[Oneshot] Iris

iris

Iris

story by Rosé Blanche

 Kwon Soonyoung [Seventeen] & Hirai Momo [Twice]

AU, Drama, Historical, Romance

PG-17

Oneshot

Previous :
A | B | C | D | E | F | G | H

.

No matter what, I love you.

.

South Korea, 1597

Apa pendapat orang bila mendengar kata ‘setia’?

Seringkali para manusia di sekitarku menyangkutpautkannya dengan komitmen. Sebuah janji pada kerajaan, yaitu mengabdi sepenuhnya sampai titik darah penghabisan di era yang penuh akan perperangan ini.

Kedua, yaitu pada orang tua. Aku yakin, semua anak berpendidikan pastilah memahaminya, terlebih mereka yang berasal dari kalangan atas. Meskipun aku bukan salah satunya, ditambah lagi ayah dan ibuku yang telah tiada semenjak umurku masih belia, setidaknya aku tahu bagaimana cara menghormati para tetua.

Pasangan hidup, lawan jenis yang dicintai … mereka selalu baru akan muncul di angka ketiga atau mungkin bisa lebih. Menurut pandanganku, sebagian besar pria di Geoje tidak terlalu serius menanggapi hal ini.

Terpisah dari putri kalangan bangsawan, mereka selalu memandang rendah kaum wanita. Bukan berarti seluruh dari mereka diperlakukan semena-mena, bukan juga aku mengatakan bahwa rasisme di sini sangatlah kuat, hanya saja … barangkali wanita di mata mereka tak lebih dari sekadar objek yang dapat mereka perlakukan sesuka hati.

Apalagi para tentara Jepang yang telah melakukan invasi pada wilayah kami selama hampir lima tahun tersebut. Mereka bahkan lebih kejam dari yang dapat kubayangkan, terlebih terhadap wanita.

Kedengarannya mengerikan, bukan?

Namun, bukannya aku menghakimi di sini. Kuakui, aku pun tak kalah bodoh dari para pria tersebut kendati ketololan ini sedikit berada pada versi yang berbeda.

“Dia tipikal yang suka keluyuran, ya?”

“Diam saja dan makanlah.”

Dia Wonwoo, teman sepermainanku sejak dulu yang berasal dari keluarga berkasta menengah ke bawah. Entah bagaimana sebuah insiden yang bermula dari datangnya bangsa Jepang itu mempertemukan kami. Dua insan yang saling kehilangan keluarga, tersesat tanpa arah dan tujuan hidup, bahkan kebingungan setengah mati harus melangkah ke mana.

Beruntung kediaman sederhana milik Tuan Jeon dapat terselamatkan, kendati sayang sekali sang pemilik dan istri harus menutup usia pada hari itu juga. Harta waris yang tak lain berasal dari sang ayah pun Wonwoo gunakan dengan sebaik mungkin. Dengan secuil yang tersisa ditambah upaya keras, setidaknya ia dapat menyambung hidup sampai saat ini.

Kuakui, sekarang ini pun aku tak akan mungkin bernapas dan duduk sambil menonton lalu-lalang para pedagang jalanan, jika saja aku tak menabrak Wonwoo lima tahun silam.

Aku berhutang banyak padanya, namun ia tak pernah mempermasalahkan.

“Kau mau sedikit?” Wonwoo menoleh padaku seraya menjulurkan sebatang gandum yang telah dilahapnya sebagian. Astaga, bahkan orang baik seperti dirinya juga harus menderita karena invasi ini?

“Untukmu saja. Harusnya kau lebih peduli pada badanmu yang semakin kurus kering ini. Kau harus makan lebih banyak, Won. Mencuri sedikit-sedikit tidak masalah, apalagi sejujurnya setiap hari kita diberi peluang besar, Bung.”

Pekerjaan kami berdua ialah berdagang buah di pasar pinggiran. Kami memulai usaha ini semenjak masa mengerikan itu dimulai, dan sampai sekarang pun kami masih bertahan kendati pasukan Jepang masih belum angkat kaki. Diriku yang naif selalu berharap, setidaknya keuntungan tak akan enggan menghampiri kami dalam jumlah memuaskan.

Namun, aku merasa seakan seluruh tentara Jepang menertawakanku.

Keuntungan, huh? Aku jadi selalu mempertanyakan kebodohanku kala itu. Bukankah kegiatan seperti memporak-porandakan, mengambil alih kekuasaan, memanfaatkan kaum lemah serta melakukan pemaksaan akan selalu menjadi sesuatu yang dilakukan oleh kaum penjajah?

Betapa tolol diriku.

“Kalau yang kaupikirkan adalah mencuri dan memakan buah dagangan ini, habislah kita kalau ketahuan.”

“Karena itu jangan sampai ketahuan, bodoh.”

Sedikit Wonwoo terkekeh, kemudian kembali memusatkan fokus pada subjek pandang kami sedari tadi.

Sejujurnya bukanlah riuh simpang-siur para pedangang, bukan pembeli yang sibuk menawar harga, bukan pula pasukan Jepang yang tengah awas menjaga daerah ini.

Ia hanyalah seorang gadis berbalutkan kimono, sedang menonton pertunjukan dari seorang pemain sanjo jalanan sembari tersenyum.

Wanita yang muncul begitu saja dalam kehidupanku, pada suatu hari di tengah dinginnya bulan Desember empat tahun lalu. Wanita yang sengaja menarikku paksa dari tepi jembatan, namun tanpa sengaja telah berhasil meluluhkan hati seorang pemuda yang tengah frustrasi berat akan beban hidup dan kondisi wilayahnya.

Dialah yang menyelamatkanku dari keterpurukan diriku sendiri.

Dialah yang menyelamatkanku dari arus deras sungai membekukan.

Aku tidak tahu alasan ataupun masalah apa yang sedang kaualami, namun menyerahkan jiwamu pada malaikat perenggut nyawa sudah pasti bukanlah pilihan yang tepat. Kalau kau masih punya napas kehidupan sampai detik ini juga, berarti ada sesuatu yang belum kautuntaskan. Karena hidup tidak akan pernah ada tanpa alasan.

Itulah sederet kalimat yang mengawali perkenalan kami. Aku sendiri tak pernah menyangka bila sedikit frasa dapat mengubahku sampai sejauh ini, dari seorang manusia tak berpengharapan, menjadi sosok pemuda yang lebih kuat dalam perjuangan hidup.

Untuk pertama kalinya, aku tidak membenci orang yang memiliki kewarganegaraan sama dengan penjajah negeriku. Hanya dialah satu-satunya yang kuperhatikan.

Namanya Hirai Momo, seorang selir dari bangsawan ternama Jepang.

Inilah sebabnya aku mengatakan bahwa aku tak kalah bodoh dari para pria yang sempat kusebut. Memang aku tidak bersikap semena-mena pada wanita. Aku juga tak pernah memandang rendah kaum mereka, apalagi menggaet beberapa wanita sekaligus untuk masuk ke dalam hidupku.

Semenjak umurku menginjak masa pubertas, aku memutuskan untuk menjadi pria sejati yang akan setia hanya pada satu insan.

Masalahnya, mengapa justru di tengah kekacauan wilayah ini, hatiku memilih Momo yang bahkan telah menjadi milik orang lain?

-oOo-

Lengangnya jalan yang kulewati pagi ini membuatku berasumsi jika para tentara belum tersadar dari alam mimpi mereka. Memang warna angkasa masih menunjukkan waktu fajar, bahkan bulan purnama belum enggan meninggalkan bintang-bintang.

Entah mengapa, beberapa hari terakhir sulit sekali bagi rasa kantuk menghampiriku. Kata orang, mungkin aku terlalu mengkhawatirkan situasi. Barangkali memang benar, secara terdapat satu pertanyaan yang selalu memenuhi benakku belakangan ini.

Kapan semua derita ini akan berakhir?

Tungkaiku terus mengayun tanpa arah, tak mengerti tujuan mana yang hendak kugapai. Sementara bibirku mengeluarkan sedikit rutukan akibat mantel tebalku yang tak kuasa melawan tusukan angin dingin, memori tentang kehidupan lamaku sontak terputar dalam benak.

Alasan apa yang mendasari aku tidak tahu, namun bunyi percikan serta suara gemerisik sekumpulan pohon mulai membuatku tersadar.

Ini sungai tempat aku hendak mengakhiri hidupku dulu. Lokasi di mana aku bertemu dengan Momo pula untuk yang pertama kali.

Salahkah bila aku tersenyum sendiri layaknya orang yang kehilangan kewarasannya saat ini?

Tanpa berusaha menghilangkan sedikit pun dari kurva itu, aku melanjut ayunan tungkai mengarah pada sebuah jembatan kayu. Kutempatkan diriku tepat di tengah penyeberangan, sementara kedua netra ini kubiarkan menikmati anugerah alam ini. Memang visiku tak setajam burung hantu, apalagi penerangan di sekitar sini bisa dibilang sangatlah minim secara hanya ada sinar rembulan dan bintang.

Tetapi, begini saja sudah cukup.

Ah, aku jadi merindukan Momo. Terakhir kami bicara adalah dua hari lalu, saat ia mengunjungi gerobak dagangan kami demi membeli sejumlah persik untuk ibunya. Kala itu, matahari kembali datang sehabis petang, bersinar cerah di tengah dinginnya pagi. Momo datang berbalutkan kimono putih bermotif bunga, terlihat begitu manis berpadukan dengan wajah cantik—

“Soonyoung?”

“AYAM—eh, Momo?”

Sedikit terkikik, ia merajut langkah ke arahku. “Susah tidur lagi?”

Seketika lamunan serta putaran memoriku buyar, rasanya seakan tercerai-berai ke mana-mana. Namun, pada akhirnya kurva itu berhasil mengundang senyumanku pula, kupasang sembari menggeleng dan menatap lurus kedua maniknya. “Kurasa belakangan ini ada banyak hal penting yang patut kupikirkan baik-baik ketimbang tidur dan bersantai.”

“Maksudmu?”

“Semacam beberapa permasalahan pria dan … kau tahu … situasi sekarang ….”

Kelopaknya melebar, kemudian ia termanggut-manggut kecil. “Ah, baiklah, aku mengerti.”

Pandangan Momo beralih, sembari jemarinya menyelipkan helaian rambut yang lolos dari gelungan. Ia berdiri tepat di sampingku, tubuhnya menghadap ke arah sungai.

Terjadi keheningan sesaat, sebelum aku kembali buka suara, “Omong-omong, bagaimana kabar ibumu?”

“Ibu?” ujarnya tanpa melepas fokus dari hantaman arus batang air dengan bebatuan. “Dia baik, hanya saja terkadang penyakitnya kambuh.”

“Dua hari lalu, kaubilang akan ada tabib lain lagi yang berkunjung, kan?”

“Orang yang dikatakan suamiku sebagai tabib terbaik itu?” Ketika aku mengiakan, Momo justru menggeleng pelan. “Bahkan tabib terbaik pun tak kalah bingung dengan enam tabib sebelumnya,” ujar Momo, selagi bibirnya memasang senyum kecut. “Keluhan penyakit Ibu terlalu rumit dan penyebabnya masih belum diketahui sampai sekarang. Jadi, anjuran sementara mereka hanyalah ramuan penangkal rasa sakit.”

Momo menghela napas panjang, rautnya berangsur murung.

“Kau … baik-baik saja?”

Ah, konyol. Memang retorik tidak terkandung dalam pertanyaanku barusan, namun apa bedanya? Bahkan anak kecil pun tahu bagaimana kondisi hati seorang putri yang melihat ibunya kesakitan.

Benar saja, lagi-lagi Momo menggeleng. “Aku tahu julukan anak tak tahu diri pantas melekat padaku, tetapi tetap saja, aku …,” sebulir likuid bening meloloskan diri dari sang kelopak, sementara pemiliknya melanjutkan, “… aku lelah harus menghadapi ini semua demi ibuku.”

Jujur, pernyataan gadis satu ini tak membuatku heran.

Tidak sedikit pun.

Barangkali hidup bergelimangkan harta merupakan impian banyak orang. Barangkali menjadi wanita milik seorang tampan yang kaya raya adalah kejaran banyak kaum hawa. Barangkali Momo memang menyukai pria bangsawan itu, secara keraguan sama sekali tak terpancar ketika dua tahun lalu aku beserta ratusan rakyat lain menyaksikan acara pinangannya.

Bahkan senyuman Momo yang terkembang sempurna sangat cantik kala itu. Namun, ada kalanya sebuah kepalsuan dapat terlihat begitu indah, bukan?

Kendati aku tak mengerti seratus persen hal macam apa yang sedang ia alami, satu hal yang jelas kuketahui dari pancaran manik pekatnya…

“Kalau aku mengatakan bahwa kehidupanku lebih runyam dari kelihatannya, bagaimana pendapatmu?”

… Momo tidak bahagia.

-oOo-

Malam ini para rakyat Negeri Sakura mengadakan pesta kecil-kecilan yang diikuti oleh beberapa tingkatan kasta, mulai dari para bangsawan sampai rakyat biasa. Namun, yang mendominasi adalah para tentara. Bukan pesta terlalu resmi atau sejenisnya, yang berkumpul pun mungkin tak sampai lima puluh orang.

Lagi pula dalam keadaan seperti ini, pesta macam apa yang bisa diharapkan?

Ini hanyalah semacam sedikit perayaan lima tahunnya mereka menduduki Korea. Kami berada di sini hanyalah sebagai pelayan-pelayan mereka yang menuangkan arak dan minuman lain.

Alih-alih merasa kesal, jujur aku tidak terlalu keberatan. Setidaknya kami bisa mendapatkan arak gratis juga.

“Menyerah sajalah, Bung. Bahkan sampai bola matamu kering pun, memandanginya seperti itu tak akan membantu apa-apa.”

“Berisik.”

Wonwoo meringis, kemudian mengosongkan gelas araknya dalam sekali tegak. “Selagi ada waktu bersenang-senang, jangan dipakai untuk meratapi nasib—”

“Astaga, berhenti membuatku terlihat menyedihkan.”

“Kau memang menyedihkan.”

Kepalanku spontan menghantam pelan bahunya, diikuti oleh lolosnya tawa pelan dari bibir kami berdua.

Kurasa yang dikatakan Wonwoo bukan sepenuhnya omong kosong, secara memang benar selama tiga hari terakhir ini aku hanya bisa memandang gadis itu dalam diam. Mengamatinya dari kejauhan, sembari bertanya-tanya mengapa keadaan berubah seperti ini, atau apa perbuatan salahku sampai bahkan bersitatap pun ia tak sudi.

Tapi, Wonwoo menyebutku tolol tepat saat aku memberitahunya jawaban yang kuberikan pada Momo, ketika kami bercengkerama di atas jembatan kala subuh itu.

Setiap orang pasti punya masalah, namun banyak juga yang pandai menutupinya. Jadi, kurasa itu bukan sesuatu yang mengejutkan.”

Yah, aku masih tak paham letak salahku di mana, atau … apa aku terlalu naif soal kesensitifan hati wanita?

Untuk mengetahuinya, mungkin hanya satu hal yang dapat kulakukan.

“Mau ke ma— Hei, Soonyoung!”

Teriakan Wonwoo tak kuindahkan, dan kubiarkan tungkaiku terus mengambil langkah setapak demi setapak. Sebab, fokusku telah beralih sepenuhnya pada sosok berambut arang yang kini terduduk di atas sebuah batu besar. Ia menyendiri, menjauh dari kerumunan para bangsawan dan pemabuk.

Ayunan kakiku terhenti tepat di belakangnya, namun ia masih tak berkutik. Pandangannya lurus ke depan, memandangi pesisir yang bahkan tak memiliki keistimewaan untuk dilihat. Hanya suara debur ombak yang mengisi rungu, diikuti dengan silir atas bertiupnya angin pantai.

“Aku tahu lautan paling indah dipandang dari atas bukit, tetapi akan terlihat lebih cantik lagi bila kau melakukannya pada siang hari, Nona.”

Sedikit ia terperanjat, kemudian menoleh cepat seraya mengerutkan alis. “Soon—Soonyoung?” Aku meringis menanggapi ekspresi terkejutnya. Hanya saja, alih-alih senyum yang kurindukan, raut cemas penuh ketakutanlah yang terpancar. “Apa yang kaulakukan di sini?!”

Aku sedikit heran lantaran Momo berbisik, namun aku menjawab, “Eh? Kukira kami disuruh untuk melayani dan menuangkan minuman untuk—”

“Kalau soal itu aku tahu! Maksudku, kenapa kau kemari?”

“Memang kenapa?”

Sebuah helaan napas meluncur cepat dari bibirnya. “Kau bisa dibunuh kalau ketahuan berbicara denganku, Tuan Kwon.”

Ah, benar.

Rasa-rasanya naluri ini membuatku terlupa akan keadaan di sekitarku. Sekalipun ia gadis muda nan lembut yang tak berbuat sekejam para tentara, namun seharusnya aku tidak melupakan di pihak mana ia berada.

Tch, menyebalkan.

“Kalau begitu, jangan sampai ketahuan.”

“A—Apa?!”

“Ayo.”

Entah ide gila dari mana yang berhasil merasukiku, aku menarik pergelangannya sedemikian rupa. Sebenarnya bukan tarikan paksa yang dapat membuatnya merasakan sakit, tetapi Momo toh tetap mengikutiku sembari berlari-lari kecil.

Haha, bahkan ia balas mencengkeram tanganku. Barangkali keadaan gelap serta takut tergelincir dapat dijadikan alasan, tetapi … degupan kencang ini tak akan memilih alasan mana pun selagi genggaman itu memanglah milik Momo seorang.

Astaga, kenapa aku jadi seperti ini ….

“Hei, apa yang kaulakukan?!”

“Aku melakukan sesuatu agar bisa mengobrol denganmu tanpa terbunuh oleh para tentara itu.”

Tak terdengar respons apa pun dari Momo. Meski begitu, kembangan kurva lebar ini tak dapat kutahan lagi. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya ketika lontaran itu kuucapkan, namun setelah kami menapak beberapa langkah kemudian, barulah terdengar suara dengusan pelan. Aku juga tak menyempatkan untuk menoleh demi melihat rautnya, namun suara gumaman yang muncul sesudah itu membuatku menyimpulkan satu hal pasti.

Ia tersenyum.

“Dasar ….”

-oOo-

Kami tiba di sebuah wilayah yang tak kuketahui titik lokasi pastinya, namun kurasa puncak bukit tak terletak jauh dari sini.

Sambil sedikit membungkuk dan terengah mengatur napas, Momo lebih dulu buka suara. “Jadi? Apa yang mau kaubicarakan?”

Ia menatapku lurus-lurus.

Aku juga balas memandanginya tepat di mata, ketika bibirku spontan memasang senyuman lebar tak berdosa sembari menjawab, “Tidak ada.”

Alhasil, sebuah tepukan ringan mendarat di bahuku. “Apa kau baru saja menipuku? Kaubilang tadi ada sesuatu yang mau kaubicara—”

“Hanya sekadar untuk mengobrol, bukan berarti harus ada topik tertentu yang menunggu untuk diperbincangkan, bukan?”

Aku tahu di sini gelap, namun dapat terlihat jelas netranya yang melebar sembari tak berhenti memandangiku. Untuk beberapa sekon kesunyian mengitari kami, namun semua itu dipecahkan oleh gelaknya yang tiba-tiba menguar.

“Oh astaga, kau mirip sekali dengannya.”

“Dengan siapa?”

“Suamiku.”

Perlahan-lahan kekehan itu memudar, digantikan oleh sebuah kurva yang biasa orang pasang ketika menyudahi sebuah tawa. Sementara diriku, aku tak tahu respons apa yang harus kuberikan lantaran lagi-lagi aku melupakan satu hal lain di samping yang dinamakan ‘situasi’ tadi.

Aku pun melupakan status Momo sebagai seorang wanita milik bangsawan.

“Soonyoung? Kau baik-baik saja?”

“Tidak …. Ah, maksudku aku tidak apa-apa.” Pada akhirnya, hanya sebuah senyum canggung yang dapat kuberikan.

Momo masih setia memasang kurva itu, kemudian mengalihkan pandang. Aku mengikuti arah sorotan manik itu, dan kini aku pun bersyukur. Rupanya, kakiku tak salah mengambil arah tujuan.

“Ternyata dari sini lautnya terlihat lebih indah lagi, ya—”

“Mirip di bagian mananya?”

Bersamaan kami berujar, namun … astaga, apa yang kukatakan?!

Serius, kalimat itu terlontar dengan sendirinya tanpa seizin sang empunya mulut dan … hei, kenapa tiba-tiba rasanya susah sekali untuk sekadar menyunggingkan sebuah senyuman?

Barangkali gara-gara rautku yang entah terlihat seperti apa sekarang, pandangan Momo terlihat seolah penuh akan kebingungan.

“Oh? Soal suamiku tadi?” ujarnya seraya mengangkat alis. “Yah, ia juga selalu mengatakan hal itu padaku.” Ketika aku mengerutkan alis ke arahnya, ia pun menambahkan, “Ia sering bilang, kalau untuk sekadar mengobrol itu tidak selalu memerlukan bahan pembicaraan. Ah, sejujurnya ia berkata begitu, karea suatu hari aku pernah melayangkan protes, sebab ia sudah terlalu sering memanggilku tanpa alasan. Aneh, ya?”

“Apa kau sedang menyindir secara halus kalau aku ini juga aneh?”

“Maaf, tapi bukan aku yang bilang melainkan kau sendiri, Soonyoung-ah.”

Lagi-lagi, gelak tawa lolos dari bibir kami berdua. Aku pun memandangnya sejenak, kemudian menimpali, “Hei, itu sama sekali bukan hal aneh, kau tahu?”

“Aneh, sangat aneh.”

Momo masih bersikeras akan anggapannya, bahkan ia sempat menekankan setiap suku kata saat melafalkan kata ‘aneh’ tersebut. Aku tahu semua itu hanya merupakan candaannya saja, sebab ia masih terpingkal. Namun, semua itu segera luntur bersamaan dengan jemariku yang tahu-tahu saja bergerak sendiri dan menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga.

Aku pun tersenyum seraya berujar, “Tidak aneh, Momo. Karena seringkali yang namanya ‘ingin bicara’ itu hanya dijadikan sebuah alasan klasik. Tetapi, juga bukan berarti apa yang ia lakukan itu tanpa berfondasikan alasan. Kau tahu apa yang kumaksud?” Momo pun menggeleng, sehingga aku melanjutkan, “Ia hanya menginginkan waktu kebersamaannya denganmu, meskipun jika memang tidak ada topik dan harus berdiam diri satu sama lain.”

Kini, senyum Momo telah pudar sepenuhnya. Sorot itu masih tertuju penuh kepadaku, dan kami benar-benar bersitatap dalam jarak dekat pada saat ini. Entah apa yang salah, atau apa memang ada yang salah dari posisi kami saat ini? Karena ketika iris pekatnya bertemu dengan pandangku, waktu terasa seakan berhenti.

Sampai wajah Momo lebih dulu berpaling, aku tak tahu berapa sekon yang telah kami lewati. Ia memasang senyum lemah, lantas berkata, “Aku bertanya-tanya mengapa setiap ucapan yang keluar dari mulutmu selalu kurasa benar.”

Jeda sejenak, kupakai untuk menyerapi setiap kata-katanya barusan. Ketika paham dan kesadaran sudah cukup memasuki pikiranku, dengan sedikit tidak yakin aku menimpali, “Karena itukah kau menghindariku selama beberapa hari terakhir? Karena kau menyadari bahwa ucapanku di jembatan kala itu benar adanya?”

Mata Momo melebar, diikuti dengan kelopaknya yang mengerjap beberapa kali. “A—Apa maksudmu? Aku tidak—”

“Akui sajalah, Nona. Kau selalu membuang muka seakan tidak melihatku, padahal tatapan kita sudah jelas sekali bertemu.”

Bungkamnya sudah cukup menjadikan jawaban, dan mau tidak mau hal itu mengundang terciptanya kurva di bibirku.

Momo pun mendengus sebuah tawa, kemudian menghela napas dan berujar, “Ya, kuakui kau memang benar kala itu, dan aku terlalu egois memikirkan dan mengasihani diri sendiri. Aku seolah mengemis simpati, padahal orang lain pun punya masalah yang sama beratnya untuk dihadapi. Baiklah, kau menang, Soonyoug-ah.”

Senyum ini masih belum pudar juga, tepat ketika Momo menambahkan, “Tapi sebenarnya … yah, aku harus mengakui kalau itu bukanlah hal yang membuatku menghindari kontak mata denganmu selama beberapa hari ini.”

“Lalu?”

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan,” jawabnya santai. “Omong-omong …, boleh aku menanyakan sesuatu?”

Tak tahan dengan raut penuh harapnya yang menggemaskan, aku pun mengangguk seraya memutar sedikit arah tubuhku, hingga kini kami berdiri saling berhadapan. “Tentu, Tuan Putri. Tanyakan apa saja yang kau mau.”

“Tadi, kau sempat mengatakan kalau mungkin suamiku tidak selalu memiliki suatu keperluan ketika ia memanggilku, melainkan hanya kehadiranku di sampingnyalah yang ia inginkan. Benar?”

Perlahan kepalaku termanggut, sehingga ia melanjutkan, “Kalau begitu … uhm, sebelumnya … tolong jawablah dengan jujur.”

“Baiklah.”

“Apa kau … juga merasakan hal yang sama ketika kau membawaku ke sini tadi?”

Ah, baiklah.

Aku ingin mengaku.

Seandainya saja, wanita yang berdiri di hadapanku kini bukanlah Hirai Momo.

Seandainya saja, aku memutuskan untuk menyerah dan tak ambil pusing lagi atas perasaan menggebu ini, di kala harapan sudah kurasa tak ada lagi di sisiku.

Seandainya saja, aku bisa mengiakan ucapan Momo barusan, kemudian menyatakan betapa aku sangat mencintainya dengan tulus dalam kurun waktu dan situasi keadaan yang tidak tepat ini.

Seandainya saja, semua itu bukan andaian belaka.

Kendati kata ‘cinta’ tak akan sebegitu gampangnya meluncur dari bibirku, namun bukan berarti aku menjalani segala perasaan ini tanpa adanya perjuangan.

Mencintai secara diam-diam itu satu hal, lain lagi bila memutuskan untuk setia. Padahal, keinginan untuk rehat dan menyerah dalam urusan perasaan ini sudah menggodaku berkali-kali.

Aku seringkali bertanya pada diri sendiri, mengapa harus Hirai Momo? Mengapa aku tak pernah melepaskan perasaan ini? Mengapa kesetiaan menjadi sebuah jalan yang kuambil meskipun asa sudah jelas sekali memberikan tanda ketidakmungkinan?

Barangkali aku memang terlampau bodoh untuk berpikir logis. Meskipun tidak mungkin, toh sampai sekarang aku masih menggantungkan harap. Lagi.

Kuharap genggaman tanganku di tengah dinginnya petang ini dapat memberikan kehangatan untuknya, dan jarak sedekat ini juga merupakan jarak antara diriku dan Momo di kehidupan nyata yang kami jalani.

Semoga saja ciuman yang kudaratkan di bibir Momo kali ini bukanlah sekadar pengisi indahnya malam, melainkan menjadi penyampaian rasa yang kupendam selama ini lantaran sebuah pernyataan tak akan mungkin kulakukan.

Kurasa, jawaban dari semua pertanyaanku tadi hanyalah satu.

“Soon—Soonyoung-ah—”

“Diamlah dan jangan bergerak.”

Karena dia adalah Hirai Momo, dan aku sama sekali tidak keberatan bila memang harus menantinya melewati waktu yang panjang.

fin.
-oOo-


Blue Iris means royalty, faith and hope.

(1) Kaget banget waktu Hoshi dibilang kena radang, tapi untung sekarang dah sembuh:’)

(2) Sebenernya dari pada nulis ‘fin’ di situ, pingin nulis ‘tbc’ aja sih, soalnya kepingin bikin lanjutannya:’) Jadi … sequel nggak nih?:’)

(3) Terima kasih buat yang udah mampir dan baca!

rachel.

 

Iklan

5 thoughts on “[Oneshot] Iris

  1. “… Kalau kau masih punya napas kehidupan sampai detik ini juga, berarti ada sesuatu yang belum kautuntaskan. Karena hidup tidak akan pernah ada tanpa alasan.” = ATUHLAH KECE BINGIT KALIMAT INI SUMPAH TvT AKU LANGSUNG DAPET HIDAYAH LAGI SETELAH BACA INI xD //ETA TERANGKANLAH// Serius Chel, aku ngakak pas Soonyoung bilang “AYAM” pas dikagetin Momo xD Demi apa aku langsung terjungkal plus keinget Ruben Onsu 😀 Meskipun ini historical, tapi menurutku nuansa dan penjabaran settingnya kok kurang kerasa ya? Atau aku aja yg kurang mendalami cerita? Hehehe maap, bukan maksudnya sok menilai :’) Baru pertama kali ini juga baca ff Soonyoung – Momo ❤ ❤ ❤ Btw kamu suka Twice ya? 🙂

    Intinya aku suka sama ff ini! Mengajari kita semua kalau yg namanya 'cinta' itu buta dalam segala hal. Buta posisi, buta waktu, buta situasi, dan buta logika. Aku suka deh baca ff dgn sudut pandang cowok, aku juga lagi proses belajar bikin ginian. Soalnya karakter Soonyoung natural bgt dan mengalir (meskipun di beberapa adegan ada saat di mana dia kesannya feminin soalnya dikit-dikit senyum). Kelemahan terbesarku adalah bikin ff dgn sudut pandang cowok, soalnya aku orangnya lebay wkwkwkwk MAKANYA AKU SUKA, APALAGI HOSHI ITU BIAS NOMOR 2-KU!! Etapi tapi tapi, beneran nih Ochi sempet kena radang? Kok aku gk tau? :'''' //istri macam apa kamu ji? -_-// Apa dia ketularan aku ya? Soalnya aku juga punya radang loh HAHAHA //iyain aja chel biar aku seneng//

    Nice fic as always ❤ ❤ ❤ Keep writting ya kesayangan aku :* :* :*

    Disukai oleh 1 orang

    1. EALAH JI KETULARAN VIRUS ETA TERANGKANLAH JUGA TOHxD oh itu btw latahku kalo dikagetin sih… /krik/
      Ahahah iya juga sih😅 aku juga baru nyadar kalo ini settingnya kurang scara ak lebih fokus ke galau”nya Ochi:’) ak lagi proses belajar bikin historical jadi mianhaeee T_T
      Sebenernya kalo suka sama Twice-nya ya suka” biasa sih, tapi mungkin aku emang ‘suka’ minjem nama mereka doang buat fic😅😅😅 dan ini kebetulan lagi butuh orang jepang dan kupikir mereka cocok sih, jadi ya… ya… gitu:’)

      Iyaaa habis kena radang usus sih katanya:’) tapi udah gapapa kok skarangg😂 btw makasih buat komennyaa, kesayangankuh❤❤❤❤❤

      Suka

    1. oei
      im back
      ini apa2an, aku suka background historicalnya dan bagaimana romancenya slow-built. juga suka konfliknya dari pihak momo, tabrak aja hosh bawa kabur
      terus gemes sama endingnya ih
      dua2nya bukan bias sih tapi bacanya masih gemes :””’ great job hoshi jangan lupa bawa kabur tuh istri orang
      keep writing!

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s