[Alone; All One; Al1] Existence

wonwoo

Existence

credit picture

laxies © 2017

Jeon Wonwoo as William Jeon & OC

1.285 words about sci-fi, historical, & romance for teen

I own nothing except plot and OC.

based on prompt

Us in different system is another form of seventeen.”

And theme

Alone : Why did you go far away?

William Jeon namanya, perawat turunan Korea-Kanada yang hidupnya sebatang kara. Hidupnya di luar mungkin kelihatan biasa saja, namun dirinya merasa terasingkan sendiri. Dia punya tempat rahasia yang tidak diketahui semua orang sebagai bentuk wadah pengasingan dirinya sendiri. Ia pria yang punya keinginan tinggi dan tak masuk akal, pun obsesif terhadap mimpinya itu. Mungkin ini gila, tapi yang diinginkan Will hanyalah tidak ingin mati. Dia ingin eksistensinya di dunia tetap ada, tak pernah hilang maupun musnah. Bagaimana dengan solusi mempunyai keturunan? Itu bukan dirinya! Keturunan hanyalah orang-orang yang menyerupai dirinya, bukan William Jeon yang sebenarnya. Mungkin sampai mati nanti, Will tak akan pernah punya keturunan karena prinsipnya ini.

Tahun 1812, Kanada tengah dilanda gejolak perang. Amerika dan Britania Raya tengah saling adu peluru di Ontario Barat. Toronto atau York yang menjadi ibukota provinsi terancam dan yang ia dengar adalah fakta bahwa Amerika sebentar lagi bisa menguasai Toronto. Will tak akan pernah bisa tenang kalau begini. Dirinya merupakan salah satu penghuni kota ini dan nyaris kehilangan nyawa beberapa jam yang lalu. Rumah sakit tempat ia bekerja kejatuhan bom, keberuntungan yang besar untuknya masih tetap hidup dan berhasil melarikan diri ke sini; tempat rahasianya.

Beberapa hari ke depan mungkin dirinya akan dikenal sebagai salah satu orang yang mati karena perang. Jadi Will datang ke tempat rahasianya ini dengan keringat bercucur dan deru napas cepat. Gerakan tubuhnya pun terburu-buru dan acak. Singkatnya, William Jeon tengah kacau karena panik.

“Aku harus melakukannya segera! HARUS!” teriaknya frustasi. Dia meremas rambutnya dengan gemas luar biasa.

Will memang punya beberapa ide untuk eksperimen ‘MEMBUAT WILLIAM JEON TETAP ADA’, tapi dia tak pernah mengira kalau ide-ide itu harus direalisasikan sekarang juga. Lelaki berkacamata itu melihat sekelilingnya, di sudut ruangan ada sebuah proyek yang memang sudah ia kerjakan lima puluh lima persen. Ide tergila yang pernah ada, mungkin. Karena ia kini berniat meneruskan proyek itu. Proyek membuat ‘kembaran’ William Jeon.

Tubuh yang ia buat sudah setengah sempurna dan 99% mirip dengannya. Ia hanya perlu memodifikasi sistem otak dan sumber kehidupan kembarannya ini. Sel tubuh miliknya pun sudah terkandung dalam tubuh ini. Will perlu beberapa hari untuk mengerjakan semuanya sebelum dia menjadi kepingan tubuh yang hancur karena bom.

Selama tujuh hari, Will tak pernah keluar dari tempat rahasianya yang sudah jadi laboratorium ilegal dengan segala eksperimen gilanya. Pria itu memaksakan diri untuk terus bekerja keras dalam eksperimen ini. Tak peduli kalau penampilannya sudah seperti maniak gila yang sebentar lagi mati. Walau begitu, dia berhasil memasukkan ingatannya ke dalam otak ‘tubuh’nya yang lain. Will juga sudah membuat sistem untuk menghidupkan William Jeon yang lain ini pada waktunya. Senyum lega pada wajah kurus Will mengembang. Keamanan di tempat ini juga sudah terjamin. Kalau begini, ia bisa meninggalkan tempat rahasianya dengan tenang selama perang.

Seventeen-01. Selesai sudah. Hidupku akan damai setelah ini.”

Fort York merupakan salah satu situs bersejarah penting yang jadi saksi Perang tahun 1812 di Kanada. Seorang lelaki berkacamata tengah duduk pada salah satu bangku dekat bangunan di sana. Dia tengah membaca buku dengan tenang. Bibirnya tiba-tiba mengulas senyum, dia menatap pemandangan hijau yang membentang di Fort York dengan senyum yang lebih lebar lagi. Pria itu teringat akan masa-masa sulit yang dilalui negaranya saat perang dulu. Toh nyatanya, yang jadi saksi Perang tahun 1812 bukan hanya Fort York, namun dirinya pun turut menyaksikan perjuangan para tentara yang mempertahankan Toronto dari musuh. Benar, pria itu merupakan William Jeon.

Kini dirinya bukan lagi warga negara Kanada. Namanya sekarang adalah Jeon Wonwoo, seorang lelaki Korea yang sudah sukses sebagai ilmuwan. Ini tahun 2017, yang mana proyek tersebut berhasil dipertahankan selama berabad-abad. Jeon Wonwoo merupakan ‘kembaran’ yang ke-22. Yah, jadi setiap kloning memang punya masa hidup yang cukup singkat dan selalu ada kloning baru yang disiapkan untuk jadi pengganti. William Jeon tetap ada di dunia ini, walau dalam bentuk kloning yang identitasnya bukan William Jeon.

Wonwoo sebenarnya punya misi. William Jeon pergi dari tempat rahasianya saat proyek kloning pertamanya selesai namun tak pernah kembali lagi. Kloningnya hidup pada tahun 1885, yang artinya Will baru mati pada tahun tersebut. Waktu yang dirancang Will untuk menghidupkan eksperimennya adalah ketika ia mati, maka ‘kembaran’nya akan mempertahankan eksistensi William Jeon di dunia. Namun hingga saat ini, semua kloningnya yang hidup tak pernah menemukan jejak William Jeon. Misi Wonwoo datang ke Kanada adalah untuk melanjutkan pencarian terhadap William Jeon.

“Hai!”

Pria itu mengalihkan pandangan ke arah gadis di hadapannya yang barusan bersuara. “Boleh aku duduk di sini?”

Wonwoo menjadi pribadi yang cukup ramah setelah belajar untuk memaknai hidup dari ingatan kloning-kloning sebelumnya. Jadi pria itu tersenyum dan berkata, “Tentu saja!”

Gadis yang kelihatannya turunan Asia ini duduk masih dengan senyum manisnya. Dia cukup cantik dengan mata monolid, hidung mancung dan rambut hitam legamnya yang lurus. Entah kenapa, Wonwoo merasa gadis ini agak mirip dengannya.

“Kau orang Korea? Sedang liburan?” tanya gadis itu untuk memulai percakapan.

“Hm, dan kutebak kau keturunan Korea?” Pertanyaan Wonwoo mengundang tawa gadis itu. Dia mengangguk sebagai jawabannya.

“Baiklah, aku akan langsung ke intinya. Kautahu, aku menghampirimu bukan tanpa alasan, Tuan.” Wonwoo memandang gadis itu, ah, entah kenapa memang terasa ada yang aneh. “Tapi karena kau mirip sekali dengan seseorang yang kukenal. Terlalu mirip hingga kukira kau merupakan hal yang sangat tidak masuk akal.”

“Wow, sepertinya aku terlalu menarik perhatianmu kalau begitu. Bisa kaujelaskan lebih lanjut, Nona?” Wonwoo menaruh perhatian penuh pada gadis berpakaian kasual di hadapannya ini. Firasatnya mengatakan, semua ini berhubungan dengan misinya. Tapi, yah, entahlah. Firasat kadang tak menunjukkan fakta yang nyata.

“Kau sangat mirip dengan leluhurku. Sejak dulu, keluargaku selalu mengabadikan foto setiap anggota keluarga untuk dijadikan pohon keluarga pada sebuah buku. Kebetulan, kemarin aku baru membuka buku keluargaku dan yah, leluhurku yang tertua benar-benar memiliki wajah yang sama denganmu. Dan, oh! Omong-omong, kita berdua kelihatan serupa.”

Wajah Wonwoo tak lagi dihiasi senyum. Saat ini dirinya tengah dilanda guncangan mental, apakah gadis ini akan jadi jawaban untuk misinya? Apa maksudnya sebuah ‘keluarga’? William dulu tak pernah mau punya keturunan.

“Kalau boleh kutahu, siapa nama leluhurmu itu? Siapa tahu dia masuk ke dalam buku sejarahku.” Wonwoo masih mencoba mempertahankan imej pria santai yang sedikit humoris, walau batinnya tengah bergejolak tak tentu.

“Hm, seingatku … William Jeon? Dia meninggal tahun 1885.”

Sejenak, Jeon Wonwoo merasa seluruh dunia ini terhisap ke dalam lubang hitam. Apa maksudnya semua ini?! William punya keturunan?! Tak masuk akal! Dirinya merasa masih ingat betul akan prinsip seorang William Jeon yang menolak gagasan tentang mempunyai keturunan. Gila! Wonwoo merasa dibohongi sekaligus dikhianati sekarang.

“Tapi, Tuan, leluhurku itu cukup tampan dan umm … begitu juga kau.”

“Ya?” Wonwoo seolah ditarik paksa dari pikirannya setelah mendengar ucapan gadis itu.

“Ah, tidak, lupakan saja. Hm, omong-omong, kau bisa memanggilku Diana. Ah, juga aku minta maaf karena bicara tak jelas secara tiba-tiba padamu. Mungkin lain waktu, kita bisa bertemu lagi? Aku akan senang mengajakmu berkeliling Toronto.”

Ada semburat merah muda pada pipi Diana. Ah, dia tertarik pada Wonwoo? Wah, sebuah kebetulan yang amat mengejutkan dan membuatnya bingung. Reaksi apa yang harus ia tunjukkan saat ini? Sungguh, ini situasi yang benar-benar tak terduga dan sulit untuk ia pahami.

Diana berdiri dengan malu karena Wonwoo tak kunjung bereaksi. “Ah, sebaiknya aku pergi. Maaf telah mengganggumu. Selamat tinggal.”

Tiga langkah dan Diana berhenti karena sebuah kalimat yang membuat semburat merah mudanya berubah jadi semburat merah yang benar-benar merah.

“Kurasa, merekrutmu sebagai pemandu tur di Toronto tawaran yang bagus.”

Wonwoo menghampiri perempuan muda itu. Ya, dirinya mendadak jadi punya rasa penasaran terhadap apa yang William Jeon pikirkan hingga semuanya berakhir seperti ini. Mungkin juga, semuanya berasal dari rasa tertarik yang tumbuh menjadi cinta. Yah, siapa yang tahu? Toh, pada akhirnya, Jeon Wonwoo bukan William Jeon maupun sebaliknya. Dia hanyalah bentuk lain dari Seventeen-01 yang ke-22.

“Omong-omong, Nona Diana, pernah dengar kalau ‘orang yang mirip berarti jodoh’? Mungkin kemiripan kita bisa berujung baik, yah, siapa yang tahu.”

tamat.

 Selamat ulang tahun untuk SVTFFI! Alhamdulillah nambah umur barengan sama saya, ehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s