[Alone; All One; Al1] Al1; All; Alone

Al1; All; Alone

dk1317’s present

Starring: Lee Seokmin, Seventeen

AU, Friendship, Hurt/comfort

Vignette

PG

Disclaimer: Idol milik Tuhan, agensi, dan ortunya. Ide milik saya. Jika ada kesamaan ide mungkin kita jodoh/?
A lot of typo, ejaan, dan tanda baca.

“In the place thirteen pieces can be completed,”

.

Verona, Italia Utara

Kembali aku membuka mata dengan paksa. Peluh membasahi seluruh tubuhku. Ah, mimpi itu lagi. Mimpi yang selalu sama sejak dua pekan terakhir yang membuatku kembali berada di sini. Namun kali ini berbeda. Tentu saja.

Aku mendudukan tubuhku. Mengusap segala peluh yang mengalir di pelipisku. Ya Tuhan, parah sekali sepertinya kali ini. Apa karena aku sudah berada di sini? Baru saja kemarin malam aku tiba di Verona, kota Romeo dan Juliet yang penuh dengan drama menyesakkan.

Aku berangkat dari tempat tidur, meneguk segelas penuh air putih yang tersedia di hotel cantik ini. Aku mengetuk meja setelah mataku bertemu dengan benda persegi di samping teko. Aku menghela napas panjang, kemudian mengambil benda persegi itu dan membukanya. Lembaran demi lembaran aku perhatikan.

Ini sebenarnya adalah catatan psikiaterku, dia memintaku untuk datang ke tempat-tempat yang sudah ia catat—atau lebih tepatnya tempat yang selalu kesebutkan dalam pengaruh hipnosisnya—dengan teratur. Menara Lamberti, Piazza Delle Erbe, Casa di Giulietta, dan terakhir Jembatan Castelvecchio. Sebenarnya aku menolak, sebab terlalu perih untuk mengingat semua kenangan di sana. Tapi, bila tidak datang tentunya akan berpengaruh pada kesehatan mentalku. Kalau tidak begitu, aku bisa gila karena depresi yang berkepanjangan.

Aku kembali menghela napas, kemudian berjalan menuju kamar mandi, yah, sebelum pergi aku harus menyegarkan tubuh dulu dari peluh akibat mimpi.

 

..

.

“Tuan, mau kami antar ke mana?”

Aku menoleh dengan bimbang, mengukir sedikit senyuman lalu menunjukkan tempat-tempat yang akan kutuju pada supir—Pak Jung—pribadi yang sengaja dibawa psikiaterku untuk menemaniku. Ia mengangguk, kemudian melajukan mobilnya. Aku memandangi suasana musim gugur kota Verona dengan jantung berdegup kencang.

Sesekali aku menunduk atau menyeka air mata yang keluar begitu saja. Tiba-tiba aku kembali mengingat banyak hal yang sangat kurindukan. Astaga, ini benar-benar menyiksaku.

Kami berhenti di tempat pertama, Menara Lamberti. Bangunan megah bernuansa Eropa ini benar-benar membuatku terduduk lemas. Kakiku bergetar hebat setelah keluar dari mobil dan menatap lekat-lekat suasana di sana. Aku kembali teringat, dulu, di sini tepat lima tahun yang lalu ada tiga belas sahabat yang memulai petualangan mereka di Verona. Dengan sorakan khas bocah Pulau Jeju juga candaan-candaan yang dimulai oleh si tampan Choi yang sangat garing. Oh Tuhan, kumohon.

“Tuan, a-ada apa?” Tanya Pak Jung padaku

“T-tidak apa-apa, jangan pedulikan aku,”

Aku mencoba berangkat dengan bantuan Pak Jung. Mengambil napas panjang setelah berhasil berdiri tegak dengan sempurna. Aku berjalan pelan, menyusuri menara ini. Rasa sesak di dadaku makin bergejolak ketika hendak menaiki menara. Aku kembali teringat, bocah paling muda menarikku untuk berjalan bersama. Sesekali mengobrol dan bercanda. Hingga sampai puncak, aku dikejutkan dengan suara khas laki-laki paling tua di antara kami. Ia memekik kuat, “teman-teman, ayo selamanya seperti ini!”. Aku masih ingat, jelas sekali.

Pak Jung merangkulku. Aku mulai menangis hebat ketika berada di puncak menara. Menangisi kenangan-kenangan dari kedua belas teman yang paling kusayang dan kurindukan. Pemandangan kota Verona yang cantik malah membuat tangisku semakin menjadi.

Setelah cukup lama, aku memutuskan untuk pindah lokasi, menghemat waktu dan juga tenaga. Sebenarnya, aku ingin kembali saja ke hotel, atau langsung saja kembali ke Seoul. Selama perjalanan, aku memejamkan mata. Menolak melihat pemandangan yang tidak asing untuk sekali lagi. Bahkan dengan mata terpejam pun aku masih bisa mengingat kenangan-kenangan yang kami lakukan selama perjalanan. Kenangan tentang bagaimana, lelaki bermarga Yoon terus berbicara denganku betapa ia menyukai Verona yang indah dan megah dengan bangunan khas Eropa disetiap jalannya, juga kenangan tentang perdebatan bocah bermarga Kim berkulit tan dengan lelaki pendek bermarga Lee.

Kembali aku menitikan air mata. Menghapusnya kasar kemudian terlelap dengan waktu yang tergolong singkat. Tak lama, kami sampai di Piazza Delle Erbe. Pak Jung sudah memintaku untuk keluar dari mobil. Sekali lagi, aku menolak. Cukup, hentikan semua hal yang membuat sesak ini semakin berkelanjutan.

“Tuan, ayo, bagaimana kalau kita sekalian makan siang di sini?”

Ayolah, jangan juga makan siang. Kau membuatku kembali teringat jika kami menghabiskan waktu makan siang di sini. Dengan segala jenis makanan Italia yang tak luput dari rebutan antara lelaki Jeon dan lelaki Kwon, juga aksi berpoto-poto ala duo lelaki Cina.

Pak Jung memaksaku, namun ia menarikku dengan lembut. Akhirnya setelah lima belas menit, aku keluar dengan memakai kacamata hitam untuk mencegah orang-orang melihat mataku bila aku menangis. Aku berjalan, melewati tempat-tempat yang disukai lelaki bermarga Hong ketika kami berjalan bersama. Dengan fasihnya ia berbahasa inggris dan meminta tolong seseorang untuk memoto kami berdua.

Aku duduk di salah satu kursi yang memang disediakan di sana. Pak Jung menawarkanku minuman, ah sial, aku kembali ingat dengan segala bentuk permintaan agar bisa ditraktir oleh tiga yang paling tua di antara kami. Walau tak kupungkiri aku termasuk dalam orang-orang yang meminta.

Akhirnya, aku dan Pak Jung makan di restoran terdekat. Bukan restoran yang sama sehingga aku bisa makan dengan tenang. Kembali kami melanjutkan perjalanan menuju Casa di Giulietta. Tempat paling romantis menurut orang-orang, karena di sanalah Romeo dan Juliet bermadu kasih.

Sesampainya, aku terdiam dan hanya duduk memperhatikan suasana di sana. Bagai putaran film, kenangan kembali kuingat. Yah, saat itu, lelaki bermarga Kwon mendatangiku dan memanggilku Romeo, kesebelas temanku yang lain mulai tertawa dan memperhatikan kami berdua. Berlakon sebagai Romeo dan Juliet membuat lelaki pendek bermarga Lee tertawa terbahak-bahak, tak dilewatkan juga bagaimana bocah Jeju dan yang paling muda menjadi penari latar kami berdua. Tanpa rasa malu, kami seperti orang gila di sana.

Air mataku kembali mengalir, kini dengan senyuman yang mulai terukir. Terlalu lucu bila aku harus menangis meraung dengan kenangan yang aneh itu. Aku berangkat dari duduk, kembali mengajak Pak Jung untuk melanjutkan perjalanan, sebab tak terasa matahari semakin tenggelam.

Pak Jung menghentikan mobilnya di pinggir jalan hampir menuju tempat tujuan kami. Aku menatapnya bingung, dia tersenyum lalu menjelaskan kalau psikiaterku yang memintanya. Aku mengangguk kemudian turun dari mobil, berjalan sendirian menuju tempat tujuan yang tidak jauh, Jembatan Castelvecchio dengan pemandangan sore harinya yang indah.

Melihatnya dari jauh sudah mengingatkanku bagaimana bocah berkuliat tan dengan penuh semangat berlari ke sana, disusul oleh lelaki tampan dari Cina juga lelaki yang kuanggap sebagai Ibu. Bukan hanya mereka yang berlarian setelahnya, teman-teman yang lain termasuk aku akhirnya berlari, beradu siapa yang paling cepat berada sampai di jembatan. Dengan tawa khas orang-orang yang sudah bersahabat lama, dan tanpa peduli dengan tatapan orang-orang, kami sampai di pertengahan jembatan dengan riang.

Lelaki kurus dari Cina memukulku keras karena aku menariknya untuk berlari bersama. Tak lupa tawa melengking dari lelaki paling tua juga ocehan kesal dari lelaki pendek. Aku tersenyum mengingat itu semua dan tak terasa aku sudah berdiri di tempat yang sama dengan membawa kotak berukuran sedang.

Aku membuka kotak itu. Air mataku kembali meleleh. Aku menunduk membiarkan semua perasaanku mengalir bersama air mata. Di dalam kotak itu, terdapat dua belas cincin yang sama dengan yang kupakai di kelingking kananku. Aku sengaja membawanya, ke tempat ini tentunya.

Dadaku sesak, sangat. Di sini, di tempat ini, di mana seharusnya tiga belas serpihan kehidupan kembali berkumpul dan bersatu, sebagai janji lima tahun yang lalu, tepat di mana ketiga belas cincin terpasang di jari masing-masing.

 

..

.

Lima tahun yang lalu,

“Seungcheol-ah, kau tidak mau membagikannya?” Tanya Jeonghan Hyung

“Ah, benar,”

Sepuluh pasang mata memperhatikan ketiga kakak tertua dengan seksama. Jisoo Hyung menolong Seungcheol Hyung mengeluarkan tiga belas kotak berukuran sama dan membagikannya kepada kami.

Kami membuka kotak itu perlahan, saling memperhatikan bahwa kotak itu memperlihatkan tiga belas cincin yang sama.

“Mau berjanji suatu hal bersama?” Tanya Seungcheol Hyung

Kami menatap Seungcheol Hyung, “Apa Hyung?” Tanya Soonyoung Hyung

“Berjanjilah kita akan kembali ke sini, lima tahun lagi,” ujar Seungcheol Hyung

Aku tersenyum, begitu juga yang lain, kemudian kami memasang cincin itu di jari kelingking masing-masing, tanda bahwa kami setuju dan telah berjanji akan kembali.

 

..

.

Bandara Internasional Verona Villafranca, Verona

“Maaf aku tidak bisa pulang bersama kalian,”

“Tidak apa-apa Seokmin-ah, sukses dengan pekerjaanmu, besok kita pasti akan menjemputmu di bandara,” ucap Mingyu

Aku berdecih, tidak percaya dengan ucapan seorang lelaki bermarga Kim itu. “Sudah, sudah. Kami harus masuk sekarang, sampai jumpa besok, Seokmin-ah,” ujar Junghan Hyung

“Sampai jumpa, Seungcheol Hyung, Junghan Hyung, Jisoo Hyung, Junhui Hyung, Soonyoung Hyung, Wonwoo Hyung, Jihoon Hyung, Mingyu, Minghao, Hansol, Seungkwan, Chan!”

Mereka terkekeh melihatku menyebutkan nama mereka satu persatu, tak lupa lambaian dan senyum hangat mereka berikan padaku.

Tanpa kusadari bahwa itu adalah terakhir kalinya melihat senyum mereka.

 

..

.

Malam harinya,

Ponselku berdering, menandakan telepon masuk. Aku mengernyitkan dahiku ketika nama yang tertera adalah adik dari Hansol, Sofia.

“Ada apa Sofia?” Tanyaku setelah menekan tombol loud speaker dan menaruh ponsel di meja, sebab aku sedang beres-beres baju.

[“O-oppa,”] panggilnya. Suaranya bergetar, perasaanku mulai tidak enak

Aku mengangkat ponselku tidak sabaran menunggu ucapan Sofia selanjutnya.

[“Sebenarnya aku belum ingin memberitahu—hiks—Oppa, dan yang lainnya—hiks—pesawat—hiks—mereka jatuh,”]

Trak

Ponselku jatuh. Waktu bagaikan berhenti. Suara tangis Sofia terdengar miris di telingaku.

Detik itu juga. Aku sadar bahwa aku,

telah sendirian.

 

.fin.

26/07/2017

 

Halu~
Happy 2nd Anniversary Dear Lovely SVTFFI~
Mungkin ini adalah kali pertama aku ikut event SVTFFI selain event buat ultah member? Eh, engga ding, pernah ikut 1st. Adore U, ehe..
Terima kasih sudah mau menikmati Abang Dike tercinta, ini termasuk rikuesan engga ya? Soalnya kemarin kaknjel minta bikinin Dike, ehe..
Dan mungkin fic ini tidak sebagus fic siapapun yang sudah pernah kalian baca, sungguh saya juga masih belajar 🙂
Sekali lagi, terima kasih sudah mau membaca fic aneh bin absurd ane ^^

Salam, Tri dan Mak Junghan ^^

Iklan

2 thoughts on “[Alone; All One; Al1] Al1; All; Alone

  1. Halo Tri ^^
    Tumben ada yg bikin Abang dike dimari *gak.
    Lah kok gini sih ceritanya … Lee Seokmin malang nian. Mana dia mewekan lagi. Kalo kata sepupuku mah ne in aja biar ppali, mbunuh org 12 mah susah kalo gak gara2 kecelakaan.
    Tapi tadi ada beberapa tanda titik yg kelewatan. Hal lain yg mengganjal adalah kenapa yg sblmnya gak langsung disebut nama aja member2nya, agak bingung mbayanginnya.
    Keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Halu mbak.. Ya Allah aku udah lama ga buka wp dan ga sadar ini udah di publis.. duhh..
      terima kasih atas masukan anda mbaak /deepbow/ aku kudu begimana semisalnya tidak ada dirimu mbaklii /kiss&hug/

      Aku suka menyiksa seokmin mbaklii.. dan kebetulan ada event ini dan aku sejujurnya bingung mau membunuh 12 orang itu begimana .. jadi aku gituin aja /plak/gamutu kamu tri/
      tanda titik mba? miyane, aku memang kalah sama tanda baca :’))
      maafkan juga tulisanku yang aneh yang mengganjal wkwk.. sumpah aku juga udah berkali2 review rewrite dan masih mengganjal ya aku ga ngerti lagi jadi ya gitu /plak/gamutu kamu tri.2/
      untuk masalah member yg ga disebutin aku lupa apa alasannya, pokoknya biar seru tebak-tebakan /plak/gamutu kamu tri.3/

      makasih lagi mbaaklii buat reviewnya .. aku akan belajar lagi biar menjadi lebih baik /kiss/ :*

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s