[Alone; All One; Al1] Emphasis

Tittle : Emphasis

Author : π

Genre : Thriller, Mistery

Length : Oneshoot

Rating : PG 15

Cast :

  • Jeonghan Seventeen  as Yoon Jeonghan.
  • Vernon Seventeen as Vernon Chwe/Choi Hansol
  • S.Coups Seventeen as Leon Charvest
  • Joshua Seventeen as Hong Jisoo/Joshua Hong
  • Rapmonster BTS as Zeddyd Kim
  • Kim Seokjin as Ednen Klarkinson 
  • Kim Minji/Debovra Kim (OC)

Disclaimer : Seventeen member casts belong to The God and their family, except the OC. The plot is originally mine.

Summary :

Waktu itu telah membelah menjadi dua bagian yang tak kasat mata. Aku berlari mengejarnya  untuk menemukan suatu kebenaran, keluar dari sebuah tekanan yang menghujam. 

Melihat semua dari sudut pandang yang berbeda. Menyesal atas apa yang telah terbuang. Ingatan ini, kenangan ini menyakitkan. Bisakah kita berhenti? Aku takut jika tekanan itu memaksa untuk bertahan yang pada akhirnya hanya membuatku terlepas dan meninggalkan segalanya.

−E M P H A S I S−

“Somebody said it means imperfection and danger.”

Jeonghan’s Side

Canberra, February 1st 2017

 “Hey, melamunkan sesuatu?” Ucapnya riang. Aku paling menyukai suara riangnya yang terasa seperti kepakan sayap merpati. Bebas tak berbeban.

Gadis itu meletakan tubuhnya di sampingku dan sekarang sibuk dengan jeruk di tangannya. Mengupasinya dengan gerutuan tentang Prof. Gilbert yang sejak seminggu ini selalu menyulitkan persiapan sidangnya.

“Buka mulutmu.”

Aku menurut, gadis itu langsung memasukan potongan jeruk ke dalam mulutku dengan sedikit kesal. Asam manis terecap oleh lidahku. Aku paham betul bagaimana perilaku gadis di sampingku ini yang begitu selektif dan over controlling jika sudah menyangkut urusan makan, mau tak mau aku harus menurutinya jika tidak ingin sore yang indah ini berakhir dengan sungutan kesalnya yang berujung pendiamannya selama seminggu. Tidak, aku tidak ingin mendapatkannya sekarang, setidaknya biarkan aku menurutinya untuk beberapa waktu yang ku miliki ini.

“Kau melamun lagi?”

“Tidak, aku mendengarkanmu.”

“Lalu apa yang aku bicarakan tadi?”

“Entahlah, sejujurnya aku tidak terlalu paham apa yang kau bicarakan tapi kau selalu memaki Prof. Gilbert di akhir kalimatmu.”

Aku memang tidak paham apa yang dia bicarakan, aku bukan berasal dari kalangan sepertinya. Kalangan atas yang terpelajar dan berkuasa. Kelasku sungguh jauh dari itu.

“Astaga. . .” Ia menghela napas menatapku dengan tatapan tidak percayanya.

“Ya… kau tahu aku betul, Ji.”

Lalu detik berikutnya dia tertawa. Kami tertawa bersama. Tergelak bersama redupnya semburat senja di ujung Burley Griffin Lake yang menenangkan mata. Petang telah menjemput malam dan malam telah menjemput keheningan di antara kami sekarang.

Aku tahu ada satu hal yang mengganjal hatinya. Aku tahu dia tengah bersikeras menolak prasangkanya. Dan aku tahu dia sangat ingin bertahan dalam ketidakpastian ini. Tapi sayangnya aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa. Entah itu untuk suatu alasan pun aku tidak ingin bertahan. Aku ingin mengakhirinya secepat mungkin. Karena aku benar-benar lelah untuk semuanya.

“Ji, kau tahu bukan alasan kita bersama.” Aku memulai pembicaran sepihak ini.

Gadis itu diam dan hanya menerawang ke depan. Memandangi langit Canberra yang menggelap.

“Dan kau juga telah memberikan alasan kita untuk berpisah.”

“Aku hanya ingin kau bahagia dengan jalan takdirmu.”

“Terima kasih untuk satu tahun ini, Ji. Aku menyayangimu.”

Dan selanjutnya hanya peluk tangisnya yang terdengar menyesakkan, menghantar gelap yang semakin kelam. Malam telah  merenggut senjanya yang indah karena sang waktu yang ingin mengakhiri sesuai ketentuan dari Sang Maha Segalanya. Malam ini adalah ujung garis takdirku bersamannya. Aku hanya berharap, semoga Engkau mempertemukan kami di satu masa yang tak pernah aku tahu nanti. Dalam keadaan, perasaan dan takdir yang berbeda.

Canberra, June 14th 2017

Dalam setiap hembusan nafas yang berat, tubuh ini berlari. Berlari menuju kegelapan yang amat ku takuti. Tubuh ini lemah, ingatan ini kacau. Waktu dan ruangku tak tentu. Aku hilang kendali. Emosi yang tak dapat terkendali, lepas dari haluan yang semestinya. Sesuatu yang menguasaiku.

Bahkan rasa sakit ini menjadi-jadi. Aku terus bergolak dengan semua kenyataan fana yang semu ini. Aku tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana yang hanya bualan. Seperti mimpi buruk yang selalu ku dapatkan tengah malam. Ini menggangguku. Semua terasa seperti nyata. Seperi dirikulah yang terlibat.

Aku terpejam, gelap ini menyelimutiku. Aku tidak bisa. Bayangan itu kembali membawaku. Membawaku menjauh dari kenyataan. Tidak bisakah aku bertahan untuk melawannya? Kenapa rasanya seperti… tak berdaya? Aku sama sekali tidak bisa menahannya. Yang pada akhirnya… Aku memilih menyerah. Menyerah atas pesakitan ini, semua tekanan yang tak henti menghujam, membiarkan dia membawanya pergi. Bersama luapan emosinya dan hasratnya yang sama sekali tak akan ku mengerti.

Dan aku hanya perlu tidur, tetap terpejam melanjutkan mimpi buruk ini. Berharap semua lekas berakhir…

********

Canberra, June 15th 2017

“Kau tahu aku sangat senang hari ini.”

Suara beratnya memecah keheningan malam yang mencekam. Ruangan itu terasa semakin membara. Panas. Bahkan redaman hujan yang kian menggila tak dapat mendinginkan suasana di sana. Tidak ada yang bisa mendinginkan suasana ini, selain orang yang membuat suasana panas ini terjadi. Tentunya setelah dia puas dengan nafsu liarnya yang belum terselesaikan.

“Kau manis sekali.”

Pria itu tersenyum sambil menyesapi ujung jarinya yang berlumuran cairan merah pekat.

“KAU GILA!”

Laki-laki di hadapannya itu meronta dalam ikatan tali tambang yang sudah tak berbentuk. Dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, ia mencoba bangkit dan berjalan menghampiri pria itu dengan langkah yang terseok-seok.

Pria itu tersenyum. Sungguh dia sangat menyukai pemandangan di hadapannya. Baginya tidak ada pemandangan seindah ini di dunia.

“Kau mau melawan? Lawan lah.”

Pria itu melepas jas hitamnya lalu melemparnya ke sembarang tempat.

“Bos!” Seorang pria yang sedari tadi hanya berdiri di dekat pintu itu berteriak.

“Tenanglah Vernon, aku ingin ada sedikit luka di tubuhku. Kau cukup berjaga di sana dan lihat ini.”

Pria bernama Vernon itu memilih diam dan tak membantahnya.

Suara tubrukan menggema di sela deru hujan dan sambaran kilat. Laki-laki itu menendang kursi yang tadi sempat ditempati pria itu. Pria itu tersungkur.

“Segini saja?” Dia tertawa.

Pria itu berdiri, mensejajarkan tubuh tegapnya dengan tubuh laki-laki yang kini bergetar hebat itu.

“Kenapa? Bukankah kau mau membunuhku?”

“Berhentilah! Kau tidak sadar kau ini siapa huh?!”

“Aku? Aku sadar siapa diriku. Harusnya aku yang menanyakan itu padamu.”

Laki-laki itu menunduk. Nafasnya tersengal. Sepertinya ia tidak bisa bertahan lama.

“Ku mohon, sadarlah. Apa yang kau lakukan ini salah. Aku… hanya ingin-”

DARRRRR!!!!!

Tubuh itu ambruk.

Pria itu mendesah malas sambil memandangi orang di depan pintu sana yang masih memamerkan cengiran lebarnya.

“Kenapa kau menembaknya duluan? Padahal aku masih ingin bermain-main tadi.”

Pria itu berjalan keluar mendahului Vernon yang masih tersenyum tanpa dosa sambil menggerutu. Setelah pria itu menghilang Vernon nampak mengeluarkan satu bungkusan plastik hitam dari dalam mantelnya. Dia beranjak mendekati tubuh tak bernyawa itu. Raut wajahnya sulit ditebak.

“Maafkan aku, Jisoo-ya.”

Vernon membuka bungkusan itu lalu menyebar isinya di atas tubuh laki-laki yang dipanggilnya Jisoo. Kemudian dia beranjak mengambil jas hitam yang tergeletak tak jauh darinya−jas yang dipakai bosnya tadi. Sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk.

********

Canberra, June 16th 2017

Sudah hampir dua jam Charvest berdiam diri di balik mejanya. Matanya sibuk menelisik lembaran kasus dalam seminggu ini. Otaknya kembali dipaksa berputar dengan segala asumsi yang kemungkinan sama dan tentunya sangat di luar perkiraan.

“Detektif Leon!” Seru pria berambut pirang yang penampilannya tampak awut-awutan itu dari balik pintu.

“Masuklah.” Perintahnya.

Charvest memberinya sekaleng coke yang langsung disambut senyuman bahagia oleh pria pirang itu.

“Thanks.” Ia menengguknya dalam sekali tegukan.

“Jadi, apa ada bukti lain yang bisa ditemukan?”

“Sejauh ini tim penyidik masih melakukan penyisiran pada tempat kejadian dan beberapa lokasi di sekitarnya. Tapi sepertinya ada hal yang aneh pada kasus ini.”

“Maksudmu?”

“Kau tahu kasus pembunuhan di daerah Limestone Ave beberapa bulan lalu dan kasus ini memiliki kesamaan.”

“Pada kasus Limestone Ave , korban ditemukan meninggal karena bunuh diri akibat depresi. Tim penyidik juga menemukan botol kecil berisi obat penenang. Dan korban itu juga ditemukan dalam keadaan yang bisa dibilang mengenaskan dengan melukai tubuhnya sendiri sebelum memutuskan gantung diri.”

Charvest masih mendengarkan dengan baik apa yang bawahannya ucapkan.

“Setelah membandingkan kondisi kedua mayat, aku menemukan beberapa kemiripan. Dan kau tahu sayatan luka di kulit mereka membentuk sebuah pola yang sama.”

“Hey, jika kau mengatakan ini sebagai bukti kau hanya akan ditertawai, Ed.”

“Tidak, aku belum mengatakan ini bukti, tapi hampir merujuk untuk menemukan bukti baru. Kau tahu Keyshie ‘kan?”

Charvest mengangguk.

“Kemarin malam setelah selesai survey, aku mampir ke restorannya untuk mengambil tas Clarine yang tertinggal. Waktu itu pas sekali dengan jam tutup restorannya dan kami mengobrol sedikit. Keyshie juga tahu tentang pembunuhan yang terjadi di Nourthboume karena anaknya yang bersekolah di daerah situ.”

“Kau tidak sedang mendongeng ‘kan Ednen?” Tanya Charvest sedikit jengah dengan bawahannya yang kadang terlalu bertele-tele ini.

“Dengarkan dulu, kau tidak akan menyesal.”

“Terserah kau.”

Ednen mengambil udara sejenak, lalu melanjutkan ceritanya.

“Aku menunjukan  beberapa gambar korban pada Keyshie yang sangat penasaran. Dan kau tahu apa yang dia katakan. Dia bilang luka itu seperti irisan hiasan pada makanan penutupnya.”

Charvest memandangi foto yang disodorkan Ednen. Pikirannya kembali menelisik.

Ednen kembali menyodorkan foto lainnya. Foto korban pembunuhan di Limestone Ave.

“Coba bandingkan. Keyshie juga bilang luka mereka mirip. Luka yang dibuat dengan Fluting Knife.”

Charvest meletakkan foto itu dan beralih pada laptopnya. Ia mengklik sebuah folder kemudian mengklik sebuah gambar. Layarnya menampilkan foto korban Limestone Ave. Ia men-zoom foto itu dan memperhatikannya dengan teliti. Sayatan yang ada di kulit itu memang tidak terlalu dalam tapi tidak juga tipis dan terdapat bagian seperti congkelan di akhir sayatan lukanya.

“Dan kau perlu tahu ini juga, kedua korban itu memiliki hubungan. Mereka dulu adalah teman dekat.”

“Teman dekat?”

Ednen mengangguk.

“Kemarin waktu korban diotopsi, salah satu rekan kerjanya pergi untuk melihat bersama keluarga korban yang baru tiba dari Dallas. Dia sempat bercerita tentang rekannya itu yang shock atas kematian mendadak Zeddyd dan sedikit menyesal karena ia bahkan belum sempat memperbaiki hubungan mereka yang renggang.”

“Apa kau tahu sesuatu tentang hubungan mereka?”

“Mereka teman sekampus. Joshua, Zeddyd dan Vernon.”

“Vernon?”

Ednen menunjukan sebuah foto di layar ponselnya.

“Dia seorang chef ?”

Pria berambut pirang itu tersenyum.

“Apa ini ada kaitannya dengan kupasan kulit lemon yang tersebar di atas korban?”

“Tepat!” Ednen bersorak sembari menjentikan jarinya.

Charvest kembali diam, dahinya berkerut semakin tajam.

“Tapi… bukankah ini seperti disengaja?”

“Maksudmu-”

Dering telepon memaksa Ednen menghentikan kalimatnya. Charvest mengangkat telepon itu. Beberapa menit bertelepon dia terlihat resah. Setelah selesai, pria itu kembali memeriksa lembar penyidikan di tangannya.

“Ed, bisakah kau menemui Vernon?”

********

Canberra, June 17th 2017

“Kau sudah bangun, Hyung?”

Hansol berdiri di ambang pintu dengan memegangi nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas cokelat panas. Laki-laki itu berjalaln mendekat, lalu meletakan nampan itu di nakas kemudian mengambil duduk di tepi ranjang.

“Apa kau baik-baik saja, Hyung?” Tanyanya terlihat begitu khawatir.

“Sejujurnya kepala ku sedikit pusing. Apa aku minum lagi Hansol-ah?”

Hansol mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan pria di hadapannya itu.

Pria itu mengambil segelas cokelat panas lalu meminumnya hati-hati. Selanjutnya ia mengambil mangkuk berisi bubur itu kemudian memakannya dengan lahap. Hansol tersenyum memandangi pria berambut panjang itu yang terlihat begitu tenang dan kusyuk dengan acara makannya.

“Hyung, jangan terlalu memikirkan banyak hal. Aku takut kesehatanmu semakin memburuk.”

Pria itu tersenyum mendengar penuturan Hansol yang terdengar begitu mencemaskannya. Apalagi ekspresi wajahnya sekarang yang terlihat begitu menggemaskan layaknya bocah lima tahun yang takut kehilangan mainan kesayangannya.

“Baiklah, aku janji tidak akan memikirkan hal-hal yang tidak penting lagi,” ujarnya yang kemudian di sambut senyum tipis dari Hnasol.

“Ah, iya aku lupa mengatakan ini padamu. Kemarin Minji menelponku untuk memberitahumu jika dia ingin menemuimu.”

“Minji ada di Canberra? Memang kapan dia kembali dari Korea?”

“Ya, sekitar beberapa hari yang lalu. Dia sedang menghabiskan honeymoon-nya di sini. Aku sungguh minta maaf karena terlambat mengatakan ini, Hyung. Kemarin aku terlalu sibuk hingga pulang larut malam dan ketika aku ingin menemuimu kau malah terkapar dengan botol-botol wine di ruang tamu.”

“Ah aku juga menyesal atas itu. Kau tidak perlu minta maaf, toh kau juga memberitahuku ‘kan sekarang.”

Pria itu menghabiskan suapan terakhirnya dan meminum cokelat panasnya sampai tuntas. Setelah menyelesaikan makannya, Hansol bergegas merapikan kembali mangkuk dan gelas kosong itu.

“Kapan aku bisa menemuinya?”

“Mungkin sore ini. Kau bisa menelponya.”

Hansol berbalik, hendak kembali ke dapur membersihkan peralatan makan. Sebelum mencapai pintu, suara pria itu menahan langkahnya. Hansol menoleh dan mendapati pria yang masih terduduk di ranjangnya itu tersenyum sangat tulus padanya. Senyum yang akhir-akhir ini jarang dia perlihatkan dan juga senyum yang sangat dirindukannya.

“Terima kasih, Hansol-ah. Aku menyayangimu.”

Hansol membalas senyumnya. Hanya beberapa detik setelah itu ia kembali bergerak menjauh dari kamar itu sebelum tangisnya pecah.

“Aku juga menyayangimu, Hyung. Semoga kau selalu bahagia seperti itu.”

********

Jeonghan’s Side

Jalanan ini terasa lenggang, leluasa dan menyenangkan. Tenang. Tidak ada perasaan senyaman ini selain merasakan ketenangan di setiap hidupmu. Dengan senyum yang tak pernah luntur dari parasnya yang ayu, membuatku sekali lagi bersyukur atas kebahagian kecil dalam hariku yang begitu panjang dan melelahkan.

“Hey, melamunkan sesuatu?”

Ah, sudah lama sekali rasanya tak mendengarnya… Mendengar suara seceria itu sejak pertemuan terakhir kami.

“Tidak.”

Gadis itu tersenyum. Dan jangan lupakan senyum hangatnya yang masih sama itu, sungguh dia adalah paket lengkap seorang wanita.

“Aku pikir kau sedang banyak masalah. Kau tahu wajahmu sangat tidak bisa berbohong, Han,” ujarnya sambil mengupasi jeruk yang entah kapan ada di tangannya itu.

“Bukan masalah yang besar, jadi tidak perlu dikhawatirkan.”

Dia mendesah, seperti tak puas dengan jawaban yang ku beri. Selanjutnya hanya keheningan yang menguasai, membuat kecanggungan ini semakin kentara dan aku membencinya. Membenci diriku yang tidak bisa apa-apa ini.

“Aku… begitu mendengar kabar Jisoo, aku langsung terpikir dirimu. Aku mengkhawatirkanmu. Ini aneh. Kau tahu?  Aku bahkan menangis, tapi bukan menangisi Jisoo. Aku justru menangisimu.”

“Ji-ya…”

“Selama ini aku hanya menahan sakit hati sendiri setiap kali Hansol menelponku memberitahu keadaanmu. Selama ini aku pikir aku cukup kuat untuk egois, tapi melihatmu seperti ini… Tidak, bahkan mendengar ucapanmu tadi semakin membuat perasaan bersalah ini menjadi-jadi.”

Gadis itu menangis, setelah beberapa bulan tepisah dan kembali pun hanya dengan tangisanya. Bukankah aku begitu kejam padanya? Aku hanya menjadi beban perasaan bersalahnya.

“Apa aku harus mengakhirinya?”

Tubuhku meremang. Ingtan memuakan itu kembali merajam pikiran. Aku bungkam. Tapi kelemahanku memaksa untuk menyerah. Dan aku… pun kembali merelakan untuk mengikuti hasratnya. Mimpi buruk itu.

********

Canberra June, 18th 2017

“Kau berangkat, Hyung?”

Tanya Vernon terkejut begitu mendapati Jeonghan telah rapi dengan apron-nya dan sekarang sibuk membersihkan sayur.

“Aku harus kembali bekerja jika aku ingin bertahan hidup,” jawabnya diiringi seulas senyum.

“Jangan terlalu dipaksakan jika kau-”

“Hey, kau pikir aku selemah itu? Sudahlah aku ingin bekerja dengan tenang. Dan kau, aku harap kau memperhatikan yang lainnya juga, Chef. Jangan selalu membuat orang lain iri hanya karena kau yang terlalu berlebihan ini.”

Pria itu tertawa menanggapi perkataan sahabatnya itu.

“Okay. Karena kau sudah kembali bersemangat,. dish hari ini kau yang siapkan. Ah, jangan lupakan lemon sebagai bahan dasarnya.”

“Yes, Chef !”

Vernon mengulum senyum. Pria itu hendak berbalik menuju pantry untuk melanjutkan pekerjaannya sebelum suara Jeonghan kembali menahannya.

“Pulang nanti temani aku ke makam Jisoo.”

********

Pria berambut panjang itu masih tetap dengan langkahnya, mengabaikan panggilan seseorang di belakangnya.

“Hyung, sebenarnya kita mau kemana? Bukankah kau ingin mengunjungi Jisoo?”

Pria itu tak menjawab.

Mereka sampai di sebuah gedung bekas penyimpanan kayu jati yang sudah lama ditinggalkan di Braddon. Pria berambut panjang itu memasuki sebuah ruangan diikuti dengan pria lain di belakangnya yang kini tengah menatap resah dirinya.

“Jeonghan Hyung kau−”

“Diamlah jika kau masih ingin bersamaku, Vernon.”

Laki-laki bernama Vernon itu diam seketika begitu melihat pemandangan di hadapannya. Lagi, seperti de javu kenangan pahit itu kembali di depan matanya. Dia marah… dan kecewa. Bukankah pria itu akan berhenti sesuai janjinya? Tapi ini…

Jeonghan kembali menjadi sisi teburuknya. Tidak, pria itu tidak jahat sebenarnya. Hanya keadaan dan tekanan dari seseorang yang membuatnya hilang kendali dan berubah menjadi sosok lain yang paling dibencinya.

“Hyung, dengarkan aku… Kumohon berhentilah!”

Pria itu menoleh, tatapan tidak suka nampak jelas di raut wajah tenangnya. Jeonghan berdiri dari tempatnya, membiarkan seseorang di sana berteriak menemui ajalnya. Ia berjalan menghampirinya.

“Kau sungguh mengkhawatirkanku?”

“Aku… aku hanya ingin kau berhenti. Ini salah, Hyung. Kau salah jika harus menurutinya hanya karena kesalahanmu di masa lalu. Tidak, itu bukan kesalahanmu… Dan kau masih berpikir kaulah yang harus menebus semua ini? Menebus dengan nyawa orang lain yang bahkan tidak ada kaitannya denganmu, Hyung!”

“Wah, sepertinya ada anak ayam yang tak rela di sini.”

Sebuah suara tepuk tangan  menginterupsi mereka. Vernon menoleh menatap wanita yang baru saja masuk itu dengan tatapan murkanya. Pria itu berjalan mendekatinya dan…

Bugh!

Satu pukulan mendarat di wajah cantiknya.

“Kau iblis, Kim Minji!”

Wanita itu tertawa. Pandangannya remeh kepada Pria di depannya.

“Dan kau masih mau bermain-main dengan iblis sepertiku?”

Dia mengeluarkan pistol dari balik coat merahnya.

“Orang sepertimu tidak akan pernah tahu kehidupan seperti apa yang bisa mengubahmu menjadi iblis sepertiku. Kau hanya anak ayam yang hidupnya selalu bergantung pada kenyamanan induknya. Jadi berhentilah menganggunya jika kau masih ingin hidup dan biarkan dia menebus dosanya kepadaku!”

Wanita itu tertawa kembali. Pandangannya beralih pada pria yang terkapar di belakang sana dengan tubuh penuh sayatan.

Wanita itu berjalan mendekati Pria berambut panjang yang sedari tadi hanya menatapnya hampa.

“Kerjamu bagus, Han. Sekarang kita perlu menyingkirkan satu hal lagi.”

Wanita itu melirik Vernon yang mematung di tempatnya.

“Kau harus membunuhnya, untukku!” Bisiknya penuh penekanan.

Jeonghan bergeming. Kedua tangannya terkepal menahan buncahan emosi yang sebentar lagi meluap. Kemudian ia menghela napasnya kasar, memutus kontak matanya dengan iris biru laut itu.

“Aku… tidak bisa, Ji.” Akhirnya kata penolakan itu berhasil terucap.

Wanita itu mendingin, terkejut dengan apa yang didengarnya tadi. Sebuah penolakan.

“Kenapa?”

Ia bungkam.

“Kita sudah sejauh ini dan sekarang kau menolak ku? Bukankah kau ingin aku bahagia, Han?”

Vernon menarik wanita itu menjauh. Dalam sepersekian detik tubuh itu limbung. Vernon jatuh bersama pisau yang tertancap di perutnya.

“Hentikan, Ji!”

“Kau lebih memilih dia ternyata.” Dia tertawa sumbang.

“Kau membunuh Zeddyd dan Joshua, orang-orang yang telah mengenalkanku pada Mathias keparat itu. Kau sudah menghancurkan orang-orang yang menghalangi kebahagiaamu, Han. Menghalangi kebahagiaan kita untuk bersama. Tapi… kenapa sekarang kau tetap menolakku?!”

Wanita itu terduduk, ia menangis. Menagisi kehidupan yang tidak pernah adil untuknya.

“Aku bahkan memafkan dosa kedua orang tuamu dan aku hanya memintamu untuk bersamaku, apakah itu terlalu sulit?”

Jeonghan meraih wanita itu, membawanya ke dalam pelukan.

“Maafkan aku, Ji. Aku sungguh tidak bisa. Aku… ingin mengakhirinya sekarang.”

Wanita itu mendongak, menatap iris cokelatnya yang nampak lelah. Dia tersenyum sembari melepas pelukannya. Wanita itu berdiri, kembali menghadap Vernon yang masih meringkuk menahan sakit.

“Baiklah, karena kau tidak bisa melakukannya.. Aku yang akan membunuhnya untuk kebahagiaan kita.”

Minji mengarahkan pistolnya kepada Vernon. Sedetik…

DARRRR!!!!

“H-Hyung!”

Tubuh itu jatuh tepat di atasnya. Memeluk pria lemah itu dengan senyum penuh kasih. Di pengujung waktunya, ia berbisik lirih.

“Maafkan aku, Hansol-ah. Sekarang kau tidak perlu mengkhawatirkan dan melindungiku lagi.”

Vernon terisak kerika Jeonghan menggenggam tangannya.

“Terima kasih atas ketulusanmu selama ini, aku menyesal tidak dapat membalasanya. Semoga kau bahagia… Hansol-ah.”

“Hyung!”

Dan selanjutnya hanya suara tangisan yang beradu dengan bunyi sirine yang mengiringi kepergiannya.

Pria itu telah berhenti. Dia menyerah dengan takdirnya. Melepas semua ketakutan dan tekanan yang selama ini memenjarakan dirinya dalam sebuah penyesalan. Dan inilah caranya untuk menebus semua penyesalan itu. Mengakhiri mimpi buruk ini dan berharap terbangun kembali di sebuah kehidupan yang bahagia. Kehidupan barunya.

−FINE−

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s