[Series] I Wish: Her Secrets

gfsv

Angelina Triaf ©2017 Present

I Wish: Her Secrets

.

HoshiJunMingyuSeokminSeungcheolVernon

YunaYerinUmjiSowonShinbiEunha

.

Drama, Fluff, Hurt/Comfort | PG | Series

Please tell me why this girl had a lot of secrets ….

0o0

Diam selalu menjadi senjatanya, tak peduli lagi diriku pada segala benda bergerak di sekitar kami. Hanya tentang kedua bola mataku yang terus sibuk memandanginya, mencoba mencari celah siapa tahu ia akan segera mengutarakan gerangan apa yang mengganggu di dalam kepala.

Kepalang menunggu lama, dan terus menunggu lebih lama lagi. Kepulan asap di atas teh kesukaanya tergantikan oleh eksistensi asap yang lain―awal Januari memang selalu seperti ini.

Kebingungan berputar dalam benakku. Entah siapa yang harus disalahkan atas semua ini, Tuhan kah yang telah menciptakan wanita dengan komposisi yang fatal, atau memang nyatanya demikian? Bodoh, itu bukanlah sebuah pilihan.

“Jadi, ada apa?”

Yuna masih terdiam, memilih melempar tatapan padaku sebentar, memakunya selama beberapa sekon. Sinar di sana redup, membuatku otomatis membandingkan dengan saat ia yang tersenyum manis dan memancarkan kebahagiaan seperti penyakit menular. Lucu, memang.

Tetapi menatap saja tak bisa membuatku kenyang dengan semua spekulasi dalam otak, justru aku muak dibuatnya. Demi Tuhan, haruskah wanita menjadi serumit ini? Salah satu pikiran konyol yang selalu terlintas ketika aku melamun adalah, sepertinya mencari jarum dari tumpukan jerami seribu kali lebih mudah daripada memahami makhluk hidup bernama wanita.

Mari coba bedakan mana kalimat fakta dan mana kalimat hiperbolis. Serius.

“Kau tahu ‘kan jika aku bukan orang sakti apalagi cenayang?”

“Aku tahu, Seokmin.”

Jujur, aku tak suka melihat wajah cantiknya murung seperti itu. “Maka dari itu bicaralah, oke?”

Jawaban masih belum dalam genggaman, tertahan di ujung lidahnya pun tidak. Sama sekali tidak, dan itu sangatlah miris menurutku. Tuhan, apakah senyumku kali ini terlihat seperti tengah dipaksakan? Karena walaupun kenyataannya demikian, aku tak ingin Yuna menyadari hal tersebut.

“Yuna …?”

Mungkin aku termasuk salah satu dari daftar sepuluh lelaki paling tidak peka di dunia ini. Namun kenyataannya, kilauan di kedua irisnya membuatku mampu menafsirkan hal itu dalam untaian kata yang pahit.

Yuna kesayanganku akan menangis.

“Aku … tak tahu, Seokmin. Hanya … hanya saja ….”

Tunggu!

“Yuna?”

Buru-buru diriku merangsek ke arahnya, duduk tepat di sampingnya dan memeluknya takut-takut. Jika aku tak salah tebak―dan demi apa pun, aku berdoa semoga tebakanku ini seribu persen salah. Semoga.

Sampai akhirnya ketika bahu yang lebih mungil dariku itu bergerak naik turun, diikuti tetesan hangat air mata yang entah sudah berapa lama ditahannya mengenai leherku. Di situlah aku tahu, bahwa Yuna benar-benar sedang dalam keadaan yang tidak baik. Seperti neraka, seperti dongeng kelam yang semua orang akan berharap segera terbangun dari dalam sana.

“Hiks … aku … aku―”

“Jangan bicara lagi,” potongku. “Kumohon jangan bicara dulu jika itu hanya akan membuatmu sakit.”

Getarannya, berbeda. Pita suara itu tak lagi seperti dulu saat aku pertama kali mengenalnya. Ketika aku jatuh cinta dengan suara merdunya―sungguh konyol mencintai sebuah suara yang tak dikenal dan lebih konyol lagi mencintai si pemilik suara itu dalam pandangan pertama saat jumpa.

Nyatanya, kekonyolan itu sudah berlangsung lebih dari lima tahun, dalam keadaan yang hampir seluruhnya diliputi oleh kebahagiaan. “Aku tak akan pernah bisa lagi menyanyikanmu lagu tidur itu, atau lagu yang selalu membuatmu ceria ketika berkunjung ke toko bunga. Lalu―”

“Yuna sayang, jangan bicara dulu, ya? Kumohon.”

Jika ia tak mengadukan rasa sakitnya, setidaknya biarkanlah aku untuk membuatnya mengurangi rasa sakit itu.

Jika aku tak bisa menggantikannya untuk merasakan sakit, ingin sekali aku agar bisa membuatnya melupakan kesakitan itu.

Jika suara paraunya kini tak lagi seindah dulu, maka kumohon, biarkanlah hatiku tetap mencintainya dengan kadar yang tak akan pernah berkurang.

Dan jika ia semula ragu untuk mengutarakannya padaku karena takut kehilangan, hal itu bahkan lebih konyol dari awal mula rasa cintaku padanya dulu.

Buktinya aku masih di sini―di sampingnya, memeluk gadis kesayanganku dalam diamnya salju bulan Januari. Sama seperti Yuna, kini aku mengerti kenapa wanita adalah makhluk yang Tuhan ciptakan menjadi sangat rumit di dunia.

Karena mereka rapuh hatinya, tulus perkataannya dan bersih jiwanya. Memendam rahasia seorang diri karena takut akan suatu hal, menjadi kuat secara instan namun tetap saja membutuhkan sandaran ketika pertahannya runtuh perlahan.

Memeluk adalah satu hal, lain hal lagi saat aku menggenggam tangannya. Menyemangati dengan berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja mungkin adalah tindakan yang bodoh, tapi aku tahu hal lain yang mungkin bisa membuat Yuna setidaknya kembali menunjukkan senyum cantik itu.

“Kuharap aku bisa bernyanyi sebagus dirimu, Yuna. Karena akan sangat tidak lucu nanti jika telingamu sakit lantaran mendengarkanku bernyanyi dengan nada do yang meleset sampai sol.”

Dapatkanlah kepercayaannya, dan kau akan tahu segala rahasianya.

FIN

Iklan

8 thoughts on “[Series] I Wish: Her Secrets

  1. yey akhirnya di update juga.
    first kah ini? hehehe…
    uuu first postnya bikin bahagia banget, top OTP kyaaa Seokmin-Yuna ❤

    kak njel kenapa aku masih bingung sama masalahnya Yuna sih? itu ada kaitannya sama apa sih? aduh pusing. tapi aku suka banget sama monolognya si Seokmin yg fluff banget nget nget. kyaaaa pengen dong jadi Yunaa kyaaa.

    ini keren kak njel sumpah. aku bacanya senyum senyum sendiri hihi:)

    ditunggu update selanjutnya:)

    Suka

  2. Smiling, loving, holding hand, kissing, proposing, getting married. Ceklis yang mana nih? Smiling bukan? Hehehe. Huuu keren parah. Gws Yuna 😦

    Suka

  3. biar aku tebak (tapi belum tentu bener, ya tebakannya)
    Yuna itu kena radang tenggorokan atau pita suara, mungkin. Jadinya, dia kayak gitu.
    Ini masih mungkin, soalnya yang tahu Yuna kenapa kan, kak njel (aku ikutan manggil gini, boleh ya?), iya kan, kak njel?

    Suka

  4. Waa~couple kesukaan ♥
    Seokmin manis sekali sih.. Yuna aku coba nebak apa dan kenapanya tapi biarlah terkaan itu berseliweran di pikiran aja ㅠㅠ ㅠㅠ

    “Buktinya aku masih di sini―di sampingnya, memeluk gadis kesayanganku dalam diamnya salju bulan Januari.” buktinya kalau kamu manis sekali wahai Seokmin 🙂 ♥
    Ditunggu next week yaa. ㅅ_ㅅ
    힘내세요~ 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s