[Alone; All One; Al1] A Letter From Praha

Title |A LETTER FROM PRAHA

Author|RHYK

Cast| Seungkwan as Ha Seungkwan

Han Hye Jin (OC)

Length|Oneshot

Rate | PG-15

Genre|Angst – Sad

DISCLAIMER!

Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Autor Note’s|

Ikut meramaikan Event Blog SVT FFI aja buat seneng-seneng, maaf kalo karakterisasi sangat aneh dan jelek karena jujur saja –saya kurang feel sama castnya^^bagaimanapun, baca aja yaa thank you~ menang –enggak yah itu sih gak penting buat saya hehehehe, selamat membaca~

Juli, 2018

Tangannya meraih sepucuk surat dari sebuah kotak surat yang berada tak jauh dari rumahnya berada. Tertulis serentetan alamat pengirim dan nama penerima yang memang dirinya sendiri. Masih berdiri di tempat yang sama, jemarinya merobek sisi kecil dan mengambil kertas putih yang telah usang. Matanya mulai menilik kata demi kata yang tertulis. Tulisannya tak terlalu rapih, cenderung miring ke sisi kanan dengan tinta hitam yang sudah melekat dikertas usang itu.Dalam bathinnya ia mulai membaca surat itu. Tulisan awal surat itu selalu sama.

-Sebuah surat dari Praha-

Juli, 2016

Sebuah surat ini selalu kutulis dari sebuah sisi lain kota kecil bernama Praha. Surat yang engkau kirim sebelumnya telah ku baca meski aku tak tahu apa setelah membaca surat ini engkau akan kembali membalasnya atau tidak. Aku tahu tanyamu selalu sama tentangku, tentang surat yang selalu aku tulis dengan kertas yang selalu usang dan berwarna kusam ketika sampai ditanganmu dan juga waktu yang tak sebentar untuk mendapat sebuah balasan surat dariku untukmu. 

Tangannya segera menutup surat itu lebih dulu dan hanya menyelesaikan hingga baris terakhir seperti yang kita tahu. Ia kemudian meninggalkan kotak surat menuju jalan yang menurun dimana rumahnya berada. Namun, isi kepalanya diam-diam memikirkan saat dimana ia menuliskan surat itu dan mengirimkannya ke sebuah tempat. Mengingatnya, likuid bening itu menitik dari mata bulatnya yang masih tak berucap sepatah katapun. Ia tak mengerti satu hal, membuat tanya yang ada selalu saja sama pada empat musim bergilir selama 8 tahun belakangan. Mengapa ia harus pergi menjauh, menghilang tanpa sebuah kata dan raga yang menemuinya walaupun untuk yang terakhir sekalipun, ia tak pernah sama sekali mengalami hal itu. Pamitnya hanya dari surat-surat yang selalu datang 2 tahun sekali, walau dirinya selalu membalas surat itu hari yang sama ketika surat itu tiba dan sampai ditangannya kurun waktu yang mempermainkannya selalu punya timing yang sama.

Sesampainya di rumah, langkahnya segera memasuki sebuah ruang kamar yang hanya berisi lemari pakaian dan nakas panjang, ia membuka salahsatu laci di sisi kanan yang terdapat sebuah kotak berwarna perak keemasan, ukurannya tak cukup besar namun memiliki lebar dan panjang hampir pas dengan laci nakas tempat awal kotak itu berada. Satu persatu surat itu dibukanya tanpa ragu, netranya membaca sebarisan kata dengan gaya penulisan yang sama.

Praha, December 2012 

Sebuah surat ini selalu kutulis dari sebuah sisi lain kota kecil bernama Praha. Aku tak tahu apa engkau masih berada di tempat yang sama atau tidak, untukku tidak ada bedanya namun dimana saja keberadaanmu, aku harap kau baik –baik saja. Kau tak pernah menanyakan kabarku setiap surat yang sampai, surat yang aku baca dari awal hingga akhir kau hanya selalu menanyakan alasan. Alasan yang tak dapat aku katakan dihadapanmu. Pertanyaan dengan jawaban yang klise, aku ingat betul pertanyaanmu pada senja itu, senja terakhir dimana kau dan aku masih dapat saling bertemu tatap. Sebuah senja di tengah –tengah  Jembatan Charles. Hari itu engkau yang enggan menatapku, namun tanganmu masih saja menahanku untuk tidak pergi. Sebuah tanya terlontar dari bibirmu yang mengering karena cuaca dingin dan suhu pada senja hari menurun. “Apa?menurutmu, ada hal yang membuat aku harus mempertahankanmu?”

Apa kau ingat pernah mempertanyakan itu padaku?Tanya itu kau berikan padaku tanpa ragu, kau mendorongku pergi, lalu mengapa kau masih mengirim surat untukku dan bertanya alasan apa yang membuatku memutuskan untuk pergi dari sisimu.Lalu.. kau ingat jawaban apa yang aku berikan untukmu?

Lelaki itu memejamkan matanya dalam diam, isi surat pertama berakhir disana. Memori dikepalanya memutar kejadian pada hari senja itu dengan sukarela tanpa kehendaknya.

 November, 2010

Musim dingin tak menutupi senja yang indah di kota Praha, sebagian kecil dari benua Eropa dengan nuansa kuno nan artistik didalamnya tak mengurangi daya tarik kota-kota Eropa lainnya yang mulai melakukan pembangunan modern jangka panjang secara besar-besaran.Praha mempunyai khas yang membuat siapapun saja yang menginjakkan kakinya disana tak akan ingin pulang ke negara asal mereka, tak terkecuali dengan dua insan yang kini sedang melangkah beriringan melewati sebuah jembatan yang menjadi landmark kota Praha, Jembatan Charles dengan aksen khas Eropa kuno membuat siapa saja yang melewati jembatan ini akan merasa kembali pada zaman Eropa kuno. Penerangan mulai menyala disepanjang tepi jembatan, langit mulai menunjukkan senja dengan semburat jingga pada hamparan langit dengan awan tipis yang tak dapat menyembunyikan keindahan langit senja di Praha pada hari itu. Suhu udara cukup rendah hingga membuat nafas kedua insan itu mengepulkan asap saat mereka menghembuskan nafas, namun atmosfer keduanya dikelilingi oleh perasaan asing dan gelap satu sama lain.Hingga salah seorang dari mereka menghentikan langkah. Salah satu tangannya yang kosong terangkat dan menyeret rambutnya kebelakang penuh frustasi, helaan nafasnya amat berat, dengan tanpa memandang lawan bicaranya, ia memecah hening dengan suaranya. “Ada apa denganmu? –mengapa sejak tempo hari kau dan aku menjadi seperti ini?”

Yang ditanya hanya menatap lawan bicaranya dengan nanar,kedua iris hazelnya berkabut dengan bibirnya yang mulai bergetar memulai sebuah kata yang menjadikan jawaban. Jawaban yang sepertinya akan memperburuk suasana dan juga hubungan antar keduanya. Menghantarkan kepada akhir yang tak pernah ia harapkan sebelumnya. “Keadaan kita menjadi begini sejak kau tahu bahwa aku menjadi korban pelecehan seksual oleh ayah tiriku dan kaka tiriku. Bukan ‘ada apa denganku’ tapi –”

“Apa?menurutmu, ada hal yang membuat aku harus mempertahankanmu?”tanya si lelaki lalu melepaskan tangan gadis itu dari genggamannya. “Benar. Tidak ada memang, namun –jika saja kau memang benar-benar dengan cara nyata dan realita kau mencintaiku –tak perduli sekelam apapun masa laluku, kau akan mencari cara untuk mempertahankan aku dan kau.Istirahatlah, besok kau dan aku bisa bicara lagi.”ucapnya terisak, likuid itu mengalir begitu saja. Gadis itu kemudian berjalan lebih dulu tanpa memerdulikan lagi lelaki yang masih berdiri ditempatnya.

Lelaki itu membuka matanya, tangannya masih memegang surat yang sama, kini hatinya seperti mempunyai lubang besar. Tak sampai hati ia melanjutkan membaca habis surat dari gadis itu. Ia saja tak mampu untuk terluka, lalu bagaimana bisa ia melukai gadis –nya itu sangat dalam, hingga cukup untuk membunuh bathin gadis itu secara perlahan.

-Sebuah surat dari Praha-

Tungkainya tertatih melangkah menuju sebuah bangunan berlantai dua dengan tembok beraksen vintage yang menutupi bangunan tersebut. Hingga ia akhirnya bisa tiba di depan pintu gerbang, tangannya menekan bel yang bunyi tak mengalahkan suara lelaki itu jika ia berteriak meminta dibukakan pintu ini dengan segera.

Kriet . . .

Derit pintu terdengar memekakan gendang telinganya, dalam diam seorang wanita membukakan pintu itu, umurnya sudah dua kali lipat lelaki itu, keriput sudah tinggal dikulitnya yang putih terang.

“Apa, suratnya sudah sampai ke tanganmu?”

Selang beberapa detik, lelaki itu mengeluarkan secarik kertas yang dilapisi amplop berwarna kuning pucat, dan menunjukkannya pada wanita tersebut. Seketika mata wanita itu yang tadinya terlihat biasa dan baik-baik saja menjadi berair dan mulai memerah.

“Apa mungkin –kau bisa mengizinkanku bertemu Hye Jin?”

Wanita itu memandang lelaki itu begitu lama. “Aku harap kau membaca surat terakhir yang sampai ke tanganmu hingga selesai –nanti, setelah itu aku akan mengantarmu, karena sekarang –dia tidak ada di rumah.”

Pintu kayu itu kembali tertutup rapat, tak menyisakan sedikit celahpun yang membuatnya melihat keadaan di dalam walau hanya sejenak. Ia sadar, tindakannya di masa lalu, membuang gadis itu sudah membuat sakit hati orang banyak –tak hanya Hye Jin, tapi juga sang ibu.

Ia mulai memiliki perasaan buruk tentang kelanjutan isi surat itu, jika sang ibu bisa menjelaskan dengan kata –kata –mengapa ia harus lelah-lelah membaca surat dari Hye Jin. Tentu, karena sang ibu mungkin saja –atau memang beliau tak kuasa untuk mengatakan semua padanya secara gamblang sehingga ia harus tahu sendiri, dengan membaca surat itu.

Tangannya mulai gemetar ketika surat itu kembali terbuka lebar. Matanya mulai membaca baris demi baris tulisan dalam surat itu.

Juli, 2016

Sebuah surat ini selalu kutulis dari sebuah sisi lain kota kecil bernama Praha. Surat yang engkau kirim sebelumnya telah ku baca meski aku tak tahu apa setelah membaca surat ini engkau akan kembali membalasnya atau tidak. Aku tahu tanyamu selalu sama tentangku, tentang surat yang selalu aku tulis dengan kertas yang selalu usang dan berwarna kusam ketika sampai ditanganmu dan juga waktu yang tak sebentar untuk mendapat sebuah balasan surat dariku untukmu. 

Aku bertanya, siapa yang jahat disini sebetulnya? Apakah dirimu, diriku sendiri ataukah Tuhan?

Mungkin, jika kau ada disini bersamaku pada saat ini jawabku adalah aku tidak bisa menjawabnya. Aku benci KITA.Karena, ketika kau tak bersamaku aku tak bisa menjadi KITA. Kau tahu aku tak pernah ingin menjadi sendiri, di masa lalu entah kau ataupun aku yang melangkah pergi, aku harap jika saja ada saat dimana aku dapat kembali ke masa itu –aku ingin setidaknya ada sesuatu yang menahanku untuk tidak pergi, entah itu adalah genggaman tanganmu, suaramu yang memanggil namaku –atau, kakiku yang enggan untuk melangkah.Tapi, itu tidak terjadi. 

Lalu, haruskah aku marah pada Tuhan?

Tidak, aku bahkan sama sekali tak berhak untuk itu.

Lalu, siapa yang berani untuk merelakan dirinya sendiri hanya demi takdir malangnya? 

Apa, kau bisa melakukan itu?

Kau tahu?Berkat perbuatan lelaki keji itu, aku sakit.

Ya, aku sakit kanker serviks. Hari itu, bulan November ditengah udara dingin yang menusuk hingga ke tulang rusukku, aku ingin mengatakan itu padamu, bahwa aku sakit. Berharap tangan hangatmu dapat menenangkan diriku yang gemetar karena takut.Tapi, bahkan dirimu sendiri tak pernah mencoba untuk mendengarku lalu, aku mendapat sebuah kesimpulan. 

A Pioneer who cast him-self into his destiny.. 

You can’t do that. For me or your self. Never.

Langkah kaki putus asanya membawanya berlari menuju sebuah tempat lain.Udara malam yang mendingin ia hirup penuh pilu, setelah ia menyelesaikan surat terakhir yang dituliskan oleh Hye Jin, ia tahu sudah terlambat baginya untuk meminta maaf,tapi –bisakah sekali saja ia diizinkan untuk melihat Hye Jin meskipun untuk yang terakhir?Apa kali ini Tuhan akan mengizinkannya –setelah membuang gadis itu sia-sia.

Nafasnya terengah dalam diam,begitu hanya ada sebuah undukkan tanah dengan batu nisan di atasnya yang menyambutnya dingin.Bibirnya terlalu kelu untuk berkata telah menyesali semua perbuatannya.Lantas, kakinya hanya bersimpuh dalam duka dengan pelupuk yang sudah sembab entah sejak kapan. Mungkin semua terlambat, ia pun tahu itu dan juga, dirinya sadar tak mungkin membuat Hye Jin kembali hanya karena ia hadir di sini. Namun, satu yang Seung Kwan tahu, bahwa mungkin dengan meminta maaf dapat membuat Hye Jin tenang di surga, meski ia sadar penyesalan akan selalu menghantuinya seumur hidup.

“Hye Jin –ah!!!!” 

Sebuah surat yang aku tulis dari Praha berakhir sampai sini.Jangan menyesal tentang apapun, karena aku tak pernah menyesali apa yang sudah kulalui dalam hidupku –hingga waktu terakhirku aku sama sekali tak pernah menyesali tentang apa yang sudah kau lakukan padaku,bagaimana cara kita berpisah aku selalu tahu bahwa itulah yang terbaik. Sekalipun kau tak pernah datang untuk menemuiku, menatapku kau hanya perlu memejamkan mata dan ingat saat bahagia kau dan aku bersama.Aku tak pernah benar-benar pergi, aku hanya beristirahat sebentar –sayang. 

-= end =-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s