[Vignette] Don’t Forget Me

sc

Angelina Triaf ©2016 Present

Don’t Forget Me 

Choi Seungcheol/S.Coups (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Hurt/Comfort | T | Vignette

Menjauh bukan berarti tak cinta. Menjauh berarti kau berkelana mencari jati diri lalu setelahnya pulang bersama dengan keyakinan dan kepastian hati. Bahwa hatimu benar-benar merindukan rumahnya; tempat seharusnya ia berada.

0o0

Kala itu Cheonsa memang sengaja datang terlambat ke sekolah. Gadis yang terkenal akan kepintaran dan parasnya yang menawan itu seakan menjadi patung batu tak berdaya hanya karena seorang yang sangat disukainya. Senior kelas tiga itu benar-benar membuat Cheonsa tak berkutik saat memandang tiap gerak-geriknya. Memesona, tampan dan manis di saat yang bersamaan. Cheonsa jatuh cinta sejak pandangan pertama, dan hal itu membuatnya tak bisa lagi berpikir mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk dilakukan.

Cheonsa bukanlah seorang gadis nakal yang akan dengan gamblangnya menggoda laki-laki ataupun sejenisnya. Tapi Cheonsa bisa saja melakukan hal itu dikala terlalu terpesona dengan tatapan tajam yang menusuk hati terdalamnya. Mata itu, seniornya satu itu telah membuatnya jatuh dalam lubang cinta yang berduri. Sangat, dan itu terlalu sesak untuk ia jalani. Hidupnya terlalu kejam dan palsu hanya untuk sekadar ditapakinya sendiri. Butuh teman; teman untuk hatinya yang kini dilanda asmara menyakitkan. Menyesakkan. Sehebat itukah sihir cintanya sehingga membuat Cheonsa buta untuk sementara waktu?

Sudah lumrah jika semua murid yang terlambat mendapatkan hukuman menyenangkan di pagi hari. Cheonsa kini sedang menyapu lapangan sepak bola yang sangat luas. Juga, sepertinya hari ini memang hari keberuntungannya. Bukan, bukan karena ia senang diberi hukuman menyapu lapangan yang melelahkan ini. Namun karena Cheonsa kini hanya berdua dengan seniornya itu di lapangan, menapakkan kaki di tanah yang sama dengan jarak yang tak terlalu jauh untuk ditenggelami. Takdir berjalan sangat baik. Hanya mereka berdua yang telat hari ini. Bagaimana bisa? Tanyakanlah hal itu pada Tuhan.

Sesekali gadis manis dengan rambut bergelombang itu melirik ke arah senior pujaannya—Choi Seungcheol, murid kelas 3-A. Ia adalah anak dengan otak jenius yang mungkin sampai saat ini tak ada tandingannya di sekolah. Walaupun sempurna seperti itu, Seungcheol tetap memiliki sisi berontak dalam dirinya; tak suka diatur dan benci menaati peraturan.

Setiap minggu ia selalu terlambat, entah itu dua kali atau tiga kali. Para guru tak bisa berbuat apa pun padanya. Ia jenius, lalu mau apa? Tak mungkin Dewan Siswa menghukum anak pintar seperti dia. Hari ini pun sekolah mendapatkan satu kabar mengejutkan. Cheonsa sang dewi berparas manis itu terlambat, dan dengan senang hati menerima hukuman yang cukup berat kali ini. Otaknya mungkin sudah bergeser dari tempatnya yang seharusnya.

Hey, kau! Kerjakanlah dengan benar.”

Seungcheol menatapnya dingin, dan Cheonsa kaget seketika. Sial, ia ketahuan memerhatikan sosok tinggi berambut hitam itu. Buru-buru Cheonsa kembali menyapu dalam diam. Suaranya itu bagai dewa kematian yang siap menebas kepalanya. Mencintai seseorang yang mungkin akan membencimu? Sepertinya hal itu tidak terlalu buruk bagi Cheonsa. Selamat datang dalam ruang cinta menyakitkan, Park Cheonsa.

0o0

Sudah tiga kali Cheonsa menelatkan dirinya seperti ini. Juga—hey, apa ada yang aneh dengan mekanisme takdir? Cheonsa selalu menjalani hukuman hanya berdua dengan Seungcheol, dan ini sudah yang ketiga kalinya mereka bersama. Partner in crime, ya sejenis itulah jika kau mau mengibaratkannya. Cheonsa bahkan tak memedulikan nasihat menusuk wali kelasnya. Yang ia pedulikan hanya hatinya. Cintanya yang mungkin tak dapat terbalaskan dengan instan. Cheonsa yakin, hanya masalah waktu sampai senior tercintanya itu benar-benar menginginkannya. Cheonsa terlanjur cinta, ia bisa apa? Mengemis cinta seperti ini hanyalah salah satu cara untuk berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kali ini perpustakaan sepertinya tidak terlalu buruk untuk dijadikan tempat hukuman bagi mereka berdua. Seungcheol terlihat masih sibuk merapikan buku-buku sesuai dengan urutannya dan Cheonsa yang kini tengah berkutat dengan katalog buku-buku Fisika. Membosankan, namun mau bagaimana lagi? Tak ada hasil jika kau tak berusaha. Kini Cheonsa tengah menjalani usahanya dengan caranya sendiri. Menyiksa diri―sebenarnya sangat tidak baik. Cheonsa, bisakah hentikan semua itu?

“Kya!”

Bruk!

Matanya masih terpejam. Tangannya dicengkram cukup kuat, dan Cheonsa sangat benci keadaan seperti ini. Napasnya memburu tak teratur, tapi masih cukup dibilang setara dengan batas kewajaran. Kini ia tahu jika dirinya sedang berada di posisi yang tidak aman. Ia terlalu takut hanya untuk sekadar membuka matanya, hanya untuk melihat bagaimana wajah memesona yang selalu ia amati itu berubah menjadi tatapan yang semakin tajam dan semakin menusuk sampai hatinya yang terdalam. Cheonsa hanyalah seorang gadis penakut yang terlalu berani mengambil rsiko.

“Bukalah matamu. Bukankah kau selalu ingin melihat wajahku? Lalu sekarang apa?”

Hanya terlalu takut. Oh, itu bukanlah alasan yang tepat. Mata hijaunya tenggelam dalam tatapan hazel yang tajam itu. Bibirnya tak bisa berucap apa pun. Terlalu gugup―senang. Ia takut. Semuanya menjadi satu dalam tiap tarikan napasnya, dan berakhir dengan ketakutan yang semakin memuncak di tiap embusannya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Bukankah ini yang Cheonsa inginkan? Berada di dekat senior yang ia cintai―mungkin menjadi miliknya. Kurang apa lagi? Cheonsa terlalu pengecut untuk menyadari kenyataan di hadapannya.

PLAK!

Sunbae…

Cheonsa menatap tangannya sendiri dengan takut. Matanya membulat sempurna. Kenapa? Ciuman itu adalah sesuatu yang selalu Cheonsa bayangkan akan terjadi. Namun ini apa? Kenapa tangannya bereaksi tanpa kendali? Kenapa… ia menampar orang yang sangat ia cintai?

“Kau aneh, Cheonsa. Baiklah, ini yang terakhir dariku. Sampai jumpa.”

Bahkan tangan Cheonsa yang ditepis pemuda itu terasa sangat menyayat di hatinya. Ia pergi, meninggalkan punggungnya yang juga berlalu seiring langkah kaki yang bergema di telinga. Cheonsa, kau kenapa? Apa yang salah dengan hatimu? Obsesi, yakinkah hanya itu? Tidak! Cheonsa terlambat untuk merasakan sesal. Hatinya sakit. Sangat.

“Choi Seungcheol…”

0o0

Cheonsa menelusuri jalan setapak dalam diam. Keheningan menemaninya tanpa henti. Bersahabat dengan embusan angin, melihat daun jatuh dan menari terbawa angin. Menyenangkan, namun sayu matanya berkata bahwa ia tidak baik-baik saja. Sudah empat tahun, mengapa masih sesakit ini?

Seungcheol lulus tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Hanya untuk sekadar menatap Cheonsa pun ia enggan. Sakit, Cheonsa mati rasa seiring hatinya yang tercabik perih. Hanya berjalan-jalan seperti orang kehilangan arah seperti ini. Tanpa mantel musim gugur yang memeluknya dengan hangat―ia tak butuh mantel untuk menghangatkannya, ia hanya butuh cinta. Ia butuh senior di masa lalu yang sangat ia cintai sampai sekarang. Cintanya tak pernah hilang, dan suatu kesalahan karena hatinya terus berontak ingin bertemu dengan kepingannya yang lain.

Grep!

“Biarkan cintaku menghangatkanmu. Cheonsa, aku kembali.”

Gadis bermata hijau itu terdiam. Ini… mimpi? Apakah hanya mimpi? Sebuah kehangatan menjalar dari punggungnya. Pelukan manis ini, apakah benar? Ini kenyataan?

“Terima kasih karena tak pernah melupakanku. Aku pulang. Hatiku merindukan rumahnya.”

Seungcheol membalik tubuh Cheonsa agar menghadapnya. Berbeda dengan tatapan tajamnya bertahun lalu. Manis, tatapan lembut yang hanya ditujukan untuk kepingan hatinya yang selama ini Seungcheol rindukan. Menjauh bukan berarti tak cinta. Menjauh berarti kau berkelana mencari jati diri lalu setelahnya pulang bersama dengan keyakinan dan kepastian hati. Bahwa hatimu benar-benar merindukan rumahnya, tempat seharusnya ia berada.

“Park Cheonsa, menikahlah denganku.”

Menangis, Cheonsa hanya bisa meneteskan tiap butir air matanya. Berada dalam pelukan orang yang sangat dicintainya. Keegoisan tak akan membawa apa pun padamu. Ikhlaskan sesuatu dan yakinlah bahwa keikhlasan itu akan membawamu pada jalan yang benar, jalan yang akan selalu menuntun hatimu dengan cahaya kepastian

Seungcheol kini telah menemukan jalannya untuk pulang. Cheonsa akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Hanya seorang gadis manis berambut pirang dengan senyum manisnya itu. Di bawah ranggasan dedaunan yang kecokelatan, dirayakan oleh embusan angin yang manis. Cinta mereka bertemu di titik awal perjuangannya.

FIN

Iklan

2 thoughts on “[Vignette] Don’t Forget Me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s