[Vignette] Ojo Caper Talah

home.jpg

Ojo Caper Talah 

 

Vignette by Rijiyo ©2017

Starring by Jeon Wonwoo [SVT’s]  & Ivy Kim [OC’s]

AU!, Fluff || Teen

.

.

Jatuh cinta dengan cewek penjaga toko buku? Well, itu enggak level bagi Jeon Wonwoo.

.

.

Ini mungkin pertama kalinya Wonwoo menemani Dira pergi ke toko buku di tengah kota Seoul. Bukan cowok yang gemar membaca, karena Wonwoo terlalu banyak terkontaminasi oleh peralatan make up demi kelancaran bisnis modeling. Jadi, Wonwoo pikir ini konyol, dia lebih baik membaca majalah yang masih menyisipkan gambar dan warna-warna cerah di setiap halaman. Plus, selalu ada rubrik artis terseksi di bulan itu. Wonwoo paling suka bagian itu dan membacanya berulang-ulang tanpa sepengetahuan Soonyoung—atau kalau tidak, Soonyoung akan merebutnya dan mustahil dikembalikan.

“Cari buku apa?” Wonwoo mulai jenuh mengekori Dira yang mondar-mandir mengelilingi rak. Sepi, sesak, dan tumpukan buku-buku tebal itu membuat matanya ngilu.

“Aku cari novel pesanannya Jisoo. Pas tahu kita mau pergi, dia langsung titip,” jawab Dira tanpa mengalihkan pandangan.

“Kenapa dia enggak beli sendiri?”

“Mungkin capek.”

“Kerjaannya, kan, cuma main gitar. Capek dari mana?”

“Lagian kamu tadi suruh menunggu di luar enggak mau. Tapi pas ikut masuk, cerewetnya minta ampun,” tandas Dira.

Wonwoo menghela napas panjang. Untung cewek, kalau tidak, Wonwoo pasti sudah meninjunya.

“Daripada bukunya enggak ketemu, mending kita tanya ke penjaga.”

Dira menepuk dahi. “Astaga, why kamu enggak bilang dari kemarin?”

Mereka berdua pun berjalan ke kasir, namun di situ tidak ada orang. Wonwoo dan Dira kembali mengelilingi perpustakaan untuk mencari penjaga toko yang—menurut Wonwoo—pelayanannya sangat payah. Hingga dua menit kemudian, tepat di belakang jajaran buku politik, mereka menemukan cewek memakai seragam kerja yang sedang duduk di lantai dan bersandar di rak. Dia mendengkur sambil menutupi wajahnya dengan buku TTS. Wonwoo seketika mendelik takjub.

Dira menepuk-nepuk lengannya. “Mbak?” panggilnya.

Tak perlu waktu lama karena cewek itu langsung menyingkirkan buku yang menutupi wajahnya sambil kelabakan. “Oh, ada yang bisa saya bantu, Mbak? Maaf ini tadi—Dira?”

Dira ikutan melotot. “….Ivy?”

“Ya ampun, Dira! Aku kangen sama kamu! Kamu ngapain di sini?” Cewek yang bernama Ivy itu memeluk Dira, menatap Wonwoo sejenak, kemudian berbisik, “Cowok itu pacarmu, ya?”

Dira memutar bola matanya malas. “Vy, kenalin. Namanya Jeon Wonwoo, dia temanku dan yang menemaniku ke sini.” Giliran Dira menatap Wonwoo. “Heh Kutil, kenalin. Dia Ivy Kim, temanku di SMP.”

Wonwoo agak mendelik ketika Dira memanggilnya Kutil, kemudian balas menatap Ivy. Awalnya Ivy ingin bersalaman, tapi melihat pawakan yang menurutnya terlalu arogan untuk ukuran orang asing, akhirnya Ivy mengurungkan niat.

“Kamu, kok, bisa kerja di sini? Enggak sekolah?” tanya Dira.

Ivy terkekeh. “Masih sekolah, kok, di SMA Daesun. Aku kerja buat mengisi waktu luang. Gajinya juga lumayan, lho.”

“SMA Daesun? Serius kamu bohong? Itu, kan, SMA favorit!” pekik Dira.

 Wonwoo yang merasa dicuekki pun berdeham keras yang membuat Dira menepuk dahi, peka atas kode tersebut. “Vy, tempatnya novel Ruby Red di mana, ya? Aku tadi sudah keliling, tapi enggak ketemu-ketemu.”

Ivy yang tidak bisa menutupi wajah mengantuknya langsung menatap rak. Kemudian mengangguk yakin. “Ikut aku, yuk. Novel itu memang bagus, tapi tempatnya agak terselubung,” ujarnya sambil nyengir.

Wonwoo dan Dira mengikuti Ivy di belakang. Cowok itu menahan tangan Dira supaya bisa memelankan jalannya, lalu berbisik pelan hingga Ivy tidak dengar. “Masa, sih, dia teman SMP-mu?”

“Kenapa? Naksir?” Dira menyeringai.

Wonwoo mendengus. “Enggak. Cuma tanya.”

.

.

.

“Mau ke mana?” tanya Soonyoung yang melihat Wonwoo buru-buru memasukkan bukunya.

“Mau mandi.”

“Oh. Tumben mandi di sekolah?”

“Ya mau pulanglah, Nyet -_-.”

“Kutil-ku!” teriak Dira dari bangku belakang. Sumpah, Wonwoo jadi ingin kabur dari kelas, atau dari kenyataan sekalian. Bukan karena nada manja Dira, melainkan fakta bahwa sekelas langsung tertawa ketika tahu Wonwoo dipanggil Kutil. “Hari ini kamu dijemput mobil, kan? Nebeng, ya.”

“Nebeng ndasmu.” Wonwoo menjitak dahi Dira dengan tas. “Aku mau ke rumah saudara.”

“Ikut!”

“Enggak boleh.”

“Ih, kalo memang enggak boleh ikut, ya sudah bawa aku ke rumahmu, biar kutunggu di sana.”

Nah, gagal sudah rencananya. Yoon Dira memang Ratu Keras Kepala. Kalau sudah begini, terpaksa Wonwoo mencari alasan baru. Dia menggaruk kepalanya kikuk, tapi tetap berusaha stay cool. “Memangnya kamu mau main ke mana?”

Dira menggosok tengkuk. “Kalau aku, sih, kepingin ke Sevel. Sekarang daging gorengnya lagi ada diskon special weekend, lho. Lumayan, kan, kita bisa beli yang jumbo tapi harganya separuh harga asli?”

Wonwoo berdecak. “Nanti yang habiskan dagingnya kamu sendiri.”

“Ehehehe. Terus enaknya ke mana?”

Wonwoo berdehem. “Toko buku?”

“Untuk?”

“Siapa tahu Jisoo titip buku lagi?”

“Tapi kamu, kan, enggak suka ke toko buku.”

Wonwoo mengendikkan bahu (sok) acuh. “Aku enggak keberatan, sih, menemani kamu ke sana.”

“Serius?”

“Iya.”

“Ya sudah, kita ke sana saja sekalian ketemu sama Ivy.”

Nah, daritadi, kek.

.

 

.

 

.

“Dir?” Wonwoo dan Dira duduk bersebelahan di bangku yang berada di sebelah pintu masuk.

“Apa?” jawab Dira tanpa menoleh, dia masih sibuk selfie. Mau update di Instagram dan check in.

 

“Kalau dipanggil, tuh, noleh.” Wonwoo merebut ponsel Dira.

“Kutil, nih, ganggu amat, sih!” Dira protes. “Kenapa!”

“Itu teman kamu yang waktu itu, kan? Yang mendengkur sambil gelesotan di lantai?” Wonwoo melihat cewek yang berdiri di belakang meja kasir. Dira mengikuti arah pandang Wonwoo dan menemukan Ivy. Seragam merahnya dipadukan dengan celana jeans hitam dan rambut sepinggangnya tergerai bebas. Ivy tersenyum ramah pada pelanggan di hadapannya, seolah memperlihatkan inner beauty.

“Enggak dekat-dekat amat, sih, cuma kita dulu sekelas.” Ivy menangkap tatapan Dira, kemudian mereka dadah-dadah sambil nyengir. “Kamu kenapa, sih, dari kemarin kepo? Mau kukenalin?” Dira mengerling jenaka.

“Cewek berantakan tukang mendengkur kayak gitu?” Wonwoo menjawab pertanyaan Dira sambil dag-dig-dug.

“Tapi dia cantik, lho.”

“Dia bukan tipeku. Masa cantik-cantik tukang tidur, bukannya kerja malah mendengkur di pojokan. Cantik dari mananya coba? Bikin ilfeel—”

Ehem!”

Dira dan Wonwoo reflek menoleh tatkala mendapati Ivy yang sudah berdiri di depan mereka sambil membawa dua gelas kopi. Niatnya mau memberikan kopi itu ke Dira dan Wonwoo, tapi ketika mendengar Wonwoo habis mengatainya, Ivy berubah pikiran. Jadi Ivy hanya memberikan kopi itu ke Dira, sedangkan satunya ia minum sendiri. “Dir, kukasih bonus kopi gratis karena sudah mampir. Jangan lupa bilangin sama makhluk di sebelah kamu ini kalau aku juga ilfeel sama cowok yang mulutnya kayak cewek,” katanya sambil cemberut, lalu kembali ke meja kasir. Dira dan Wonwoo saling bersitatap awkward, kaget karena Ivy tetiba muncul seperti tuyul.

“Parah kamu, Won. Ivy ngambek, tuh,” bisik Dira.

Wonwoo juga bingung sebenarnya. Tapi masa iya dia harus minta maaf? Seumur hidup dia tidak pernah minta maaf ke cewek, kecuali Mama. Mau ditaruh di mana mukanya? Namun sebagai lelaki sejati (menurutnya) ia memang harus minta maaf.

“Paling dia lagi PMS,” pungkas Wonwoo, kemudian merebut kopi Dira lalu menyeruputnya.

“Eh, itu kopiku!”

.

.

.

Diraaa : Vy?

Diraaa : Udah pulang?

 

IvKm : Diraaaaaaaaaaa

IvKm : Hihi

IvKm : Nih habis beres-beres, bentar lagi pulang kok

IvKm : Kenapa beb?

 

Diraaa : Enggak 😀

Diraaa : Maafin Wonwoo ya?

Diraaa : Dia tadi nyeletuk aja, gak beneran.

Diraaa : Wonwoo sebenernya baik kok

IvKm : Wonwoo?

IvKm : Wonwoo siapa sih?

 

Diraaa : Waduh

Diraaa : Temennya Dira yg tadi

Diraaa : Temenku yang tadi maksudnya 😀

IvKm : Oh yg kutil-kutil itu ya?

IvKm: Sans aja sih

IvKm: Aku malah udah lupa sama masalah tadi 😀

Diraaa : Beneran Vy?

IvKm : Iya sayang :*

IvKm : Btw

IvKm : Tumben nih, biasanya kamu ceriwis kalo nge-line aku

IvKm : Malah kamu suka protes kalau aku balesnya cuek

Diraaa : Haha

Diraaa : Masa sih aku kayak gitu ^^

 

“Heh Kutil Ngesot! Ngapain kamu pegang-pegang hapeku?!” Dira baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendapati Wonwoo yang tengah senyam-senyum di depan layar ponsel. Malam ini Wonwoo berkunjung ke rumah Dira daripada gabut di rumahnya sendiri. “Balikin!”

“Bentar!” Wonwoo meninggikan tangan bermaksud menghapus pesan Line, tapi keburu direbut Dira, dan wajahnya langsung awkward ketika Dira membaca isinya.

“I… Vy….?” Dira menyeringai usil.

“Aku enggak enak, cewek kan biasanya gampang rewel kalau ketahuan diomongin.” Wonwoo menyandarkan tubuhnya di sofa, berusaha menahan malu di depan Dira.

“Aw, Kutil gentleman, deh.” Dira menyenggol bahu Wonwoo. “Serius ya, Ivy itu anaknya santai, apa pun omongan orang enggak pernah diambil hati. Palingan marahnya cuma sebentar. Nih, kamu baca chat-nya yang tadi, dia saja sudah lupa sama kamu.”

“Ya baguslah kalau dia lupa,” ketus Wonwoo sambil pura-pura memejamkan mata.

Sementara Dira hanya cekikikan melihat tingkah Wonwoo yang mendadak keki.

.

.

.

“Selamat siang, Kak. Ada yang bisa dibantu?”

Wonwoo memerhatikan sekeliling. “Karyawannya cuma ini, ya?”

“Iya, Kak, soalnya kami pakai shift. Kenapa, Kak? Nyari salah satu dari mereka?”

“Anu. Saya lagi ada perlu sama pegawai cewek di sini. Namanya Ivy.”

“Oh, Kak Ivy? Hari ini dia ada shift, kok. Mungkin sebentar lagi datang. Mau nunggu?”

“Hai, hai, semuanya!” Suara nyaring terdengar dari arah belakang. Ivy muncul dengan muka sumringah dan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya.

“Kak Ivy, ada yang mencarimu!” seru cewek itu sambil melambai.

Mampus aku.

Wonwoo seakan mati gaya ketika Ivy berjalan mendekat.

“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya Ivy seolah mereka tidak saling mengenal.

“Enggak ada, sih. Tapi aku mau ngomong masalah kemarin,” kata Wonwoo setengah salah tingkah. “Sorry, ya.”

Please kamu harus ingat please, jangan bikin aku malu di sini please.

Sorry kenapa?”

Kutil busuk!

 

 Wonwoo hanya bisa mengutuk dalam hati. Lagi pula kenapa dirinya nekat datang ke sini sendiri, sih?

“Aku Wonwoo, temannya Dira yang kemarin. Aku enggak bermaksud mengataimu.”

Ivy tertawa. “Oh, Si Kutil, ya? No problem. Lagian kamu sudah menyuruh Dira minta maaf. Padahal biasanya Dira enggak pernah—tunggu dulu.” Ivy menyela omongannya sendiri dan menatap Wonwoo horror. “—bukannya Dira enggak pernah minta maaf atas nama orang?”

Shit. Wonwoo hanya bisa menjilat bibir saking gugupnya. Pasti Ivy berpikiran macam-macam terhadapnya atau malah—

“Kamu modus  ke aku pakai hapenya Dira, ya?”

—Tuh kan. Skakmat. Akhirnya harga diri Wonwoo resmi kandas!

 

“Kenapa kamu enggak berani ngomong langsung ke aku dari awal?” Ivy tertawa lebih keras.

“Jangan geer,” pungkas Wonwoo judas yang hanya dibalas juluran lidah dari Ivy. Wonwoo meraung dalam hati disertai debaran halus di jantung yang membuatnya seakan tidak mau berpisah lama-lama dengan Ivy.

“Oke, fine. Besok-besok awas, ya, kalau ketemu aku lagi.” Ivy menyeringai yang membuat debaran halus itu jadi lebih menggila hingga kali ini Wonwoo tidak bisa mengontrolnya.

Ivy membalikkan badan, meninggalkan Wonwoo yang masih mematung. Imej-nya hancur dan Ivy berhasil membuatnya mati kutu stadium lima sejak pertemuan pertama. Apalagi Ivy tahu kalau Wonwoo harus menjadikan ponsel Dira sebagai perantara dadakan untuk minta maaf. Jantungnya sedari tadi bergemuruh, namun ia tak peduli. Wonwoo masih memerhatikan Ivy yang enggan berbalik untuk membalas tatapannya.

Gila! Seumur-umur aku belum pernah diginiin banget sama cewek!

…fin

 

Fingernote’s :

  1. Maaf kalau narasinya kaku dan monoton. Saya emang gak biasa bikin sudut pandang orang ketiga. Keseringan pakai ‘Aku’ hehe xD
  2. Kalau (ada) yang penasaran sama wajahnya OC-OC ku, bisa dilihat di sini.
  3. Maafkan judulnya yg OOT dan kampungan. “Ojo Caper Talah” = “Jangan Cari Perhatian dong”
  4. Terima kasih dan I Love you ❤

 

Iklan

13 thoughts on “[Vignette] Ojo Caper Talah

  1. Dan sekarang aku bahkan ketawa cuma liat judulnya doang yaampun Jii:”)
    SAMA ITU WHAI HARUS KUTIL WHAAIIII😂😂😂
    Huahahah mampus dah wonu kebanyakan tingkah sih:”) gengsi boleh tapi mulut ditahan dikit napaxD
    Menurutku sih gini udah bagus kok, pembawaannya santai ehe:3 kip writing ya Jii😍💖💞

    Disukai oleh 1 orang

    1. Aaaargh aku juga gatau knp harus Kutil. Mungkin karena wonu mirip kutil? Atau emang punya kutil?
      P.s maapkeun judul nya ya wkwkwk kelemahanku emg di judul 💔💔

      Anyway maacih udah baca & komen rachel 😘😘😘

      Disukai oleh 1 orang

    1. Bakaaaaa sumpah buang aja muka kamu won, klo aku jadi kamu mati malu deuh.
      Jiyo nih emg ahli bikin cerita santai yg alurnya seru :3 ya ampun won sumpah puas bgt baca ini Krn aku benci sama wonu bgt gtau mukanya ngeselin eeeeh dibeginiin Ivy yg savage bgt lagi haha
      Keep writing Like this jiii

      Disukai oleh 1 orang

      1. Kakli, ini mah bukan seru, tapi gajelas 😂 Btw ini juga jeritan hatiku pada wonu, tapi kuperantarakan pakai Ivy biar tambah jos gandos 😁

        Anyway maacih udah baca & komen kak 😘

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s