[Alone; All One; Al1] One Summer’s Day

[Alone_ All One_ Al1] One Summer's Day – Leeale

One Summer’s Day

Author : Leeale

Genre : Romance, Angst

Length : Oneshot (2334 Words)

Rating : PG-15

Cast : Hoshi (Kwon Soonyoung), Min Soomi (OC)

Disclaimer : Plot’s story and original character are mine, do not plagiarism. Thank you.

Summary :

How does it feel? Do you even know the difference?

Between reality and the images in your mind, where do you want to live?

***

Gelap.

      Rasanya sudah bertahun-tahun ia terperangkap dalam kegelapan itu sampai akhirnya Soonyoung kembali membuka mata.

          Entah sudah berapa kali Soonyoung terperangkap dalam mimpinya. Ah, bisakah hal itu bahkan disebut mimpi? Ia hanya merasa berada dalam kegelapan. Tidak ada orang lain, tidak ada apa pun. Ia sendiri juga tidak yakin apakah ia benar-benar ada di sana atau tidak.

           Untuk beberapa saat, Soonyoung hanya dapat mendengar detak jantungnya sendiri yang bersahut-sahutan dengan degupan di dalam telinganya.

            “Kau sudah bangun?”

            Suara nampan logam yang diletakkan di atas meja membuat Soonyoung tersadar. Ah, gadis itu.

            Sudut bibir kanannya sedikit terangkat melihat gadis yang ia jumpai setiap hari di toko roti. Detak jantungnya yang sudah melambat sekali lagi menjadi cepat. Bagaimana ia bisa berada di sini?

            “Hm. Begitulah,” jawabnya pelan. Berdekatan dengan gadis yang kau sukai membuatmu gugup, bukan begitu? Kini Soonyoung jadi ingat ia belum sikat gigi. Oh tidak, Soomi mendekatinya.

            “Kau terlihat aneh lagi. Apakah mimpi itu datang lagi?” tanya Soomi sambil melepaskan bebat tangan yang menahan kedua tangannya untuk bergerak. Tunggu, sejak kapan tangannya dibebat?

            Bebat tersebut terlihat seperti benda yang biasa dipasangkan polisi kepada pelaku kriminal agar mereka tidak dapat menggerakkan tangannya. Kenapa ia memakainya?

            Soonyoung terus melekatkan pandangannya pada bebat itu. Kereta pikirannya bahkan belum berjalan ketika tiba-tiba nampan berisi makanan disodorkan ke hadapan wajahnya.

            “Makanlah,” ujar Soomi sambil berjalan menuju jendela. Soonyoung terus menatap gadis itu dengan bingung. Melihat dari caranya berjalan dan menyingkap tirai jendela, gadis ini terlihat mengetahui setiap sudut kamarnya dengan baik. Ini aneh, tapi sungguh ia menyukainya.

            “Sebentar lagi sudah jam delapan. Kau tidak pergi bekerja?” tanyanya sambil menyendokkan kuah sup sayuran pada nasi. Ia suka memakan nasi yang basah.

            Soonyoung dapat melihat pergerakan tubuh Soomi yang berhenti selama sedetik, sebelum akhirnya kembali bergerak untuk mengambil tumpukan pakaian kotor miliknya di atas kursi. Soomi terlihat seperti istrinya. Membangunkannya, membawakan sarapan untuknya, dan kini mengambil pakaian kotornya. Soonyoung menyukai perasaan ini.

            “Aku akan pergi bekerja setelah kau menghabiskan makananmu. Ayo, percepat makanmu.”

            Dengan perkataan itu, Soomi berjalan keluar dari kamarnya. Sambil menyuapkan makanannya, Soonyoung harus berpura-pura tidak mendengar suara kunci pintu yang diputar dengan halus.

***

            Soonyoung menyesal.

            Ia bergidik ngeri mengingat bau keringatnya yang ia cium ketika membuka baju sebelum mandi. Astaga, ia sudah membiarkan Soomi menghirup bau terkutuk seperti itu. Entah dimana harus ia taruh wajahnya bila mereka berhadapan lagi. Pantas saja Soomi cepat-cepat pergi tadi pagi. Ia bau.

            Soonyoung terus merutuki dirinya sendiri selama dua menit hingga akhirnya ia memutuskan untuk berpikir positif. Benar, Soonyoung tidak tahu Soomi akan datang ke kamarnya tadi pagi. Kalau ia tahu, tentu saja ia pasti akan langsung mandi dan membersihkan kamarnya.

            Namun pikiran positifnya tidak berlangsung lama. Soonyoung harus menahan diri untuk tidak menubrukan kepalanya pada kusen jendela. Astaga, apa yang sebenarnya Soonyoung lakukan? Soomi itu tamu, bagaimana bisa ia membiarkan gadis itu membawakan sarapan dan membersihkan kamarnya? Ya Tuhan, sebodoh apa sebenarnya dia ini.

            Ah, baru saja muncul di pikirannya, Soomi sudah terlihat. Mereka memang jodoh.

            Soonyoung melompati jendela dan berjalan beberapa puluh meter di belakang Soomi. Ia merasa ini bukanlah hal yang patut dipuji, tapi ia bangga dengan kemampuannya untuk mengenali Soomi bagaimana pun caranya. Bahkan bayangan tubuh Soomi yang berada tepat di antara kaki gadis itu pun akan selalu ia kenali di mana pun.

            Dengan cepat, Soonyoung melirik jam tangannya. Hari ini adalah hari selasa. Setiap jam tiga sore selama semester ini, Soomi selalu pergi ke perpustakaan setelah kelas terakhirnya selesai. Butuh waktu satu bulan lebih untuk mengonfirmasi hal ini, tapi Soonyoung yakin akan informasi yang ia kumpulkan sendiri.

            Karena itu lah, setelah sekitar tujuh menit berjalan di belakangnya, Soonyoung menyadari suatu keanehan. Soomi tidak berjalan ke arah perpustakan universitasnya. Soonyoung justru berakhir di depan SieboldHuis, museum Jepang. Apa yang Soomi lakukan di sini?

            Sebuah gejolak amarah muncul dari dalam dirinya ketika melihat Soomi memeluk seorang laki-laki. Siapa dia? Kenapa mereka kemari? Kencan? Gadis picik itu bahkan menipu dirinya sehingga ia datang menyaksikan mereka berkencan. Kalau memang tidak suka, seharusnya ia bilang saja!

            Soonyoung mendapati dirinya mengambil langkah-langkah lebar mendekati kedua orang yang telah ia pelototi sebelumnya. Mereka pikir Soonyong akan diam saja? Ha, dalam mimpi pun tidak akan ia biarkan.

            Dengan kasar, Soonyoung mengambil tangan Soomi dan menyentakkannya ke belakang. Bila ia ingin datang mengganggu mereka, setidaknya ia harus menyentakkan tangan gadis ini dengan kuat.

            Namun untuk kedua kalinya, Soonyoung mendapati dirinya tertegun. Gadis ini bukan Soomi.

            Wajah gadis itu bahkan tidak terlihat mirip dengan Soomi. Soonyoung dapat menebak rambut gadis ini lebih pendek 12 cm bila dibandingkan rambut Soomi. Tubuhnya pun lebih tinggi. Tunggu, gadis ini bahkan bukan orang Korea!

            Soonyoung membiarkan gadis itu menarik tangannya kembali dan bersembunyi di balik laki-laki yang ditemuinya.

            “Apa yang kau lakukan?” tanya laki-laki itu.

            Namun Soonyoung tidak peduli. Ia cepat-cepat pergi dari SieboldHuis dan kembali berjalan menuju Leiden University. Tiba-tiba saja suasana hatinya muram seperti awan mendung yang menutupi matahari di atas kepalanya.

***

            Kini, ia kembali berada di kamarnya.

Setelah kejadian tadi, Soonyoung menutup jendela dan membuka tirainya, lalu menimbun dirinya sendiri di bawah selimut dalam kegelapan. Soonyoung tidak habis pikir. Ia yakin sekali ia melihat Soomi. Bagaimana bisa orang yang ia awasi setiap saat tiba-tiba berubah menjadi orang lain yang tidak ia kenal? Soonyoung dapat mengenali Soomi di mana pun. Ia berani bersumpah ia bisa menemukan Soomi bahkan bila ada 100 orang kloning Soomi. Lalu bagaimana bisa ia salah orang?

            Tidak salah lagi. Soomi pasti kabur ketika ia sedikit mengalihkan pandangannya. Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal daripada itu. Pasti seperti itu.

            Dengan kesal, ia menendang selimutnya ke lantai. Suasana hatinya semakin memburuk setelah mengetahui Soomi kabur darinya dan panas yang ia rasakan dalam selimutnya tidak membantu sama sekali. Ditambah lagi udara panas jam dua yang kini ia rasakan, Soonyoung benar-benar ingin memukul sesuatu.

            Di mana Soomi sekarang? Ke mana ia pergi tadi? Soonyoung harus menemukannya.

            Soonyoung bangkit dari kasurnya dan mulai berjalan mengitari kamarnya. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus mencari ke kelasnya? Atau perpustakaan?

            Ponsel! Benar, ponsel. Kenapa tidak terpikir dari tadi?

            Dengan cepat, Soonyoung berjalan menuju nakasnya. Kalau Soomi mengangkat teleponnya, Soonyoung akan langsung tahu di mana gadis itu berada dengan mendengarkan suara di belakangnya. Sekarang di mana ponselnya?

            Soonyoung yakin sekali ia meninggalkan ponselnya di atas nakas. Baterainya habis, jadi ia meninggalkannya di sana untuk mengisi ulang daya baterainya. Soonyoung tidak tahu lagi apa yang harus ia pikirkan ketika hanya menemukan gelas setengah terisi di atasnya. Jangankan ponsel, bahkan charger-nya pun tidak ada! Apakah di sini ada pencuri?

            Soonyoung berjalan menuju pintu dan menarik pegangannya. Pintunya masih terkunci. Tanda-tanda pintunya telah dibuka paksa pun tidak ada. Apakah pencurinya masuk lewat jendela?

            Kini, Soonyoung merutuki dirinya sendiri karena telah membiarkan jendelanya terbuka seharian. Kamarnya berada di lantai satu, mengapa ia bisa seceroboh itu? Semua orang bisa saja masuk ke kamarnya melalui jendela. Siapa yang bisa ia curigai?

            Tanpa menyerah, Soonyoung mencoba membuka laci-laci yang ada di nakasnya. Ia tahu ia tidak gila. Tidak mungkin ia menyimpan ponselnya ke dalam nakas, tapi tidak ada salahnya mencoba.

            Setelah lima menit mengobrak-abrik seluruh laci di kamarnya, Soonyoung menyerah. Soonyoung menghempaskan dirinya sendiri ke kasur dan memukulnya dengan keras. Oh, betapa inginnya Soonyoung melakukan ini. Ia selalu ingin memukul sesuatu, tapi ia akan dimarahi karena merusak barang. Bila ia memukul tembok, tangannya akan sakit. Memukul kasur pun cukup keren, jadi Soonyoung tidak keberatan.

            Dengan erangan kecil, Soonyoung memaksa dirinya sendiri bangun dan duduk di atas kasurnya. Ia menatap nakas di samping tempat tidurnya dengan tatapan tajam. Awas saja, siapa pun yang mencuri ponselnya akan mati! Ia bahkan mengambil charger-nya juga, padahal jelas-jelas ia meni-, tunggu.

            Tunggu.

            Bagaimana ia bisa mengisi daya ponselnya bila ia meninggalkannya di atas nakas? Tidak ada stop kontak di sana! Sungguh, ia ingat ia mengisi daya ponselnya di sana, tapi kenapa tidak ada stop kontak di sana?

            Soonyoung dapat merasakan jantungnya berpacu dengan cepat. Seluruh otot di daerah bahunya berkontraksi tegang. Dengan cepat, Soonyoung mulai mengamati seluruh penjuru kamar itu baik-baik.

            Kamar itu terlihat familiar. Soonyoung tinggal di sini. Tadi pagi pun ia bangun di sini, sungguh. Namun ada satu hal yang Soonyoung sadari.

            Ini bukan kamarnya.

***

            Soonyoung merasa ia sudah gila. Sudah lama sekali ia tinggal di sana, di ruangan itu. Bagaimana bisa ia baru menyadarinya sekarang?

            Apakah ia sudah dihipnotis? Atau seperti di film-film, jangan-jangan ia merupakan salah seorang kelinci percobaan sekumpulan ilmuwan gila?

            Soonyoung mendengar langkah kaki dari arah kanan bangku taman yang didudukinya. Biasanya tidak banyak orang yang datang ke tempat ini. Hanya Soomi dan dia. Ah benar! Soomi! Ia melupakannya!

            Soonyoung menoleh tepat ketika melihat Soomi akan membalikkan badannya dan memutar arah. Ini mencurigakan. Apakah Soomi benar-benar menghindarinya? Tidak bisa begitu!

            “Soomi!”

            Soonyoung dapat melihat keanehan dari Soomi. Ia terlihat takut. Kenapa? Ia bahkan tidak menggigit. Tidak salah lagi, Soomi benar-benar menghindarinya.

            “Sini,” ujarnya sambil menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya. Dengan langkah-langkah kecil, Soomi menghampirinya.

            Soonyoung merasa aneh dengan tingkah laku Soomi, tapi untuk kali ini, ia memutuskan untuk mengabaikannya. Terlalu banyak hal aneh yang terjadi padanya hari ini dan semua itu membuatnya lelah. Biarlah ia memikirkan keanehan Soomi hari esok.

            Tepat setelah Soomi duduk di sebelahnya, Soonyoung menyandarkan kepalanya pada bahu Soomi. Bahu Soomi jauh lebih pendek daripada bahunya sendiri. Soonyoung harus bergeser menjauh sedikit untuk mendapat posisi yang paling nyaman untuk bersandar pada gadis ini. Soonyoung dapat merasakan bahu Soomi menegang di bawah kepalanya.

            “Hari ini sangat melelahkan.”

            Soonyoung memejamkan matanya dan menghela napas dalam-dalam.

            “Apa kau tahu, aku tadi salah mengikuti orang,” ujar Soonyoung sambil terkekeh kecil. “Aku melihatmu berjalan, jadi aku mengikutimu. Awalnya aku ingin ikut mengantarmu sampai perpustakaan, tapi ternyata orang yang kuikuti justru masuk ke SieboldHuis. Ia bahkan bertemu kekasihnya di sana.”

            Soonyoung menunggu Soomi menjawabnya. Dengan hal yang paling tidak masuk akal pun tidak masalah. Ketika ia hanya menemukan keheningan, Soonyoung berganti mendengarkan irama jantung Soomi.

            “Lalu aku kembali ke kamarku. Ah, tidak, itu bukan kamarku. Apakah kau tahu tempatku tinggal itu bukan kamarku? Aku bahkan tidak mengetahuinya sampai aku mencari ponselku. Aku mencari ponselku di seluruh penjuru kamar, tapi benda itu tetap tidak ada. Awalnya aku pikir ponselku dicuri, tapi sekarang aku tidak tahu lagi. Mungkin ponselku memang tidak pernah ada di ruangan itu?”

            Soonyoung kini melingkarkan kedua tangannya di sekitar tubuh Soomi. Astaga, sudah lama sekali ia ingin memeluk Soomi seperti ini. Tanpa bisa ia hentikan, senyum telah berkembang di wajahnya.

            “Apakah kau sedang diet? Aku tidak pernah memelukmu, tapi aku selalu berpikir pinggangmu lebih besar dari ini. Aku yakin hasil pengamatanku bertahun-tahun tidak akan salah.”

            Soonyoung mulai merutuki dirinya sendiri ketika ia merasa Soomi justru semakin tegang. Apakah ia marah? Astaga, Kwon Soonyoung, kau baru saja mengatakan gadis impianmu gendut! Soonyoung tidak pernah melihat Soomi marah, apa yang harus ia lakukan?

            Soonyoung baru saja akan berlutut dan meminta maaf pada Soomi ketika suara gadis ini mencegahnya. “Soon..young?” tanya Soomi pelan. Apakah Soomi sedang sakit? Suaranya sedikit lebih rendah.

            “Hm..?”

            Soomi belum mengatakan apa pun ketika Soonyoung menyadarinya. “Oh, kau menyebut namaku! Selama ini aku selalu mengira kau tidak mengetahui namaku!” seru Soonyoung sambil mengeratkan pelukannya.

            Sambil membenamkan kepalanya ke lekukan leher Soomi, Soonyoung menghela napas senang. Sungguh, sudah lama ia menantikan momen ini. Setelah selama ini ia hanya bisa mengikuti Soomi dari belakang dan memperhatikannya dari kejauhan, Soonyoung merasa hari ini seperti mimpi. Kalau pun ini benar mimpi, tolong jangan pernah bangunkan Soonyoung dari mimpi ini.

            Ah, benar. Itu dia. Itu jawabannya. Ini semua hanya mimpi. Semua keanehan ini hanya mimpi. Baguslah, setidaknya mimpinya kali ini tidak hanya melihat kegelapan. Ia rela menjalani semua keanehan yang ia alami di mimpi ini lagi setiap hari selama ia bisa bersama Soomi di penghujung hari.

            “Soonyoung..?” panggil Soomi dengan ragu. Tepat ketika ia membuka matanya, Soonyoung menyadari satu hal. Wangi permen. Gadis di sebelahnya memiliki aroma manis seperti permen. Soomi tidak suka wangi seperti ini.

            Dengan cepat, Soonyoung mendorong dirinya sendiri menjauh dari gadis itu. Kini setelah ia mengamatinya lekat-lekat, gadis ini bukan Soomi. Gadis ini jauh lebih jelek daripada Soomi-nya.

            “Siapa kau?! Hah? Siapa kau!!”

            Dengan cepat, Soonyoung mencari sesuatu, apa pun, dan melemparkannya pada gadis itu. Benda pertama yang ia sentuh adalah boneka porselen yang menjadi hiasan taman itu. Boneka itu tidak besar, tapi tetap cukup berbahaya bila dilemparkan. Soonyoung merasa senang.

            Soonyoung tidak tahu benda apa saja yang sudah ia lemparkan pada orang itu selain tiga boneka porselen, tapi sepertinya semua itu sudah cukup untuk mendatangkan kegaduhan.

Orang-orang mulai berdatangan. Tiga laki-laki berpakaian satuan pengaman dan seorang dokter laki-laki mencoba menahan seluruh pergerakannya sementara banyak perawat menghampiri gadis yang kepalanya berdarah.

            Itulah yang akan kau dapatkan bila mencoba menipuku.

***

            “Astaga, aku takut sekali. Ini pertama kalinya aku melihat seorang pasien mengamuk seperti itu.” Para perawat yang berada di ruang jaga sudah mendengar semuanya.

            “Benar, lagi pula, sebenarnya bagaimana bisa ia keluar dari kamarnya?” tanya Gaemi.

            “Katanya ia berhasil membuka kunci jendelanya. Tidak ada yang tahu kalau selama ini jendelanya dapat dibuka.” Untuk beberapa saat, ketiga perawat itu hanya saling bertukar pandang.

            “Kudengar, dia juga yang membunuh mahasiswa itu. Mahasiswa jurusan kedokteran itu,” ucap Ara membuka pembicaraan lagi.

            “Aaahh, Min Soomi?”

            “Benar. Itu namanya.”

            “Ah, benar. Hyura juga berkata kalau orang itu memanggilnya dengan nama Soomi.”

            “Astaga. Bukankah katanya gadis itu telah diikuti bertahun-tahun sebelum kejadiannya?” ujar Hyeri sambil mengusap-usap kedua lengannya.

            “Gadis itu dibunuh karena ia sedang menelepon kekasihnya. Entah bagaimana caranya, orang sinting itu berhasil menyadap ponsel Min Soomi.”

            “Ya Tuhan, aku lebih memilih mengundurkan diri daripada harus berurusan dengan orang itu.”

            “Kau tahu apa yang paling menyeramkan? Ketika ditanya, pria itu mengatakan bahwa penyadap teleponnya itu adalah satu-satunya hal yang bisa menghubungkan ia dengan gadis yang dicintainya,”tambah Ara. The line for reaching to the beloved one. Meskipun itu sangat romantis dan Gaemi menyukainya, ia tetap tidak dapat menahan perasaan takutnya akan orang itu.

            “Kasihan sekali Hyura. Padahal ia hanya anak magang di sini, tapi ia malah bertemu dengan orang gila i-.”

            Suara lolongan keras yang memecah kalimat Hyeri terdengar. Sambil bergidik ngeri, Gaemi harus menahan diri untuk tidak melirik ke arah pintu besi di dekat mereka. Ia tahu ada sepasang mata yang menyeringai memperhatikannya dari balik celah berjeruji di pintu itu.

FIN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s