[Series] Bulan Oktober: Hujan Badai

Angelina Triaf ©2017 Present

Bulan Oktober: Hujan Badai

Hansol Vernon | Psychology, Idol-life | G | Series

Sinar matahari akan jarang ditemui bulan ini. Kebahagiaan pun begitu.

0o0

Sudah hampir dua minggu kegelisahan merundung tidurnya. Entah karena musim dingin yang mulai membuat selimut kehilangan fungsinya ataukah memang terdapat banyak hal yang mau tak mau mengusik pikiran. Hm … Vernon rasa bukan keduanya.

Ternyata perihal berita yang santer diperbincangkan dewasa ini. Vernon rasa ia haruslah melatih kemampuan bernyanyinya lebih baik lagi. Jenis suara yang ia miliki memang unik dan bagus, tapi itu saja belum cukup. Masih sering dirinya membunyikan nada yang salah pun tak bisa menjangkau range nada tertentu.

Ia butuh belajar lebih banyak lagi, hal itu pula yang akhirnya membuat Vernon memutuskan untuk menginap di studio rekaman suatu malam. Hening bercampur dingin, membayangkan hal itu saja sudah membuat orang lain mungkin akan berpaling haluan menuju rumah dengan penghangat di dalam kamar yang nyaman.

“Kau yakin ingin menginap di sini?”

Seperti biasa, sang manajer sudah kehabisan akal dengan tingkah Vernon yang tiap hari membuatnya kebingungan. Dengan satu anggukan dari Vernon, ia meninggalkan si pemuda blaster yang kini sepenuhnya sendirian.

Hujan badai. Satu frasa yang muncul dalam benak, terlintas begitu saja.

Terlalu random. Terlalu tidak masuk akal. Terlalu tiba-tiba.

Memikirkan tentang jungkir balik kehidupannya, tak lagi peduli akan mengasah vokal, Vernon justru mengambil secarik kertas terdekat. Menulis lirik kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Perasaan demi perasaan yang ia pendam selama ini.

Hujan badai dalam dirinya sendiri.

Gumaman dan nyanyian dengan suara pelan ia lantunkan. Jarum jam yang berputar cepat tak ia hiraukan. Hanya ada Vernon dan hatinya, bercerita pada dunia dalam kertas putih.

Hujan badai yang membuatnya larut dalam kesendirian. Memendam sakit seorang diri demi keegoisan.

Jika orang-orang bertanya mengapa ia mau menjadi idol yang kehidupannya dipenuhi hal-hal palsu, rela membunuh nurani terdalam demi ketenaran semu. Jawaban Vernon hanya satu.

Jujur itu menyakitkan. Kejujuran pernah mengkhianatinya.

Maka dari itu ia lebih memilih hanyut dalam derasnya air pasang dan menikmati hujan badai seumpama hidup hanya tinggal menghitung detik saja.

Menangis seorang diri di malam hari bertemankan sepi hanya untuk kali ini.

4 of 8 ― fin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s