[Ficlet] KISAH KLASIK – The Bride’s Umbrella Boy

[KISAH KLASIK]

THE BRIDE’S UMBRELLA BOY

by hujan senja (old pname: @andditaa)

Boo Seungkwan
// slice of life // G // some words are non-EBI // photo by Ben Rosett //

Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan, Payung Teduh

Malam ini, taman kota terlihat indah. Dekorasi lampu, tirai, pun bunga-bunga sukses mengubah tempat yang biasa gelap berubah jadi mengesankan. Seungkwan mempercepat ayunan tungkai menuju rekan satu gengnya disebabkan dua hal; pertama, gerimis kecil mulai bertamu, dan kedua adalah teriakan anggota tertua menyuruh agar ia lari bergegas.

“Dih, sabar sedikit, Bang. Baru dapat payung, nih!” Omel Seungkwan. Tapi kemudian si anggota tertua tersebut, Choi Seungcheol, langsung merangkul bahunya sebelum fotografer mengabadikan senyum merekah mereka.

Lantas semua kembali ke bangku tamu begitu memberikan ucapan selamat sekali lagi kepada Seungcheol dan sang istri. Sungguh, Seungkwan turut berbahagia. Dua orang yang dikenalnya baik, bersatu juga dalam ikatan sakral bertajuk pernikahan. “Eh, Kak, aku payungi, ya?”

Tokoh utama wanita malam hari ini tersenyum pada Seungkwan. “Engga apa, Kwan. Sudah reda, tuh, gerimisnya.”

Ah, andai Seungkwan adalah es, sepertinya sekon ini ia bisa meleleh, mengalir bagai sungai. Seulas kurva positif dibagi Seungkwan sebagai balasan. Bersikeras ia memayungi.

“Umji bagaimana kabarnya, Kwan?”

“Oh, dia baik.”

“Hehe, maksud Kakak, hubungan kamu sama dia.”

“Hah? Hubungan apa? … Ugh, ya, begitulah, Kak.” Seungkwan ikut-ikutan terkekeh bersama, walau kekehan miliknya terasa agak getir. Umji bukan siapa-siapa, kok.

“Bayangkan, deh, kalau Umji suatu hari pakai gaun secantik ini, ya. Pasti bakal manis.”

Kakak lebih manis, sayangnya. “Paling-paling dia ogah pakai. Kakak tahu sendirilah kelakuan dia kayak apa.”

“Eh, jangan begitu. Nanti kalau kamu suka betulan, kamu yang heran.”

“Aku suka sama Umji? Haha, sudahlah, itu kelihatan tidak mungkin, Kak.”

“Serius, loh.” Wanita itu sudah lama kenal Seungkwan, lantas sejak saat itu Seungkwan dekat dengannya. Bagaikan seorang … adik dengan kakak. “Aduh, kamu engga tahu, sih, dulu Kakak sama Abang gengmu ini bagaimana.”

Ah, mulai lagi. Seungkwan tak punya pilihan selain mendengarkan. Alih-alih mengarahkan atensinya pada cerita yang dibagi, ia malah memperhatikan raut lawan bicaranya. Merekam dengan cermat gerak-gerik pasang manik sepekat malam itu, caranya menarik sudut-sudut bibir, serta gestur minimalis yang dibuat ketika berkisah. Mungkin ini terakhir kali sebelum Seungkwan siap menghapus  sempurna rasa ketika esok hari tiba.

Harusnya, sih, dia melupakan sang wanita yang kini dalam pelukan orang. Tapi Seungkwan mengerti, ini tidaklah gampang.

“Kak …?”

Wanita itu berhenti mengoceh, “ya?” Lalu tersenyum singkat. Geli melihat ada sekelibat rona di kedua pipi gembul Seungkwan. “Kenapa, Kwan?”

“Pantas, ya, malam ini engga ada bintangnya.” Bicara apa aku?

“Bintangnya kalah cantik sama Kakak.” Aku bodoh! Seungkwan merutuk dalam benak.

“Boo Seungkwan?”

Seketika Seungkwan melambai-lambaikan tangan di depan Seungcheol begitu ia sadar manik ketua geng tengah menghujamnya. Tamatlah riwayat!

Ngomong apa barusan kamu ke kakak ipar, hm?”

“Eh, bukan apa-apa, Bang. Haha, tahu sendiri, ‘kan, memang Kakak cantik malam ini. Terus mendung, jadi bintangnya hilang.” Seungkwan menjawab kilat terus tertawa hambar, namun justru mencipta gelak menggemaskan pada wanita di antara mereka. Terutama karena Seungkwan berpura-pura kesakitan saat Seungcheol berlagak memiting lehernya.

Atau mungkin memang betul-betul kesakitan?

Tamu yang menyaksikan, terutama teman-teman mereka turut terbahak melihat tingkah Seungkwan. Termasuk Umji, yang kebetulan baru memasuki area resepsi.

“Oi, Umji! Nih, kata Seungkwan kamu cantik!”

Bang Seungcheol sialan!

.

.

fin.

.

.

lemme laugh hard. sorry kwan :]

payung teduh bawaannya emang ke arah nikah mulu deh :] go cek lagu dan liriknya. >> https://youtu.be/7yUGrMt5WbM

semoga ini bisa ngewakilin si lagu ‘untuk perempuan yang sedang dalam pelukan’ :]

dita-xx

Iklan

4 respons untuk ‘[Ficlet] KISAH KLASIK – The Bride’s Umbrella Boy

  1. Mbak hujan kambek mari kita sambut
    Kwaan jgn sedih ;-; pipi gembul masih byk yg mau, lagian klo ngerdusin istri seungcheol mah sama aja kyk pingin masuk surga tapi g pake mati .-.
    Agak aneh sih bacanya pake Abang sama kakak ehe tapi terasa lebih akrab dan mudah dibayangkan 🙂
    Keep writing!

    Suka

    1. kalianaa. halo kak, apa kabar? ini kambek yg ala kadar kak. aku nunggu kaliana kambek loh yey. ini kalimat “klo ngerdusin istri seungcheol mah sama aja kyk pingin masuk surga tapi g pake mati” kok bikin nguquq sih kak :] hehe makasih banyak kaklii sudah mampir~

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s