[Alone; All One; Al1] In The Illusion

Cover In The Illusion.png

Judul   : In The Illusion

Author : Moochae

Genre   : romance, drama, sad

Length : oneshot

Rating  : T

Cast : The8 aka Minghao        : Xu Minghao

          OC                                 : Acasha

Wen Jun Hui aka Jun     : Xu Jun Hui

Desclaimer : cerita yang aku buat pertama kali khusus untuk event ini. Semoga kalian suka dan menikmatinya. Oya, disarankan bacanya sambil mendengarkan lagu ‘In the Illusion’ ost drama W biar lebih dapet feelnya hehe.. Mohon bantuannya teman-teman~

Summary   : sebuah cerita tentang seorang pemuda yang berhati lembut dengan jiwa kesepian. Bertemu dengan gadis pemikat hatinya setelah hidup di tempatnya dibuang oleh ayahnya sendiri. Sebuah kota indah bersejarah dengan berlimpah destinasi wisata inilah saksi cerita cintanya dengan gadis bermata hazel. Seseorang pengusir sepinya yang misterius.

Happy Reading ^^

Sang Dewi Selena tengah memamerkan kecantikannya di tengah pekatnya langit hitam memayungi. Lembut namun mampu menerangi seisi bumi. Tak terkecuali seorang anak lelaki yang sedang duduk di sudut kamarnya. Tepat berada di depan jendela besar dengan panorama Kota Beijing berhias temaram.

Ia tekuk kedua kakiknya, membuat wajah kecilnya mencium lutut. Mata sipitnya berair. Isaknya ditahan dalam bungkam. Ironi bukan? Di saat keindahan malam membujuknya tersenyum, ia malah memilih bersama dengan buliran air mata yang sekenanya tumpah di wajah tampannya.

Batinnya meneriaki satu kata dengan histeris. Itu semua tidak akan merubah apapun. Tak akan kembali. Tidak akan pernah. Takdirlah yang berkuasa kali ini. Bahkan limpahan harta yang dimilikinya di usia semuda itu tidak dapat membantu mengubahnya.

“Ibu,” lirihnya.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar. Menambah cahaya lampu dari luar menerangi kamar tersebut. Berdiri sosok laki-laki beribawa di ambang pintu. Berjalan mendekati anak kecil di sudut ruangan. Lalu ia berjongkok menghadapnya. Menatap lekat-lekat yang dibalas dengan mata sipit berlinang air mata.

“Kau akan ke Praha besok malam, siapkan beberapa barang yang kau perlukan”

“Ayah…” lirihnya berusaha menahan tangis. Lelaki paruh baya yang dipanggil ayah tersebut berdiri. Ia hendak melangkah keluar meninggalkan anak bungsunya.

“Aku tidak mau sendirian di Praha ayah. Aku takut”

Tap..

Tap…

Suara derap langkah kaki yang bersumber dari pantofel hitam memenuhi koridor bangungan megah nan klasik di tengah kota lama yang terkenal menyimpan sejarah kawasan Benua Eropa. Coraknya yang kuno tapi elegan ini terlihat lenggang. Si pembuat suara melangkah perlahan menaiki tiap anak tangga. Ia berjalan menuju kamar utama di lantai dua, tempatnya merebahkan diri di atas ranjang king sizenya.

Hari mulai petang. Sepertinya ia terlalu lama berada di taman bunga buatannya. Sudah tiga hari belakangan, lelaki yang akrab dipanggil Minghao ini menghabiskan waktunya di sana. Mulai melanjutkan hidupnya di negeri orang. Ia kembali bercocok tanam dengan tanaman-tanaman hias. Mencari jenis bunga yang cocok di Praha. Tentu saja ada sedikit perbedaan dengan di kota lahirnya.

Anak lelaki berdarah cina tersebut tahu, dan harus tahu. Ia harus bisa menerima takdirnya. Praha akan menjadi tempat tinggalnya, di rumah megah daearah Old Town inilah ia mulai membiasakan diri. Seharian ia juga menyiapkan tempat yang nyaman untuk kegiatan kesukaannya, ruang untuk memahat patung. Dia ingin membuktikan meski dibuang ke negeri yang jauh ini dengan usia semuda itu, ia tidak akan menyerah.

Lamunannya buyar begitu mendengar suara ketukan dibalik pintu kayu kamarnya yang berdiri dengan kokoh. Ia berjalan menghampiri lalu memutar kenop pintu. Disambut dengan senyuman hangat perempuan berusia tiga puluhan dengan seragam hitam putih.

I’ve prepared for your dinner, Mr. Xu,“

Okay, I’ll take a shower first, Ma’am,” balas anak lelaki berusia empat belas tahun tersebut, yang dijawab anggukan pelayan rumah sambil berlalu setelah membungkukan badannya untuk berpamitan.

Belaian lembut di rambut hitamnya sedikit mengusik putra bungsu konglomerat terkenal se-Beijing itu. Menyadarkannya untuk segera bangun, namun ia malah betah menutup manik sipitnya. Menikmati kelembutan dari tangan tersebut. Sangat lembut dan nyaman, persis seperti belaian ibunya saat membangunkannya di pagi hari.

“Minghao, bangunlah,” bisikan pelan terasa menggelitik bulu kuduknya. Menyapa daun telinganya. Menciptakan rasa penasaran akan sosok perempuan itu. Minghao mencoba membuka matanya yang terasa seperti direkatkan oleh lem. Mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya masuk dalam retinanya. Menangkap bayang seorang gadis dengan surai panjang.

Good morning,” sapanya ceria. Wajahnya masih belum terlihat karena membelakangi cahaya dari jendela besar kamar ini. Ia beralih duduk di sisi ranjang. Membiarkan cahaya menerobos masuk. Sisi wajahnya mulai terlihat dan

Xu Minghao kembali mengerjapkan matanya. Menggosoknya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa perempuan di hadapannya bukan Mrs. Kellia, pelayannya. Baru kali pertama ini ia melihatnya semenjak dua bulan menjajalkan kaki di Kota Seribu Menara. Apakah ia pelayan rumahnya yang lain? Saat itulah ia menerima jawaban. Matanya terbuka lebar, menangkap langit-langit kamar nuansa cokelat putihnya.

Ia bermimpi.

Tanpa sadar, bibirnya terangkat ke atas. Mengingat suara lembut gadis di mimpinya yang ampuh membangunkannya meski ia tidak tahu siapa. Bahkan belaian lembut tangannya terasa nyata. Amat nyata. Apakah ia harus kembali tidur untuk mengetahui siapa perempuan tadi? Haha, konyol, pikirnya.

Minghao segera bangkit dari posisi telentangnya. Menarik kedua tangannya ke atas sambil menguap lalu beranjak ke pelataran balkon kamarnya. Membiarkan udara pagi di awal Agustus menerjangnya. Sedangkan sinar mentari menghangatkannya. Tak ingin membuat pelayan-pelayannya menunggu, ia pun segera beranjak ke kamar mandi. Sarapan pasti sudah siap di bawah sana.

Namun, langkahnya terhenti dikarenakan dering ponselnya di atas meja nakas. Tangannya meraih benda berisik tersebut dengan tampilan nama Xu Jun Hui. Minghao mendesis sebal. Alisnya berkerut seraya tampak menimbang-nimbang. Membiarkan panggilan tersebut seperti biasanya atau mengangkatnya. Ia pun memutuskan untuk mendengarkan suara sang penelepon.

“Minghao, bagaimana kabarmu di sana? Akhirnya kau mengangkat teleponku juga,” begitu suara di sebarang sana menyapa. Ramah dan riang.

“Apakah menyenangkan di sana sampai kau tidak sempat mengangkat teleponku selama ini?”

“….”

“Apa saja yang kau lakukan di sana?”

“….”

“Minghao, kau masih di sana kan? Apakah kau baik-baik saja?”

“Tidak, maka dari itu aku tidak mengangkat teleponmu,” jawabnya dingin. Giginya menggeretak menahan emosi yang meluap.

“Apakah terjadi sesuatu?”

“Tentu saja, jadi jangan berpura-pura tidak tahu”

“Ada apa?”

“Semua jelas tidak baik-baik saja semenjak aku dibuang ke sini!”

Klik.

Ponsel dimatikan dan dilempar begitu saja ke atas empuknya kasur. Minghao menuju kamar mandi sembari membanting pintu. Wajahnya merah padam. Kemarahan menguasainya. Moodnya hancur seketika. Ia tidak seharusnya marah terhadap kakaknya seperti itu. Ini semua bukan salah kakaknya, hanya saja ia rasa ini semua disebabkan orang itu juga. Jun Hui lah yang menyebabkannya dibuang ke Praha. Lelaki jakun ini merindukan Beijing.

Gelapnya malam kembali mengisi hari Minghao. Tak jauh berbeda dengan kemarin, kali ini juga menghabiskan waktunya di taman bunga. Ia memulai kembali aktivitas kesukaannya. Membuat pot-pot kecil untuk bunganya dari tanah liat. Setidaknya, hal itu bisa menghiburnya.

“Hai,” Minghao terlonjak kaget begitu memutar kenop pintu dan menampilkan ruangannya. Sosok gadis cantik berparas ayu duduk di sofa sambil tersenyum. Rambut cokelatnya digerai bebas. Mata hazelnya mengecil membentuk lengkungan seperti bibir merahnya. Ada perempuan berwajah eropa di kamarnya.

“Si..siapa kau?” tentu saja Minghao heran. Tidak ada yang akan bersikap biasa jika dalam kondisi seperti ini kan?

“Namaku Acasha,” jawabnya lembut dalam bahasa cina. Suara yang amat dikenali si bungsu Tuan Xu.

“Kau bisa bahasa cina?”

“Tentu saja, karena aku temanmu”

Acasha berjalan mendekati Minghao sambil tersenyum. Cahaya remang-remang kamar utama kediaman tersebut menambah kesan cantik sang gadis cilik.

“Kau tidak mengenaliku? Ini pertemuan kedua kita”

Berarti benar, pikir Minghao. Gadis ini yang membangunkannya empat hari lalu. Gadis dalam mimpi yang membuatnya penasaran. Kini, wajah cantiknya bisa dipandangnya dengan bebas. Bahkan dalam jarak sedekat ini. Kaki jenjang Acasha terus mendekat ke arah Minghao. Mata lentiknya pun tak lepas menatap laki-laki berwajah oriental tersebut.

Lagi, saat itulah Minghao terbangun dari tidurnya. Dering ponselnya menganggu paginya kali ini. Tentu saja Jun Hui di sanalah yang menunggu adik semata wayangnya ini mengangkat teleponnya. Namun sepertinya Jun Hui harus bersabar di sana karena adiknya enggan menjawab. Ia akan mencoba lagi esok hari. Bangun tengah malam untuk menghubungi adiknya sembunyi-sembunyi.

Selalu seperti ini saat gadis dalam mimpi menghampiri Minghao, ia akan terbangun karena dering ponsel. Tidak cukup sampai di situ rasa kesalnya. Ketika mata kecilnya terbuka, nama Jun Hui lah yang mengganggu penglihatannya.

“Hai,”

Ada sambutan hangat lengkap dengan senyum manis di balik pintu cokelat keemasan yang dibuka Minghao. Seorang gadis cilik bersurai golden blonde berhias kepangan di kedua sisi rambutnya yang ditarik ke belakang menyapa. Membuat sang tuan rumah membalasnya dengan senyum tak kalah tampan. Merekah lebar.

Meski bingung menggoda batinnya akhir-akhir ini, tapi ia tidak bisa menutupi rasa senangnya. Bertemu dengan gadis yang mulai menghiasi hari-harinya di Old Town, Praha. Gadis yang bersedia menemaninya dalam sepi. Satu-satunya orang yang memahami perasaannya saat Minghao menceritakan alasannya di Praha tanpa sanak keluarga. Membuat tawa lelaki asal negeri tirai bambu tersebut kembali hadir. Meski itu semua hanya dalam mimpi.

Minghao berjalan mendekat. Membalas tatapan berbinar dari mata hazel yang membulat indah. Bulu mata lentiknya mengayun ke atas dan bawah. Ia berkedip lucu.

“Kau datang lagi?”

“Kau tak suka?”

“Bukaannn…”

“Haha.. tidak perlu panik seperti itu”

Jantung Minghao terasa berdesir aneh melihat tawa Acasha. Rasa panas mulai menyapa wajahnya. Bahaya, kini jantungnya melompat tak beratur. Terasa sesak dan memaksa hendak keluar. Gadis itu benar-benar memikatnya.

“Bukan begitu, hanya saja biasanya kau akan datang dua atau tiga kali sehari. Apa kau akan datang setiap hari mulai sekarang?”

“Baiklah kalau itu maumu, aku akan menemanimu setiap hari” jawabnya lugu sambil menepuk-nepuk sisi tempat tidur di sebelahnya. Mengisyaratkan lelaki di depannya untuk duduk.

“Kenapa?”

Kenapa hanya di dalam mimpi? Sayangnya, pertanyaan itu hanya keluar dalam batin Minghao. Ia belum cukup berani menanyakan hal tersebut. Rasanya, Acasha sudah terlalu baik padanya selama ini. Ia merasa sesuatu tidak berjalan baik apabila tahu yang sebenarnya. Bukankah, sebaiknya kita tidak perlu memaksa untuk mencari tahu hal yang seharusnya tidak perlu kita ketahui. Percayalah, hal tersebut hanya akan mendatangkan luka yang tak pernah terbayangkan. Biarkan ia menikmati zona kenyamanan seperti ini. Meski, ini semua hanya dalam mimpinya. Khayalannya. Ilusinya. Dunianya.

“Karena… aku rasa, aku menyukaimu,” Acasha menjawab pelan. Sangat pelan sehingga memaksa kuping Minghao bekerja lebih tajam.

Belum cukup dibuat merasakan jantungnya yang melompat kegirangan tak karuan, sepertinya kali ini Acasha ingin membuat sistem kerja organ tersebut berhenti. Tanpa sadar, ia menahan napasnya sepersekian detik. Minghao tertawa renyah dibuatnya. Ia cukup salah tingkah kini.

“Ah, aku lelaki, harusnya aku yang mengatakannya lebih dulu”

Kini giliran gadis itu yang tertawa. Perlahan, suara tawanya samar di dengar. Minghao mengeryit, merasakan kehangatan menerpa wajahnya. Kelopak matanya terbuka, lalu ia tersenyum. Sudah saatnya ia terbangun rupanya. Sama seperti sebelum-sebelumnya yang dia alami. Sudah hampir empat bulan gadis ayu blasteran tersebut ditemuinya di tengah heningnya malam dalam alam bawah sadarnya. Minghao sadar betul ia hanya bermimpi. Bahkan awalnya, ia hanya berpikir gadis itu bunga tidurnya. Tapi ini semua terasa nyata. Terlalu nyata jika hanya sebatas dunia mimpi—yah, setidaknya bagi Minghao.

Ponselnya berdering dan kalian pasti sudah tahu siapa orang di sana yang menghubunginya. Jun Hui, nama tersebut selalu menghiasi layar ponsel biru navynya setiap pagi.

“Minghao—“

Tak sengaja jemarinya menerima panggilan tersebut yang langsung diputusnya. Ia jauhkan ponselnya perlahan dari telinga kanannya. Sementara otaknya sibuk membuang sosok Jun dan ayahnya. Setiap suara lembut kakaknya terdengar, saat itu pula sosok ayahnya yang dingin teringat. Orang dengan status ayah kandungnya yang rela menjauhkan dirinya dari keluarga termasuk kakak tersayangnya, Jun Hui. Bahkan Minghao tak pernah mendnegar suaranya semenjak ia diasingkan ke Praha hanya karena Jun Huilah yang berhak atas warisan perusahaan keluarga di Cina. Satu-satunya calon pemegang saham terbesar nantinya.

Marah, tentu saja. Sedih, itu sudah pasti. Kecewa menguasainya. Sebelumnya ia pikir kehidupannya akan baik-baik saja, meski ibunya hanya istri kedua dari pernikahan tidak resmi konglomorat terkenal seantero Beijing. Ia kira selama ini lahir dalam keluarga yang bahagia. Ditambah dengan kasih sayang yang didapatnya dari Jun Hui. Saudara laki-laki yang selalu menjaganya, bahkan berebut mainan pun mereka tak pernah. Tapi mengapa kini Jun Hui merampas seluruh kasih sayang ayahnya di saat ibu Minghao tak lagi ada untuknya? Kenapa Jun Hui tak rela berbagi ayah dengannya? Membuatnya diasingkan ke Praha. Meski ia dusuguhkan dengan cantiknya negeri dongeng ini, sepi lebih unggul menggerogoti batinnya.

Tiga tahun berlalu begitu saja. Minghao tumbuh menjadi remaja tampan yang mandiri. Kepribadiannya yang tak banyak bicara namun hangat. Memiliki senyum ramah yang menawan. Sering menghabiskan waktunya merawat tanaman hiasnya dan memahat patung-patung kecil.

Minghao mulai membiasakan dirinya di Praha. Ia juga mulai bisa menerima kehidupan di kotanya, juga orang-orangnya. Sesekali berjalan menikmati indahnya Charles Bridge. Di jembatan yang merupakan destinasi Praha itu pula ia mendapat banyak inspirasi membuat patung. Ingin memahat yang tak kalah indah dengan tiga puluh deretan patung di kanan-kiri sisi jembatan. Ia juga merasa bersyukur bisa berada di sini. Setidaknya, takdir mempertemukannya dengan Acasha, meski masih dalam mimpi hingga kini. Ia juga berusaha mengenal Old Town dan Lesser Town dengan baik untuk mencari keberadaan Acasha di kehidupan nyatanya. Bukankah ia boleh berharap menemukan Acasha diluar tidurnya? Tentu saja.

Bukankah tiga tahun itu tidak sebentar untuk bersabar menanti bertemu Acasha di kehidupan nyatanya? Jika gadis itu hanya bunga tidurnya, khayalannya atau apapun yang intinya tidak nyata, mengapa ia ikut tumbuh seperti Minghao? Seolah ia benar-benar hidup dalam mimpinya. Tumbuh cantik dan pemilik senyum paling menawan yang pernah Minghao lihat. Kulitnya putih bersih dan mulus. Bahkan kakinya yang selalu telanjang tanpa alas kaki juga tetap halus. Gadis itu amat suka mengenakan flower crown yang dirangkainya sendiri. Membuatnya terlihat bak putri negeri dongeng.

“Sha,”

“Ya?” seperti biasa Acasha menjawab dengan suara riang. Ia membelakangi Minghao. Asik merangkai bunga untuk crown barunya.

“Bisakah kali ini lebih lama?”

“Hm?” ia menoleh.

“Aku ingin mengajakmu ke Charles Bridge. Disana pemandangannya sangat indah. Apalagi saat matahari hendak menenggelamkan diri”

“Kenapa?”

“Yah, aku ingin kau menikmati hal yang membuatku takjub di Praha selama ini. Di sana juga banyak patung-patung indah inspirasiku. Ah, kau bisa membuat permohonan juga”

“Apakah akan terkabul?”

“Mari mencoba”

Acasha tampak memalingkan wajahnya. Sepertinya ia perlu menimbang apakah menyetujui ajakan MInghao atau tidak. Cukup lama hening bebas bersemayam di antara keduanya. Gadis dengan gaun putih bersih itu mengangguk akhirnya. Menciptakan seruan gembira mencelos begitu saja dari bibir apel Minghao.

Mereka beriringan menelusuri jalanan jembatan yang merupakan salah satu aset Praha tersebut. Menikmati anggunnya patung-patung berbaris rapi di kedua sisi

“Ayo buat permohonan”

“Hm, aku harap kau tetap menyukaiku”

Langit mulai gelap, menyelamatkan keduanya dari rona merah di wajah yang tak terlihat. Minghao mengalihkan wajahnya berhias senyum sumringah.

“Karena, semakin hari aku semakin menyukaimu hehe. Jadi, apa permohonanmu?” lanjut Acasha bertanya.

“Hm.. itu, aku berharap, kita akan bertemu di dunia yang sebenarnya. Secara nyata dan langsung. Kau tahu, aku sudah lama menanti hal itu. Aku sungguh ingin tahu siapa dirimu sebenarnya. Apakah kau benar-benar ada atau hanya… ilusiku?”

Acasha menghembuskan napas perlahan mendengarkan Minghao. Atensinya pun tak beralih barang sedetik dari milik Minghao yang teduh.

“Aku ingin bertemu denganmu secara nyata”

“Kau yakin?”

Minghao mengangguk mantap bersamaan dengan—entah apa kali ini yang membangunkannya. Tidak ada dering ponsel ataupun suara ketukan pintu. Ia juga menutup rapat gorden jendelanya agar mentari tak ikut campur dalam hal ini. Namun, tetap saja ia harus terbangun. Semuanya di mulai hari ini.

Bukankah seharusnya kita tidak perlu memaksa untuk mencari tahu hal yang tidak perlu kita ketahui? Sepertinya, kesabaran telah terkikis oleh rasa ingin tahu Minghao selama ini. Juga, kerinduannya pada Acasha yang hanya bisa dilihatnya dalam tidurnya selama tiga tahun belakangan. Tapi, sepertinya ia telah berbuat kesalahan. Semenjak hari itu, terakhir kali mereka bertemu di jembatan, membuat permohonan bersama, Acasha tidak pernah hadir dalam mimpi Minghao. Tidak sekalipun meski hanya sedetik menampakan diri. Hal ini membuat sepi kembali menyapa Minghao meski dalam tidur. Menemani hari-harinya. Membuatnya frustasi. Tidak tahu bagaimana caranya menemui Acasha selain dengan tidur yang sekarang juga sia-sia.

Hampir dua minggu lamanya Minghao mengurung diri di kamar. Ia juga tidak nafsu makan. Seharian menghabiskan diri dengan rebahan di kasur. Berharap dalam tidurnya bertemu gadis pencuri hatinya. Tapi, ia harus bangun sekarang. Semua itu percuma.

Namun, Minghao tidak kehabisan akal sampai di sana. Ia benar-benar rindu dengan Acasha. Akhirnya tangan kreatifnya berusaha membentuk patung berbentuk gadis cantik dengan tinggi semampai. Rambutnya yang panjang lengkap dengan flower crown rangkaian Minghao. Secepat mungkin ia berusaha memahatnya serupa dengan Acasha dan percayalah, benar-benar mirip. Bahkan ia mengukir dengan indah gaun selutut yang biasa dikenakan Acasha.

“Kita bertemu di dunia nyata sekarang,” ucapnya sembari mengusap peluh yang menghiasi wajahnya. Lelahnya selama kurang lebih enam bulan terbayar sudah. Sedikit, yah hanya sedikit mengobati rindunya pada Acasha. Mata hazel yang selalu terpancar indah itu kini menatapnya lurus dengan kosong. Tak ada Acasha di dalamya.

“Sha, aku kira ini akan berhasil,”

“…” Acasha buatannya tidak bergeming.

“Harusnya saat itu aku membuat permohonan bisa menghidupkanmu, bukan sekedar bertemu denganmu”

“Sha, kumohon jawab aku, atau setidaknya lihat aku Sha,”

Semilir angin senja menemani heningnya taman bunga di kediaman Minghao. Menerpa wajahnya yang kini peluh diganti dengan tetesan kristal bening. Mengusik rambut cokelat kehitamannya.

“Tidakkah kau ingat selama ini kita menghabiskan waktu bersama?”

 “…”

Minghao merindukan Sha-nya, Acashanya yang selalu tersenyum hangat. Merindukan gadisnya hadir dalam mimpinya sekaligus membangunkannya. Rindu akan suara lembut nan cerianya. Rindu akan sentuhan hangat dan lembut Acasha. Ia ingin mendekapnya. Ia amat merindukannya.

“Sha, apakah kau benar-benar meninggalkanku? Ku mohon, Sha, tetaplah tinggal meski itu hanya dalam ilusiku. Meski aku harus tidur selamanya” linangan air mata dengan sekenanya tumpah menghiasi pipi tirus lelaki bermarga Xu tersebut. Ia pun enggan mengusapnya. Lebih memilih untuk mengelus surai Acasha buatannya.

“Aku lebih baik tidak bangun daripada tidak bertemu denganmu”

“…” bahkan air mata tulusnya tidak mengubah apapun. Tidak membuat patung berwujud Acasha tersebut hidup seperti di cerita fiksi.

“KENAPA KAU SELALU MENGAMBIL ORANG-ORANG YANG KUSAYANGI TUHAN?” suara seraknya menggelegar. Namun, tetap tidak mengubah apapun. Bukan Acasha yang tidak bisa mendengar, tapi benda di hadapan  Minghao memang hanyalah benda mati. Tangannya melingkar pada pahatan patung cantik di hadapannya. Tidak seperti saat Acasha membalasnya yang terasa hangat dan menenangkan meski hanya lewat mimpi. Setidaknya itu jauh lebih baik. Jauh terasa lebih nyata daripada rasa dingin yang kini membalas pelukannya.

“Hanya kau harapanku setelah ibu meninggalkanku,” bisiknya lirih. Berharap Acasha mendengarnya atau setidaknya Tuhan berbaik hati padanya menghidupkan perempuannya. Meski itu semua hanyalah harapan semunya. Ilusi nyata yang menghampirinya.

Tanpa Minghao ketahui, di suatu tempat—tepatnya di Beijing tengah duduk seorang perempuan bersurai almond. Cuaca berangin di kota tersebut tidak hanya mengusik surainya, tetapi juga mata bulatnya yang berwarna hazel. Ia menangis karenanya. Benarkah? Tidak, hatinya terasa sakit tiba-tiba. Seperti ada ribuan silet menghujam jantungnya. Menyayat tanpa belas kasih. Membuatnya tidak sekedar merasa perih. Ia terisak tanpa tahu apa sebabnya.

“Acasha, ada apa?” suara lelaki dengan kemeja biru terang terdengar sangat khawatir. Ia meraih pipi gadis tersebut yang sudah basah.

“Jun, aku juga tidak tahu. Entah kenapa rasanya sakit, sesak dan menyedihkan” jawabnya pelan sambil meremas gaun putih gadingnya. Berharap dengan begitu mampu meredakan sakit di dadanya.

-End-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s