[Alone; All One; Al1] Last Chapter

Title : Last Chapter

Author : Ranyeng

Genre : Romance, sad

Length : Vignette

Rating : T

Cast :  Kim Mingyu [SVT]   Han Yejoo [OC]

Disclaimer : The story and OC is mine. Sorry for an absurd story and typos. Based on prompt : “ANOTHER CHAPTER OF MY LIFE BEGAN SINCE I MET YOU” Hope you enjoy it! ^^

Summary :

“Lampion adalah simbol dari sebuah kebahagiaan dan harapan dalam hidup. Aku memiliki banyak harapan, karena itulah aku ingin melihat ratusan bahkan jutaan lampion agar semua harapanku menjadi kenyataan.”

_________HAPPY READING__________

Hujan deras yang baru saja berlalu menyisakan rintik halus dan genangan air di jalanan kota Hoi An. Segelintir orang sudah mulai memberanikan diri turun ke jalanan meski harus sedikit berbasah-basahan. Namun beberapa orang lainnya masih banyak yang memilih tetap berteduh di toko-toko dan rumah makan untuk sekedar menghangatkan diri maupun menikmati aroma hujan yang tak kunjung hilang.

Tapi aku berbeda, aku tak memilih keduanya. Alih-alih berdiam diri atau berbasah-basahan ria aku lebih suka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan di bawah naungan payung yang terkembang. Membiarkan pandangan iri orang-orang menatap langkah kami di tengah rintik hujan.

“Bukankah sebaiknya kita berhenti di salah satu rumah makan itu, Mingyu-ya?” pertanyaan gadis di sampingku ini membuyarkan pikiranku.

Wae? Apa kau kedinginan?” aku akan memelukmu jika itu bisa menghangatkanmu. Kataku dalam hati.

Tapi Yejoo menggeleng, “Tidak, aku lapar.”

“Ah, baiklah.”

Dan begitulah cerita bagaimana romansa di bawah rintik hujan kami berakhir. Apa boleh buat jika alam telah memanggil, tentu saja perut kami lebih penting dari pada masalah romansa manis yang ku pikirkan.

Aku dan Yejoo menghentikan langkah di depan rumah makan dengan tulisan ‘TRUNG BAC” di atas pintu masuknya. Rupanya rumah makan ini cukup ramai, hampir semua mejanya sudah terisi. Untunglah kami masih mendapat tempat di pojok ruangan. Ketika kami duduk, seorang pelayan datang menanyakan pesanan kami.

“Kau mau pesan apa?” tanpa melihat menu daftar menunya Yejoo langsung menjawab, “Apa saja yang kau pesan.”

Hal ini membuatku bingung harus memilih apa. Nama-nama asing makanan menyerang mataku, tapi karena aku sebenarnya juga sedang kelaparan, ku putuskan untuk memilih makangan yang terlihat mengenyangkan, yaitu sejenis mie khas Hoi An yang disebut Cau Lau.

Cau Lau two, please.” kataku pada si pelayan wanita berbaju putih dengan corak bunga.

Two?” ulangnya sambil menatapku bingung. Apa ia tak tahu bahasa Inggris? Pikirku.

Yeah, two.” kataku lagi sambil membentuk huruf ‘V’ dengan dua jari kananku.

Setelah masalah pesan-memesan rampung. Akhirnya Cau Lau pesanan kami datang. Ketika aku hampir menghabiskan milikku, ku lirik mangkuk Yejoo yang masih penuh seolah tak tersentuh. Saat pandanganku naik menuju wajahnya, gadis itu justru sedang memangku kepalanya dengan tangan kiri sambil menatapku dalam diam.

“Kenapa kau tidak makan? Bukankah kau lapar?”

Yejoo mengendikkan bahunya, “Aku sudah kenyang melihatmu makan.”

Mwoya? Palli mogo.” aku menyendokkan sesuapan Cau Lau ke dalam mulutnya secara paksa. Yejoo memberengut kesal tapi ia tetap mengunyahnya.

Selesai mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan kami mengeksplor keindahan kota mungil penuh sejarah, Hoi An. Menyusuri jalanan lembab usai hujan mengguyur. Matahari kembali muncul dari balik awan kelam yang tersisa, namun kini telah sampai waktu baginya tuk kembali ke peraduan.

Lembayung senja sudah mulai menampakkan diri seiring cahaya temaram lampion mulai menghiasi sudut-sudut jalan. Menyinari rumah-rumah bertembok kuning di sepanjang jalan. Sebelumnya ketika cahaya matahari masih berkuasa atas hari, lampion-lampion itu hanya bak hiasan dinding biasa. Tapi menjelang malam, setiap lampion yang bersinar terlihat begitu menakjubkan. Tapi kurasa bukan hanya itu, bahkan tempat-tempat yang kita kunjungi sebelumnya benar-benar terlihat berbeda di malam hari.

Cahaya kuning kemerahan yang memancar dari ratusan lampion itu mengiringi langkahku dan Yejoo menuju sungai Thu Bon untuk menyaksikan festival lampion yang sangat di tunggu-tunggu Yejoo. Bahkan hanya dengan berjalan di bawah kemilau lampion itu sudah cukup untuk membuat mulut Yejoo terbuka lebar setiap kali ia melangkah.

Kami akhirnya sampai di sungai Thu Bon. Kerumunan orang terlihat lebih ramai disini. Suasana Hoi An ketika malam benar-benar berbeda. Aku sendiri tak percaya dengan apa yang kulihat. Kanal dan jembatan-jembatan tua yang menjadi pemandangan utama saat menginjakkan kaki di kota lampion ini telah di sulap menjadi sedemikian rupa. Seingatku siang tadi sungai ini hanya aliran air berwarna coklat keruh dengan perahu-perahu kecil di tepiannya. Tapi yang ada di depanku sekarang adalah pemandangan yang tak dapat ku gambarkan. Ini benar-benar indah.

Biar coba ku jelaskan. Sungai ini terlihat seperti langit malam yang begitu gelap, dengan taburan bintang-bintang yang bergerak pelan. Tapi perbedaannya adalah, bintang di sungai ini terbuat dari lilin kecil yang di tempatkan di dalam wadah  berbentuk bunga yang semakin mempercantik cahaya mungil dari lilin kecil itu. Memang ku dengar setiap sebulan sekali khususnya saat bulan purnama, warga Hoi An mengadakan festival lampion dengan melepaskan lampion. Tapi ali-alih menerbangkan lampion ke langit, orang-orang baik yang berada di tepian sungai, di jembatan, maupun di atas perahu yang tengah berlayar pelan di sungai Thu Bon semuanya berbondong-bondong menghanyutkan lilin bunga ke sungai sebagai ganti lampion, membiarkan gemerlapnya mengalir menerangi gelapnya sungai.

Di sekitar sungai banyak penjual lilin bertebaran, mulai dari yang menjajakannya dari orang ke orang maupun yang berdiam diri di tepi sungai menanti pembeli datang. Semua orang ramai berkumpul untuk merayakan festival lampion sebagai wujud rasa syukur yang di percayai masyarakat Hoi An.

“Aku juga ingin menghanyutkannya, Mingyu-ya!” seru Yejoo bersemangat. Bahkan saat berkata padaku matanya masih terpaku pada binar lilin yang mengapung di sungai.

“Baiklah, ayo kita ke tepi—“

“Ayo kita hanyutkan dari atas perahu!” mulutku masih menganga saat Yejoo memotong kalimatku seraya menarik lenganku ke arah salah satu perahu di tepi sungai.

Wanna ride?” pemilik perahu itu berkata saat kami berdiri di dekatnya.

Aku mengangguk, “Yes, two person.” sahutku lalu melangkah hati-hati ke atas perahu sambil memegangi tangan Yejoo. Saat kami berdua sudah duduk manis di atas perahu, si pemilik belum juga mulai mendayung.

Why we still here, sir?” tanyaku bingung. Sedangkan Yejoo sudah terlanjur excited memperhatikan keadaan sekitarnya tanpa memedulikan apapun. Ah, aku tak tahu kadang ia bisa terlihat sepolos anak kecil seperti ini.

Si pemilik menjawab dengan bahasa yang tak ku mengerti, tapi yang ku tangkap dari ucapannya hanyalah ‘more people’. Apa ia sedang menunggu penumpang lain? Tapi, hey. Aku hanya ingin berduaan dengan Yejoo di perahu ini. Apa biaya dari kami berdua saja tidak cukup untuk memenuhi penghasilannya?

“Mingyu-ya, palli!” Yejoo merengek sambil menggoyang-goyang lenganku. Gadis itu benar-benar sudah tidak sabar.

Can’t we just go now, sir?” akhirnya pemilik perahu itu setuju untuk mendayung perahunya ke tengah sungai setelah ku bilang akan membayarnya dua kali lipat. Harusnya aku tahu bahwa kebanyakan orang akan mengambil kesempatan ketika ada acara besar seperti ini.

Kami melaju pelan ke tengah-tengah sungai, berjumpa dengan puluhan lilin lain yang telah lebih dulu di hanyutkan oleh puluhan orang. Mata Yejoo mengikuti setiap lilin yang ia temui tanpa berkedip. Gadis itu tak bisa berhenti berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di depannya. Membuatku yang sejak tadi hanya memandangi wajahnya yang di terpa cahaya lilin menjadi ikut sejenak mengalihkan pandangan pada lilin-lilin cantik itu.

Kami hanya saling terdiam menikmati damainya suasana malam itu sampai suara lembut Yejoo tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam indera pendengaranku.

“Mingyu-ya…

Ku lihat ia meraih salah satu lilin yang sudah di siapkan pemilik perahu untuk kami hanyutkan. Ku tebak ia sudah tidak sabar ingin menghanyutkannya. Saat aku hendak mengambil ponsel untuk memotretnya, tiba-tiba Yejoo kembali melanjutkan kalimatnya.

“Kau pernah bilang bahwa bab lain dalam hidupmu di mulai sejak kau bertemu denganku, bukan?”

Keningku berkerut ketika mendengar penuturan Yejoo. Aku tak tahu mengapa ia menanyakan salah satu kalimat cheesy yang ku katakan ketika pertama kali menyatakan perasaanku padanya itu. Mungkin kenangan saat itu tiba-tiba muncul dalam benaknya karena suasana saat ini. Entahlah, tapi yang jelas aku hanya berdeham guna menjawab pertanyaannya.

Dan Yejoo terdiam cukup lama sebelum kembali berkata, “Lalu.. Bagaimana kau akan mengakhiri ‘bab lain’ itu?”

Aku memosisikan tubuhku menghadap gadis itu sepenuhnya. Berusaha mencermati kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Tapi pandangan Yejoo tetap tertuju pada lilin dalam bunga itu, ia tak balas menatapku.

“Apa yang kau bicarakan, Yejoo-ya? Aku tak pernah berniat mengakhiri bab ini.”

Kembali ada jeda panjang sebelum Yejoo membuka mulutnya. Suasana damai yang tadi ku rasakan mendadak membuatku gelisah. Seperti ada sesuatu yang tidak benar tengah terjadi. Dan ‘diam’-nya Yejoo membuat hal itu terasa semakin nyata. Membuat berbagai macam prasangka muncul dalam benakku secara bergantian.

“Tapi semua yang di mulai pasti akan berakhir, Mingyu-ya. Seperti lilin-lilin ini,”

Yejoo mulai mengangkat lilin itu dan meletakkannya di atas air, sebelum melepaskannya ia terlebih dulu merampungkan kalimatnya.

“Mungkin ketika aku mulai melepaskannya, lilin ini akan berlayar dengan damai mengikuti aliran air, tapi semua itu tak akan berlaku selamanya, lilin ini juga akan mencapai akhir-nya di hilir nanti.”

Lilin yang di lepaskan Yejoo terbawa arus air sungai semakin jauh dari kami. Hingga lama kelamaan lilin itu hanya menjadi satu titik dari sekian lilin-lilin lain yang berlayar menuju hilir sungai.

Aku terdiam menatap Yejoo. Senyum sendunya selaras dengan cahaya bulan yang terkalahkan ribuan lilin dan lampion di kota ini. Tapi bukan senyum itu yang ingin ku lihat. Aku merindukan senyum cerianya meski tak lebih dari beberapa menit yang lalu aku melihatnya.

Angin malam menerpa wajahku, membawa debu masuk ke dalam mataku yang tak berkedip memandangi Yejoo, seolah gadis itu dapat menghilang begitu saja jika aku mengalihkan pandanganku darinya. Ketika aku menggosok-gosok mataku tiba-tiba ponsel dalam saku-ku bergetar, ku raih benda persegi itu sambil mengedip-ngedipkan mata berusaha mengusir debu itu keluar dari mataku yang mulai berair.

“Halo?” bahkan tanpa melihat aku sudah hafal bagaimana caranya mengangkat telepon. Ku dengar suara ibuku di ujung sana menanyakan kabarku.

“Ya, eomma. Aku baik-baik sa—“

“Besok adalah peringatan hari kematian Yejoo, apa kau tidak akan pulang?”

Seketika mataku berhasil terbuka dan melihat dengan jelas, aku menoleh ke samping dan hanya mendapati bayangan samar Yejoo yang mulai menghilang tersapu angin.

“Yejoo-ya..” gumaman itu keluar dari mulutku bersamaan dengan lolosnya sebulir air mata yang jatuh mengaliri pipiku.

***

Semua orang memiliki harapan. Dengan harapan seseorang dapat menemukan kebahagiaan. Dengan harapan, seseorang memiliki tujuan hidup di masa mendatang. Karena kebahagiaan tak selalu berarti harus memiliki kekakayaan ataupun kekuasaan, tapi bagaimana kita bisa menjalani hidup ini bersama orang-orang tercinta dan berarti dalam hidup.

“Jadi karena itu kau sangat menyukai lampion?” pertanyaan itu di lontarkan seorang laki-laki pada gadis di depannya.

Gadis itu mengangguk, “Lampion adalah simbol dari sebuah kebahagiaan dan harapan dalam hidup. Aku memiliki banyak harapan, karena itulah aku ingin melihat ratusan bahkan jutaan lampion agar semua harapanku menjadi kenyataan.”

Senyum gadis itu merekah di akhir kalimatnya, keinginannya yang menggebu-gebu itu di rasakan laki-laki yang sejak tadi menemaninya.

“Kau sedikit serakah ya?” canda laki-laki itu. Si gadis mengerutkan keningnya seraya melayangkan pandangan curiga.

“Jadi kau tidak akan mengajakku pergi ke tempat dimana aku bisa melihat banyak lampion, huh?”

“Ei, mana mungkin. Aku pasti akan membawamu kesana. Jadi cepatlah sembuh agar kita bisa segera pergi bersama.” pungkas laki-laki itu sambil menaikkan selimut yang menyelimuti gadis itu.

***

Ingatan hari itu menelusup masuk ke dalam kepalaku ketika tersadar dari lamunan tanpa asa. Ku pandangi setiap potret yang ada dalam ponselku selama ada di Hoi An, tapi yang ku lihat hanyalah diriku seorang diri. Saat di Japanesse Covered Bride, toko lampion, Phuc Kien Assembly Hall atau pun di Central Market, tak ada Yejoo di sana. Semua hanya khayalanku semata. Rasa kehilangan yang tak dapat ku terima mengaburkan kenyataan yang harus ku terima. Bahwa kepergiannya telah mengakhiri bab yang tak ingin ku akhiri. Bahwa bab lain yang ku mulai, adalah bab yang terakhir dalam hidupnya.

Bab hidup yang di mulai karena sebuah pertemuan

Dan akhir yang tak pernah diinginkan

Hanya menyisakan kesendirian dan kehampaan

Lantaran sebuah kehilangan dan kepergian

-FIN-

Iklan

One thought on “[Alone; All One; Al1] Last Chapter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s