[Ficlet] KISAH KLASIH – Kenyataannya

@andditaa & tifaahand

Kisah Klasik: Kenyataannya

Lee Chan | School-Life Drama | PG

Serigala tertunduk diam terpaku
Budi baik sang rusa terkenang slalu

Terminal Kuningan – Rusa dan Serigala

#1 #2

Kenapa di setiap tempat, selalu ada jiwa-jiwa yang terluka?

Kemudian jiwa-jiwa itu terbagi-bagi; ada pihak yang bangkit berdiri, satu lagi tetap terpuruk menyendiri.

Jujur saja, aku tidak yakin sama sekali dimana posisiku. Sayatan di hati rasanya makin dalam tiap kali presensinya menyapa kesadaranku.

“Oi, kampungan.”

Brakk

Mata pemuda itu menatapku. Awalnya terkejut, kemudian berubah menjadi nyala api tersulut akibat geberakan meja yang kucipta.

Aku bangun dari bangku. Menantang api di pasang maniknya. “Apa kau tak bisa diam? Kau manusia atau bebek?”

Sejurus kolar seragamku ia tarik tinggi-tinggi. “Bosan hidup kau? Hah?”

Di sudut depan kelas, ke titik itu, ekor netraku terarah. Ia bergeming di sana, dengan tangan dipenuhi sampah kemasan makanan. Mereka tak akan bosan mengerjainya, termasuk memaki ia untuk membuangkan sampah-sampah mereka yang membusuk di laci meja.

“Tidak. Kalau pun aku bosan hidup, akan kupilih melompat dari lantai empat ketimbang bersikap pengecut; beraninya sama yang lemah.” Kulihat pemuda di hadapanku berkedut pipinya. Telapaknya mengepal. “Tonjok saja. Tidak akan kulaporkan. Aku, ‘kan, bukan pengec—”

Bruaakk

Jangan tanya apa yang terjadi. Karena kutemukan diriku telah mencium lantai dengan kesempatan punggung menghantam meja bangku. Tulang pipiku berdenyut.

Ia, yang kulihat di sudut kelas tadi berlari ke arahku. Melerai sekenanya. Tentu dengan suara yang tidak seberapa lantang, yang malah jadi bahan cibiran.

Pemuda tadi terbahak-bahak mengejek. “Sudahlah memang pas si kampungan ini denganmu, Chan.” Kemudian menendang lututku agak keras sebelum berlalu keluar ruangan diikuti kawanannya.

Ah, aku kurang beruntung hari ini.

“Terima kasih.”

Aku menoleh dari isi loker yang sedang kurapikan. Ia berdiri di sebelahku. Menunduk sedikit malu-malu. “Aku tidak melakukan apapun.” Kulanjutkan menyusun buku-buku.

“Kalau begitu maaf.”

“Kau bisa bicara, punya mata, kenapa tidak melawan saja?” Langkah kakinya mengekoriku menuju teras gedung.

“Aku tidak mungkin tak pernah berusaha.” Sahutnya. Pandangannya menjauh pada gerimis yang datang.

Sudah kukatakan di awal, aku tak yakin dengan dimana posisiku sekarang sebagai yang merasakan luka. Sebab lukaku bukan seperti luka gadis di sisiku sekarang. Bukan karena selalu menerima perlakuan kasar. Lukaku hanya karena luka melihat ia diam; bertahan di kategori terluka yang tetap terpuruk menyendiri, tak angkat suara.

Hingga hari berikutnya tiba, kehidupan gadis itu masih sama. Ia tak melawan walau orang-orang mengatainya. Begitu terus sampai malam meminta mentari lekas pulang.

Aku menyusulnya ketika ia mempercepat langkah. “Kau pulang ke arah sini? Bukannya tambah jauh?”

“Cari angin.” Serobotku sekenanya.

Kami berbelok ke arah gang yang sedikit lebih sempit dan gelap. Lantas pasang-pasang netra kamu menyua si pemuda sok di kelas—pemuda yang lusa lalu meninju wajahku—sedang memohon-mohon di kaki seorang lelaki bertubuh kekar. Bersama seorang wanita paruh baya ia melakukan hal itu.

Refleks kutarik lengan rekan pulangku, mencegahnya menyusul. Namun mendengar bunyi berdebam, suara rintihan kesakitan, kalimat-kalimat mengemis meminta ampun membuat cengkeramanku melonggar.

Ia bilang dengan mata terlampau basah, “lepaskan! Aku harus menyelamatkan mereka!”

“Kenapa?”

Setitik air jatuh dari pelupuknya, menyertai sebaris jawaban atas rasa heranku dengan sikapnya. Sikap pedulinya. Sikap seekor rusa yang lemah, sebagai mangsa, yang justru berbalik menjadi sikap berani seekor serigala.

Lebih dari itu, penuturannya meninggalkan kesan dingin menusuk dalam dada. Meredam amarahku, sekaligus memperparah luka yang menganga. Luka karena kepedulian.

Kemudian ia berlari ke arah para lelaki bertubuh kekar. Memukuli mereka meski tak berefek apa-apa.

Selama beberapa jemang aku memang terdiam. Sampai akhirnya ponsel kurogoh, menekan angka-angka panggilan darurat. Begitu terhubung, kuutarakan maksudku, seluruh keterangan lokasi dengan jelas, suara yang agak bergetar, namun hampir berteriak kesal.

Seharusnya teman sekelasku yang bodoh itu malu, orang yang menolongnya adalah yang ia sakiti.

“SIAL KEMARI CEPAT! APA KALIAN INGIN MELIHAT SATU KELUARGA DIHABISI PARA PREMAN, HAH?”

Dan aku harusnya juga malu. Nyatanya hanya menghubungi polisi yang kulakukan, karena selebihnya aku kagok, mematung, ingin melakukan sesuatu tapi anggota gerakku seperti lumpuh.

Bodoh, kenapa aku merasa takut?

.

.

fin.

mana tau naksir sama kutipan lirik lagu dari Terminal Kuningan di atas, ini lagunya. Kuy yg mau nulisin fic lain versi bisa bgt 🙂

/plis jan tnya kenapa ga ada kesinambungan antara kutipan liriknya dg fic ini. ku sdg berusaha /digaplok wkwk :””

-dita xxline

Iklan

2 respons untuk ‘[Ficlet] KISAH KLASIH – Kenyataannya

  1. Oiiiiii kaliaaan sdh lama ku gak mantengin postingan kalian hehe jadi kangen
    Di awal2 agak bingung sih siapa yg siapa, dia siapa aku siapa yg ngehajar siapa tapi sepertinya si aku ini Chan ya? Dan dianya yg cewek. Eh tapi di akhir kok rasanya si ceweknya yg jadi lebih heroik ketimbang chan? Keren sih tapi, ide bullying ini sensitif tapi gak bosen nulisnya karena bittersweetnya selalu dpt ❤
    Tapi aku mau tanya sebenernya 'di mana' itu ditulisnya yg bener apa 'dimana' ya? Habisnya ada beberapa pendapat yg simpang siur mengenai ini, ada yg bilang yg bener dimana utk penggunaan tertentu (selama ini aku tidak menganut itu). Terus waktu kata2 bunyi kyk brak, bruk itu gantung gak ada tanda bacanya di akhir.
    Great piece anyway, Keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

    1. kak liana DX dah lama jugak ga baca tulisan kakak huhu maapkan diriku ini. tbh kuhabisan cara eksekusi ide kak jd ngangkat ginian dg awalan yg tebak-menebak ehehe. well kita sama kak, kadang ‘dimana’ kupisah, kadang nyambung karena bingung :”
      oh jd kata2 bunyi itu harus dikasih tanda baca? kupikir karena bunyi dia cuma di-italic aja.
      makasih sdah mampir kakliii.
      sukses selalu~

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s