[Alone; All One; Al1] The Truth About Forever

The Truth About Forever

By ravenclaw

Kwon Soonyoung (SVT) & Ahn Jiyoung (Bolbbalgan4) | Fluff, Friendship, Drama, Hurt/Comfort | Teen | Oneshoot

Menghabiskan waktu lima tahun itu tidak sulit, bukan?

0o0o0o

Soonyoung baru saja menginjakkan kedua kakinya di Long Island Mac Arthur Airport. Ia lupa bandara itu terletak di kota mana karena kota itu tapi yang pasti masih dekat dengan New York.

Terlihat ia kerepotan membawa dua buah tas yang beda kapasitasnya. Yang satu tas ransel besar untuk menyimpan segala keperluannya, satunya lagi hanya sekedar tas selempang kecil tempat menyimpan segala benda berharganya. Bahkan salah satu benda yang membuatnya hidup saat ini pun masih ia bawa, meskipun ia sangat membencinya mengingat ia harus butuh barang itu juga.

Soonyoung menghela napas sejenak. Nekat datang ke kota yang baru ia ingat bernama Brooklyn ini membuatnya pusing. Ia harus mencari taksi dan soal sewa apartemen termurah di kota yang katanya sering menjadi lokasi syuting film itu. Mengingat ia tidak membawa banyak uang.

0o0o0o

Soonyoung mengamati jajaran bangunan tinggi di daerah Brooklyn Heights. Kata sang sopir, daerah ini merupakan penyedia sewa apartemen paling murah di Brooklyn. Bahkan ia sudah mendapatkan sebuah kartu nama berisi alamat apartemen yang dimaksud.

Tak lama kemudian ia masuk ke sebuah pintu apartemen yang dihadapkan langsung kepada meja resepsionis. Ia harus menunggu seseorang dan sekarang Soonyoung sudah duduk di sebuah sofa, menunggu seseorang yang katanya pemilik apartemen sepuluh tingkat ini. Ia membuka sebuah notifikasi yang menumpuk pada ponselnya. Terdengar ia berdecak. Sepertinya ia harus mengganti nomor ponsel dan seluruh akun sosial medianya setelah nego sewa apartemen ini.

“Ah, kau rupanya. Eh, kau orang korea, ya?” terdengar suara ibu paruh baya menyapa rungunya. Soonyoung mendongak lalu mengangguk singkat.

“Ah, maaf menunggu lama,” sekali lagi ia mengangguk. Tidak apa, pikirnya.

Ibu-ibu itu memberinya sebuah kunci apartemen kepadanya, “kau bisa menggunakan kamar nomor dua ratus tujuh di lantai tujuh. Soal sewa, kau bisa membayar seikhlasnya. Aku tahu kau kesini mencoba hidup mandiri. Jadi…”

“Berapa harga sewa selama lima tahun?”

Ibu-ibu tersebut melongo menatapnya, “lima tahun? Kau ingin bayar lunasnya?” Soonyoung mengangguk singkat.

Terdengar angka dalam dolar menyapa rungunya. Soonyoung sedikit panik untuk soal ini, ia belum sepenuhnya menukarkan uang wonnya menjadi dolar. Tapi, tidak masalah, kan?

“Aku baru adanya segini kalau untuk dolar, sisanya…”

“Tidak usah, kau bayar seikhlasnya saja. Kalau kau tidak sanggup membayar lunasnya, anggap saja kau sudah bayar lunasnya,” ujar ibu tersebut dengan ikhlas.

“Anda yakin?” ibu-ibu itu mengangguk antusias. “Kau bisa tinggal di sini semaumu, tapi kau harus tahu aturan. Kau tahu kan, apartemen seperti ini pasti banyak orang baru setiap harinya,” ia mengangguk-anggukkan kepala sekali lagi, sekedar formalitas.

Toh, ia juga tidak ada waktu untuk bergaul dengan orang sekitar.

“Kalau butuh bantuan, kau bisa ke kamar sebelahmu, ya?” ujar ibu itu sebelum ia benar-benar masuk ke dalam lift.

0o0o0o

Sudah seminggu ini Soonyoung mendekam di dalam apartemen sewaannya. Banyak yang harus ia persiapkan selama masa hidupnya di kota asing ini. Sudah cukup ia mendapat banyak bantuan dari si ibu pemilik apartemen ini. Informasi tentang Brooklyn, pencarian kerja setiap bidang yang beliau ketahui, serta baru saja ia mendapat uang dolar barunya dari ibu pemilik apartemen yang setelah dihitung-hitung melebihi dari jumlah yang seharusnya.

Ia tidak mau lagi merepotkan orang lain. Lagi pula ia ingin benar-benar lepas dari kehidupan masa lalunya. Baru saja hendak menutup laptopnya, terdengar dering ponselnya. Dilihat siapa yang meneleponnya.

Sial, kenapa nomor ponsel lamanya masih bisa dihubungi meskipun ia berada di negeri orang.

“Ya?”

“Kau kemana, Soonyoung?”

“Tidak usah mengkhawatirkanku.”

“Tapi, nak…”

“Bu, tolong…”

“Jangan lupa diminum ya…”

Klik!

0o0o0o

Sudah dua minggu ini Soonyoung tidak pulang ke apartemennya sama sekali. Hanya kesana untuk mengambil beberapa barangnya lalu pergi lagi dengan mobil pinjaman.

Perkembangan yang pesat menurutnya. Seminggu yang lalu ia baru saja diwawancara oleh salah satu majalah terbit mingguan. Menyuruhnya untuk menginap yang mau tidak mau harus berurusan dengan pihak apartemennya yang sudah terlalu mengkhawatirkannya, takutnya tersesat katanya. Seminggu kemudian dia sudah mendapat pekerjaan yang diinginkannya, membuatnya harus bolak-balik Brooklyn – New York dan kembali berurusan dengan pihak apartemennya lagi. Kali ini dengan tetangga sebelahnya yang ia ketahui menjabat sebagai anak dari ibu pemilik apartemennya.

“Dari mana?” terdengar pertanyaan menyapanya kala ia baru saja mengeluarkan kunci apartemennya. Mendapati seorang gadis berambut pirang dengan wajah oriental yang sama sekali tidak cocok dengan warna rambutnya.

“Apa urusanmu?” tanyanya balik sembari membuka pintu apartemennya.

“Ibu mengkhawatirkanmu,” ujar gadis itu akhirnya.

Lagi.

“Harusnya beliau mengkhawatirkanmu yang pulang malam seperti saat ini,” balasnya sedikit menyindir.

Gadis itu tersenyum kecil, “aku sudah izin kepada ibu kalau aku baru saja mengajar kelas musik sampai malam. Lagipula, bulan depan anak-anakku akan lomba dan mereka mengajukan kelas malam padaku. Aku juga baru saja pulang dari Chinatown,” jelasnya tanpa diminta.

“Oh.”

Gadis itu berdecak, “kau belum menjawab pertanyaanku, Tuan Kwon,” kata gadis itu sedikit tegas.

Kali ini Soonyoung menghentikan aktivitasnya, menatap gadis itu tajam. “Aku baru saja pulang kerja. Dan sekarang jangan ganggu aku,” balas Soonyoung sembari menutup pintu apartemennya.

Gadis itu tersentak dengan suara hantaman pintu apartemen sebelahnya. Menyebalkan sekali mempunyai tetangga seperti dia, pikirnya. Tetapi, kalau tidak salah ia baru saja melihat kalau pria itu baru saja menggenggam sebuah botol kecil.

Oh iya, kenapa ia harus memikirkan itu? Besok kan, ia harus mengajar lagi, bukan?

0o0o0o

Ahn Jiyoung namanya. Seorang gadis berwajah oriental yang ia ketahui sudah terlalu lama tinggal di negeri Paman Sam. Terkadang sering lupa akan bahasa ibu kalau saja ibu dari gadis itu tidak sering mengajak berbicara dalam bahasa kampung halamannya itu. Bibir mungilnya sudah terbiasa untuk berucap dalam bahasa inggris.

Yang Soonyoung ketahui hanya itu saja. Itupun juga ia dapat langsung dari ibu pemilik apartemennya. Oh, selain itu Jiyoung juga merupakan guru musik di sekolah seni, Juilliard. Jangan tanya padanya, ia juga tidak tahu dimana letak sekolah seni yang katanya mendunia itu.

Baru saja ia hendak membuka pintu, terdengar suara ketukan. Soonyoung berdoa supaya ia tidak berurusan dengan gadis yang membuatnya kesal selama dua hari ini.

“Apa?”

Ternyata permohonannya tidak terwujud sama sekali.

Jiyoung mengangkat kedua bahunya, menunjukkan sebuah nampan berisi lauk pauk lengkap dengan jus jambu yang menggugah selera. Soonyoung menatap Jiyoung dengan alis sebelah yang terangkat. Dan Jiyoung hanya berkata, “kata ibu, kau belum pernah makan bersama di apartemen ini. Mungkin kau sibuk dengan pekerjaanmu dan kau mengabaikan peraturan untuk ikut makan bersama setiap seminggu sekali,” ungkap Jiyoung.

Soonyoung hanya diam menatap Jiyoung dan gadis itu merasa sedikit bingung mengapa harus ditatap seperti itu olehnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menaruh nampan tersebut di lantai lalu pergi meninggalkan pria itu.

Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkannya, Jiyoung sempat berkata, “nanti kembalikan piringnya di depan pintu kamarku.”

Sepeninggal gadis itu, Soonyoung membawa nampan tersebut ke dalam apartemen. Memakannya dengan lahap, seperti belum pernah makan sebelumnya.

Lupa akan nasib sebenarnya.

0o0o0o

Soonyoung berdecak kesal. Lagi-lagi ia merepotkan orang, pikirnya. Dan ia benci hal itu. Niatnya pergi bukanlah seperti ini dan juga tidak seperti ini. Dirinya tidak mau dikasihani. Ia butuh sendiri tidak butuh yang lain.

Toh, kalau orang lain tahu bahwa ia memiliki sebuah aib yang melekat dalam dirinya, pasti ia akan dibuang dan diusir lagi dengan cara halus. Sudah cukup ia diperlakukan seperti itu selama lima tahun oleh orang-orang terdekatnya dulu.

Apa ia harus mempersingkat waktu saja?

Tapi ia masih ingin melakukan banyak hal. Tapi ia juga tidak mau terlihat seperti ini lagi.

Jadi, harus bagaimana?

Soonyoung melirik botol kecil di nakas tempat tidurnya itu. Sudah berapa tahun botol kecil itu menemaninya dan sekarang ia benar-benar kesal. Dan…

Pyar!

Botol tersebut memuntahkan isinya sekaligus terpecah menjadi beberapa bagian. Diiringi napas yang memburu, terlihat pria itu hendak meneteskan likuid bening di wajah pucatnya.

“Sialan!” teriaknya.

0o0o0o

“Jiyoung,” panggil sang ibu.

Gadis itu sedikit tersentak akan harumnya aroma cokelat buatan sang ibu. Ia tersenyum sembari mengucapkan terimakasih.

“Bagaimana kabar Soonyoung?” Jiyoung sedikit menoleh lalu kembali menikmati cokelat panas. “Biasa saja, sering berbicara kasar pada wanita,” ujarnya menyimpan dendam.

Ibunya tertawa kecil mengelus puncak kepala putri semata wayangnya, “mungkin dia sedang beradaptasi, Young-ah,” hiburnya.

“Tapi ini sudah dua bulan, bu. Masa…”

“Setiap orang itu beda-beda, Young,” Jiyoung mengangguk singkat sembari meneguk kembali minumannya yang mulai menghangat.

“Dia dapat pekerjaan apa? Sepertinya dia sibuk sekali.”

Jiyoung sedikit berpikir, “aku pernah mendengar dari obrolan teleponnya kalau dia sedang ada proyek fotografi di salah satu majalah…”

“Ini maksudmu?” ibunya menunjukkan sebuah majalah mingguan, BlackBook, menampilkan sebuah foto pemandangan kota sebelah. Tanpa sadar gadis itu takjub akan hasil potret yang dilakukan saat malam hari tersebut. “kok, ibu tahu itu?”

Beliau hanya tersenyum, “terlihat nama terangnya disini,” ujarnya sembari menunjukkan sebuah nama berukuran kecil di pojok atas kiri. Jiyoung tersenyum kecil, “berbakat juga ya.”

“Jiyoung-ah,” undang ibunya lagi. Jiyoung membalas tatapannya, “kau bisa sesekali untuk memperhatikannya, kan? Setiap dia pulang rupanya semakin pucat.”

Dan yang ada di pikirannya kini apa yang ada digenggamannya setiap ia berpapasan dengan pria itu.

0o0o0o

Jiyoung bernapas lega bisa menikmati masa liburnya yang diidam-idamkannya kali ini. Masa mengajar kelas malamnya sudah selesai dan permintaan cutinya disetujui oleh pihak sekolah sekaligus gajinya turun pada hari ini juga.

“Ultra rezeki ini namanya,” sahutnya senang. Sudah banyak barang-barang yang diidamkannya mampir dipikirannya untuk dimasukkan daftar belanja bulanannya kali ini.

Senyumnya merekah sembari merogoh kantong jaketnya untuk mengambil kunci apartemen. Dan sebelum ia berhasil menemukannya, terdengar suara sesuatu terjatuh dari kamar sebelah.

“Apalagi, sih,” tak sengaja lengannya menyenggol pintu tersebut dan…

Klik!

“Eh, tidak dikunci?” tanpa pikir panjang Jiyoung berjalan masuk ke dalam.

Sebelum ia membuka pintu semakin lebar, ia mendapati sebuah botol air mineral yang tumpah diikuti oleh seorang pria yang tak sadarkan diri.

“Oh! Oh! Astaga! Apa yang terjadi!?”

Dengan cepat ia berlari kecil menghampiri sosok tersebut dan membenarkan posisinya, “ya, Soonyoung, kau… astaga, ini benar-benar demam!” serunya.

Dengan segera ia mengangkat tubuh pria itu ke sofa yang ada di dekatnya dengan susah payah. Ia berlari kecil menuju dapur dan kembali membawa sebuah baskom berisi air serta sebuah handuk yang sudah dicelupkan sepenuhnya.

Sekali lagi ia memeriksa keningnya, ia langsung kembali menarik tangannya begitu tahu kalau suhunya diatas rata-rata. “Kenapa bisa begini,” ujarnya bingung sekaligus cemas.

Dengan hati-hati ia memeras handuk putih tersebut, melipatnya, lalu diletakkan diatas kening pria itu. Jiyoung mendesah berat melihat bahan kaos yang dikenakan Soonyoung sangat tipis. Segera ia berdiri hendak menuju kamar tidur. Tetapi, tangan kanannya dicekal.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Mau kemana?” tanya Soonyoung balik.

“Ambil selimut di kamar.”

Soonyoung menggeleng tegas namun lemah, “jangan, jangan,” ujarnya.

Jiyoung hanya menautkan alisnya lalu menuruti perkataan Soonyoung. “Baiklah.”

Ia melepas jaket merahnya dan diletakkan diatas tubuh berkeringat Soonyoung, pria itu sedikit mengerang lalu terdiam sesaat melihat Jiyoung yang hendak pergi kembali meninggalkannya. “Kau mau kemana?”

“Membuatkanmu bubur. Kenapa tidak ada piring di sini? Apa ibu lupa…”

“Sebaiknya kau lupakan soal itu. Biar aku yang membuat se…”

“Kau sedang sakit, bodoh! Jangan keras kepala kali ini!” seru Jiyoung kesal kembali melanjutkan aktivitasnya ketika menemukan sebuah styrofoam yang belum digunakan.

Tak lama kemudian gadis itu kembali muncul di hadapannya membawakan sebuah styrofoam berisi bubur. Ia mengerang lagi, hendak menolak. Tetapi ia sudah terlanjur jauh untuk soal ini. Apa boleh buat.

“Biar aku suapi,” ujarnya ketika ia hendak meraih makanannya.

Apa boleh buat.

Suapan pertama, Soonyoung menerimanya.

Suapan kedua, Soonyoung mulai berpikir.

Suapan ketiga, likuid beningnya tak sengaja mengalir.

“Eh, kenapa? Terlalu panas, ya? Aduh…”

“Young,” panggilnya dengan suara serak.

Kali ini gadis itu menatapnya, dan ia tahu akan arti tatapan itu, dan ia tidak suka, “kumohon jangan seperti ini lagi.”

“A-apa?”

“Kumohon kau pergi dari sini.”

Karena Soonyoung tidak mau terlalu berharap lagi.

0o0o0o

Kata Jean, pria yang selalu berkata kasar kepada wanita itu pasti menyembunyikan sesuatu. Dan entah kenapa Jiyoung untuk pertama kalinya percaya ucapan rekan kerjanya itu.

Ia sudah menceritakan tentang orang baru di apartemennya dan Jean hanya bisa berkata itu saja. Tetapi, satu pertanyaan juga menganggunya.

“Lalu kau tahu dia seperti itu, kenapa kau se-penasaran itu?”

Kenapa ya, pikirnya.

“Kau tidak mungkin se-penasaran itu kepada orang baru meskipun dia satu kampung halaman denganmu, Young. Paling-paling kau hanya penasaran kenapa dia pergi kesini.”

Jean terlalu mengenalnya dan ia menyesal untuk itu.

Jiyoung itu keras kepala. Dan kali ini ia benar-benar sudah berada di kamar apartemen sebelah. Baru saja ia merapikan kamar tengah tersebut dengan sedikit keluhan tentang betapa kotornya kamar tersebut sembari menyumpahi pemiliknya.

Setelah menyelesaikan bagian kamar tengah, ia melanjutkannya pada kamar tidur. Baru ia membuka setengah pintu, dirinya sudah dikagetkan dengan pemandangan yang tak ia sukai. Berantakan.

“Astaga, dia ini benar-benar jorok,” gerutunya.

Tanpa dosa ia memasuki kamar tersebut dan membereskannya dengan gerutuannya yang sempat tertunda. Ia menyapu lantai kamar, membersihkan kaca jendela yang berdebu, membenarkan tempat tidur, lalu hendak membuang sampah.

Banyak sampah kering disana. Jiyoung memeriksa sampah tersebut yang rata-rata adalah sampah plastik maupun styrofoam.

Penasaran, ia dengan beraninya memeriksa isi sampah itu, sampai ada satu barang yang menarik perhatiannya. Sebuah botol bening kecil menyapa indra penglihatannya. Jiyoung mengambilnya yang sudah tak berbentuk seperti botol utuh.

“Apa ini?” ujarnya bermonolog setelah membaca nama obat tersebut. Berusaha mengetahuinya saat itu juga.

Dan saat itu juga sebuah tangan merebut botol itu darinya. Jiyoung menatapnya sedikit ketakutan dan panik. “Tadi kamarmu tidak sengaja terbuka sendiri, jadi aku bersihkan juga,” kata Jiyoung pelan. “I-itu apa? Kau sakit?”

“Keluar…” kata Soonyoung lamat-lamat.

Sorry…”

“KELUAR!” seru Soonyoung membuat Jiyoung tersentak. Terlihat rahangnya mengeras dan botol tersebut semakin remuk.

Jiyoung menatap Soonyoung takut-takut, segera berlari keluar. Soonyoung menutup pintu dengan keras lalu melempar botol itu dengan kasar. Ia terduduk di bersandarkan pintu apartemen. Kali ini ia frustasi, tak sengaja ia menarik rambutnya kuat-kuat.

Kenapa ia harus semarah ini?

Bukankah itu tujuannya?

0o0o0o

“Semakin aneh,” kata Jean setelah mendengarkan cerita dari Jiyoung.

“Aku, aku kan, hanya membantu membereskan kamarnya saja, Jey,” sahut Jiyoung pelan.

Jean tersenyum kecil, “berarti dia tidak mau kau terlalu mengusik hidupnya,” hibur Jean.

“Tapi, dia tidak mengunci pintunya. Tidak sengaja terbuka. Aku hanya membantunya. Juga, setiap ada acara kumpul makan bersama, dia tidak pernah ikut. Dan saat aku memeriksa sampahnya, rata-rata dari bahan yang tidak mudah terurai, seperti plastik dan styrofoam. Dan…”

Jean menatap Jiyoung, “apa?”

“Sebuah botol obat,” ujarnya lirih.

Lagi-lagi Jean tersenyum, “mungkin dia memiliki penyakit yang tidak mau diketahui publik. Kau tahu kan, maksudku?” kemudian pria itu pergi meninggalkan Jiyoung.

Segera ia mengambil ponsel dari kantong jaketnya. Membuka search engine dan mengetikkan sesuatu disana. Tak lama muncul berbagai website dari hasil pencariannya. Ia membuka sebuah laman dan membacanya sekilas.

“I-ini…”

Kedua kakinya bergetar. Dadanya terasa sesak. Dan kedua matanya memburam.

AZT adalah obat anti retroviral untuk penderita HIV positif.

0o0o0o

Soonyoung masih ingat jelas ketika dirinya divonis penyakit mematikan tersebut. dirinya tidak menangis. Hanya raut datar yang muncul. Ibunya menangis sejadi-jadinya. Begitu pun saat ayahnya pergi meninggalkan ibu dan dirinya, karena malu memiliki anak seperti dirinya, Soonyoung juga tidak menangis.

Soonyoung juga masih ingat bagaimana perlakuan ibu kepadanya. Beliau sangat berhati-hati dalam memberikan makanan, bahkan dirinya disediakan alat makan khusus. Begitu juga beliau mencuci pakaiannya dalam keadaan terpisah. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Percuma jika dokter meyakinkan ibunya bahwa dengan cara seperti itu tidak menimbulkan efek apa-apa. Ibunya tidak mau mendengarkannya.

Namun, kali ini, untuk pertama kalinya Soonyoung melihat seseorang menatapnya khawatir. Entah khawatir atau apa, ia tidak peduli. Kali ini ia harus mengungkapkannya sekarang.

“Sekarang kau sudah tahu, kan?” kekeh Soonyoung sinis. “Kau pasti menyesal pernah membantuku,” ujarnya sarkastik.

“Kenapa, kenapa kau bisa punya penyakit itu?” tanya Jiyoung lirih.

Semilir angin membuat rambut gadis itu berantakan dan kali ini Soonyoung harus teguh untuk mengucapkannya.

“Kau tidak perlu tahu ceritanya. Yang pasti aku sudah membuat semua orang jijik kepadaku,” jawabnya.

“Aku juga tidak peduli seperti apa ceritanya. Aku hanya bertanya bagaimana kau bisa…”

“Melalui suntikan,” potongnya sekaligus menjawabnya.

“K-kau pasti kesepian,” Jiyoung menatapnya khawatir. “Benci kepada semuanya dan kau merasa sakit, iya kan?”

Tolong, jangan begini.

“Aku akan…”

“Jangan mengucapkan yang manis-manis,” ujarnya waspada. “Aku tahu awalnya kau ragu, kan, berteman denganku?”

Terlihat Jiyoung terdiam sesaat, kemudian mengangguk pelan, “memang awalnya aku ragu. Apa aku bisa bertahan memiliki teman sepertimu. Tapi kalau aku seperti itu, justru aku merasa tidak pantas dianggap teman. Aku juga awalnya takut, tapi aku tahu kalau itu merupakan tindakan bodoh, mengingat berteman denganmu tidak membuatku rugi. Jadi, jika kau menyuruhku mundur itu sama saja mencelakakan…”

“Jangan sok baik.”

Jiyoung tersenyum menatap Soonyoung. Awan semakin pekat dan lampu-lampu di bawah mereka mulai menyala. Ia menggeleng, bermaksud tidak seperti yang diomongkan Soonyoung.

“Kau tidak akan tahu apa yang terjadi nanti…”

“Kau juga tidak tahu, kan?” ucapan Jiyoung membuat mata Soonyoung melebar. “Kenapa tidak kita ambil resiko itu bersama?”

“Memangnya kau tidak menyesal?” Jiyoung menggeleng

“Aku hanya ada waktu lima tahun lagi,” gumam Soonyoung membuat Jiyoung tersenyum lagi.

“Kita gunakan waktu itu sebaik mungkin,” balas Jiyoung membuat setitik air mata jatuh dari kedua mata Soonyoung. “Kalau kau tahu hanya ada waktu lima tahun saja, kita perbaiki yang kita bisa. Bukannya menghindar dan terus membentakku,” kata Jiyoung mencoba untuk membuat lelucon.

“Memangnya kau tidak menyesal?” Jiyoung menggeleng lagi. “Kau mau mengorbankan lima tahunmu hanya untukku seorang?” tanya Soonyoung lagi.

“Aku tidak bilang lima tahun, aku bilang aku mau menghabiskan waktuku bersamamu.”

Soonyoung menatap kedua bola mata hazelnut Jiyoung. Mencoba mencari kebohongan di sana yang ternyata tidak berhasil ia temui.

Soonyoung mengepalkan kedua tangannya, “a-apa kau yakin?”

Jiyoung mengangguk pelan.

“Sekarang… aku boleh berharap lebih kepadamu?” sebelum Jiyoung melihat Soonyoung meneteskan air mata, gadis itu sudah memeluknya untuk menjawab semua.

Soonyoung membatu akan perlakuan Jiyoung, tidak mampu membalas pelukan gadis berambut pirang itu. Soonyoung mengangkat kedua tangannya ragu, takut seolah hanya mimpi. Namun, harum aroma parfum Jiyoung menyadarkannya kalau ia masih berada di dunia nyata.

Dengan ragu Soonyoung mengelus punggung yang tertutupi oleh sweater putih yang terasa hangat itu. Semakin lama ia semakin mengeratkan pelukannya pada Jiyoung. Membenamkan wajahnya pada pundak kecil Jiyoung. Menangis sejadinya di sana.

Jadi, lima tahun itu tidak sulit untuk kita lewati, kan?

Iklan

One thought on “[Alone; All One; Al1] The Truth About Forever

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s