[Vignette] When the Sunshine Has Come

whenthesunshinecomes

When the Sunshine Has Come

story by Rosé Blanche

Wen Junhui [Seventeen] & Jung Yerin [GFriend]

Fluff, Slice of Life

G

Vignette

.

a sequel of Pitch-Black Darkness

Notes : kindly read the previous story to understand this part.

.

.

Dari sekian banyak pepatah di dunia ini, ada sebagian yang kupercaya dan kupakai sebagai pedoman hidup. Sejak kecil aku memang dididik untuk menjadi pria yang berprinsip dan berpendirian.

Hanya saja, aku merasa geli sendiri terhadap salah satu pepatah yang kedengarannya klise, namun benar-benar kurasakan nyata dalam hidup ini.

Cinta itu buta.

Ya, benar-benar buta.

Aku tidak paham bagaimana bisa perasaan ini tumbuh. Karena pada faktanya, dulu saat hidupku masih dipenuhi alkohol dan wanita, paras dan bentuk tubuh selalu menjadi tempat pertama di mana mataku menemukan daya tarik mereka.

Dan sekarang, di saat visiku sama sekali tak pernah menangkap wajah gadis itu, kenapa mata hatiku berkata seolah dialah orangnya?

Ya ampun, baiklah. Mari hentikan segala pemikiran hiperbolis nan menggelikan ini, sebelum ia datang dan menemukanku sedang tersenyum-senyum sendiri layaknya—

“DOR!”

Ah.

Oke, aku terlambat.

“Tumben sekali tidak kaget.” Yerin berdecak pelan.

Haha, bahkan aku tidak akan terkejut sekalipun kehadirannya yang tiba-tiba ini disertai teriakan mendadak tepat di sebelah runguku, walau sudah berkali-kali kukatakan padanya kalau aku tak ingin kehilangan satu indra lagi.

Tapi, bukan Yerin namanya kalau langsung menurut begitu saja.

“Kau melakukannya setiap hari, Yerin-ah. Jadi, terima kasih karena sudah membuat jantungku lebih kuat.”

Terdengar sebuah dengusan pelan, namun Yerin tak bersuara lagi. Sementara keriuhan kembali terasa melingkupi, samar-samar tercium aroma yang sukses membuat saraf liurku bekerja.

Oh, pasti Yerin bawa makanan.

“Kukira tadi kau lagi rapat arisan di toilet. Pantas saja lama, tahu-tahunya berburu jajanan, ya?” Sebuah kekehan meluncur dari bibirku, yang langsung bersambut dengan tepukan keras di bahu. “Hei, dilarang memukul pasien—”

“Maaf, Jun, tapi aku bukan dokter yang akan membiarkan seorang pasien jatuh pingsan kelaparan, terlebih bila penyebabnya hanya karena pasien tersebut cuma bawa kartu kredit alih-alih uang tunai ke sebuah festival tradisional seperti ini. Sekarang, makan saja tteokbokki ini sebelum aku menghabiskan semuanya.”

“Galak ama—mphf!” Belum selesai aku berkata, dua buah kue beras pedas telah menyumpal mulutku.

Selama beberapa saat hanya ada keheningan, di mana sesekali Yerin menyuapkan satu dua buah tteokbokki ataupun gurita dan cumi-cumi kering.

Jujur saja, aku merindukan suasana ini. Keriuhan orang-orang yang tak kunjung pudar, penuhnya udara akan aroma makanan khas Korea, serta hawa dingin malam yang menusuk kulit namun terasa nyaman.

Astaga, ternyata sampai sebegitu kesepiankah diriku?

Memang, sudah lama aku tak mendatangi festival. Terakhir kali mungkin saat aku masih berhubungan dengan para gadis itu, kira-kira hampir  dua tahun lalu. Saat itu, kurasakan tak ada yang istimewa dari mendatangi sebuah festival. Jujur, yang kudapat dari ramai dan manusia-manusia berdesakkan hanyalah rasa sumpek nan sesak. Kegiatan yang seharusnya menjadi hiburan pun terasa hampa.

Tetapi, aku tak pernah tahu bila saat itu adalah terakhir kalinya netraku memandang suasana demikian. Satu hal yang awalnya kupikir aneh, mengapa ketika Yerin hadir ke dalam hidupku, justru suasana seperti inilah yang kurindukan?

Konklusiku pada awalnya, mungkin aku kurang mensyukuri kehadiran orang-orang di sekitarku, sampai badai yang dinamakan kesepian menerpa.

Namun, kini aku mengerti.

Bukan itu alasan utamanya.

“Yerin.”

“Hm? Apa?” sahutnya, terdengar seperti sedang menguyah.

“Di festival ini, ada tidak satu tempat di mana kita bisa menuliskan harapan pada sebuah kartu, lalu digantungkan ke pohon?”

Terjadi jeda sejenak, mungkin dipakai Yerin untuk berpikir. “Ah, itu. Rasa-rasanya ada, secara tadi sempat kulihat ada satu pohon besar yang penuh dengan gantungan kertas. Kenapa? Mau ke sana?”

Tanpa keraguan sedikit pun, aku mengiakan.

-oOo-

“Jadi, apa harapanmu?”

Aku telah membuka mulut hendak menjawab, namun Yerin lekas memotong dengan nada was-was, “Jangan pernah berpikiran untuk menulisnya sendiri, secara tulisanmu masih kalah dengan keponakanku yang baru berumur enam tahun.”

Sebuah tawa kecil meluncur dari bibirku. “Baiklah, baiklah. Semau Tuan Putri saja ya kalau begitu?”

“Jangan Tuan Putri, masih lebih cantik malaikat.”

“Terus aku harus memanggilmu Putri Bidadari, begitu?!”

Terdengar sebuah dengusan keras. “Aduh, Junhui! Sudahlah cepat saja, harapanmu apa?”

Butuh beberapa sekon, sebelum aku menjawab, “Kau tahu apa harapanku.”

Yerin sudah pasti tahu. Setahun lebih kami bersama, menjalin hubungan sebagai dokter-pasien yang menghabiskan waktu minimal tiga hari dalam seminggu. Setahun lebih kami saling mengenal, dan aku yakin seratus persen sebagai seorang dokter, pastilah ia memahami angan terbesar seorang pasiennya yang telah menunggu antrean sejak sekian lama.

“Ingin segera mendapatkan donor dan bisa melihat?”

“Tentu saja,” ujarku mantap.

Namun, yang terjadi selanjutnya jauh dari apa yang kupikirkan. Aku tahu hanya gelaplah yang dapat kulihat selama beberapa waktu terakhir, namun entah bagaimana diriku selalu dapat merasakan bila ada pandangan yang tertuju lurus padaku.

“Yerin?”

“Kau punya harapan lain?”

“Memangnya kau mau menuliskan berapa harapan?”

“Bukan begitu, hanya saja aku tidak akan menuliskan harapan pertamamu tadi. Ganti saja yang lain, oke?”

Hening.

“H—Hah?” Dapat kurasakan kedua netraku melebar selagi perkataan Yerin terus berputar dalam benakku. Apa-apaan dia? Apa ia tidak menginginkan kesembuhanku? Apa ia tidak ingin kehilangan pasien agar pemasukannya—ah, tidak. Hentikan pemikiran buruk ini. Yerin bukan tipikal orang seperti itu.

Lalu kenapa?

“Untuk sekarang tolong jangan tanya kenapa, ya?” ujar Yerin tiba-tiba, membuat dirinya terlihat seperti cenayang di hadapanku. “Buat permintaan yang lain saja dulu, kali ini pasti kutuliskan.”

“Yerin-ah—”

“Aku janji akan kasih tahu alasannya nanti,” sahut Yerin buru-buru.

Aku masih tak mengerti. Aku masih tak paham, dan aku masih tak mengetahui alasan macam apa yang Yerin miliki. Kendati demikian, entah mengapa rasa kepercayaan yang telah kubangun setelah sekian lama ini tidak dengan mudahnya goyah begitu saja.

Aku juga masih percaya padanya, karena itu tidak ambil pusing menjadi pilihanku. Pada akhirnya, kusunggingkan sebuah kurva di bibir. “Kalau nanti aku sudah bisa melihat, hal pertama yang ingin kupandang adalah seorang malaikat.”

“Maksudmu kau ingin mati?!”

Sebuah helaan napas panjang lolos begitu saja, selagi batinku berupaya menahan emosi dan rasa geli yang hendak menguar bersamaan.

“Tadi yang bilang mau dipanggil malaikat siapa coba?”

-oOo-

“Harapanmu apa?”

Pada akhirnya, Yerin membantuku untuk menggantungkan kartu tersebut di ranting pohon. Setelahnya, ia juga menulis miliknya sendiri dan melakukan hal yang sama.

Kini, di bawah sebuah pohon yang penuh akan harapan banyak umat, kami berdiri dengan tangan saling bertautan. Kendati aku tahu bahwa genggaman Yerin hanyalah sebatas tuntunan bagi pasien sepertiku, namun aku juga tak dapat menyembunyikan rasa bahagia ini.

“Harapanku?” ujarnya. “Harapanku sama seperti punyamu.”

“Soal bertemu malaikat tadi?”

“Bukan …,” timpal Yerin, kemudian ia tertawa sejenak sebelum melanjutkan, “… maksudku harapan yang kautulis tempo hari. Di situ tertulis, kau berharap agar tulisanmu terlalu jelek untuk kubaca.”

“Tulisanku terlalu jelek untuk …. Tunggu dulu. Apa?!” Tersadar akan apa yang telah terjadi, jantungku mulai berdegup tak beraturan. “Jadi, kau … sudah membacanya?”

“Menurutmu bagaimana bisa aku membandingkan tulisanmu dengan keponakanku kalau aku tidak melihat surat itu, bodoh?”

Ah, benar juga. Sial, wajahku sudah pasti memerah sekarang. “Kau … kau serius menuliskannya di kartu harapanmu?”

“Tidak juga, sih,” ujarnya setengah tertawa. “Itu hanya sekadar harapan tersirat yang sudah tak mungkin terkabulkan, secara aku juga sudah terlanjur berhasil membaca suratmu.”

“Kau ….”

“Siapa suruh menggeletakkannya di atas meja, huh?” sahut Yerin. Sejemang sunyi melingkupi, kemudian ia mengeluarkan sebuah dengus tawa. “Astaga, aku berharap aku tidak membacanya, Jun. Kau tahu seberapa bertambahnya kantung mataku karena sepucuk kertas itu? Jujur saja, kau membuatku gila, Bung.”

Satu detik, dua detik dan bahkan sampai setengah menit pun, aku masih tak dapat menerka maksud Yerin. Ia tak bisa tidur hanya gara-gara surat tersebut?

“Sejak aku mulai kerja praktek, untuk sekalipun aku tak pernah menaruh hati pada pasien mana pun yang kutangangi. Mungkin … kaulah yang pertama.”

Tunggu dulu. Apakah itu berarti ….

“Karena itukah kau menolak harapan pertamaku?”

Berbagai asumsi dan imajinasi mulai beterbangan dalam benakku, entah efek terlalu percaya diri yang masih melekat atau memang kenyataannya begitu. Ini menggelikan, serius.

“Apa? Tidak, tentu saja bukan!”

Bayangan di mana ada seorang dokter yang tak ingin berpisah dengan pasiennya—hanya karena ada sebuah kekangan bernamakan rasa cinta—seketika kandas ditelan angin. Cinta, huh? Kurasa benar juga, kata itu memang terlalu cepat untuk dilontarkan.

“Lalu?”

“Kurasa … karena permintaanmu sudah tidak pantas disebut harapan lagi,” ujar Yerin terkekeh, membuat kerutan semakin mendominasi alisku. “Omong-omong, memangnya kau tidak jadi menanyakan apa yang kutulis di kartuku tadi?”

Teringat bahwa ia juga berhutang satu jawaban kepadaku, aku pun kembali bertanya, “Baiklah, apa yang kautulis?”

“Semoga operasimu lancar.”

“Lancar? Lancar apa— Maksudmu?”

Kembali sunyi mendatangi kami. Namun, setelah beberapa detik pertanyaanku menggantung di udara, aku pun tersadar sendiri.

Rupanya, perjalanan ini masih terlampau jauh.

Kehilangan visi memang bukan lagi merupakan sebuah hambatan, secara aku sudah berhenti menyalahkan Tuhan dan diriku sendiri atas petaka ini. Lagi pula, kehidupan itu dapat disamakan dengan roda yang berputar, bukan?

Ada kalanya manusia berada di bawah, terkadang juga di atas. Ada waktu di mana kegelapan datang, namun ada waktu juga manusia merasakan sinar terang.

Terlepas dari itu semua, aku bersyukur karena Tuhan telah membukakan mata hatiku kendati mata jasmanilah yang harus dipertaruhkan. Aku bersyukur karena lewat kecelakaan itu, aku jadi mengerti satu hal yang dinamakan kebahagiaan. Definisi bahagia yang sesungguhnya. Bukan karena uang, harta maupun kesenangan duniawi semata.

Aku juga bersyukur, setidaknya kondisi ini telah membawaku pada sebuah pertemuan antara dokter dan pasien. Aku bersyukur, karena dokter tersebut adalah Jung Yerin.

Walau telah menjalin hubungan dekat seperti ini, bukan berarti aku tak lagi memerlukan usaha sedikit pun. Di mana-mana, yang namanya mendapatkan hati wanita itu butuh perjuangan, bukan? Sudah sepantasnya prialah yang mengejar dan bukan sebaliknya, sebab itulah salah satu martabat dan harga diri seorang pria.

Lagi pula, Yerin itu berbeda dari wanita lain yang selama ini kukenal.

Barangkali ini semua akan jadi sesuatu yang sulit dan panjang, namun aku akan berupaya. Diterima atau ditolak itu urusan belakangan, yang terpenting aku telah memulai langkahku bersamaan dengan datangnya secercah cahaya ke dalam kehidupan hitam pekatku.

Kemampuan melihat yang berada pada tingkat nol pun tidak akan jadi halangan lagi—satu hal karena justru itulah yang membawaku mengenal seorang Yerin—namun di lain sisi, karena Tuhan telah menjawab asa dan penantianku selama ini.

Di sebuah malam pertengahan bulan Desember, di bawah keriuhan yang bermandikan sinar bulan, di dalam hangatnya genggaman tangan Yerin …

“Donor mata untukmu sudah tersedia, Jun!”

… aku bersumpah, kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Tuhan berikan.

fin.
-oOo-

Iklan

4 thoughts on “[Vignette] When the Sunshine Has Come

  1. Rache|~ aku gatau mau bilang apa tapi……. ini tuh nyentuh banget…. terus terus aku gatau mau bilang apalagi, ini bagus banget asli huhu ㅠㅠ Aku jadi ngebayangin Jun sama Yerin yg pegangan tangan itu, soswit bgt pasti…
    Okee… Chel, keep writing ya 🙆💕

    Disukai oleh 1 orang

  2. Yeay akhirnya bang Jun punya pendonor mata horeeee *nyalain mercon* Terus kapan Dira dpt pendonor juga? /DITENDANG RACHEL/ 😂 Tapi seriusan, aku terhura baca endingnya. Banf jun udh tobat dan janji gak bakal sia-siain kesempatan kedua yg Tuhan berikan. Aku aminin aja deh biar varokah 💕 /iyain aja chel biar aku seneng/

    Segini dulu aja ya cuap2nya hehehe mau mandi dulu 😂😂😂 As alwyas, keep writting ya kesayangan aku 😘😘😘

    Disukai oleh 1 orang

    1. Kok ga sekalian tumpengan Ji??😂😂😂
      Iya diaminin aja ya Ji biar yang nulis juga seneng:’) paling enggak pesennya nyampe😅

      Huahahah btw makasih udah terhura /GA/ maksudnya, makasih udah mampir dan baca sayangkuu🙆🙆🙆💕💞

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s