UPDATES

[Announcement] Alone; All One; Al1 Winner

Hello Carats!

Sudah melihat postingan fanfiksi yang masuk delapan besar, ‘kan? Congratulations to you all!

Nah, bagaimana dengan pemenangnya? Kalian pasti penasaran, bukan? Oke, langsung saja, berikut adalah pemenang event 2nd anniversary SVTFFI yang dinilai cukup sesuai dengan poin-poin penilaian kami, yakni meliputi; judul, EYD, alur, ide cerita, karakterisasi, kepadatan cerita, dan kesesuaian dengan tema.

Continue reading “[Announcement] Alone; All One; Al1 Winner”

[Event] 2nd Anniversary SVTFFINDO – Alone; All One; Al1

Halo, CARATs! Selamat tanggal 3 Juni!

Ada yang excited menyambut comeback SEVENTEEN? Atau ada yang excited menyambut 2nd anniversary dari blog kesayangan kita? Yup, beberapa hari yang lalu adalah hari jadi SEVENTEEN yang kedua dan hari ini adalah hari jadi SVTFFINDO yang kedua, yey! Tidak terasa sudah selama dua tahun kami menemani CARATs dengan fanfiction-fanfiction dari grup kesayangan kalian. Sebagai rasa terima kasih kepada author freelancers maupun readers yang senantiasa meramaikan blog kami, SVTFFINDO akan mengadakan event kedua guna merayakan 2nd anniv SEVENTEEN dan SVTFFINDO. Kalau ada event biasanya selalu identik dengan reward, dong? Oh, pastinya! Apa reward-nya? Yuk, simak ketentuan event selengkapnya di bawah dan tunjukkan rasa sayang kalian terhadap SEVENTEEN dengan mengikuti event kami!

Tema yang kami usung di 2nd anniv ini adalah :

Continue reading “[Event] 2nd Anniversary SVTFFINDO – Alone; All One; Al1”

[Mini Event for Staff] Song Prompts Challenge (Pt.1)

IMG_1795

Hello Everybody!

SVTFFI mengadakan mini event untuk para staff yang bergabung di sini. Mini event berupa membuat fanfiksi dengan length ficlet (maks 300w) berdasarkan beberapa prompt yang di ambil dari lirik lagu yang terdapat di dalam album Seventeen. Mini event ini akan dibagi menjadi beberapa part dan pada kesempatan pertama ini prompt berasal dari 1st Mini Album Seventeen: Adore U.

Berikut beberapa ketentuannya:

  • Prompt boleh tersirat (tidak ditulis kembali dalam cerita) atau pun tersurat (ditulis kembali dalam cerita); tergantung bagaimana author akan mendeskripsikannya nanti.
  • Length: Ficlet maks 300 words.
  • Main cast wajib member SVT, dianjurkan untuk menggunakan cast secara merata. Support cast dibebaskan.
  • Genre bebas.

Aturan Pembuatan:

  • Tagging prompt sebelum dibuat; boleh melalui kolom komentar yang tersedia atau pun di gc line SVTFFI.
  • Satu prompt hanya boleh digunakan untuk satu cerita (ficlet) oleh satu staff saja. Tetapi satu staff diperbolehkan untuk membuat ficlet sebanyak mungkin dengan prompt lain yang tersedia.
  • Maksimal postingan dalam sehari adalah 3 fanfiksi, minimal 1 fanfiksi. Satu staff hanya bisa memposting satu fanfiksinya perhari.
  • Staff baru boleh men-tag prompt lainnya ketika fanfiksinya telah di posting. Jadi aturannya; setelah men-tag prompt segera diselesaikan baru diperbolehkan men-tag yang lainnya.
  • Fanfiksi yang telah selesai harap di draft dan akan di posting oleh admin sesuai jadwal yang berlaku.

Berikut daftar prompt yang tersedia:

Continue reading “[Mini Event for Staff] Song Prompts Challenge (Pt.1)”

[Announcement] Himbauan untuk Freelancer

gif11

Halo, readers setia SVTFFI! Sehubungan dengan banyaknya e-mail yang tidak sesuai dengan rules pada page Send Your FF, kami selaku staff SVTFFI mengingatkan kembali kepada para freelancer untuk;

  1. Mengecek e-mail dengan format yang benar, termasuk; poster yang di-attach atau dilampirkan. Tidak masuk ke dalam badan ms. word.
  2. Format ms.word maksimal 2007. Kalau ms. word kalian 2010-2013, bisa kok dengan cara save—>pilih format di bawah judul, ubah menjadi 1997-2003 document.
  3. Pengiriman fanfiksi ke;

svtffindo@gmail.com

 

Selanjutnya kalian bisa berkunjung ke page FREELANCE VERIFICATION untuk memeriksa apakah FF kalian sudah kami terima.

Sekian, terima kasih atas perhatiannya. Ditunggu karya-karya kece kalian untuk meramaikan SVTFFI! :mrgreen:

regards,

SVTFFI Staff ❤

[Alone; All One; Al1] Emphasis

Tittle : Emphasis

Author : π

Genre : Thriller, Mistery

Length : Oneshoot

Rating : PG 15

Cast :

  • Jeonghan Seventeen  as Yoon Jeonghan.
  • Vernon Seventeen as Vernon Chwe/Choi Hansol
  • S.Coups Seventeen as Leon Charvest
  • Joshua Seventeen as Hong Jisoo/Joshua Hong
  • Rapmonster BTS as Zeddyd Kim
  • Kim Seokjin as Ednen Klarkinson 
  • Kim Minji/Debovra Kim (OC)

Disclaimer : Seventeen member casts belong to The God and their family, except the OC. The plot is originally mine.

Summary :

Waktu itu telah membelah menjadi dua bagian yang tak kasat mata. Aku berlari mengejarnya  untuk menemukan suatu kebenaran, keluar dari sebuah tekanan yang menghujam. 

Melihat semua dari sudut pandang yang berbeda. Menyesal atas apa yang telah terbuang. Ingatan ini, kenangan ini menyakitkan. Bisakah kita berhenti? Aku takut jika tekanan itu memaksa untuk bertahan yang pada akhirnya hanya membuatku terlepas dan meninggalkan segalanya.

−E M P H A S I S−

“Somebody said it means imperfection and danger.”

Continue reading “[Alone; All One; Al1] Emphasis”

[Alone; All One; Al1] A Letter From Praha

Title |A LETTER FROM PRAHA

Author|RHYK

Cast| Seungkwan as Ha Seungkwan

Han Hye Jin (OC)

Length|Oneshot

Rate | PG-15

Genre|Angst – Sad

DISCLAIMER!

Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Autor Note’s|

Ikut meramaikan Event Blog SVT FFI aja buat seneng-seneng, maaf kalo karakterisasi sangat aneh dan jelek karena jujur saja –saya kurang feel sama castnya^^bagaimanapun, baca aja yaa thank you~ menang –enggak yah itu sih gak penting buat saya hehehehe, selamat membaca~

Continue reading “[Alone; All One; Al1] A Letter From Praha”

[Alone; All One; Al1] Who Are Me

Who Are Me? (Oneshoot)

Tittle : Who Are Me? (Oneshoot)

Author : Nagi

Cast :

Hansol Vernon Chwe / Vernon (Seventeen)

Samuel Kim

Genre : Family, Mystery, Horror, Psychology

Length : Oneshoot

Rating : 12-lanjut usia

Disclaimer : Seventeen hanya milik orang tua mereka, namun cerita milik author, terima kasih untuk pada pembaca yang mendukung cerita ini dan menyukai cerita ini

Summary :
Indigo? Atau sakit mental?

****

Continue reading “[Alone; All One; Al1] Who Are Me”

[Alone; All One; Al1] Edge of The Boundary

Edge of The Boundary

(Tepi Batas)

Author : Mashiro_28

Genre : Slice Of Life, family

Rating : PG-15

Length : One shot

Main Cast : Jeonghan (Seventeen)

Support Cast : Seungcheol, Jihoon, Soonyoung, Wonwoo(Seventeen), Han Se Kyung (OC), Kim Yoojung (OC)

Disclaimer : Setiap adegan dan peristiwa yang terjadi dalam cerita ini adalah fiksi. Alur cerita murni milik penulis. Dimohon tidak menyebarkan cerita tanpa memberi kredit pada penulis. Terima kasih.

Summary :

Mereka yang kehilangan, mereka yang akan kembali menemukan. Jeonghan pergi seorang diri mengikuti takdir membawanya. Perjalanan jauh yang akan mengingatkannya pada masa lalu, masa kini, serta masa depan.

***

Destiny;  Somebody said it means imperfection and danger

Perahu tanpa nama terombang –ambing di tepi batas

meraung bertahan dari terpaan

Sepasang dayung ringkih menggertak,

menatap serpihannya tercecer di samudra

Akankah hilang penderitaannya,

Tatkala karam, tenggelam, dan menghilang tertelan bumi?

***

Sosok itu duduk membisu di lantai. Tatapan hampanya terpaku pada tetesan kental yang mengalir dari sela –sela jemarinya. Matanya berkedip menyaksikan cairan itu mulai menodai karpet dengan semburat merah janggal. Genangan kecil lama kelamaan meluas. Dalam hatinya ia berhitung karena penasaran.

Berapa lama yang dibutuhkan untuk mengosongkan darah dari tubuh manusia?

***

9 Juni 2017 Malecon, Havana, Cuba  1.30 a.m

YOON Jeonghan tersentak bangun. Matanya mengerjab liar, sorotnya menyiratkan entah kepanikan atau kengerian. Benaknya berkabut, pandangannya kabur. Pemuda itu berusaha mengumpulkan kesadaran ketika nyeri berkumpul di kepalanya. Dia merasa sebuah vacum cleaner menyedot habis isi kepalanya, membuatnya amnesia.

Sambil menahan nyeri, dia beringsut ke tepi tempat tidur. Tangannya meraba nakas, mencari aspirin yang sengaja diletakkannya di sana kemarin. Tanpa repot –repot mencari air, Jeonghan meneguknya. Setelah beberapa menit obat itu mulai bekerja. Memang tidak menghilangkan seluruh nyerinya, tapi memaksanya cukup sadar untuk membuat panggilan telepon.

“Hyung?”

Jeonghan menghela nafas lega mendengar sahutan di ujung panggilan. “Won, sakit kepalaku kambuh. Lebih parah dari sebelumnya. Dosis biasa tidak terlalu mempan. Bisakah aku menaikkan dosisnya?”

Tidak bisa,” dokter muda itu menyahut. “Aku sudah menaikkan dosisnya dua kali. Hyung, kupikir masalahnya bukan tubuhmu. Tapi..”

“Kejiwaanku? Aku tahu,” Jeonghan menghela nafas pelan. “Psikiaterku sudah angkat tangan. Katanya masalahnya adalah aku yang mengunci benakku sendiri. Dia memintaku mengingat mimpi buruk yang selama ini tak bisa kuingat, berkata kalau penyebabnya ada di sana.”

Hyung, berhenti minum obat tidur dan aspirin. Sebaiknya kau pergi dari ruangan pengap itu lalu jalan -jalan. Seungcheol–hyung takkan senang kalau tahu liburanmu sia –sia dan satu –satunya hal yang kaulakukan selama dua hari adalah merecokiku setiap kali kepalamu sakit.

Jeonghan akhirnya mengalah. Dia berjanji akan mengirimkan foto bukti pada Wonwoo –yang mengancamnya atas nama Cheol.

Hari pertamanya tiba di Havana, The Lost City of Carribean, Jeonghan merasa mual. Setiap detik dalam dua puluh empat jam perjalanan udara membuatnya menderita. Bukan hanya secara fisik, tapi mental. Dia sempat merasa lega ketika menjejakkan kaki di daratan untuk transit. Sayangnya hingar –bingar Peking sama sekali tidak membantu meredakan gejolak pada perutnya yang merepotkan. Tubuhnya terkapar ketika tiba di hotel. Setelah meneguk pil tidur, Jeonghan tertidur. Kedamaian itu nyata hingga mimpi buruk datang menerjang seperti badai.

Hari kedua, dia sudah menyerah untuk tidur tapi terlalu lelah untuk pergi ke luar. Dia menghabiskan waktu berkutat di depan kamera atau buku sketsanya, memesan room service tiga kali sehari, lalu duduk di depan televisi. Tanpa sengaja dia tertidur dan mengalami sakit kepala lagi –level yang sudah di-upgrade.

Sejak tiba dia tidak benar –benar ingin tahu tentang Havana, atau Malecon. Dia ada di sini dalam pelarian. Dari ketidakberdayaan dan perasaan tertekan.

Dia sama sekali tidak sadar, kalau disanalah benang takdirnya yang kusut akan mulai terurai. Tidak ada pertemuan tanpa alasan, keputusasaanlah yang menciptakan alasan tersebut. Melalui perjalanan ini Jeonghan akan dibuat percaya.

Kalau takdir… selalu berada di tepi batas.

***

10 Juni 2017 Malecon, Havana, Kuba 10 a.m

Tepat pukul sepuluh, Jeonghan meninggalkan hotel. Di lobby, dia melihat Marco –pria yang menjemputnya di bandara dua hari lalu. Pria paruh baya itu masih nampak sama dalam ingatannya. Senyum ramah, perut agak tambun, kumis tipis, pakaian bermotif bunga –bunga ala Hawai. Jeonghan takkan melupakannya dengan mudah.

“Marco!”

“Oh, hei, Nak! Akhirnya kau keluar juga!”

“Ah.. ya..,” Jeonghan menggaruk telinganya yang tak gatal. “Apa ada tempat bagus untuk memotret di sekitar sini?”

Marco melirik kamera yang tergantung di lehernya, lalu tersenyum ramah. “Pergilah ke teluk, Nak! Kau akan melihat sesuatu yang menarik.”

Dan disanalah dia, bersiul takjub seraya menatap sosok –sosok yang melompat ke air dari teluk melalui lensa kameranya. Jemarinya tidak bisa berhenti menekan tombol, berusaha menangkap sebanyak mungkin momen menakjubkan yang ada di hadapannya. Malecon, yang juga dikenal dengan nama Avenida de Maceo adalah jalanan yang berada tepat di sebelah Havana Bay. Banyak direkomendasikan sebagai destinasi terbaik di Old Havana karena pemandangan senjanya yang indah. Dia tak menyangka ada sesuatu yang sama menariknya.

Harinya mulai terasa menyenangkan, sampai panggilan masuk dari Cheol datang.

“Yah!”

“Seungcheol…?” Jeonghan memutar otaknya yang dipenuhi kecurigaan. Apa Wonwoo berkhianat padanya? Melaporkan pembicaraannya pada orang ini? “Ada apa?”

“Tidak… Oh, Baiklah! Wonwoo berkata kau akan mengirimkan foto padanya, tapi tidak padaku. Kau menghubunginya tapi tidak menghubungiku…”

Jeonghan menghela nafas lega. “Maaf. Aku akan menghubungimu nanti. Sudah ya.”

Jeonghan memutuskan sambungan. Dia belum siap berbicara dengan Seungcheol. Hari itu, dia mengacaukan pekerjaan penting SVT. Konsentrasinya buyar dan hampir melukai Soonyoung. Bahkan membuat Jihoon harus turun tangan menggantikan posisinya. Seungcheol membelanya, tapi dia tak percaya dirinya pantas untuk itu. Soonyoung memang tidak terluka –tapi Jeonghan melukai perasaan sendiri karena hampir membuat dia celaka.

Jeonghan tersentak, sadar seseorang menubruknya dari belakang. Dia menoleh, mendapati seorang gadis berambut coklat menunduk meminta maaf berulang kali dengan bahasa Inggris kaku.

It’s okay…”

Gadis itu mengangkat wajah mendengar suara yang begitu familiar. Matanya terbelalak saat dirinya dan sosok yang ditabraknya bertemu pandang.

“Jeonghan–sunbaenim!”

“Yoojung? Apa yang kaulakukan di sini?” sahutnya terkejut.

Kim Yoojung adalah juniornya di kampus. Gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai, wajah mungil dan pandai bergaul. Mereka mengambil jurusan yang sama –administrasi bisnis, saling mengenal saat masa orientasi dan cukup dekat karena mengikuti beberapa program kerja jurusan yang sama.

“Berlibur. Sunbaenim?”

“Begitulah.”

“Syukurlah… Aku agak khawatir karena berangkat ke sini sendirian,” gadis itu melirik jam tangan yang tersembunyi di balik lengan kemejanya. “Sudah jam makan siang. Mau makan bersama?”

Karena tidak mempunyai rencana lain, Jeonghan mengedikkan bahu, lalu mengikuti gadis itu ke restoran.

***

Makan siangnya lezat. Dia memesan pollo asado El Aljibesepiring ayam ungkep yang digoreng, disajikan dengan nasi putih, kacang hitam, kentang goreng, salad, dan pisang goreng serta segelas malta dingin, minuman kaleng khas Kuba yang terbuat dari sari tebu. Sementara gadis itu memilih ropa vieja –yang dapat diartikan baju compang –camping –daging suwir yang dimasak gravy dengan saus tomat asam –manis dan arroz blanconasi putih. Dia mencicipi malta milik Jeonghan sebelum memutuskan untuk memesan.

Thanks.”

Jeonghan berterimakasih pada pelayan yang membawakan pesanan mereka, lalu memberikan sepasang sendok –garpu dan sebuah pisau pada Yoojung. Gadis itu terkesiap, tanpa sengaja menjatuhkan pisaunya. Dia memungutnya, lalu meletakkannya kembali di meja. Dengan sopan dia  menolak saat Jeonghan menawarkan diri meminta penggantinya.

Sunbaenim menginap di mana? Hotelku tidak jauh dari sini,” Yoojung memulai percakapan. Dia menyuapkan sesendok ropa vieja ke mulut, lalu mulai bergumam riang mengenai betapa lezat makanan ini.

“Hmm.. Hotelku juga.”

Mata Yoojung melebar. “Apa mungkin kita menginap di hotel yang sama?”

“Mungkin… Aku tidak begitu hafal daerah ini.”

Jeonghan tidak berbohong. Saat pertama kali datang, Marco menjemputnya berdasarkan foto dan deskripsi Cheol tentangnya. Rambut pirang, wajah Asia, tampan, ekspresi masam, duduk di restoran –yang sangkin benarnya tak bisa dia tampik. Karena terlalu mual selama perjalanan dia tidak banyak bertanya dan setelah sampai di kamar dia langsung tidur.

“Ah begitu…”

Gadis itu melanjutkan makannya dengan tenang. Jeonghan melihat beberapa pil yang dikeluarkan Yoojung dari dalam tasnya. Dia bertanya, apakah gadis itu sakit. Tapi Yoojung mengatakan dia hanya sedikit lelah. Jadi dia meminum vitamin.

Bohong.

Matanya memicing mengamati beberapa pil yang bentuknya familiar. Wonwoo pernah meresepkannya untuk dirinya. Obat anti depresi. Jeonghan penasaran, tapi dia tidak bertanya lebih jauh. Sama seperti sesuatu yang ingin dirahasiakan Yoojung padanya, dia juga memiliki rahasia.

***

Setelah makan, Yoojung menyeretnya ke Plaza de Armas yang dikelilingi toko buku second dan restoran. Mereka mencicipi copelia –es krim khas Kuba yang ternyata lezat, lalu pergi ke Museo de Chocolate –museum coklat. Di sana mereka duduk dalam kafe, mencicipi minuman coklat serta beberapa potong coklat lezat. Yoojung nampak antusias merecoki seorang pria pembuat coklat –yang selalu membalasnya dengan senyum ramah.

Hampir menjelang malam, mereka baru berkendara pulang. Jeonghan mengamati gadis itu tertidur lelap di bangku samping pengemudi. Nampaknya sadar diamati, Yoojung tersentak bangun.

“Aku tertidur?”

“Tidak lama. Kita sudah sampai.”

Yoojung terburu –buru turun mengikuti Jeonghan. Pemuda itu mencegat lift, menunggu si gadis naik.

“Lantai berapa?”

“Tujuh.”

Tujuh?”

Yoojung mengangguk lagi. Saat bel lift berdenting, keduanya berjalan beriringan keluar. Jeonghan berdiri tepat di depan ruangannya saat menyadari Yoojung berdiri di sisi berseberangan.

“Oi, oi… kita bertetangga?”

“Selamat malam!”

Gadis itu memberinya seringaian misterius, buru- buru masuk ke dalam, menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Jeonghan yang masih nampak tidak percaya pada kebetulan aneh ini.

***

Sosok itu meringkuk ketakutan begitu mendapatkan kembali kesadarannya. Bola matanya bergetar setiap kali melihat genangan darah yang masih nampak baru di hadapannya. Tangannya berdarah. Tapi dia tidak merasa sakit. Sesuatu yang sakit ada di dalam tubuhnya, menggerogoti akal sehatnya. Fakta bahwa dia sudah gila menghancurkan dirinya perlahan.

Sambil menangis, dia memohon. “Tolong… kumohon… hentikan aku..!!”

***

11 Juni 2017 Malecon, Havana, Kuba 9 a.m

Jeonghan terbangun karena cahaya mentari yang menembus celah tirai membuatnya silau. Kepalanya pening, tapi tidak terlalu buruk. Dia mengenakan kaus yang diambilnya acak dari koper, meraih dompet dan ponsel, lalu berjalan keluar. Seorang pelayan tengah berdiri di depan pintunya, mondar –mandir dengan raut panik.

“Ada masalah…?”

Pelayan itu menunjuk pintu kamar Yoojung. “Nona ini meminta dibangunkan pukul tujuh untuk sarapan. Tapi sekarang sudah pukul sembilan. Dia tidak merespon panggilanku.”

“Aku mengenalnya. Apa ada masterkey untuk ruangan ini?”

Pelayan itu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sakunya, menyerahkannya pada Jeonghan yang tanpa ragu membukanya. Dia mendorong pintu dan menemukan si gadis meringkuk di lantai. Jeonghan beralih pada si pelayan yang nampak terguncang.

“Tolong telepon ambulans! SEKARANG!”

***

Kim Yoojung mengerjab saat merasakan sengatan pada tangannya. Matanya memicing. Dia tidak lagi berada di ruangan hotel. Semuanya nampak putih dan bersih… Rumah sakit? Menyadari pergelangan tangannya yang diperban, dia terbelalak.

Tidak, tolong jangan katakan aku melakukannya lagi.

“Yoojung –ssi?”

Seorang wanita paruh baya berpakaian perawat datang menghampirinya, menyentuh keningnya lembut. Yoojung terkesiap, refleks membuatnya beringsut mundur. Matanya bergerak gelisah, penuh antisipasi.

“Tolong tinggalkan aku…”

“Namaku Han Sekyung, perawat di sini. Jangan takut,” ujarnya lagi.

Yoojung mengerjab, baru menyadari kalau wanita itu sedari tadi berbicara bahasa Korea. Dia menyelipkan tangan di balik punggung, berusaha menyembunyikan semua bekas luka yang tak tertutup lengan pendek piyama rumah sakitnya. “Aku takut akan melukai orang lain, selain diriku sendiri.”

“Kau takkan melakukannya, gadis baik,” Sekyung mengulurkan sebuah liontin pada Yoojung. “Milikmu. Terjatuh saat kau dipindahkan dari ER.”

“Terima kasih…”

Liontin itu adalah kenang –kenangan terakhir dari sang ibu, bendanya yang paling berharga. Saat masih bayi, mereka bilang Ibu dan oppa–nya pergi, meninggalkannya dalam asuhan sang ayah. Tapi sejak ayahnya menikah lagi, Yoojung merasa sangat kesepian. Hanya foto keluarga sederhana di liontin tersebut yang bisa meredakan kerinduannya.

 “Sama –sama,” Sekyung tersenyum ramah. “Sekarang seorang pemuda tampan ingin bertemu denganmu.”

Sunbaenim?”

“Kau akan tahu.”

Jeonghan memasuki ruangan. Kausnya yang berwarna putih ternoda darah –yang Yoojung yakini miliknya. Gadis itu merasa sangat menyesal. Seharusnya dia mengatakan sesuatu. Tapi bibirnya terkunci rapat.

“Yoojung, aku tidak tahu apa yang terjadi,” Pemuda itu menghela nafas. “Aku bersyukur kau selamat. Syukurlah aku datang tepat waktu.”

Sunbaenim… Maaf….”

“Untuk apa? Bukankah seharusnya kau berterimakasih?”

Gadis itu meremas ujung selimut. Matanya mulai berair. Satu persatu tetesannya jatuh, membasahi pakaiannya. “Aku tahu… Terima kasih… Tapi… Aku berbohong… Maaf…”

“Hmm?” Jeonghan mengangkat sebelah alis, menanti penjelasan.

“…Aku bohong saat bilang aku hanya kelelahan dan minum vitamin..Sebenarnya aku minum obat anti depresi… Aku juga bohong saat bilang hotel kita sama itu kebetulan… Di bandara, aku melihatmu… rasanya menakutkan sendirian di tempat asing.. Jadi aku mengikutimu… Aku juga bohong saat menabrakmu. Aku sengaja melakukannya karena tak ingin sendirian..”

Kenapa?

“Setiap kali sendiri, aku merasa sangat membenci diriku. Pantulan diriku di cermin terasa memuakkan.. dan kala melihat benda tajam, aku terdorong tuk melukai diriku sendiri… Setiap terbangun dini hari, pikiranku kacau. Dokter memaksaku minum obat, membantu tapi tidak membuatku merasa lebih baik. Pagi tadi aku menjatuhkan botol kaca, melukai tanganku dan …Maaf…” ujarnya lirih.

Jeonghan mendesah pelan. Ingatan masa kecilnya berantakan. Dia tidak ingat orangtuanya, atau bagaimana dia bisa berakhir dari rumah penampungan satu ke yang lain. Beberapa hal tumpang tindih. Kenyataan terasa seperti ilusi dan dia menjalani hidupnya tanpa tujuan, tanpa gairah, tanpa keinginan. Saat usianya tujuh belas, Jeonghan ditendang keluar karena banyak berulah. Sebenarnya bukan begitu. Dia menginginkan perhatian yang didapat anak lain, tapi tidak pernah didapatkannya. Sengaja pulang dengan wajah babak belur, terluka di sana –sini, patah tulang, gegar otak ringan.

Sayangnya tidak ada yang peduli. Semua orang di rumah penampungan itu mengabaikannya, seakan dia tidak ada. Maka dari itu, dia hampir melakukannya, dan berhutang budi pada Cheol yang menyelamatkannya.

“Kesepian?” Jeonghan menatap Yoojung lekat –lekat. Gadis itu terenyak mendengar pertanyaan –yang sudah lama ditunggunya keluar dari bibir seseorang. Pandangan matanya turun mengarah ke lantai saat dia mengangguk pelan.

“Mungkin…. Ayahku –keluarga satu –satunya yang kumiliki membenciku. Beliau membuatku tinggal sendirian di apartemen besar –yang membuatku takut. Jatah bulanan melimpah, barang mewah. Apa gunanya? Selama ini aku hanya bisa melihatnya di layar televisi. Setiap kali ingin bertemu beliau menolak dengan alasan sibuk. Aku ini tidak diinginkan ya?”

“Yoojung..!”

Tiba –tiba seorang pria menerobos masuk. Matanya memerah, membendung tangis, sementara tangannya agak bergetar ketika merengkuh tubuh putrinya erat dalam dekapannya. Wajah Yoojung yang mengeras lama –kelamaan luluh. Di balik air matanya, Jeonghan sontak mengenali sang pria. Bukankah beliau adalah politikus terkenal yang akan segera mencalonkan diri jadi presiden?

“Aku sudah mendengar semuanya… Maafkan ayah, Nak..”

“Kenapa datang terlambat sekali?” serunya sedih. Entah sudah berapa tahun lamanya sejak terakhir kali dia memeluk ayahnya seperti ini. Bertahun –tahun sendirian, membuat dirinya percaya sang ayah membencinya –yang ternyata tidak benar.

“Aku mencintaimu, putriku… Aku melakukannya karena ingin melindungimu.. dari ibu tirimu…,” balas pria itu sambil mempererat dekapannya.

“Kenapa?”

“Aku akan memberitahu semuanya padamu, Yoojung…”

Jeonghan berdiri, meninggalkan kedua pasangan ayah-anak itu dalam reuni mengharukan. Langkahnya terhenti ketika jemari -jemari ramping menahan lengannya.

“Jeonghan–hyung. Sudah selesaikah menghukum dirimu sendiri?”

Mata Jeonghan melebar, terkejut, benar –benar tak menyangka kehadirannya. “Jihoonie!”

Pemuda yang lebih muda itu mengernyit melihat noda darah pada baju Jeonghan –tapi dia tidak berkomentar. Dia mengedikkan bahu, meminta Jeonghan mengikutinya. Mereka memanjat tangga hingga akhirnya tiba di atap. Jihoon menyandarkan punggungnya ke teralis pembatas.

Hyung, katakan padaku apa yang mengganggumu. Jujur, aku ada di sana ketika kau menelepon Wonwoo. Apa yang kaukatakan membuatku terganggu hingga melakukan penerbangan melelahkan ini demi meyakinkan diriku kau baik –baik saja.”

 “Maaf.”

“Jangan meminta maaf padaku.”

“Aku harus. Setelah merusak rencana… hampir melukai Soonyoung… walau itu kecelakaan. Semuanya salahku.”

Hyung,” Jihoon menghela nafas, lalu melanjutkan ucapannya. “Anak –anak itu selamat. Mereka sudah kembali ke rumah masing –masing. Walau harus rutin mengunjungi pusat trauma, mereka akan baik –baik saja. Tanpamu mereka sudah berlayar ke Jepang –dijual dan kehilangan organ tubuh. Bidikanmu menyelamatkan seorang anak yang hampir dibawa kabur. Apa hyung lupa?”

“Apa Seungcheol tahu kepergianmu?”

“Tidak, dan Hyung,” Pemuda itu mengerang frustasi. “Berhenti menghukum dirimu untuk hal yang tidak terjadi! Soonyoung sehat dan terus merengek menunggumu. Pulanglah ke Seoul. Kita akan memikirkan cara untuk menyingkirkan mimpi buruk dan sakit kepalamu. Bersama.”

“Aku akan pulang… segera.”

 “Bagus. Aku tak bisa mengerjakan tugasku kalau harus menutupi bagianmu. Seorang sniper tidak bisa tidak pernah meleset. Kau tahu itu kan, Hyung?”

“Terimakasih sudah khawatir, Jihoonie.”

Jihoon mengangguk, lalu pergi. Dalam hatinya dia berjanji akan membuat Seungcheol membayar karena membuatnya harus berbohong.

***

Saat Jeonghan kembali, gadis itu sudah pergi, meninggalkan pesan di secarik kertas yang mengatakan dia akan pergi makan siang bersama sang ayah. Jeonghan berniat pulang ketika menangkap kilauan dari kolong tempat tidur.  Dia menunduk, jemarinya berusaha meraih. Benda di tangannya adalah sebuah liontin perak. Pasti milik Yoojung karena dia pernah melihat gadis itu memakainya. Tak sengaja dia melihat sebuah foto usang keluarga yang nampak bahagia. Seorang pria, wanita, anak laki –laki dan bayi …perempuan? Kenapa rasanya tak asing?

“Nak?”

Sekyung menatapnya. Jeonghan terkesiap. Bunyi klik! samar-samar terdengar. Akhirnya potongan puzzle yang hilang muncul. Vacum-cleaner yang selama ini menyedot isi kepalanya, kini diatur dalam mode terbalik. Semua ingatan membanjir masuk dalam benaknya. Filamen mimpi buruk yang tak bisa diingatnya satu persatu membaur jelas.

“Mama…!”

Anak lelaki itu menjerit, menjulurkan tangannya pada sosok kabur sang ibu yang dibawa menjauh. Dia berusaha memberontak, namun tangan –tangan orang dewasa itu mencegahnya. Wanita kejam yang berdiri di samping sang ayah menggendong adiknya, menatap dirinya penuh kebencian.

Ingatannya berganti. Si anak lelaki berbuat onar, berharap kembali pada ibunya. Sang ayah marah besar. Anak lelaki itu melarikan diri. Dalam pelariannya, dia mengalami kecelakaan dan gegar otak. Petugas sosial membawa anak amnesia tanpa tanda pengenal itu ke rumah penampungan dan hidupnya dimulai di sana. Fakta bahwa tidak ada seorangpun yang mencarinya sampai akhir melukainya…

Ingatan lain memasuki benaknya, satu persatu mengalir, seperti film jadul hitam putih.

Jeonghan mengerti….Mimpi buruknya adalah ingatan masa lalu yang terlupakan.

Tepukan di pundak membuat Jeonghan tersadar. Wanita itu berada tepat di hadapannya, menatapnya dengan sorot yang tidak dimengertinya. Sesuatu memercik dalam hatinya. Perasaan rindu seorang anak pada ibunya meluap. Tak hanya itu, dia juga menemukan ayah dan adik perempuannya.

“Kau baik –baik saja?” wanita itu mengulang ucapannya, khawatir karena Jeonghan tidak kunjung merespon. Si pemuda mengangguk kikuk. Dia menyentuh tangan si wanita lembut, lalu menyelipkan liontin Yoojung ke dalamnya.

“Yoojung akan kembali untuk mengambilnya. Terimakasih banyak… untuk segalanya. Tapi maaf, sekarang aku harus pulang.”

“Kemana?”

“Seoul. Ada hutang yang harus kubayar,” Jeonghan tersenyum, memeluk wanita itu sekilas. “Sampai jumpa.”

Sekyung mengangguk, bibirnya melengkung membentuk senyuman saat melambaikan tangannya melihat Jeonghan pergi. Sosok yang sedari tadi bersembunyi di tempat tidur sebelah menghela nafas dalam.

“Kenapa Bibi tidak mengatakan apapun?”

Han Sekyung menyibak tirai, menatap geli wajah kecewa pemuda yang tengah duduk bersila di atas tempat tidur. “Cheol, masih banyak kesempatan lain. Kalianlah keluarganya sekarang. Pulanglah.”

“Tapi-“

“Fakta bahwa aku mencintainya takkan berubah. Dalam hatinya dia sudah tahu. Suatu saat dia pasti kembali. Nah, pulanglah! Kau tak ingin dia sadar kau datang ke sini kan?”

Seungcheol bergerak turun dari atas tempat tidur. Dia memeluk Sekyung erat, lalu segera menyusul Jihoon yang menunggu di mobil. Sekyung masih berdiri di sana. Matanya menatap keluar jendela, bibirnya berbisik, berharap angin membawa pesannya pada kedua anaknya yang telah lama hilang.

Aku mencintaimu, putraku,putriku….”

Dia berharap perasaannya sampai….

 Walau butuh waktu lama, dia ‘kan menunggu….

***

Di Malecon, Jeonghan menemukan apa yang hilang darinya bertahun –tahun.

 Bukan hanya sekedar ingatan, melainkan…. keluarga.

***

Menghadapi bahaya

Tapi tak menyerah dalam ketidaksempurnaan

Perjalanan baru nan jauh menanti, menembus horizon dan cakrawala

***The End***

[Alone; All One; Al1] The Truth About Forever

The Truth About Forever

By ravenclaw

Kwon Soonyoung (SVT) & Ahn Jiyoung (Bolbbalgan4) | Fluff, Friendship, Drama, Hurt/Comfort | Teen | Oneshoot

Menghabiskan waktu lima tahun itu tidak sulit, bukan?

0o0o0o

Continue reading “[Alone; All One; Al1] The Truth About Forever”

[Alone; All One; Al1] Ad Interim

A D   I N T E R I M

In The Time Between

|Author : Jeinace|

|Genre : Romance, Fantasy|

|Length : One Shot (2506 Words)|

|Rating : PG – 15|

|Cast : Hansol Vernon Chwe & Original Character|

|Disclaimer : Plot’s story and original character are mine, do not plagiarism. Thank you.|

Prompt : One less than a full revolution

Country : Verona, Italia

Summary :

In the time between, i will wait you patiently even though i am all alone, i will wait for you.

We will meet again after one less than a full revolution.

But, why did you go far away?

***

Continue reading “[Alone; All One; Al1] Ad Interim”

[Alone; All One; Al1] Lucid Dream

Lucid Dream | by: yolhanatasya | Length: Oneshoot [2700+ words]

Cast: Lee Chan [SEVENTEEN] & Choi Ye Won [OH MY GIRL] |

 Genre: Hurt, Fantasy, Friendship | Rating: T | City: Verona | Sub Tema: Al1

Disclaimer: THIS STORY IS PURE OF ME

Prompt:

“DO NOT BE BLINDED BY THE ILLUSION IN FRONT OF YOU, BUT FOLLOW THE TRUTH INSIDE OF IT”

Continue reading “[Alone; All One; Al1] Lucid Dream”

[Alone; All One; Al1] Maybe

Judul

Maybe

Author

Myeeveedict

Genre

Teen, Romance

Length

Ficlet

Rating

PG-15

Cast

Lee Jihoon / Woozi Seventeen, Lily Kim / OC

Disclaimer

Cerita murni dari ide saya. Jika ada kesamaan, mungkin hanya kebetulan dan ketidaksengajaan saya.

Summary

“Mungkin kita jodoh.”

*** Happy Reading ***

Continue reading “[Alone; All One; Al1] Maybe”

[Alone; All One; Al1] Reminisce

Judul : Reminisce.

Nama Author : PinkMochi (before : MinJ28, I’ve changed it in comment section)

Genre : Sad, Friendship | sub tema : Alone : Why did you go far away?

Length : Ficlet

Rating : G

Cast : Joshua (Hong Jisoo), Yoon Jeonghan, Jennie (OC), Lee Chan

Disclaimer : I only own the idea. Casts are belongs to god, their parents, and fans;)

Summary: Kadang, beberapa orang harus kita relakan ‘pergi’ agar mereka bahagia

Note : kalimat dalam format italic berarti flashback

Reminisce
by PinkMochi

Continue reading “[Alone; All One; Al1] Reminisce”