[Alone; All One; Al1] Who Are Me

Who Are Me? (Oneshoot)

Tittle : Who Are Me? (Oneshoot)

Author : Nagi

Cast :

Hansol Vernon Chwe / Vernon (Seventeen)

Samuel Kim

Genre : Family, Mystery, Horror, Psychology

Length : Oneshoot

Rating : 12-lanjut usia

Disclaimer : Seventeen hanya milik orang tua mereka, namun cerita milik author, terima kasih untuk pada pembaca yang mendukung cerita ini dan menyukai cerita ini

Summary :
Indigo? Atau sakit mental?

****

Ini adalah kisah biasa, ini adalah sebuah kisah tentang seorang Aku dengan otak pemikiranku yang aneh dan malam hari yang kelam. Namaku Vernon dan ini adalah kisah antara nyata dan tidak nyata ….
Tidak ada yang bisa memecahkan cerita ini dan mengerti maksud dari cerita ini, karena sampai kapanpun kita tidak akan bisa mengerti satu sama lain.

Apa yang tidak nyata, tidak dapat dipegang, tidak bersuara, namun selalu bisa untuk dirasakan?

Aku tinggal di Canberra, Australia. Sebuah tempat indah dan menyenangkan. Rumahku di bangun berdekatan dengan pabrik benang wol yang besar.
Rumahku ini memang berdekatan dengan tempat-tempat seperti pabrik, mungkin bisa dikatakan sebuah rumah yang memiliki suasana ramai.

Para tetangga atau orang-orang yang melewati rumahku dan melihatku duduk di luar, menyapa dengan senyumannya.
Kendati seperti itu aku jarang sekali mendengar mereka berbicara.

Selintas semuanya terlihat sangat normal. Sangat normal. Hingga tak ada siapapun yang dapat menyadarinya, jika hanya sekilas melihat.

Tetapi tidak dengan diriku ….

Aku menyadari jika aku tidaklah normal, semua itu aku rasakan ketika aku berumur tiga belas tahun, ketika seorang gadis menyukaiku dan menyatakan perasaannya kepadaku.
Seorang gadis yang terkenal dan banyak penggemar, tak mungkin jika aku tidak dimusuhi oleh orang yang menyukainya.

Seorang lelaki seumuranku datang  jauh-jauh dari kota lain menuju Canberra-tempat tinggalku-dan langsung menghujam beribu kata-kata pedas. Ketika aku diam tidak menjawab, atau lebih tepatnya hanya menatapnya dengan datar, ia memukulku.

Aku sangat marah dan tanpa sadar kami berkelahi. Ketika dia berusaha menyakitiku dengan berani aku memukulnya berkali-kali.
Saat aku membuat tangannya sakit dengan memutar tangan tersebut, dia mulai menyerangku dengan kata-kata hinaan tentang orang tuaku.

Siapa yang tidak marah jika orang tuanya dihina?

Tanpa sadar aku nyaris membunuhnya dengan memukulkan kepalanya ke dinding berkali-kali dan nyaris saja melemparkan bangku kearahnya jika saja lelaki itu tidak memohon padaku agar aku berhenti.

****

Ketika aku sedang berada di dalam kamarku, rasanya terasa amat aneh, aku melihat adikku sedang tertidur di kasur sebelah.
Ini masih jam tiga pagi tetapi aku sudah terbangun hanya karena aku merasa sedikit haus.

Akupun bangkit, duduk disisi ranjang sambil mengusap kedua mataku, ketika netra itu sedikit lebih baik akupun berjalan menuju pintu.
Membuka pintu itu untuk keluar.

Tetapi ketika aku melangkah akan melewati pintu, seorang lelaki lebih pendek berjalan melewatiku, lebih tepatnya masuk kedalam Kamar.

Sontak aku terkejut.
“Samuel?” kusebut nama adikku

Ketika aku melihat Samuel masih tertidur diatas ranjang barulah aku sadar, sosok lelaki berambut hitam dengan pakaian berwarna hitam barusan bukanlah adikku, karena adikku memakai baju kuning.

****

Saat aku memejamkan mataku, aku merasakan temperatur menaik, rasanya panas sekali hingga membuatku menurunkan selimut yang kugunakan.

Kamar ini gelap gulita.

Srak

Srak

Srak

Aku mendengar sebuah suara, tadi siang aku memang membeli sebuah makanan dalam plastik, kuletakkan plastik tersebut di atas meja.

Tetapi mengapa yang kudengar ada diatas kepalaku?

Sedari tadi aku merasa kepanasan dan aku merasa diawasi, seseorang berdiri dibawah kakiku dan terus mengamatiku, lalu? Bunyi apa yang kudengar diatas kepalaku?

Srak

Srak

Srak

Itu suara plastik, aku begitu yakin bahwa itu pasti suara plastik, tetapi rasanya plastik itu seakan berada di langit-langit kamar.
Aku masih diam, tidak mau membuka mataku, inilah cara terampuh agar mereka cepat menjauh yaitu pura-pura tidur, walaupun aku tau jika semua itu percuma.

Mungkinkah aku delusi?

Tidak.. tidak.. aku yakin ini nyata, karena sekarang aku merasa seseorang telah memegang rambutku.

****

Tetapi ketika aku berumur tujuh belas tahun, aku selalu mudah curiga dengan orang lain, sulit untuk percaya dengan semua kata-kata orang lain meskipun orang-orang itu berkata dengan jujur. Aku tau jika mereka jujur ataupun berbohong, tetapi aku tidak mau percaya, aku tau mereka semua orang baik tetapi aku selalu menyendiri.

Terdapat rahasia berupa aib dimasa laluku yang membuatku tampak aneh seperti sekarang ini. Ditambah lagi kemampuanku, tidak hanya bisa melihat makhluk halus tetapi juga bisa menerawang seseorang.

Bahkan mereka mengatakan jika aku bisa menjadi seorang paranormal.

Setiap hari aku selalu merasa diawasi walaupun aku tau jika tidak ada makhluk halus yang mengikutiku.
Mudah curiga seolah-olah akan dibunuh oleh seseorang dan hal itu membuatku menjadi lebih sensitif bahkan tidak takut untuk balik melukai.

Aku menyadari jika aku benar-benar sakit, saat itu aku melihat seorang lelaki berjalan di belakang rumahku, berdiri di depan pintu tanpa berniat masuk meskipun sudah kuajak masuk, lalu dia bertanya sesuatu padaku.

“Apakah orang tuamu ada di rumah?”

Pertanyaan yang cukup aneh, terutama tentang dia yang tidak mau masuk ke dalam rumah atau duduk di kursi teras ataupun kubawakan teh.

“Aku akan bertanya pada Samuel, mungkin dia tau.”

Aku segera pergi, tapi tidak untuk memanggil Samuel, tetapi untuk mengambil sebuah pisau.
Aku berjalan kearah pintu, berdiri tiga meter didepannya dengan pisau dibalik punggungku.

Jika dia macam-macam, aku takkan segan-segan membunuhnya.

“Siapa, Kak?”

Aku menoleh, itu Samuel, sontak aku melipir menyembunyikan pisau dipunggungku.

“Wah, akhirnya madu pesanannya datang juga.”

Aku terdiam, rupanya dia hanyalah penjual madu.

Sejak saat itu aku tidak yakin jika aku adalah seorang berkemampuan khusus, justru aku malah berpikir jika aku hanya anak dengan gangguan mental.

Tetapi bagaimana dengan penampakan dan penerawanganku? Apakah itu semua hanya kebetulan belaka atau aku memang seorang anak dengan kemampuan lebih?

Aku sendiri tidak tau akan hal itu.

Dan inilah aku, kisah antara nyata dan ilusi, ketika delusi menguasai diriku dan ilusi menguasai pikiranku maka aku selalu menganggap bahwa aku memiliki dunia impianku sendiri atau dunia ilusi.

Tetapi aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku juga seorang anak yang bisa melihat ‘hal’ lebih dari orang lainnya.

Sekarang aku ingin bertanya ….

Apa yang tidak nyata, tidak bisa dipegang, tidak bersuara namun selalu bisa untuk dirasakan?

Dan menurutmu, semua hal mistis dan ganjil yang aku alami ini adalah dampak dari gangguan mental ataukah karena aku bisa melihat mereka?

Apakah Anda tau, jika itu adalah dilema terbesar dalam otakku?

Mungkin bisa saja aku memiliki keterbelakangan mental ataupun kemampuan terpendam yang luar biasa.

Tak ada yang terjadi padaku terkecuali sebuah perubahan kecil, sebuah perubahan kecil tentang pola pikir yang dapat mengubah segalanya.
Perubahan itu adalah sebuah perubahan tentang pendapat, mereka semua akan beranggapan bahwa hal itu sangatlah sepele.

Namun mereka tidak mengerti. Percobaan pertama, penuh dengan perubahan.

Bagaimana menurutmu jika seorang anak indigo mengidap penyakit Skizofrenia?

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s