal tersebut menjadi sesuatu yang paling indah dalam hidup. Karena mencintai dan balik dicintai itu murni adanya, tanpa kamuflase yang dijadikan kedok bagi sebuah kepalsuan.”

            “Wah, Hyung daebak! Bahkan Jisoo Hyung yang anak Sastra saja sepertinya tak bisa membuat analisis seperti itu. Ya, kecuali Sunyoung Hyung, ia adalah raja gombal terbaik sepanjang masa.”

            Mingyu mengacungkan kedua ibu jari tanganya, plus kedua jempol kakinya yang tertutupi kaus kaki motif Cone yang Seungcheol berikan padanya saat ulang tahun.

            “Ya, jadi kau menyamakanku dengan Sunyoung?” tanya Wonwoo, matanya membulat tak percaya. “Semua hal yang kukatakan tadi lebih dari sekadar gombalan. Itu semua fakta―ehm, opini yang sangat kuat dalam pikiranku. Jangan sembarangan saja menyamakan.”

            “Hehehe, mian, Hyung.”

            Cengiran khas Mingyu memanglah yang terbaik, selalu membuat para gadis terpesona. Terlebih lagi para tetua Seventeen tak ada yang bisa berkutik jika melihat senyum canine Mingyu, minimal mereka akan tersenyum kecil melihat polah lucu salah satu dongsaeng-nya itu.

            Kali ini hening hanya menemani mereka selama beberapa sekon, sebelum Wonwoo kembali menatap wajah Mingyu yang masih dihiasi cengiran konyolnya. “Ya, bukankah tadi kau bilang sedang merindukan seseorang?” tanya Wonwoo.

            Ah, benar. Bukankah tadi Mingyu memasang wajah galau karena sedang merindukan seseorang? Ini semua karena dirinya terlalu asyik mendengarkan penjelasan Wonwoo pasal hal terindah dalam hidup hingga melupakan kerinduan yang membuatnya tak nyaman sedari tadi.

            “Eum, sebenarnya… Ah, Hyung aku malu!”

            Hah, bahkan Chan yang paling muda saja tak pernah manja seperti itu pada Hyung-nya yang lain. Sepertinya ada sesuatu yang merasuki Mingyu. Cih, hanya di depan fans saja ia sok tampan dan menjadi yang paling berkarisma. Tapi jika sudah di dorm? Rasa-rasanya bayi baru lahir pun kalah dengan polah anak satu itu.

            “Ya, Mingyu―”

            “Aku merindukan Seokmin.”

            God, Wonwoo tertohok sampai ke dalam jantungnya. Jika jantung secara harfiah bisa keluar dari rongganya maka hal itulah yang terjadi pada Wonwoo saat ini. Matanya membulat, dan wajahnya seperti menyiratkan rasa tidak percaya yang sangat.

            “Eum, Mingyu. Kau… masih normal, kan?”

            “Ya! Bukan itu maksudku!”

            Kembali menarik napas lega, Wonwoo mencoba balik fokus dengan apa yang akan Mingyu ucapkan dan melupakan bayangan buruknya tentang Mingyu yang tiba-tiba menjadi salah satu dari geng tidak normal di luar sana.

            “Lalu?”

            Mingyu terdiam sejenak, agak ragu sebenarnya menceritakan hal ini pada Wonwoo. “Aku sebenarnya tak marah padanya, hanya kesal saja selama beberapa jam dan habis itu hilang. Tapi…”

            “Intinya kau ingin minta maaf padanya, begitu?”

            Spontan Mingyu kembali menganggukkan kepalanya dengan semangat, berharap Wonwoo bisa memberinya satu solusi yang bagus agar ia bisa secepatnya mengakhiri perang dingin menyebalkan itu. “Hyung, bantu aku…”

            “Begini ya, Mingyu,” ujar Wonwoo, sebelum ia mendekatkan dirinya pada Mingyu kemudian berbisik, “Aku pernah membaca ini di salah satu situs quotes paling bagus.” Wonwoo mengacungkan jempol kanannya, dengan wajah yang sangat meyakinkan.

            “Sejatinya kala merindu, yang harus kau lakukan hanyalah menemuinya dalam hidup. Jika tak bisa melihat wajahnya, dengarlah suaranya. Jika terhalang mendengar suaranya, rasakanlah kehadirannya. Jika tak mampu merasakan kehadirannya, kirimkan doa yang tulus untuknya.

            Hening, kali ini agak lama dari yang sebelumnya.

            “Hyung, kalimat itu memang bagus, tapi sepertinya tak banyak membantuku.”

            Wajah Mingyu pasrah, membuat Wonwoo tak lagi mampu untuk menahan hasrat tertawanya. Mingyu benar-benar menggemaskan. “Hah, kau masih saja tak bisa menangkap maksudku hanya dalam sekali penjelasan.”

            “So, apa artinya?”

            “Cepatlah minta maaf. Kau tak bisa melihatnya, mendengar suaranya dan bahkan merasakan kehadirannya karena kalian berdua saling menjauhi satu sama lain. So, gantilah opsi doa dalam quotes itu menjadi sebuah permintaan maaf.”

            “Ah, begitu.” Sudah menjadi ciri khas Mingyu jika ia harus menganggukkan kepalanya berkali-kali sebagai tanda mengerti.

            Mingyu bangkit dari ranjang dan menjabat tangan Wonwoo kelewat semangat. “Hyung, thanks for helping me! Aku akan segera minta maaf pada Seokmin. Bye!”

            “Eh, tunggu!”

            Satu langkah lagi Mingyu mendekati pintu, Wonwoo kembali memanggilnya karena penasaran dengan pikirannya satu ini. “Jika kau hanya bingung karena Seokmin, mengapa tadi tiba-tiba kau menanyakan hal terindah dalam hidup padaku?”

            Pemuda dengan tinggi keterlaluan itu nampak berpikir, sebelum cengiran konyol itu lagi-lagi lolos dari bibirnya. “Oh, sebenarnya tadi aku meminta saran dari Sunyoung Hyung, tetapi ia malah menjelaskan hal-hal romansa aneh padaku hingga berujung pada hal terindah dalam hidupnya.”

            Wonwoo menimbang sejenak jawaban Mingyu, sebelum ia kembali mendengar pemuda itu berkata, “Tapi jawaban kalian sama bagus. Aku bangga memiliki Hyung seperti kalian.”

            “Memangnya apa jawabannya―ya, Mingyu!”

            “Cinta dan persahabatan!” teriak Mingyu dari luar kamar.

            Jadi, cinta dan persahabatan, ya? Tidak buruk juga. Karena orang-orang memiliki kriteria hal terindah dalam hidup mereka masing-masing, sah saja jika Sunyoung mengatakan demikian. Karena memang benar adanya, Wonwoo pun merasakan hal yang sama. Grup ini, bukan hanya sekadar kelompok untuk mengeruk emas di ladang bisnis hiburan melainkan sebagai tanah lapang tempat tumbuhnya persahabatan yang indah.

            “Hah, ternyata baik aku maupun Mingyu, orang yang tengah merindu memang lebih melankolis, ya.”

            Wonwoo tertawa kecil, melihat ponsel yang sedari tadi berada dalam saku celananya. Terpampang wajah cantik bak barbie milik Cheonsa sebagai wallpaper-nya. Tak ada orang tahu memang, bahwa berita Cheonsa yang menolaknya adalah sebuah kebohongan besar yang berhasil ia munculkan ke permukaan.

            Yang benar saja, gadis mana yang bisa menolak pesona Jeon Wonwoo begitu saja?

FIN

Iklan

One thought on “[Oneshot] Sejatinya Kala Merindu

  1. Please,ini bagus sekali:’))))
    Sebagus itu sampe aku gaberhenti senyum:’)))
    Mingyunya kayak bener bener butuh siraman rohani/? dari wonwoo gitu ya:’v

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s