[Alone; All One; Al1] Open Your Mind

Cr pic : We Heart it

©Shannellerush present

OPEN YOUR MIND

Wonwoo (17), Samuel (Ex-Pd101), OC | Fantasy, Hurt | PG | Oneshoot

Mentioned : Vernon (17)

.

Based on prompt :

Us in different system is another form of seventeen

.

Inspired : MAMAMOO – Open Your Mind

Sebagai ibukota Australia, Canberra ternyata banyak menyimpan kisah seorang Jeon Wonwoo sejak ia terlahir ke dunia sampai genap berusia dua puluh satu tahun sekarang. Menghabiskan waktu dengan mendedikasikan diri pada seni rupa, membuat Wonwoo sering mengelana ke penjuru Australia untuk menemukan inspirasi dalam melukis. Dan tidak salah pula kalau semua itu terbayar ketika Wonwoo diterima di Autralian College of Arts, jurusan seni rupa melalui jalur beasiswa. Setidaknya impian Wonwoo dapat terwujud.

Dan yang lebih membanggakan lagi, di tahun terakhir masa-masa belajarnya, Wonwoo akhirnya bisa memamerkan karyanya di Galeri Nasional, bersama dengan karya teman-temannya.

Saat ini, Wonwoo sedang berada di National Galery of Australia bersama Jesyateman masa kecil sekaligus tetangganya. Mereka juga kuliah di tempat yang sama, namun berbeda jurusan.

Melihat karya-karya indah yang terpampang di galeri itu, membuat Jesya terpana. Apalagi kala memandang lukisan seorang Wonwoo. Lukisan itu seolah hidup ketika dikerjakan oleh temannya ini.

“Kukira kau memang terlahir menjadi seorang seniman, Wonwoo.” Ucap Jesya saat mereka melihat-lihat karya milik Wonwoo di sepanjang ruangan. Sedetik kemudian, ia menoleh menatap Wonwoo. “Sempurna sekali.” Puji Jesya.

Sementara Wonwoo tersenyum lebar sambil menunduk sedikit tersipu.

“Kapan-kapan kau harus melukis ku, ya?” Pintanya.

“Tentu. Kapan pun kau siap.” Wonwoo sambil mengangkat kedua bahu.

“Aku siap kapan saja, kok.”

“Siap jika tidak merajuk minta jalan dengan Vernon, benar?” Lantas Wonwoo tertawa kecil.

“Bukan begitu!” Bantah Jesya. “Hanya saja…” Jesya menggigit bibir bawahnya.

“Hanya apa?” Desak Wonwoo, membuat gadis itu menyipit sebal ke arahnya.

“Aku hanya ingin bersamanya, memang salah?” Gerutu gadis itu.

Wonwoo mengacak rambut Jesya. Sudah lama sekali Wonwoo tidak pergi bersama Jesya lagi semenjak gadis itu pacaran dengan Vernonsalah satu teman yang juga junior dua tahun di bawahnya. Sama seperti Jesya.

Jauh sebelum Wonwoo mengenalkan Vernon pada Jesya, ia telah lebih dulu menjatuhkan hati pada gadis keturunan Amerika itu. Namun, sayangnya si gadis hanya menganggap Wonwoo sebagai sahabat. Memang takdir begitu menyakitkan. Terkadang ada seseorang yang dapat jatuh cinta pada sahabatnya dan ada pula seseorang yang tidak bisa jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Yeah, seperti itulah cinta.

“O, Wonwoo, apa ini lukisan Jack dan Rose di film Titanic itu? Wah aku suka sekali bagian ini, kau tahu?”

Jesya terpana lagi saat melihat lukisan Jack dan Rose yang berada di atas kapal Titanic. Dimana memperlihatkan scene Rose yang merentangkan kedua tangannya dan Jack memeluk Rose dari belakang. Benar-benar adegan yang melegenda.

“Kau suka?” Tanya Wonwoo.

“Ya, aku sangat menyukainya. Kau selalu tahu apa yang ku suka.” Terlihat senyum lebar di bibir gadis itu.

Wonwoo memicingkan matanya lalu menatap Jesya. “O, ternyata Jesya sekarang sudah tumbuh dewasa. Bagaimana mungkin gadis cengeng seperti Jesya bisa menonton film dengan adegan romantis panas seperti Titanic?”

Mendengar hal itu, Jesya langsung memukul lengan Wonwoo. “Siapa yang kau sebut gadis cengeng? Aku ini sudah berumur sembilan belas tahun.” Gadis itu berdecak, “lagipula saat manusia mencapai usia tujuh belas tahun, mereka sudah berada dalam sistem yang berbeda. Sistem yang menunjukkan perubahan dari anak-anak menuju dewasa.” Jelas Jesya. Kemudian Wonwoo pura-pura berpikir, bak mengambil kesimpulan dari apa yang gadis itu katakan tadi.

Hm, jadi kalau sudah lebih dari tujuh belas tahun, boleh menonton film ini?” Seloroh Wonwoo.

“Tentu saja, boleh!” Tukas Jesya. “Lagi pula film-nya tidak full romantis, ini kan sad ending. semua orang tahu itu.” Protesnya.

Dan Wonwoo pun tertawa mendengar perkataan Jesya. Well, Jesya ini memang gampang sekali dipancing kekesalannya, tentu saja ini mengundang Wonwoo untuk menjahili Jesya lagi. Kalau sudah begini, bagaimana cara Wonwoo melupakan perasaannya pada Jesya? Gadis itu telah membuat Wonwoo seolah memiliki seluruh kebahagiaan di dunia.

Namun, seperti apapun perasaan Wonwoo pada Jesya, toh gadis itu tidak bisa menoleh ke arah Wonwoo, karena ia hanya melihat cinta dari orang lain, bukan cinta dari orang terdekat. Jesya menyadari hal itu, tapi ia tidak mempedulikan. Ia terkesan masa bodoh dengan semua itu dan menganggap hal itu adalah hal yang biasa kala orang terdekat memberikan cinta untuknya.

Bicara soal Vernon, lelaki itu sekarang berada tidak jauh dari mereka. Dan well, ia terlihat tengah berbicara dengan beberapa orang. Sepertinya orang-orang itu menyukai lukisan Vernon. Lukisan Vernon memang tak kalah bagus dengan milik Wonwoo, apalagi lukisan yang kini terpampang di ujung sana. Sebuah lukisan wajah seorang wanita dengan membawa selusin bunga iris biru dan tulip merah. Sangat cantik. Apalagi wajah yang di lukis itu adalah wajah Jesya. Lukisan Vernon seolah lebih sempurna dari lukisan yang terpampang disini.

“Hei, lihat! Bukankah itu Vernon Hansol Chwe? Oh ya ampun. Dia juga ada disini?”

Jesya terlihat sangat senang melihat kekasihnya berada di tempat yang sama. Ia kira pameran ini hanya untuk anak semester akhir.

“Kukira pamerannya untuk anak semester akhir.” Gumam Jesya tanpa sadar.

“Memang untuk semester akhir, tapi sepertinya Vernon mengajukan diri untuk ikut pameran.” Sahut Wonwoo yang mendengar gumaman Jesya.

“Kenapa tidak bilang? Oh, lihat lukisannya! Itu wajah ku… ya ampun.” Kemudian Jesya berjalan menghampiri Vernon di ujung sana. Sementara Wonwoo terdiam di tempat kala melihat pemandangan yang menyesakan itu berada di depan matanya. Apa ini merupakan salah satu adegan dalam sandiwara yang Tuhan buat?

Wonwoo tersenyum getir saat melihat Vernon merangkul Jesya sembari mencium puncak kepala gadis itu di depan orang-orang tadi. Wonwoo benar-benar iri. Bukankah seharusnya Wonwoo yang berada di posisi Vernon?

Memikirkannya membuat Wonwoo melamun sampai-sampai pikirannya melalang huana entah kemana. Hingga pada akhirnya Wonwoo mendengar suara nyaring panjang yang membuat kepalanya pusing. Secara refleks, ia memegangi kepalanya yang sakit sembari menutup mata, mencoba menahan rasa sakit.

Kejadian jtu terjadi sekitar sepuluh detik. Detik selanjutnya saat bunyi tadi telah menghilang, Wonwoo membuka mata dan mendapati ia terbaring di sebuah ranjang dalam ruangan yang entah dimana tempatnya. Lelaki itu melihat-lihat sekelilingnya, dekorasi putih, ruangan cukup dingin, ada bau obat dimana-mana, selang infus melingkar di tangannya, dan.. oh, ini adalah rumah sakit. Kenapa ia berada disini, bukankah tadi Wonwoo berada di galeri?

Saat pikirannya sibuk bertanya, tiba-tiba seorang gadis muncul dari balik pintu dan langsung menghampiri Wonwoo dengan langkah gontai. Tak berselang lama, kini gadis itu berada tepat di sebelah Wonwoo. Wonwoo melihat sesuatu yang begitu familiar, mulai dari wajah,  rambut pirang bergelombang, mata besar bak boneka, dan… tidak salah lagi…. Wonwoo mengenali siapa orang yang berada dalam ruangan ini.

“Jesya?”

Gadis itu mengulas senyum dan matanya berbinar, seolah tak percaya. “Kau mengingatku?”

Wonwoo mengerutkan dahi. Apa yang dimaksud mengingat? Dan kenapa ia bisa ada ditempat ini? Bukankah tadi ia sedang bermesraan dengan Vernon di galeri?

Wonwoo tidak menjawab. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya. Sampai gadis itu duduk di dekat ranjang Wonwoo, Wonwoo tetap diam. Saat gadis itu menggenggam tangannya, Wonwoo baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu..

“Kau tahu? Aku tak bisa berhenti memikirkan keadaann mu setelah apa yang terjadi beberapa  waktu lalu. Selama itu aku tak berhenti menangis.” Gadis itu mulai terisak.

Well. Wonwoo melihat perbedaan itu dengan sangat jelas, perbedaannya ada pada mata gadis itu yang terlihat tidak baik. Ada lingkar hitam dimata gadis itu, bahkan tanpa diduga mata gadis itu terlihat membengkak. Sebenarnya apa yang terjadi padanya sampai gadis ini begitu khawatir? Dan apa yang membuatnya berakhir terlentang diatas ranjang pesakitan ini?

“A-apa yang terjadi?” Tanya Wonwoo pada akhirnya.

Sementara gadis bernama Jesya itu tak bisa menyembunyikan tangis yang berusaha ditahan.

“Beberapa waktu lalu, kau mengalami kecelakaan parah setelah mengantar ku pulang ke rumah. Aku benar-benar kehilangan kesadaran saat mendengar hal itu, apalagi ketika mereka mengatakan kau koma,” gadis itu menghela napas karena tak sanggup berkata-kata, “sekarang saat kau sadar, aku dihadapkan lagi dengan sebuah ujian. Kau mengalami amnesia. Awalnya aku takut menemui mulebih-lebih kau menanyakan siapa aku, aku benar-benar tidak sanggup mendengarnya.” Lantas ia tersenyum getir dan menatap Wonwoo. “Tapi saat aku datang dan bertemu dengan mu tadi, aku merasa lega karena kau tidak sepenuhnya melupakan ku, Wonwoo.”

Wonwoo terdiam. Ia tak bisa berkata-kata mendengar hal itu keluar dari bibir seorang Jesya. Sekarang ia mulai bertanya lagi dalam pikir, apa ini merupakan teka-teki? Apa ini masa depan Wonwoo? Atau mungkin ini adalah dimensi paralel, dimana ia yang lain hidup di dunia tersebut? Apa Wonwoo ada disini karena ia menggantikan Wonwoo lainnya yang sedang bersama Jesya?

Wonwoo sedikit tercengang. Pikirannya masih bertanya-tanya soal apa yang terjadi padanya sampai ia bisa terseret ke dunia ini. Tapi, dibalik pikirannya itu, Wonwoo merasa lega lantaran kisah cintanya di dunia lain tidak berakhir menyedihkan. Setidaknya Wonwoo lain memiliki kisah cinta yang berakhir bahagia bersama Jesya, benar?

Kali ini Wonwoo melihat gadis itu menghela napas lagi. Satu detik kemudian gadis itu berkata, “kita bertemu beberapa tahun lalu, saat aku berada di tahun kedua dan kau berada di tahun terakhir masa kuliah mu. O, dan ku dengar waktu itu kau mahasiswa exchange.” Gadis itu menatap Wonwoo berbinar. “Awalnya kita hanya berjalan bersama ketika hujan, kau mengantar ku pulang karena aku tidak membawa payung. Dari situ kita menjadi dekat, bahkan sangat dekat. Kau menyatakan cinta padaku di musim gugur dengan mawar merah cantik, tepat saat kau lulus kuliah. Satu setengah tahun berselang, aku menyusul mu, aku akhirnya lulus kuliah. Kau datang saat upacara wisuda ku dan langsung melamar ku dihadapan semua orang. Waktu itu aku berpikir, bagaimana aku bisa mendapatkan orang se-romantis dirimu? Bahkan aku sendiri tak menyangka kau akan melakukannya untuk ku. Sampai saat terakhir kita bertemu kemarin, kau masih melakukan hal-hal manis yang membuat ku tak bisa berkata-kata. “

Gadis itu tersenyum tulus, “aku sangat mencintaimu, Jeon Wonwoo. Meskipun kau telah melupakan kenangan yang terjadi, tapi aku tidak. Aku akan mengingatnya sampai kapan pun.”

Sebelum bertanya lebih jauh, Wonwoo mendengar suara itu lagi. Suara nyaring yang membuatnya pusing. Kembali Wonwoo menutup mata sambil memegangi kepalanya.

Wonwoo masih memegangi pelipisnya yang sedikit pusing lantaran mendengar suara aneh tadi. Masih teringat jelas dalam benaknya tentang kejadian yang baru saja ia alami. Dan saat membuka mata kembali, ia sudah berada di galeri lagi. Apa sekarang dunia tengah mempermainkan Wonwoo?

“Jeon Wonwoo!”

Sapa seseorang dari arah belakang dan tiba-tiba langsung merangkulnya. Secara refleks, Wonwoo menoleh ke samping kanan dan mendapati sosok Samuel tersenyum sambil melambai ke arahnya.

Sedari tadi, Samuel memang memperhatikan Wonwoo dari kejauhan. Ia memperhatikan cara seniornya memperlakukan Jesya. Bahkan disaat Jesya sudah memiliki pendamping pun Wonwoo tetap menyayangi gadis itu. Terkadang Samuel heran pada Wonwoo, tapi Samuel mengerti, mungkin lelaki itu sulit melupakan Jesya yang sudah sejak lama berada didekat Wonwoo.

“Singkirkan tangan mu itu, aku ini senior mu. Kau mengerti?” Protes Wonwoo yang di balas tawa oleh Samuel.

“Oh, ayolah, Wonwoo. Kau terlihat seperti tidak baik setelah berpisah dengan Jesya beberapa menit lalu.” Lelaki yang berada tiga tahun di bawah Wonwoo itu pun menurunkan tangannya. Lantas ia bersedakap. “Jangan buat dirimu menyedihkan begitu.” Sahutnya.

Wonwoo pun berdecak. Ia lantas membuang wajah, menatap lukisan di sebelahnya.

“Aku tahu kau sakit hati. Tapi setidaknya dia bahagia, benar kan?” Samuel menepuk bahu Wonwoo, “lihat disana! Kau lihat kan dia tersenyum?” Tunjuk Samuel kala Wonwoo menatap Jesya yang masih berada di tempat itu bersama Vernon.

Samuel menghela napas saat melihat ekspresi seniornya. “Kurasa Jesya menyukai Vernon karena dia mirip Leonardo Di Caprio, percayalah.” Seloroh Samuel.

Wonwoo pun menyipitkan mata ke arah Samuel, “begitu, ya?” Lantas lelaki itu berjalan meninggalkan Samuel yang memanggil-manggil nama Wonwoo.

Masih di tempat yang sama, Samuel melihat Wonwoo keluar dari galeri. Well, sepertinya lelaki itu perlu waktu untuk sendiri. Setelah beberapa menit berpisah dengan Jesya tadi, Samuel melihat tingkah Wonwoo mendadak aneh. Lelaki itu terus melamun menatap Vernon dan Jesya bergantian. Lantas Wonwoo mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Merasa aneh dengan tingkah Wonwoo, Samuel pun memutuskan untuk menyapa seniornya itu sebelum Wonwoo melakukan hal yang lebih aneh lagi dan berujung mempermalukan dirinya sendiri.

Cukup lama terdiam, Samuel lalu melanjutkan berkeliling galeri lagi sendirian.

-Epilog-

Pagi ini, Wonwoo pergi bersepeda ke Kowan Forest. Wonwoo memutuskan untuk meninggalkan dunia kota dengan mengujungi hutan pinus di sela-sela kesibukkannya sebagai mahasiswa semester akhir. Dan.. yeah, Wonwoo hanya pergi sendiri, sepertinya ia membutuhkan waktu untuk sendiri guna menginggalkan sejenak rutinitas yang ada dalam pikir. Meski begitu, tetap saja Wonwoo tidak bisa meninggalkan dunia seninya. Bahkan ia sampai rela membawa kanvas dan beberapa alat melukis lainnya dalam mobil. Jujur, tanpa melukis, hidupnya terasa hampa.

Well, setelah memarkir mobil Jeep-nya di dekat situ, Wonwoo langsung melajukan sepeda mengelilingi hutan pinus ini.

Dua hari berlalu sejak kejadian di National Galery of Australia. Masih teringat dalam benak Wonwoo bagaimana ia melintasi dunia paralel dan melihat Jesya tersenyum ke arahnya. Perkataan Jesya waktu itu sangat terngiang di telinganya.

Meskipun kau telah melupakan kenangan yang terjadi, tapi aku tidak. Aku akan mengingatnya sampai kapan pun

Kata itu membuat Wonwoo tak fokus dalam bersepeda. Apa Jesya sebahagia itu berada di dekat Wonwoo lainnya? Andai saja Jesya di dunia nyata mengatakan hal itu. Yeah, mau bagaimana lagi? Wonwoo tidak bisa mengubah takdir kan?

Tanpa sengaja, Wonwoo menyimpan rasa lega dalam diri karena mengetahui bahwa kisahnya dengan Jesya tidak sepenuhnya berakhir sedih. Dunia yang berbeda nyatanya menyimpan cerita yang berbeda. Dan hal ini juga membuka pikiran Wonwoo, bahwa masih ada masa depan yang menunggu jauh disana. Siapa sangka bila nantinya Jesya akan berbalik dan melihatnya. Melihat bagaimana kesetiaan dan perjuangan hati Wonwoo dalam menunggu Jesya.

Setidaknya satu kebahagiaan yang Wonwoo miliki telah ia berikan pada Wonwoo lainnya di dunia sana, sehingga Wonwoo lainnya dapat merasakan kebahagian bersama orang yang mereka cintai. Sama seperti di dunia ini. Satu kebahagiaan Wonwoo telah ia berikan pada Jesya, walaupun hatinya terlampau sedih. Melihat Jesya tersenyum itu saja sudah membuat Wonwoo senang. Benar yang dikatakan Samuel tempo hari lalu, setidaknya Jesya bisa tersenyum, meski bukan bersama Wonwoo.

Wonwoo pun menghentikan lajuan sepedanya kala melihat refleksi cahaya diantara celah dedaunan pinus. Matanya menelusuri tiap detil pohon pinus beserta dedaunannya yang tertimpa cahaya.

Sepertinya ini cocok untuk dijadikan mahakarya. Pikir Wonwoo.

Wonwoo lantas mengambil foto dari kamera yang sedari tadi ia kalungkan di leher, beberapa detik setelahnya, Wonwoo menurunkan kamera tersebut guna melihat hasil fotonya. Well, hasilnya memang bagus. Mungkin setelah ini ia akan kembali ke mobil, mengambil alat lukisnya dan segera melukis foto ini.

Masih melihat foto itu, Jeon Wonwoo bergumam, “Hadiah untuk Jesya. Komorebi ditengah celah dedaunan pinus, semoga pikirannya dapat terbuka.”

-Fin-

Iklan

One thought on “[Alone; All One; Al1] Open Your Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s