[SVT FREELANCE] – [Vignette] Other of Side

Other of Side

Starring by Joshua Hong [SVT’s]

Written by Rijiyo

Psychology, AU! | Vignette | Teen

.

.

“The taste of death is upon my lips. I feel something that is not of this earth.” – Mozart.

.

.

Manusia mana yang rajin menghitung waktu?

Malah biasanya, karena terlalu fokus dengan tujuan dan cita-cita tertentu, mereka sampai lupa menghitung waktu dan tidak sadar bahwa ada banyak yang telah dilewati. Apabila sudah terlampau jauh melangkah, barulah sadar dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah dilakukan mereka—atau alter-ego mereka—selama ini.

Tapi mungkin masalah ini akan berbeda persepsi jika kalian menanyakannya pada Joshua. Cowok itu bahkan tidak mengerti ke mana ia hidup, untuk apa ia hidup, dan kapan ia mengakhiri hidup. Baginya, hidup itu aneh. Tidak etis. Tapi ada satu kata yang membuat Joshua selalu bertanya pada dirinya sendiri tentang satu kejanggalan di dunia ini—yang bahkan Alfred Renyi pun takkan mampu menjawabnya.

“Kematian….”

“Hah?” Hoshi menghentikan akivitasnya mencatat tugas politik saat mendengar celetukan Joshua di hadapannya.

“Kapan, ya, aku mati?”

“Pertanyaan retoris,” umpatnya. “Akan kuadukan Mary McAleese biar kamu dipenjara karena menanyakan kematian terus.”

Joshua terkekeh. “Lagi pula presiden Irlandia tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku. Pantas saja tidak ada cewek yang mendekatimu, mereka akan muntah kalau sepanjang hari membicarakan Sistem Bikameral.

“Dan menurutku itu bukan pertanyaan, tapi keinginan.”

Hoshi menggerutu ketika melihat Joshua tertawa. Hoshi meludah ke arah gerombolan bunga popi kuning di luar jendela. Ludahnya jatuh sebelum menabrak semak popi dan mendarat di tanah, di dekat kucing liar berwarna jingga-putih. Kucing itu mengeong marah dan melompat menjauh.

Mendengar suara kucing, Hoshi langsung melongok ke luar jendela. Dia memerhatikan Si Kucing menyusup melewati pagar dan pergi menjauh. “Shit, I’m sorry, Dude. Aku tidak tahu ada kucing di situ.” Hoshi kembali menempelkan bokongnya di lantai dan menatap Joshua. “Sudah jarang ada kucing liar di sini. Kalau tahu, aku akan membawanya masuk dan merawatnya.”

“Dan membiarkan dia menghilang lagi?”

Hoshi menggaruk tengkuk. “Masa setiap kali aku membawa kucing liar, besoknya dia selalu menghilang? Terakhir kali aku melihat kucing peliharaanku—“

“Maddy?”

“Perutnya terbelah,” sambungnya. “Aku tidak yakin akan tahan melihat kucing liar dengan keadaan seperti itu berjajar di tempat sampah lagi. Bisa-bisa Roscrea bukan dijuluki Scout Troop, melainkan Catless Hill.”

Joshua menatapnya kosong. Dan sebenarnya seberapa dalam kamu menelisik maksud di balik tatapan itu? Seberapa jauh kamu mengetahuinya? Tahukah kamu apa yang ada di balik otak Alkimia Joshua? Di balik galaksi khayalan alam bawah sadar? Di balik kejadian terbelahnya perut kucing?

Karena pada dasarnya, semua orang memakai topeng. Joshua, Hoshi, kamu, dan orang-orang itu.

Joshua punya rahasia—yeah, semua orang juga punya—tapi dia tidak akan pernah memberitahukannya pada siapa pun. Ini semua karena kejadian itu, dua tahun lalu, saat Jeonghan mengkhianatinya. Jeonghan bilang mereka sahabat, namun tidak lagi saat Joshua tahu kalau Jeonghan sedang membicarakan aibnya pada Sungcheol. Bayangkan bagaimana perasaan Joshua saat tahu kalau ia dipermalukan sahabatnya sendiri di depan senior yang paling ia hormati.

Joshua murka dan mengajak Jeonghan bertemu di suatu tempat esoknya. Saat mereka sudah bertemu dan berbincang ratusan detik, Joshua mengeluarkan belati dari ransel. Jeonghan menatap benda itu, kemudian tersenyum.

“Kamu ingin membunuhku?”

Joshua menggeleng. “Lebih tepatnya, menghukummu.”

Jeonghan tersenyum lagi. “Maaf saat itu aku mencacimu dari belakang supaya Sungcheol tidak terlalu menganak emaskanmu sebagai junior. Aku sahabat yang buruk, kan?”

Hal yang lebih membebani daripada kematian adalah hidup dengan penuh derita. Joshua dari dulu selalu lebih pintar dan tebakannya hampir tak pernah meleset. Dan kali ini ia pun yakin kalau Jeonghan jujur, namun ia masih terlalu tuli atas rasa malunya kemarin.

“Rasanya masih beberapa jam lalu kita bertemu dan sejak itu aku menganggapmu sahabat karena…, kamu tahu sendiri. Aku tidak pandai bersosialisasi. Dulu aku harus melihat darah setiap hari akibat pertengkaran Ibu dan Ayah hingga membuat Ibu meninggal dua minggu kemudian. Setiap malam aku harus bersembunyi di rumah tetangga dan menyelamatkan buku-bukuku agar Ayah tidak merobeknya. Satu-satunya pelindungku adalah Ibu, tapi tidak lagi saat ada kamu. Dan dari dulu sebenarnya aku iri padamu, hidupmu, kecerdikanmu, apalagi saat kamu dielu-elukan Sungcheol. Aku merasa tidak berguna lagi sejak Ibuku meninggal.

“Aku berpikir, bagaimana bila mimpi itu nyata, sementara realita hanyalah mimpi? Jika kita terbangun dari realita lagi, di mana kita akan berada?” lanjutnya.

“Jika kita terbangun dari realita lagi, berarti Tuhan menyuruh kita mati,” jawab Joshua.

Karena sejujurnya, mati hanyalah terbangun dari sebuah mimpi.

Jeonghan tersenyum saat Joshua melihatnya dengan mulut terkatup. Bibir Jeonghan mengering, tepat saat di mana Joshua mengunci pergelangan tangannya di belakang punggung dan langsung menyayat pergelangan tangan itu. Bunyi patahan nadi membuat pendengaran Joshua sedikit terganggu, namun ia menikmatinya.

Inikah persahabatan, yang harus musnah hanya karena ego? Semuanya didahului dengan keheningan. Joshua melepaskan cengkeramannya setelah merasakan pergelangan Jeonghan yang hampir patah, sedangkan darah hangatnya mengucur kian deras hingga mengaliri tanah. Dengan sadar, Joshua ingin menghentikan pendarahan itu menggunakan beberapa kain, tapi Joshua lupa kalau sayatan itu disebabkan oleh dirinya sendiri.

Seiring menitiknya air mata, Jeonghan berkata, “Joshua, aku kangen Ibu.”

Joshua mengangkatnya dan membawanya ke lembah gelap Tipperary, tak jauh dari kastil Leap, tempat paling mistis di Roscrea. Di sana, secercah cahaya menembus pepohonan, secara tidak sengaja menghadap ke barat—tepat di mana matahari akan terbenam. Joshua meraup rumput kering dan menatanya di situ untuk jadi alas Jeonghan.

Jeonghan tersenyum, dan dengan sekian keletihan yang tak dapat dikalahkan, ia berkata, “Aku mau tidur.”

Kemudian, matanya terpejam.

Joshua terus menatap sepasang kelopak itu yang tidak akan pernah terbuka lagi.

Duduk di sebelahnya, Joshua membeku untuk waktu yang lama. Ia tidak tahu bahwa menit-menit telah berlalu. Joshua berniat meninggalkan Jeonghan di sini, membiarkannya membusuk. Ia lega, namun di lain sisi merasa kosong. Joshua pun memutuskan untuk menjadikan peristiwa ini sebagai rahasia kecil di memorinya. Well, bagaimana tidak? Saat itu umurnya baru lima belas tahun. Dia masih terlalu dini untuk melakukan aksi illegal. Tapi, siapa sangka tindakannya saat itu malah berdampak pada kebiasaannya? Membunuh sudah seperti candu baginya, bahkan hewan yang tidak bersalah seperti kucing liar peliharaan Hoshi pun jadi korban.

Joshua jadi semakin merindukan kematian. Ia lelah hidup jika hanya memenuhi hasratnya untuk membunuh. Joshua masih ingat perkataan guru rohaninya: Setiap yang berjiwa pasti akan mati. Dan sekarang pertanyaannya adalah, kapan kematian itu tiba? Bukankah kematian terlahir dari kehidupan dan bukankah kematian itu hidup? Karena Joshua yakin kalau ia akan merasa hidup setelah benar-benar mati.

Di barat jauh sana, tidak ada tempat yang disebut rumah, tapi bila ada kesempatan berkunjung ke sana di masa yang akan datang, Joshua akan mencobanya, dan itu pun kalau ia bisa.

…. Dan itu pun kalau ia akan mati nantinya.

.

.

.

Pagi ini Joshua ada janji dengan Jun di Castle Street. Sudah dua tahun ia mengenal Jun, tepatnya sehari setelah kematian Jeonghan. Mereka pertama bertemu tak jauh dari Kastil Leap. Saat itu Jun bertanya apa yang terjadi, dan Joshua hanya bisa menggeleng ringan. Berhubung tak jauh dari mereka ada mayat yang tergeletak, Jun pun langsung bisa menebaknya. Jun mengajak Joshua jalan-jalan mengelilingi kastil setelah melihat kegelisahan di raut cowok yang baru ditemuinya itu. Bahkan Jun terkadang menunggu Joshua di luar gerbang sepulang sekolah untuk diajak jalan-jalan, meskipun Joshua bingung dari mana Jun tahu sekolahnya. Namun Joshua tidak peduli. Ia nyaman di samping Jun. Tapi selama ini tidak ada yang tahu kedekatan mereka, itu karena Jun selalu menolak diajak ke rumah Joshua untuk dikenalkan pada Hoshi dan orang tuanya. Dan baru kali ini Jun mengajak Joshua main ke rumahnya di Leinster.

“Hai!” sapa Jun dari belakang. “Lama, ya?”

Joshua tertawa. “Lumayan.”

“Ayo.” Jun merangkul pundak Joshua.

Jun itu hampir sempurna. Joshua bahkan yakin Jun tidak mungkin menusuknya dari belakang seperti Jeonghan. Haruskah Joshua mendeklarasikan Jun sebagai sahabatnya mulai sekarang?

Mereka berangkat jalan kaki sambil terus mengobrol. Joshua tidak pernah merasa senyaman ini selama sembilan belas tahun. Mereka melewati lembah antara Bit gunung Iblis ke barat dan pegunungan Slieve Bloom ke utara timur. Ini sudah 71 km dari Kota Limerick di barat dan 122 km dari Kota Dublin di timur. Tepatnya di persimpangan jalan raya M7 antara Dublin dan Limerick, dan N62 antara Athlone Horse dan Jockey.

“Tunggu,” celetuk Joshua.

“Kenapa?” Jun menghentikan langkahnya.

“Kalau kuhitung, kita sudah berjalan 76 mil dari Castle Street. Dan aku tidak salah hitung, kan? Maksudku, kamu bilang kita mau ke Leinster? Kupikir, kita sudah berjalan terlalu jauh.”

“Kamu salah hitung.”

Joshua yakin kalau ia tidak mungkin salah. Ia sedari tadi menghitung berapa banyak langkahnya mulai dari tempat mereka janjian. Tapi, masa iya mereka sudah berjalan sejauh 76 mil? Untuk manusia normal, jarak sejauh itu ditempuh dengan jalan kaki, mereka pasti sudah terkapar di mil ke enam.

Namun Joshua tetap berjalan, menahan rasa penasaran setiap kali Jun menekan perasaan tersebut dengan bilang kalau mereka hampir sampai di rumahnya.

“Nah, itu dia,” tunjuk Jun.

Joshua terperangah, sejemang kemudian dia menggeleng. “Jangan bercanda.”

Jun mengangguk. “Tepat di bawah garis bujur 7° 48 ‘27,77 “W. Lintang 53° 1 ‘41.04 “N. Kita sudah sampai di Kastil Leap, Co Offaly.”

“….Kastil ini ternyata rumahmu? Tapi kamu bilang rumahmu ada di Leinster?”

“Iya, ini rumahku.” Jun menarik tangan Joshua dan mereka berdua pun masuk ke kastil.

Joshua pernah membaca artikel tentang misteri kastil di Irlandia barat ini. Namun bukan itu yang ada di pikirannya sekarang. Tepatnya saat ia kembali teringat kalau dua tahun lalu ia pernah meninggalkan mayat Jeonghan di sekitar sini.

“Rumahmu agak….?” tanya Joshua di sela-sela perjalanan mereka memasuki lorong kastil yang sangat kotor dan bau belerang. Ia berusaha menahan mual. Tempatnya sangat gelap dan pengap. Lalu yang membuatnya semakin heran adalah ketika ia menemukan tulang belulang saat mereka turun ke lantai bawah.

“Selama ratusan tahun aku mengumpulkan tulang-tulang itu,” jelas Jun.

“Untuk ap—ratusan tahun….?” Joshua bergeming. Memandang Jun ngeri.

Ratusan tahun.

Kemudian langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan.

Jun berbalik untuk menatap Joshua, mengedip beberapa kali dengan tanpa ekspresi. Joshua tetap berdiri di posisinya, melihat langit-langit ketika Jun membuka pintu. Ketika pintu sudah terbuka, Joshua tahu semuanya baru dimulai, dan semua itu akan segera berakhir pula.

“Jeonghan?” panggil Joshua, tak percaya.

Di dalam ruangan gelap itu, Jeonghan tesenyum. “Lama tidak bertemu, Joshua Hong.”

Joshua mematung. Sedetik kemudian ia menggeleng. Kepalanya mendadak pusing. Kita memang selalu terlambat dalam segala hal karena pada dasarnya, manusia hidup 80 mili detik di masa lampau. Sebab itulah kita mengetahui segalanya 80 mili detik setelah kejadian itu berlangsung. Seharusnya Joshua ingat, selalu ada sisi lain dari apa pun yang sedang ia lihat sekarang, tak terkecuali Jun.

Dan seandainya Joshua bisa tahu 80 mili detik lebih awal.

“Mau ikut bersamaku, Kawan?” tawar Jeonghan.

Hingga kemudian Jun dan Jeonghan berubah menjadi makhluk kecil bungkuk berwarna hijau disertai bau mayat dan belerang. Joshua mundur beberapa langkah, berusaha menghindari mereka. Siapa bilang Tuhan itu tidak bisa mendengar? Karena ketika Tuhan mendengar doa Joshua bahwa ia ingin mati, Joshua malah berusaha menyangkal. Betapa manusia itu menjengkelkan. Namun agaknya Tuhan tidak pernah bermain-main dengan janjinya.

Karena dua detik berikutnya, Joshua sudah tidak ada lagi di dunia.

.

.

.

.

.

From : Joshua

To : Hoshi

Aku senang bisa mengenalmu. Semoga di kehidupan lain kita bisa bersahabat, Hoshi.

.

.

_Fin_

Iklan

4 thoughts on “[SVT FREELANCE] – [Vignette] Other of Side

  1. karena terlalu bagus kenapa aku malah bingung bacanya ya ji
    btw ini waktu masih freelance ya hehe sekarang bukannya sudah accepted?
    jadi titik kebingunganku itu adalah tempatnya yg sama sekali asing dengan nama2nya, tapi masih bisa kebayang kok. kedua adalah jun-jeonghan itu makhluk apa aslinya? dan ketiga, aku gak paham dengan 80 mili detikmu.
    anyways, salute to pesan moral di belakangnya. Wei ini pas keplay ‘tak ada yg abadi’nya peterpan wae
    keep writing jiyo!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hai kak liana, iya ini ff dulu bgt sebelum event Al1 😘 Pertama2 maaf klo banyak adegan yg ngebingungin & bikin gak nyaman, aku juga lagi belajar bikin psycho & lil’ bit horror 😂 Untuk makhluknya itu bisa dicek di makhluk mistik roscrea namanya “It”. Klo aku jelasin tentang hewan itu lbih rinci, takutnya ntar ff ini kebablasan & jadi oneshot 😂😂🔫

      Btw, maacih udh baca & komen kak 💕💕💕

      Suka

  2. Pertama kalinya baca ff psycho sampe pingin standing applause:’) awalnya emang agak bingung sama bberapa bagian, tapi bukan salahmu kok Ji, diksimu luar biasah, cuman akunya aja yang ga biasa baca ff psycho hiks:’) tapi 2 kata yang mau kukasih buat ff ini : MIND BLOWN😂😂😂

    Seriusan kupikir ini kenapa Om Josh kalem2 jadi psikopat sampe kucingnya Hoshi ternistakan /kan kasianTvT/, ehlah taunya di blakang ada Juned yang lebih sadis:’)
    Sebenernya jujur sama nih kayak ka Liana, aku sedikit bingung yang 80 mili detik itu, tapi gapapah! Overall plotnya keren, dan suka banget sama pesan moralnya😭 DABEST DAH POKOKNYA

    As always, nice fic and keep writing Ji-ku sayang😘❤

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s