[Alone; All One; Al1] Pilihan

Poster_Pilihan_jeonalien

Pilihan

by jeon_alien

Genre: Slice of Life

Length: One Shot

Rating: General

Cast: Choi Vernon and Florentina Nebore(OC)

Disclaimer: Idea is mine.

.

.

Vernon masih bersyukur dengan fakta bahwa dirinya tidak seorang diri dalam perjalanan ekstra panjang ini

.

.

Amplop putih berisi surat pengunduran diri adalah hal pertama yang Vernon ingat saat membuka mata di pagi pertama awal minggu. Langkah Vernon terasa ringan sejak keluar rumah hingga tiba di halte bus terdekat dengan kantor. Namun saat dirinya dan pintu ruang manajer hanya berjarak beberapa langkah, seolah ada batu besar yang diikatkan di kaki Vernon untuk menghambat langkah pria itu. Sejenak Vernon menarik nafas dalam, memantapkan niatnya, sebelum mengetuk pintu ruang manajer dan melangkah masuk.

Ekspresi sang manajer tidak dapat diartikan oleh Vernon, yang memang lemah dalam memahami isi pikiran orang lain. Alangkah mengejutkan bagi Choi Vernon setelah beberapa menit berlalu untuk melontarkan alasan pengunduran dirinya, karena akhirnya sang manajer hanya mengangguk santai, menyetujui permohonan pengunduran diri Vernon. Senyuman lebar tak lekang dari wajah pria yang selalu disandingkan dengan aktor Leonardo di Caprio oleh teman-teman sejawatnya. Terhitung 30 hari sejak hari ini, maka Vernon akan bebas dari segala rutinitas yang mulai terasa menjenuhkan baginya.

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.” rekan sekerjanya yang duduk tepat di samping Vernon memandang heran saat mendengar keputusan pria itu.

Jika dipikir, selain soal kejenuhan, memang tidak ada satu hal pun yang membuat Vernon merasa Ia harus meninggalkan pekerjaannya. Bukankah rasa jenuh hanya seperti ombak kecil yang memang sering muncul saat sebuah perahu berlayar? Nantinya akan hilang dengan sendirinya. Vernon sendiri heran dengan dirinya yang terbilang nekat mengambil keputusan.

Tiga puluh hari berlalu begitu saja bagi Choi Vernon. Jika saja Ia masih di Seoul, mungkin di jam seperti ini Ia akan sibuk menempuh rute menuju kantor. Kenyataan yang dihadapi lelaki berdarah campuran itu saat ini justru pergumulan dengan rasa melayang dalam kepalanya, padahal kedua kaki Vernon sudah menjejak mantap di daratan. Dua belas jam di udara, diselingi istirahat di darat selama tiga setengah jam, ditambah lagi saat ini Ia berada di daerah yang sama sekali asing baginya, benar-benar menguras energi Vernon. Jangan salahkan pria itu mengeluarkan isi perut yang tertahan setibanya Ia di bandara.

Sorong. Nama yang asing, ah bahkan huruf Latin yang tengah Ia baca terasa asing, padahal Vernon mahir membaca Hangul dan Latin. Mendudukkan diri sejenak di kursi panjang bandara, Vernon memilih untuk menyalakan ponselnya lebih dulu. Pesan masuk dari Mom datang bertubi-tubi. Awalnya hanya menanyakan keberadaan lelaki itu dan memberikan penjelasan singkat mengenai perjalanan Vernon selanjutnya, namun isi pesan terakhir membuat Vernon mengerutkan dahi kebingungan.

One less than a full revolution. Itu pesan Grandpa untukmu. Semoga sukses!”

Sekedar tahu saja, Ia tiba di daerah bernama Sorong ini adalah karena pesan aneh dari Kakeknya yang menyuruh Vernon untuk berlibur ke tempat yang jauh. Indonesia memang bukan negara yang asing bagi Vernon, Ia pernah mendengar nama negara tropis yang terkenal dengan keindahan alamnya itu beberapa kali, tapi Sorong bukanlah nama kota yang biasa didengar Vernon, apalagi Raja Ampat.

“Grandpa mau apa sebenarnya?” Vernon bergumam sendiri.

“Apa benar kau Choi Vernon?”

Dikejutkan dengan sosok yang muncul dihadapannya, Vernon menegakkan duduk dan mengangguk ragu. Bahasa Inggris orang itu memiliki logat yang aneh, menurut Vernon. Seorang gadis berusia sekitar akhir 20-an, dengan rambut sebahu, keriting, yang khas dimiliki penduduk daerah ini, berkulit lebih gelap dibanding Vernon, sawo matang, namun wajahnya manis menurut penilaian Vernon. Gadis tersebut memamerkan deretan gigi putih yang rapi saat tersenyum lebar pada Vernon.

“Florentina Nebore.”

“Flo.. Ne?”

Vernon tak dapat menahan bahasanya yang keluar begitu saja karena Ia terlalu bingung untuk memahami apa yang dikatakan gadis tersebut.

“Namaku Florentina Nebore. Kau bisa memanggilku Florentina.” walau logatnya asing, gadis itu dapat berbahas Inggris dengan baik.

“Aku Vernon, Choi Vernon. Senang berkenalan denganmu, Flo.”

“Kurasa kau sudah diberitahu sebelumnya bahwa aku akan memandumu selama di sini. Ayo Vernon!”

Penuh semangat dan berani, itu pendapat Vernon soal gadis yang sekarang menunjukkan jalan padanya. Walau terkadang mengalami kesulitan berkomunikasi karena beberapa kata yang sulit, namun sejauh ini Vernon masih bersyukur dengan fakta bahwa dirinya tidak seorang diri dalam perjalanan ekstra panjang ini. Sulit baginya untuk membayangkan bagaimana seorang diri menaiki kapal yang entah membawanya dari satu tempat ke tempat asing lain, ditambah dengan masalah komunikasi.

“Vernon, kita hampir sampai.”

Kantuk Vernon mendadak hilang saat Flo mengguncang bahunya. Matanya memandang berkeliling, takjub dengan pemandangan yang menyambut dirinya. Bau asin air laut terasa menyegarkan bagi Vernon.

“Selamat datang di Waisai!”

Lagi-lagi kerutan muncul di dahi lelaki itu, “Wa… Apa?”

“Waisai,” sahut Flo, “nama tempat ini.”

Bibir Vernon otomatis membulat, pertanda Ia mengerti. Pemandangan alam yang menyambutnya memang menakjubkan bagi Vernon, namun keberadaan pulau yang dapat dikatakan terpencil ini juga tak kalah mencengangkan baginya.

“Tempat tinggalku masih sekitar 30 menit dari sini. Apa kau masih sanggup?” Flo bertanya setengah berkelakar mengejek Vernon. Lelaki itu tak mampu mengeluarkan jawaban selain senyuman pasrah. Tak ada pilihan yang diperhadapkan untuknya.

Perjalanan yang benar-benar panjang telah ditempuh Vernon untuk sampai ke tempat dimana Ia berada sekarang. Meninggalkan hiruk pikuk kota metropolitan, Seoul, dan menikmati libur panjang di daerah asing yang terpencil bernama Waisai. Bahkan untuk lancar menyebutkan nama tempat ini, Vernon butuh usaha lebih. Sambungan telepon selama beberapa menit dengan ibunya sedikit melegakan bagi Vernon. Rupanya Grandpa mengenal baik keluarga Flo, karena itu Mom berkata agar dirinya tidak mengkhawatirkan mengenai akomodasi selama tujuh hari liburannya yang telah diatur Grandpa.

“Vernon, kamarmu sudah siap.” Flo yang muncul dari dalam rumah menghampiri Vernon.

Setelah mengucapkan terima kasih, Vernon masih melanjutkan duduk santainya memandang gelapnya laut lepas sambil menikmati deburan merdu ombak, ditemani Flo yang duduk di sampingnya.

“Tempat ini terpecil,” ujar Vernon, membuat Flo menoleh padanya, “tapi indah.” katanya lagi sambil tersenyum.

“Besok kau akan lebih takjub lagi melihat keindahan tempat ini. Istirahatlah.” Flo bangkit berdiri, menepuk pelan pundak Vernon sebelum kembali masuk ke dalam rumahnya.

Vernon tidak tahu apa rencana Kakeknya sampai menyuruh dirinya berhenti dari pekerjaannya di kantor dan pergi berlibur ke tempat seperti ini. Ia hanya dapat menikmati liburan kali ini dan menghadapi apapun titah Kakeknya nanti.

Dentingan piring yang beradu dengan peralatan makan lain membangunkan Vernon dari tidur lelapnya. Mungkin karena faktor kelelahan, atau justru karena udara segar yang membuat rileks pikiran, Vernon benar-benar tidur dengan pulas. Hal yang jarang Ia alami di Seoul karena pekerjaan yang selalu menumpuk membuatnya kelelahan dan sulit tidur. Debur ombak masih menjadi latar belakang Vernon membuka hari.

“Selamat pagi!” sapanya pada Tuan dan Nyonya Nebore, orang tua Flo, yang disambut senyuman ramah mereka.

Keduanya bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti Vernon, namun mereka tetap berkomunikasi dengan lancar berkat bantuan Flo. Keluarga Flo memiliki empat orang anak, dan Florentina adalah anak kedua dalam keluarga itu. Kata ayah Flo, anak sulung mereka berada di ibukota negara ini, Jakarta. Sementara kedua adik Flo adalah anak kembar laki-laki berusia sekitar dua belas tahunan. Vernon sendiri terkejut saat mengetahui bahwa Flo berusia dua tahun lebih tua darinya.

“Apa aku terlihat jauh lebih tua?” tanya Flo.

Vernon hanya menggeleng. Ia sudah mengira bahwa Flo lebih tua, tapi tidak menyangka selisih usia mereka hanya dua tahun. Dari sikapnya, Flo memang terlihat  jauh lebih dewasa dari Vernon yang justru masih merasa dirinya sangat kekanakan.

“Aku tidak menyangka kau sudah bekerja.” Flo membuka percakapan saat mereka kembali setelah menyusuri pantai Saleo sore itu.

“Pertama melihatmu saja kupikir kau masih sekolah.”

Vernon terkekeh, “Apa aku terlihat semuda itu?”

“Flo nuna sendiri justru terlihat jauh lebih dewasa dariku padahal selisih kita tak jauh.”

“Jangan panggil aku nuna. Lagipula yang kau katakan itu efek garis wajahku.” sahut Flo cuek.

Lagi-lagi Vernon tertawa karena gadis itu. Flo gadis yang cerdas, memiliki selera humor yang bagus, menurut Vernon, dan bersifat penyayang, khas anak perempuan tertua dalam keluarga. Mungkin karena selisih usia dengan kedua adik bungsunya yang terpaut agak jauh yang menjadikannya bersifat lebih dewasa.

“Vernon, kenapa kau keluar dari pekerjaanmu?”

“Karena Grandpa menyuruhku.”

Flo memandang heran pada lelaki berambut coklat muda tersebut, “Apa kalau Kakekmu mengatakan untuk terbang maka kau akan terbang saat itu juga?” ekspresi Flo setengah mengolok lelaki itu.

Vernon tersenyum. Pertanyaan Flo sama persis dengan apa yang selalu muncul dalam pikirannya. Selama ini Vernon selalu menganggap Sang Kakek adalah sosok yang Ia hargai dan hormati, karena itu sebagai cucu lelaki yang tertua Vernon ingin membuat Kakeknya bangga padanya. Ia juga ingin mendapat pengakuan sebagai penerus yang layak bagi Kakeknya. Semua alasan itulah yang membuat Vernon menjalani hidupnya yang sekarang.

“Aku bisa memahami alasanmu.” hanya itu yang dikatakan Flo, dan setelahnya semalam lagi berlalu di Waisai.

Siang ini Vernon berjalan sendiri di pantai sambil sesekali berkejaran dengan ombak. Laut lepas dihadapannya sangat menggoda untuk dijelajahi, tapi Vernon masih terlalu malas untuk bepergian. Florentina memiliki urusan yang harus diselesaikan hari ini juga, sementara menunggu gadis itu kembali, maka Vernon memutuskan untuk bermain sendiri di pantai.

Lelaki itu duduk bersandar di bawah sebuah pohon tak jauh dari pinggir pantai, sibuk mencari tahu mengenai daerah yang tengah Ia datangi. Flo berkata bahwa daerah ini terdiri dari empat pulau besar, dan salah satunya adalah pulau Waigeo, tempat kota Waisai ini berada. Suasana sekitar membuat nyaman Vernon, dan jika sudah begini Ia merasa tangannya ingin menuliskan berbagai kalimat yang dapat ia senandungkan nantinya, seperti kebiasaan Vernon sejak kecil dulu.

Berbagai kata yang ia susun dalam kepalanya mulai menjadi baris berirama yang menguntai makin panjang. Ah, Vernon benar-benar membutuhkan kertas dan pulpen di tangannya.

Ia mengalihkan fokusnya kembali ke layar smartphonenya dan membaca artikel pendek di sana. Lima menit memfokuskan diri, menghasilkan kerutan di dahi Vernon yang kembali muncul.

“Vernon!”

Menoleh ke arah belakang, Vernon dapat melihat Flo yang berlari menghampirinya. Tepat waktu, pikir Vernon, yang memang ingin menanyakan perihal artikel yang baru saja dibacanya.

“Flo, apa kau tahu tentang legenda pulau ini?” tanya Vernon setelah mereka berdua duduk bersama sambil memandangi matahari yang mulai condong ke barat.

“Apa tidak aneh kalau kau bertanya begitu pada penduduk tempat ini?” Flo menyahut, “Tentu saja aku tahu.”

“Tentang pasangan suami istri yang menemukan enam telur naga. Kemudian lima dari enam telur menetas dan muncul empat orang lelaki dan satu orang perempuan, sementara satu telur lagi memilih untuk tidak menetas dan menjadi batu. Begitu maksudmu?” papar Flo.

Vernon mengangguk, “Dan keempat orang itu menjadi Raja dari empat pulau besar di sini.”

“Itu legenda yang menarik, kau tahu?” katanya lagi pada Flo.

“Kau juga merasa begitu?” Vernon mengangguk menjawab pertanyaan gadis itu.

Vernon merasa bahwa dirinya yang sekarang mirip seperti telur yang tidak menetas itu. Selintas keinginan menulis lirik lagu yang tadi sempat muncul menyadarkan Vernon bahwa itu adalah keinginan terdalamnya yang secara alami telah Ia bawa sejak lahir, namun Ia sendiri juga yang memutuskan untuk meninggalkan keinginannya dan memilih jalan untuk membuktikan diri pada Kakek dan kedua orang tuanya. Ia seperti telur yang memilih untuk tetap berada dalam cangkang yang aman, padahal jika saja Ia berani keluar maka Ia bisa saja menjadi seorang Raja. Walaupun kegagalan tetap menjadi salah satu pilihan, tapi setidaknya Vernon seharusnya mencoba mengikuti naluri dan keinginan terdalamnya.

“Kau tahu Vernon?” Flo buka suara, memaksa perhatian Vernon mengarah padanya.

“Aku tidak ingin seperti sang gadis yang berbuat kesalahan atau seperti telur yang tidak menetas, karena itulah aku selalu berusaha menjadi yang terbaik.”

“Kau lihat sendiri betapa terpencilnya tanah kelahiranku, tapi aku ingin menjadi Raja bagi hidupku sendiri, melawan keterbatasanku.”

Vernon tersenyum, terlalu lebar, hingga akhirnya berubah menjadi tawa.

“Jalan pikiranmu terlalu tua, itu sebabnya kau kupanggil ‘nuna’.”

Dan keduanya hanya tertawa dengan perkataan Vernon.

Liburan panjang berubah menjadi terlalu singkat bagi Vernon saat dengan enggan Ia melangkah pergi meninggalkan kediaman keluarga Nebore. Florentina masih akan mengantarnya menuju Sorong. Semua ingatan tentang pantai indah, karang-karang, debur ombak, keramahan keluarga Nebore hanya akan ada dalam ingatan Vernon dan memori ponselnya.

Flo melepas kepergian lelaki yang telah menjadi teman baiknya selama seminggu terakhir di bandara. Vernon memeluk gadis itu sekilas dan melambaikan tangan sampai Flo tak lagi dalam lingkup pandangnya.

“Bagaimana liburanmu?” Kakeknya yang tengah duduk di taman belakang bertanya pada Vernon tanpa melepaskan pandangan dari koran pagi di tangannya.

Vernon tersenyum, tapi tak menjawab. Ia menimbang sejenak dalam pikirannya.

“Grandpa, kupikir aku mengerti maksud perkataanmu padaku.”

“Selama ini kupikir pilihanku untuk menjadi seturut keinginan Grandpa adalah yang terbaik, tapi sekarang aku tahu bahwa yang terbaik untukku adalah mengikuti kata hatiku.”

Sang Kakek akhirnya menurunkan koran ditangannya dan memandang sang cucu dengan pandangan teduh.

“Kurasa ini saatnya aku mengubah diriku, dan satu hal yang kurang adalah ketetapan hatiku untuk memilih.” Vernon menarik nafas panjang, sekarang Ia paham maksud dan tujuan dari Kakeknya.

“Aku ingin menekuni dunia seni yang selama ini kutinggalkan, dan berusaha menjadi yang terbaik. Apa Grandpa akan mendukungku?”

Sang Kakek tertawa dan memandang cucunya, “Apa Grandpa pernah melarangmu?”

-fin-

Iklan

One thought on “[Alone; All One; Al1] Pilihan

  1. Pas baca ff ini mulai paragraf pertama aku mikirnya this plot cuman nyeritain kotanya, sedangkan sub temanya gk terlalu diangkat. But menuju adegan terakhir akhirnya prompt & alurnya mulai terealisasi and i luv it 😘😘 Sebenernya bagus sih nyeritain latar dengan jelas sejelas-jelasnya, tapi bagiku ini agak mengganggu soalnya kalo kebanyakan penjelasan latar kesan alurnya malah kaku 😂 Tolong jangan tersinggung ya, ini penilaian dari sudut pandang reader sok tahu sepertiku wkwk 😂 oya, aku suka karakter Florentina di sini bikos dia ngingetin aku sama artis Shi Min Ah /? (Yalord maafkan imajinasiku xD) Tulisannya juga rapih & gk kerasa kalo ini oneshoot 😂😘💕💕

    Keep writting ya kak Jeon Alien 👍👍👍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s