[SVT FREELANCE] – [Series] Red Velvet: One of These Nights

RED VELVET SERIES: ONE OF THESE NIGHTS

by PhoebeLullaby

with Lee Jihoon (Woozi) of Seventeen

Surrealism, Romance| Ficlet | General

*Disclaimer berlaku seperti biasa

I am gathering all our memories back. I know it’s just a dream but I will wait.

¯One of These Nights by Red Velvet

*****

Kalau kalian berjalan sekitar lima menit dari Piazzale Roma, kalian akan menemukan sebuah toko aksesoris besar yang menjual miniatur-miniatur gondola dengan berbagai macam ukiran. Jalan beberapa langkah lagi kalian akan melihat toko roti mengapung terbaik di Venice. Jihoon suka membeli roti di sana. Beberapa miniatur gondola pun tersusun rapi dalam lemari kacanya.

Di ujung jalan kalian bisa melihat sungai besar –sebenarnya itu sebuah kanal, tapi dari perspektif mana pun orang yang tidak tahu Venice pasti mengira itu potongan sungai– dengan sebuah gondola besar. Di atasnya ada sepasang kekasih terlihat sedang bercengkrama. Bagian itu bukan favorit Jihoon sebenarnya.

Tapi kalau kalian bosan dengan pemandangan retro bangunan tinggi Venice atau air yang mengelilinginya, kalian bisa melompat sedikit dan menemukan Opera House yang megah berdiri dengan kokoh. Di sampingnya, terlihat sedikit Jembatan Sydney Harbour dengan kerlap-kerlip lampu malam ditambah mobil-mobil berlalu lalang.

Di depan Opera House sedang ramai. Anak-anak sekolahan pasti sedang mengadakan tur. Lalu ada seorang wanita duduk di atas sebuah koper dan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya melukiskan sesuatu di atas kanvas. Jelasnya wanita itu sedang berpose dan si pria sedang melukisnya. Kanvasnya sudah melukiskan keindahan wajah si wanita dengan latar belakang Opera House.

Lukisan dalam lukisan. Jihoon sangat berbakat.

“Ah, selamat pagi, Jihoon.”

Jihoon dengan kaos dan celana serba putih menyesap kopinya. Ia menatap lama kanvas putih di hadapannya. Kopi di atas meja ia biarkan dingin.

“Pagi, Yooa. Hari ini kita akan ke mana?”

Wanita yang dipanggil tampak ikut menatap intens si kanvas dan berpikir keras.

“Seattle? Ingat waktu itu kau pergi sendiri ke Space Needle dan aku lari dari hotel menyusulmu? Atau Stadtpark Vienna? Waktu itu aku lelah sekali mengikutimu yang mengikuti jejak Beethoven. Oh, atau yang lokal saja? Sungai Han? Kau belum pernah melukis saat kita pertama kencan.”

Jihoon tersenyum dan mulai menggoreskan kuasnya. Yooa tidak keberatan kalau harus menunggu berjam-jam untuk melihat masterpiece milik Jihoon. Jadi ia hanya duduk manis sambil sesekali memiringkan kepalanya, memikirkan betapa imutnya Jihoon saat sedang serius.

“Borobudur?”

Yooa tersenyum, begitupun Jihoon. Kanvas yang tadinya putih sekarang didominasi bebatuan hitam dan langit kemerahan. Ternyata Jihoon masih ingat.

“Jihoon, nikah, yuk!”

Saat itu Jihoon merengut karena harus berdesakkan naik ke puncak Borobudur dan hanya duduk di atas sampai matahari hampir terbenam. Tadinya Yooa pun ingin ikut merengut, tapi tidak jadi karena takut dikira sebagai dua turis kecil yang terpisah dari orang tuanya.

“Apa kau gila?”

“Memangnya tidak mau?”

…..

“Mau, sih. Tapi harusnya aku yang melamar, kan?”

“Ya sudah, aku terima lamaranmu.”

Memang absurd sih, tapi nyatanya konversasi perwujudan rasa bosan itu menyebabkan Jihoon benar-benar melamar Yooa (dengan cara umum yang romantis tentunya) di puncak Borobudur. Yooa jadi geli sendiri mengingatnya.

“Eh, Jihoon, ada tamu.”

Jihoon bangkit dari jelajah lukisan barunya menyambut sepasang insan yang bisa Yooa tebak sebagai pasangan suami istri. Ditemani Jihoon, mereka menelusuri setiap kisah dalam lukisan.

“Ah, sebenarnya bagian ini koleksi pribadiku.”

Si lelaki masih mengajak Jihoon bicara sementara si wanita sudah menjelajah Venice, Sydney, London, dan taman bunga Ashikaga saat matanya terpaut pada sebuah lukisan di atas kanvas. Seorang wanita cantik duduk di atas koper di depan Opera House, di belakangnya jembatan Sydney Harbour, dan sedikit sentuhan awan musim panas Australia.

“Itu mendiang istriku.”

Si wanita tersenyum, masih mengagumi lukisan di hadapannya. “Dia cantik sekali, Jihoon-ssi.”

Jihoon tersenyum dan mengajak pasangan itu untuk melihat-lihat lukisan di ruangan lain, meninggalkan Yooa yang tersenyum memandang lukisan dirinya, mengingat perasaan-perasaan dari setiap tempat yang ia jelajahi dulu bersama suaminya.

Jihoon pernah bilang kalau Yooa seperti bunga matahari di padang mawar. Di mana pun Yooa berada, sesulit apa pun pasti kembali ke pelukan Jihoon.

-FIN-

  • 1Piazzale Roma à Terminal utama di kota Venice
  • 2Gondola à Perahu dayung tradisional sarana transportasi utama Venice
  • 3Space Needle à Menara observasi di Seattle, Washington
  • 4Taman Bunga Ashikaga à Taman bunga di perfektur Tochigi
  • The girl: Oh My Girl’’s YooA
  • Tolong aku mereka gemay sekali :’)
Iklan

One thought on “[SVT FREELANCE] – [Series] Red Velvet: One of These Nights

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s