[Ficlet] Fly a Letter to the Wind

hcn

Angelina Triaf ©2016 Present

Fly a Letter to the Wind

Kwon Sunyoung/Hoshi (Seventeen) with OC | Hurt/Comfort | G | Ficlet

0o0

Di kala mentari menerawang angkasa luas dengan cahayanya yang hangat dan indah, aku melihat senyum seorang pemuda yang merekah seiring tarian angin sejuk di wajahku. Melihatnya bahagia seperti itu membuatku ingin tersenyum untuknya, ikut merasakan apa yang ia rasa. Merasuki jiwanya perlahan dengan sempurna sampai akhirnya melekat dengan kuat. Oh tidak, ia berhasil mencuri perhatianku. Aku tak dapat berpaling darinya.

Waktu pun berjalan sesuai kehendaknya yang mutlak. Aku melihatnya yang tengah serius memikirkan hal-hal hebat dalam khayalannya. Bagaimana masa depan nanti dan perencanaan apa yang harus ia lakukan untuk menjadi lebih baik. Aku menyukai wajah seriusnya yang terlihat memesona, menyihirku untuk selalu menatapnya―hanya dia dan seolah tak ada siapapun yang dapat terjangkau oleh pandanganku. Sebelum aku berhasil memasuki jiwanya dengan sempurna, ternyata ia telah lebih dahulu berhasil merasuki jiwaku, bahkan menguasainya.

Lalu ketika kami saling menyapa lewat panggilan-panggilan lucu yang tanpa sadar membuatku tersenyum semalaman. Dia dengan senyum manisnya yang entah sejak kapan aku tak pernah bosan memandangnya. Melihatnya tersenyum merupakan suatu anugerah yang patut aku syukuri. Terima kasih Tuhan, karena Kau mempertemukan aku dengan dia. Terima kasih.

Candaan yang manis, caranya menatapku dengan matanya yang selalu menyipit kecil kala tersenyum sembari mengucapkan namaku. Aku selalu suka hal itu. Sabit indah pemberian Tuhan yang terlukis di wajahnya. Aku sangat menyukainya. Sangat. Akankah aku benar-benar dapat melihat keindahan itu selamanya? Melihat hanya padanya?

Ada pula saatnya ketika kami bertukar pikiran. Bagaimana ia mengungkapkan isi kepalanya yang penuh dengan hal rasional namun terdengar konyol bagiku. Aku yang terus mengungkapkan apa yang ada di pikiranku membuat ia termenung memikirkan segalanya. Apakah yang ia lakukan selama ini benar? Mungkin itu yang ia pikirkan. Namun ia memanglah pemuda manis yang konyol, dan aku sangat menyukainya. Bahkan gambar seorang gadis berhasil ia abadikan dalam sebuah persegi dengan lambang apel di belakangnya. Sangat lucu dan manis. Aku hanya bisa tertawa melihatnya yang seperti itu. Aku. Gadis dalam persegi itu adalah aku.

Matahari yang hendak kembali ke peraduannya menjadi saksi saat di mana ia dengan serius membersihkan debu-debu liar di ruangan kami. Aku yang tanpa sadar tersenyum sendiri melihat ia yang bahkan terlihat jengah dengan pekerjaannya itu. Kemoceng yang dengan cantik aku daratkan di wajahnya sampai ia terbatuk hebat, namun aku justru menertawakannya dan ia hanya tersenyum seperti biasa. Indah, tak pernah kualami sore hari seindah saat itu. Tuhan, apakah Kau punya alat pengulang waktu? Aku ingin bisa mengulang keindahan itu untuk jangka waktu yang lama. Bersamanya. Ya, hanya dia.

Kupikir Tuhan tak pernah memberikan kebaikan lebih dari satu kali. Aku tengah berjalan pulang dengan temanku sampai aku melihatnya berdiri dan melihatku dengan tatapan konyolnya seperti biasa. Entah sejak kapan, kami berjalan beriringan sembari membicarakan hal-hal konyol khas obrolan yang sering kami ucapkan. Bahkan kawan-kawannya yang berjalan di depan kami dan teman-temanku yang tertinggal di belakangku seolah tak dapat kurasakan kehadirannya. Dunia serasa milik berdua, itulah yang kurasa. Tuhan, apakah ia merasakan hal yang sama dengan yang kurasa?

Satu lagi hari yang indah sepanjang hidupku setelah hari di mana aku dilahirkan. Aku tak akan melupakan hari itu. Senyumnya yang manis, kata-katanya yang lucu. Oh Tuhan, mengapa Kau membuatku merasakan perasaan aneh ini padanya? Aku takut tersakiti oleh sesak hatiku sendiri. Lindungi aku dari hal terburuk, Tuhan. Bahwa ia tak merasakan apa yang aku rasa. Bahwa perasaan ini hanya berjalan seorang diri tanpa ditemani oleh hatinya yang juga memanggil namaku. Kumohon jangan ada kesakitan lagi…

Karena perasaan ini seperti surat yang kuterbangkan di langit. Aku tak tahu siapa yang akan menerima surat itu. Aku menuliskan namanya di sana, namun bisa saja bukan ia yang menerima secarik kertas penuh cinta itu. Aku hanya bisa membisikkan harapanku pada angin yang akan mengantarkannya. Menerbangkan sebuah surat di langit luas. Aku tak berharap banyak, namun aku juga tidak munafik bahwa aku menginginkannya merasakan hal yang sama aku rasakan. Bisakah? Akankan rasa ini terbalaskan bersamaan dengan kelopak mawar yang terbang seiring dengan kembalinya surat itu padaku?

Bisakah, Kwon Sunyoung?

FIN

Iklan

2 thoughts on “[Ficlet] Fly a Letter to the Wind

  1. Huhu sedih T.T ini mah ceritanya pecinta diam-diam banget X”D HAA terus ternyata yang nerima surat ini si Hoshi, atau temannya Hoshi, atau ditemuin orang lain terus ditempel di papan pengumuman /apasih /plak XD

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s