[Alone; All One; Al1] To The Beloved One

To The Beloved One

a story by ts_sora

SVT’s Hoshi (Kwon Soonyoung) — Istanbul, Turki

Comfort

AllOne: One for All

Oneshot

p.s

 This fanfiction is dedicated for SVTFFI’s event 😉

.

.

.

“The line for reaching the beloved one”

.

.

.

“You’re bringing your dictionary right? And also don’t forget about the address.” 

Kwon Soonyoung tertawa pelan sebelum ia lantas menganggukkan kepalanya ringan menatap sosok laki-laki yang berada dalam layar ponselnya. Laki-laki itu—Choi Sungcheol terlihat lega sepertinya kali ini. Sudah hampir sepuluh kali laki-laki itu menghubunginya lewat video call hanya untuk menanyainya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.

Bukan untuk pertama kalinya laki-laki itu melarangnya. Bahkan dari awal hingga kemarin keberangkatannya, Sungcheol kiranya tak ingin melepas kepergiannya. Ia bilang, jika ia tidak disibukkan oleh beberapa jadwal padat dalam seminggu ini, telah dipastikan ia akan ikut berangkat dengannya kemarin.

“Ia akan baik-baik saja. Benar kan?” Kali ini sosok laki-laki lain mulai terlihat. Ia tersenyum hangat saat Soonyoung menatapnya. Hong Jisoo, laki-laki yang mati-matian membujuk Sungcheol agar mau melepaskan kepergiannya.

“Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan di sana?” tanya Sungcheol kali ini setengah memelas. Sekali lagi, Soonyoung masih tersenyum namun ia lantas menarik napasnya dalam-dalam.

“The line for reaching the beloved one,” ujar Soonyoung penuh dengan keyakinan namun kedua laki-laki yang masih menatapnya lewat layar—mengerti betul atas apa yang baru saja Soonyoung katakan. Jadilah mereka membuang napasnya hampir bersamaan sebelum akhirnya mengembangkan senyum mereka.

“I wish the best for you.”

“Call me whenever you need anything, okay?” ujar Sungcheol kali ini kalah. Soonyoung sekali lagi mengangguk pasti sebelum akhirnya mereka memutuskan panggilan.

.

.

Soonyoung menarik napasnya dalam-dalam saat bus yang kini ia naiki akhirnya berhenti. Bakirköy, setidaknya itu yang dapat ia baca dari penunjuk jalan yang berdiri kokoh tepat di samping pemberhentian.

“Teşekkür ederim,” ujar Soonyoung membuat pria yang berada dalam balik kemudi tersenyum mendengarnya, sebelum ia lantas turun dari bus kali ini. Senyumnya terkembang sempurna saat ia mengedarkan pandangnya demi menatap sekitar.

Istanbul nyatanya jauh berbeda dengan Seoul. Keindahan dari matahari tenggelam terlihat begitu sempurna. Udara hangat yang menyambutnya lantas membuat degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ya, sebentar lagi ia akan sampai.

Soonyoung menatap kembali layar ponselnya yang menampilkan sebuah nama jalan lengkap dengan nomornya. Dengan yakin ia lantas berjalan menuju perumahan khas kota Istanbul yang berada di seberang jalan, seakan menyambutnya dengan hangat. Beberapa kali kata takjub keluar dari mulutnya kala memandangi satu persatu rumah yang ia lewati, tak lupa ia juga memperhatikan satu per satu nomor yang terpampang di sana.

Ia menghentikan langkahnya saat sebuah rumah bernomor 26 kini berada di hadapannya. Ini dia, batinnya. Dengan gugup ia menata pakaian yang tengah ia kenakan sebelum akhirnya dengan pasti menekan door bell yang berada tepat di depannya. Namun kiranya pemilik rumah masih mendiamkannya.

Sekali lagi ia menekan door bell di hadapannya. Satu kali. Dua kali—yang kali ini di sambut oleh suara langkah kaki yang kini mendekat menuju pintu.

Soonyoung mendongakkan wajahnya saat sang pemilik rumah kini membukakan pintu untuknya. Ia lantas mengembangkan senyumnya kala sang pemilik rumah menatapnya tak percaya.

“Eomma, it’s been awhile.”

Soonyoung menyesap cokelat hangatnya sebelum ia lantas meletakkan mug yang ia genggam di atas meja. Beberapa kali kedua matanya lebih tertarik untuk mengamati beberapa furniture yang berada di sekitarnya. Ya, sejak kedatangannya beberapa menit yang lalu, Ibu Soonyoung mempersilahkannya untuk duduk pada meja makan. Sedangkan ia sendiri duduk tepat berada di seberangnya, menatapnya canggung. Soonyoung berdehem pelan yang lantas membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.

“Jadi, bagaimana kau bisa tahu alamat ini?” tanya wanita itu yang mulai membuka suara sedangkan Soonyoung tertawa pelan.

“Aku mendapatkannya dari alamat yang tercantum pada paket yang kau kirimkan padaku natal tahun lalu,” jawabnya santai namun wanita itu yang kini terlihat semakin canggung. Bahkan kali ini ia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya seakan menghindari kontak mata dengannya.

“Bagaimana kabarmu, eomma?” tanya Soonyoung sekali lagi. Benar, hampir tiga tahun wanita itu tidak mengunjunginya. Bukan mengapa, ia tahu apa pekerjaannya wanita itu yang bekerja pada Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Turki. Ia bahkan tak keberatan saat ibunya diharuskan untuk hijrah menuju Turki sejak dua belas tahun yang lalu. Dimana wanita itu berjanji padanya akan pulang sesering mungkin untuk mengunjunginya. Meski nyatanya kini wanita itu jarang menemuinya.

Entah apa yang wanita itu lakukan. Namun ia bukanlah anak bodoh. Ia tahu, wanita itu pun selalu kembali menuju Seoul—untuk mengurus segala sesuatunya perihal visa tiap beberapa tahun sekali. Namun tetap saja, ada saja alasan yang membuat wanita itu tidak menemuinya.

“Baik. Bagaimana kabarmu Soonyoung ah?” ujarnya balik bertanya sedangkan Soonyoung masih menunjukkan senyum yang sama sejak ia menginjakkan kakinya disana.

“Seperti yang kau lihat. Aku tumbuh dengan baik.”

“Lalu—gadis kecil ini?” ujar Soonyoung balik bertanya. Wanita itu lantas tersenyum menepuk puncak kepala gadis kecil yang duduk di sampingnya. Gadis kecil yang bahkan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.

“Ellyse, ‘kan?”

Benar, ibu Soonyoung memutuskan untuk berpisah dengan ayahnya tujuh tahun yang lalu dan menikahi seorang pria Korea yang bekerja di Istanbul. Soonyoung menyebutnya Mr. Kang—karena meski pria itu juga ayahnya, ia tak bisa menyebutnya dengan sebutan tersebut. Dan gadis itu adalah hasil pernikahan keduanya tujuh tahun yang lalu. Yang lantas membuat ibu Soonyoung semakin jarang menemuinya.

“Ellyse, itu Soonyoung oppa. Kakakmu yang berada di Seoul. Ibu pernah menceritakannya padamu, kan?”

“Ellyse—” Belum habis apa yang dikatakan wanita itu, Ellyse lebih dulu beranjak pergi menuju lantai dia dengan terburu-buru yang lantas membuat keduanya terkejut. Kiranya gadis kecil itu benar-benar tak menyukai kehadiran Soonyoung.

“Jadi, dimana Mr. Kang?” tanya Soonyoung yang berusaha menghidupkan suasana yang lantas dibalas oleh senyum tipis dari wanita itu. Senyum yang seakan tengah berusaha menutupi sesuatu.

“Ia memutuskan untuk menginap di kantornya untuk sementara waktu. Ada sebuah proyek yang tengah ia kerjakan saat ini,” jawabnya yang sama sekali tak menatap sang lawan bicara yang berada di hadapannya.

“Maafkan aku atas perlakuan Ellyse. Ia mengira kau akan membawaku pergi ke Seoul dan meninggalkannya,” imbuhnya disertai tawa kecilmya.

“Itu memang benar,” ujarnya cukup singkat yang lantas membuat wanita itu menatapnya setengah tak percaya. “Eomma, apa kau bahagia di sini?”

Soonyoung menatap langit-langit kamarnya sedangkan pikirannya melayang entah kemana. Kiranya ajakan darinya untuk membawa wanita itu kembali ke Seoul, terdengar mengambang begitu saja tanpa ada kepastian. Meski ia sudah melontarkan tawaran itu untuk berpuluh-puluh kalipun, reaksi wanita itu tetap sama.

Hampir seminggu Soonyoung berada di Istanbul. Selama itu pula ia selalu memperhatikam tiap aktivitas di sana. Dimana ibunya menghabiskan hampir seluruh waktunya di tempat kerja dan menyisihkan waktunya untuk mengantar-jemput Ellyse dari sekolah. Sedangkan Mr. Kang tak pernah pulang. Seakan keduanya meninggalkan gadis kecil itu menghabiskan seluruh waktunya di rumah, sendiri.

Ellyse masih membenci keberadaannya. Ia masih berpikir bahwa ia Soonyoung akan merebut ibunya. Namun itu memang benar adanya. Jadilah Soonyoung tak pernah mempermasalahkan kondisi dimana memang berebut ibu.

“Sekarang kau pulang? Rupanya kau masih ingat rumah ini?”

Soonyoung cepat-cepat beranjak, hendak keluar dari kamar namun dirinya mengurungkan niatnya dan lantas bersembunyi di belakang pintu. Benar saja, Mr. Kang baru saja pulang. Dengan terburu-buru pria itu melangkah menuju kamarnya. Tepat di belakangnya, ibunya yang terlihat geram.

Mata Soonyoung lantas beralih pada sebuah kamar yang tak jauh darinya, kamar Ellyse. Mengerti keduanya telah pergi, Soonyoung cepat-cepat melangkah menuju kamar yang hanya diterangi lampu tidur. Ia lantas terdiam saat dengan jelas ia dapat melihat sosok gadis kecil itu yang terduduk di sudut ruangan. Sosok yang begitu familiar. Sosok yang mengingatkan dirinya-akan dirinya dahulu.

Hey kau belum tidur?” Soonyoung melangkahkan kakinya ringan sebelum lantas mendudukkan dirinya tepat di samping gadis kecil itu yang kini menutup kedua telinganya kala orang tuanya terdengar berseru satu sama lain. Soonyoung tersenyum masam, diraihnya puncak kepala gadis itu sebelum ia lantas mengelusnya lembut. Saat itu juga, tangis Ellyse pun pecah.

Kiranya apa yang telah terpikirkan olehnya, benar adanya. Sesuatu memang telah terjadi. Ibunya memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

Ia tak pernah mengira bahwa pernikahan kedua ibunya juga berakhir sama. Setidaknya dahulu, ia berpikir bahwa perpisahan ibu juga ayahnya adalah keputusan yang terbaik. Bahkan saat ibunya memutuskan untuk menikah kembali, ia tak keberatan. Setidaknya ibunya bahagia dengan keluarga barunya, meski ia harus terlupakan.

Oppa, apa kau akan membawa eomma pergi?” tanya Ellyse akhirnya berani menatapnya. Soonyoung tersenyum masam. Ia lalu menggelengkan kepalanya yang lantas membuat Ellyse memeluknya erat-erat. Sedangkan Soonyoung membuang napasnya samar, berharap Ellyse tidak mengetahuinya.

Hey, Ellyse.” Soonyoung merenggangkan pelukan gadis kecil itu sebelum ia lantas mengembangkan senyumnya saat ini.

“Bisakah kau membantu oppa?”

“Apa Ellyse sudah tidur?” tanya Soonyoung saat ibunya baru saja turun dari lantai dua. Wanita itu lantas mengangguk kecil

“Apakah ini sebuah perayaan?” ujar wanita itu tak percaya menatap beberapa piring makanan juga sebotol wine dengan brand terkenal yang begitu ia gilai berada di atas meja makannya. Soonyoung tersenyum tipis sebelum ia lantas meletakkan dua gelas wine di atas meja.

“Dan sebotol wine? Rupanya anak eomma sudah dewasa,” ujar wanita itu bangga kali ini. Namun sedetik kemudian ia memandang Soonyoung bingung yang lantas laki-laki itu balas dengan senyumnya yang lain.

“Tiga piring pasta? Ellyse sudah tidur. Lalu yang satu lagi untuk siapa?”

Soonyoung sekali lagi hanya mengembangkan senyumnya sebelum ia lantas melepaskan apron yang ia kenakan. Ia lalu melangkah menuju pintu depan saat seseorang baru saja menekan bel.

“Silakan masuk,” ujarnya pada sosok pria kini berdiri di hadapannya saat ia membuka pintu. Pria tersebut lalu melangkahkan kakinya ragu, dilihatnya ibu Soonyoung yang kini terdiam di tempatnya. Bahkan senyum di wajahnya perlahan namun pasti menghilang.

“Aku harap eomma tidak keberatan jika aku mengundang seseorang hari ini.”

“The line for reaching the beloved one.”

Soonyoung yang akhirnya membuka suara-membuat ibunya juga pria itu menatapnya bingung. Ia mengangguk kecil sebelum sebuah senyum terbentuk kembali pada wajahnya. Baru saja merka menyelesaikan makan malam bersama dengan penuh kecanggungan.

“Aku memang berencana untuk membawa eomma kembali ke Seoul,” imbuhnya yang kini mengembangkan senyumnya, membuat kedua matanya menyipit.

“Karena kupikir mungkin seharusnya ia memang berada di Seoul dan tinggal bersama keluarga ia bentuk dahulu. Tapi mengapa ia lebih memilih keluarga di Istanbul—” Suara Soonyoung mengecil kali ini, namun senyum masih terpampang jelas di wajahnya. Ia berusaha keras menahan emosinya.

“Sejak kedatanganku, aku sering melihat semburat kesedihan di wajah eomma. Saat kutanya, ia selalu menjawab semua baik-baik saja. Bahkan saat kutanya tentang Mr. Kang, aku tahu eomma tengah berusaha menyimpan sesuatu dariku. Jadi kupikir keputusanku sudah benar.”

Soonyoung menarik napasnya dalam-dalam ditatapnya kembali kedua orang yang duduk di hadapannya. Namun sekali lagi mereka lebih memilih menundukkan kepala daripada menatapnya.

“Namun kiranya, eomma memang tak ingin pergi. Ia selalu menghindariku saat aku mulai memintanya kembali ke Seoul.” Soonyoung menghelan napasnya, senyumnya ia usahakan kembali terkembang di wajahnya meski kini terkesan lebih pahit.

“Lalu saat itu, aku melihat sosok Ellyse menangis pada sudut ruangan saat kalian bertengkar malam itu. Sosok yang begitu familiar untukku.”

Dan benar saja, kini keduanya mengangkat wajahnya dan menatap Soonyoung tak percaya. Laki-laki itu mengangguk pelan.

“Ya, sosok yang begitu mirip denganku saat aku masih kecil. Saat eomma dan appa masih bersama. Saat mereka selalu beradu mulut dan aku tak tahu apa penyebabnya.”

“Saat itu aku sadar—ah, Ellyse juga merasakannya. Ellyse juga memiliki hari-hari yang begitu berat saat kalian sibuk dengan pekerjaan kalian. Ellyse juga memiliki malam yang berat saat kalian bertengkar.” Soonyoung menghembuskan napasnya saat kini ia dapat melihat genangan pada kedua mata ibunya.

“Lalu, ia memohon padaku agar aku tidak membawa eomma ke Seoul. Saat itu aku sadar bahwa ia lebih membutuhkan eomma daripada aku—” ucapnya menggantung sekedar menarik napasnya dalam-dalam. Ia lalu mengembangkan senyumnya meski entah sejak kapan air matanya sendiri jatuh.

“Maka aku berpikir mungkin aku tak seharusnya berada di sini. Mungkin lebih baik eomma bersama dengan keluarga barunya.” Dengan tegar Soonyoung menghapus air matanya saat kini ia bisa melihat ibunya terisak.

“Soonyoung ah—

Eomma, laki-laki yang kini berbicara denganmu telah tumbuh dengan baik,” ujar Soonyoung yang lantas mengumbar deretan giginya. Ia menarik napasnya dalam-dalam berusaha menahan genangan di pelupuk matanya tak jatuh. “Meski kini aku lebih memilih untuk tinggal di asrama, aku bahagia. Aku memiliki banyak teman yang menyayangiku.”

“Soonyoung ah,” sebut wanita itu untuk sekian kalinya dengan suara yang bergetar karena isaknya. Sedangkan Soonyoung masih tegar menunjukkan senyumnya saat ini.

“Aku bisa menjaga diri dengan baik. Aku selalu makan jahe merah agar aku tidak mudah sakit. Kini aku juga bisa memasak sendiri bila sewaktu-waktu aku lapar di tengah malam,” ujarnya kali ini seraya menghapus cepat air matanya yang jatuh.

“Mr. Kang, aku menitipkan eomma juga Ellyse padamu. Jika aku menemukan mereka sedih sekali lagi—” Wajah Soonyoung seketika berubah serius kali ini. Matanya lurus menatap pria yang duduk tepat di samping ibunya tersebut.

“Aku benar-benar akan membawa mereka ke Seoul,” imbuhnya menyelesaikan. Pria itu, lantas mengangguk yakin seraya meraih pundak ibunya yang terguncang. Seketika wajah Soonyoung kembali tenang. Ia lantas mengembangkan senyumnya sekali lagi.

“Soonyoung sama sekali tidak berbicara apapun sejak ia pulang dari Istanbul seminggu yang lalu.”

Jisoo juga Sungcheol menatap laki-laki yang lebih muda dari mereka tersebut sedih. Soonyoung yang sedari duduk di sofa dan menatap televisi di hadapannya dengan pandangan kosong tidaknya membuat kedua hyung-nya sedih. Sungcheol yang hendak melangkah menuju laki-laki itu lantas dicegah Jisoo.

“Biarkan ia saja untuk sendiri. Ia butuh waktu,” ujar Jisoo yang membuat Sungcheol membuang napasnya pasrah.

Suara bel asrama tiba-tiba saja berdering. Keduanya yang hendak membuka pintu lantas mengurungkan niatnya saat Soonyoung lebih dulu beranjak dari sofanya berjalan menuju pintu utama dengan tidak bersemangat.

“Tunggu sebentar,” ujarnya saat setidaknya sang tamu menekan bel pintu berulang-ulang dengan tidak sabar. Soonyoung yang hilang kesabaran lantas melangkahkan kakinya dengan terkesan menghentak.

“Aku bilang—” Soonyoung yang awalnya berseru lantas menghentikan kalimatnya. Rahangnya jatuh begitu saja, sadar dengan apa yang berada di hadapannya saat ini. Ya, seorang gadis kecil yang begitu ia kenal mengembangkan senyumnya dengan bahagia.

“Kami memutuskan untuk berlibur di Seoul untuk beberapa minggu,” ujar wanita yang tiba-tiba saja berjalan ke arahnya bersama dengan seorang pria-yang membuat senyumnya merekah sempurna kali ini.

E-eomma. T-tapi—”

“Silakan masuk. Soonyoung ah, kau tidak pernah bilang mereka akan berlibur ke Seoul,” ujar Sungcheol tiba-tiba. Ia mengerlingkan matanya.

“Perkenalkan saya, Hong Jisoo. Kami memiliki cukup kamar untuk kalian.” Giliran Hong Jisoo yang mulai menampakkan diri dari balik tubuhnya yang lantas menggandeng tangan Ellyse masuk. Soonyoung yang mulai sadar lantas dengan bahagia memeluk wanita tersebut erat-erat.

.

.

Setidaknya kini Soonyoung mendapatkan keluarganya yang baru. Kini ia benar-benar harus belajar berbagi ibu.

.

.

.

-fin.

Iklan

2 thoughts on “[Alone; All One; Al1] To The Beloved One

  1. OMOOOOOOOOO APA YANG KAU LAKUKAN PADA HOSHI-KU KAK HUWAAAAAAAAAAAAAA KUDU TANGGUNG JAWAB NIH BIKOS AKU NANGIS PAS HOSHI JELASIN KENAPA DIA KE ISTANBUL T_T Ini nge-feel banget, alurnya ngalir, bahasanya nyantai, plusnya lagi Hoshi itu biasku yalord :’)))) Gak tau kenapa tapi Hoshi di sini gentle banget ❤ ❤ ❤ Kak, kamu berhasil mengguncang jiwaku dgn karakter Hoshi di sini, pokoknya gak mau tau kakak harus tanggung jawab…… Aku masih baper nih 😥 Sedih emang ya kalau harus berbagi ibu, apalagi sama saudara tiri. Tapi namanya keluarga, harus rela berkorban untuk satu sama lain. Untung di Seoul Hoshi masih punya Sekup & Josh, jadinya dia gk terlalu kesepian 🙂 /ini komen apa -_-/

    Kak maafkan komen sampahku wkwkwkwk xD Nice fic & keep writting ya ^^

    -Ji

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s