[Ficlet] Even an Angel

z09

Angelina Triaf ©2016 Present

Even an Angel

Yoon Jeonghan (Seventeen) & Lee Mary (OC) | Myth, Hurt | G | Ficlet

Even an angel accidentally does some sins to live.

0o0

Kalau hendaknya manusia bisa berpikir lebih jernih lagi, maka tentunya mereka akan dapat membedakan mana sebuah senyuman yang tulus dan mana yang sebaliknya. Tetapi mungkin alam ingin bersenang-senang dengan menjadikan apa-apa hal dalam diri manusia menjadi misteri bagi yang lainnya.

Salah satunya adalah ketika paras rupawan dapat dengan mudahnya menjadi tameng bagi sebuah perbuatan. Kasus yang besar pun tak jadi masalah dan ditinggalkan begitu saja oleh khalayak. Semua ini hanya karena satu kata baik-baik saja, padahal sebenarnya nol besar.

“Lain kali kau harus lebih hati-hati.”

Gadis itu adalah Mary, hanya mampu berbaring di ranjang rumah sakit selama seminggu belakangan ini. Bukan hal yang lumrah, mengingat bagaimana bisa sebuah kursi kayu tiba-tiba saja jatuh menimpanya dari lantai tiga gedung universitas. Tak ada orang di sana, koridor terlampau lengang saat itu.

“Ini takdir, setidaknya kurasa demikian. Bayangkan saja bagaimana bisa sebuah kursi jatuh begitu saja dan menimpaku.”

“Karena itu kubilang agar kau harus lebih hati-hati.”

Yang Mary tahu hanyalah tangan hangat Jeonghan yang selalu mengenggamnya erat beberapa hari ini. Tak banyak yang Jeonghan katakan, mungkin karena Mary juga tak banyak bercerita. Entah karena syok atau bagaimana, tapi melihat dari wajah cantiknya yang masih bisa menunjukkan senyum manis pada Jeonghan, sepertinya bukan perihal syok yang membuatnya terdiam.

“Kau masih memikirkan sesuatu.” Jeonghan sebenarnya tak berniat melontarkan pertanyaan, melainkan hanya sebuah ungkapan atas pendapatnya saja.

Tapi sepertinya hari ini Mary sedang dalam mood yang cukup baik untuk menerima perkataan itu. “Iya, ada sesuatu yang memang kupikirkan tentang kejadian itu.”

Pandangan mata yang lebih intens, Jeonghan merasakan bahwa Mary ingin mengatakan sesuatu yang berkaitan dengannya. Ia bukan jenis pemuda yang bisa membaca pikiran seseorang, namun menduga atas sesuatu tentunya bisa dilakukan oleh siapapun di dunia ini.

“Aku melihatmu, hari itu.”

Ekspresi Mary datar, begitu pula dengan Jeonghan. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing, saling menunggu respons sampai akhirnya Jeonghan mengalah dengan menghela napas cukup berat.

“Di mana?”

Kini Mary yang mengubah air mukanya, melepaskan genggaman tangan Jeonghan pada jemarinya. “Menurutmu di mana?”

“Kau tidak berpikir yang macam-macam, ‘kan?”

“Memangnya aku harus memikirkan apa?”

Merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam hati memang sangat menyebalkan. Mary tahu bahwa apa pun yang akan ia katakan setelah ini berpotensi membuat ikatan yang telah terjalin di anatara mereka bisa saja hilang tanpa bekas dalam hitungan detik.

Tetapi ia memang harus mengatakan hal ini, atau jika tidak ia bisa mati diliputi rasa penasaran nantinya. “Kau ini siapa, Jung? Kau itu apa?”

Sesaat, hanya sekilas Mary melihat sorot mata Jeonghan berubah. Pemuda itu terkejut, namun dengan cepat bisa kembali menetralkan ekspresinya. Tapi Mary tak perlu menjadi jenius untuk tahu akan semua itu. Mary bisa merasakan sesuatu, suatu hal yang cukup buruk berada di dekatnya.

“Kau terlalu banyak membaca dongeng anak kecil, Mary.”

“Dan apakah itu salahku jika aku lebih memercayai buku dongeng ketimbang perkataanmu?”

Ya, Jeonghan tahu cepat atau lambat Mary akan mengetahui hal ini. Semuanya pasti memiliki akhir, dan tak biasanya Jeonghan harus menghadapi akhir yang seperti ini.

Bagaimana bisa ia lalai dengan tugasnya hanya karena seorang Lee Mary dengan senyum manisnya?

“Baiklah,” ucap Jeonghan, berusaha tersenyum walau dirasanya pahit untuk kali ini. “Aku datang untuk menjemputmu. Untuk pulang.”

Satu cahaya menyilaukan itu membuat Mary tersadar, kalau masih banyak hal di dunia ini yang belum sempat ia pelajari. Bagaimana bisa hal semacam ini terjadi dalam hidupnya, menyaksikan orang yang ia sayangi selama beberapa bulan ini ternyata hanyalah tipu muslihat dari sebuah akhir yang menyedihkan?

“Kenapa, Jung?”

Bukan maunya jika air mata itu menganak sungai di kedua pipinya. Mary hanya takut. Hal terburuk dari segala ketakutannya adalah bukannya tentang menghadapi kematian. Ia tidak takut melihat siapa Jeonghan sebenarnya, tak pula takut dengan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya atas kepergiannya nanti.

“Kenapa tak langsung saja ambil nyawaku? Kenapa kau harus hadir dalam hidupku, mengukir kenangan bersamaku, membuatku tersenyum. Kenapa kau sejahat itu?”

“Ini akan sedikit sakit, Mary. Jadi tenanglah.”

“Kenapa kau sejahat itu?”

“Tenanglah, Mary.”

“Kenapa …”

Even an angel does a mistake, makes you fall in love and literally fall until your body bleeding with those all suffering and pain. Even an angel accidentally does some sins to live, makes beautiful memories, falls in love with a human and doesn’t know how to stop the feeling.

FIN

  • Thanks for Maippo for the OC, Lee Mary ❤
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s