[Alone; All One; Al1] Giulietta a Verona

Giulietta a Verona

Author: Myanda P. C.

Genre: Sad, Romance, Drama

Length: Oneshot

Rating: PG-15

Cast: Jun SEVENTEEN dan Jennie BLACKPINK

Disclaimer: Author hanya meminjam nama para cast untuk kebutuhan cerita. Di dalam cerita, author menceritakan kalau Jun adalah warga Korea. Hope you enjoying.

Summary: Verona adalah kota dalam dongeng Romeo dan Juliet berkisah. Kota yang juga menjadi saksi mata pertemuan Jun dan Jennie.

~Myanda P. C.~

“Kau yakin akan pergi, nak?” tanya sang ibu kembali meyakinkan anak lelakinya. Lelaki yang tengah ditatap ibunya itu kembali tersenyum hangat mencoba meyakinkannya.

“Kau tak perlu khawatir, Bu. Aku akan baik-baik saja di sana. Hanya 3 hari, bukannya aku akan tinggal selamanya di sana. Lagipula aku akan pergi dengan Vernon.” Ia melirik lelaki di sampingnya yang hanya mengerling pada wanita tua di depan mereka. Lelaki itu tertawa kecil memancing sang ibu untuk melemaskan otot wajahnya yang sejak kemarin terlihat kaku.

“Ini acara reuni SMA-ku, Bu. Tidak sopan rasanya jika aku tidak hadir. Mereka pasti merindukan Romeo dari Korea ini. Aku juga .. merindukan dia,” lanjutnya yang terdengar lirih di akhir ucapannya.

“Jun ..” panggil sang ibu. Lelaki yang dipanggil namanya itu menaikkan alisnya. “Hati-hati. Pulanglah setelah urusanmu selesai. Jangan terlalu melarutkan perasaanmu di sana.”

Yes, Sir!” ujar Jun sambil mengangkat tangannya memberi hormat ala tentara. Ia tersenyum lebar lalu memeluk sang ibu sebelum ia pergi untuk menaiki pesawatnya. Sang ibu tahu, itu hanyalah senyum palsu yang sebaik mungkin Jun tampilkan untuknya.

Hei, mia juliet, il tuo romeo sta per venire!

~Myanda P.C.~

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 jam, Jun dan Vernon akhirnya tiba di Verona. Mereka sampai di rumah lama Jun tepat tengah malam. Keduanya memilih untuk tidur di sofa ruang tengah karena terlalu lelah untuk membersihkan kamar lebih dulu.

Paginya, Jun bangun lebih dulu karena mendengar suara berisik dari arah dapurnya. Dilihatnya seorang wanita setengah baya yang tengah memasak sesuatu di atas kompor. Juru masak keluarganya, Bibi Lee.

“Bibi Lee,” panggil Jun. Ia mendekati wanita paruh baya itu dan tersenyum lebar.

“Oh, Jun, anakku. Kau sudah bangun? Apa kau lapar? Tunggu sebentar dan sarapannya akan siap.” Pertanyaan bertubi-tubi itu dilontarkan dengan semangat pada Jun membuat lelaki itu tak kuasa untuk menahan pelukannya. Maid-nya yang satu ini memang sudah menganggapnya sebagai anaknya sejak ia pertama kali datang kemari. Ketahuilah, sebelum Jun tinggal di Verona dulu, ia tinggal di Korea dan kembali ke Korea kembali.

“Aku merindukanmu,” ujar Jun yang dibalas dengan perlakuan yang sama oleh Bibi Lee.

“Aku juga merindukanmu, Jun, anakku yang tampan. Ya ampun, kau sudah tumbuh semakin besar saja,” ucap Bibi Lee yang membuat keduanya tertawa.

“Panggil temanmu yang tampan itu. Sarapan sudah siap,” ujar Bibi Lee setelah acara peluk-pelukan mereka selesai. Ia menata masakannya di atas meja makan.

Bukannya membangunkan Vernon, Jun malah duduk di bangkunya dan mengambil sarapannya. “Dia akan datang dengan sendirinya setelah mencium bau makanan, Bi.”

“Woaahh! Dapur ini wangi sekali. Wah, makanan ini terlihat sangat lezat!”

Jun hanya terkekeh sambil menikmati sarapannya. Meninggalkan dua orang beda umur itu untuk saling mengenal. Sementara ia terlarut dalam pikirannya sendiri.

~Myanda P.C.~

Verona, 2013

“Hei, anak muda, dengarlah baik-baik. Saat kau membuka pintu, kau akan dihadapkan dengan takdir baru yang akan merubah hidupnya.”

“Takdir apanya? Hah, dasar peramal sialan. Aku jadi terlambat untuk menemui Nenek, lagipula hidup siapa yang akan ku rubah?” gerutu Jun yang mengingat ucapan perawal yang ia temui di halaman rumah sakit barusan.

Jduk!

“Sialan! Inikah yang disebut takdir?” gerutu Jun dengan wajah memerah. Pasalnya ia baru saja menabrak pintu utama rumah sakit. Parahnya lagi, itu adalah pintu otomatis. Bagaimana bisa pintu itu tidak terbuka saat ia berada di bawah sensornya? Bukankah itu suatu kesialan namanya?

Jun menaiki lift sampai ke lantai 5. Ia mencari bangsal kamar neneknya. Di depan kamar 504, ia berhenti sejenak untuk menarik nafas. Di tangan kirinya ada sebuket mawar kesukaan sang nenek. Ini adalah pertemuan pertamanya setelah sekian lama mereka tak bertemu. Jun baru saja sampai di Italia kemarin dan orangtuanya bermaksud untuk menyekolahkannya di sini.

Krieett.

Jun membuka pintu dengan senyum 5 jarinya. Ia begitu senang akan bertemu dengan sang nenek. Namun, bukannya di sambut oleh sang nenek, ia malah disambut oleh tubuh seorang gadis yang menabraknya dan membuat keduanya terjungkal di lantai rumah sakit. Bunga mawar itu berserakan di lantai akibatnya.

Bruukk!

“Nona Juliet! Anda mau kabur kemana lagi?” ujar seorang perawat dengan bahasa Italia dari dalam kamar.

Untuk beberapa detik, baik Jun dan gadis yang kelihatan seperti orang Korea itu saling memandang. Posisi keduanya terlalu dramatis untuk dikatakan. Sampai akhirnya sang gadis yang tersadar lebih dulu langsung bangun dan melesat sebelum perawat di belakangnya menangkapnya.

“Anda tidak apa, Tuan? Maafkan Nona Juliet,” kata sang perawat sambil membantu Jun berdiri. Ia hanya mengangguk. Kemudian perawat itu pergi ke arah perginya gadis bernama Juliet itu.

Tanpa minta maaf? pikir Jun. Ia melihat dengan lesu buket mawar yang dibawanya berserakan. Ia benar-benar merasa sial setelah mendengarkan ucapan peramal itu.

“Jun? Kaukah itu?” panggil seseorang dari dalam kamar dengan bahasa Korea.

“Nenek!” seru Jun yang langsung datang menghampiri.

“Ya ampun! Kapan kau sampai di Verona, sayang?” tanya sang nenek yang dihadiahi pelukan oleh sang cucu.

“Kemarin malam, Nek. Bagaimana bisa kau sakit dan tidak menyambutku di rumah?” ucap Jun merajuk yang terlihat sangat manja dengan sang nenek.

“Ya ampun cucuku ini. Maafkan nenek. Kurasa hipertensi-ku kambuh,” jawab sang nenek sambil mengusap kepala Jun.

“Kau sudah sampai Jun?” sapa sang ibu yang baru masuk dengan membawa bunga mawar yang dikutipnya di depan pintu. “Ku rasa ini milikmu, Bu.”

Ibu Jun menaruh bunga itu dalam vas. Menggantikan bunga lama yang sebelumnya ditaruh di sana. Senyum Nenek Jun mengembang.

“Kau begitu romantis,” puji sang nenek membuat Jun malu. Jun kemudian mengingat gadis yang menabraknya tadi.

“Ah, ya, Nek. Gadis tadi, apa ia di rawat di kamar ini?” tanya Jun penasaran.

“Maksudmu Juliet? Ya, ia di rawat di kamar ini bahkan sebelum aku masuk kemari. Ia juga orang Korea.” Wanita tua yang sudah dipenuhi keriput itu mengarahkan pandangannya ke arah kasur yang berada tepat di sampingnya. “Ia gadis yang nasibnya kurang baik.”

“Juliet? Haha. Lucu sekali. Memangnya ia Juliet yang hidup  dalam dongeng itu?”

“Kau ini.” Sang nenek mencubit pelan pinggang Jun membuat mereka tertawa bersama.

~Myanda P.C.~

“Jun? Hei, Jun! Apa yang kau lamunkan di pagi yang indah ini?” Vernon mencolek bahu Jun yang sejak tadi diam saja.

“Ah, tidak. Hanya teringat sesuatu saja.”

Bibi Lee tersenyum simpul. Ia tahu apa yang pemuda ini pikirkan. “Pukul berapa kau akan menghadiri reuni sekolahmu, nak?” tanyanya.

“Pukul 10, Bi. Bisakah Bibi mengajaknya berkeliling selama aku pergi? Aku tahu kakinya pasti sudah gatal ingin jalan-jalan.” Jun melirik sahabatnya yang terlihat kegirangan itu.

“Baiklah. Sebelum kau pergi, apakah kau mau aku membersihkan kamarmu lebih dulu, Jun?”

Lelaki itu menggeleng dan Bibi Lee sebenarnya sudah tahu akan jawaban Jun itu. Karena sejak itu, tak ada seorang pun yang diperbolehkan memasuki kamarnya. “Tidak usah, Bi, biar aku sendiri yang membersihkannya. Tolong bersihkan kamar tamu untuk Vernon saja.”

Bibi Lee tersenyum lirih. “Baiklah.”

Setelah sarapan, Jun langsung naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada. Ia berdiri menghadap pintu kayu itu. Meresapi setiap kenangan yang lalu lalang di pikirannya. Jun bahkan takut untuk memasuki kamarnya. Apa yang ada di dalam sana? Hanya kenangan pahit yang tertinggal begitu lekat. Membuatnya tak bisa melupakan hal sekecil apapun itu.

Kriieett.

Bunyi derikan pintu yang hampir berkarat menyapa indera pendengarannya. Bau lembab dan penuh debu yang menumpuk. Jun terbatuk kecil. Ia menutup kembali pintu kamarnya dan segera menuju jendela besar yang mengarah ke arah barat. Membukanya lebar agar udara bisa masuk.

3 tahun tak terjamah. Inilah yang terjadi pada kamarnya. Debu yang tebal dan banyaknya sarang laba-laba pada setiap benda dan sudut di sana. Tapi dulu sebelum ia pergi, seluruh barang di sana sudah ia tutupi dengan kain putih untuk menghindari penumpukan debu yang berlebih.

Dimulailah kegiatan pagi itu dengan Jun yang membersihkan kamarnya. Hingga jam menunjukkan pukul 9 ia bergegas untuk membersihkan dirinya dan pergi menuju sekolah lamanya yang berada tak jauh dari rumahnya.

~Myanda P.C.~

Verona, 2013.

“Ruang 3B. Hmm, dimana ya? Ah di sini ternyata,” gumam seorang lelaki berkebangsaan Korea itu mencari kelasnya. Ia adalah murid baru di sekolah itu, Verona International School. Ini adalah hari pertamanya dan jujur ia sangat gugup hingga timbul keringat dingin di dahinya.

“Baiklah Jun, hari ini akan berakhir dengan menyenangkan dan mereka pasti akan menerimamu,” ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya.

Cklek.

Duk!

Okay, sepertinya Jun memiliki masalah kutukan dengan sebuah pintu. Kenapa sejak kemarin saat ia membuka pintu selalu saja ada orang yang menabraknya? Seperti saat ini contohnya. Tidak sampai terjungkal seperti kemarin untungnya. Wajah gadis itu hanya menabrak dada bidangnya.

Gadis?

“Aww,” rintih gadis itu pelan. Ia kemudian mendongak menatap sang empu yang punya badan.

“Kau,” Jun menunjuk wajah gadis itu yang terasa familiar baginya. Matanya membola lucu sementara si gadis tak mempedulikannya dan segera berlalu dengan wajah angkuhnya. Jun sigap untuk menarik tangan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya sang gadis dalam bahasa Inggris. Jun membeku di tempatnya. Tatapan gadis itu terlalu mengintimidasinya. Hingga seorang murid datang menghampiri dan sang gadis menyentak tangan Jun berlalu kembali ke arah yang ia tuju.

“Hey, Bro, kau murid baru?” tanya murid berkulit hitam itu pada Jun. Mereka berbicara dalam Bahasa Inggris.

“Ah, ya,” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada punggung gadis itu yang semakin lama semakin mengecil. Ia terhipnotis oleh bayangan itu.

Verona now.

“Jun?” panggil seseorang di belakangnya.

“Ya,” jawab Jun tanpa mengalihkan pandangannya pada lorong kosong itu.

“Hei, Jun,” panggil orang itu lagi.

“Ya,” hanya jawaban singkat itu lagi yang keluar dari bibir tipisnya.

“Sadarlah Jun!” akhirnya orang itu menepuk pundak Jun yang sejak tadi diam saja. Jun akhirnya menoleh dan terkaget melihat teman masa sekolahnya kini berdiri di sampingnya.

“Ah, Ethan. Apa kabarmu?” ujar Jun kemudian memeluk dan melakukan tos seperti yang dulu sering ia lakukan dengan lelaki itu. Biarpun Jun hanya bersekolah di sana selama setahun, tapi, ia memiliki teman yang cukup dekat dengannya.

“Sangat baik. Apa yang kau lakukan di sini, Bro? Nostalgia dengan pintu kelas kita? Ayo ke aula, semua sudah berkumpul di sana,” ajak lelaki itu. Jun hanya mengikuti langkahnya dalam diam. Benar, kejadian tadi hanyalah putaran masa lalunya, awal perubahan hidupnya hingga ia menjadi seperti ini sekarang.

“Lupakan kesedihanmu, Jun. Kau tidak sendiri. Ada kami yang akan terus mendukungmu,” ujar Ethan yang hanya ditanggapi senyum tipis oleh Jun.

~Myanda P.C.~

Verona, 2013

Jun memandang keliling kelasnya. Mencoba mencari keberadaan gadis itu. Hingga matanya mengarah ke arah bawah jendela, dimana ia menemukan gadis itu sedang terduduk sendiri di halaman tak jauh dari kelasnya.

“Apa di kelas ini ada yang bernama Juliet?” tanya Jun pada teman-teman barunya. Saat ini mereka tengah menikmati waktu istrirahat.

“Juliet? Si gadis dongeng yang sombong dan aneh itu? Apa dia mengganggumu? Katakan pada kami, kami akan menghajarnya untukmu.”

Sepertinya ia bisa mencium bau pem-bully-an di sini. Jun menggeleng pelan. Ia pamit untuk keluar kelas pada mereka.

“Juliet-” gadis yang merasa namanya dipanggil itu menoleh pada datangnya suara. Jun berbicara dalam bahasa Korea. “-adalah sebuah cerita terkenal dari Italia yang-“

“Berhenti menggangguku dengan cerita itu. Pergilah, aku tak punya masalah denganmu,” jawab gadis itu dengan bahasa Korea pula. Ia bangkit dan hendak pergi. Tapi, lagi-lagi Jun lebih sigap menarik tangannya.

“Maaf, aku hanya senang memiliki teman yang mengerti bahasa Korea sepertiku.”

“Aku bukan temanmu,” jawab Juliet begitu angkuh. Ia menarik tangannya, namun, Jun lebih erat memegang tangan itu kali ini.

“Kalau begitu mari berteman,” ujar Jun sedikit memaksa. Ia bahkan memaksa tangan gadis itu untuk menjabat tangannya.

“Aku tidak butuh teman.” Angkuh dan sangat dingin. Begitulah deskripsi Jun untuk gadis dihadapannya ini.

“Jennie-” nama itu membuat Juliet berhenti meronta. Ia menatap Jun dengan tatapan yang sulit diartikan. “-Kim?” lanjut Jun. “Aku melihat kau menulis nama itu di atas pasir.” Jun melirik tulisan Hangul di atas pasir di dekat Juliet duduk tadi.

Inilah awal mula pertemanan keduanya. Walau bisa dikatakan hanya Jun yang menganggap ini pertemanan karena Juliet lebih sering mengabaikannya. Benar juga dugaannya, Juliet adalah korban bully di sekolah ini. Hampir setiap pulang sekolah Juliet akan diganggu dan para pengganggu itu akan berhenti mengganggunya saat Jun datang. Teman-temannya menganggap Jun aneh karena mau berteman dengan Juliet. Tapi Jun tidak pernah menanggapi hal itu.

“Kenapa kau terus mengikutiku?” tanya Juliet pada Jun yang berjalan di belakangnya. Juliet mengentikan langkahnya dan berbalik. Ini adalah kegiatan rutin Jun sepulang sekolah selama sebulan ia berada di Verona.

“Aku tidak melakukan itu,” jawab Jun gugup. “Ru-rumahku juga menuju jalan ini. Satu gang setelah gang rumahmu.”Jujur Jun. Juliet mendengus dan kembali berbalik.

Hari ini Juliet tidak pulang menuju jalan yang biasanya ia lewati. Ia berbelok ke kanan pada simpang pertama yang ditemuinya. Jun mengikuti dalam diam.

“Sudah kuduga kau memang mengikutiku,” ujar Juliet tanpa berbalik. Jun akhirnya mengalah. Ia melangkah mendekati Juliet.

“Maaf, aku hanya khawatir mereka akan mengganggumu lagi.”

“Aku tidak menyuruhmu untuk melindungiku,” jawab Juliet angkuh.

Jun menyamai langkah Juliet. “Ayolah, aku hanya ingin berteman denganmu.”

“Aku-“

“-tidak butuh teman. Ayolah Juliet, apa susahnya berteman denganku? Aku adalah orang yang baik,” ujar Jun percaya diri diiringi senyumnya yang kian melebar.

“Hei, kau mau kemana? Ini bukan jalan ke rumah, kan?”

Juliet mendiamkan Jun yang sejak tadi bertanya ini itu padanya. Hingga keduanya berada di depan sebuah bangunan yang memiliki menara yang sangat tinggi. Jun sampai takjub melihat bangunan yang sudah dibangun pada abad ke-12 itu.

“Wow! Tempat apa ini?” tanya Jun.

“Ini adalah Menara Lamberti, dari atas sana kau bisa melihat keindahan Verona sesunguhnya,” jawab Juliet yang langsung memasuki gedung itu. Jun tak bisa diam sejak tadi. Ia terus memekik takjub pada apa yang dilihatnya dari atas sana. Ia juga mengambil beberapa gambar dengan ponselnya, juga gambar Juliet yang ia ambil secara diam-diam. Matahari yang sudah mulai tenggelam meninggalkan berkas cahaya yang indah di langit. Jun menarik sudut bibirnya saat dilihatnya Juliet tampak menikmati saat itu.

“Jennie,” panggil Jun dengan nama asli Juliet.

“Hm?”

“Kenapa kau mengubah namamu menjadi Juliet?”

“Untuk menutupi identitasku sebagai anak haram dari pengusaha paling kaya di Korea, pemilik Kim Corp.,” jawab Juliet tanpa takut Jun akan menjauhinya setelah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

“Kim Corp? Benarkah?” tanya Jun dengan mata membulat.

“Aku diasingkan ke Verona agar tidak ada media yang tahu tentangku. Bahkan aku tak pernah mengetahui keberadaan ibuku. Ayah bahkan melarangku untuk berteman.” Juliet bercerita dengan tatapan sendu. Jun merasa tidak enak dengannya.

“Maaf, aku tidak bermaksud-“

“Tak apa. Kau temanku, kan, sekarang?” Juliet melirik Jun yang masih membulatkan matanya.

“Te-tentu saja. Kau bisa bercerita apa saja padaku. Aku akan mendengarkan dengan baik.”

“Kau harus mentraktirku makan sebagai bayaran membawamu ke sini,” ujar Juliet yang berjalan menuruni menara.

“Ki-kita akan kemana setelah ini?”

“Piazza delle Erbe.”

Jun hanya mengikuti langkah Juliet. Beberapa kali gadis itu akan tersandung dan hampir jatuh. Jun dengan sigap menangkap tubuh ringannya. Ringan sekali tubuhnya, pikir Jun.

“Aku yakin kau belum berkeliling Verona selama kau tinggal di sini,” kata Juliet memulai percakapan.

“Aku banyak mengahabiskan waktu di rumah.”

“Pekan nanti luangkan waktumu. Aku akan mengajakmu berkeliling kemudian menonton opera di Roman Arena.”

“Benarkah?” tanya Jun yang hanya diangguki oleh Juliet.

“Kau tidak seangkuh yang kulihat selama ini,” ujar Jun jujur.

“Apa aku terlihat seperti itu?”

“Ya-ah-tidak ..ah,” Jun tampak salah tingkah saat ini. Juliet tersenyum geli melihatnya. Jun yang baru kali ini melhat Juliet tersenyum ikut tersenyum lebar.

“Ju-Juliet, kau mimisan?”

Juliet buru-buru menutupi hidungnya dengan tisu. Ia mengangkat wajahnya ke atas agar darahnya tidak keluar lagi.

“Aku sedikit lelah. Akh!” Juliet memekik pelan sambil memegangi kepalanya. Jun panik bukan main. Terlebih saat ini wajah Juliet terlihat sangat pucat.

“A-aku tak apa,” kata-kata itu tak dapat menenangkan Jun karena setelahnya Juliet pingsan. Ia membawa Juliet ke rumah sakit. Sebuah kenyataan pahit di dengarnya malam itu, Juliet selama ini mengidap kanker otak stadium akhir. Dokter menyarankan gadis itu untuk di rawat di rumah sakit saja.

Setiap hari Jun berkunjung ke rumah sakit dan menghibur Juliet. Hal yag ditakutkan Julietpun terjadi, kenyatan bahwa Jun akan meyukainya. Ia sadar, hidupnya tidak akan lama lagi. Membalas perasaan lelaki itu hanya akan meninggalkan luka bagi Jun nantinya.

“Aku menyukaimu, Juliet, Jennie Kim,” ucap Jun setiap harinya dan hanya dibalas oleh seuntai senyum lirih Juliet.

Ini adalah bulan ketiga Jun berada di Verona. Ia banyak bercerita tentang Juliet pada ibu dan neneknya. Ia bahkan sering mengajak Juliet ke rumahnya membiarkan Juliet merasakan kehangatan sebuah keluarga. Keduanya sering menghabiskan waktu di balkon kamar Jun, menikmati matahari terbenam dari sana.

“Jun, terima kasih sudah menjadi temanku selama ini. Terima kasih sudah membiarkanku merasakan kehangatan sebuah keluarga. Terima kasih sudah membuat hatiku terasa hangat,” ujar Juliet sambil tersenyum pada Jun. Jun memeluknya hangat dari belakang.

“Maaf sudah merepotkanmu selama ini.” Jun menggeleng mendengar itu.  Ia bahkan menangis tersedu. Juliet menghapus air mata itu.

“Maaf aku tidak bisa mengajakmu berkeliling Verona lagi. Pergilah dengan gadis yang cantik, sehat dan memiliki rambut yang indah.”

“Tidak, hiks.”

“Waktu ini terlalu singkat, tapi aku sudah mencintaimu sejak pertama kita bertemu di rumah sakit, Jun.”

“Jennie ..”

“Aku mencintaimu, Jun,” ucap Juliet sebelum ia menutup matanya menuju peristirahatan panjangnya.

Jun mengalami depresi saat Juliet meninggal. Ia memasang foto Jennie di setiap sudut kamarnya dan melarang siapapun masuk. Sepeninggal Jennie adalah masa-masa terburuk yang dialami Jun. Hingga mereka pindah ke Korea kembali untuk menenangkan Jun yang sudah seperti orang gila. Menangis seharian di kamar sambil meneriakkan nama gadis yang dicintainya.

~Myanda P. C.~

Vernon tercengang mendengar cerita masa lalu sahabatnya itu. Ia tak menyangka Jun pernah berada di dalam masa sesulit itu pada masa mudanya. Bibi Lee menceritakan semua kejadian yang ia tahu sambil berkeliling. Sesekali air matanya akan turun saat mengingat kejadian yang dilalui Jun di masa lalu.

Di waktu yang sama, Jun sudah pulang dari acara reuninya. Ia kembali ke kamarnya dan mulai bernostalgia dengan barang-barang yang ada di sana. Foto Jennie yang ia sebar di segala sudut kamarnya dan meja belajarnya. Tak ada ruang kosong tanpa gambar Jennie di sana.

“Hei, Juliet, apa kabar? Kau pasti sudah bahagia di sana kan? Tetaplah bahagia dan tunggu aku,” Jun berbicara sendiri sambil melihat matahari yang perlahan mulai tenggelam dari balkonnya. Tempat perpisahannya dengan Jennie.

“Aku juga akan bahagia dengan caraku sendiri. Sendiri dan tanpamu. Aku tidak akan menjadi Romeo seperti dalam dongeng itu. Aku akan menjadi Romeo-mu sendiri.”

~END~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s