[Series] I Wish: Across the Intersection

Angelina Triaf ©2017 Present

I Wish: Across the Intersection

.

HoshiJunMingyuSeokminSeungcheolVernon

YunaYerinUmjiSowonShinbiEunha

.

Drama, Fluff, Hurt/Comfort | PG | Series

I’m curious. Is this the love I wanted?

0o0

Pertama kali bertemu dengannya adalah ketika aku berjalan seorang diri dalam gegap gempita malam tahun baru. Tentunya suasana hangat menyelimuti sekitar, penuh canda tawa juga kegembiraan yang tampak jelas di wajah tiap orang. Bukan tanpa alasan, hanya saja menyenangkan menurutku untuk berjalan sendirian menikmati udara yang dingin.

Tak terasa langkahku telah sampai di sebuah perempatan jalan. Kalau tidak salah, itu adalah rute yang selalu kulewati bersama teman-teman menuju kedai kue beras favorit kami. Pikirku, haruskah aku menelepon para gadis itu untuk datang dan merayakan tahun baru bersama?

Namun, niat tinggallah niat begitu kudapati sebuah keramaian di seberang jalan―yang entah kenapa baru kusadari setelah sekian lama. Kuamati sebentar, menyimpulkan bahwa kerumunan itu didominasi oleh para gadis bermantel tebal lantaran cuaca. Aku terdiam cukup lama, berpikir apakah sebaiknya menuntaskan penasaranku dan berjalan ke sana ataukah kembali pada rencana awal untuk pergi ke kedai.

“Kau lihat itu? Ia tampan sekali!”

“Iya! Mungkinkah di kehidupan sebelumnya ia berjasa pada negara sehingga pantas dikaruniai ketampanan seperti itu?”

Opsi pertama menjadi pilihan, disusul telingaku yang belum apa-apa sudah menangkap beragam pujian yang sama. Tentang ketampanan seseorang, apakah mereka tengah mengerumuni proses photo street ataukah ada member idol yang tengah duduk manis dengan segelas kopi panasnya?

“Akhirnya giliranku! Permisi, Mingyu-ssi, bisakah kau buatkan juga lukisan diriku di bawah turunnya salju?”

Hingga akhirnya tubuh mungilku bisa sampai di barisan terdepan dari kerumunan, yang kulihat bukanlah model yang tengah berpose apalagi member idol.

Hanya ada dua bangku kayu kecil yang masing-masingnya telah diduduki. Satu oleh seorang gadis yang sedang tersenyum, dan satu lagi oleh si pemuda yang memegang sebuah buku sketsa ukuran besar tempatnya menggoreskan sebatang pensil berarang hitam.

Oh, ternyata seorang pelukis jalanan.

0o0

Kuingat waktu menunjukkan satu jam lagi sebelum pergantian tahun. Kerumunan telah membubarkan diri setelah sebelumnya mereka saling mengucapkan terima kasih. Tak sedikit gadis-gadis yang senyumannya merekah karena berhasil membawa pulang sebuah lukisan sederhana yang menurutku cantik.

Pemuda tinggi yang kuketahui bernama Mingyu sedang merapikan alat gambar dan buku sketsanya. Oh, ada sebuah kotak yang sepertinya berisikan uang bayaran dari hasil melukisnya tadi―yang jika tak salah kuperhatikan, sepertinya ia tak memasang tarif dan membiarkan orang-orang membayar karyanya sukarela. Benar-benar baik, menurutku.

“Permisi, Mingyu-ssi.”

Gerakan tangannya yang semula mengikat kedua bangku terhenti begitu melihat diriku―orang yang baru saja memanggilnya. Gurat wajahnya menampakkan kebingungan di awal, tak lama berselang oleh sebuah senyuman hangat.

“Maaf mengganggu acara beres-beresmu. Oh, sebelumnya, aku Eunha.”

Sebisa mungkin aku bertingkah normal tanpa menunjukkan betapa gugupnya diriku. Beruntungnya, uluran tanganku padanya langsung disambut tanpa kecanggungan.

Ia tak langsung membalas ucapanku, alih-alih mengambil sebuah buku catatan kecil dari saku mantel. Menuliskan sesuatu di sana sebentar, setelahnya menunjukkan salah satu halamannya padaku.

Sebelumnya maaf, aku tidak bisa bicara. Sepertinya kau sudah tahu namaku? Hihi.

Ah, rupanya seorang tunawicara.

Begitulah, perkenalan berlalu cukup singkat. Lalu kami mengobrol di bawah langit malam, berkomunikasi melalui suara dan tulisan, tanpa kutahu mengapa hal tersebut terkesan amat menyenangkan.

Pemuda bermarga Kim itu seusia denganku. Katanya, ia sudah tak bisa bicara sejak kecil, lebih tepatnya setelah syok akibat kecelakaan saat berkendara bersama kakeknya. Dokter bilang bahwa masih ada kemungkinan kalau Mingyu bisa kembali bicara, namun sayangnya biaya operasi menjadi kendala.

“Jadi, kau sudah menjadi pelukis jalanan sejak lulus sekolah?”

Iya. Kautahu, ‘kan? Sangat sulit mencari pekerjaan dalam keadaan tak bisa bicara sepertiku. Satu-satunya jalan hanyalah mencari uang tambahan sendiri untuk biaya operasi.

Sebenarnya aku tak ingin bilang, tapi untunglah wajah tampannya itu mampu menyokong hidupnya selayak dewi fortuna.

“Bersyukurlah kau diberikan wajah tampan sehingga para gadis selalu berdatangan untuk minta kau buatkan lukisan.”

Leluconku mau tak mau membuatnya geli. Mingyu lalu menawarkan untuk membuatkanku lukisan juga. Karena sempat melihat hasil yang bagus milik orang-orang sebelumnya, aku langsung mengiyakan.

Tangannya sibuk menggoreskan pensil sementara aku terdiam dan mengambil satu fokus. Fokusku, secara otomatis terpatri pada wajahnya. Menatapnya demikian membuatku merasakan sesuatu yang aneh, kemungkinan besar perasaan bahagia karena rasanya meletuk-letup tak karuan.

Bukankah memang aneh? Aku tak pernah meminta percintaan yang seperti drama dalam hidupku, lalu Tuhan membuatku berjalan malam itu, mendekati kerumunan di seberang bahkan rela menunggu suasana sepi hanya supaya bisa bercengkerama dengan dirinya.

Sempat aku berpikir, apakah hal demikian bisa disebut cinta pada pandangan pertama? Bahkan tak jarang pula aku mengingkarinya, walau fakta sungguh berbanding terbalik.

Karena sejak saat itu aku hampir setiap hari mengunjunginya setelah pulang kuliah. Hingga tak terasa sudah empat tahun berlalu, ada dua hal bagus yang terjadi di antara kami.

Mingyu yang sudah bisa bicara lagi, juga ucapan pertamanya padaku yang berkata apakah aku mau menikah dengannya.

FIN

Iklan

8 thoughts on “[Series] I Wish: Across the Intersection

  1. Halo Angelina Triaf! Sebelumnya kenalan dulu ya, Ocha dari garis 02, salam kenal!

    Aduh ini manis banget! Aku paling suka endingnya yang bikin aw aw aw :’) cinta emang nggak bisa dipisahkan dari apapun termasuk keterbatasan sekalipun, ya.

    Koreksinya mungkin cuma dalam penggunaan kata ‘-ssi’ itu sebaiknya diitalic karena bukan bagian dari bahasa Indonesia.

    Maaf kalo komentarku kepanjangan. Keep writing! ❤

    Suka

  2. Kak, suka banget sama gaya kakak bawain setiap ceritanya 😊 😊 😊
    Love at the first sight ini mah sama ceritanya 😆😆

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s