[SVT FREELANCE] – [Vignette] Cry No More

CRY NO MORE

.

Romance, Angst, Drama, Hurt-comfort || Vignette || PG-15

.

Starring
Choi Seungcheol aka Seventeen’s S.Coups, Pristin’s Nayoung.

.

Inspired from
Don’t Wanna Cry by Seventeen

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Credit poster to littlejungg @ poster

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Come back, come back, come back. When half of me is gone, how can I live as one?
I don’t want to cry.”
–Don’t Wanna Cry (Seventeen)

.

Seungcheol merasakan pelipisnya berdenyut-denyut hebat selepasnya ia membaca surat yang ada dalam genggamannya. Surat itu hanya terdiri dari selembar kertas, tetapi seolah terasa sangat berat untul Seungcheol hingga ia harus memeganginya dengan dua tangan hingga gemetar. Dwimaniknya masih belum mau lepas dari rangkaian kata yang tercetak di lembaran tersebut. Seakan menyangsikan penglihatannya, Seungcheol membaca kembali surat tersebut bahkan dari kop suratnya. Kali ini lebih perlahan dan lebih hati-hati dari saat awal. Tak ada satu frasa pun yang ia lewatkan.

Namun, tak ada yang berubah. Isi surat itu masih tetap sama.

Im Nayoung menjadi salah satu korban penyerangan di Uruk, tempatnya mengabdi. Mayatnya tidak ditemukan meski telah dilakukan pencarian. Oleh sebab itu ia dinyatakan tewas di tempat insiden.

Seungcheol pun tergugu. Kedua tungkainya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya, dan ia jatuh terduduk ke lantai. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya tercekat.

Seraya ia mengacungkan surat tersebut ke hadapan Jeonghan, sang pembawa pesan, tangisannya pecah.

“Kenapa kau memberikan surat ini padaku?!” seru Seungcheol dalam tangisannya. “Kenapa kabar ini tidak kau simpan sendiri saja, dan biarkan aku dalam kebahagiaan?!”

“Maaf.” Jeonghan hanya menundukkan kepala. “Saya hanya melaksanakan perintah dari Jenderal Kim.”

“BEDEBAH!”

Tangan Seungcheol yang terkepal berkali-kali meninju lantai sebagai bentuk dari perasaannya yang campur aduk. Sedih, kecewa, tak menyangka, marah semuanya beraduk. Ia ingin marah pada takdir yang dengan sembarangan merebut Nayoung dari hidupnya.

Masih jelas dalam benak Seungcheol mengenai momen perpisahannya dengan sang kekasih. Nayoung yang memang memiliki jabatan sebagai dokter tentara dengan pangkat Sersan diutus untuk menjadi salah satu tim kesehatan untuk dikirim ke daerah pengungsian Uruk.

Awalnya Seungcheol menolak, tetapi sorot mata gadis itu membuat Seungcheol mengurungkan penolakannya. Terlihat jelas bahwa Nayoung ingin ambil bagian dalam tim misi tersebut, dan Seungcheol tahu Nayoung yang keras kepala akan sangat marah bila keinginannya dihalangi. Pemuda Choi pangkat Letnan tersebut tak punya pilihan lebih selain melepas Nayoung pergi.

Detik-detik sebelum keberangkatan, Nayoung memberikan pelukan erat pada Seungcheol. Bahkan bisikannya tentang ia akan kembali dalam keadaan sehat walafiat sesegera mungkin masih terngiang jelas di pendengaran pemuda itu.

Kenyataannya? Nayoung tidak menepati janji. Hampir empat tahun mereka terpisah dengan asa bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali. Tetapi apa yang ia dapatkan? Sebuah kabar yang menyesakkan hati tentang bagaimana sang kekasih mengingkari ikrar yang ia buat.

Bahkan Nayoung tak sempat memberi salam sampai jumpa untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi.

“Pak ….” Suara berat Jeonghan membuyarkan kilas balik Seungcheol. “Bapak harus menandatangani suratnya.”

Selain berita duka tentang kepergian Nayoung, surat tersebut juga berisi pemberitahuan tentang prosesi penghormatan terakhir atas jasa sang korban.. Surat itu harus ditandatangani oleh orang-orang terdekat dari pihak bersangkutan, tanda mereka telah menerima kabar duka tersebut dan menyetujui terselenggaranya prosesi.

Dengan tangan gemetar Seungcheol meraih pena yang disodorkan oleh Jeonghan. Ia tak langsung membubuhkan tanda tangan, tetapi terlebih dahulu menarik napas dalam-dalam demi menenangkan perasaannya yang bergejolak.

Tepat ketika Seungcheol selesai memberi tanda titik sebagai aksen dari tanda tangannya, tangis lelaki itu pecah untuk kedua kalinya, akibat kesedihan yang tak terbendung.

***

Hari itu cerah sekaligus berangin. Ilalang yang melambai serta kicauan beberapa ekor burung gereja menyambut presensi Seungcheol. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru dengan sebanyak mungkin oksigen yang bisa ia dapatkan. Bibirnya mengukir senyum tipis.

Seungcheol masih menguntai langkah di jalan setapak, seraya tangannya menggenggam erat setangkai mawar merah.

Jangkahannya berhenti di depan sebuah tumpukan batu. Perlahan, Seungcheol meletakkan bunganya di atas tumpukan batu tersebut, lalu menundukkan kepala selama beberapa menit.

Setelahnya, Seungcheol berjongkok, lantas menepuk-nepuk batu paling atas beberapa kali.

“Hai, Nayoung-ah,” sapa Seungcheol. Lelaki itu kembali menarik napas dalam, kali ini untuk menenangkan perasaannya.

“Langit cerah dan angin sepoi-sepoi. Kombinasi yang bagus, Nayoung-ah. Ditambah pemandangan akan rumput yang bergoyang. Dulu kau pernah bilang kau selalu ingin menghabiskan waktu di tempat seperti ini; membiarkan sinar matahari menerpa kulitmu serta angin mengibarkan rambutmu. Kau ingat?”

Seungcheol tersenyum. Untuk beberapa saat memori akan hari-hari yang ia lalui bersama Nayoung berputar di benak, membawa lelaki itu melalui kilas balik.

“Tiga tahun sudah semenjak kepergianmu yang mendadak. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau bahagia? Apa di sana penuh kedamaian?”

Seekor kupu-kupu hinggap di jari telunjuk Seungcheol, dan untuk tiga puluh detik atensi pemuda itu teralih pada kupu-kupu sayap jingga tersebut sebelum sang kupu-kupu kembali mengangkasa. Seungcheol pun melanjutkan, “Perang sudah berakhir. Meski rakyat Uruk masih berjuang sedikit demi sedikit untuk mengembalikan kesejahteraan mereka, tetapi setidaknya itu adalah suatu hal yang baik. Setidaknya tak akan lagi terdengar suara bom atau rudal menderu.”

Angin bertiup, membawa mawar merah Seungcheol terbang, kemudian jatuh beberapa meter di depan, agak jauh dari titik pijakannya. Seungcheol bangkit berdiri, lalu berjalan untuk mengambil kembali mawar tersebut.

Ketika Seungcheol mengulurkan tangan untuk memungut mawarnya, netranya tertumbuk pada sepasang sepatu yang terletak persis di sebelah mawar tersebut. Ralat, lebih tepatnya sepasang tungkai sedang berdiri di sebelah mawar tersebut.

“Oh, maaf,” ucap Seungcheol sambil memungut mawarnya. Ia bermaksud langsung beranjak, tetapi suara yang ditangkap oleh indra pendengarannya seketika membuatnya mematung.

“Seungcheol-ah.”

Dwimanik Seungcheol membulat. Suara itu …. Suara itu terasa familiar di telinganya.

Setengah dari dirinya meminta untuk berbalik, memastikan kembali asal suara tersebut. Setengah lagi mencegahnya; siapa tahu itu hanyalah halusinasi semata yang pada akhirnya akan menimbulkan kekecewaan.

Setengah menit dihabiskan dengan pergumulan batin, akhirnya dengan ragu-ragu, dengan secuil asa yang masih tersisa di dalam batin, perlahan ia menolehkan kepala.

Jantungnya mendadak bagai berhenti berdetak.

Di hadapannya, gadis surai panjang kecoklatan itu berdiri. Kekasihnya, dambaan hatinya, belahan jiwanya, alasan dari segala gundah dan gulananya.

Im Nayoung.

Berdiri dengan air mata yang mengalir menuruni pipi. Surai panjangnya yang terurai berkibaran ditiup angin.

“Na … young?” Seungcheol memastikan.

Gadis itu mengangguk dua kali. “Ya, ini aku.”

“Apakah … itu benar-benar dirimu?”

“Ya, Seungcheol-ah. Ini aku, Im Nayoung.”

Seungcheol tak dapat menahan lagi rasa rindunya yang membuncah. Mawar merah dalam genggamanya seketika terlepas dan langsung terbang dibawa angin, seraya Seungcheol membuka tangannya lebar-lebar dan langsung merengkuh tubuh mungil dara itu.

Rasa rindu yang tak terbendung mendadak lenyap, digantikan dengan perasaan lega yang tak terkira. Tidak dapat ia ungkapkan bahagia yang ia rasakan begitu menyadari bahwa gadis itu baik-baik saja, bahwa gadis itu dapat kembali ke pelukannya. Benteng air mata Seungcheol bobol seketika.

“Nayoung-ah ….” Seungcheol berujar di sela-sela tangisannya. “Aku amat merindukanmu. Amat, sangat, merindukanmu.”

Ia merasakan bola kepala Nayoung yang mengangguk-angguk. “Aku juga,” balas sang gadis. “Tidak bertemu denganmu selama sekian lama membuatku hampir gila.”

Seungcheol melepas dekapannya, tetapi kedua tangannya masih memegang pundak Nayoung erat. Binar di matanya menggambarkan rasa tidak percaya bercampur gembira. Ia masih tak menyangka bahwa ia bisa dipertemukan kembali dengan gadisnya.

“Ke mana saja kau selama ini?” Pemuda Choi itu tak dapat menahan kuriositasnya. “Mengapa semua orang mengatakan kau meninggal dunia dalam insiden penyerangan di Uruk?”

Nayoung tersenyum. “Sejujurnya, aku memang hampir tewas. Sebuah bom jatuh dan meledak beberapa meter di dekatku. Aku pun mengira itu adalah hari kematianku, sampai seorang rekanku menyeretku keluar dan membawaku ke tempat persembunyiannya. Di sanalah aku dirawat hingga sembuh, lalu tinggal selama beberapa saat.”

“Maafkan aku, Seungcheol-ah, karena telah membuatmu khawatir,” tambah Nayoung.

“Aku tahu. AKU TAHU ITU!” seru Seungcheol yang tak mampu lagi menyembunyikan kegirangan. “Aku tahu bahwa sebenarnya kau tidak meninggal. Aku tahu bahwa kau masih hidup. Aku tahu bahwa kau masih menungguku, masih berharap bahwa suatu hari kita akan kembali dipertemukan. Semua orang memintaku untuk melupakanmu, mengatakan bahwa kau telah berada di keabadian. Tapi aku tidak mau memercayainya. Aku tidak mau menangisimu setiap hari. Mengapa? Karena aku tahu, kau masih ada.”

Mendengar penjelasan Seungcheol, Nayoung pun melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher sang kekasih. Pelukan eratnya menandakan bahwa ia tak ingin lagi terpisahkan dari pemuda Choi tersebut.

“Jangan pergi lagi,” bisik Seungcheol.

Nayoung mengangguk. “Tidak akan. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi.”

.

“Although I have a lot of tears, I don’t want to cry
When we see each other again, I don’t want to cry.”
–Don’t Wanna Cry (Seventeen)

— FIN —

Iklan

2 thoughts on “[SVT FREELANCE] – [Vignette] Cry No More

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s