[Oneshot] Tattered Pieces

Tattered Pieces

LDS, 2018

DIA Chaeyeon x Seventeen Mingyu

Surrealism (enyahkan rasionalitas kalian!), Hurt/Comfort, Romance // Oneshot (3,6K+ words) // Teen and Up

.

Chaeyeon adalah boneka plastik paling cantik sekaligus paling menyebalkan di ruang bermain Nona Muda sampai setangkai mawar bermahkota cokelat penjaga kediaman Nyonya Besar mengajaknya bertaruh.

***

“Asyik! Tuan Gajah, aku mau ke sana!”

“Kakek Kereta Uap, berhenti dulu, para bebek mau lewat!”

“Hei, Bola Basket, jangan lompat-lompat dekat jendela, nanti kacanya pecah!”

Di dalam sebuah ruang bermain, hewan-hewan berbulu, bola beraneka rupa, piano mungil, dan berbagai mainan lain bersenang-senang sepeninggalnya pemilik mereka, membuat keriuhan yang hanya bisa ditangkap segelintir orang. Pukul sembilan, tepat setelah nona mereka berangkat ke taman kanak-kanak dan orang tuanya bekerja, saat berpesta yang sesungguhnya pun tiba. Tuan Gajah berlari ke mana-mana dengan Kei Keriting di punggungnya, mengantar boneka kapuk gembul itu ke sudut-sudut yang ia ingin. Komandan Bobby menerbangkan pesawat mengelilingi langit-langit, sesekali menjatuhkan bom krayon untuk mengerjai anak buahnya di bawah. Gembala Bambam bersama bebek-bebek karet akan meminta izin pada Kakek Kereta Uap supaya bisa menyeberang ke Kotak Boneka Bulu, menjemput Shaun dan kawan-kawan. Masih banyak lagi kegembiraan yang timbul dalam bilik berukuran sedang tersebut …

… tetapi tak peduli bagaimana hebohnya para mainan, satu boneka pasti akan menarik diri dari keramaian, duduk sendiri di bingkai jendela tanpa sekalipun berpaling ke sebelah dalam.

Sebagai mainan kesayangan, si boneka plastik memang begitu cantik, sayang tatapannya senantiasa hampa, mengarah ke halaman rumah nonanya yang ditumbuhi beragam bunga. Sinar mentari menimbulkan kilau pada permukaan kulitnya yang terbuat dari polimer karbon, sementara angin pagi iseng meniup rambut lembut sepunggungnya ketika dia menanti Nona Muda pulang tanpa bosan-bosan.

“Chaeyeon-noona!”

“Ayo main!”

“Dengan kami!”

“Pasti seru!”

Bola Basket dan Bola Tenis membal bergantian supaya dapat berbicara dengan Chaeyeon, boneka plastik berpakaian renda yang diirikan semua mainan perempuan itu. Tidak hanya baju, sebenarnya—segala hal pada diri Chaeyeon adalah idaman mereka. Siapa lagi mainan di ruangan itu yang punya kaki jenjang, tubuh langsing, dengan mata biru dan rambut halus sepinggang kalau bukan si jelita ini? Namun, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, maka Chaeyeon, secantik-cantik dia, juga punya kekurangan. Itu bukan jahitan lepas, kapuk keluar, roda gigi seret, maupun debu yang susah dicuci, tetapi perasaan.

“Pergilah. Lakukan hal bodoh yang kalian ingin dengan kereta timah tua yang sudah bau gudang itu.”

Satu kalimat dari Chaeyeon cukup untuk membungkam seisi ruang bermain. Ada yang memandang iba dua bola berukuran sangat kontras itu, ada juga yang memicing kesal pada si boneka plastik. Bola Basket pantang menyerah; ia melompat dan menarik-narik lengan ramping Chaeyeon.

“Ayolah, Noona!”

Buru-buru Chaeyeon menepis tangan si bola besar.

“Aku kan sudah bilang pergi.”

“Ya ampun, Noona, kalau kau begitu terus, nanti kau tidak punya teman, lho.” Boneka Teddy memperingatkan, tak tahan kawan-kawannya yang polos diperlakukan begitu kejam.

“Aku masih punya Nona Muda untuk memainkanku,” Chaeyeon menyibakkan anak-anak rambutnya ke samping dan menukas cepat, “ jadi urus saja diri kalian sendiri. Dasar mainan-mainan berdebu.”

Tidak pernah membentak, Chaeyeon cukup menggunakan nada yang dingin untuk menciutkan sang lawan bicara. Alhasil, Bola Basket dan Bola Tenis menggelinding menjauhi sang ‘ratu’, bergabung dengan teman-teman yang lebih ramah. Si boneka plastik kembali sendiri, pikirnya: untuk apa punya teman jika lukisan langit yang indah di awang-awang, rumah-rumah bergaya klasik, dan penghuni kebun yang bercakap-cakap seru dapat menghiburnya?

Nyonya rumah selalu membiarkan jendela kamar putrinya terbuka untuk ventilasi, jadi meskipun ditinggal si empunya, kamar itu tidak akan pengap. Memang ada risiko pencuri masuk, tetapi tajamnya duri mawar penjaga pagar akan mampu menghentikan mereka sebelum sempat meraih jendela.

Omong-omong soal penanggung jawab keamanan, setangkai mawar bermahkota sewarna kakao yang tengah berjalan mendekati Chaeyeon itu sepertinya baru di taman.

“Kau punya jantung yang sangat kecil.”

Keterkejutan Chaeyeon bersembunyi dengan baik di balik kekakuan ekspresinya. Pandangan si jelita bergeser pada mawar bertangkai tinggi yang baru saja bersandar ke dinding samping jendela. Gayanya santai sekali, macam orang-orang berkepala angin, tetapi segores keangkuhan membuatnya sedikit mirip Chaeyeon—minus senyum sinis, tentu saja.

“Ada baiknya kau memperkenalkan diri sebelum sok akrab dengan penghuni lama.”

“Tak usah ketus begitu. Aku baru mau berkenalan. Aku Mingyu, bekerja dari pagi hingga petang sebagai salah satu mawar penjaga pagar merangkap idola tergres di kebun ini. Kau?”

O, menjijikkan.

“Chaeyeon.”

Lagi-lagi, Mingyu tersenyum miring. “Selain punya jantung yang kecil, kau juga pelit kata-kata.”

“Berhentilah membawa-bawa jantungku dalam percakapan tak penting ini,” sahut Chaeyeon jengkel.

“Mengapa? Jangan-jangan,” Mingyu mengerling jahil, makin menjadi, “aku telah melukai seseorang yang katanya paling tidak tersentuh di rumah ini?”

Kurang ajar betul. Baru berapa detik bertemu, mawar beraroma cokelat itu sudah berani mencoba menjatuhkan mental Chaeyeon. Selain itu, si tangkai duri juga tak berhenti menyinggung masalah sensitif yang harusnya tak diketahui siapa pun. Serangkai hal menyebalkan tersebut dipungkasinya dengan nasihat sok yang—astaga—tak Chaeyeon butuhkan sama sekali.

“Belajarlah mencintai jika ingin membesarkan jantungmu atau kau akan menyesal seumur hidup.”

Usai mengucapkannya, Mingyu beranjak, menebar senyum memesona yang melelehkan hati para tanaman. Sungguh, daripada penjaga pagar, dia lebih terlihat seperti tukang pamer. Tak masuk akal bila Chaeyeon sampai merenungkan omongan makhluk itu. Belajar mencintai atau menyesal? Konyol. Mingyu tak tahu kisah di balik ukuran jantung Chaeyeon, jadi ia tak berkapasitas untuk ikut campur. Si mainan kesayangan diam-diam berdoa agar Nyonya Besar memecat mawar cokelat itu segera.

***

“Jantungmu sudah mengerut jadi sepertiga ukuran awalnya, tahu,” ledek Mingyu pada Chaeyeon di minggu ketiga ia bekerja. “Seingatku aku sudah memberitahumu untuk membaur dengan mainan lain supaya jantungmu membesar. O, atau kau ini ternyata juga tuli?”

“Dengar,” dengus Chaeyeon, “kau adalah peroboh pertahanan wanita di rumah ini, selain aku tentunya, jadi mengapa kau tidak godai saja mereka? Aku yang membosankan ini tidak semenarik tulip-tulip yang menggilaimu; lebih baik kau pergi ke para penggemarmu sana.”

“Menggodaimu jauh lebih seru.”

Chaeyeon menyipitkan mata, geli dengan pilihan kata Mingyu: ‘menggodaimu’.

“Kepribadianmu yang sulit jauh lebih menantang untuk dilumpuhkan.” Mingyu menaikkan dagu Chaeyeon dengan ujung daunnya.

“Melumpuhkanku?” Chaeyeon menyingkirkan daun Mingyu dari wajahnya. “Musnahkan mimpi siang bolongmu itu, Mingyu, kalau perlu kau juga musnah sekalian.”

“Kalau begitu, ayo kita taruhan.” Mingyu menyudutkan Chaeyeon ke dinding samping jendela; jarak mereka begitu dekat hingga Chaeyeon dapat menghirup aroma cokelat karamel yang memabukkan. “Jika suatu saat kau tersenyum atau menangis karena cinta, kau harus membayar sesuai jumlah yang aku tentukan belakangan.”

“Tidak mau. Itu bodoh.”

“Bodoh? Baiklah, kurasa ada pengecut yang tidak berani kalah.”

Andai membunuh diperbolehkan, Chaeyeon sudah mencabik tiap jengkal mahkota bunga Mingyu sampai dadal. “Dua minggu,” tawar si boneka, “dan setelah itu, rontokkan seluruh mahkota cokelatmu kalau aku menang.”

Mingyu tampak optimis. Senyum percaya dirinya mengesalkan Chaeyeon.

“Aku penasaran, boneka cantik tapi dingin sepertimu kalau tersenyum seperti apa, ya?”

Kau pikir mudah mencetak senyum di wajahku? Chaeyeon memutar bola matanya malas. Kita lihat saja!

***

Pada hari-hari awal ‘pertaruhan’, Mingyu masih saja merecoki Chaeyeon dengan omong kosongnya mengenai mencari teman atau menyindir cacatnya sang putri. Aku kasihan pada Nona Muda yang tiap hari harus menghadapi wajah keringmu; kuharap dia tidak tumbuh menyerupaimu nanti, ucapnya satu siang. Seperti biasa, ini tidak menggoyahkan Chaeyeon, bahkan membuatnya kian pantang mencinta supaya Mingyu kalah taruhan. Dampaknya, para mainan makin takut kepadanya, begitu pula penghuni kebun dan awan-awan berarak yang dahulu merupakan sumber penghiburannya.

Satu hal yang tak Chaeyeon sangka adalah nona mudanya ikut menjauh pula.

Eonni …. Mengapa rasanya kau bertambah seram, ya?” tanya gadis berkuncir dua itu dengan mata berlinang. “Padahal kau salah satu boneka kesukaanku ….”

Mendadak sebilah belati tipis menusuk jantung mungil Chaeyeon hingga berdarah. Meski demikian, karena benda itu tertutup berlapis-lapis tipuan, yang kelihatan dari luar hanya kehampaan Chaeyeon yang biasa.

“Apa yang membuat Nona Muda berpikir begitu? Tidak ada yang berubah pada diri saya, sungguh.”

Nona Muda menggeleng-geleng tak yakin.

“Mungkin Chaeyeon sedang sakit, Nona Muda.” Mingyu muncul tanpa peringatan, menyilangkan sepasang daunnya di jendela. Chaeyeon menahan diri sebisanya supaya tidak mendesah sebal di hadapan majikannya, sedangkan Nona Muda sendiri tersipu malu ketika bersitatap dengan ‘kakak cokelatnya’ yang tampan. Namun, rona di pipi gadis cilik itu seketika berganti kecemasan begitu sadar bahwa apa yang Mingyu katakan bukan hal bagus.

“Apa benar Eonni sakit? Apa kau mau ke dokter?”

Duh! Mingyu benar-benar hobi menjerat Chaeyeon dalam masalah. Bukan maunya melihat wajah sedih nona mudanya begini.

“Saya baik. Jangan percayai Mingyu, Nona Muda.”

“Boneka yang sakit butuh banyak dipeluk dan disayang,” potong Mingyu tanpa mengacuhkan Chaeyeon. “Coba Nona Muda lakukan itu, dia pasti senang.”

Barangkali Mingyu mampu memanipulasi pikiran, batin Chaeyeon. Bagaimana tidak? Nona Muda serta-merta memercayai ucapan mawar itu. Si gadis menubruk-peluk Chaeyeon hingga si boneka terjatuh ke ranjang.

Eonni, jangan sakit!!!”

O, Tuhan. Anak kecil tidak pernah tidak manis. Kehangatan yang merambat dari tubuh Nona Muda mencapai Chaeyeon, membuatnya kewalahan diserang haru. Ia dapat merasakan sesuatu dalam dadanya mengembang hingga menyesakkan, tetapi siraman kasih tulus Nona Muda belum berhenti menghunjamnya.

Apa ini cinta? Mengapa begini melelahkan menerimanya?

Kendati demikian, senyum Chaeyeon belum mau muncul. Ia bertahan dengan kebekuannya, walaupun dalam dadanya tengah terjadi badai besar. Nona Muda kecewa berat, berasumsi terapinya gagal lantaran raut Chaeyeon tidak melembut sedikit jua.

“Mengapa Eonni tidak sembuh, Mingyu-oppa?”

“Memang semua penyakit butuh beberapa hari untuk dilenyapkan benar. Nona Muda waktu sakit dulu juga begitu, kan?” Mingyu membelai sayang pipi Nona Muda; Chaeyeon sampai tak percaya si mulut pedas itu memiliki sisi pengasih juga. “Mari kita tunggu Chaeyeon sembuh sambil main boneka yang lain.”

Chaeyeon bersyukur nona mudanya teralih oleh ucapan Mingyu dan kini sibuk main dengan Kei Keriting serta Tuan Gajah. Segera dilabraknya si mawar cokelat yang sebelum ini membuat napasnya tercekat.

“Kau ingin membunuhku, ya? Cinta Nona Muda menindihku tadi dan aku tidak kuat!”

Akan tetapi, cinta harusnya tidak menindih; ia manis, halus, dan kadang harum. Dari sinilah, Mingyu paham bahwa jantung Chaeyeon tidak merespons perasaan dengan normal, tetapi demi kebaikan Chaeyeon sendiri, rasa tak nyaman tersebut harus diterabas.

“Ini baru awal. Kau harus membiasakan dirimu supaya siap dengan cinta yang sesungguhnya.”

Mingyu sudah berubah dari ‘menyebalkan’ jadi ‘misterius’, keduanya sama-sama tak Chaeyeon sukai. Cinta yang sesungguhnya? Apa maksud Mingyu semacam sensasi kupu-kupu dalam perut yang digosipkan Poci dan Cangkir Plastik? Ha. Mana mungkin? Perasaan itu hanya bisa ditemui dalam roman picisan yang ditayangkan televisi, sedangkan dunia nyata cuma bisa menyajikan getar jiwa yang palsu.

***

Sore ini, sepulang les piano, Nona Muda diajak main pesta teh dan rumah-rumahan oleh salah seorang teman. Tokoh utama dari permainan jenis ini adalah boneka plastik cantik sehingga tak ayal, Chaeyeon menjadi satu-satunya yang dapat turut serta dalam acara berkelas itu. Ia berdandan serapi mungkin dan langsung disambut siulan nakal Mingyu sekeluarnya dari rumah boneka.

“Aku saja yang berpikir begini atau kau menganggap ini kesempatan yang bagus untuk belajar cinta, hingga bersiap sedemikian cantiknya?”

“Bukan urusanmu.”

“Jangan katakan hal jahat begitu di hadapan tamu-tamu pesta tehmu, lho.”

“Aku sudah berpengalaman daripadamu soal pesta teh.” Chaeyeon menata lipatan roknya agar tak kusut. “Tidak perlu menceramahiku soal itu.”

“Kuingatkan sekali lagi,” –Ada urgensi dalam suara Mingyu kali ini—“kau harus memaksa sebuah senyum muncul di wajahmu. Nona Muda tidak dalam mood yang baik; apa pun bisa dilakukannya terhadap boneka yang gagal menimbulkan keceriaan sepertimu.”

Tekanan khusus pada akhir kalimat Mingyu sanggup membuat Chaeyeon berpikir ulang untuk bersikap baik. Ada perih yang menyelusup masuk saat ia membayangkan apa yang akan Nona Muda lakukan jika ia bersikap tak patut di pesta teh nanti. Bau busuk tempat sampah tahu-tahu mampir dan membangkitkan trauma Chaeyeon.

Aku tidak akan dibuang. Aku tidak akan dibuang ….

Harapan Chaeyeon menipis karena, benar kata Mingyu, Nona Muda cemberut terus siang ini. Ia yang biasanya menggandeng Chaeyeon riang kini menyentak kasar lengan si boneka, tidak lagi ‘memanusiakan’. Nona Muda diam seribu bahasa sepanjang jalan, memicu Chaeyeon untuk mencoba mengukir selengkung senyum, tetapi seberapa keras pun ia berusaha, kurva gembira itu tidak juga terbentuk. Yang paling buruk, sesuatu dalam dada Chaeyeon berkontraksi hebat, mengerut, dan menguarkan anyir yang hanya bisa tercium olehnya.

Jantungku sudah menyusut lagi …. Dengan ukurannya yang sekarang, apa aku bisa melalui pesta teh dengan selamat?

Peluang Chaeyeon menerima jawaban ‘tidak’ atas pertanyaannya meningkat terus.

Kamar teman Nona Muda bernuansa violet dan terisi beberapa mainan saja. Boneka plastik lebih mendominasi. Ada kira-kira sepuluh boneka yang tercecer di sudut-sudut ruangan, satu di antaranya telah berhias khusus untuk bermain dengan Chaeyeon. Setelah berbincang sebentar, Nona Muda dan temannya segera mengatur pesta teh.

“Chaeyeon-ssi, kau mau gula atau krim untuk tehmu?” tanya Eunjin, boneka dengan frilly dress biru milik tuan rumah, berdialog sesuai skenario majikan ciliknya.

“Krim saja, lebih gurih lebih baik,” jawab Chaeyeon datar. Eunjin menuang krim ke cangkir sang tamu seraya menatapnya horor. Tak hanya Eunjin, nonanya pun menjadi agak tegang.

“Hei, ada apa dengan bonekamu?”

“A-Anu … dia sedikit sakit …. Maaf, ya, kalau ia jadi agak menyeramkan.”

Dalam hati, Chaeyeon menjerit frustrasi. Mengapa ia tak bisa ramah? Mengapa jantungnya mesti sekecil ini? Mengapa ia tidak mampu menciptakan pesta teh yang menyenangkan buat sang nona?

“Mm, tak apa, kok ….” –tapi raut wajah si tuan rumah menyatakan kebalikan dari ucapannya—“Eunjin-eonni, kita kan baru bikin biskuit. Ayo, kita sajikan untuk Nona Muda dan Chaeyeon-ssi!”

“Baiklah!”

Seandainya Chaeyeon seceria Eunjin, ekspresi kecewa tak akan pernah menyinggahi wajah Nona Muda.

“Silakan dinikmati! Ini biskuit karamel spesial buatan Eunjin dan Somyi!”

“Wah, pasti enak!” Nona Muda mencomot sekeping biskuit. “Selamat makan!”

Kontras dengan Nona Muda yang begitu bahagia, Chaeyeon menggigit kue renyah itu hampa. Menurutnya, biskuit itu hambar mirip tepung yang belum diolah. Mana karamelnya? Mengapa tidak terasa sedikit pun? Ceroboh, Chaeyeon akhirnya mencela makanan yang sebenarnya lezat itu.

“Rasanya seperti bahan mentah, bahkan ada bau amis telur di sini. Kalian memasak dengan benar tidak, sih?”

Nona Muda terenyak, begitu pula Eunjin dan Somyi, nonanya. Tak ada yang siap dengan kritikan membunuh dari Chaeyeon ini, apalagi si tuan rumah. Eunjin panik; cepat ia merangkul Somyi yang sudah berkaca-kaca, tetapi tanggul emosi sang gadis kepalang bobol.

“Boneka itu jahat!!! Aku tidak mau main lagi!!!”

Poci teh plastik melayang, menghantam Chaeyeon keras, dan isinya tumpah menodai gaun putih mainan itu. Tetes-tetes keemasan jatuh dari poni hitam pekat yang basah. Nona Muda jelas kaget dan kesal bonekanya diperlakukan demikian.

“Kok kamu begitu?!”

“Soalnya dia menyebalkan!”

“Kamu lebih menyebalkan!”

Dua gadis cilik saling melempar ejekan bukan akhir menyenangkan untuk pesta teh ini. Eunjin gagal menenangkan mereka dan ujungnya, Nona Muda menyeret Chaeyeon keluar, lari pulang tanpa pamit.

“Chaeyeon-eonni, ini semua gara-gara kau!” isak Nona Muda saat ia berhenti sejenak untuk mengistirahatkan kaki di sisi sebuah jembatan.  “Kau kejam! Kau tidak sakit seperti Mingyu-oppa bilang, tetapi kau memang pemarah! Aku benci!!!”

Benci. Satu kata itu melesatkan ribuan belati tipis yang mengoyak jantung Chaeyeon; sakitnya tidak cepat mereda. Setiap tarikan napas malah melesakkan belati itu makin jauh dalam jantung yang nyaris terbelah dua.

Padahal aku sangat menyayangi Nona Muda, tetapi …

“Aku tidak suka Eonni! Lebih baik kau tenggelam saja dan dimakan air!”

Apa pun dapat dilakukannya terhadap boneka yang gagal menimbulkan keceriaan sepertimu.

Peringatan Mingyu terbukti bukan bualan. Lihatlah Chaeyeon sekarang, mengambang di sungai setelah dibuang Nona Muda. Batu-batu yang menyandung arus melahap beberapa helai pita pada pakaiannya. Serpihan jantungnya berserakan mengenaskan selagi napasnya didesak masuk lagi oleh riak sungai hingga bahkan buih-buih kecil pun tak keluar dari bibir Chaeyeon. Peti memori si boneka malang terbuka, isinya berhamburan: pesta teh pertama, perkenalan dengan mainan-mainan baru, senyum bangga Nona Muda saat memamerkannya pada teman-teman ….

Sungai terasa begitu dingin, walaupun ini musim panas. Pasrah, Chaeyeon tahu hidupnya tak akan lama lagi.

“Chaeyeon! Chaeyeon, bertahanlah!”

Bayangan Nona Muda berangsur pudar. Setangkai mawar bermahkota cokelat beraroma kakao kental mewujud menggantikannya.

Mingyu?

***

“Nona Muda, mau saya bantu menata bukunya?”

“Tidak usah, Chaeyeon-eonni. Aku ini sudah 18 tahun, tidak lagi main boneka. Kembali ke gudang!”

“Baik, Nona ….”

“Oh, boneka buangan? Lumayan cantik juga. Sebuah kehormatan bagi tempat sampah sebusuk diriku kedatangan tamu sepertimu.”

“Hei, berapa kali kau dibuang dan didaur ulang? Masih baru, ya? Perjalananmu akan sangat panjang!”

“Lihat, lihat, boneka ini cacat!”

“Benar, jantungnya kecil sekali; mana cukup diisi kesenangan anak-anak?”

“Diam! Jantung kecil adalah lambang kemandirian; aku tidak butuh cinta anak-anak untuk hidup!”

“Terus apa ini? Whoa, peti memorinya sesak sekali! Manisnya dia dulu, tersenyum gembira bersama nonanya, tetapi lantas dibuang! Banjir air matanya di tempat sampah hebat sekali!”

“Diam, diam, diam kalian semua!”

***

“Ah!”

Dua manik biru Chaeyeon tersentak membuka. Titik-titik keringat dingin membasahi pelipis; kenangan pahit yang menghujaninya dalam tidur sungguh mengerikan. Mengapa ingatan-ingatan yang sudah lama tergerus masa mendadak terputar kembali? Belum terjawab pertanyaan itu, dalam dada Chaeyeon berdenyut kuat segumpal otot yang asing. Aneh, bukankah jantungnya pecah dan hanyut ketika ia tenggelam? Rongga yang mestinya kosong kini penuh dan bergejolak, menyiksa si empunya.

Sakit …. Sesak sekali ….

Chaeyeon mencengkeram kain yang membalut dadanya seolah ingin mencabut apa pun yang berdegup di balik sana.

“Jangan dilepas. Biarkan jantung baru itu mengisimu.”

Anak mata Chaeyeon bergerak naik dan bertemu sepasang obsidian milik mawar kakao yang familiar. Bedanya, tatapan sang mawar justru terkelir rasa iba alih-alih sarkasme.

“Mingyu … aku sulit bernapas …. Izinkan aku mencabut jantung ini ….”

Daun Mingyu dengan hati-hati menghapus air mata Chaeyeon. “Kau bisa mengabaikan lara itu. Ingat saja hal menyenangkan bersama nona-nonamu terdahulu ….”

“Aku tidak bisa ….” Jemari pucat Chaeyeon mencengkeram Mingyu. “Sakit ….”

“Berjuanglah. Kau kuat, aku tahu itu.” Mingyu mendekap tubuh rapuh Chaeyeon yang gemetar menahan pedih, memenuhi tiap relung jantung baru Chaeyeon dengan aroma cokelat pekat. Secara magis, wangi itu meredakan sesak yang mengoyak si putri plastik. Napasnya perlahan menjadi teratur, lambat dan dalam, meneguk lebih banyak aroma cokelat dari tubuh Mingyu. Satu-satu, memori gembira terurai layaknya film tua.

Jantung Chaeyeon dulu sangat besar dan menyimpan banyak kebahagiaan. Ukurannya melampaui boneka plastik pada umumnya, bahkan nona muda pertamanya, seorang gadis berumur tujuh tahun, sering main dalam serambi jantungnya. Tiap pesta teh dan permainan rumah-rumahan dilalui dalam senyum yang tak pernah melelahkan Chaeyeon. Ketika Nona Muda tidur pun, Chaeyeon senantiasa menyenandungkan lagu-lagu untuk mengantarnya ke alam mimpi.

Namun, semua anak bertumbuh. Masa kecil tidak abadi sehingga Chaeyeon—sebagai mainan—lama-lama terlupakan. Ia dipindahkan ke gudang, tetapi karena ingin terus mendampingi nona mudanya, Chaeyeon belajar memahami kebutuhan remaja muda dan berusaha memenuhinya. Ternyata, ini tidak menyelesaikan masalah. Nona muda pertama tidak menginginkannya lagi. Chaeyeon mendarat di tempat sampah dan masuk pabrik daur ulang. Tangisnya tidak menjangkau pendengaran Nona Muda.

Inilah awal menyusutnya jantung Chaeyeon.

Nona muda kedua, ketiga, keempat memperlakukan Chaeyeon dengan cara yang sama. Pengalaman-pengalaman pilu disimpannya rapat-rapat dalam peti memori sebelum ia dijual untuk kali kelima, bersumpah untuk tidak lagi mencinta. Mainan-mainan dalam toko menertawakan pendiriannya, tetapi Chaeyeon terlanjur terluka, tak ada jalan untuk kembali pada dirinya yang pengasih.

“Mengapa hanya aku yang begitu sedih ditinggalkan nona mudaku, sementara yang lain tidak?”

Suara Chaeyeon lirih, parau, sarat duka yang mati-matian ditahan. Tangannya melingkari tangkai Mingyu yang sengaja menanggalkan durinya saat tidak bertugas menjaga pagar.

“Karena kau punya cinta yang luar biasa untuk semua nona mudamu sejak pertama diciptakan di pabrik.” Mingyu menyisir rambut Chaeyeon dengan hati-hati menggunakan rigi-rigi daunnya. “Perpisahan selalu menimbulkan luka bagimu, membentuk parut yang menyusutkan jantungmu dari waktu ke waktu.”

“Bukankah cinta harusnya menyembuhkan?”

“Itu berlaku hanya untuk cinta yang ‘sehat’. Kau terlalu setia, karenanya keterikatanmu justru mencederai dirimu sendiri. Setia tidak jelek, tetapi segala yang berlebihan tidak baik juga, maka cobalah berteman dengan banyak orang agar kau memperoleh cinta dari sumber yang lain.” Mingyu tersenyum tulus.

Benar. Pertalian antara Chaeyeon dan Nona Muda memang harus dijaga, tetapi keabadian bukan sahabat manusia, maka ada baiknya ia tidak terlalu bergantung pada satu ikatan supaya dia tidak cepat terluka. Tidak ada salahnya mencari teman yang sejenis dengannya; siapa tahu jam bermain jadi lebih menyenangkan baik buatnya maupun Nona Muda karena banyaknya mainan yang bergabung?

Tunggu. Taruhan Mingyu yang lalu … apakah ini tujuannya? Untuk mendorong Chaeyeon mencintai yang lain? Jika benar, taruhan yang Mingyu buat berarti bukan taruhan bodoh. Mingyu ingin menolongnya, jadi ia memaksa Chaeyeon untuk mencinta dan, mungkin saja, tidak peduli pada hadiah yang menunggunya bila menang taruhan.

Chaeyeon meletakkan kepalanya letih pada bahu Mingyu, lalu tertawa lemah.

“Mintalah apa pun yang kau mau, Mingyu. Aku kalah dalam taruhan ini.”

“Apa lagi yang harus kuminta? Aku sudah cukup egois dan curang dalam permainan ini; anggaplah perjanjian itu tidak pernah ada.”

“Apa maksudmu?”

Chaeyeon terkesiap; ia tidak mengantisipasi Mingyu yang tiba-tiba menangkup wajahnya. “Dari awal, aku hanya ingin tahu bagaimana jika kau tersenyum,” ujar sang mawar, menyentuh dua sudut bibir Chaeyeon. “Kau indah dan dengan egoisnya aku ingin menikmati senyummu untuk diriku sendiri, tetapi kemudian aku menemukan kesepian, lara, dan jantungmu yang carut-marut. Kau tak akan sembuh; secara teknis, kemenanganmu dalam taruhan ini mutlak. Aku kan tak mau kalah.”

Raga Chaeyeon memanas ketika Mingyu mengeratkan dekapan. Samar, ia rasakan detak yang seirama dengan jantung barunya dalam dada Mingyu.

Ah.

“Nona Muda tadi pulang sambil menangis dan minta padaku untuk mengambilkan Chaeyeon-eonni yang ia lempar ke sungai. Kau mati, tersangkut agak ke hilir.” Mingyu memejam. “Melihatmu menutup mata seperti itu merupakan mimpi buruk yang paling nyata, Chaeyeon.”

Sebelum disadari, Mingyu membawa tangan Chaeyeon ke dadanya.

“Jadi, inilah kecuranganku. Yang ada di dalam sini merupakan belahan dari apa yang mengisi dadamu.”

Chaeyeon terbelalak. Bak metronom, ia mulai membaca ritme jantungnya. Ketika jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, jantung Mingyu meniru.

“Kau membagi jantungmu? Untukku?”

“Curang, kan?” kekeh Mingyu. “Sudah kubilang aku benci kalah, jadi aku menanamkan perasaanku padamu supaya aku menang.”

Tidak. Mata Mingyu mengatakan kejujuran lebih baik dari mulutnya; bahwa ia ingin Chaeyeon hidup kembali dan berbahagia bersama nona muda kelima. Chaeyeon membaca alasan itu dengan terang dan tersenyum haru.

“Biasanya aku tidak mengatakan ini, tetapi … terima kasih banyak.”

“Sama-sama, Cewek Menyusahkan.” Mingyu mengusak rambut Chaeyeon yang lembab. “Nah, berhubung misiku sudah selesai, kau harus pulang ke rumah Nona Muda—“

“Tidak!”

Mingyu mengerjap bingung selagi Chaeyeon balik memeluknya.

“Sekarang sudah lewat petang, jadi setelah mengantarkanku, kau pasti akan pergi, kan? Jam kerjamu cuma sampai sore.”

“Lalu?”

“Lalu aku akan berpisah denganmu, padahal jantung ini masih ingin dekat dengan pemilik aslinya ….”

Astaga. Bila Mingyu bisa mengambil semu merah yang mewarnai pipi hingga telinga Chaeyeon, ia pasti akan melakukannya. Ini permohonan manis yang mengguncang pertahanan, tetapi dengan lihai, Mingyu menyamarkan buncah rasa cinta dalam hatinya.

“Malam ini saja, ya? Nona Muda juga rindu pelukanmu.”

TAMAT


okeeeeeee i’m back with one of my main genre: surrealism! kuat gak kalian disentuh surrealism seberat ini? *gak* surrealisme pada dasarnya bukan genre yg susah kok. aku sdh membuatnya sedeskriptif mungkin, tapi emg kalo baca fic model begini harus mengenyahkan rasio, krn mmg byk adegan ga masuk akal.

ini crossposted ya guys, kalo pernah nemu di tempat lain selama masih ditulis oleh LDS, berarti bukan plagiat ^^

terima kasih sdh baca!

Iklan

4 respons untuk ‘[Oneshot] Tattered Pieces

  1. Ini ngena banget.. walau sebenarnya sempat bingung gimna bayangin mingyu jdi mawar berkali-kali ngubah2 bayangan sendiri… haha.. bingung juga pas dia peluk chaeyon dengan tubuh tangkainya itu.. astaga aku baper!!!
    Nice fic.. kak.. what a beautiful fantasy!!

    Suka

  2. Aku baca sambil dengerin lagu klasik : Iis Sugiarto – Tak seiring jalan ((diputar ulang2 biar makin top)) ((padahal liriknya sama sekali gak nyambung sama isi fic ini)). Kak liana bilang ini berat ya? Kok menurutku ini malah fleksibel /? dan ngalir wkwkwk mungkin karena aku emang suka baca surealis, jadi ayok-ayok aja kalo disuruh ngayalin yg irasional /slapped/

    Akutu sebenernya gasuka sama chaeyeon. Beneran deh, di antara 97 line yg kukenal, aku paling gasuka sama mbak ini, gatau kenapa. Tapi aku bukan haters yg sampe mencecar-cecar gitu, percayalah aku enggak sejahat itu meskipun bacot :’3 Aku juga setengah bayangin suasana di fic ini kek toy story, trus gambarin jung chaeyeon sbg boneka cantik berhati dingin yg terlalu setia sama nona muda sampe gamau berbaur sama temen-temennya. Hamdalah ada mas mingyu…..meskipun awalnya mingyu agak nyebelin, tapi untung taruhannya berfaedah.

    Keep writing kak liana 💜

    Disukai oleh 1 orang

    1. Aku bisa mengerti knp kamu g suka Chaeyeon. Sama kyk aku ga suka jiho omg pdhal ya dia kagak ngapa2 in. Dulunya aku juga ga suka Chaeyeon like ini dia ngapa muncul di mana2 sih? Mgkin Krn dia terkesan eksklusif kali ya
      Beruntunglah kamu bisa memahami ff ini huhuhu suer dah main genreku itu surealisme tapi suka byk yg ga nangkep suasananya gitu …
      Keep writing too ji!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s