[SVT FREELANCE] – [Chaptered] Miracle Touch (Part 1)

MIRACLE TOUCH Chapter. 1 [Kim Mirae]

Author                  :    Almida Rahayu (Kim Mirae)

Main Cast             :    Kim Mingyu (SEVENTEEN) , Kim Mirae (OC)

Support Cast        :    Find it yourself^^

Rating                   :    General

Lenght                  :    Chaptered

Genre                    :    Romance, AU, OOC, Family, Frienship,

Blog                       :    https://bittersweetsymphony17.wordpress.com/

Watppad : almidarahayu, Twitter  :  @almidarahayu, IG : almidarahayu

-oOo-

“Nama yang kembali tersebut di kehidupanku.”

Seoul, Korea Selatan

Oppa, itu kau?” seruan dari seberang saluran itu menerjang gendang telinganya untuk sesaat sampai membuatnya harus menggerakan kepala menjauh dari ponsel miliknya. Kim Mingyu mengenali suara melengking di ujung sana. “Apakah kau tahu, kau hampir saja merusak gendang telinga oppa, Kim Minseo sshi?”

Suara kekehan terdengar menyambut perkataannya. Mingyu hanya bisa menggeleng- gelengkan kepala. Ia beranjak dari tempatnya mengambil secangkir teh yang belum sempat ia nikmati karena deringan ponsel miliknya. Langkahnya bergerak menuju jendela dan memandang keluar jendela asrama kampus pria. Beberapa penghuni kampus sudah terlihat berlalu lalang di sekitaran asrama yang letaknya lumayan cukup jauh dari kampus utama namun masih dalam satu ruang lingkup. Hari ini cuaca begitu cerah, jarak pandangnya teralih pada jam dinding di ruangan itu. Masih ada cukup waktu untuknya bersantai sebelum berangkat ke kampus. “Ada apa kau menelepon oppa?”

“Aishh, kenapa sikapmu dingin begitu? Apa kau tidak merindukan adikmu yang cantik ini?” untuk sesaat keadaan menjadi hening. Mingyu memang sengaja tidak mengatakan apa- apa dan menunggu reaksi adik perempuan satu- satunya itu.

“Baiklah oppa. Kau ini benar- benar tidak asik. Lama- lama tinggal di Seoul membuatmu menjadi orang yang membosankan.”

“Hmmmm.”

Gadis itu mendengus kesal dan Mingyu bisa menebak hal itu membuatnya jadi tersenyum. Mengganggu adiknya itu juga salah satu hal yang menyenangkan. “Ada apa?” dalam beberapa menit waktu Mingyu dengan tenang mendengarkan apa yang dikatakan Kim Minseo di seberang saluran lalu terpaku pada nama yang terucap pada ujung perkataan adiknya. “Siapa kau bilang?” ia terdiam lagi dan mendengar dan selang beberapa detik tersebutlah sebuah nama dari indera ucapnya.

“Kim Mirae?”

-oOo-

*just recommend : putar seventeen – 20

Anyang, Gyeonggi-Do

Kim Mirae mengayuh sepedanya menembus kepadatan salah satu kota kecil di Provinsi Gyeonggi Korea Selatan. Anyang merupakan salah satu kota yang memiliki populasi lebih dari 600.000 orang dan merupakan kota satelit Seoul. Meskipun kota ini belum bisa disamakan dengan Seoul, tapi aktivitas di kota ini juga tidak jauh berbeda dari ibukota negara Korea Selatan tersebut. Meskipun lahir di Anyang, namun Mirae tidak mempunyai banyak waktu untuk menghabiskan masa remajanya di kota itu. Semenjak kelas dua SMP ia mau tidak mau harus meninggalkan Anyang dan pindah ke pulau Jeju bersama kedua orang tuanya. Tapi yang namanya kampung halaman, sejauh manapun ia melangkah pasti akan tetap menjadi tempat yang berkesan.

Annyeong haseyo, ahjumma.” Sapanya pada seorang bibi dari sebuah toko roti di pusat kota Anyang. Wanita paruh baya itu menoleh dan memperhatikan gadis cantik yang menyapanya. Ia mengerutkan keningnya sembari terus meneliti wajah itu.

“Siapa ya?”

“Ini aku ahjumma, si nona musim dingin.” Ia memperkenalkan dirinya dengan julukan yang terdengar aneh di indera pendengar orang awam tapi sepertinya tidak untuk bibi itu. Wanita itu membulatkan matanya dan tersenyum sumringah.

“Kim Mirae?”

Mirae memperhatikan sekitar ruangan tempat duduk saat itu. Meskipun terlihat beberapa perubahan dari kesan toko sederhana menjadi toko dengan interior modern, Mirae masih bisa mencium kenangan dari beberapa benda yang tidak berpindah posisi. Itu membuatnya bernostalgia. Sekelebatan kejadian di masalalu seakan terjadi kembali di depan matanya. Ia dan seseorang di usia sekitar 14 tahun tengah duduk di tempat yang sedang ia pandang sekarang sembari mendebatkan hal yang bertentangan seperti biasanya. Ia masih ingat tatapan kesal seseorang saat itu dan selalu berhasil mengundang senyumnya untuk muncul.

“Sudah lama sekali tidak melihatmu, Miraeya. Bagaimana kabarmu?” Mirae kembali kepada kesadarannya dan melihat bibi Seo sedang menyajikan chocolate float tepat di hadapannya. Wajah sumringah Mirae langsung terlihat jelas. Ia memang menyukai jenis minuman itu. Apa pun minuman yang berkaitan dengan chocolate, ia akan suka. Meskipun di depan matanya banyak pilihan rasa lainnya. Tanpa basa- basi ia langsung menyeruput es krim segar di atasnya. Itu membuat bibi Seo tersenyum.

“Selain bertambah tinggi dan cantik, sepertinya kau tidak banyak berubah, Mirae ya.

Mirae hanya membalasnya dengan cengiran karena mulutnya masih dipenuhi dengan es krim chocolate.

“Aku sangat merindukan kota ini. Meskipun di Jeju itu indah, tapi tetap saja kampung halaman itu adalah yang terbaik.” Ungkap Mirae. Ia kembali meraup sesendok es krim yang hampir meleleh di puncak gelas di hadapannya. Bibi Seo kembali bersuara dan menceritakan banyak tentang tempat itu. Mirae menyimak dan sesekali menyahuti apa yang dikatakan bibi Seo.

“Omong- omong, apa kau akan menetap di sini?”

“Tidak bibi. Aku hanya mampir sebentar menyapa keluargaku di sini. Setelah itu aku akan melanjutkan kuliahku.”

“Kuliah? Dimana?”

“Kyunghee University di Seoul.”

“Universitas Kyunghee? Hmm, kalau tidak salah bukankah sepupumu yang tampan itu juga kuliah di sana? Apa kau mau menyusulnya?”

Mirae tertegun sejenak mendengar penuturan bibi Seo. Sepupunya yang tampan? Siapa yang dimaksud bibi Seo? Karena tidak bisa menahan penasarannya ia pun melontarkan pertanyaan yang sama yang bersarang di kepalanya.

“Siapa lagi kalo bukan Kim Mingyu. Anak bertubuh tinggi dan berkulit coklat yang sering kau bawa kemari dulu. Beberapa bulan yang lalu bibi tidak sengaja bertemu dengannya. Semenjak kau tidak tinggal di sini lagi, dia hampir tidak pernah ke toko bibi.”

Perkataan bibi Seo mengundang senyum Mirae kembali. Tentu saja Kim Mingyu tidak akan datang ke toko itu. Karena dimana tempat bersarangnya coklat, ia tidak akan mau menginjakan kakinya. Anak menyebalkan itu selalu anti dengan makanan favorit Mirae. Gadis itu terkekeh sendiri jika mengingat dulu. Sepulang sekolah Mirae sering sekali ingin makan atau minum coklat racikan bibi Seo, tapi Mingyu selalu saja menolak dan alhasil Miraesampai harus menyeret pemuda itu untuk masuk ke toko ini. Meskipun dengan cara taruhan sekalipun, dan Kim Mingyu selalu saja sial jika sudah bertaruh dengan Mirae. Dia selalu kalah.

“dia tidak hanya semakin tinggi, tapi dia berubah menjadi pria yang sangat tampan. Seperti yang tertampan di antara anggota boyband itu lho. Apa namanya?” bibi Seo melanjutkan ceritanya sembari tersenyum aneh.

“Visual?”

“Hmmm… itu itu. Seperti visual visual boyband Korea Selatan.” Bibi Seo menyudahi ceritanya yang terdengar berlebihan itu dengan cengiran aneh. Mirae menahan senyum kakunya. Sejak ia pindah ke Jeju sekitar empat tahun yang lalu, memang sudah lama ia tidak pernah bertemu dengan sepupunya itu. Bahkan saat ia kembali ke Anyang tiga tahun yang lalu untuk berkunjung, yang ia dapati bahwa Kim Mingyu sudah pindah ke Seoul untuk melanjutkan sekolah menengahnya. Dan menurut penuturan dari ibunya Mingyu, bibi Haneul kalau pemuda itu sangat jarang pulang ke rumah meskipun jarak Seoul dan Anyang tidak terlalu jauh. Lalu tentang kepindahannya ke Universitas Kyunghee di Seoul. Ia bahkan tidak menyangka bahwa Mingyu juga berkuliah di kampus itu. Jika diingat kembali, ia benar- benar tidak tahu Kim Mingyu yang sekarang.

-oOo-

Mirae membungkuk dan bersujud menunjukan tanda penghormatannya pada lelaki tua memakai hanbok yang tengah duduk di hadapannya. Dia adalah Kim Mingyeol, anggota tertua keluarga Kim. Meskipun sudah terbiasa menghadapi sang kakek dan tahu seperti apa sifat serta sikap kakek mereka. Mirae masih tetap saja gugup jika disuruh berhadapan langsung dengan tetua keluarganya tersebut. Seperti ada sebuah jarak yang mencengkram tubuhnya.

Abeoji, apa kau tidak ingin menanyakan kabar Mirae? Dia sudah jauh- jauh dari Jeju hanya untuk mengunjungimu, abeoji.” suara lembut bibiHaneul membuyarkan kesenjangan di antara mereka. Mirae sangat senang ada bibinya sejak ia menginjakan kaki di tempat itu. Sambutan hangat sang bibi selalu menjadi penolong di saat apapun.

Suara deheman Kim Mingyeol terdengar berikutnya dan memecahkan kesunyian.

“Karena kau sudah di sini, lakukanlah apa pun yang kau suka.” Ucap sang kakek lalu beranjak dari tempatnya menyisahkan mereka berdua. Pria tua itu memang tidak pandai atau memang tidak punya koleksi kata- kata halus di kamusnya? Sikap dan ucapannya selalu terlihat menyeramkan. Mirae hanya bisa menghela napas sementara sang bibi hanya bisa tersenyum.

Mirae melangkah menyusuri rumah itu dan tidak sengaja melihat bibi kesayangannya sedang berada di dapur. Dengan langkah lembut ia menghampiri wanita paruh baya tersebut.

Harabeoji sama sekali tidak berubah.” Tuturnya yang berhasil membuat bibinya menyunggingkan senyum.

“Sifat itu susah dihilangkan dan turun menurun.” Sahut bibi Haneul lembut. Dan apa yang dikatakan bibinya itu memang sangat benar adanya. Selain kakeknya, ada juga seorang lagi yang memiliki sifat yang sama. Dan ia menghadapi hal itu setiap hari. Seperti kata pepatah, buah memang tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kakek dan ayahnya lah contoh di dunia nyata.

“Bibi dengar kau akan melanjutkan studimu di Universitas Kyunghee di Seoul. Bibi terkejut mendengarnya kalau kau akan satu kampus dengan Mingyu.” Pernyataan yang sama juga digumamkan Mirae dalam hati. Ia lebih terkejut mendapati kenyataan itu. Sebelumnya ia sempat berkuliah di salah satu Universitas di Jeju selama satu semester, tapi karena beberapa hal ia memutuskan untuk pindah kuliah di Seoul. Dan dari banyaknya kampus di pusat kota Seoul, ia memilih Universitas Kyunghee dan sangat tidak disangka bahwa Mingyu juga kuliah di sana. Mungkin saja akan banyak yang mengira dia mengikuti Kim Mingyu.

“Tapi bibi senang karena dengan begini bibi bisa bertanya padamu perihal keadaan Mingyu di sana. Kau tahu Mirae ya, semakin bertambah dewasa, dia semakin susah di ajak bicara. Bibi melihat perubahan itu dari dirinya. Dia seperti contoh lain dari kakekmu.”

Miraemengerutkan kening mendengar penuturan sang bibi. Kim Mingyu? Seperti kakek mereka? Entah dengan kakek mereka yang selalu menunjukan sikap kaku dan tegas, tapi Mingyu di mata Mirae bukanlah pemuda dengan karakter seperti itu. Meskipun mereka selalu punya beberapa hal yang bertentangan, tapi ia tahu seperti apa Kim Mingyu. Dia adalah pemuda yang bersemangat. Lisan Mingyu sendiri juga mengucapkan hal yang sama berulang kali. Pemuda itu bagaikan tuan musim panas di kehidupannya. Pemuda dengan kepribadian hangat yang ia tahu.

Eomma, aku sudah berbicara dengan oppa. Katanya dia tidak mau pulang. Dia sangat keras kepala.” Suara Kim Minseo beserta kemunculannya tiba- tiba mengalihkan perhatian keduanya. Mirae menyapa ramah saudara sepupunya itu. Raut wajah bibi Haneul berubah 180 derajat. Wanita paruh baya itu menghela napas.

“Sebentar lagi peringatan kematian nenek kalian. Jika Mingyu tidak datang, ibu tidak tahu bagaimana sikap kakek.”

Mirae dan Minseo saling bertukar pandangan, berisyarat tanpa berkata. Dalam diam Mirae memikirkan sesuatu yang mengundang senyumnya kemudian. Masih banyak waktu sebelum semester dua dimulai. Dan terpikirkan beberapa hal di pikirannya. Ada apa dengan Kim Mingyu? Ia harus segera mengkonfirmasinya sendiri.

“Bagaimana kalau aku menyeretnya pulang, imo?” penuturan Miraeyang bersamaan dengan senyum penuh arti itu membuat bibi Haneul dan Minseo mengerutkan kening heran.

-oOo-

Suara telepon yang menjerit- jerit berulang kali dan tanpa henti mau tak mau memaksa Mingyu membuka kedua matanya yang sepertinya diganjal oleh beban berat. Ia paling benci jika harus dibangunkan sepagi itu disaat ia ingin bersantai di pagi hari. Dengan mata setengah terbuka, Mingyu menggerak- gerakan tangannya kesana- kemari mencari benda pemilik suara berisik itu. Siapa lagi orang bodoh yang meneleponnya sepagi itu? Jika bertemu secara langsung ia pasti akan memberi pelajaran padanya.

Mingyu berhasil meraih ponsel miliknya dan memaksakan keduanya matanya yang terbuka untuk menatap layar ponsel. Sepuluh panggilan tak terjawab dengan nomor tanpa nama. Itu membuatnya ingin gila. Siapa orang gila yang mengganggunya pagi- pagi seperti itu? Ia mengacak- ngacak rambutnya kesal. Ngantuk di kedua matanya langsung lenyap seketika. Minatnya untuk tidur pun hilang seketika dan memilih beranjak dari kasurnya.

Masa libur setelah akhir ujian semester membuatnya memiliki banyak waktu untuk bersantai. Sebenarnya ia bisa saja kembali ke Anyang, tapi entah kenapa ia begitu malas untuk menghadapi kakeknya. Saat ini Universitas Kyunghee adalah rumah ternyaman untuk dirinya.

-oOo-

Kyunghee University, Seoul

Kim Mingyu bukannya satu namun salah satu dari pria yang masuk nominasi pria berpengaruh di kampus dengan dirinya yang baru di semester dua. Bahkan jika satu hari ia baru saja berada di kampus itu, ia akan menjadi objek incaran para blogger kampus untuk mencari profil pria berpostur di atas rata- rata dan berparas tampan tersebut. Kim Mingyu : anak baru, tampan, tinggi, dan semoga saja single. Itulah yang tertulis di salah satu website terkenal kampus lengkap dengan photo tidak sadar kamera pria itu. Dan masuklah ia ke dalam deretan pria incaran para wanita- wanita di kampus.

Seseorang berkacamata bulat seperti harry potter terlihat fokus pada layar laptop di hadapannya dengan jari- jari tangan kiri yang menekan tuts- tuts keyboard laptop sementara tangan kanannya menggeraknya mouse dengan lihai. Dia adalah salah satu pria berpengaruh lainnya di Universitas Kyunghee. Mahasiswa semester empat dan sekaligus juga ketua perkumpulan mahasiswa di jurusannya. Jeon Wonwoo.

“K’Line baru saja memposting sesuatu.” Jeon Wonwoo mengucapkan sesuatu sembari menyunggingkan senyumnya. K’Line adalah website teratas di Universitas Kyunghee dengan viewers di atas rata- rata. Website yang menyebarkan berita seputaran kampus termasuk juga fakta dan gosip. Website inilah yang selalu nomor satu mengincar orang- orang menonjol di kampus untuk menjadi bahan berita. Jeon Wonwoo melirik pada seseorang yang sedari tadi hanya diam di sekitarnya. Seseorang yang tentunya kali itu menjadi bahan berita hangat K’Line. Juniornya satu jurusan. Kim Mingyu menghela napas dengan ekspresi datar.

“Apalagi yang mereka tulis?” tanyanya.

“Salah satu visual kampus berinisial MG dengan tinggi 186 cm sepertinya tengah menjalin hubungan dengan salah satu queen kampus berinisial JY dengan tinggi 170 cm. Mereka terlihat serasi.” Bacanya tanpa menambah atau mengurangi kata- kata dari artikel yang terpampang di halaman depan website.Wonwoo tersenyum geli bahkan hampir tertawa karena membaca artikel tersebut. Bagaimana bisa seseorang menulis inisial tapi juga mencantumkan biodata diri.

“Penulis ini benar- benar…. bagaimana dia juga menuliskan tinggi badanku dan gadis itu segamblang ini? Semua warga kampus pasti sudah bisa menebak bahwa visual kampus berinisial MG dengan tinggi 186 cm itu aku, dan si queen dengan tinggi 170 pastinya si Joo Jiyoo.” Dan pada akhirnya tawa Wonwoo meledak menyisahkan Mingyu dengan kekesalannya.

“Hanya ada dua cara kau menghilangkan gosip seperti ini, Mingyuya. Yang pertama, buat gosip itu menjadi fakta…”

“Kau sudah gila.” Tutur Mingyu menimpali.

“Kalau begitu cari seseorang dengan postur yang sama untuk meredamkan gosip itu…”

“Tidak ada wanita dengan tinggi 170 cm lainnya yang setingkatan denganku.”

“Jika ada, aku menantangmu untuk berkencan dengannya.”

“Baiklah.”

“Kalau begitu lakukanlah.”

“Apa maksudmu?”

 Bahkan di tengah percakapan mereka, Mingyu tidak menyadari bahwa Wonwoo sempat melemparkan pandangannya pada sebuah arah dengan jarak jangkauan yang tidak jauh darinya. Seseorang menarik perhatiannya. Seseorang yang ia perkirakan tingginya sekitaran 170 cm. Seorang gadis yang sepertinya juga belum pernah ia lihat sebelumnya di sekitaran kampus. Kim Mingyu mengikuti fokus perhatian sepasang mata Wonwoo dimana ia menemukan seseorang tengah berjalan santai. Gadis berkulit putih, berpostur tinggi, rambut panjang kecoklatan, dengan sepasang kacamata hitam yang membingkai kedua matanya.

Gadis itu masih berjalan santai tanpa menyadari kehadirannya juga mengundang beberapa pasang mata yang mengarah padanya. Ia masih memperhatikan hal sama selama satu menit sebelum ekspresi matanya berubah saat gadis itu membuka kacamata hitamnya dan tersenyum. Ia mengenali sepasang mata, paras wajah dan senyum itu.

“Kim Mirae?”

Mendengar satu nama tersebut dari indera ucap Kim Mingyu membuat Jeon Wonwoo menoleh kepadanya sembari mengerutkan kening. “Kau mengenalnya?” katanya tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Tentu. Dia adalah sepupuku. Kim Mirae.”

“Sepupu? Dia kelihatan elegant.” Wonwoo melipat kedua tangannya di depan dada dan kembali mengarahkan pandangannya pada gadis itu sama halnya dengan Mingyu.

“Ya. Kelihatannya.”

“Huhh?” ia tidak mengerti dengan argumen singkat dari Mingyu namun tidak juga menerima penjelasan lebih. Untung saja dia bukanlah tipekal orang yang sangat penasaran. Pandangannya kembali terarah pada fokus perhatian Kim Mingyu.

-oOo-

Universitas Kyunghee. Akhirnya ia menginjakkan kakinya di salah satu Universitas kebanggaan Korea Selatan. Kyunghee University adalah sebuah universitas yang terkenal dengan bangunan kastil bergaya eropa dengan kesan gotic yang ditimbulkan dari komplek bangunan- bangunan ini, taman bunga sakura dan pepohonan yang sangat indah. Mirae memperhatikan pemandangan yang berada di sekitarnya.

Kyunghee University memanglah bukan kampus yang bisa dipandang sebelah mata. Salah satu hal yang membuat Mirae tertarik melanjutkan studinya di kampus itu karena kualitas dari Universitas ini yang benar- benar menjanjikan.Bahkan untuk dirinya sendiri butuh perjuangan yang sangat berat untuk bisa menginjakan kaki di tempat itu. Dia harus melalui berbagai test. Dan beruntung sekali ia juga mendapat bantuan rekomendasi dari kampusnya yang lama. Meskipun saat ini perkuliahan aktif semester baru belum dimulai, namun tidak sedikit warga kampus yang menghabiskan waktu di tempat itu. Tapi bukan seperti warga kampus yang rajin datang di saat masih liburan. Tujuan kedatangan ia lebih awal selain melihat- lihat kampus, tujuan lainnya adalah Kim Mingyu. Acara memanjakan matanya memandang keindahan sekitaran kampus harus ia akhiri untuk sementara waktu dan mulai pada tujuannya yang lain.

“Dimana si genter itu?” Mirae mulai celingukan memperhatikan orang- orang di sekitarnya. Jika dia berdiam diri seperti itu terus, hal itu pasti akan berlangsung selama seharian. Tidak ada salahnya jika ia bertanya. Meskipun baru mahasiswa semester dua, pasti tidak sulit untuk mengenali Kim Mingyu. Si genter, berkulit kecoklatan. Dengan warna kulit seperti itu, ia akan menjadi barang antik di Universitas Kyunghee. Mirae menahan tawanya.

“Permisi, apa kau mengenal Kim Mingyu? Dia sekarang mahasiswa semester dua.” Tanyanya pada seseorang yang lewat tidak lupa juga menambah penjelasan yang sebelumnya ia pikirkan. Seseorang itu terlihat berpikir sebentar kemudian menyunggingkan senyum aneh kepada Mirae.

“Kim Mingyu? Salah satu visual kampus?”

“Visual? Apa dikiranya dia anggota boyband.” Mirae bergumam dalam hati sembari menaikan sebelah alisnya. Dia hanya menunjukan cengiran bodohnya. Apa pun itu, terserah sajalah. Yang penting ia bisa menemukan pria itu.

“Aku tadi melihatnya……” pandangan gadis itu mengarah ke beberapa arah sebelum akhirnya menunjuk satu arah ke arah punggung pria bertubuh jangkung tak jauh dari mereka.Itu sudah pasti Kim Mingyu. Setelah mengucapkan terima kasih, Mirae melangkah ke arah pria bertubuh tinggi yang masih memunggunginya itu. Dari langkah yang perlahan ia mengubahnya menjadi kecepatan kecil. Gelagatnya seperti seseorang yang ingin mengejutkan seseorang lainnya. Tidak lupa dengan senyuman yang mengembang manis, Mirae yang kini sudah berjarak dekat dengan pria itu terlihat berseru sembari melompat kecil untuk mengalungkan sebelah tangannya pada leher pria itu. Detik pertama, detik kedua waktu seperti membeku sejenak, detik ketiga keduanya saling pandang, detik keempat senyuman di bibir Mirae hilang, detik kelima kerutan di keningnya muncul, detik keenam Mirae spontan bergerak mundur dan kehilangan keseimbangan yang membuat seseorang di dekatnya itu refleks menangkapnya dengan sebelah tangan. Di detik- detik berikutnya keduanya kembali saling pandang, Mirae masih saja terkejut lalu membenarkan posisinya, melepaskan diri dari pria itu.

“Tolong maafkan aku,” ia membungkuk lalu berlalu dari tempat itu dengan perasaan malu yang luar biasa. “Kau bodoh Kim Mirae.” Ia terus menggerutu kesal, mengutuk kebodohannya sendiri. Setelah menempuh beberapa jarak, Mirae memberanikan diri menoleh ke belakang berharap pria itu tidak ada di sana. Dan sukses harapannya pun terkabul. Mirae menghela napas lega.

“Kau masih saja ceroboh seperti dulu, Kim Mirae.” Karakter suara bercampur serak itu Mirae mengenalinya. Ia menoleh pada sumber suara dan mendapati tatapan setengah tersenyum seseorang tidak jauh darinya.

“Kim Mingyu?”

>> to be continued <<

Assalamualaikum wr. wb

Annyeong haseoyo #deepbow

Salam kenal semuanya para CARATDEUL dan FF Lovers. Ini adalah FF pertama saya di page ini. Sebelumnya mohon maaf terlebih dahulu dengan penulisan yang masih berantakan di atas. Karena Author ini masih jauh dari kata sempurna dan masih butuh banyak belajar lagi. Dimohonkan juga kritik dan sarannya.

Untuk kelanjutan ceritanya semoga ada yang berminat untuk membacanya. Dan untuk para cast lainnya, bisa kalian temukan di cerita selanjutnya. Mungkin kita bisa main tebak- tebakan siapa cast selanjutnya yang bakal muncul di FF ini. Terima kasih………

CATATAN :

Beberapa tempat merupakan tempat yang memang keberadaannya ada di Korea Selatan, namun ada juga beberapa hal yang menjadi bumbu tambahan. Jadi jika kalian tahu salah satu tempat namun ada juga yang keberadaannya tidak ada, tolong jangan heran. Karena itu sebuah kesengajaan dari Author untuk mendukung jalannya cerita. Maklum, author hanyalah seseorang yang cuma bisa menjelajahi seputaran kota Medan, belum bisa menjangkau kota Seoul. T.T

Seperti yang tersebut di atas juga ada beberapa karakter yang asli namun ada juga nama yang hanya dibuat- buat oleh Author karena minimnya info yang didapat. Seperti nama anggota keluarga Kim Mingyu. Susah banget mencari tahunya. Wak google pun angkat tangan. T.T

Kalau ada yang tahu bisa bagi- bagi infonya.. Terima kasih lagi. Annyeong.

Assalamualaikum wr. wb

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s