[Vignette] Suka Duka Jadi Adiknya Wonwoo

bfc223db91492b37cb7df491e577ad874ad13006_hq

Suka-Duka Jadi Adiknya Wonwoo

 

Starring by [SVT’s] Jeon Won Woo and [OC’s] Stanzi Jeon

Family | Teen

Vignette by Rijiyo ©2017

.

.

Jeon Wonwoo itu… asdfghjkl!

.

.

“Kak, besok aku jadi duta modeling di sekolah. Datang, ya?”

“Tugasku banyak.”

“Cuma sebentar, Kak. Masa tugasmu lebih penting daripada aku?”

“Kalau enggak mengumpulkan tugas, aku bisa dikeluarkan dari kampus dan dimarahi Mama. Plus, Papa akan memotong uang sakuku dan Ivy akan minta putus. Kurang jelas?”

Dan besoknya mereka berakhir tidak saling sapa (well, sebenarnya hanya Stanzi yang berpikiran begitu), namun akhirnya cewek itu yang mengajak bicara duluan karena ada tugas Fisika yang susah dikerjakan dan terpaksa minta bantuan Wonwoo. Huft.

.

.

.

“Kak, besok jalan-jalan ke Namsanta, yuk? Aku yang traktir makan, deh, dan nonton film baru di bioskop.”

“Ayo.”

“Serius?”

“Hm.”

Dan besoknya Wonwoo membatalkan acara itu lantaran Ivy tetiba menelepon dan memintanya kencan di waktu yang sama. Stanzi marah-marah hingga membanting pintu kamar. Wonwoo dimarahi Mama karena tidak bilang lebih awal. Sedangkan Wonwoo menyalahkan Ivy karena mengajak kencan mendadak. Lalu Papa memarahi Wonwoo karena lebih memilih pacar ketimbang Adik. Wonwoo malah menyalahkan Stanzi karena dulu Stanzi yang mencomblangkannya dengan Ivy.

Malamnya, Wonwoo berakhir tidur di meja dapur dan uang jajannya dipotong 99, 9 %.

.

.

.

“Kak?”

“Hm?”

“Minggu depan aku, kan, ulang tahun. Kasih hadiah, ya?”

“Hadiah apa?”

“Ya enggak tahulah. Harusnya Kak Wonwoo yang inisiatif pilih hadiahnya biar lebih surprise.”

“Tapi aku enggak tahu seleramu.”

Stanzi mendengus. “Belikan kue tart besar dua tingkat yang gambarnya anak-anak Wanna One.”

Wonwoo menoleh dengan tatapan yang amat-sangat menyebalkan. “Kalau minta kue tart yang aneh-aneh kayak gitu, memangnya aku harus beli pakai uang dari Kenya?”

“Makanya uang, tuh, ditabung. Jangan cuma buat beli kuota,” semburnya, kemudian berlalu.

.

.

.

Sehari sebelum Stanzi ulang tahun….

“Won, aku boleh pinjam uangmu?” tanya Soonyoung saat mereka tengah makan siang di kafetaria kampus.

“Buat?”

“Ibuku lagi sakit, aku enggak punya uang lebih buat beli obat. Minggu depan kubayar, deh.”

Wonwoo tampak berpikir sambil mengunyah selada. “Pinjam berapa?” tanyanya kemudian.

“Terserah kamu saja, sekiranya cukup. Aku cuma punya 40 ribu won,” kata Soonyoung sambil memperlihatkan uangnya di dompet.

Tanpa ragu, Wonwoo pun mengambil dompet dan sebagian besar uangnya diberikan ke Soonyoung. “Nih, belikan Ibumu obat paling manjur biar cepat sembuh.”

Soonyoung terpana. “Won, kamu dermawan sekali. Dan lagi, sejak kapan uangmu banyak begitu?”

Wonwoo tersenyum simpul. “Aku menabung.”

“Pasti menabung untuk seseorang, ya? Enggak mungkin kamu menabung buat diri sendiri, karena kupikir kamu enggak sehemat ini.”

Wonwoo melempar potongan selada ke pipi Soonyoung.

Soonyoung nyengir. “Terima kasih banyak, ya. Aku akan bilang pada Ibu kalau uang ini darimu.”

Wonwoo menggeleng. “Enggak usah. Langsung belikan Ibumu obat dan jangan bilang apa pun padanya tentangku, oke? Mumpung aku lagi tanpa pamrih, nih.”

Sepulang dari kampus, entah setan mana yang tetiba merasuki pikiran Wonwoo karena dia mendadak cemas. Apalagi ketika dia melihat toko boneka besar di pinggir jalan. Rencananya dia mau membelikan Stanzi Mr. Lam Lam (fyi, boneka kucing super besar berwarna pink yang bulunya sering memenuhi hidung Wonwoo dan berakhir membuatnya sakit perut karena terlalu banyak bersin). Tapi sebagian besar uangnya terlanjur ia kasih ke Soonyoung karena, satu : Soonyoung teman baiknya. Dua : Soonyoung selalu membantunya mengerjakan PR dan mencontekkan jawabannya. Dan tiga : Wonwoo paling tidak tega kalau menyangkut Ibu. Cukup logis, kan? Namun jika Wonwoo memilih tidak memberi Stanzi kado dengan menggunakan alasan mulia tersebut, akankah Stanzi marah?

Wonwoo melirik toko keripik singkong yang dilaluinya setelah toko boneka. Tanpa diduga, Wonwoo masuk ke toko tersebut dan membeli lima bungkus. Untuk apa? Ya dimakan. Apa belum ada yang tahu kalau Jeon Wonwoo itu maniak keripik?

“Lumayan buat cemilan di rumah,” katanya dengan riang.

.

.

.

Besoknya….

“Kak?”

“Hm?”

“Hari ini ulang tahunku. Kasih selamat, dong.”

Wonwoo bangkit dan merangkul Stanzi, tak lupa mengecup kedua pipi adiknya sekilas. “Selamat ulang tahun, Adik-Kecilku-Yang-Sekarang-Sudah-Enggak-Kecil-Lagi.”

Stanzi nyengir. “Mana hadiahnya?”

“Hadiah apa?”

“Kan kemarin Kakak bilang mau kasih kue tart dua tingkat bergambar Wanna One.”

“Memangnya kapan aku bilang setuju membelikanmu kue tart?”

Tak ada sahutan, justru manik Stanzi lah yang menjawab. Gadis itu berjalan mundur dengan embusan napas kasar seolah menahan amarah. Tidak, sekarang ia takkan marah meskipun ini bukan masalah sepele. Well, apakah melupakan janji ulang tahun termasuk hal sepele?

“Aku benci sama Kakak!”

Dan akhirnya kalimat itulah yang terlontar seraya Stanzi berlari menapaki tangga dan berkahir membanting pintu kamarnya lagi. Tapi kali ini tidak ada yang memarahi Wonwoo, beruntung Mama-Papanya sedang pergi.

Wonwoo langsung berpikir kira-kira apa yang harus ia lakukan karena mungkin perbuatannya kali ini memang keterlaluan. Apalagi Stanzi sampai meneriakkan kalimat yang membuat hati Wonwoo sempat tergores. Namun ingatlah bahwa mereka masih satu darah dan sudah pasti Wonwoo bisa merasakan bagaimana perasaan Adik satu-satunya.

Tapi siapa sangka sejemang kemudian Wonwoo kembali ke kamar dan malah makan keripik?

.

.

.

Di kamar, Stanzi menghabiskan waktu untuk menggambar. Well, buang jauh-jauh anggapan bahwa ia tengah menangis. Ia tidak sedrama itu dalam menghadapi kelakukan Kakaknya yang tidak pernah berubah. Setiap hari Stanzi bahkan merasakannya dan ia sudah kebal.

Stanzi kesal, mengingat seminggu sebelumnya ia senang lantaran Wonwoo—yang perkiraannya—mau membelikan kue tart dua tingkat bergambar Wanna One. Memang, sih, kue model begitu tidaklah murah, tapi toh Wonwoo tidak pernah membelikannya apa pun. Jadinya sekali-kali berharap dibelikan hadiah mewah tidak apa-apa, kan? Kakak mana yang bisa menolak permintaan Adik—kecuali Jeon Wonwoo?

Selembar kertas tetiba diselipkan melalui bawah celah pintu. Mata Stanzi terbelalak menatapnya. Tulisan tangan—amburadul—Wonwoo dengan pensil. Stanzi mengambil dan membaca kertas itu.

Main di kamarku yuk =)

 

Jika boleh jujur, Stanzi sangat bahagia setelahnya. Walau hatinya masih sakit jika mengingat apa yang terjadi tiga jam lalu. Stanzi mengambil napas dalam-dalam lalu membuka pintu perlahan. Ajaibnya, wajah Wonwoo yang pertama ia lihat. Cowok itu tersenyum.

“Hai,” sapanya. “Enggak bosan di kamar terus?”

“Aku enggak malas-malasan, tauk.”

Wonwoo mengendikkan bahu. “Kamu masih marah?”

Stanzi bergeming. Iya, rasa marah itu masih ada, pasti. Tapi ia tahu harus mengesampingkan egonya demi kelancaran bisnis persaudaraan hingga berakhir dengan bilang bahwa perasaannya sudah lumayan baik.

Kemudian Wonwoo menggamit tangan Stanzi dan mengajaknya naik ke lantai bawah. Setelah sampai di depan kamar Wonwoo, cowok itu langsung menutup kedua mata Stanzi dengan tangannya bahkan sebelum Adiknya sempat bertanya apa pun.

“Taraaaa,” seru Wonwoo.

Setelah Wonwoo melepas tangannya dan Stanzi yang mengerjapkan mata beberapa kali, yang ada hanya hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Satu menit.

“Apa ini, Kak?”

“Kejutan.”

Stanzi langsung menatap Wonwoo tidak percaya sekaligus terharu. Ia mendekati sesuatu yang katanya kejutan itu.

“Cantik sekali,” puji Stanzi, tulus.

Tepat di hadapannya kini, ratusan keripik singkong yang dibeli Wonwoo kemarin, tersusun rapi seperti domino di lantai membentuk tulisan S-T-A-N-Z-I J-E-O-N 1-9. Oh, jangan lupakan dua lilin kecil yang berdiri di antara huruf I dan J. Wonwoo bahkan sampai menggusur ranjangnya yang entah sekarang ada di mana demi menata keripik-keripik itu. Dan jangan lupakan juga karena ternyata ada beberapa balon di langit-langit. Hei, sejak kapan Wonwoo membelinya?

Stanzi langsung menghambur ke pelukan Wonwoo, merengkuh Kakaknya dengan erat seolah tidak mau lepas.

“Terima kasih, Kak. Kupikir kamu lupa,” ucap Stanzi sambil menyembunyikan wajahnya di antara leher dan bahu Wonwoo.

Wonwoo tersenyum lalu menjitak pelan kepala Stanzi. “Awas, ya, kalau pakai acara nangis.”

Stanzi terkekeh, melepas pelukannya dengan mata basah. “Tapi aku menangis karena bahagia, Kak.”

“Kalau begitu, sekarang tiup lilinnya.”

Stanzi mengangguk, lalu berlutut guna meniup dua lilin yang masih setia berdiri tegak di lantai. Sebelumnya, Stanzi sudah memanjatkan harapan dan doa dalam hati, termasuk ingin agar Kakaknya tidak perlu berubah. Stanzi Jeon sudah kelewat bahagia dengan Wonwoo yang sekarang, kemarin dan seterusnya. Karena bagaimanapun juga, Jeon Wonwoo adalah Kakaknya dan fakta bahwa Wonwoo masih peduli semakin membuat Stanzi semakin menyayanginya.

Dan akhirnya, mereka berdua menghabiskan malam dengan ngemil keripik sambil berdebat siapa yang lebih gendut. Sesekali Stanzi bermain Angry Bird di ponsel, sedangkan Wonwoo bertugas memberi dukungan sambil menyuapinya keripik, begitupun sebaliknya. Keadaan masih baik-baik saja sebelum Mama berteriak barbar sambil menggedor pintu kamar.

“WONWOO! KENAPA KASURMU ADA DI DAPUR?!”

-fin-

Iklan

21 respons untuk ‘[Vignette] Suka Duka Jadi Adiknya Wonwoo

  1. Ah waaaaaaeeeee sini deh kamu kupeluk dulu Ji😂😂😂

    Beneran, ini fic bikin pengen ngakak sekaligus njitak wonu:”))) YALORD ITU PLIS BANGET PAS BAGIAN YANG AWALNYA STANZI NYALAHIN WONU, TERUS DIPUTER-PUTER SAMPEK YANG SALAH MALAH BALIK JADI STANZI😂😂😂 ampun dah

    Dan sebenernya itu jauh banget dari tart wanna one ke keripik singkong:”) tapi jujur menurutku kalo buat dimakan ya emag lebih enak keripik singkong sih… dan itu kenapa so sweet plus anti mainstream sekaleee bikin tulisannya pakek kripik….😂😂😂😂😂

    As always Ji, aku suka sama tulisanmu karena selalu menghibur /iya aku tau kok kamu bukan badut tapi plis diiyain aja/:3

    Nice fic and keep writing yahh Jii😘💖

    Disukai oleh 1 orang

    1. Racheeeeeeeel /hug back rachel/

      YALORD ITU PLIS BANGET PAS BAGIAN YANG AWALNYA STANZI NYALAHIN WONU, TERUS DIPUTER-PUTER SAMPEK YANG SALAH MALAH BALIK JADI STANZI => Aku sendiri juga puyeng bagian ini -_- /apasih

      Menghibur? Alhamdulilah makasih loh terhura aku, padahal tulisan absurd gini dikata menghibur :’3 /iyain juga biar cepet/ As always, maacih udh baca & komen kak rachel mua mua mua :* Ntar Jun kupaketin ke Surabaya ^^

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s