[Alone; All One; All] Of His and Laveau’s Secrets

ofhisandlaveaussecret

Of His and Laveau’s Secrets

story by Rosé Blanche

Kim Mingyu [Seventeen] & Katrina Madison [OC]

AU, Dark, Fantasy, Romance

PG-17

Oneshot

.

[Alone : Why did you go far away?]

.

Don’t keep me from the secret, but keep the secret just between us.

.

Rasa-rasanya hampa.

Bukan suatu perkara aneh, lantaran sang jelita telah terbiasa. Menjalani rutinitas harian bersama segelas wine tiap petang, kemudian mendengarkan alunan musik jaz sampai rasa kantuk itu tiba. Kendati realita bahwa keinginan untuk jatuh pada alam mimpi tak pernah mendatanginya saat malam, namun ia toh tetap melakukan hal demikian.

Upaya sia-sia, Kate tahu.

Sedikit ia mengisap likuid beralkohol itu. Ia tahu, sesungguhnya ia tidak sendirian secara ada para pekerja Madison yang datang dan pergi tiap hari. Mereka tak terlalu sulit untuk digapai, tak terlalu jauh untuk dijangkau. Barangkali mereka memang berjumlah banyak, namun tetap Kate merasa seperti berdiri bak setangkai bunga di tengah padang luas yang sama sekali tidak menarik.

Singkatnya, ia kesepian.

Kelopak dibiarkannya terpejam seiring alunan musik lembut menyerbu rungu. Namun alih-alih merasa tenang, ia justru gelisah.

Belum sepuluh sekon terlewat, sang gadis memutuskan untuk membuka matanya kembali.

Pasti ada sesuatu.

Ia yakin, wanita seperti dirinya tak akan mungkin salah insting. Napasnya tertahan, diikuti dengan sekujur tubuh yang berubah kaku. Ia tak perlu melempar lirikan ke sembarang sudut demi mencari-cari. Hanya fokus serta mengendalikan keawasan batin, itu saja cukup.

Spontan senyum simpul terpasang ketika kesadaran menghampiri. Ia beranjak dan meninggalkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja kayu, lalu melangkah dari sudut ruang, beralih menuju ke bar yang berada di tengah-tengah.

Seorang pemuda dengan sebuah koper hitam tampak sedang menikmati bir di sana.

“Terlalu banyak mencuri pandang itu tidak sopan, Tuan.” Tanpa menatap lawan bicaranya, Kate menempatkan diri pada sebuah kursi tinggi di samping sang pemuda. Ia masih memasang kurva sama, seakan bangga atas keberhasilannya menangkap basah perbuatan lelaki tersebut.

Seraya menolehkan kepala, manik cokelat pemuda tersebut melebar. Hadirlah susulan tawa pelan, kemudian ia berujar, “Maaf, Nona. Hanya saja … kupikir jarang sekali ada gadis yang sudi duduk sendirian di sebuah pub malam-malam begini?”

“Memang kenapa?”

“Tidak sepatutnya gadis muda sepertimu berada di tempat begini. Aku memang tidak tahu alasanmu, tapi—”

“Lalu bagaimana kalau status kepemilikanku atas pub ini dijadikan alasan? Bisa diterima?”

Keheningan menyelimuti sesaat. Lekas lelaki itu berdeham, lalu mengalihkan tatap pada segelas likuid beralkohol yang ia genggam. Buru-buru ia berujar, “Maafkan aku sekali lagi.”

“Kau formal sekali,” timpal Kate, terkekeh pelan. “Omong-omong, sepertinya kau bukan warga daerah sini? Logatmu agak beda dan … kau membawa koper.”

“Ah, ya. Memang bukan,” jawabnya buru-buru, lalu tersenyum kikuk. Diangkatnya sebelah tangan untuk menggaruk kepala, padahal tidak terasa gatal. Demi menghilangkan kecanggungan, sang pemuda pun mengulurkan tangan serta berujar, “Kim Mingyu.”

“Eh? Apa?”

Kendati uluran itu belum bertaut dengan milik sang gadis, namun Mingyu mempertahankannya. “Namaku Kim Mingyu, turis asal Seoul yang terdampar di New Orleans.”

Napas tertahan serta wajah perawakan kikuk yang kentara sekali menandakan kecanggungan sang pemuda, sedikit demi sedikit berhasil mengundang ulasan kurva milik Kate.

Pada akhirnya, bersambutlah uluran tangan itu.

“Baiklah, Tuan Kim, semoga hari-harimu di New Orleans menyenangkan,” ujar Kate setengah tertawa. “Dan … terdampar? Kau salah memilih destinasi liburan? Well, maksudku, banyak yang mengatakan kalau New Orleans itu menyeramkan, kotanya berhantu, apalagi French Quarter, kawasan yang kaudatangi ini dikenal sebagai sarang para vampi—”

“Ah, aku tahu,” sahut Mingyu segera, kemudian melanjutkan, “Marie Laveau, kurasa ia cukup terkenal di sini?”

Manik Kate membola, kemudian menimpali, “Kau tahu dia?”

Mingyu mengangguk. “Ya, ratu voodoo yang hidup di abad ke-19. Kata orang, makamnya yang bertempat di kawasan St. Louis itu angker.”

Alih-alih terkesima dengan pengetahuan Mingyu soal sosok bersejarah di kotanya, Kate justru berpaling. “Memang benar, tapi … bisakah kita jangan membahas itu sekarang? Ini sudah lewat tengah malam, dan aku … aku ….”

Konyol sekali bila Mingyu mengiranya sebagai gadis pemilik pub yang sering lembur sampai dini hari, namun takut dengan hal-hal berbau mistik.

Tetapi, Kate sendiri toh berharap demikian.

“Astaga, maafkan aku, aku tidak—”

Kate spontan menggeleng, membuat Mingyu urung melanjutkan kalimatnya. “Ayolah, kau tidak perlu meminta maaf terus-terusan. Tak tahan dengan hal berbau mistik pada malam hari, bukankah itu normal bagi kebanyakan gadis?” Kate terkekeh ringan, sebelum ia melanjutkan, “Omong-omong, pubku akan tutup sebentar lagi. Kau … sudah dapat penginapan, kan?”

Mingyu pun menunduk. “Belum.”

“Kau … belum mendapat tempat tinggal?”

“Bourbon, kawasan French Quarter ini, adalah tempat paling jauh yang bisa kucapai dengan berjalan kaki dari stasiun. Semua hotelnya penuh, dan kebanyakan juga sudah tutup. Jadi … begitulah.”

Sang gadis terdiam. Sedikit ia mengerutkan kening, kemudian menelengkan kepalanya dan berujar, “Kalau begitu, maukah kau tinggal di penginapanku?”

“Kau juga punya penginapan?”

Ia mengangguk. “Kau sudah coba mampir ke penginapan Madison? Letaknya tepat di sebelah pub ini.”

“Itu juga punyamu?” Lagi-lagi Kate termanggut, sehingga Mingyu melanjutkan, “Ah, pantas saja namanya sama dengan pub ini. Aku tadi sempat ke sana, tapi sudah tutup juga.”

“Masalah itu, aku bisa membukakannya kembali khusus untukmu, kalau kau mau.”

Cukup lama mereka bersitatap. Sempat terjadi selang waktu sesaat, dipakai sang lelaki untuk menimbang-nimbang sejenak sampai akhirnya ia tersadar.

Ia tak punya pilihan lain.

“Baiklah, kuterima tawaranmu dengan senang hati. Terima kasih atas bantuannya, … uhm, aku belum tahu namamu?”

Sambil kembari terkekeh, sang gadis kembali meraih tangan sang pemuda dan menjabatnya untuk yang kedua kali. “Katrina Madison, kau bisa memanggilku Kate.”

-oOo-

Berapa lamakah ia bisa bertahan dan terus bersembunyi?

Memikirkannya saja sudah membuat penat habis-habisan. Kerap membohongi diri sendiri seakan tak terjadi apa-apa, walaupun nyatanya ia tidak suka fakta bahwa itu sama saja bersembunyi dari realita.

Mingyu sendiri bertanya-tanya, mengapa ia sampai pergi sejauh ini?

Karena terpaksa, atau dirinyalah yang terlampau menjadi pengecut? Atau barangkali keduanya?

Ini sudah memasuki minggu ketiga semenjak kakinya berpijak pada New Orleans, setelah sebelumnya sempat mengunjungi San Diego dan Dallas. Namun, kakinya sama sekali tak pernah melangkah keluar dari area French Quarter. Mungkin hanya ke minimarket untuk sekadar membeli barang kebutuhan, atau barangkali berkunjung sesekali ke Madison, tempat di mana ia dapat merasakan ketenangan dengan meneguk segelas wine.

“Kau tidak bosan?”

Mingyu melirik sekilas, pandangnya bertemu dengan iris kebiruan sang gadis. “Kenapa harus bosan?”

Come on, kau ini benar-benar turis bukan, sih? Mana ada turis yang menghabiskan dua minggu lebih hanya dengan minum bir dan wine di sebuah pub pinggiran?”

Dalam hati, ia membenarkan ucapan sang gadis.

Namun, ia mengurung diri juga bukan tanpa adanya alasan.

“Waktu itu, bukannya kau bilang kalau pekerjaanmu adalah penulis? Penulis butuh inspirasi, kan?”

“Lalu?”

“Inspirasi jenis apa yang mau kaudapatkan dalam sebuah pub?”

Mingyu pun menyunggingkan kurva miring. “Wanita yang sedang berbicara denganku sekarang ini adalah inspirasiku.”

Kate berdecak.

Mengingat lima belas hari yang telah terlewat, mungkin ada kalanya Kate merasakan sedikit sesal telah mengenal pemuda ini. Namun, itu semua hanya sebatas karena adanya jiwa perayu yang seringkali menjadikan Mingyu tercap sebagai penjerat hati wanita. Sebagian kata yang terlontar terasa lebih manis dari madu, kendati semua itu dirasa Kate tak lebih dari sebuah gurauan belaka.

Tetapi di luar itu semua, ia rasa Mingyu orang yang baik.

Alih-alih menimpali kalimat Mingyu, ia pun beranjak dari duduknya seraya mengeluarkan sebuah kunci dari saku. “Ayo, ikut aku.”

“Apa?”

Sang gadis mengangkat kunci itu kembali, menggoyangkannya sedikit seraya menyunggingkan senyum. “Jalan-jalan di pusat kota, aku yang akan menyetir.”

“Eh? Tapi—”

“Aku tidak menerima penolakan, kecuali kalau kau ingin didepak keluar dari sini dengan biaya inap yang kunaikkan dua kali lipat. Jadi, ikut atau tidak?”

-oOo-

Mingyu tak pernah mengiakan.

Mingyu sama sekali tak pernah mengiakan, namun nyatanya di sinilah ia sekarang. Duduk diam di jok depan sebelah kiri dalam sedan merah milik Kate.

Dalam satu hari, tungkainya telah mengitari lebih dari seperempat New Orleans sendiri. Dimulai dari menginjakkan kaki pada kawasan Jackson Square, menelusuri seisi Museum Cabildo dan St. Louis, salah satu katedral tertua di negara Paman Sam.

Tak lupa setelah berkeliling, Kate mengajaknya ke Jax Brewery dan Canal Place demi berbelanja barang-barang yang sebenarnya tak terlalu Mingyu butuhkan.

“Apa kau selalu menjadi pemaksa seperti ini?” Pertanyaan tersebut menggantung di udara untuk sejenak, sebelum akhirnya Mingyu melanjutkan, “Kutebak kau tipikal orang yang mudah penasaran.”

“Memang benar,” jawab sang gadis segera. “Jujur, banyak sekali hal yang ingin kutanyakan. Misalnya seperti kenapa kau jarang sekali keluar dari kamarmu padahal kau adalah turis, kenapa aku tidak pernah melihatmu menulis meskipun itu adalah sumber penghasilanmu, apa kau ke sini benar-benar untuk berlibur atau justru karena tuntutan suatu hal—”

Deg.

Detik itu pula, jantung Mingyu seakan berhenti. Tak didengarnya lagi ocehan Kate yang terus berlanjut. Benaknya mulai penuh akan pemikiran buruk, lengkap dengan kecemasan yang datang melingkupi. Setetes keringat dingin mulai mengucur, dan—

“Mingyu?”

Panggilan itu sontak membuatnya tersadar. Ia menoleh, mendapati raut penuh selidik yang terpatri pada wajah sang gadis, namun sama sekali tak mengurangi konsentrasinya mengemudi.

“Ya?”

“Apa kau … gelisah?”

Sepasang manik Mingyu membola. Namun hanya untuk sejenak, karena ia segera menggantinya dengan sebuah tawa canggung. “Kenapa kau beranggapan begitu?”

Well, keningmu sedikit berkeringat, wajahmu tegang dan … aku bisa mendengar suara degup jantungmu.”

“Bukan takut. Aku hanya gugup karena berada di dekatmu.”

Sambil mendenguskan tawa yang kedengarannya mengejek, Kate menimpali, “Mana ada orang gugup bicara seperti itu? Serius, Gyu, kau tidak bisa membohongiku. Aku bisa merasakannya.”

“Merasakan apa?”

Kate tidak langsung menjawab lantaran mereka telah sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan sang sedan merah, barulah Kate melepas sabuk seraya menatap Mingyu kembali. “Aura ketakutanmu.”

Mingyu terdiam.

Kini, ia tahu.

Barangkali Kate memanglah orang yang tepat.

Sementara itu, sebenarnya gadis seperti Kate sendiri bukanlah tipikal yang tahan untuk bermuram di tempat seindah ini, terlebih apabila kesayuan itu berasal dari faktor eksternal dan punya intensi untuk merusak suasana hatinya. Lagi pula, sudah lama dirinya tak mengunjungi Taman Woldenberg dan menikmati surya senja di tepian Sungai Mississipi.

Namun, semua pemikiran itu segera lenyap ketika Mingyu mulai angkat bicara mengenai sebuah rahasia.

-oOo-

Semuanya bermula tepat enam bulan lalu.

Mingyu tahu, setiap hal itu pasti ada positif negatifnya, termasuk menjadi orang terkenal. Memang ia dicintai banyak orang atas karyanya. Memang kekaguman begitu jelas terlihat dari setengah populasi Seoul. Namun, semua itu tak menutup kemungkinan untuknya dibenci.

Motifnya pun itu-itu saja. Dendam. Uang. Merasa tersaingi.

“Tuan Lee bangkrut karena kepopuleranmu yang melonjak, dan sekarang ia telah menyewa beberapa orang untuk mengintaimu. Kita tak pernah tahu apa yang ada di pikiran pria tua itu, dan entahlah ini hanya sebuah ancaman atau memang ia berupaya menghabisimu, tapi … sudah kuselidiki dan salah satu orang bayarannya adalah Choi Seungcheol, seorang pembunuh bayaran kelas atas.”

Itulah kata-kata manajernya pada suatu malam di kediaman Mingyu. Atau mungkin, bisa dibilang ucapan terakhir sebelum perpisahan mendatangi mereka.

Karena setelah pria tersebut berpamitan pada Mingyu, tak tercapai sepuluh sekon ketika Mingyu mendengar suara tembakan.

DOR!

Keterkejutan seketika menimpanya, ditambah lagi sosok sang manajer yang bersimbah darah langsung terlihat ketika ia mengintip dari celah jendela.

Tak berayal lagi, Mingyu pun mengemasi barangnya ke dalam koper selekas mungkin, tak lupa pula dengan paspor dan visanya.

Malam itu juga, ia kabur. Ia merasa aneh, lantaran harus mengendap-endap di kediamannya sendiri. Ia sama sekali tak tahu apakah penembak tersebut seorang diri atau berkelompok, apakah mereka telah menyusup atau masih mengepung di luar.

Tetapi, Mingyu masih bersyukur. Setidaknya semua itu berujung pada keberhasilannya melarikan diri, kendati kini kepelikan masih setia menaunginya.

Kate mendengarkan setiap kalimat yang terlontar dengan saksama, kemudian ia merespons, “Kenapa kau tidak memanggil polisi?”

“Aku diserang beberapa menit setelah aku mengetahui fakta bahwa nyawaku berada pada ujung tanduk. Tak ada waktu lagi, Kate. Lagi pula, mereka toh tak akan terlalu membantu, secara entah sudah berapa kali Choi Seungcheol lolos dari kejaran polisi. Bahkan, ratusan nyawa mereka telah direnggut oleh psikopat itu.”

Terjadi jeda untuk beberapa saat, sebelum Kate kembali menimpali penuh kecemasan, “Kenapa tidak bilang dari awal?”

Namun, Mingyu malah mengulas senyum kendati terlihat lirih. Ditatapnya intens manik kelereng milik Kate, kemudian tanpa permisi ia mengusap puncak kepala gadis itu. “Kurasa aku takut kau mengusirku dari penginapanmu.”

“Apa?”

“Aku sedang berada dalam bahaya, dan … sebenarnya aku ingin berusaha supaya kau tidak terlibat. Namun, kurasa menjauhimu lebih sulit lagi.” Mingyu menurunkan tangannya, mendarat pada pipi sang gadis. “Kau menarik, jadi jangan heran kalau sekarang aku menaruh perasaan padamu, Kate. Ingat saat pertama kali kita bertemu di pub? Di sana aku terus memandangimu tanpa henti, sampai-sampai aku merasa seperti kembali ke masa kanak-kanak di mana mereka percaya sekali akan cinta pada pandangan pertama. Konyol, bukan?”

Mingyu terkekeh pelan, masih memandangi iris yang sama.

Namun, Kate malah merasa aneh. Lelaki ini, seseorang yang baru saja mengenalnya selama dua minggu. Seseorang yang Kate sama sekali tidak harapkan akan presensinya, tetapi datang begitu saja dan berhasil membuatnya merasa nyaman.

Apa ini selalu dirasakan oleh seseorang yang telah lama kesepian?

“Maaf kalau selama ini aku menutupi banyak hal, padahal kaulah penolongku. Aku hanya berpikiran bila aku membongkar rahasiaku, maka kau akan membenciku, atau mungkin merasa takut. Tetapi, lupakan saja, oke? Karena kurasa semua itu tidak akan jadi persoalan lagi sekarang. Omong-omong, ayo kita pulang saja.”

Kate menatap sang pemuda yang beranjak berdiri tepat ketika matahari terbenam. Dirinya pun mengikuti, lantas berlari-lari kecil mengejar Mingyu. “Maksudmu?”

Diliriknya Kate sejenak, dan ia pun menjawab, “Aku akan meninggalkan New Orleans besok pagi.”

-oOo-

Keheningan melanda di sepanjang perjalanan.

Tak ada yang berniatan untuk memulai cengkerama ataupun mengajukan topik. Suasana berubah canggung, terlebih rona merah yang tahu-tahu muncul sendiri sebagai akibat akan kejadian yang terus berputar-putar dalam benak Kate.

“Jangan heran kalau sekarang aku menaruh perasaan padamu, Kate.”

Kate meloloskan sebuah napas panjang, tepat ketika mobilnya berbelok ke arah sebuah gang sempit.

Tiba-tiba saja, seseorang bermasker hitam meloncat ke tengah jalan, membuat Kate terpaksa menginjak rem kuat-kuat. Gadis itu sempat merutuk dalam hati, namun semua itu segera digantikan berbagai firasat buruk.

Memang wajah sampai kepala orang itu tertutupi, namun sorot matanya jelas tertuju pada lelaki di sampingnya.

“Choi … Seungcheol?”

Seketika kedua mata Kate membola mendengar nama yang terucap. Sebenarnya, ia ingin menerobos dengan langsung melajukan mobilnya sekencang mungkin, namun tidak jadi ketika pria-pria bermasker lain bermunculan keluar seraya membawa senjata.

“Tetaplah berada dalam mobil,” ujar Mingyu seraya membuka pintu dan keluar.

Kini, para lelaki itu pun berhadapan. Berdiri dan memasang sikap awas, saling melontarkan pandangan tak suka.

“Jauh sekali ya, sampai ke New Orleans? Bagaimana rasanya mengencani gadis Amerika, huh?” Komentar itu Seungcheol lontarkan selagi ia melepaskan maskernya, kemudian melirik Kate sekilas. “Sebenarnya, aku bisa saja membunuhmu dalam sekali tembak, tapi klienku meminta untuk mengambil nyawamu perlahan, Bung. Sedikit demi sedikit namun menyakitkan, katanya. Pria tua yang cerewet, bukan?”

Seungcheol terkekeh, berkebalikan dengan Mingyu yang sudah menggertakkan gigi selagi tangannya terkepal.

Sesuai dengan dugaannya, tawa itu berangsur lenyap. Senyum yang menjungkitkan sebelah bibir segera menggantikan, begitu terkesan angkuh. Seungcheol bersedekap, kemudian hanya dengan menggerakkan kepala sedikit ke arah Mingyu, anak buahnya pun langsung menyerbu.

Di situlah, pertempuran terjadi.

Segenap kekuatan Mingyu kerahkan demi melakukan perlawanan dengan tangan kosongnya. Pukulan bertubi-tubi ia berikan, bogem mentah serta tendangan pun tak terlewatkan. Namun, semua itu hanya sedikit saja menghambat, karena pada nyatanya toh Mingyu hanya seorang diri.

Kate membeku di tempat, wajahnya pucat. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Atau barangkali, ia bingung memilih tindakan apa yang harus diambilnya.

Selagi kesadarannya masih utuh, Kate pun tak dapat menahan diri dan keluar dari mobil. Satu persatu dari pria-pria itu pun beralih ke arahnya, namun Kate segera menepis mereka dengan berbagai pukulan dan cakaran.

Ia masih berusaha melawan.

Ia masih berusaha menahan emosinya.

Setengah mati ia melakukan perlawanan yang bersamaan dengan pikiran kacau yang telah mendominasi.

Hentikan monster ini! Jangan biarkan ia memegang kendalimu! Hentikan!

Sejauh ini pun, Kate masih dapat mengontrol diri. Namun, tepat ketika sorotnya menangkap sebuah belati yang ditancapkan ke perut Mingyu, pertahanannya pun sirna.

Benar-benar lenyap.

Gerakan perlawanan Kate terhenti, digantikan dengan sekujur tubuh yang membeku sehingga pria itu berhasil menghempaskannya ke tanah. Kendati begitu, tatapannya masih tak lepas dari Mingyu. Ia masih memandang tubuh yang tergolek tak berdaya itu, masih menilik darah yang mengucur keluar hingga membentuk genangan.

Kini, runtuhlah sudah bentengnya.

“Sudah terlalu lelah untuk melawan, Nona?” Yang ditanya masih tak berkutik, membuat pria itu pun menoleh ke rekannya sembari berkata, “Kita bawa saja dia. Kurasa ia lumayan juga untuk—ARGH!”

Tahu-tahu saja, sebuah tendangan tepat mengenai wajah sang pria. Ia pun jatuh tersungkur, dan serangan itu pun berlanjut dengan sebuah cengkeraman di lehernya. Kuku-kuku tajam ikut menusuk, cekikan perlahan membawa tubuh sang pria terangkat melawan gravitasi.

“Apa?! Siapa yang—”

BUGH!

Lagi-lagi tubuhnya dirasa melayang, kali ini menubruk dinding bata yang menjulang.

Sambil mengerang kesakitan, pria itu pun susah payah membuka matanya, lalu terkesiap.

Tidak hanya dirinya, semua yang berada di sana pun sama.

Sosok wanita berwajah seputih pualam dengan matanya yang beriris merah sedang berdiri di hadapan mereka semua.

Seungcheol pun tak kalah tercengang. Padahal, beberapa menit yang lalu ia hanya menganggap wanita itu hanya sebatas orang tak dikenal yang dikencani oleh sang target.

“Si—Siapa kau sebenarnya?!” teriak Seungcheol, tungkainya sedikit demi sedikit mundur.

Sang gadis pun memandangnya balik dengan tatapan setajam belati. Iris merahnya begitu pekat, kuku panjangnya seolah haus akan cabikan. Gadis itu menyeringai, memampangkan kedua taring tajamnya.

“Aku? Namaku Katrina Madison Laveau, keturunan dari Marie Catherine Laveau, seorang ratu voodoo yang cukup fenomenal di kota ini. Tidakkah kau mengenalnya?”

Sebuah gelengan spontan Seungcheol berikan, bukan sebagai jawaban namun rasa sulit percaya yang menghantam. “That’s a bullshit. Jelas-jelas kau iblis penghisap darah!”

Tawa nyaring seketika menguar. “Tidak, Tuan. Aku lebih dari sekedar iblis penghisap darah.” Kate masih menyeringai, kemudian mengeluarkan sebuah boneka jerami dari sakunya seraya melanjutkan, “Aku adalah vampir sekaligus penyihir voodoo. Mau merasakan sihirku, Tuan?”

“Persetan denganmu!”

Seungcheol dan segenap anak buahnya mengeluarkan pistol mereka, lantas menarik pelatuk tersebut secara beruntun dan tanpa ampun.

Sayangnya, peluru biasa tak akan pernah ampuh bagi seorang vampir seperti Kate.

Tanpa banyak bicara lagi, dalam sekejap Kate pun berlari menyerang. Cakaran, tusukan, serta gigitan taring pun tak dapat mereka hindari. Tak berhenti sampai di sana, bahkan Kate mengoyak daging mereka dengan gigi runcingnya.

Jeritan ngeri sekaligus raungan meriuhkan, namun tak bertahan lama karena semuanya berhasil tumbang dalam sekejap. Tewas dalam kondisi mengenaskan, lengkap dengan luka menguar di sekujur tubuh.

Hanya satu yang tersisa.

Kate menatap Seungcheol nanar, membuat pria itu lari pontang-panting ke arah yang berlawanan. Namun, sang gadis mengeluarkan jeraminya kembali. Sederhana saja, ia hanya perlu menancapkan belati pada boneka itu, dan Seungcheol pun rebah seketika.

-oOo-

“Vampir sekaligus penyihir voodoo? Bagaimana bisa ….”

Kate bersimpuh seraya meletakkan tangannya pada luka-luka goresan di sekujur tubuh Mingyu, lantas merapalkan mantra hingga luka itu tertutup sempurna. Ia gelisah, akibat jantung Mingyu yang semakin melemah. Kendati ia dapat menyembuhkan luka yang menganga, namun lemas tanpa daya tersebut jelas sekali menandakan seberapa banyak darah yang hilang.

“Aku lahir di sini, di French Quarter, Louisiana, yang memang sejatinya sudah dikenal sebagai kawasan yang penuh akan makhluk sepertiku. Ibuku yang sejatinya juga adalah penyihir voodoo menjadi pengantin seorang vampir. Sederhana saja.”

“Kenapa tidak bilang dari awal?”

Pergerakan Kate terhenti sejenak, kemudian ia memaksakan sebuah jungkitan senyum. “Kenapa tidak bilang dari awal, huh? Kedenarannya pertanyaanku itu tidak asing,” ujarnya, tepat ketika memori akan kejadian di Woldenberg kembali berputar. Kate menatap Mingyu lurus dan melanjutkan, “Sama sepertimu. Aku takut kau menjauh karena sosok asliku.”

“Sosok … aslimu?”

“Terlahir dalam kelompok pemangsa darah sekaligus sebagai keturunan seorang ratu penyihir seperti ini bukanlah sesuatu yang kumau. Aku tidak pernah memilih untuk menjadi mengerikan seperti ini. Aku tidak pernah menginginkannya. Tidak pernah sekalipun ….”

Mingyu memandangi Kate. Begitu dalam, begitu penuh akan rasa yang ia sendiri tak dapat definisikan. Namun, spontan tangannya merengkuh sang gadis yang kini rautnya telah berubah sayu. “Aku juga tidak pernah menginginkan untuk menjadi orang terkenal yang sering berada dalam situasi bahaya. Memang menjadi penulis adalah pilihanku, tapi ….”

“Tapi?”

“Intinya, semua ini berada di luar kendaliku,” ujar Mingyu. “Rasanya lucu, mengingat kita menyimpan sebuah rahasia dengan alasan sama.”

Sementara Kate membisu, lagi-lagi Mingyu terkekeh dan mengacak poni sang gadis. Setelahnya tangan itu pun turun ke bahu Kate, kemudian menariknya masuk kembali ke dalam dekapan tanpa permisi. “Apakah vampir mempunyai hidup yang lebih panjang dibandingkan manusia?”

Kate bergeming, kening dikerutkan. “Tentu, bahkan berkali lipat. Kenapa?”

“Kalau begitu, bisa kau membuatku jadi sama sepertimu? Aku ingin hidup bersamamu, menetap di sini dan menjadi sosok yang selalu berada di sampingmu. Barangkali memang sudah takdirku bertemu denganmu, secara sampai sekarang aku masih tak dapat menemukan alasan spesifik mengapa kala itu aku memilih New Orleans sebagai destinasi.”

“Kau … yakin?”

Sebuah anggukan Mingyu berikan. Sempat terjadi sunyi sesaat, sebelum Mingyu mengimbuhkan dengan suara bergetar, “Aku yakin. Persoalannya sekarang hanya ada padamu. Satu pertanyaan saja, apakah kau juga menginginkannya?”

Apakah kau juga menginginkannya?

Kate melepaskan dekapan itu. Menatap kedua manik cokelat Mingyu dalam jarak sejengkal, kemudian semakin mengikis ruang itu dengan mendekatkan wajahnya. Mulai dari hidung yang bersentuhan, kemudian bibir yang saling bertautan. Menyerahkan seluruh kekuatannya dengan setiap hisapan, memberikan segenap perasaannya lewat lumatan yang membelai jiwa.

Tak perlu waktu lama pula untuk mengerahkan kedua taring itu ke leher Mingyu. Kate meninggalkan dua lubang di sana, membiarkan sang lelaki tak sadarkan diri dalam sekejap.

Namun tidak mengapa.

Karena, semua itu hanya untuk sesaat. Ketika Mingyu membuka mata nanti, irisnya akan berubah merah menyala, dan taring itu akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka akan memulai lembaran kehidupan baru, melangkah bersama sebagai sepasang makhluk pemangsa cairan jiwa manusia di kota yang penuh akan mistik ini.

Tentu saja, tanpa adanya rahasia lagi di antara mereka.

fin.
-oOo-

Iklan

7 thoughts on “[Alone; All One; All] Of His and Laveau’s Secrets

  1. Yalord kok aku menggelinjang baca ini 😂 Gk nyangka bakal ada vampir-vampiran di sini beuh 💕😘 Apalagi aku bayangin si item jadi vampir ganteng gitu subhanallah, kujadi ingin dihalalkan oleh dia 😭 /iyain aja chel biar aku seneng/ Btw chel, diksimu makin hari makin keren deh hehe aku bukannya sok, ini cuma penilaian dari kacamata readers aja 😂🔫 Meskipun aku tadi nemu beberapa typo, tapi its oke its love bikos aku udah terlanjur sayang sama story-nya 💕 Dan percayalah meskipun komenku gk ada kepsloknya seperti biasa, tapi aku antusias bgt baca ini, sampe gapercaya klo ini oneshot solanya tahu2 udah end 😂😆

    Keep writting ya Chel kesayangan om Jun muah muah muah 😘

    Disukai oleh 1 orang

    1. “Menggelinjang” ya Jii😂🔫 oh iya deh iya Ji wajar kok mau dihalalin vampir macam dia:’), iya kok iya ente paham /ceritanya biar kamu seneng/ uwaaaa maafin typonyaaa>< lain kali kuusahain ga ada typo yaa:') skali lagi maaf kalo sampe ngurangin kenyamanan membaca:')

      Btw thankies buat Ji kesayangan Om Josh /kesayangan chel juga/ karena udah mampiiirr❤❤❤

      Suka

  2. Ige mwoya
    Terlalu banyak twist di sini sampai aku merasa tergulung2/? Tapi gak papa kok Krn ceritanya banyak kejutan dan seperti biasa settingnya dibangun dgn baik sehingga betah bacanya biarpun agak panjang.
    Tapi bagian terakhirnya yg vampir x ratu Voodoo itu Somehow kurasa agak memaksa supaya ada alasan gigit2 mingyu ya hahahaha abaikan
    Keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Tiati jadi dadar gulung kak entar kumakan /GA/ tapi syukur deh kalo betah bacanya soalnya jujur… ini lebih dari 3000 kata /krik/

      Huahahah meski agak maksa diiyain aja kak biar aku seneng /lah/ bukan, maksudnya sbenernya sih French Quarter itu daerah yg terkenal banyak vampirnya jadi ya… gitu. /abaikan aja/

      Makasih udah mampir kak Liana!❤

      Suka

  3. Hai, Rachel! Okay /tahan napas, buang napas, tahan napas, buang napas lagi/
    KYAAAAAA INI APA? ini semacam plot twist kah? omo omo 🙀 kukira si Mingyu bakal mati eh taunya nggak wkwk.. malah jadinya happy ending/?
    Ceritanya udah bagus kok Chel, keep writing yak~
    Btw masih inget aku tak? 😂😂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Sabar kak sabar😂 sebenernya aku gak bermaksud plot twist tapi kenapa pada nganggep plot twist semua yah:’) kukira ceritanya bisa ketebak dari awal(?) tapi untung deh kalo sukaa hehe makasih ya kak!❤

      Inget doongg, kak Shellin kan? Hehe, skali lagi makasih udah mampir!💕💞

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s