[Oneshot] Wretched Anniversary

IMG_7434

Angelina Triaf ©2016 Present

Wretched Anniversary

Wen Junhui (Seventeen) & Kim Yui (OC) | Hurt/Comfort | G | Oneshot

0o0

Gadis cantik dengan sebuah apron hijau yang menempel manis di tubuhnya itu kini tengah sibuk berkutat dengan segala peralatan masak dan bahan-bahan makanan super lengkap. Ia memulainya dari awal—mengiris beberapa sayuran dan daging—dalam diam. Mendidihkan air dan memanaskan minyak untuk menumis. Memotong semua sayuran sesuai ukuran yang tepat, tak jarang pula mengukirnya agar terlihat lebih cantik. Sederhana, namun manis.

Dicicipinya sup rumput laut yang baru lima belas menit lalu ia buat. Ah, kurang garam—kira-kira begitulah ekspresinya saat ini. Dengan licah kaki jenjang itu melangkah ke sana-sini untuk mengambil bumbu-bumbu dapur yang dibutuhkan. Tangannya tanpa henti mengaduk, lalu mengiris dan terakhir mencuci peralatan yang sekiranya sudah tidak digunakan. Bukankah calon istri yang baik?

“Hm, Nuna memang calon istri yang baik.”

Tanpa gadis itu sadari, ada seorang pemuda yang tengah asyik memerhatikan gerak-geriknya sambil sesekali tertawa kecil melihat betapa lucunya gadis yang tengah sibuk itu. Nuna yang menggemaskan, begitulah Jun—pemuda itu—selalu menggoda kekasihnya. Nuna cantik bernama Yui yang sudah membuat Jun tergila-gila dan rela mati demi melindunginya. Oke, itu berlebihan. Namun begitulah cinta, membuat siapapun buta karenanya. Ironi kehidupan.

Tak ada tindakan berarti yang Jun lakukan, ia hanya duduk diam sambil menopang dagunya di kedua telapak tangan. Padahal sudah hampir empat puluh menit Yui sibuk dengan kegiatannya, dan selama itu pula Jun masih betah untuk memandangi punggung gadisnya. Baginya, memerhatikan tingkah Yui saja sudah membuat hati Jun terasa hangat. Yui bagaikan mekaran bunga di musim semi untuk Jun. Sungguh chessy, namun Jun bisa apa? Itu adalah kenyataan yang hadir di hadapannya.

Sepertinya Yui sudah hampir menyelesaikan masakannya. Ia mulai menata beberapa makanan yang sudah siap di meja makan. Sup hangat langsung dari panci, satu mangkuk besar kimchi, ayam bumbu madu dan mungkin masih akan bertambah lagi menu yang ada di atas meja itu. Bahkan kini Yui tengah menata selada dan masih akan melanjutkan membuat puding yang kini masih ia didihkan di panci. Gadis itu terlihat sangat teliti menghias setiap detil piring dan makanan yang tersaji. Selesailah semua persiapan makan malam romantis hari ini.

“Wah, Nuna daebak!”

Jun bertepuk tangan sendiri seperti anak kecil sedangkan Yui tersenyum melihat hasil kerjanya. Ia melepas apron hijau yang sedari tadi ia pakai dan mencuci tangannya serta beberapa sisa peralatan yang masih kotor di bak cuci piring. Setelahnya, Yui menuangkan cairan puding cokelat yang sudah mendingin ke dalam cetakan. Perlu diketahui, Jun sangat suka puding cokelat buatan Yui. Puding yang dicetak dengan berbagai bentuk lucu ditambah dengan potongan buah segar di dalamnya. Pasti akan menjadi dessert yang manis dan enak.

“Huh, penampilanku lusuh sekali karena memasak semua ini. Tunggu, aku berganti pakaian dulu!”

“Eh, Nuna tak usah—Nuna!”

Begitulah Yui; selalu ingin terlihat sempurna. Jun hanya bisa geleng kepala. Rasanya ia ingin menangis karena terlalu terharu dengan semua yang Yui lakukan ini. Sudah terlampau dua tahun, dan Yui masih saja selalu merepotkan dirinya seperti ini. Hanya untuk Jun. Benar saja, pemuda itu kini mulai meneteskan air matanya satu demi satu. Yui memang gadis yang terlalu baik.

Atau terlalu bodoh?

“Hm, sepertinya penampilanku terlalu berlebihan.”

Jun kaget. Tahu-tahu Yui sudah duduk di hadapannya—dengan plan dress selutut berwarna peach dan rambut yang diikat satu. Sangat cantik, walaupun kesan tomboy-nya masih melekat. Yui memang bukan gadis yang feminin, tapi ia selalu berusaha menjadi gadis yang manis untuk Jun. Kekuatan cinta memang tak bisa diragukan.

Sementara Jun? Oh, dia kini hanya sedang membulatkan matanya karena terlalu terpesona melihat penampilan Yui. Memang hanya sebuah tampilan sederhana—bahkan Yui sama sekali tak memakai riasan make up apa pun—namun entah mengapa hal itu selalu berhasil membuat Jun merasakan suatu kehangatan tersendiri dalam dirinya. Jun yang sedang terpesona ini sangat lucu seperti seorang anak lima tahun yang sedang melihat mainan kesukaannya di etalase toko. Mata Jun berbinar. Intinya, Yui sangat cantik hari ini.

Hening, tak ada dari mereka yang membuka suara lebih dahulu. Yui hanya memandangi makanan yang tersaji itu dengan tatapan kosong sedangkan Jun masih menetapkan titik fokus pandangannya pada Yui. Hanya ada embusan angin dari luar jendela yang menemani kesunyian mereka. Terlalu hening, Yui bahkan dengan tiba-tiba meneteskan sebutir air matanya. Jun kaget melihat hal itu. Nuna kesayangannya itu manangis sambil menundukkan kepalanya.

“Jun… Siapa yang aku bodohi hari ini? Siapa?”

Satu tetes, kini semakin bertambah banyak tetes air mata yang keluar dari mata indah milik Yui. Jun hanya mampu memandang nanar gadis di hadapannya. Memang sulit bagi mereka―sangat sulit. Namun Jun tak menyangka jika Yui bisa melaluinya dengan sangat baik bahkan sampai hari ini. Tetap saja, perih itu akan selalu menghantui mereka—terutama bagi Yui. Namun kini Yui telah berhasil menegakkan tubuhnya kembali, menatap hidangan buatannya dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat Jun terpesona.

“Baiklah, sekarang sudah waktunya makan. Jun, ini semua untukmu. Selamat makan!”

Sungguh pintar Yui menyembunyikan tangisnya. Menyembunyikan rasa sakit di hatinya. Ia kini memulai makannya dalam diam, mengambil satu per satu makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sesekali ia tersenyum kala menyadari jika masakan buatannya cukup enak dan layak makan. Sementara Jun hanya diam sambil memerhatikan Yui. Jun benar-benar sangat tersentuh. Ia hanya diam, tak lupa juga sesekali air matanya turun ke pipinya. Nuna satu ini terlalu baik, dan Jun selalu bersyukur atas itu.

“Oh, aku lupa kuenya. Apa jadinya perayaan anniversary tanpa sebuah kue? Tunggu sebentar, ya.”

Yui bangkit dari duduknya—meninggalkan makanannya sejenak—dan mengambil sebuah kue tiramisu ukuran loyang besar dari lemari pendingin. Tak lupa juga ia mengambil lilin-lilin kecil dan korek pemantik di dalam laci. Yui membawa kue itu lalu meletakkannya di tengah meja. Dengan senyum tipis, Yui menancapkan tiga lilin di atas kue itu dan menyalakan ketiganya. Lampu ruang makan ini ia redupkan, dan yang terlihat hanyalah wajah Yui yang tengah menatap sendu kue anniversary-nya.

“Aku tahu aku bodoh. Jun sangat menyayangiku namun aku selalu saja menganggapnya pemuda kekanakan yang menyebalkan. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku sangat mencintainya. Jun, maafkan aku yang selalu bertingkah egois…”

Jun hanya mampu terdiam sambil terus memandangi Yui dengan matanya yang berkaca-kaca. Yui menghentikan ucapannya sebentar untuk menghapus air matanya yang keluar cukup banyak. Ini terlalu mengharukan. Menyedihkan. Andai saja Jun bisa menghapus air mata itu dan menggantinya dengan senyuman. Andai saja.

“Dan aku sangat menyesal, Jun. Andai saja aku tidak marah padamu waktu itu dan tidak kabur menuju jalan raya, mungkin semua ini tak akan terjadi. Jun, aku minta maaf… Maafkan aku…”

Inilah akhir dari pertahanan Yui. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di kursi dan menangis sejadinya dengan kepala yang tertelungkup di meja. Yui benar-benar menangis, terus mengelu-elukan nama Jun dan berulang kali mengucap kata maaf. Sungguh, melihat Yui yang seperti itu membuat hati Jun sangat sakit. Sebuah kebodohan yang berakhir dengan tragis seperti sekarang ini. Namun menangis pun untuk apa? Percuma, karena dengan menangis tak akan bisa membuat Jun hidup ke dunia lagi. Tak akan bisa.

Semua ini berawal dari pertengkaran Yui dan Jun pada suatu hari di bulan Desember yang dingin. Yui yang frustasi kala itu membuat Jun ingin selalu menemaninya. Yui divonis dokter menderita suatu penyakit jantung. Hidupnya mungkin hanya sampai beberapa tahun lagi. Tak lama, dan itu membuat Yui sangat frustasi juga sedih. Jun tak tega dan akhirnya berusaha menghibur Yui dengan membawanya ke kafe favorit mereka. Namun memang mungkin suasana hati Yui yang sedang buruk kala itu. Ia tak suka jika Jun terlalu mengkhawatirkannya dan menganggapnya sebagai gadis lemah.

“Sudahlah, Jun. Aku bisa sendiri!”

“Tapi, Nuna—hei! Nuna mau kemana?!”

“Aku membencimu!”

“Yui Nuna!

BRUK!

“Jun!”

Yui pergi meninggalkan Jun yang terus memanggil namanya. Yui hanya kesal, Jun terlalu mengkhawatirkannya. Yui bisa melakukan semuanya sendiri dan Jun terlalu berlebihan. Namun semua itu semata-mata karena Jun sangat menyayangi Yui, itu saja. Hingga semuanya terjadi. Jun mendorong tubuh Yui yang hampir saja tertabrak truk yang oleng di pertigaan lampu merah seberang kafe. Lutut Yui berdarah karena jatuh di trotoar, dan tubuh Jun terpental beberapa meter karena tertabrak truk.

Namun Tuhan masih sedikit berbaik hati kala itu. Jun masih hidup, ia koma selama beberapa hari. Selama itu pula Yui tak mau meninggalkan Jun sama sekali. Yui membawa perlengkapannya untuk menemani Jun. Ia menginap berturut-turut di rumah sakit demi berharap bisa melihat Jun membuka matanya lagi.

Tapi naas. Hanya delapan hari, dan Jun pergi―meninggalkan Yui selamanya. Yui menangis sejadinya kala itu. Ia tak pernah benar-benar memaafkan dirinya sendiri. Ia sadar, ia terlalu egois. Jun sangat mencintainya dan Yui malah bersikap tak tahu diri seperti itu. Ia sangat menyesal. Sangat. Apalagi saat ia membaca jurnal harian Jun. Halaman terakhir, satu hari sebelum kecelakaan itu terjadi.

~~~

Desember 3

Yui Nuna sangat cantik hari ini. Ia menghampiriku di gedung fakultasku demi mengantarkan tugasku yang tertinggal. Jika ia tak datang mungkin aku akan dihukum dan diberi nilai F. Nuna, terima kasih.

~~~

Desember 8

Ada apa dengan hari ini? Yui Nuna sangat manja padaku. Tak biasanya ia seperti ini. Tapi baguslah, akhirnya sisi femininnya bisa keluar. Biasanya ia sangat galak seperti singa betina yang baru bangun tidur, hehe. Nuna, tetaplah jadi gadis manis seperti sekarang. Saranghanda.

~~~

Desember 11

Tuhan, apa salah Yui Nuna padamu? Ataukah Kau terlalu sayang padanya sehingga memberikan cobaan seperti itu? Aku sangat sedih melihat Yui Nuna yang hanya mampu menangis di ranjangnya seperti itu. Aku bisa apa? Hanya memeluknya sampai ia tenang dan akhirnya tertidur. Hanya itu. Kuharap aku bisa melakukan sesuatu yang lebih untuknya.

~~~

Desember 12

Firasatku hari ini kenapa tak enak, ya? Padahal langit sangat cerah hari ini. Yui Nuna masih mengurung dirinya di kamar. Bahkan ia hanya diam saat aku datang ke rumahnya. Ia sudah tak mempunyai semangat hidup. Seandainya saja ada yang bisa aku lakukan… Hm, mungkinkah? Mungkinkah jika aku memberikan jantungku padanya? Tuhan, apakah aku bisa seperti itu? Ah, besok aku akan mengajak Nuna jalan-jalan!

~~~

Yui masih menangis, dan Jun semakin tak tega melihatnya. Tangisnya terdengar sangat pilu. Sama seperti tahun lalu, Yui yang menangis saat merayakan anniversary kedua’ mereka sendirian. Jun hanyalah arwah penasaran yang masih belum bisa pergi ke tempat yang seharusnya karena masih ada orang yang belum bisa mengikhlaskan kepergiannya. Yui, gadis itu masih bersikap seolah Jun masih hidup, dan itu mempersulit Jun untuk benar-benar pergi.

“Tuhan, izinkan aku sekali ini saja bicara dengannya,” pinta Jun tulus dalam hati.

Akhirnya Jun memutuskan untuk menghampiri Yui. Ajaibnya, ia bisa menyentuh Yui—memeluk gadis itu dari belakang. Yui tersentak kaget. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati harum tubuh Jun menyapanya. Masih seperti yang dulu, pelukan hangat yang selalu membuat Yui nyaman.

“Jun… I-ini benar Jun?”

“Iya, Nuna. Terima kasih atas semuanya. Untuk makan malam dan kuenya. Terima kasih.”

Yui kembali menangis. Ini pasti mimpi. Ia tak ingin bangun, ia ingin terus bisa melihat Jun lagi. Tak peduli dengan sisa umurnya yang tinggal sedikit. Ia benci kenyataan jika jantung Jun kini ada di dalam tubuhnya. Ia tak butuh jantung ini, ia hanya butuh Jun untuk menemani sisa hidupnya. Lebih baik Yui mati muda daripada hidup lebih lama namun harus kehilangan Jun-nya. Yui tak mau seperti ini.

“Jun, ambil lagi jantung ini, aku tak mau! A-aku hanya butuh kau. Aku—“

“Ssstt… Nuna, tak baik bicara seperti itu. Mulai sekarang Nuna tak boleh seperti ini lagi. Ikhlaskan aku, mulailah hidup dengan baik. Cari orang lain yang bisa membahagiakanmu. Aku harus pergi, Nuna. Tolong ikhlaskan aku…”

Rasa sayang, cinta dan keikhlasan tumbuh dengan sendirinya. Yui sadar, ia yang seperti ini pasti menghambat kepergian Jun. Jun pasti tak tenang. Karena secara tak langsung, Yui masih bisa merasakan kehadiran Jun di sekitarnya. Yui hanya terlalu egois untuk tak mau mengikhlaskan Jun pergi.

Yui menarik napasnya sekali. Ia berdoa pada Tuhan, doa yang sangat tulus.

“Tuhan, aku mengikhlaskan Jun. Biarkan ia pergi dengan tenang.”

Jun tersenyum. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Yui. Perlahan, Jun memudar dengan sendirinya. Yui berusaha menahan tangisnya. Sebentar lagi Jun akan benar-benar pergi meninggalkannya.

“Yui, terima kasih. Love you…”

Cup~

“Sama-sama, Jun. Love you, too.”

Yui memegang pipi kanannya. Ia kembali menangis. Memang rasanya sangat sulit. Sangat. Namun Yui terlalu mencintai Jun dan tak ingin mempersulit Jun. Yui tak boleh egois lagi, dan Yui berjanji akan selalu menjaga jantung Jun dengan baik, juga menyimpan segala kenangannya bersama Jun selama satu tahun mereka bersama. Walaupun nantinya akan ada orang lain yang mengisi hatinya, namun kenangannya bersama Jun akan selalu berada di tempat yang spesial dalam hatinya. Yui janji.

“Huh, aku lupa meniup lilinnya. Aku janji ini terakhir kalinya aku merayakan anniversary kami. Jun, happy third anniversary. Semoga kau tenang di sana.”

Lilin itu mati, membuat suasana menjadi hening dan gelap. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan, dan dua tahun sudah Yui membuat Jun tak tenang di dunia. Di tahun ketiga ini, Yui sudah berhasil mengikhlaskan Jun. Jun sudah tenang di sana, dan Yui akan selalu mengingat pesan terakhir Jun. Hidup dengan baik, dan mencari pendamping hidup yang bisa mengerti dan menyayangi Yui seperti yang Jun lakukan. Malam ini Yui akan tidur dengan nyenyak dan memulai hari barunya esok. Semoga Tuhan selalu memberinya kesehatan dan bisa menjaga jantung Jun sebaik mungkin. Semoga.

FIN

Iklan

One thought on “[Oneshot] Wretched Anniversary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s