[Today’s Forecast] Aku Mencinta

AM

Angelina Triaf ©2016 Present

Aku Mencinta

Hansol Vernon (Seventeen) | Hurt/Comfort | G | Ficlet

0o0

Alam bertanya padaku, mengapa aku mencintainya? Dengan apa aku bisa membahagiakannya? Seperti apa rasa itu tumbuh di dada?

Merunduk dalam pilinan memori, aku menjawab.

Aku mencintainya dengan rindu, seperti air hujan yang merindukan dataran hijau lantas ia jatuh. Seperti keraguan yang dipupus habis oleh derasnya mereka yang rela melebur dalam tanah. Seperti keajaiban, ketika pertama kali aku melihat malaikat itu benar adanya, duduk diam di sebuah taman menerima tangisan langit demi menutupi kesedihannya sendiri.

Ada sebuah keterpanaan, kala dinding kaca membuatku menyaksikannya yang sendiri dalam bimbang. Aku yang hanya bisa melihatnya di kejauhan, menebak kiranya apa yang menjadikan gadis itu direnggut kewarasannya demi pasrah pada mereka yang terus-menerus jatuh. Relung hatiku bicara sesuatu, bisikannya sampai ke telingaku.

“Hei, kurasa kau menyukai hujan. Aku juga suka hujan, maka dari itu aku selalu membawa payung. Oh, omong-omong aku Vernon.”

Selalu saja senyum yang refleks muncul di kedua sudut bibirku. Kalimat bodoh yang pernah kuucapkan padanya, tentang payung dan hujan. Terdengar seperti lelucon anak-anak, memang. Tapi aku suka. Aku suka dengan fakta bahwa hari itu aku membawa dua payung tanpa mengetahui apa alasannya.

Aku suka, karena dengan itu aku bisa berkenalan dengannya. Di bawah derasnya jatuh air yang berubah menjadi rintik syahdu yang menggelitik kalbu.

Benar, karena itulah ia selalu membuatku rindu.

Aku juga mencintainya dengan harapan yang secerah langit biru. Ketika mentari tersenyum menembus waktu. Tak peduli walau sepuluh windu akan berlalu, segala hal di dunia ini hanyalah tentang dirinya dan juga diriku.

Selayak langit cerah yang menyampaikan semangatnya di pagi hari. Terang cahaya kuning yang membias tirai putih selalu menjadikannya tampak menawan seperti seorang bidadari. Ia dengan senyumannya yang cantik, dengan lengkung matanya yang menarik, tak lupa pesonanya yang seolah telah menjadi kesatuan indah sebuah larik.

Nuna, jangan tersenyum. Aku sedang meminum teh buatanmu.”

Lagi dan lagi, aku tak tahu apakah biru langit dan cerahnya hari turut menjadi faktor pendukung. Tapi yang jelas kutahu, bahwa rosela pun akan terasa jauh lebih manis apabila ia yang meraciknya.

Bahwa senyum akan selalu tampak lebih indah lagi bercahaya jika itu berasal dari bibirnya.

Lalu aku mencintainya dengan suatu hal yang lebih hidup. Seperti perasaan dedaunan kala angin menyapanya saat bertemu. Menjalin relasi yang menakjubkan antara mempertahankan diri dalam pucuk belenggu atau termakan semilir yang merayu. Hingga akhirnya ia lebih memilih opsi kedua, terbang bebas tanpa ada batasan asa. Menggapai senyum yang semula hilang.

Iya, aku turut bahagia. Aku melihatnya dengan senyum lepas seperti dewi yang tak lagi kesepian. Janjiku adalah padanya, hanyalah padanya bahwa segalanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Tak perlu takut hawa dingin akan menusuk kulitnya, aku akan selalu ada untuk memeluknya dengan cinta. Juga tak perlu takut angin akan menjatuhkan tubuh mungilnya, aku akan selalu ada dan siaga untuk menangkapnya hingga kembali tersenyum walau itu dirasa memuakkan.

“Kau pasti bisa. Nuna harus semangat!”

Kuncup bunga yang hendak mekar namun terasa sulit. Tak ingin memilih gagal maka ia pergi bersama angin. Benar, seperti itulah dirinya yang pantang menyerah. Sesulit apa pun segala hal berjalan, ia masih akan terus berusaha menjaga dirinya di atas angin yang bertiup. Embusan angin di musim gugur, setidaknya aku beruntung masih diberi kesempatan untuk melihatnya mengembuskan napas malam ini.

Sampai salju turun di kemudian hari, saat aku mencintainya seperti mentari yang rela melepas sekon demi bangkitnya purnama dalam malam. Rasa dingin yang tak wajar, ataukah memang hati ini membeku karenanya?

“Tolong katakan jika kau hanya bercanda.”

Benar, ketika aku melihatnya yang menutup mata untuk selamanya. Ketika aku membenci salju lantas menaruh harap dalam rinduku pada langit cerah dan hujan kala itu.

Jadi, mengapa aku mencintainya?

Karena ia adalah si gadis hujan yang kutemui saat itu.

Dengan apa aku membahagiakannya?

Dengan tiap detik berharga yang telah kuhitung secara sempurna.

Seperti apa rasa itu tumbuh di dada?

Seperti aku saat pertama kali mengenalnya. Kala aku menumbuhkan kasih sayang tanpa syarat. Hingga kini aku mengucapkan perpisahan dengan keikhlasan.

Iya, seperti ketika aku mencinta untuk pertama kalinya.

FIN

Iklan

3 thoughts on “[Today’s Forecast] Aku Mencinta

  1. Kaknjel……..ji terharu masa bacanya T-T Gabisa komen apa-apa lah (eh tapi ini komen..)(abaikan)

    Huhu like this kaknjel x))

    Suka

  2. Njel aku udah pernah bilang kalo aku penggemar Fic-mu apa belom? Aku suka jadi Sidermu loh.. udah apa belom?

    KALO BELOM ITU BATUSAN AKU BILANG YA..LUHAN DOSA AKU APA NJEL, MASA AKU MAO NANGIS BACANYA.. DD PONON SINI SAMA AKU AJA /keingetan Wonu lagi sakit/jadi rada sableng/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s