[Alone; All One; Al1] Reminisce

Judul : Reminisce.

Nama Author : PinkMochi (before : MinJ28, I’ve changed it in comment section)

Genre : Sad, Friendship | sub tema : Alone : Why did you go far away?

Length : Ficlet

Rating : G

Cast : Joshua (Hong Jisoo), Yoon Jeonghan, Jennie (OC), Lee Chan

Disclaimer : I only own the idea. Casts are belongs to god, their parents, and fans;)

Summary: Kadang, beberapa orang harus kita relakan ‘pergi’ agar mereka bahagia

Note : kalimat dalam format italic berarti flashback

Reminisce
by PinkMochi

Memakan waktu kurang lebih 5 jam dari Korea untuk sampai di Bandara Internasional Đà Nẵng, Vietnam. Ditambah kurang lebih 45 menit untuk sampai di sebuah kota yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia, Hoi An.

Pria paruh baya bertubuh gempal itu bersabar mengantri giliran untuk mengambil koper di Bagage Claim Area. Sesekali melihat ke arah Rolex abu yang bertengger di lengannya. Baru 10 menit mengantri, badannya sudah merasa lelah.

Bagi pria dengan balutan kemeja kotak-kotak yang dimasukkan kedalam jeans panjangnya dan dilapisi jaket Harrington cokelat tua, perjalanan itu sangatlah melelahkan. Apalagi tidak ada sanak saudara yang menamani. Berbekal koper kecil dan tas selempang, Hong Jisoo menapaki jejak-jejak masa lalunya di kota tua nan romantis itu.

“Welcome to Vietnam!” Sorak Jennie begitu menapakkan kaki di Bandara Internasional Đà Nẵng, Vietnam, disusul tangannya yang terangkat ke atas plus senyum merekah menampakkan deretan gigi yang tersusun rapi. 

“Yak! Cepat cari taksi! Tidak perlu bergaya seperti di film-film.” Jeonghan menyenggol bahu Jennie seraya berjalan. Sementara Joshua hanya terkekeh. 

“Yak Yoon Jeonghan! Menghancurkan suasana saja!” Jennie berlari kecil mengejar Jeonghan yang sudah 3 meter di depannya kemudian Joshua menyusul.

Jisoo meresapi tiap hembusan angin yang mengenai wajah keriputnya. Matanya asik memandangi pemandangan kota Đà Nẵng.

“Jembatan yang kita lewati saat ini adalah jembatan yang terkenal karena patung naganya. Pada hari dan waktu tertentu, kepala naganya mampu mengeluarkan semburan api dan tata cahaya LED yang menakjubkan. Nama jembatan ini adalah..”

“Dragon bridge.” Potong Jisoo sebelum supir taksi itu menyelesaikan kalimatnya.

“Wah tuan sudah tau rupanya.”

‘Tentu saja aku tau.’ Gumam Jisoo dalam hati.

“Pak, bisa berhenti disini sebentar?” 

“Yak Jennie, apa yang mau…?”

Kalimat Jeonghan belum terucap sepenuhnya tapi supir taksi sudah terlanjur menuruti permintaan Jennie dan gadis itu cepat sekali menghilang dari kursi penumpang. Joshua menyusul tanpa ragu.

“Yak Hong Jisoo!” Tinggallah Jeonghan dibangku penumpang, kesal.

Dengan langkah malas, Jeonghan menyusuli keduanya.

“Jeonghan-a, tolong foto aku dan Shua.” Langsung saja Jennie menyodorkan kamera sakunya. Tidak peduli wajah Jeonghan yang menahan marah. 

Joshua sedikit terkejut. Foto bersama?

Ya, pria bernama asli Hong Jisoo itu agak telat mengenal Jeonghan dan Jennie yang sudah berteman sejak SMA. Mereka tidak sengaja bertemu saat menonton drama musikal kampus. Ia juga seorang introvert, tidak mudah nyaman dengan orang lain, apalagi perempuan. Jeonghan dan Jennie, dua orang yang berhasil memberi warna baru di hidup Joshua.

Ini pertama kali Ia foto dengan Jennie. Biasanya mereka foto bertiga, atau Jeonghan dan Jennie yang sibuk selfie bila mereka pergi ke tempat baru, khas anak muda.

“Shua-ya, kenapa berdiri jauh begitu?” Jennie segera menarik lengan bebas Joshua. Membuat dunia Joshua seolah terhenti.

Hoi An tidak banyak berubah setelah hampir 40 tahun berlalu. Hanya beberapa bangunan terlihat baru. Mungkin diperbaiki agar tetap kokoh dan dicat ulang agar lebih segar. Tapi jajaran toko souvenir, galeri dan restoran masih meninggalkan kesan yang sama. Setidaknya itulah yang ditangkap netra Jisoo.

Hoi An pun masih ramah pejalan kaki, itu bagian favorit Jisoo sejak pertama kali datang kesini.

Jisoo memutuskan mampir di sebuah restoran untuk mengisi perutnya sekaligus menunggu orang yang akan menjemputnya.

“Shua Hyeong!” Tepat disuapan terakhir, seseorang meneriakkan nama Jisoo- nama panggilannya waktu muda.

Jisoo menoleh dan mendapati Chan, adik sepupu Jeonghan berdiri tak jauh dari tempatnya duduk dan Chan tidak sendiri.

Keduanya saling berpelukan.

“Chan-a, sudah tidak ada yang memanggil ku Joshua lagi. Nama itu terlalu muda untuk orang ‘tua’ sepertiku.”

“Ah Hyeong, Kau tetap terlihat muda.”

 “Hyeong, apa kabar?” Lanjut Chan ramah.

“Seperti yang bisa kau lihat, sangat baik, sangat gendut dan sangat tua.”

Keduanya terkekeh.

Jisoo berjongkok sedikit. Menyamakan posisi dengan seseorang yang datang bersama Chan. Seorang periang yang kini berjalan dengan bantuan kursi roda.

Oraenmanida, Jennie-ya.”

Tanpa sadar langit biru beralih menjadi kemerahan. Untuk menutup petualangan hari ini, ketiganya memilih Japanese Cover Bridge sebagai tujuan akhir sebelum kembali ke hotel, salah satu daya tarik wisata yang terkenal bila mengunjungi Hoi An. 

“Ayo buat harapan!” Siapa lagi kalau bukan Jennie yang memerintahkan itu.

Tidak ada protes, ketiganya segera menutup mata dan mengucapkan harapan masing-masing dalam hati. 

“Aku tadi berharap agar kita selalu sehat dan bahagia.” Ucap Jennie kemudian menyunggingkan senyuman.

“Apa harapanmu shua?” Sambungnya kemudian.

“Aku  berharap agar kita selalu sehat,  kuliah lancar dan segera lulus.”

 “Eeyyy…” Ucap Jennie dan Jeonghan bersamaan sekaligus memberi lirikan bermakna  -harapanmu terlalu monoton- pada Joshua.

“Kalian tidak penasaran dengan harapanku?” Tanya Jeonghan setelah hening beberap saat karena tidak ada yang menanyakan harapannya. 

“Harapanmu pasti tidak penting. Palingan kau berharap agar Profesor Kim tidak memberimu nilai C lagi, karena kau terlalu sering ketahuan tidur di kelas.” Jawab Jennie seraya mengejek. 

“Yak! Aku serius kali ini!” Jeonghan tidak terima diejek, walaupun ejekan Jennie ada benarnya. 

“Baiklah, apa harapanmu Tuan Yoon?” Joshua kini bertanya. 

“Eumm… aku harap Jennie mau menjadi kekasihku.” 

Dunia Jennie terhenti.

Bukan. Bukan hanya Jennie. 

Dunia Joshua juga.

Keduanya menyusuri tepi Sungai Thu Bon. Beberapa sampan mengarungi sungai itu, berawakkan pemilik perahu dan 2-4 orang turis. Turis-turis pun tidak meninggalkan kesempatan untuk melarung lilin yang diletakkan diatas kertas berbentuk mahkota. Sebuah kegiatan yang dipercaya sebagai cara untuk melepaskan diri dari hal-hal negatif.

“Setelah pernikahan, aku dan Jeonghan melepas lilin di sungai ini.” Jennie akhirnya membuka suara. Suaranya parau.

“Sayang kau tidak bisa hadir di acara pernikahan kami.” Tambahnya kemudian.

Sebuah keberuntungan berpihak pada Jisoo kala datang hari sakral Jeonghan dan Jennie. Ia ditugaskan oleh perusahaannya ke Jepang untuk beberapa hari. Jisoo pun tidak perlu susah payah menebar senyum palsu di pesta orang yang disayanginya itu.

“Mau membuat harapan lagi sembari melarung lilin?” Jisoo memberi penawaran.

“Hhh…” Jennie menghela napas.

“Harapanku selalu sama seperti 40 tahun lalu. Tapi kurasa tidak mungkin untuk terkabul.”

“Aku sakit-sakitan, Jeonghan sudah tidak ada, aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa bahagia.” Nada-nada pasrah terdengar jelas dari tiap kata yang diutarakan Jennie.

Lalu tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata untuk beberapa saat. Jisoo berniat menyemangati tapi yang akan disemangati nampaknya memang sudah tak berharap banyak.

 “Jennie-ya, berbahagialah. Sesulit apapun itu, berbahagialah.” Jisoo menggenggam erat kedua pundak Jennie dari belakang. Hanya itu yang bisa terlontar dari bibirnya.

—–

Jisoo membawa 2 buket bunga di tangannya. Yang satu untuk Jeonghan dan satunya tentu saja untuk Jennie. Sampai di tujuan, Ia memunguti beberapa daun yang berjatuhan kemudian meletakkan bunga itu diatas ‘rumah’ Jeonghan dan Jennie. Rumah tempat peristirahatan terakhir mereka.

Jauh. Jennie pergi ‘jauh’ setelah memilih Jeonghan untuk menjadi pasangan hidupnya. Jennie dan Jeonghan pergi semakin ‘jauh’ setelah dunia merasa cukup dengan peran keduanya.

Miris. Jisoo tidak hadir di hari bahagia sahabatnya. Ia justru hadir kala satu per satu dari mereka meninggalkan dunia dan  hanya bisa sesekali bersua dengan gundukan tanah dan nisan keduanya.

Sebelum menyudahi kunjungannya, Jisoo menempelkan catatan kecil di nisan pasangan itu.

Berbahagialah, seperti aku yang selalu berbahagia untuk kalian.’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s