[Ficlet-Mix] There’s Still You Now

Angelina Triaf ©2018 Present

There’s Still You Now

Seung-Kwan & Lee-Chan | AU, Slice of Life | G | Ficlets

Apa yang akan kau kerjakan jika terlahir kembali nantinya?

0o0

[1]

Senang sekali bisa kembali melihat kumpulan anak sekolah yang memenuhi jalanan pagi ini, berjalan dengan riang menuju gedung tempat mereka menuntut ilmu. Semesta ikut kegirangan, begitu pula dengan seorang pria yang tak tampak sama sekali di wajahnya raut khas awal kepala tiga.

Ini rahasia umum, masih banyak anak perempuan yang salah memanggilnya dengan sebutan oppa.

“Pagi, Han Seonsaeng,” ucapnya tepat di depan gerbang, menyapa salah satu guru yang tengah piket sebagai penyambut anak-anak yang datang. “Wah, warna rambutmu fresh sekali!”

“Ah, Jung Seonsaeng bisa saja.”

“Sudah kubilang berapa kali, ‘kan?” ia tersenyum pada wanita yang bernama lengkap Han Jin-Hee itu, “Panggil Lee-Chan saja.”

Senyuman berbalas hal serupa. Jinhee, yang usianya lebih muda tiga tahun tersebut, kembali menjawab, “Baiklah, Lee … Chan … Seonsaeng,” diakhiri dengan tawa yang semakin kencang.

Awal hari yang menyenangkan, pikir Lee-Chan. Ia sudah tak sabar ingin menyambut anak-anak baru yang tentunya sangat menggemaskan.

Ia sangat menyukai anak-anak.

Bel masuk berbunyi sepuluh menit setelah Lee-Chan membenahi mejanya. Benda itu dipenuhi berbagai kue dan permen buah tangan dari rekan guru yang lain sampai-sampai bingkai fotonya sendiri terasingkan di pinggir, bisa jatuh kapan pun jika saja disenggol sedikit.

Kini semua guru telah berbaris rapi di lapangan, menatap para calon murid yang beriuh penuh canda di depan mereka. Betapa imutnya anak-anak kecil itu di mata Lee-Chan.

“Selamat datang di Taman Kanak-kanak Kyung-Shin, Anak-anak manis!”

Entah karena faktor ia yang menjadi satu-satunya guru pria ataukah memang hari ini langit terlampau cerah, senyum Lee-Chan mampu memesona para ibu yang menunggui anak mereka di hari pertama masuk sekolah. Teruntuk guru-guru, sepertinya mereka sudah kebal dengan senyum manis yang menyilaukan itu.

Menggantikan ucapan selamat datang lantaran kepala sekolah yang berhalangan hadir, Lee-Chan dengan amat lancar menyampaikan ketentuan serta peraturan yang berlaku di sana. Beberapa menit berlalu, kini anak-anak sudah boleh masuk ke kelas mereka masing-masing.

Tak lupa Lee-Chan membungkuk hormat kepada para orangtua, cukup terkejut ia ketika berbalik badan dan mendapati seorang anak perempuan dengan wajah seimut boneka. Pipinya bersemu merah alami, rambutnya dikuncir separuh dengan kepang kecil di sisi kanannya.

“Halo, Sayang,” sapa Lee-Chan semanis mungkin. “Kenapa belum masuk ke kelas?”

“Aku menunggu Seonsaengnim.”

Sungguh menggemaskan! Entah kenapa, Lee-Chan merasa nyaman dengan anak ini.

“Manisnya dirimu. Mau Seonsaengnim gendong?”

“Mau!”

Sedekat jarak lapangan menuju kelas, sedekat wajahnya dengan si kecil nan cantik, sedekat ia dengan hangatnya sinar mentari. Lee-Chan merasakan sesuatu yang menurutnya tak asing dalam dadanya.

“Namaku Kim Ye-Rim. Eomma bernama Kang Seul-Gi dan Appa bernama Kim Jong-In. Eomma selalu bilang kalau aku mirip sekali dengan temannya yang benama sama denganku. Eomma bilang Ye-Rim Imo telah pergi ke tempat yang jauh. Eomma juga sering bilang kalau ia rindu Ye-Rim Imo.”

0o0

[2]

Ada tiga suara yang paling Seung-Kwan sukai. Pertama, suara jangkrik di malam hari. Kedua, suara nyanyiannya di kamar mandi. Ketiga …

Kling ….

“Selamat datang di Ahn Bakery and Cake.”

Ia sangat suka dengan bunyi lonceng pintu toko saat pagi. Pelanggan pertama tiap harinya selalu diberi kopi dan mini muffin gratis! Ditambah dengan senyuman mengembangnya, tak ada satu pun orang di dunia ini yang mampu menolak untuk ikut tersenyum.

Orang yang beruntung kali ini ialah seorang gadis cantik kisaran 17 tahun berseragam kuning yang Seung-Kwan yakin berasal dari salah satu sekolah seni tertua di Seoul. Rambutnya lurus panjang berwarna kecokelatan. Tubuhnya cukup tinggi dan matanya kecil. Untuk beberapa detik, Seung-Kwan mungkin tak sadar kalau dirinya melamun menatapi wajah si gadis.

“Selamat pagi,” sapanya kemudian. Jiwanya yang hilang sesaat telah kembali ke dalam raga. “Ada yang bisa saya bantu?”

“O, ini ….” si cantik menunjukkan layar ponselnya kepada Seung-Kwan. “Aku ingin beli kue ini, dihias sama persis dengan nama serta ucapan ulang tahun,” pintanya kemudian.

Seung-Kwan menilik kembali gambar itu, merasa sedikit aneh. “Itu … apakah Nona yakin kue yang ada di gambar berasal dari toko kami? Karena sejauh saya bekerja di sini―”

“Ini memang model lama!” potongnya tiba-tiba, seakan sudah yakin dengan reaksi Seung-Kwan barusan. “Kue itu untuk nenekku, well, dia dulu pelanggan toko ini semasa muda. Sudah berapa puluh tahun, ya? Hahaha, bahkan aku takjub dengan dedikasi usaha keluarga Ahn ini yang masih mewariskan tokonya kepada anak cucu mereka.”

Pelanggan lama, rupanya seperti itu. Jujur saja, Seung-Kwan belum genap setahun bekerja di sini menggantikan kakaknya yang telah menikah dan harus ikut pindah bersama suaminya.

Mau bagaimana lagi, kakek juga pamannya tak pernah mengajarkan ia untuk mengecewakan pelanggan. Jadilah Seung-Kwan tersenyum cerah dan mulai berjalan mengambil buku nota di atas konter. “Baiklah. Boleh tolong sebutkan data singkat Nona. Mulai dari nama?”

“Arin. Arin Kim.”

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pesanan tersebut. “Boleh saya minta foto kuenya untuk ditunjukkan ke ayah saya? Mungkin beliau masih hafal dengan jenis kue itu.”

“Tentu saja.”

O, lagi-lagi Seung-Kwan terperangah sekejap. Sampai ia tersadar masih ada satu lagi yang kurang. “Nona Arin?” panggilnya.

“Ya?”

“Ucapan dan lilin kuenya … bagaimana?”

Sepertinya Arin pun sama lupanya. Ia terlihat memukul keningnya pelan lalu kembali menghampiri Seung-Kwan yang berdiri di samping etalase kue.

“Selamat Ulang Tahun Nenekku Tersayang, Choi Ye-Won. O, lilinnya 71.”

Begitulah, ketika si jelita benar-benar pergi meninggalkan toko, Seung-Kwan tak lelahnya menatap pintu masuk toko. Di kepalanya terlintas bahwa ternyata ada begitu banyak nama Ye-Won di tanah Korea ini.

FIN

  • Honestly this fic was for Reading Event but I couldn’t finish it before the deadline. Still 2/13 omg it shames me rn :’) The stories must be kinda weird, where’s my confident in writing I always feel so insecure nowadays.
Iklan

Satu respons untuk “[Ficlet-Mix] There’s Still You Now

  1. Aduuuuuh chan udah jadi guru aih imutnya 💕 Trus itu arin umurnya 71 cepet banget dah sehari nambah berapa tahun dia? Haha

    Keep writting kanjel 😘😘😘

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s