[SVT FREELANCE] – [Chaptered] Miracle Touch (Part 2)

MIRACLE TOUCH Chapter. 2 [Padi Kering]

Author                  :    Almida Rahayu (Kim Mirae)

Main Cast             :    Kim Mingyu (SEVENTEEN) , Kim Mirae (OC)

Support Cast        :    Find it yourself^^

Rating                   :    General

Lenght                  :    Chaptered

Genre                    :    Romance, AU, OOC, Family, Frienship,

Blog                       :    https://bittersweetsymphony17.wordpress.com/

Watppad : almidarahayu, Twitter  :  @almidarahayu, IG : almidarahayu

“Sesuatu yang disarankan temanku.”

-oOo-

“Jika ada, aku menantangmu untuk berkencan dengannya.”

“Baiklah.”

“Kalau begitu lakukanlah.”

Keduanya masih memperhatikan gadis itu dalam diam. Wonwoo sebentar melirik pada Mingyu yang terfokus pada satu objek bernyawa. Tatapan pemuda itu sebenarnya mengundang rasa penasarannya namun Wonwoo tidak mau terlalu memikirkannya sekarang. Itu hanya akan membuatnya membuang waktu percuma karena toh waktu akan menjawab dengan sendirinya. Wonwoo beruntung ia tipekal orang yang bisa bersabar.

Kim Mirae. Nama yang kembali tersebut di kehidupannya beberapa hari lalu, dan kini seseorang pemilik nama tersebut muncul di jarak pandangnya dengan tiba- tiba. Jika ia benar sepertinya tujuan gadis itu tiba lebih awal di Seoul itu sudah bisa ia perkirakan. Dan hal itu pasti hanya akan merepotkannya saja. Mingyu kemudian pergi dari tempat itu menyisahkan Wonwoo yang mengerutkan kening melihat tingkahnya. Tanpa mengatakan apa pun, hanya memandang saja lalu pergi. Wonwoo hanya mengangkat kedua bahunya.

Menemui gadis itu duluan atau belakangan itu sebenarnya hanya tentang waktu. Jika ia tidak menemui gadis itu sekarang, maka nanti mereka juga akan bertemu. Tentu saja hal itu akan terjadi karena mereka berada pada satu ruang lingkup yang sama. Mingyu hendak melangkah menghampiri Mirae tapi kakinya tertahan karena memperhatikan gerak- gerik gadis itu. Ia bisa menebak bahwa sekarang Kim Mirae tengah bertanya tentang dirinya pada salah satu penghuni kampus. Hanya saja ada yang aneh dari apa yang ia lihat. Seorang mahasiswi yang ditanya Mirae sekarang sedang menunjuk pada seseorang dan itu bukan dirinya. Apa dia salah mengira atau? Mingyu berjalan lebih mendekat untuk mengamati situasi. Tingkah gadis itu selanjutnya membuat Mingyu membuka mulutnya. Kata ‘atau’ yang belum ia teruskan nyatanya langsung memberi bukti di depan mata. Kim Mirae. Bukan mengkonfirmasi kebenaran, namun malah bertindak tanpa berpikir. Lihat saja akibat kekonyolannya, gadis itu pastinya sedang malu setengah mati sembari berusaha melarikan diri. Mingyu melangkah pada sebuah arah.

“Kau masih saja ceroboh seperti dulu, Kim Mirae.” Karakter suara bercampur serak itu Mirae mengenalinya. Ia menoleh pada sumber suara dan mendapati tatapan setengah tersenyum seseorang tidak jauh darinya.

“Kim Mingyu?”

Tempat mereka duduk santai itu bisa dibilang sebuah taman indah milik Universitas Kyunghee. Pemandangan berwarna merah jambu yang terbentang di hampir sisi- sisi jalannya dan air mancur cantik di tengah taman benar- benar memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.

Mingyu menghampiri Mirae lalu menyodorkan sekaleng minuman bersoda pada gadis itu. Mirae menerimanya tanpa berkata. Mingyu menyunggingkan senyum kemudian duduk di rerumputan untuk menyantaikan tubuhnya. Ia menyeruput minuman yang ia beli sebelumnya dengan pandangan yang mengarah pada air mancur yang tidak berada jauh dari mereka. Suasana menjadi hening karena tidak ada satupun dari keduanya yang membuka percakapan lebih dahulu. Mingyu melirik kepada gadis di dekatnya dan kaleng minuman yang hanya dipegang gadis itu tanpa berniat meminumnya. Mingyu menghampiri Mirae dan mengambil minuman kaleng tersebut.

“Apa kau lupa cara membuka minuman kaleng?” ucapnya setelah membuka minuman kaleng di tangannya lalu menyodorkan tepat di depan mata Mirae. Gadis itu kembali menerima minuman tersebut namun tidak meminumnya melainkan meletakan minuman itu di sampingnya. Ia memandang Mingyu yang berada di hadapannya.

“Mingyu ya….”

“Jangan melanjutkan perkataanmu, jika itu hanya tentang kembali ke Anyang.” Tutur Mingyu memotong ucapan Mirae.

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Apa ini Mingyu yang kukenal?”

Mingyu menyeringai, “waktu memang bisa mengubah siapapun, Kim Mirae.

“Omong kosong.” Selamanya kau hanya sama di mataku. Kim Mingyu yang seperti itu. Ia bergumam dalam hati.

Mingyu menoleh lebih dekat dan menantang tatapan tajam gadis itu kepadanya. Dalam jarak yang sedekat itu, perubahan lima tahun pun terlihat. Sesuatu hal jadi membuatnya tersenyum.

“Kita ini bukan anak kecil seperti dulu yang selalu menurut aturan orang tua. Kita sudah dewasa dan bisa menentukan jalan pikiran sendiri. Apa kau mengerti perkataan itu?”

“Jika ini menyangkut harabeoji, kau terlalu bersikap berlebihan. Kau bilang kau sudah dewasa bukan? Ini bukan kedewasaan Mingyu ya. Tapi ini sifat kekanakan.”

“Jangan terlalu membela harabeoji, Kim Mirae. Kau bisa kecewa nanti.”

Tiada habis perkataan balasan yang ditujukan padanya setiap kali ia berbicara. Mirae mengalihkan perhatiannya dari pemuda di dekatnya. Sebelah tangannya menyibakan rambut yang menutupi bagian depan wajahnya ke belakang. Ia menghela napas. Ia masih mengingat jelas, ia tidak pernah berdebat seperti ini dengan seorang Kim Mingyu. Ia bahkan tidak pernah merasa kesal atas ulah pemuda itu, tapi malah sebaliknya Mingyulah yang selalu kesal padanya dulu karena terlalu suka menggoda pemuda itu dengan hal- hal yang tidak disukai seorang Kim Mingyu.

Mingyu memperhatikan gelagat Mirae dan sudah bisa menebak isi pikiran gadis itu. Mungkin tidak seharusnya ia bersikap kekanakan seperti itu, tapi untuknya tidak ada pilihan lain selain mengucapkan maaf dalam hati.

“Kalau begitu baiklah.” Mingyu beranjak dari tempatnya, “Daripada kau membuang waktumu percuma seperti ini, lebih baik kau bergegas mencari asramamu. Kau tidak ingin tidur di luar kan malam ini?” ia melangkahkan kakinya beberapa langkah sampai terdengar kembali suara Mirae di indera pendengarannya.

“Kita taruhan saja.”

Mingyu menoleh sembari menyunggingkan senyum. “Kau ingin taruhan?” sepertinya gadis itu sudah kehabisan cara untuk membujuk dirinya lagi sampai mengeluarkan senjata pamungkasnya. Keduanya saling berdiri berhadapan dalam beberapa jarak. Mingyu kemudian melangkah mendekati Mirae dan baru menghentikan langkahnya saat ia telah berada tepat di samping gadis itu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mirae. Begitu dekatnya sampai ia bisa mencium aroma parfum Vanila yang menguar dari tubuh gadis itu. Aroma yang ia kenali sedari dulu. Gadis itu masih tidak berubah.

“Mirae, kau tidak berpikir akan selalu menang dalam segala taruhan kan seperti dulu?” bisiknya membuat Mirae menoleh ke arahnya dan gadis itu hanya membalas dengan senyum. “Kau percaya diri sekali.” Lanjut Mingyu.

“Kita lakukan saja.”

“Baiklah. Tapi aku yang menentukan jenis taruhannya.”

“Ok. Tapi sebelum itu kau setuju kembali ke Anyang kan?” Mirae mengulurkan tangannya ke hadapan Mingyu.

“Tentu.” Mingyu menatap tangan itu sebelum menyunggingkan senyum lalu mengulurkan tangannya juga untuk berjabat tangan. Tapi ia terpaku sebentar karena ulah Mirae yang menarik tangannya sendiri dan membiarkan tangan Mingyu yang terulur menganggur. Gadis itu bahkan bertingkah seperti tidak terjadi apa- apa.

“Aku tidak akan menerima uluran tanganmu, Kim Mingyu.” Ia membuang muka lalu melangkah berlalu meninggalkan Mingyu di tempatnya. Pemuda itu menggeleng- gelengkan kepalanya.

“Lebih baik kau tidak tersesat Kim Mirae. Dan kusarankan jangan jalan kaki kesana.” Seru Mingyu tapi Mirae hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik ataupun menoleh. Pemuda itu kembali menyunggingkan senyum namun kali ini terlihat tulus berbeda dari sebelumnya.

Setelah melalui berbagai bangunan dari luas halaman kampus yang berhektar- hektar Mirae akhirnya disuguhkan dengan satu bangunan bertingkat di luar bangunan utama kampus. Jika saja ia tidak sembari menikmati pemandangan di sekitar kampus, mungkin saja betis kakinya sudah bengkak karena berjalan jauh. Karena merasa lelah, Mirae memutuskan untuk duduk sebentar di halaman asrama. Di sekitarnya ia melihat ada parkiran yang di dalamnya ada sepeda motor dan juga sepeda. Mirae menghela napas, kurasa ialah satu- satunya orang bodoh yang berjalan kaki dari kampus ke asrama. Yang dikatakan Mingyu sebelumnya ternyata benar. Ia tidak seharusnya jalan kaki menuju asrama. Dan jika Mingyu menyebalkan itu melihatnya sekarang yang hampir kehilangan napas, pasti pemuda itu akan menertawainya. Mirae menggeleng- gelengkan kepalanya lalu beranjak. Lebih baik ia segera ke ruang asrama yang sudah ditunjuk untuk tempat tinggalnya. Satu kamar empat orang. Mungkin tidak terlalu buruk.

Bahkan rasa lelahnya saja belum hilang tapi di hadapannya ia kembali disuguhkan dengan anak tangga yang seakan tertawa melihat dirinya. Ruang asramanya ada di lantai empat. Lantai yang memiliki peringkat kedua tertinggi setelah atap. Mirae menarik napas dalam- dalam. Semoga saja nyawanya masih bisa bertahan sampai atas. Satu- persatu ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Membutuhkan waktu lebih dari lima belas menit Mirae menaiki anak tangga dan sampai di depan pintu kamar asramanya. Mungkin karena dia sudah kelelahan tidak menentu. Nomor 324 menempel di tengah pintu. Ia mengetuk pintu ruangan itu namun tidak ada sahutan dari dalam. Mirae memutuskan masuk karena memang ruangan itu tidak terkunci. Sampai di dalam ia disuguhkan nuansa ruangan yang sulit sekali ia jelaskan dengan kata- kata. Meskipun warna cat ruangan itu adalah merah jambu yang menjadi kesukaannya, tapi entah kenapa jadi terasa suram di matanya. Mirae melangkah memasuki ruangan dan meneliti ke sekitar. Dari arah jam 12 tepat ia melihat jendela dengan tirai terbuka. Lalu ada ranjang bertingkat dua di masing sisi- sisi jendela yang terdapat juga rak kecil yang bisa menjadi tempat buku. Di ranjang bagian bawah di sisi sebelah kanan ia melihat seseorang tengah berbaring sembari menutupi wajahnya dengan buku yang terbuka. Lurus saja dari  masing- masing ranjang terdapat meja yang menempel dengan dinding dengan masing- masing satu kursi di hadapannya dan juga lemari memanjang seukuran meja yang juga menempel dengan dinding pada bagian atas meja dimana di masing- masing meja ada laptop dan sekawanannya. Lalu di tengah- tengah ruangan ada meja berbentuk bundar memanjang dan empat buah kursi di masing- masing sisi. Sepertinya ada satu kamar mandi di sudut ruangan dan beberapa lemari pakaian.

“Kau siapa?” seseorang mengagetkan Mirae. Karena terlalu memperhatikan isi ruangan ia jadi tidak menyadari seseorang menghampirinya. Seorang gadis dengan wajah seperti membentuk tanda tanya karena kehadiran dirinya. Gadis itu berpostur lebih pendek darinya, memakai kacamata  bulat tipis dan sepertinya juga lebih muda darinya.Tatapan mata dinginnya masih tertuju pada Mirae. Gadis itu mengulangi pertanyaannya sembari menyilangkan tangan di depan dada. Gadis yang terlihat angkuh di matanya.

“Aku anak pindahan.”

“Kenapa ke asrama ini?”

Jika Mirae tahu kenapa ia dimasukan ke ruangan itu mungkin ia tidak akan diam saja dan menjawabnya.

“Oh, mungkin karena kami hanya bertiga makanya mereka membuangmu kemari.”

Membuang katanya? Dari cara berbicara gadis ini sepertinya Mirae akan mendapat tantangan baru yang membuatnya harus menahan diri untuk tidak terpancing emosi. Dari gaya penuturannya dan tatapan dinginnya semuanya sangat singkron. Mirae menghela napas tak terlihat. Karena ini adalah pertemuan mereka yang pertama, Mirae hanya akan mengiyakan saja segalanya. Ia harus mengamati dulu seperti apa karakter teman sekamarnya itu baru bisa bersikap. Karena dia bukanlah orang yang tidak bisa berpikir dan mengambil kesimpulan asal hanya karena kesan pertama. Mengambil kesimpulan langsung pada kesan pertama bisa menimbulkan kesalahpahaman. Karena bisa saja ia telah salah menilai.

“Aku akan menjelaskan sebentar. Di ruangan ini kita punya aturan untuk ‘jangan mengurusi urusan orang lain’. Kau lihat dia kan?” gadis itu menunjuk pada seseorang yang sedang berbaring pada bagian bawah ranjang yang tadi dilihat Mirae. “Dia. Lebih baik jangan mengganggunya. Aku sendiri juga tidak berniat untuk berbicara dengannya. Dia sedikit aneh. Lalu….” ia memperhatikan sekitarnya. Ruangan ini sungguh memperihatinkan dan membuat matanya risih. Jika anak laki- laki yang menjadi penghuninya mungkin saja bisa dibilang wajar. Tapi jika penghuninya anak- anak perempuan. Mirae menghela napas sebelum kembali mendengarkan ucapan teman sekamarnya itu.

“Kau bisa menyusun pakaianmu di lemari yang itu lalu ranjang bagian bawah itu menjadi milikmu. Sudah jelaskan? Karena aku tidak berniat menjelaskan lebih detail.”

“Aku mengerti. Terima kasih.”

“Sama- sama. Kalau begitu aku pergi dulu,” Gadis itu melangkah namun kembali menoleh ke arahnya sebelum membuka pintu, “by the way, aku Lee Seul, dia Zyel dan kau?” tanyanya.

“Kim Mirae.”

“Baiklah Mirae ya. Sampai juga nanti.”

Gadis bernama Seul itu kemudian menghilang dari balik pintu lalu hanya menyisahkan dirinya dan seseorang yang masih begitu betah berbaring di atas tempat tidur bahkan tanpa ada pergerakan. Gadis itu tidak pingsan kan? Mirae mengabaikannya dan melanjutkan aktivitas merapikan bagian kehidupannya di Seoul. Ia memulai mengeluarkan pakaian dari koper dan menyusun ke dalam lemari yang tadi ditunjuk Lee Seul lalu meletakkan benda- benda lain miliknya pada satu meja belajar kosong di dekat ranjang. Ia menyusunnya dengan rapi. Dari foto keluarga miliknya dan benda- benda lainnya. Setelah selesai dengan barang- barangnya sendiri ia memperhatikan ke sekeliling di dalam ruangan. Ia tidak akan bisa tidur dengan ruangan yang berantakan seperti ini. Mirae menangis dalam hati. Dengan tubuh lunglai ia pun bergerak mulai membersihkan tempat itu. Di atas meja ada sampah bungkus makanan bahkan buah- buahan. Siapa sih yang jorok seperti ini? Ia menggerutu kesal namun tanpa menghentikan aktivitasnya yang tidak terduga tersebut. Selang satu jam akhirnya ia berbaring di ranjang dengan nyaman. Kedua matanya memandang langit- langit ranjang di atas kepalanya hanya sekejab sebelum kedua matanya tertutup rapat. Jika sudah kelelahan, Mirae begitu mudah untuk jatuh tertidur.

Di salah satu ruangan asrama pemuda terlihat Mingyu dan Wonwoo dengan kesibukan masing- masing. Meskipun satu ruangan terdiri dari empat orang namun di ruangan tersebut hanya terlihat mereka berdua saja. Wonwoo seperti biasa berkutat dengan laptop di hadapannya dan Mingyu dengan buku terbuka di hadapannya.

Hyung, untuk pertemuan selanjutnya aku sepertinya tidak bisa ikut. Aku harus pergi ke suatu tempat.” Kata Mingyu mememecah keheningan di antara keduanya. Wonwoo mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Mingyu yang sedang duduk di dekat balkon. Kali ini ia tidak mungkin menahan diri untuk penasaran.

“Memangnya kau mau kemana?” tanyanya kemudian.

“Aku akan kembali ke Anyang untuk sementara waktu.”

“Anyang? Kenapa tiba- tiba ingin kembali ke Anyang?”

“Karena di Anyang nanti, aku baru bisa memulai taruhan dengan seseorang.”

“Taruhan apa?”

“Sesuatu yang akan membuatnya kesal. Ini pasti sangat menyenangkan.” Mingyu tidak menjelaskan lebih hanya beruraikan senyuman aneh yang tersungging dari bibirnya. Wonwoo memikirkan sesuatu sejenak.

“Tapi kalau kau yang kesal maka kau yang akan kalah darinya.” Tutur Wonwoo.

“Aku harus kesal untuk sebuah alasan. Dan dia tidak akan bisa menciptakan alasan yang bisa membuatku kesal dengan mudah.”

“Ya ya, seperti biasa. Kau selalu percaya diri.” Wonwoo menggeleng- gelengkan kepalanya lalu kembali menatap layar laptopnya. Sesuatu hal mengundang kedua sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.

“Wajahnya lumayan cantik, tapi masih lebih cantik aku sih.” Suara samar- samar itu mengusik aktivitas tidur Mirae. Meskipun kedua matanya belum terbuka, tapi indera pendengarannya berhasil menangkap suara yang berada di sekitarnya. Secara perlahan ia memaksakan kedua matanya untuk terbuka. Dan tepat di depan kedua matanya wajah seseorang tampak begitu dekat. Miraepun refleks duduk dari posisi tidurnya sembari menjerit.

Yaaaa, kenapa kau menjerit seperti itu? Telingaku jadi sakit karenamu.” Gadis yang tidak ia kenali itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari memasang wajah ketus. Mungkin ia salah satu penghuni kamar ini, karena mengingat satu ruangan ada empat orang. Mirae memijat keningnya yang sedikit pusing lalu beranjak. Keduanya berdiri saling berhadapan. Meskipun gadis itu tampak tinggi, tapi Mirae masih lebih tinggi darinya beberapa senti.

“Wah, kau tinggi juga. Berapa tinggimu? Daebak.” tiba- tiba saja gadis itu membahas soal ukuran tingginya sembari memperhatikannya dengan cara yang aneh. Mirae sesungguhnya malas meresponnya.

“171 cm.”

MWOOOOOOO?”

Secara spontan Mirae menjauhkan kepalanya dari teriakan dasyat itu, “sekarang kau gantian berniat merusak gendang telingaku?”

Sorry. Tadi, aku hanya dengar dari Seul eonnie kalau ada yang masuk ke kamar asrama kami. Aku hanya sedikit penasaran.”

Mirae hanya mengangguk- anggukan kepalanya namun pikirannya terganggu pada satu perkataan gadis di dekatnya itu.

“Seul eonnie?” Mirae terkejut.

“Hmmm. Gadis berwajah sedingin es itu ada ditingkat ketiga sekarang.”

Tingkat ketiga? Berarti dua tahun lebih tua darinya? Astaga. Itu bahkan tidak terlihat wajahnya. Tapi dari sikapnya memang menunjukan sebuah tingkat kedewasaan. Sembari ia berpikir Mirae baru menyadari bahwa gadis itu pasti memperhatikannya dengan tatapan aneh lagi.

“Jangan memandangku seperti itu. Aku Kim Mirae dan kau?”

“Park Riran.” Setelah memberitahu namanya, gadis itu kemudian mengabaikannya dan memilih duduk santai di meja di dekat mereka. Pandangan Mirae teralih ke sebuah arah lain. Gadis yang tertidur tadi sudah tidak terlihat di sana.

Cheogiyo, dimana gadis yang tidur di ranjang itu?” tanyanya membuat gadis itu menoleh pada arah pandangan Mirae.

“Zyel maksudmu? Gadis aneh itu kurasa sedang berusaha menghilangkan dirinya dari jangkauan pandangan orang seperti biasa.” Jawaban yang membuat Mirae mengerutkan kening karena tidak mengerti. Hari pertama ia menginjakan kaki di Seoul tepatnya Universitas Kyunghee, sudah begitu banyak kejutan yang menghampirinya. Ia hanya bisa menunggu kejutan selanjutnya. Semoga saja hanya akan menjadi hal yang baik.

Mirae melangkah menuju balkon dan memandang senja yang mulai menyapa di ufuk barat. Dari jangkauan jarak pandangannya ia memperhatikan seorang berhoodi hitam yang sedang berjalan meninggalkan pelataran asrama.

Dari sisi balkon yang berbeda tampak seseorang yang memakai kacamata ciri khas harry potter juga sedang memandang ke arah yang sama. Untuk menyesali sesuatu hal seyogianya bukan hal yang tepat. Hidup itu terlalu singkat jika hanya dijalani dengan penyesalan. Yang terpenting tentang berpikir ke depan untuk berusaha memperbaikinya.

“Wonwoo hyung, ada yang menarik di luar?”

Pemuda itu menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Mingyu sedang berkutat dengan sesuatu. Dan Wonwoo hanya membalasnya dengan senyuman.

-oOo-

Stasiun Hoegi

Ia rasa tidak membutuhkan waktu lama untuknya menuju ke stasiun hoegi dari Universitas Kyunghee, tapi entah sudah berapa kali Mirae melirik jam tangan yang ia pakai dan entah sudah berapa kali pula ia menghela napas tapi sama sekali tidak terlihat batang hidung Kim Mingyu di sekitar stasiun di jalur kereta bawah tanah Seoul 1 tersebut. Anak itu apa sedang bermain- main dengannya? Apa dia hanya berpura- pura saja ingin ikut pulang atau dia berubah pikiran atau kemungkinan lainnya pemuda itu masih tidur di kasur empuknya. Karena yang ia tahu meski alarm berteriak- teriak membangunkan sang pemiliknya, tapi Mingyu akan tetap menjadi orang yang tidak akan bangun dengan mudah.

“Besok kau duluan saja ke stasiun. Ada urusan yang harus kukerjakan sebentar.”

Bahkan tanpa memberikan kesempatan Mirae untuk berbicara, Mingyu langsung saja berlalu begitu saja bahkan tanpa menoleh. Rasanya Mirae ingin sekali membanting ponsel yang sudah menempel di samping telinga kanannya yang tadinya ingin ia gunakan untuk menghubungi Mingyu jika melihat sikap pemuda itu padanya. Kalau begini ceritanya lebih baik ia langsung saja menyeret pemuda itu tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk kemanapun. Mirae menghela napas. Awas saja nanti jika mereka sampai ketinggalan kereta karena pemuda itu.

“Mirae ya?” belum lama berselang dari pikirannya, ciri khas suara serak itu terdengar menyapanya. Mirae mengenalinya. Gadis itu langsung menoleh pada sumber suara namun terpaku dalam sekejab. Matanya berkedip- kedip beberapa kali memperhatikan sosok yang tengah menghampirinya dengan senyum lebar itu. Mirae tercengang bahkan tidak bisa berkata- kata dengan apa yang dilihat oleh mata telanjangnya. Mulutnya bahkan sampai terbuka lama.

“Apa aku begitu tampannya sampai kau melihatku seperti itu?”

“Tampan kepalamu. Dan kau apakan rambutmu itu?” ujarnya kesal tapi Mingyu hanya membalasnya dengan cengiran bodoh. Apa dikiranya pemuda itu sedang tinggal di Eropa huhh? Bagaimana bisa ia mengecat rambutnya seperti padi yang sudah kering. Orang ini benar- benar menguji kesabarannya.

“Akui saja kalau aku semakin tampan. Terlihat indah kan?”

“Cih, padi kering tidak pernah indah di mataku.” Sewot Mirae tapi hanya menciptakan uraian senyum di bibir Mingyu. “Oiya, tentang taruhannya bagaimana?” tiba- tiba saja gadis itu mengingatkannya pada perihal hal itu. Mingyu menoleh padanya.

“Aku akan memulainya saat kita sudah di Anyang.”

“Taruhan apa?”

“Hmmmm. Sesuatu yang disarankan temanku.”

Keduanya saling pandang dengan ekspresi berbeda sampai hampir tidak menyadari bahwa peron sudah mulai ramai karena kedatangan kereta api yang menjadi tumpangan mereka. Pintu platform itu terbuka tidak berapa lama setelah kereta api itu tiba. Mingyu kembali menyunggingkan senyum lalu dengan santainya melangkahkan kakinya memasuki kereta api sedangkan Mirae masih terpaku. Yang ada di pikiran Mirae sekarang bukan hanya tentang taruhan mereka melainkan tentang bagaimana reaksi kakek mereka melihat penampilan Mingyu seperti itu. Kemarin anak itu masih normal- normal saja tapi kenapa sekarang?  Mirae mengacak- ngacak rambutnya kesal sembari memasuki pintu platform di hadapannya. Mingyu sudah terlihat santai dengan headset yang melekat di kedua telinganya sembari menutup kedua matanya. Dengan perasaan kesal Mirae duduk di sampingnya karena ia lihat hampir sudah tidak ada tempat lain yang tersisa. Pagi yang tidak bernapas. Ia melakukan hal yang sama dengan Mingyu, mengeluarkan ponsel, memasang headset di masing- masing telinganya lalu menyetel musik favoritnya. Lebih baik ia nikmati saja perjalanan singkat ini dulu, masalah nanti ia bisa pikirkan nanti. Lagipula kedua matanya sudah mulai berat. Berkat seseorang teman sekamarnya yang ngakunya handal bernyanyi, semalam suntuk Mirae jadi tidak bisa tidur padahal ia lagi dalam kondisi tidak enak badan. Ia masih merasa sedikit mual dan lemas. Dua teman sekamarnya yang lain bahkan tidak berbuat apa- apa seperti sudah terbiasa. Dan mungkin itulah salah satu contoh untuk ‘jangan mengurusi urusan orang lain. Kedua mata Mirae menutup dengan sempurna.

Mingyu merasakan bahunya berat karena sesuatu. Sebuah kepala membebani bahunya. Sudah dipastikan kepala siapa itu. Mingyu menoleh ke samping dan wajah Mirae dengan mata tertutup menyapanya. Dari jarak sedekat itu ia bisa melihat dengan jelas perubahan Mirae terutama dari bentuk wajahnya. Dulu sekali ia masih suka bermain- main dengan pipi chubby  milik Mirae, tapi saat ini jangankan pipi. Lemak di seluruh tubuh gadis itu sepertinya sudah pamit untuk tidak mudah kembali lagi. Sebenarnya apa yang kau pikirkan sampai membuatmu kurus seperti ini, Mirae ya? Gumam Mingyu dalam hati lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kereta api melaju semakin menjauhi stasiun hoegi.

……

Mirae membuka kedua matanya secara perlahan dan memperhatikan ke sekitarnya. Ada yang berbeda pikirnya. Orang- orang mulai bergerak menuju pintu keluar kereta api.

“Apa kita sudah sampai Anyang?”

“Mungkin saja kita akan kembali lagi ke Seoul jika seseorang masih betah dengan tidurnya.” Tanpa jeda Mingyu langsung menyahuti pertanyaan Mirae. Semakin lama semakin sedikit yang berada di dalam kereta, itu menandakan keduanya sudah tiba di kota tujuan. Mirae menegakkan kepalanya, tanpa mengatakan apa pun Mirae langsung beranjak dan menarik Mingyu keluar dari kereta api itu. Jika ia hanya diam, mungkin saja Kim Mingyu akan berubah pikiran. Karena tidak ada yang bisa menebak pikiran pemuda itu. Keduanya kini berdiri di peron stasiun Anyang.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?” sewot Mirae menoleh horor pada mahluk tinggi di sampingnya. Untuk sesaat tidak ada respon dari Mingyu sampai pemuda itu menoleh ke arahnya sembari melontarkan kalimat demi kalimat sampai membuatnya tersudut.

“Aku malas. Lagipula, siapa yang menyuruhmu tidur seperti itu padahal tahu kalau jarak tempuh cuma satu jam.” Jika kau tertidur seperti tadi setiap melakukan perjalanan, kau akan jadi sasaran empuk orang jahat. Mingyu melanjutkan ucapannya dalam hati. Ia menarik napas sebelum kembali menyembur gadis itu. “Apa yang kau lakukan tadi malam sampai kau tidak tidur? Matamu sudah seperti mata panda kau tahu.”

Mirae mengerjap- ngerjapkan matanya dan terpaku sebentar. Itu adalah kalimat terpanjang Mingyu setelah mereka bertemu. Ternyata dia memang tidak berubah seperti anggapan bibi Haneul. Kim Mingyu hanya sedang berpura- pura. “Ini lebih baik daripada aku memuntahimu? Tapi baiklah, lain kali aku akan memuntahimu saja daripada tidur.” Jawabnya santai karena ia sudah sangat malas untuk berdebat.

Mingyu mengerutkan keningnya sembari memperhatikan Mirae. Apa gadis itu sedang sakit? Tangan pemuda itu hendak terulur ke arah Mirae, namun pergerakan gadis itu sedetik lebih cepat dari gerak tangannya. Gadis itu melangkah tanpa menoleh. Suara langkah kaki Mingyu kemudian mengimbanginya. Ia berjalan beberapa langkah di belakang Mirae.

-oOo-

Belum lagi Mingyu dan Mirae masuk ke kediaman keluarga mereka, suara Minseo terdengar memecahkan keheningan di sekitar. Bukan tanpa sebab gadis itu melakukannya tapi melainkan karena melihat kedatangan kedua saudaranya.

Eomma, Mirae eonnie berhasil menyeret oppa pulang.”

Senyum bibi Haneul bahkan tidak bisa tertahan karena mengetahui kedatangan putra sulungnya. Wanita paruh baya itu langsung menuju ke sebuah arah dan Minseo pun ikut beranjak untuk menghampiri Mirae dan Mingyu.

EONNIEEEEE, OPPAAAAAA!

Suara lengkingan itu seakan menggetarkan seisi rumah dan sekitarnya. Mirae tidak bisa menahan senyumnya mendengar suara Minseo yang tidak berapa lama menunjukan sosoknya dan langsung berlari menghampiri mereka. Tapi dua meter dari keduanya berdiri, Minseo terpaku akan sesuatu hal. Mungkinkah….. Mirae menebak sesuatu dalam hati sembari menoleh ke seseorang.

Oppa, kau apakan rambutmu?” dan tepat seperti yang ia pikirkan. Dan kita lihat, apakah jawaban dari Mingyu atau mungkin sesuai lagi dengan tebakannya.

Oppa terlihat keren kan?” dan sekali lagi tepat seperti tebakan Mirae. Gadis itu memutar bola matanya.

“Kau terlihat seperti ….. padi kering.”

“Benar.” Mirae menyahutinya. Tepat seperti perkataannya.

Mingyu menoleh horor pada Mirae yang membuang muka ke arah lain seakan tidak tahu apa- apa. Namun tidak berapa lama mereka berdiri seperti itu, suara berat seorang pemuda memecahkan keheningan di antara mereka. Kakek mereka terlihat berdiri sembari memandang mereka. Tubuh Mirae langsung kaku karenanya. Raut wajah Mingyu pun berubah.

“Apa yang kau lakukan dengan rambutmu itu huhh? Kau kira kau tinggal di Eropa. Kau terlihat seperti padi kering.” Suara berat Kim Mingyeol yang berdiri di samping ibu Mingyu menghantam gendang telinganya saat itu. Mingyu menoleh pada arah dimana Mirae dan Minseo saling pandang tanpa mempedulikannya. Saat pertama dan kedua kali ia mendengar dua kata itu, ia hanya meresponnya tanpa peduli. Tapi saat ketiga kalinya entah kenapa telingannya terasa pengang. Ia jadi kesal.

“Tenanglah ayah. Kurasa yang terbaik bahwa Mingyu pulang saat ini.” Ibu Mingyu berusaha menenangkan lelaki tua itu.

Waktu berlalu menyisahkan sang ratu malam yang menemani malam pekat saat itu. Mirae terlihat berdiri di balkon sembari memandang langit malam. Mingyu yang tidak sengaja melihat gadis itu kemudian menghampirinya. Ia mengikuti arah jarak pandang Mirae.

“Kenapa tidak beristirahat?” tanya Mingyu sembari memandang ke Mirae yang masih memandang langit malam bahkan gadis itu tidak menoleh dan hanya menjawab saja.

“Aku tidak apa- apa.”

“Benarkah?”

“Hmmm.” Gadis itu masih tidak mengalihkan pandangannya. Mingyu bergerak mendekat dan menarik tangan gadis itu. Ia meletakan telapak tangan kirinya pada bagian belakang kepala Mirae. Hal itu tentu saja membuat Mirae tersentak kaget. Tapi belum sempat ia mengatakan apa pun, Kim Mingyu terlihat dengan santai menarik kepala Mirae dan membiarkan kepalanya sendiri menunduk lalu menempelkan kedua kening mereka. Mingyu memejamkan matanya berbanding terbalik dengan Mirae. Hanya beberapa detik, sepasang mata yang terpejam itu terbuka dan bertentangan langsung dengan kedua mata Mirae. Gadis itupun spontan menepis ulah Mingyu.

“Kau sedikit demam.” Tutur pemuda itu. Mirae terdiam sejenak sembari memikirkan sesuatu hal. Jika diingat dulu saat mereka kecil, Mirae sering sekali melakukan hal itu. Mengukur suhu tubuh dari kening ke kening untuk mengetahui Mingyu demam atau tidak. Namun itu dulu sekali. Sekarang entah kenapa ada sesuatu yang aneh jika keduanya melakukan hal seperti itu. Sudahlah. Mirae menggeleng- gelengkan kepalanya. Ia terlalu banyak berpikir sepertinya.

“Oiya, bagaimana dengan taruhannya?” Mirae mengalihkan topik pembicaraan.

Mingyu menyunggingkan senyumnya membuat Mirae mengerutkan kening, “Taruhannya ya? Kau benar- benar ingin tahu?”

“Sudahlah. Katakan saja.”

“Yakin kau bisa menang?”

“Tentu saja aku yakin.”

“Kalau begitu…….”

“Kalau begitu apa?”

“Kita berkencan?”

MWO?

Keduanya saling pandang dengan ekspresi yang berbeda.

TO BE CONTINUED………

Halo kita bertemu lagi di part kedua. Alhamdulillah masih bisa lanjut.

Terima kasih untuk readers yang mengikuti cerita ini. #deepbow

Sudah bertambah bukan castnya… Eeee tapi itu belum semua. Karena di part- part selanjutnya bakal bermunculan para cast pendukung bahkan salah satu yang utama juga.. heheh… mari tunggu kelanjutannya… Annyeong.. Kamsahamnida.

CATATAN :

Beberapa tempat merupakan tempat yang memang keberadaannya ada di Korea Selatan, namun ada juga beberapa hal yang menjadi bumbu tambahan. Jadi jika kalian tahu salah satu tempat namun ada juga yang keberadaannya tidak ada, tolong jangan heran. Karena itu sebuah kesengajaan dari Author untuk mendukung jalannya cerita. Maklum, author hanyalah seseorang yang cuma bisa menjelajahi seputaran kota Medan, belum bisa menjangkau kota Seoul. T.T

Seperti yang tersebut di atas juga ada beberapa karakter yang asli namun ada juga nama yang hanya dibuat- buat oleh Author karena minimnya info yang didapat. Seperti nama anggota keluarga Kim Mingyu. Susah banget mencari tahunya. Wak google pun angkat tangan. T.T

Kalau ada yang tahu bisa bagi- bagi infonya.. Terima kasih lagi. Annyeong.

Assalamualaikum wr. wb

Iklan

2 thoughts on “[SVT FREELANCE] – [Chaptered] Miracle Touch (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s