[Alone; All One; Al1] Cola Time Machine

time-machine-1 

Cola Time Machine

Alone : Why did you go far away?

Wen Junhui – Raja Ampat

Cast : [SVT’s] Wen Junhui, [NCT’s] Kun, also [SVT’s] Minghao, [NCT’s] Winwin, [WJSN’s] Xiao

Genre : Hurt/Comfort, Family, Sad, Slight! Fantasy

***

Shenzen, Guangdong China.

Tidak ada yang tidak pernah aku syukuri di dalam hidup. Aku selalu menjadi anak baik waktu kecil—kala semuanya masih baik-baik saja ; kedua orangtua, pun ketiga adik kembarku … keluarga cemara yang manis menghiasi masa-masa itu, aku sangat menyayangi mereka sepenuh hati dan segenap raga. Sebagai kakak pertama, aku harus berani memegang tanggung jawab untuk menjaga keluargaku bagaimanapun kondisinya.

Sampai ketika dimana semuanya berputar begitu cepat dan berubah, kasih sayang yang berganti menjadi kebencian di tengah-tengah keluarga. Orangtua berkelahi hingga memutuskan untuk bercerai, hingga ketiga adikku terlantar dan nasib mereka kini jadi sangat bergantung padaku. Winwin, Xiao, Minghao ….

Kami memang berasal dari orang berada, tapi ternyata harta saja tidak mengelokkan semuanya …. Lagi pula, harta lama-kelamaan akan habis juga bila tidak diolah dengan pintar bagi pemiliknya, bukan? Namun tetap saja … yang paling aku dan adik-adikku butuhkan saat ini hanyalah kasih sayang berlimpah, bukan hanya harta.

Winwin, yang biasanya gemar membaca buku di mana pun, kini jadi sering pulang larut malam … dan dari tubuhnya, aku dapat mencium aroma alkohol dan rokok yang seharusnya di dalam usia remaja, ia dilarang untuk mengkonsumsi minuman keras dan rokok tersebut. Aku khawatir ia menjadi salah dalam bergaul dan tidak dapat mengendalikan diri sendiri dalam menjalani hidup.

Xiao, saudara perempuan kami satu-satunya yang selalu riang, kini menjadi banyak diam, murung, mengurung dirinya sendiri dalam berkegiatan. Padahal aku tahu, kalau kegemaran Xiao adalah mendisain baju-baju dari bahan sutera, menyanyi, dan menari sejak kecil.

Minghao, yang biasanya senang bermain game di dalam rumah dan selalu tartawa, kini jadi sering marah-marah pada semua orang, bahkan ia terus melampiaskan amarahnya padaku. Ia gemar merakit robot sejak kecil, namun sekarang, aku tidak pernah melihatnya sibuk menyusun robot-robort kecil buatanya lagi.

Ketiga adik kembarku itu sekarang berumur 17 dan masih bersekolah, kurasa sebagian besar harapan mereka telah pupus diobrak-abrik ombak keadaan. Sedangkan aku, yang harusnya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, memutuskan untuk memotong harapanku sendiri, memilih bekerja keras demi sekolah adik-adikku.

__

Di tengah perjalanan pulang seusai bekerja, entah mengapa hari ini lututku merasa begitu bergetar, dan rasanya aku tidak ingin memaksakan kaki ini untuk berjalan dulu. Maka, kuputuskan untuk mencari dan mampir sejenak ke sebuah kedai sake kecil di pinggir jalan.

Di tempat ini terlihat lumayan ramai pengunjung, sedikit tampak remang-remang, ada juga kumpulan orang yang kini sedang mabuk bersama. Kuharap … aku tidak melihat Winwin mabuk di sekitar sini sambil mengenakan seragam sekolahnya.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku tidak mau tinggal di sini lagi, melihat tingkah laku kalian yang tidak pernah bisa dewasa. Aku akan pergi ke rumah pacarku!”

Aku memegangi kepalaku yang terasa berdenyut. Xiao tadi siang pergi dari rumah, karena pertengkaran demi pertengkaran memang selalu terjadi hampir setiap hari di rumah. Rumah jadi terasa bukan seperti rumah. Aku tidak bisa menahan lengan Xiao kala itu, aku merasa … merasa berdosa karena tidak bisa bersikap dewasa di hadapan adik-adikku, terutama Xiao.

“Kenapa kau tidak mati saja?! Kenapa kita semua tidak mati saja?!”

Aku tersenyum getir mengingat Minghao pernah berbicara demikian. Aku juga masih sadar, kalau tadi aku baru minum dua gelas kecil sake. Apa yang kini merasuki pikiranku? Imajinasiku jadi seperti melayang sejenak.

“Apa urusanmu mengurusi badanku yang berbau alkohol? Urusi saja urusanmu sendiri, Wen Junhui.”

Lagi. Terngiang kembali rentetan suara Winwin di pendengaran. Aku kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Dan tampaknya aku masih bisa mengingat berapa kali aku meneguk cairan beralkohol ke dalam tenggorokanku? Mungkin sekitar lima belas?

“Bodoh.” Aku tertawa keras, “Pergi saja kalian semua! Aku tidak butuh pengertian kalian yang tidak berguna itu!”

“Baiklah. Baiklah. Aku akan mengurusi diriku sendiri saja! Sekarang kalian tinggal pilih. Mau kalian yang pergi jauh dariku, atau … aku yang pergi jauh dari kalian?! Adik-adikku yang tidak berguna!!!”

Kepalaku agak berat, jadi … aku menelungkupkannya di meja.

BRUK.

Suara berisik apa itu? Membuatku terkejut saja?!

Ketika kembali mendongak, aku langsung mendapati seseorang laki-laki dengan senyuman bodoh dan baju bodohnya sedang menatapku, sosoknya tampak buram di pandangan. Orang mabuk yang tahu-tahu menubruk mejaku ini agaknya sangat menyebalkan. Ia menenteng suatu benda di tangannya, sebuah majalah travel yang membuat minat ekor mata. Kalau tidak salah, cover-nya bertuliskan “Raja Ampat”.

“Hari ini kau sedang beruntung, Tuanku!”

Kukernyitkan keningku karena tidak mengerti dengan perkataannya.

“Ah, perkenalkan! Namaku Qian Kun. Aku adalah pedagang China di tahun 1812 yang sudah berkali-kali keliling samudera di dunia ini.”

Ah, benar. Aku agak terkikik. Dia orang mabuk yang sudah gila. Ternyata pakaian pedagang China di zaman dulu jadi selucu ini jika dilihat dari dekat. Apakah aku harus meladeninya?

“Apa keperluanmu datang padaku malam-malam begini, Mister Qian?” Baiklah, aku kini meladeninya.

“Aku datang jauh-jauh dari gugusan kepulauan Karst, punya benda bagus untuk Tuanku.”

“Apa itu kepulauan Karst?”

“Itu adalah tempat yang sangat indah bagi Tuanku, bila kau ingin pergi jauh untuk menenangkan diri dari daerah ini.” Laki-laki bernama Kun itu pun memperlihatkan majalah yang dibawanya padaku, “Aku menemukan ini, agar kau bisa membayangkan kepulauan Karst, Tuanku.”

Aku benar-benar meragukan, tidak, benar-benar meyakinkan kalau orang di hadapanku ini adalah orang gila. “Ah, aku tidak punya banyak uang, jadi bagaimana bisa aku pergi ke tempat bagus semacam itu, Mister Qian?”

Ia tertawa keras. “Siapa bilang kau butuh uang? Kau hanya membutuhkan ini, Tuanku!”

Kini aku yang tertawa lebih keras, menatap apa yang tengah disodorkan lelaki asing ini kepadaku. Sekaleng cola?! Aku bisa pergi ke tempat sebagus surga dengan sekaleng cola?!

“Ah, kalau kau tidak percaya. Baiklah, lihat saja kegiatanku kali ini. Aku yakin, aku akan membawamu melayang dengan sensasi cola time machine ini, Tuanku.”

Aku tidak mengerti lagi dengan apa yang ia bicarakan, aku hanya memperhatikan gerak-geriknya yang sedang mengocok-ngocok kaleng cola itu dengan keras, lalu … ketika ia membukanya …

BYUUUR!!!

“Kak Jun! Ayolah, kita pulang, kau memalukan saja mabuk seperti ini!”

Xiao … mendadak ada di hadapanku.

“Kaupikir, siapa yang ingin pergi sendirian meninggalkan saudara-saudaranya yang lain yang masih membutuhkan kehadiran dari masing-masing?! Aku hanya menggeretakmu agar kau bisa bersikap lebih dewasa dengan kelakuan Winwin dan Minghao di rumah, jadi mana mungkin aku pergi dan tega meninggalkan kalian sendirian, bahkan kau yang sendirian seperti ini. Janganlah pergi jauh, Kak Jun!”

Ocehan Xiao … apakan adalah mimpi? Gadis perawakan mungil itu kini berusaha memapahku. Aku tidak yakin aku masih dalam keadaan sadar.

“Xiao … aku ingin pergi jauh sendirian … ke Raja Ampat.”

Xiao mendelik aneh, “Ayo, Kak Jun, kita pulang saja, ke Raja Ampat tidak enak kalau sendirian, lebih baik kita ke rumah, lalu menyapa Winwin dan Minghao di sana.”

FIN

Iklan

3 thoughts on “[Alone; All One; Al1] Cola Time Machine

  1. Jun yang sabar ya wkwkwk Voucher gratis raja ampatnya buatku aja deh lumayan biar bisa bulan madu sama Josh /eh/ji tobat ji/
    Pertama kali baca ff Jun Winwin Xiao kyaaaaa aku baper baca lika-liku persaudaraan mereka meskipun masih gk nyambung sama maksud keberadaan Kun di sini 😂😂😂 But aku suka alurnya & prompt kita sama 💕👌 Kapan lagi Jun punya tiga adek unique gini xD Pokoknya yg sabar aja deh buat dia. Btw aku tercyduck sama sifatnya Winwin yg jadi pemabuk /eeeeaa/pulang Ji

    Nice fic & keep writting kak…. Kak siapa nih? Kok nama authornya gk ditulis? 😂😂😂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Halo ^^ salam kenal, aku Liana reader baru.
    Idenya menarik tapi agak bikin bingung ya. Jadi sebenernya si kun ini abis disiram cola lgsg mundur ke jaman masih bahagia gitu?
    Feel-nya udh kena pdhal di tengah tapi akhirnya agak gaje huhu mian gapaham.
    Btw itu kyknya yg pantes jadi pedagang si Jun aja deh drpd Kun hahah Krn dia yg lebih sengklek/?
    Sayangnya prompt tempatnya kok juga krg ngena ya.
    Anyways, Keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s